Anda di halaman 1dari 14

0

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI AKUAKULTUR
BUDIDAYA IKAN LELE (Clarias sp.)
DENGAN SISTEM BIOFLOK

REARING CATFISH (Clarias sp.)


USING BIOFLOC SYSTEMS

Kelompok 4
Nazarrio Rizaldy
05051181419027

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Universitas Sriwijaya
0
1

2017
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Ikan lele merupakan salah satu ikan konsumsi yang digemari masyarakat
di Indonesia. Produksi ikan lele di Indonesia pada tahun 2014 sebesar 613.120 ton
dan mengalami peningkatan 12.75% dari tahun sebelumnya (KKP, 2014).
Berdasarkan data tersebut, dapat diketahui bahwa angka produksi nasional ikan
lele terus mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Peningkatan produksi budidaya ikan lele dengan cara budidaya super
intensif membawa dampak negatif terhadap kualitas lingkungan budidaya yang
kemudian dapat berakibat bagi kesehatan ikan. Penurunan kualitas lingkungan
disebabkan oleh limbah dari sisa pakan, feses dan sisa metabolisme ikan. Menurut
Asaduzzaman et al. (2008), tingginya penggunaan pakan buatan pada budidaya
intensif menyebabkan pencemaran lingkungan dan peningkatan kasus penyakit.
Dengan demikian, semakin tinggi input pakan semakin tinggi pula akumulasi
limbah amonia dalam media budidaya dan bahkan dapat menyebabkan kematian
(Avnimelech, 2012).
Nitrogen dalam sistem akuakultur terutama berasal dari pakan buatan yang
mengandung protein tergantung pada kebutuhan dan stadia organisme yang
dikultur. Dari total protein yang masuk ke dalam sistem budidaya, sebagian
dikonsumsi oleh organisme budidaya dan sisanya terbuang ke dalam air. Protein
dalam pakan akan dicerna namun hanya 20-30% dari total nitrogen dalam pakan
dimanfaatkan menjadi biomassa ikan (Brune et al. 2003). Pakan ikan yag tidak
tercerna beserta feses yang diekskresikan oleh ikan dapat menjadi amonia. Salah
satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan adanya budidaya ikan dengan
teknik bioflok (Crab et al., 2007).
Teknologi bioflok adalah salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk
mengatasi masalah limbah budidaya. Bahkan mampu memberi keuntungan lebih
karena selain dapat menurunkan limbah nitrogen anorganik, juga dapat

Universitas Sriwijaya
1
2

menyediakan pakan tambahan bagi ikan budidaya sehingga dapat meningkatkan


pertumbuhan dan efisiensi pakan. Teknologi bioflok dapat dilakukan dengan
menambahkan karbon organik ke dalam media pemeliharaan untuk meningkatkan
C/N rasio dan merangsang pertumbuhan bakteri heterotrof (Crab et al. 2007).
Dengan adanya teknologi bioflok ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas air
media pemeliharaan ikan lele dan efesiensi pemanfaatan pakan ikan lele.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum bioflok ini adalah untuk mengetahui aplikasi
teknologi bioflok terhadap budidaya ikan lele (Clarias sp.).

Universitas Sriwijaya
2
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistematika dan Morfologi Ikan Lele (Clarias sp.)


