Anda di halaman 1dari 23

TUGAS PROGRAM PENGENDALIAN HIV AIDS

INFEKSI OPORTUNISTIK

Disusun Oleh
Kelompok 3
Aik 10011181520049
Citra Natalia 10011181520063
Erni Yusnita 10011181520061
M.Afiq Murtadho 10011181520007
Renaldi Juliansyah 10011381520156
Regina Marisa A 10011181520072
Wasni Theresia 10011181520069

Fakultas Kesehatan Masyarakat


Ilmu Kesehatan Masyarakat
Universitas Sriwijaya
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan
Rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat mengerjakan makalah ini tepat pada
waktunya yang berjudul INFEKSI OPORTUNISTIK . Makalah ini berisikan tentang
informasi dan penjelasan tentang infeksi, macam macam infeksi, cara masuknya infeksi.

Kami menyadari bahwa makalah kami masih jauh dari harapan. Oleh karena
itu,saran dan kritik yang konstruktif dari berbagai pihak sangat kami harapkan untuk
menghasilkan makalah yang lebih baik untuk masa mendatang. Akhir kata,kami
sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini . Semoga makalah ini bermanfaat untuk semua pembaca.

Inderalaya,27 Mei 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata pengantar ................................................................................................... i

Daftar isi ............................................................................................................. ii

BAB I: PENDAHULUAN

A. Latar belakang................................................................................................1

B. Rumusan masalah............................................................................................2

C. Tujuan.......................................................................................................................2

BAB II: PEMBAHASAN

A. Pengertian Infeksi oportunistik....................................................................... 3

B. Patogen penyebab infeksi oportunistik.................................................................6

C. Hubungan infeksi oportunistik dengan CD4........................................................6

D. Gambaran umum gejala-gejala infeksi oportunistik...........................................8

E. Kolaborasi TB dan HIV.........................................................................................10

F. Tindakan preventif dan pengobatan terhadap IO ODHA...................................16

BAB III: PENUTUP

A. Kesimpulan........................................................................................................18

B. Saran........................................................................................................................18

Daftar pustaka..............................................................................................................iii

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Masalah HIV/AIDS menjadi masalah besar dibanyak Negara di belahan bumi ini. Dari
negara miskin, negara berkembang, hingga negara maju seperti Amerika Serikat. Indonesia
sendiri tidak lepas dari ancaman HIV/AIDS.

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia dilaporkan hingga bulan Desember


tahun 2010 sebanyak 24.131 jiwa, dimana sebanyak 4539 jiwa meninggal. Untuk daerah
Sulawesi Selatan sendiri terdapat setidaknya 591 jiwa terkena HIV/AIDS, dan 62 jiwa
diantaranya telah meninggal dunia. Berdasarkan data dari Ditjen PPM & PL Depkes RI
tersebut, Sulawesi Selatan menempati urutan ke 8 dari 33 propinsi yang ada di Indonesia.

Infeksi oportunistik dijabarkan sebagai infeksi yang dialami lebih parah dan
frekuensinya lebih banyak, yang merupakan penyebab utama peningkatan morbiditas dan
mortalitas pada penderita HIV . Hal itu terutama sebelum meluasnya penggunaan kombinasi
poten Anti Retroviral Therapy (ART). Sejak awal 1990an, kemoprofilaksis, immunisasi, dan
penanganan infeksi oportunistik akut yang lebih baik berkontribusi dalam peningkatan angka
ketahanan hidup (survival) penderita.

Mengingat penyebaran yang semakin progresif tersebut dan tingkat mortalitas yang tinggi
tersebut, perlu kita sama-sama mengetahui bagaimana perkembangan mendetail mengenai
sindrom tersebut.

