Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENYULUHAN

PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA, IMS DAN HIV/AIDS


DI SMPN 1 CEMPAGA

Disusun oleh :

Kelas :
REGULER XVI

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN REGULER XVI


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKARAYA
2017
Pokok Bahasan : Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja, IMS dan HIV/AIDS
Sub Pokok Bahasan : Kesehatan Reproduksi Remaja, IMS dan HIV/AIDS
Sasaran : Siswa-Siswi SMPN 1 Cempaga
Waktu : 30 Menit
Tempat : Jl.Tjilik Riwut Km.32
Hari/Tanggal : Jumat, 19 Mei 2016

A. Tujuan Umum
Setelah mendapat penyuluhan ini, diharapkan siswa-siswi dapat mengetahui
tentang kesehatan reproduksi remaja, IMS dan HIV/AIDS dan mengerti
mengenai pendidikan kesehatan reproduksi remaja, IMS dan HIV/AIDS.

B. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan ini, diharapkan dapat:
1. Menjelaskan mengenai kesehatan reproduksi remaja
a. Menjelaskan pengertian kesehatan reproduksi
b. Menjelaskan pengertian remaja
c. Menjelaskan perubahan fisik laki-laki dan perempuan
d. Menjelaskan perbahan psikologis remaja
e. Menjelaskan resiko terkait kesehatan reproduksi remaja
2. Menjelaskan mengenai Infeksi Menular Seksual
a. Pengertian infeksi menular seksual
b. Menjelaskan jenis-jenis infeksi menular seksual
3. Menjelaskan mengenai HIV/AIDS
a. Menjelaskan pengertian HIV/AIDS
b. Menjelaskan penyebab HIV/AIDS
c. Menjelaskan cara penularan HIV/AIDS
d. Menjelaskan tanda gejala HIV/AIDS
e. Menjelaskan Tahapan periode HIV/AIDS
f. Menjelaskan cara mencegah HIV/AIDS
C. Materi Penyuluhan
1. Kesehatan reproduksi remaja
a. Pengertian kesehatan reproduksi
b. Pengertian remaja
c. Perubahan fisik laki-laki dan perempuan
d. Perubahan psikologis remaja
e. Resiko terkait kesehatan reproduksi remaja
2. Menjelaskan mengenai Infeksi Menular Seksual
a. Pengertian infeksi menular seksual
b. Jenis-jenis infeksi menular seksual
3. Menjelaskan mengenai HIV/AIDS
a. Pengertian HIV/AIDS
b. Penyebab HIV/AIDS
c. Cara penularan HIV/AIDS
d. Tanda gejala HIV/AIDS
e. Tahapan periode HIV/AIDS
f. Cara mencegah HIV/AIDS

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

E. Media
1. Leaflet
2. PPT
F. Kegiatan Penyuluhan
Tahap Kegiatan
No Waktu
kegiatan Penyuluh Sasaran
1 5 1. Memberi salam pembuka Menjawab salam
menit Pembukaan 2. Memperkenalkan diri mendengarkan
3. Kontrak waktu. memberi respon
2 15 Penjelasan :
Menit G. 1. Menjelaskan mengenai
kesehatan reproduksi remaja
a. Menjelaskan pengertian
kesehatan reproduksi
b. Menjelaskan pengertian
remaja
c. Menjelaskan perubahan
fisik laki-laki dan
perempuan
d. Menjelaskan perbahan
psikologis remaja
Kegiatan Mendengarkan
e. Menjelaskan resiko terkait
inti Memperhatikan
kesehatan reproduksi
remaja
H. 2. Menjelaskan mengenai Infeksi
Menular Seksual
a. Pengertian infeksi menular
seksual
b. Menjelaskan jenis-jenis
infeksi menular seksual
c. Menjelaskan mengenai
HIV/AIDS
d. Menjelaskan pengertian
HIV/AIDS
e. Menjelaskan penyebab
HIV/AIDS
f. Menjelaskan cara
penularan HIV/AIDS
g. Menjelaskan tanda gejala
HIV/AIDS
h. Menjelaskan Tahapan
periode HIV/AIDS
i. Menjelaskan cara
mencegah HIV/AIDS
3 10 Penutup 1. Tanya jawab Mengajukan
menit 2. Menyimpulkan hasil pertanyaan
penyuluhan Memahami
3. Salam penutup. Membalas
salam

G. Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. SAP dan materi sudah disiapkan
b. Media (Leatflet) sudah dipersiapkan
c. Waktu dan tempat sudah disiapkan.
2. Evaluasi proses
a. Audiens aktif
b. Proses penyajian sesuai waktu
c. Media digunakan sesuai dengan kebutuhan
d. Penyaji melakukan kegiatan sesuai dengan perannya
e. Di akhir kegiatan sudah di evaluasi hasil kegiatan.
3. Evaluasi Hasil
a. Menjelaskan mengenai kesehatan reproduksi remaja
b. Menjelaskan mengenai Infeksi Menular Seksual
c. Menjelaskan mengenai HIV/AIDS
MATERI PENYULUHAN
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA, IMS DAN HIV/AIDS

A. PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA


1. Pengertian reproduksi remaja
Keadaan sehat secara fisik maupun mental dan sosial secara utuh, tidak
semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan
sistem, fungsi dan proses reproduksi pada laki-laki dan perempuan.

2. Yang dimaksud dengan remaja


Masa remaja adalah masa peralihan dari anak menjadi dewasa, ditandai
dengan perubahan fisik dan mental. Hal itu ditandai dengan perubahan organ
reproduksi.
Tahapan masa remaja :
a. Masa prapubertas (12-13 tahun)
b. Masa pubertas (14-16 tahun)
c. Masa akhir pubertas (17-18 tahun)
d. Periode remaja (19-21 tahun)

3. Organ reproduksi Pria dan Wanita


a. Pria
1) Penis
2) Glans
3) Uretra
4) Vas deferens
5) Epidydimis
6) Testis
7) Scrotum
8) Kelenjar prostat
9) Vasikula seminalis
10) Kandung kencing
b. Wanita
1) Ovarium
2) Fimbriae
3) Tuba falopi
4) Uterus
5) Cerviks
6) Vagina mulut vagina

4. Perubahan fisik
a. Laki-Laki
1) Mengalami mimpi basah
2) Suara menjadi besar
3) Tumbuh jakun
4) Pundak dan dada menjadi besar dan bidang
5) Penis dan buah zakar membesar
6) Tumbuh kumis, bulu kaki, bulu ketiak dan didaerah kemaluan
7) Timbul jerawat
b. Perempuan
1) Mulai menstruasi
2) Payudara membesar
3) Pantat melebar
4) Kulit dan rambut berminyak
5) Timbul jerawat
6) Vagina mengeluarkan cairan
7) Tumbuh rambut didaerah ketiak dan kemaluan

5. Perubahan psikologis
Selain terjadi perubahan fisik yang sangat mencolok, juga terjadi
perubahan dalam emosionalitas remaja yang cukup mengemuka, sehingga ada
beberapa hal yang dapat disimpulkan dari perubahan pada aspek
emosionalitas ini.
Masa ini disebut sebagai masa storm and stres, dimana terjadi
peningkatan ketegangan emosional yang dihasilkan dari perubahan fisik dan
hormonal. Pada masa ini emosi seringkali sangat intens, tidak terkontrol dan
nampak irrasional, secara umum terdapat peningkatan perilaku emosional
pada setiap usia yang dilalui. Misalnya menjadi mudah marah, mudah
gembira, dan meledak secara emosional.

6. Resiko terkait reproduksi remaja


a. Kehamilan tidak diinginkan
Kehamilan tidak diinginkan merupakan suatu kondisi dimana
pasangan tidak menghendaki adanya kelahiran akibat dari kehamilan.
Kehamilan itu bisa merupakan akibat dari suatu perilaku/hubungan seksual
baik disengaja maupun tidak.
KTD memicu terjadinya aborsi yang tidak aman dan mengakibatkan
kerusakan rahim, infeksi rahim,infertilitas, perdarahan, komplikasi bahkan
kematian.
Jika sudah terjadi KTD, maka saat menemukan kasus tersebut jangan
menghakimi dan mengucilkan, bersikap bersahabat dengan remaja yang
bersangkutan, memberikan konseling pada remaja tersebut, memberikan
solusi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi individu.
b. Aborsi
Pengguguran kandungan atau aborsi adalah berakhirnya kehamilan
dengan dikeluarkannya janin (fetus) atau embrio sebelum memiliki
kemampuan untuk bertahan hidup di luar rahim, sehingga mengakibatkan
kematian. Aborsi yang terjadi secara spontan disebut juga "keguguran".
Aborsi yang dilakukan secara sengaja seringkali disebut "aborsi induksi"
atau "abortus provokatus".

c. Penyakit menular seksual


Penyakit menular seksual (PMS) merupakan penyakit yang dapat
menular melalui hubungan seksual dengan seorang yang terinfeksi. Dapat
ditularkan lewat aktifitas seksual yang melibatkan vagina, penis, mulut dan
anus. Mengacu pada penyakit yang beragam dengan gejala-gejala yang
berbeda tiap penyakit, dan beberapa lebih serius dari yang lain. Namun
semuanya membutuhkan pengobatan untuk mencegah komplikasi dan
membahayakan nyawa pasien.
d. Pergaulan bebas
Pergaulan bebas adalah salah bentuk perilaku menyimpang yang
melewati batas dari kewajiban, tuntutan, aturan, syarat dan perasaan malu
atau pergaulan bebas dapat diartikan sebagai perilaku yang menyimpang
yang melanggar norma agama maupun norma menyimpang yang
melanggar norma agama maupun norma kesusilaan.