Sistematika ikan lele (Clarias sp.) berdasarkan SNI (2000) adalah sebagai
berikut:
Kingdom : Animalia
filum : Chordata
kelas : Pisces
ordo : Ostariophysi
famili : Clariidae
genus : Clarias
spesies : Clarias sp.
Menurut Khairuman dan Amri (2008) umumnya ikan lele memiliki tubuh
yang licin dan tidak bersisik tetapi berlendir. Warna tubuhnya menjadi loreng
apabila terkejut dan memiliki mulut yang lebar dan dilengkapi sunggut sebanyak
4 pasang yang berfungsi sebagai alat peraba pada saat mencari makan atau
bergerak. Ikan lele memiliki tiga buah sirip tunggal yakni sirip punggung, sirip
ekor, dan sirip dubur. Ikan lele juga memiliki sirip berpasangan yaitu sirip dada
dan sirip perut. Sirip dada dilengkapi dengan sirip yang keras dan runcing yang
disebut dengan patil. Patil ini berguna sebagai senjata dan alat bantu untuk
bergerak.
Menurut Mahyudin (2011) ikan lele mempunyai alat pernafasan berupa
insang serta labirin sebagai alat pernapasan tambahannya. Berdasarkan perbedaan
jenis kelaminnya, ikan lele jantan memiliki kepala yang lebih kecil dari induk ikan
lele betina, warna kulit dada agak tua, urogenital papilla (kelamin) agak menonjol,
memanjang ke arah belakang dan terletak di belakang anus, serta warna
kemerahan, gerakannya lincah, tulang kepala pendek dan agak gepeng (depress).
Perutnya lebih langsing dan kenyal bila dibanding induk ikan lele betina, bila
bagian perut di stripping secara manual dari perut ke arah ekor akan
mengeluarkan cairan putih kental (spermatozoa-mani), dan kulitnya lebih halus.

Universitas Sriwijaya
3
4

Sedangkan ciri-ciri induk lele betina yaitu kepalanya lebih besar, warna kulit dada
agak terang, urogenital papilla (kelamin) berbentuk oval (bulat daun), berwarna
kemerahan, lubangnya agak lebar dan terletak di belakang anus, gerakannya
lambat, tulang kepala pendek dan agak cembung, perutnya lebih gembung dan
lunak dan bila bagian perut di stripping secara manual dari bagian perut ke arah
ekor akan mengeluarkan cairan kekuning-kuningan (ovum/telur).

2.2. Habitat dan Kebiasaan Makan Ikan Lele (Clarias sp.)


Mahyuddin (2011) mengatakan bahwa habitat ikan lele adalah semua
perairan tawar. Lele tidak pernah ditemukan diperairan payau atau asin. Disungai
yang airnya tidak terlalu deras atau perairan yang tenang, seperti danau, waduk,
telaga, rawa serta genangan kecil merupakan lingkungan hidup lele. Karena lebih
menyukai perairan yang tenang, tepian dangkal dan terlindung, ikan lele memiliki
kebiasaan membuat dan menempati lubang-lubang ditepi sungai atau kolam.
Menurut Kordi (2010) bahwa ikan lele termasuk ikan pemakan segala
bahan makanan (omnivora), baik bahan hewani maupun nabati. Ikan lele mencari
makan di dasar perairan (bottom feeder). Pakan alami lele sangkuriang adalah
binatang-binatang renik, seperti kutu air dari kelompok Daphnia, Cladocera, atau
Copepoda. Sementara itu, ikan lele juga memakan larva jentik nyamuk, serangga
atau siput-siput kecil. Meskipun demikian, jika telah dibudidayakan misalnya
dipelihara di kolam lele dapat memakan pakan buatan seperti pellet, limbah
peternakan ayam, dan limbah-limbah peternakan lainnya (Mahyuddin, 2011).

2.3. Teknik Bioflok


Teknologi bioflok adalah teknik menumbuhkan bakteri heterotrof dalam
kolam budidaya dengan tujuan untuk memanfaatkan limbah nitrogen menjadi
pakan yang berprotein tinggi dengan menambahkan sumber karbon untuk
meningkatkan rasio C/N (Rosenberry, 2006 dalam Rohmana, 2009). Penambahan
unsur karbon organik ke dalam media budidaya pada kolam dengan sistem bioflok
akan menyebabkan turunnya konsentrasi oksigen terlarut karena aktifitas
metabolisme bakteri aerob (De Schryver, et al., 2008). Sehingga perlu dilakukan
aerasi untuk meningkatkan konsentrasi oksigen terlarut dalam media budidaya.