A. RUMUSAN MASALAH
A. Apa Pengertian Infeksi Oportunistik?

B. Patogen penyebab Infeksi Oportunistik?

C. Hubungan Infeksi Oportunistik dengan CD4?

D. Gambaran umum gejala-gejala Infeksi Oportunistik?

E. Kolaborasi TB dan HIV?

B. TUJUAN
A. Untuk mengetahui pengertian dari Infeksi Oportunistik

B. Untuk mengetahui patogen penyebab Infeksi Opurtunistik

C. Untuk mengetahui hubungan Infeksi Opurtunistik dengan CD4

D. Untuk mengetahui gejala-gejala Infeksi Opurtunistik

E. Untuk mengetahui kolaborasi TB dan Hiv

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Infeksi Oportunistik ( IO ) Dan Jenis-jenis IO
Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang ambil kesempatan (opportunity)
yang disediakan oleh kerusakan pada sistem kekebalan tubuh untuk menimbulkan
penyakit. Kerusakan pada sistem kekebalan tubuh ini adalah salah satu akibat dari infeksi
HIV, dan menjadi cukup berat sehingga IO timbul rata-rata 7-10 tahun setelah kita
terinfeksi HIV.

Kerusakan pada sistem kekebalan tubuh kita dapat dihindari dengan penggunaan
terapi antiretroviral (ART) sebelum kita mengalami IO. Namun, karena kebanyakan
orang yang terinfeksi HIV di Indonesia tidak tahu dirinya terinfeksi, timbulnya IO sering
kali adalah tanda pertama bahwa ada HIV di tubuh kita. Jadi, walaupun ART tersedia
gratis di Indonesia, masalah IO tetap ada, sehingga adalah penting kita mengerti apa itu
IO dan bagaimana IO dapat diobati dan dicegah.

Dalam tubuh anda terdapat banyak kuman bakteri, protozoa, jamur dan virus.
Saat sistim kekebalan anda bekerja dengan baik, sistim tersebut mampu mengendalikan
kuman-kuman ini. Tetapi bila sistim kekebalan dilemahkan oleh penyakit HIV atau oleh
beberapa jenis obat, kuman ini mungkin tidak terkuasai lagi dan dapat menyebabkan
masalah kesehatan. Infeksi yang mengambil manfaat dari lemahnya pertahanan
kekebalan tubuh disebut "oportunistik". Kata "infeksi oportunistik" sering kali disingkat
menjadi "IO".

Berikut adalah beberapa jenis infeksi oportunistik umum yang kerap terjadi,
di antaranya:

1. Candidiasis
Merupakan infeksi yang disebabkan oleh jamur Candida yang bisa muncul di
bagian tubuh mana saja. Infeksi ini merupakan infeksi oportunistik yang umum terlihat
pada pasien HIV dengan jumlah CD4 antara 200 hingga 500 sel/mm3. Gejala yang paling
jelas adalah bintik-bintik putih di lidah atau tenggorokan. Candidiasis dapat diobati
dengan resep obat antijamur. Untuk mencegah terkena candidiasis, jagalah kebersihan
mulut dan gunakan obat kumur yang mengandung klorheksidin (antiseptik) yang dapat
mencegah infeksi ini.

2. Infeksi pneumonia
Infeksi oportunistik yang paling serius bagi pengidap HIV. Infeksi pneumonia
yang biasa terjadi pada penderita HIV adalah Pneumocystis pneumonia (PCP) dan
merupakan penyebab utama kematian di antara pasien HIV. Namun ternyata, penyakit ini
dapat diobati dengan antibiotik. Adapun gejalanya seperti batuk, demam, dan kesulitan
bernapas.

3. Kanker serviks invasif


Ini adalah kanker yang dimulai di dalam leher rahim, yang kemudian menyebar
ke bagian tubuh lainnya. Kondisi kanker ini bisa dikurangi kemungkinan terjadinya
dengan melakukan pemeriksaan serviks rutin di dokter.

4. Kriptokokosis Crypto Neoformans (crypto)


Merupakan jamur biasa ditemukan di tanah dan bila terhirup dapat menyebabkan
meningitis, yakni peradangan serius pada selaput pelindung yang mengelilingi otak dan
saraf tulang belakang.