B. INFEKSI MENULAR SEKSUAL


1. Pengertian Infeksi Menular Seksual
Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang penularannya
terutama melalui hubungan seksual yang mencakup infeksi yang disertai
gejala-gejala klinis maupun asimptomatis (Daili, 2009). Penyebab infeksi
menular seksual ini sangat beragam dan setiap penyebab tersebut akan
menimbulkan gejala klinis atau penyakit spesifik yang beragam pula.
Penyebab IMS dapat dikelompokkan atas beberapa jenis ,yaitu: (WHO,2007)
a. Bakteri ( diantaranya N.gonorrhoeae, C.trachomatis, T.pallidum)
b. Virus (diantaranya HSV,HPV,HIV, Herpes B virus, Molluscum
contagiosum virus),
c. Protozoa (diantaranya Trichomonas vaginalis)
d. Jamur (diantaranya Candida albicans)
e. Ektoparasit (diantaranya Sarcoptes scabiei)
2. Jenis-jenis IMS
Beberapa jenis IMS yang paling umum ditemukan di Indonesia adalah:
a. Gonore
1) Pengertian
Gonore merupakan semua penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeae yang bersifat purulen dan dapat menyerang
permukaan mukosa manapun di tubuh manusia (Behrman, 2009).
2) Etiologi dan morfologi
Gonore disebabkan oleh gonokokus yang ditemukan oleh Neisser
pada tahun 1879. Kuman ini masuk dalam kelompok Neisseria sebagai
N.gonorrhoeae bersama dengan 3 spesies lainnya yaitu, N.meningitidis,
N.catarrhalis dan N.pharyngis sicca.
Gonokok termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi
dengan lebar 0,8 u dan pajang 1,6 u. Kuman ini bersifat tahan asam, gram
negatif, dan dapat ditemui baik di dalam maupun di luar leukosit. Kuman
ini tidak dapat bertahan hidup pada suhu 39 derajat Celcius, pada
keadaan kering dan tidak tahan terhadap zat disinfektan. Gonokok terdiri
atas 4 tipe yaitu tipe 1, tipe 2, tipe 3 dan tipe 4 (Daili, 2009).
3) Gejala klinis
Masa tunas gonore sangat singkat yaitu sekitar 2 hingga 5 hari pada
pria. Sedangkan pada wanita, masa tunas sulit ditentukan akibat adanya
kecenderungan untuk bersifat asimptomatis pada wanita.
Keluhan subjektif yang paling sering timbul adalah rasa gatal,
disuria, polakisuria, keluar duh tubuh mukopurulen dari ujung uretra
yang kadang-kadang dapat disertai darah dan rasa nyeri pada saat ereksi.
Pada pemeriksaan orifisium uretra eksternum tampak kemerahan, edema,
ekstropion dan pasien merasa panas. Pada beberapa kasus didapati pula
pembesaran kelenjar getah bening inguinal unilateral maupun bilateral.
Gambaran klinis dan perjalanan penyakit pada wanita berbeda dari
pria. Pada wanita, gejala subjektif jarang ditemukan dan hampir tidak
pernah didapati kelainan objektif. Adapun gejala yang mungkin
dikeluhkan oleh penderita wanita adalah rasa nyeri pada panggul bawah,
dan dapat ditemukan serviks yang memerah dengan erosi dan sekret
mukopurulen (Daili, 2009).
4) Komplikasi
Komplikasi gonore sangat erat hubungannya dengan susunan
anatomi dan faal genitalia (Daili, 2009). Komplikasi lokal pada pria
dapat berupa tisonitis, parauretritis, littritis, dan cowperitis. Selain itu
dapat pula terjadi prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis yang
dapat menimbulkan infertilitas. Sementara pada wanita dapat terjadi
servisitis gonore yang dapat menimbulkan komplikasi salpingitis ataupun
penyakit radang panggul dan radang tuba yang dapat mengakibatkan
infertilitas atau kehamilan ektopik. Dapat pula terjadi komplikasi
diseminata seperti artritis, miokarditis, endokarditis, perikarditis,
meningitis dan dermatitis. Infeksi gonore pada mata dapat menyebabkan
konjungtivitis hingga kebutaan (Behrman, 2009 ).
b. Sifilis
1) Defenisi
Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi Treponema