Universitas Sriwijaya
4
5

Menurut Agustiawan (2012) kecepatan aerasi yang baik untuk memperbaiki


kualitas media dengan proses pembentukan bioflok adalah sebesar 2400
m/menit.
Komponen pembentuk bioflok terdiri dari bahan organik, substrat dan
sebagian besar mikroorganisme seperti fitoplankton, bakteri bebas ataupun yang
menempel. Bakteri heterotrof dalam air tambak akan berkembang pesat apabila di
air tambak ditambahkan sumber (C) karbohidrat yang langsung dapat
dimanfaatkan, misalnya sukrose, molase dan tepung tapioka. Bakteri tersebut akan
menggunakan N anorganik terutama amonia dalam air dan disintesa menjadi
protein bakteri dan juga sel tunggal protein yang dapat digunakan sebagai sumber
pakan bagi udang atau ikan yang dipelihara (Hari, et al., 2004 dalam Rangka dan
Gunarto, 2012).
Beberapa jenis bakteri yang sering digunakan dalam bioflok adalah
Bacillus sp., Bacillus subtilis, Pseudomonas sp., Bacillus lichenoformis, Bacillus
pumilus, Lactobacillus sp., Bacillus megaterium. Selain dapat memperbaiki
kualitas air, teknologi bioflok diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pakan
yang berpengaruh terhadap penambahan bobot pada ikan (Adharani et al., 2016).

Universitas Sriwijaya
5
6

BAB 3
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum Bioteknologi Akuakultur Teknologi Bioflok dilaksanakan
pada bulan Maret 2017 sampai dengan selesai di Kolam Percobaan Program
Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.

3.2. Alat dan Bahan


3.2.1. Alat
Alat-alat yang akan digunakan pelaksanaan praktikum ini yaitu tandon air
(volume 500 L), perangkat aerator, baskom, ember, penggaris, timbangan, spuit
suntik, tisu gulung, serokan, parang, paku, kayu, palu dan gergaji.

3.2.2. Bahan
Bahan-bahan yang akan digunakan dalam praktikum ini meliputi benih
ikan, sumber karbon (tepung tapioka), probiotik, air, kapur dan garam.

3.3. Cara Kerja


Praktikum ini terdiri dari beberapa tahapan kerja, antara lain sebagai
berikut :
3.3.1. Persiapan Wadah Pemeliharaan Ikan
Pemeliharaan ikan dilakukan di dalam wadah tandon air (500 L), sebelum
digunakan dilakukan persiapan wadah terlebih dahulu yang meliputi pembersihan
wadah, pemasangan perangkat aerator, pengisian air. Setelah wadah diisi air tahap
selanjutnya adalah tahap pembuatan atap untuk melindungi tandon.

3.3.2. Penebaran dan Pemeliharaan Benih


Sebelum benih ikan ditebar, dilakukan pengukuran bobot dan panjang
awal menggunakan timbangan digital dan mistar. Benih ikan dengan ukuran 5-6
cm ditebar dalam wadah dengan kepadatan benih 150 ekor. Pemeliharaan ikan

Universitas Sriwijaya
6
7

dilakukan selama 3 minggu. Selama pemeliharaan, ikan diberikan pakan dengan


kandungan protein sebesar 40% secara at satiation. Frekuensi pemberian pakan 3
kali sehari pukul 08.00, 12.00 dan 17.00 WIB.

3.3.3. Intensifikasi Bakteri Heterotrof


Inokulum bakteri heterotrof diberikan di awal masa pemeliharaan
sebanyak 20 ml/m3 volume air kolam. tepung tapioka sebanyak 65 gram/m 3,
selanjutnya diberikan 3 hari sekali selama pemeliharaan, bahan-bahan tersebut
tercampur secara cepat dan homogen. Dilakukan pelarutan dengan air dalam
wadah ember dan disebar merata pada bak pemeliharaan (Rohmana, 2009).