5. Herpes simpleks
Virus yang dapat menyebabkan luka yang buruk di sekitar mulut dan alat kelamin
Anda. Infeksi ini biasa menular lewat hubungan seksual atau ditularkan ibu pada

proses kelahiran. Selain di mulut dan kelamin, infeksi ini juga dapat terjadi pada saluran
napa
6. Toksoplasmosis (tokso)
Adalah sebuah parasit yang dapat menyebabkan ensefalitis (radang otak), serta
pandangan kabur dan juga kerusakan mata. Parasit ini ditularkan melalui hewan
peliharaan seperti kucing, tikus, maupun burung. Selain itu, tokso juga bisa ditemukan
pada daging merah dan meskipun jarang dapat ditemukan pada daging unggas.

7. Tuberkulosis Infeksi Bakteri (TB)


Dikenal karena menyerang paru-paru Anda ini dapat juga menyerang organ lain
dan menyebabkan meningitis.

8. Virus Sitomegalia (CMV)


Virus sitomegalia (cytomegalovirus/CMV) adalah infeksi oportunistik. Terapi
antiretroviral (ART) sudah mengurangi angka penyakit CMV pada Odha sampai dengan
75 persen. Namun, kurang-lebih 5 persen Odha masih mengembangkan CMV.

9. MAC (Mycobacterium Avium Complex)


Mycobacterium Avium Complex (MAC) adalah penyakit berat yang disebabkan
oleh bakteri umum. MAC juga dikenal sebagai MAI (Mycobacterium Avium
Intracellulare). Infeksi MAC bisa lokal (terbatas pada satu bagian tubuh) atau tersebar
luas pada seluruh tubuh (DMAC). Infeksi MAC sering terjadi pada paru, usus, sumsum
tulang, hati dan limpa. Bakteri yang menyebabkan MAC sangat lazim. Kuman ini
ditemukan di air, tanah, debu dan makanan.

10. PCP (Pneumonia Pneumocystis)


Pneumonia Pneumocystis (PCP) adalah infeksi oportunistik (IO) paling umum
terjadi pada orang HIV-positif. Tanpa pengobatan, lebih dari 85 persen orang dengan HIV
pada akhirnya akan mengembangkan penyakit PCP. PCP menjadi salah satu pembunuh
utama Odha. PCP disebabkan oleh jamur yang ada dalam tubuh hampir setiap orang.

B. Patogen Penyebab Infeksi Oportunistik

1. Infeksi Protozoa/Helminthes
Cryptosporidium, Microsporidium, Isospora belli, Leishmania
donovani,Giardia,Cyclospora, Entamoeba histolytica, Strongyloides stercoralis.

2. Infeksi Oleh Bakteri

Mycobacterium avium complex, Salmonella, Shigella, Campylobacter sp.,


Clostridium difficile, Small-bowel overgrowth, Vibrio parahaemolyticus

3. Infeksi oleh Virus

Cytomegalovirus Herpes simplex Adenovirus Picornavirus HIV

4. Infeksi oleh Jamur

Candida albicans, Histoplasma capsulatum

C. Hubungan Infeksi Oportunistik Dengan CD4

Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang
penting dari sistem kekebalan tubuh kita. Sel CD4 kadang kala disebut sebagai sel-T. Ada
dua macam sel-T. Sel T-4, yang juga disebut CD4 dan kadang kala sel CD4+, adalah sel
pembantu. Sel T-8 (CD8) adalah sel penekan, yang mengakhiri tanggapan kekebalan. Sel
CD8 juga disebut sebagai sel pembunuh, karena sel tersebut membunuh sel kanker atau sel
yang terinfeksi virus.

Sel CD4 dapat dibedakan dari sel CD8 berdasarkan protein tertentu yang ada di
permukaan sel. Sel CD4 adalah sel-T yang mempunyai protein CD4 pada permukaannya.
Protein itu bekerja sebagai reseptor untuk HIV. HIV mengikat pada reseptor CD4 itu seperti
kunci dengan gembok. HIV umumnya menulari sel CD4. Kode genetik HIV menjadi bagian
dari sel itu. Waktu sel CD4 menggandakan diri (bereplikasi) untuk melawan infeksi apa pun,
sel tersebut juga membuat tiruan HIV.

