Anda di halaman 1dari 6

UJIAN MID SEMESTER GENAP T.A.

2016/2017

MATA KULIAH : PENG.METODE PEMULIAAN TANAMAN

DOSEN : Prof. Dr.Ir.H. Gusti R Sadimantara, M.Agr.

Hari/Tanggal: Jum,at, 7 April 2017

1. Uraikan secara singkat dan jelas apa yang saudara ketahui tentang metode pemuliaan
tanaman.

2. Uraikan beberapa cara memperoleh varietas unggul baru secara konvensional, dilengkapi
dengan contoh masing-masing.

3. Jelaskan salah satu metode seleksi setelah hibridisasi pada tanaman, sebutkan pula
kelebihan dan kekurangan dari metode tersebut.

CATATAN:
Jawablahpertanyaan-pertanyaantersebut di atasdalambentuk Words file
dankirimkanmelalui email: gusti5@yahoo.com palinglambathariini jam 17.30.
Nama : FATMAWATI
Stambuk : D1B1 14 011
Kelas : PMT
JAWABAN

1. Metode pemuliaan tanaman terdiri dari introduksi, seleksi massa, seleksi galur murni,
hibridisasi diikuti seleksi pedigree, bulk, back cross, ssd, kultur jaringan diikuti seleksi,
fusi protoplast dan DNA Rekombinan. Introduksi adalah Varietas baru yang diperoleh
dengan cara memasukkan suatu genotipe dari luar negeri, selanjutnya dilakukan uji
adaptasi, produksi dan ketahanan terhadap hama dan penyakit. Seleksi merupakan salah
satu langkah dalam pemuliaan tanaman yang tertua. Seleksi pada awalnya hanya berdasar-
kan perasaan dan apa yang dianggap baik untuk ditanam pada generasi
berikutnya. Seleksi berkembang setelah ditemukan berbagai teknik seleksi. Seleksi pada
tanaman menyerbuk sendiri digunakan cara seleksi individu tanaman untuk memperoleh
tanaman homozigot. Seleksi Galur Murni dilaksanakan untuk mendapatkan individu
homosigot. bahan seleksi adalah populasi yang sudah mempunyai tanaman homosigot di
dalamnya. Pemilihan berdasarkan fenotipe tanaman, sehingga penyeleksi sering kesulitan
untuk membedakan pasangan gen yang homosigot dan heterosigot, jika ada faktor
dominan. Keberhasilan seleksi tergantung keragaman genetik tanaman homosigot pada
populasi bahan seleksi. makin banyak atau makin beragam tanaman homosigot populasi
bahan seleksi, makin besar kemungkinan memperoleh individu tanaman yang
diharapkan. hasil seleksi berupa galur murni. kemurnian galur dapat berubah karena
beberapa sebab: 1) tercampur dengan biji varietas lain, 2) terjadi persilangan secara alami,
dan 3) terjadi mutasi, sehingga penyeleksian perlu dilaksanakan lagi setelah beberapa
tahun galur murni tersebut ditanam. Metode seleksi tanaman terbagi dua yaitu metode
seleksi tanaman menyerbuk sendiri dan dan menyerbuk silang.