3.4. Pengumpulan Data


Data yang diambil pada praktikum ini meliputi:
3.4.1. Tingkat Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup ikan dapat diketahui dengan menggunakan
rumus Effendi (1997) :

SR=

Keterangan :
S = Tingkat kelangsungan hidup (%)
Nt = Jumlah ikan yang hidup pada akhir pemelihaaraan (ekor)
No = Jumlah ikan pada awal pemeliharaan (ekor)

3.4.2. Pertumbuhan Berat Mutlak


Pengukuran pertumbuhan berat ikan dilakukan pada awal dan akhir
pemeliharaan. Pertumbuhan berat mutlak ikan selama pemeliharaan dihitung
dengan menggunakan rumus Effendi (1997):
W = Wt Wo
Keterangan :
W = Pertumbuhan mutlak ikan yang dipelihara (g)
Wt = Berat ikan pada akhir pemeliharaan (g)
Wo = Berat ikan pada awal pemeliharaan (g)

Universitas Sriwijaya
7
8

3.4.3. Pertumbuhan Panjang Mutlak


Pengukuran pertumbuhan panjang ikan dilakukan pada awal dan akhir
pemeliharaan. Pertumbuhan panjang mutlak ikan selama pemeliharaan dihitung
dengan menggunakan rumus Effendi (1997):
L = Lt Lo
Keterangan :
L = Pertumbuhan panjang mutlak ikan yang dipelihara (cm)
Lt = Panjang ikan pada akhir pemeliaraan (cm)
Lo = Panjang ikan pada awal pemeliharaan (cm)

3.4.4. Feed Convertion Ratio (FCR)


Feed Convertion Ratio (FCR) merupakan suatu ukuran yang menyatakan
rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan.
Perhitungan rasio konversi pakan dilakukan dengan menggunakan rumus dari
NRC (1993):

FCR=

Keterangan:
FCR = rasio konversi pakan
Wt = bobot akhir ikan (g)
Wo = bobot awal ikan (g)
F = pakan yang diberikan
D = berat ikan yang mati selama pemeliharaaan

3.4.5. Kualitas Air


Parameter kualitas air yang diukur adalah oksigen terlarut (DO) dan suhu.
Pengukuran suhu dilakukan setiap hari, sedangkan pengukuran DO air
pemeliharaan dilakukan pada setiap pekan. Alat-alat yang digunakan adalah
DO-meter untuk mengukur kadar oksigen terlarut dan termometer untuk
mengukur suhu perairan tersebut.

Universitas Sriwijaya
8
9

BAB 4
HASIL PEMBAHASAN

4.1. Hasil
4.1.1. Pertumbuhan Ikan Lele (Clarias sp.)
Hasil yang didapatkan pada praktikum disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Data pertumbuhan ikan lele selama pemeliharaan
No Parameter Satuan Nilai
1 Pertumbuhan Panjang Rata-Rata cm 4,2
2 Pertumbuhan bobot Rata-Rata gram 5.25
3 Kelangsungan Hidup % 35,33
4 FCR - 0,419

4.1.2. Kualitas Air


Hasil pengukuran kualitas air selama praktikum disajikan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2. Data kualitas air selama pemeliharaan
No Parameter Satuan Nilai
1 pH - 6,5-7,7
2 Suhu C 28,9-30,7
3 Endapan Flok Cm 4-5,5