Dalam tubuh manusia, banyak kuman, bakteri, protozoa, jamur dan virus. Bila
sistem kekebalan tubuh manusia dilemahkan oleh kuman penyakit seperti HIV, maka
sistem kekebalan tubuh tidak mampu lagi mengendalikan kuman tersebut mengakibatkan
masalah kesehatan. Infeksi yang terjadi dari kelemahan dalam pertahanan kekebalan
disebut oportunistik. IO yang dialami penderita HIV/AIDS yang datang berobat setelah
mengalami IO dengan CD4 yang yang kurang dari 200 /sel. Secara skematik, faktor
faktor yang mempengaruhi IO dapat digambarkan sebagai berikut :

7
D. Gambaran Umum Gejala-Gejala Infeksi Oportunistik
HIV menyerang sistem kekebalan tubuh. Pada saat jumlah virus belum banyak, sistem
pertahanan tubuh masih dapat bekerja baik untuk mencegah timbulnya penyakit. Pada fase di
mana virus sudah memperbanyak diri dan sistem pertahanan tubuh turun, tubuh menjadi
rentan terhadap segala jenis penyakit. HIV-nya sendiri tidak menimbulkan gejala apapun.
Gejala pada pasien HIV/AIDS ialah gejala berbagai penyakit yang terjadi akibat pertahanan
tubuh turun atau disebut sebagai penyakit infekso oportunistik.Perjalanan penyakit
HIV/AIDS dapat dibagi dalam beberapa stadium sebagai berikut

Stadium awal HIV. Fase stadium awal atau fase akut ini terjadi 2-4 minggu setelah
seseorang terinfeksi HIV. Gejala yang dirasakan adalah respon normal tubuh terhadap
masuknya infeksi ke dalam tubuh. Gejala yang timbul antara lain:

a) demam,

b) menggigil,

c) kemerahan pada kulit,

d) keringat malam hari,

e) nyeri-nyeri pada otot dan sendi,

f) sakit tenggorokan,

g) pembesaran kelenjar limfe,

h) sariawan, dan sebagainya.

Namun gejala-gejala tersebut tidak spesifik untuk infeksi HIV. Pada beberapa orang
bahkan tidak merasakan gejala tersebut.

8
Stadium kronis atau fase laten. Fase ini dimulai setelah gejala fase awal hilang
hingga sesaat sebelum gejala infeksi oportunistik muncul. Pada fase ini seseorang tidak
merasakan gejala apapun. Ia merasa sehat bugar. Pada fase ini, jumlah virus belum
banyak. Namun di dalam tubuh, sebenarnya virus terus memperbanyak diri. Fase ini
dapat berlangsung selama hitungan bulan hingga 10 tahun.

Stadium AIDS. Saat jumlah virus sudah sangat banyak dan sistem pertahanan
tubuh melemah, penderita mengalami berbagai macam penyakit infeksi oportunistik dan
terjadilah fase AIDS. Gejala yang sering dikeluhkan ialah demam, kecapaian, diare,
sariawan, mual, keringat malam hari, dan penurunan berat badan. Selain itu penderita
juga mengalami gejala-gejala dari infeksi oporunistik seperti: 1) TBC, gejala: batuk
darah, keringat malam hari, demam, penurunan berat badan; 2) infeksi radang otak,
gejala: sakit kepala cukup berat, demam, mual; 3) Infeksi jamur pada mulut, gejala: nyeri
mulut, tampak keputihan yang melekat pada lidah, dan sebagainya.

Infeksi oportunistik dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, atau parasit.
Disebut oportunistik karena infeksi ini akan mengambil keuntungan dari sistem ke Ketika
infeksi memasuki tubuh orang yang sehat, sel-sel darah putih yang disebut limfosit
merespons untuk melawan infeksi tersebut. Limfosit ini termasuk sel B dan sel T. Pada
pengidap HIV, sel-sel T tertentu akan mengalami kematian. Hal inilah yang membuat
tubuh sulit untuk melawan adanya infeksi baru. Ketika datangnya infeksi serius dan
jumlah sel darah yang melawan infeksi (dikenal sebagai sel CD4) jumlahnya menurun,
maka seseorang yang telah mengidap HIV tersebut dapat didiagnosis mengalami AIDS
(acquired immunodeficiency syndrome).