2. Kegiatan pemuliaan konvensional dimulai dengan melakukan seleksi individu-individu


superior dari suatu populasi yang bersegregasi, dilanjutkan dengan persilangan
antarindividu terpilih, dan dilanjutkan dengan seleksi pada turunannya. Permasalahan
sering timbul jika kita melakukan perbaikan populasi yang melibatkan karakter kuantitatif
yang dikendalikan oleh lebih dari 1 gen. Kesulitan juga muncul dalam menentukan jumlah
dan pasangan tetua persilangan yang akan memberikan input genetik yang diharapkan dan
bagaimana menangani seluruh kombinasi persilangan pada suatu program pemuliaan agar
ekspresi karakter yang diharapkan meningkat. Hal ini disebabkan karena total ekspresi
karakter kuantitatif bergantung pada akumulasi ekspresi banyak gen di mana kontribusi
masing-masing gen tersebut sangat kecil. Pada tanaman cabai karakter kuantitatif yang
bernilai ekonomis meliputi ukuran buah, hasil per tanaman, kandungan karotenoid, dan
daya adaptasi terhadap kondisi lingkungan. Metode pemuliaan konvensional untuk
mendapatkan varietas unggul terdiri dari seleksi, persilangan, mutagenesis, poliploidi,
heterosis.
a. Seleksi
Seleksi terjadi secara alami atau buatan, individu atau kelompok. Efektivitas
tergantung keragaman genetik. Sumber keragaman dari varietas lokal, koleksi, populasi
segregasi, hasil persilangan. Pada tanaman menyerbuk sendiri terdiri atas dua metode yaitu
seleksi massa dan galur murni. Seleksi Massa merupakan metode seleksi tertua. Seleksi
berdasarkan Fenotipe tanaman yang diinginkan, kemudian biji dicampur untuk ditanam
lagi pada generasi selanjutnya. Seleksi dapat dilakukan satu atau beberapa generasi
berurutan sehingga didapat suatu populasi baru dengan sifat-sifat yang diinginkan.
Seleksi masa mempunyai dua kelemahan:
Tanaman homosigot dan heterosigot mempunyai Fenotipe sama untuk sifat dominan.
Tanaman heterosigot akan mengalami segregasi sehingga seleksi perlu diulang
Lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dn penampakan tanaman sehingga
menyulitkan penilaian apakah tanaman yang kelihatan baik disebabkan oleh faktor
genotipe atau oleh lingkungan.
Varietas hasil seleksi masa dapat terdiri atas genotipe berbeda. biasanya perbedaan
ini pada sifat kuantitatif. untuk sifat kualitatif: ukuran biji, kemasakan, warna biji atau
buah, ketahanan terhadap hama dan penyakit diusahakan sama, karena sifat kualitatif
secara fenotipe lebih mudah dinilai. Seleksi Galur Murni dilaksanakan untuk mendapatkan
individu homosigot. bahan seleksi adalah populasi yang sudah mempunyai tanaman
homosigot di dalamnya. Pemilihan berdasarkan fenotipe tanaman, sehingga penyeleksi
sering kesulitan untuk membedakan pasangan gen yang homosigot dan heterosigot, jika
ada faktor dominan.
Populasi bahan seleksi dapat berupa:
Varietas lokal yang telah beradaptasi baik pada suatu daerah dan merupakan campuran
berbagai galur, dan
Populasi tanaman bersegregasi yang merupakan keturunan dari persilangan yang
melakukan penyerbukan sendiri sampai beberapa generasi.
Keberhasilan seleksi tergantung keragaman genetik tanaman homosigot pada
populasi bahan seleksi. makin banyak atau makin beragam tanaman homosigot populasi
bahan seleksi, makin besar kemungkinan memperoleh individu tanaman yang
diharapkan. hasil seleksi berupa galur murni.
b. Hibridisasi/ Persilangan
Persilangan dilakukan dengan menggabungkan sifat dari sepasang atau lebih tetua.
Diawali dengan pemilihan tetua dengan didasarkan atas tujuan program. Persilangan
merupakan salah satu cara untuk memperluas keragaman genetik dan atau menggabungkan
karakter yang diinginkan dari para tetua sehingga diperoleh populasi baru sebagai bahan
seleksi dalam program perakitan varietas unggul.
c. Mutagenesis
Mutasi adalah perubahan materi genetik (gen atau kromosom) suatu sel yang
diwariskan kepada keturunannya. Mutasi dapat disebabkan oleh kesalahan replikasi materi
genetika selama pembelahan sel oleh radiasi, bahan kimia (mutagen), atau virus, atau dapat
terjadi selama proses meiosis. Terdapat dua jenis mutasi, yaitu 1) Mutasi gen ialah
perubahan kimiawi pada satu atau beberapa pasangan basa dalam satu gen tunggal yang
menyebabkan perubahan sifat individu tanpa perubahan jumlah dan susunan
kromosomnya. 2) Mutasi kromosom adalah perubahan yang terjadi pada kromosom yang
disertai dengan perubahan struktur dan jumlah kromosom.
Mutasi alam atau mutasi spontan biasanya terjadi karena kesalahan pemasangan
basa pada waktu proses replikasi, perbaikan, atau rekombinasi DNA sehingga