4.2. Pembahasan
Berdasarkan tabel 4.1. dapat diketahui bahwa pertumbuhan panjang rata-
rata ikan lele selama pemeliharaan sebesar 4,2 cm, pertumbuhan bobot rata-rata
sebesar 5,25 gram, kelangsungan hidup sebesar 35,33%, serta rasio konversi
pakan sebesar 0,419. Hal ini menunjukkan bahwa dengan adanya teknologi
bioflok pada budidaya ikan lele dapat mempengaruhi pertumbuhan, kelangsungan
hidupdan rasio konversi pakan. Teknologi bioflok diaplikasikan dengan prinsip
dasar assimilasi nitrogen terlarut oleh bakteri heterotrophik dengan mengelola
C:N rasio di dalam air media. Selanjutnya biomassa bakteri heterotrophik tersebut
membentuk agregat yang disebut bioflok.
Pertambahan panjang dan bobot ikan lele dari awal pemeliharaan sampai
dengan akhir pemeliharaan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini

Universitas Sriwijaya
9
10

disebabkan bahwa pada awal pemeliharaan hingga akhir pemeliharaan ukuran


ikan masih kecil dan ruang gerak masih mencukupi dan layak untuk mendukung
pertumbuhan ikan. Effendie (1997) menyatakan bahwa faktor yang dapat
menyebabkan ikan dapat tumbuh yaitu pakan, padat tebar, dan lingkungan.
Kelangsungan hidup yang didapatkan pada praktikum ini cukup rendah dengan
nilai sebesar 35,33%. Penyebab rendahnya kelangsungan hidup ikan lele adalah
rendahnya kemampuan untuk beradaptasi di lingkungan yang baru.
Dikaitkan dengan teknologi bioflok, rupanya pakan yang dikonsumsi oleh
ikan lele yang dibudidayakan dengan teknologi bioflok dimanfaatkan secara lebih
efisien. Hal ini sesuai dengan rasio konversi akan yang didapatkan sangat baik
dengan nilai FCR sebesar 0,419. Ini menunjukkan bahwa pakan yang diberikan
sangat efisien untuk ikan lele. Hastuti dan Subandiyono (2014), menyatakan
bahwa udang, ikan nila dan kerang mampu mengkonsumsi dan meretensikan dari
bioflok. Sebagaimana udang, ikan nila dan kerang, ikan lele juga mampu
menfaatkan bioflok sehingga menjadi informasi dasar dalam mengembangkan
teknologi bioflok.
Berdasarkan tabel 4.2. dapat diketahui bahwa hasil pengukuran parameter
kualitas air selama praktikum masih layak untuk kelangsungan hidup dan
pertumbuhan ikan lele. Konsentrasi suhu sebesar 28,9-30,7 C dan pH sebesar
6,5-7,7. Suhu air pada media pemeliharaan berada dalam batas yang layak bagi
pertumbuhan ikan lele, berkisar 25-30 C (Pillay & Kutty 2005), konsentrasi pH
air selama pemeliharaan dalam batas yang layak bagi pertumbuhan ikan lele,
berkisar 5-9 (PPRI-82/2011). Endapan flok yang didapatkan sebesar 4-5,5 cm.
Umumnya flok yang terbentuk tidak hanya mengandung bakteri saja, namun
tersusun pula atas mikroorganisme lain diantaranya adalah mikroalgae,dan
zooplankton yang terperangkap partikel organik (Hastuti dan Subandiyono, 2014).

Universitas Sriwijaya
10
11

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang didapatkan berdasarkan hasil praktikum mengenai
bioflok yang telah dilakukan adalah teknologi bioflok sudah dapat diaplikasikan
dalam kegiatan membudidayakan ikan atau akuakultur dan dapat memberikan
pengaruh terhadap perbaikan kualitas air dan pakan. Meskipun dalam teknis
pelaksanaannya hasil yang didapatkan kurang optimal akan tetapi berdasarkan
literatur yang sudah ada mendapatkan hasil yang terbaik. Hal-hal yang menjadi
faktor keberhasilan dalam teknologi bioflok harus diperhatikan supaya berhasil
dan tujuan dari teknologi bioflok dapat tercapai.

5.2. Saran
Saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah sebelum
dilakukannya penebaran ikan ke media pemeliharaan, dipastikan terlebih dahulu
dalam media pemeliharaan tersebut sudah ada floknya, karena akan dapat
berpengaruh pada keberlangsungan hidup ikan yang dipelihara.