Selain pada penderita HIV, penurunan sistem imun juga dapat disebabkan oleh luka
bakar parah, kemoterapi, diabetes, malnutrisi, hingga kanker seperti leukemia dan
multiple myeloma. Penyebab tersebut pada akhirnya dapat melemahkan sistem
pertahanan tubuh dan mengakibatkan penderitanya terjangkit infeksi oportunistik.

9
E. Kolaborasi TB dan HIV
Mycobacterium Tuberculosis merupakan bakteri penyebab penyakit menular yang
cukup berbahaya yaitu Tuberkulosis (TB). Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh
Robert Koch pada tahun 1882 melalui penelitian ilmiahnya dalam dunia mikrobiologi
kedokteran dengan mengamati sapi yang mati. Bakteri ini menjadi masalah sejak 4000
tahun SM dan pada zaman Hipocrates dianggap sebagai penyakit yang diturunkan.

Spesies ini adalah patogen manusia yang intrasel fakultatif dan menyebabkan
tubercolosis. Penyakit ini sebagian besar tinggal di lingkungan urban padat sehingga
menjadi masalah utama diantara kaum miskin karena meningkatnya kemungkinan
penyebaran melalui pernapasan dan adanya pasien-pasien yang tidak diobati.
Mycobacterium tuberculosis tidak dapat diklasifikasikan sebagai bakteri gram positif atau
bakteri gram negatif, karena apabila diwarnai sekali dengan zat warna basa, warna
tersebut tidak dapat dihilangkan dengan alkohol, meskipun dibubuhi iodium. Oleh sebab
itu bakteri ini termasuk dalam bakteri tahan asam.

Bakteri Mycobacterium Tuberculosis berbentuk seperti batang atau Bacillus,


mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan Ziehl Neelsen. Zat
warna tahan asam ini terikat kuat hanya pada bakteri yang memiliki kandungan lilin pada
dinding selnya seperti bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Dalam jaringan tubuh,
bakteri ini dapat dormant, tidur lama beberapa tahun. Bakteri ini bersifat aerob yaitu
organisme yang melakukan metabolisme dengan bantuan oksigen. Sifat pertumbuhan
lambat (waktu generasi 2 sampai 6 minggu), sedangkan koloninya muncul pada
pembiakan 2 minggu sampai 6 minggu. Dan tumbuh subur pada biakan (eugonik),
adapun perbenihannya dapat diperkaya dengan penambahan telur, gliserol, kentang,
daging, ataupun asparagin.

Bakteri ini dapat bertahan dalam suhu yang sangat rendah yaitu antara 2 0C sampai
minus 700C, namun sangat peka terhadap panas sinar matahari dan ultra violet.

10
Dalam dahak pada suhu 300-370C kuman cepat mati dalam waktu seminggu,
sedangkan apabila terpapar sinar ultraviolet secara langsung sebagian besar bakteri akan
mati dalam waktu beberapa menit. (Tuberculosis, from basic science to patien care, 2007)

Tak hanya di hewan saja sebagaimana yang ditemukan oleh Robert Koch, bakteri
ini juga di temukan dalam tubuh manusia. Sebagai sumber energinya, bakteri ini
mengambil nutrisi dari darah inangnya dan ikut mengalir pada aliran darah inangnya.
Dengan demikian, bakteri ini bisa menyerang organ tubuh mana saja yang di aliri aliran
darah. Memang kebanyakan kasus bakteri ini menyerang 90 % nya adalah paru-paru.
Namun tidak menutup kemungkinan bakteri ini juga dapat menyerang organ tubuh
lainnya seperti kelenjar limfa, jantung, tulang (diderita oleh mantan presiden RI, Drs. B.
J. Habibie), bahkan yang saat ini sedang marak dibicarakan yaitu infeksi selaput otak
(Meningitis) yang penyebab terbesarnya adalah bakteri Mycobacterium Tuberculosis.