mengarah pada terjadinya substitusi, insersi atau delesi pasangan basa. Selain itu
mutasi secara alami dapat terjadi karena radiasi radioaktif alam, sinar kosmis dan
sinar ultraviolet.
Mutasi buatan, yaitu mutasi yang ditimbulkan akibat campur tangan manusia
(telah direncancanakan). Dengan memperlakukan sel menggunakan zat-zat kimia,
sinar-X, sinar gamma, sinar alfa, dan beberapa jenis radiasi hasil sampingan
tenaga nuklir
d. Poliploidi
Poliploidi ialah kondisi pada suatu organisme yang memiliki set kromosom atau
genom lebih dari sepasang. Organisme yang memiliki keadaan demikian disebut sebagai
organisme poliploid. Usaha-usaha yang dilakukan orang untuk menghasilkan organisme
poliploid disebut dengan poliploidisasi.
Poliploidi adalah keadaan sel yang memiliki lebih dari dua genom dasar (3x, 4x, 5x dan
seterusnya), ditemukan banyak pada kingdom tanaman. Poliploidi dapat berisikan dua atau
lebih pasang genom dengan segmen kromosom yang homolog, keseluruhan kromosom
homolog atau keseluruhan kromosom tidak homolog. Perbedaan satu dengan yang lain
pada sejumlah gen atau segmen kromosom yang menyebabkan sterilitas sebagian atau
seluruhnya. Fenomena terjadinya poliploidi di alam dapat dibagi atas :
1. Autopoliploid (penambahan genom dimana pasangan kromosomnya homolog)
2. Allopoliploid (penambahan genom dimana kromosomnya tidak homolog).
Semangka tanpa biji merupakan salah satu hasil dari proses poliploidisasi. Semangka
hibrida triploid (tanpa biji), dihasilkan dari persilangan antara induk betina tetraploid (4x)
dengan induk jantan diploid (2x) yang normal. Induk betina tetraploid dihasilkan dengan
perlakuan kolkisin terlebih dahulu. Setelah itu benih akan mengalami poliploidi
(tetraploid). Persilangan antara tanaman tetraploid (betina) dan diploid/normal (jantan)
akan menghasilkan keturunan triploid. Tanaman triploid tersebut adalah tanaman yang
menghasilkan semangka tanpa biji/seedless.
e. Heterosis
Heterosis atau vigor hibrida adalah keadaan di mana vigor dari suatu hibrida (F1),
yaitu hasil persilangan antara 2 tetua (P1 dan P2) melebihi vigor dari rerata kedua tetuanya
atau vigor dari salah satu tetua terbaik. Apabila rerata turunan F1 melebihi kedua tetuanya
disebut heterobeltiosis. Watt (1980 dalam Permadi 1994) mengemukakan 4 keuntungan F1
hibrida, yaitu (1) vigor yang lebih besar dalam hasil, produksi bunga atau biji,
perkecambahan yang lebih cepat, dan resistensi terhadap penyakit, (2) daya adaptasi yang
lebih besar terhadap keadaan lingkungan yang bervariasi karena terdapat gen-gen dalam
keadaan heterozigot, (3) terekspresinya sifat-sifat yang menguntungkan apabila sifat-sifat
tersebut dikendalikan gen-gen dominan, dan (4) perlindungan secara alami terhadap
pembajakan varietas karena pemulia/perusahaan menyimpan tetua-tetuanya. Heterosis
diestimasi dengan 2 cara yaitu mid-parent heterosis (MP), yaitu penampilan hibrida (F1)
dibandingkan dengan penampilan rerata tetuanya dan high-parent heterosis (HP), yaitu
penampilan hibrida (F1) dibandingkan dengan penampilan tetua terbaiknya.
3. Seleksi Single Seed Descent (SSD)
Seleksi Single Seed Descent (SSD), yaitu satu keturunan satu biji. Pada prinsipnya,
individu tanaman terpilih dari hasil suatu persilangan pada F2 selanjutnya ditanam cukup satu
biji satu keturunan. Cara ini dilakukan sampai generasi yang ke- 5 atau ke- 6 (F5 atau F6). Bila
pada generasi tersebut sudah diperoleh tingkat keragaman yang diinginkan maka pada generasi
berikutnya pertanaman tidak dilakukan satu biji satu keturunan tetapi ditingkatkan menjadi satu
baris satu populasi keturunan, kemudian meningkat lagi menjadi satu plot satu populasi
keturunan. Prosedur SSD mempunyai tujuan mempertahankan keturunan dari sejumlah besar
tanaman F2, dengan mengurangi hilangnya genotipe selama generasi segregasi. Hanya satu biji
yang dipanen dari masing-masing tanaman, perkembangan tanaman optimum dari generasi F2
sampai dengan F4. Metode seleksi SSD banyak dilakukan dalm pemuliaan tanaamn kedelai di
Amerika Serikat.
Kelebihan
1. Luas lahan yang dibutuhkan lebih kecil
2. Waktu dan tenaga yang diperlukan pada saat
panen lebih sedikit
3. Pengamatan dan pencatatan lebih sederhana
dan mudah.
4. Tiap tahun dapat ditanam beberapa generasi,
bila keadaan lingkungan dapat dikuasai
Kekurangan
1. Generasi F2 kemungkinan lebih banyak
tanaman yang superior tidak teramati atau hilang.
2. Jumlah tanaman dalam populasi F2 sampai F6
akan tetap atau bisa berkurang karena adanya daya
tumbuh benih yang kurang baik.