Universitas Sriwijaya
11
12

DAFTAR PUSTAKA

[KKP] Kementrian Kelautan dan Perikanan. 2014. Statistik Kelautan dan


Perikanan 2014. KKP RI, Jakarta.

Adharani N, Soewardi K, Syakti AD, dan Hariyadi S. 2016. Manajemen kualitas


air dengan teknologi bioflok: studi kasuspemeliharaan ikan lele (Clarias
sp.). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 21(1): 35-40.

Agustiawan, S. 2012. Peranan kecepatan aerasi (flow rate) terhadap kualitas


media, pertumbuhan bioflok dan produksi ikan nila Oreochromis
Niloticus. Skripsi. Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan
Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. (tidak
dipublikasikan).

Asaduzzaman M, Wahab MA, Verdegem MCJ, Huque S, Salam MA, dan Azim
ME. 2008. C/N ratio control and substrate addition for periphyton
development jointly enhance freshwater prawn Macrobrachium
rosenbergii Production in Ponds. Aquaculture. 280:117-123.

Avnimelech Y. 1999. Carbon/nitrogen ratio as a control element in aquaculture


systems. Aquaculture. 176: 227-235.

Badan Standarisasi Nasional [BSN]. 2000. SNI: 01-6484.4 2000: Produksi


benih ikan lele dumbo (Clarias gariepinus X C fuscus) kelas benih sebar.

Brune D, Schwartz G, Eversole A, Collier J, dan Schwedler T. 2003.


Intensification of pond aquaculture and high rate photosynthetic systems.
Aquacultural Engineering.28: 6586.

Crab R, Avnimelech Y, Defoirdt T, Bossier P, dan Verstraete W. 2007. Nitrogen


removal techniques in aquaculture for sustainable production.
Aquaculture. 270: 1-14.

De Schryver P, Crab R, Defoirdt T, Boon N, dan Verstraete W. 2008. The basics


of bio-flocs technology: the added value for aquaculture. Aquaculture.
277: 125137.

Effendie MI. 1997. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta.

Hastuti S dan Subandiyono. 2012. Performa produksi ikan lele dumbo (Clarias
gariepinus, Burch) yang dipelihara dengan teknologi biofloc. Jurnal
Saintek Perikanan. 10(1): 37-42.

Khairuman K dan Amri. 2008. Budidaya Lele Sangkuriang Secara Efektif. Agro
Media Pustaka. Jakarta.

Universitas Sriwijaya
12
13

Kordi KMGH. 2010. Budidaya ikan lele di kolam terpal. Andi, Yogyakarta.

Mahyuddin K. 2011. Panduan Lengkap Agribisnis Lele. Penebar Swadaya,


Jakarta.

National Research Council (NRC). 1993. Nutrient Requirement of Warm Water


Fishes and Shelfish. Nutritional Academy of Sciences, Washington D. C.

Pillay TVR, Kutty MN. 2005. Aquaculture Principles and Practices. Ed ke-2.
Blackwell Publishing,Oxford GB.

PPRI] Peraturan Pemerintah Lingkungan Hidup. 2001. Keputusan Menteri Negara


Lingkungan Hidup Nomor 82 Tahun 2001.

Rangka NA dan Gunarto. 2012. Pengaruh penumbuhan bioflok pada budidaya


udang vaname pola intensif di tambak. Jurnal Ilmiah Perikanan dan
Kelautan. 4(2): 34-39.

Rohmana, D. 2009. Konversi limbah budidaya ikan lele, Clarias sp. menjadi
biomassa bakteri heterotrof untuk perbaikan kualitas air dan makanan
udang galah, Macrobrachium rosenbergii. Tesis. Institut Pertanian Bogor.
Bogor. (tidak dipublikasikan).

Universitas Sriwijaya
13