Saat Mycobacterium tuberculosis berhasil menginfeksi paru-paru, maka dengan


segera akan tumbuh koloni bakteri yang berbentuk globular (bulat).

11
Biasanya melalui serangkaian reaksi imunologis bakteri TBC ini akan berusaha
dihambat melalui pembentukan dinding di sekeliling bakteri itu oleh sel-sel paru.
Mekanisme pembentukan dinding itu membuat jaringan di sekitarnya menjadi jaringan
parut dan bakteri TBC akan menjadi dormant (istirahat). Bentuk-bentuk dormant inilah
yang sebenarnya terlihatsebagai tuberkel pada pemeriksaan foto rontgen.

Pada sebagian orang dengan sistem imun yang baik, bentuk ini akan tetap
dormant sepanjang hidupnya. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan tubuh
yang kurang, bakteri ini akan mengalami perkembang biakan sehingga tuberkel
bertambah banyak. Tuberkel yang banyak ini membentuk sebuah ruang di dalam paru-
paru. Ruang inilah yang menjadi sumber produksi sputum (dahak). (Fiera Riandini,
2013).

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan karena


adanya bakteri Mycobacterium Tuberculosis, yang ditularkan dari dahak yang sudah
positif mengandung bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Daya tahan tubuh yang rendah,
merupakan jalur cepat bakteri ini menyerang tubuh. Gejalanya pada orang dewasa adalah
batuk yang terus-menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih dan jika tidak
tertangani maka selama lima tahun, sebagian besar (50%) pengidapnya akan meninggal.

12

Resiko penularannya cukup tinggi dan bervariasi di Indonesia. Daya penularan


dari seorang pasien, ditentukan oleh banyaknya bakteri yang dikeluarkan dari parunya.
Kemungkinan seseorang terinfeksi Tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet
(percikan) dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Jika seseorang yang
dahaknya dinyatakan positif mengandung bakteri ini lalu ia batuk, maka orang tersebut
dapat menularkan penyakit Tuberkulosis ke 10 hingga 20 orang disekitarnya.

Seseorang yang tertular HIV tidak akan langsung merasakan kekebalan tubuhnya
melemah, dia dapat hidup bersama HIV selama bertahun-tahun tanpa merasakan
gangguan kesehatan yang berat. Gejala awal yang dirasakan oleh penderita apabila
terinfeksi HIV sama dengan penyakit infeksi akibat virus seperti demam, flu, sakit kepala
dan lain-lain. Setelah dua minggu gejala tersebut akan hilang karena virus HIV sedang
memasuki fase inkubasi. Beberapa tahun hingga sekitar sepuluh tahun kemudian
penderita baru akan merasakan tanda dan gejala sebagai penderita AIDS. (Budi, 2013)
Virus HIV merupakan faktor risiko utama bagi yang terinfeksi Tuberkulosis,
infeksi yang disebabkan virus ini mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh
seluler.

13

Jika virus HIV berkolaborasi dengan bakteri penyebab Tuberkulosis, maka pasien
akan menjadi sakit parah dan berakibat pada kematian. Seperti yang dibahas sebelumnya
HIV adalah virus yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. Seseorang dapat hidup
dengan HIV didalam tubuhnya selama bertahun-tahun tanpa merasa sakit atau mengalami
gangguan kesehatan yang berat karena virus HIV sedang mengalami masa inkubasi.
Namun lamanya masa sehat ini akan diperpendek apabila penderita terserang TB.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang terinfeksi bakteri TB tidak langsung


terkena penyakit TB karena bakteri TB dalam tubuh mengalami dormansi atau tidak aktif
(TB laten) ditambah dengan kondisi kesehatan yang terjaga dan daya tahan tubuhnya kuat
mampu menekan bakteri ini sehingga tidak akan menderita TB. Namun apabila seseorang
yang mengandung TB laten terkena HIV maka bakteri TB tadi akan aktif dan menyerang
penderita. Itulah sebabnya mengapa TB dan HIV saling berkaitan, TB dapat menyerang
seseorang yang terjangkit HIV dan TB dapat aktif dalam tubuh seseorang apabila dia
terkena HIV. Pasien yang terdapat TB dengan HIV dalam tubuhnya dan ODHA dengan
TB disebut dengan pasien ko-infeksi TB-HIV. (Yayasan Spiritia, 2006)

1/3 ODHA terinfeksi Tuberkulosis. Tuberkulosis merupakan IO terbanyak dan


penyebab kematian utama pada ODHA, 40 % kematian ODHA terkait dengan
Tuberkulosis. Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 50% pasien Tuberkulosis akan
meninggal, 30% akan sembuh dengan daya tahan tubuh yang tinggi dan 20% lainnya
berlanjut mengeluarkan bakteri dan tetap menjadi sumber penularan sebelum meninggal.
(Tuberculosis, A Manual For Madical Student by Nadya ait-khaled and Donalda.
Enarson, WHO, 2003).

Semua pasien dengan Tuberkulosis dan HIV seharusnya dievaluasi untuk


menentukan perlu/tidaknya pengobatan antiretroviral selama pengobatan Tuberkulosis.
Perencanaan yang tepat untuk mengakses obat antiretroviral, seharusnya dibuat untuk
pasien yang memenuhi indikasi.

14

Mengingat kompleksnya penggunaan serentak Obat Anti Tuberkulosis (obat Anti


Bakteri Tuberkulosis) dan Anti Retro Viral (obat pertahanan immun), konsultasi dengan
dokter ahli di bidang ini sangat direkomendasikan sebelum mulai pengobatan serentak
untuk infeksi HIV dan TB, tanpa memperhatikan mana yang muncul lebih dahulu .
Bagaimanapun juga, pelaksanaan pengobatan TB tidak boleh ditunda.

Tantangan utama dalam pengendalian TB dan HIV adalah mencegah meluasnya


penularan kedua penyakit tersebut dan mencegah terjadinya interaksi diantara kedua
penyakit tersebut. Eratnya kaitan antara TB dengan HIV membutuhkan kolaborasi
penanganan antara keduanya secara tepat dan tegas. Hal tersebut adalah tantangan utama
yang harus dihadapi dalam penanganan TB dan HIV dari awal hingga akhir, artinya mulai
dari proses penanganan untuk pencegahan dini hingga proses monitoring dan evaluasi.
Tepat dalam arti sesuai dengan sasaran dan tujuan penanganan dan tegas dalam arti
berdasarkan peraturan sehingga penanganan berada dalam koridor yang ditetapkan.

Munculnya epidemi HIV dan AIDS di dunia tersebut jelas-jelas menambah


permasalahan dalam penanganan penyakit TB. Laporan WHO menyebutkan bahwa pada
Tahun 2012 ada sebanyak 8,6 juta orang terjangkit TB dan dari jumlah sebesar itu yang
meninggal dunia sebanyak 15% atau 1,3 juta. Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa, dari 1,3
juta yang meninggal itu ternyata 24.6% nya atau sebanyak 320.000 dari 1,3 juta
merupakan orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
15

F. Tindakan Preventif Dan Pengobatan Terhadap Infeksi Oportunistik ODHA

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2013


Tentang Penanggulangan HIV Dan AIDS, tindakan yang dapat dilakukan untuk pencegahan
dan pengobatan terhadap infeksi oportunistik adalah sebagai berikut :

Pencegahan
1. Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan yang benar dan
komprehensif mengenai pencegahan penularan HIV dan menghilangkan stigma serta
diskriminasi. Promosi kesehatan diberikan dalam bentuk advokasi, bina suasana,
pemberdayaan, kemitraan dan peran serta masyarakat sesuai dengan kondisi sosial
budaya serta didukung kebijakan public

Promosi kesehatan dilakukan oleh tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan
terlatih. Sasaran promosi kesehatan meliputi pembuat kebijakan, sektor swasta, organisasi
kemasyarakatan dan masyarakat.diutamakan pada populasi sasaran dan populasi kunci
Populasi sasaran merupakan populasi yang menjadi sasaran program. Populasi kunci
meliputi:

a. pengguna napza suntik;

b. Wanita Pekerja Seks (WPS) langsung maupun tidak langsung;

c. pelanggan/ pasangan seks WPS;


d. gay, waria, dan Laki pelanggan/ pasangan Seks dengan sesama Laki (LSL); dan

e. warga binaan lapa s/rutan.

2. Pencegahan penularan HIV dapat dicapai secara efektif dengan cara menerapkan pola
hidup aman dan tidak berisiko.

a. pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual;


b. pencegahan penularan HIV melalui hubungan non seksual; dan
16
c. pencegahan penularan HIV dari ibu ke anaknya
3. Pencegahan Penularan HIV Melalui Hubungan Non Seksual
a. uji saring darah pendonor;
b. pencegahan infeksi HIV pada tindakan medis dan non medis
c. pengurangan dampak buruk pada pengguna napza suntik.
4. Pemeriksaan diagnosis HIV dilakukan untuk mencegah sedini mungkin terjadinya
penularan atau peningkatan kejadian infeksi HIV.

Pengobatan
a. Pengobatan HIV harus dilakukan bersamaan dengan penapisan dan terapi
infeksi oportunistik, pemberian kondom dan konseling.
b. Pengobatan AIDS bertujuan untuk menurunkan sampai tidak terdeteksi
jumlah virus (viral load) HIV dalam darah dengan menggunakan
kombinasi obat ARV.
Pengobatan HIV dan AIDS dilakukan dengan cara pengobatan:

terapeutik;
profilaksis; dan
penunjang

Rehabilitasi

Rehabilitasi pada kegiatan Penanggulangan HIV dan AIDS dilakukan melalui


rehabilitasi medis dan social.
17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. Infeksi oportunistik (IO) adalah infeksi yang ambil kesempatan
(opportunity) yang disediakan oleh kerusakan pada sistem kekebalan
tubuh untuk menimbulkan penyakit.
b. Patogen Penyebab Infeksi Oportunistik,InfeksiProtozoa/Helminthes, Infeksi
Oleh Bakteri,Infeksi oleh Virus,Infeksi oleh Jamur.
c. Sel CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian
yang penting dari sistem kekebalan tubuh kita. Sel CD4 kadang kala disebut
sebagai sel-T.
d. Stadium awal HIV. Fase stadium awal atau fase akut ini terjadi 2-4 minggu
setelah seseorang terinfeksi HIV. Gejala yang dirasakan adalah respon
normal tubuh terhadap masuknya infeksi ke dalam tubuh.
B. Saran
Penyakit ini dapat beresiko tinggi apabila tidak di jaga atau di perhatikan
sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi dari virus,bakteri dan jamur.
18

DAFTAR PUSTAKA

www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/TB {Di Akes Pada 30 mei 2017}

http://www.tbindonesia.or.id/tb-hiv/ {Di Akes Pada 30 mei 2017}

http://artikeltentangkesehatan.com/tbc-dan-hubungannya-dengan-hivaids.html {Di Akes


Pada 30 mei 2017}

http://health.detik.com/read/2014/03/03/182539/2514116/763/ini-lho-hubungan-antara-tb
dengan-hiv-aids {Di Akes Pada 30 mei 2017}

http://analismuslim.blogspot.com/2012/02/mycobacterium-tuberculosis.html {Di Akes Pada


30 mei 2017}

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/125/jtptunimus-gdl-elvatrihan-6218-3-babii.pdf{Di
Akes Pada 30 mei 2017

https://evrinasp.wordpress.com/2014/06/01/menghadapi-kolaborasi-tb-hiv/ {Di Akes


Pada 30 mei 2017}

Ocw.usu.ac.id/course/download/1110000101-basic-biology-of-cell-
2/bbc215_slide_morfologi_struktur_fisiologi_dan_metabolisme_bakteri.pdf {Di Akes
Pada 30 mei 2017}

https://askdokter.wordpress.com/2012/05/19/infeksi-oportunistik-gastrointestinal-pada-
hivaids/ {Di Akes Pada 30 mei 2017}
iii