pallidum yang bersifat kronis dan sistemik ditandai dengan lesi primer
diikuti dengan erupsi sekunder pada kulit dan selaput lendir kemudian
masuk kedalam periode laten tanpa manifestasi lesi di tubuh diikuti
dengan lesi pada kulit, lesi pada tulang, saluran pencernaan, sistem syaraf
pusat dan sistem kardiovaskuler. Infeksi ini dapat ditularkan kepada bayi
di dalam kandungan (sifilis kongenital) (Hutapea, 2010).
2) Etiologi dan morfologi
Sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang
merupakan spesies Treponema dari famili Spirochaetaceae, ordo
Spirochaetales. Treponema pallidum berbentuk spiral, negatif-Gram
dengan panjang rata-rata 11 m (antara 6-20 m) dengan diameter antara
0,09 0,18 m. Treponema pallidum mempunyai titik ujung terakhir
dengan 3 aksial fibril yang keluar dari bagian ujung lapisan bawah.
Treponema dapat bergerak berotasi cepat, fleksi sel dan maju seperti
gerakan pembuka tutup botol (Hutapea, 2009).
3) Gejala klinis
Menurut hasil pemeriksaan histopatologis, perjalanan penyakit
sfilis merupakan penyakit pembuluh darah dari awal hingga akhir. Dasar
perubahan patologis sfilis adalah inviltrat perivaskular yang terdiri atas
limfosit dan plasma sel. Hal ini merupakan tanda spesifik namun tidak
patognomonis untuk sfilis. Sel infiltrat tampak mengelilingi endotelial
yang berproliferasi sehingga menebal. Penebalan ini mengakibatkan
timbulnya trombosis yang menyebabkan fokus-fokus nekrosis kecil
sebagai lesi primer.
Periode inkubasi sifilis biasanya 3 minggu. Fase sifilis primer ditandai
dengan munculnya tanda klinis yang pertama yang umumnya berupa
tukak baik tunggal maupun multipel. Lesi awal biasanya berupa papul
yang mengalami erosi, teraba keras dan terdapat indurasi. Permukaan
dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi. Bagian yang mengelilingi lesi
meninggi dan keras. Pada pria biasanya disertai dengan pembesaran
kelenjar limfe inguinal media baik unilateral maupun bilateral. Masuknya
mikroorganisme ke dalam darah terjadi sebelum lesi primer muncul,
biasanya ditandai dengan terjadinya pembesaran kelenjar limfe (bubo)
regional, tidak sakit, keras nonfluktuan. Infeksi juga dapat terjadi tanpa
ditemukannya chancer (ulkus durum) yang jelas, misalnya kalau infeksi
terjadi di rektum atau serviks. Tanpa diberi pengobatan, lesi primer akan
sembuh spontan dalam waktu 4 hingga 6 minggu.
4) Komplikasi
Sifilis stadium lanjut yang dapat menyebakan neurosifilis, sifilis
kardiovaskuler, dan sifilis benigna lanjut dapat menyebabkan kematian
bila menyerang otak.

c. Herpes genitalis
1) Defenisi
Herpes genitalis adalah infeksi pada genital yang disebabkan oleh
Herpes Simplex Virus (HSV) dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritema dan bersifat rekurens (CDC Fact
Sheet, 2007).
2) Etiologi dan morfologi
Herpes Simplex Virus (HSV) dibedakan menjadi 2 tipe oleh
SHARLITT tahun 1940 menjadi HSV tipe 1 dan HSV tipe 2. Secara
serologik, biologik dan fisikokimia, keduanya hampir tidak dapat
dibedakan. Namun menurut hasil penelitian, HSV tipe 2 merupakan tipe
dominan yang ditularkan melalui hubungan seksual genito-genital. HSV
tipe 1 justru banyak ditularkan melalui aktivitas seksual oro-genital atau
melalui tangan (Salvaggio, 2009).
3) Gejala klinis
Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi.
Gejala awal biasanya berupa gatal, kesemutan dan sakit. Lalu akan
muncul bercak kemerahan yang kecil, yang diikuti oleh sekumpulan
lepuhan kecil yang terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung
membentuk luka yang melingkar. Luka yang terbentuk biasanya
menimbulkan nyeri dan membentuk keropeng. Penderita bisa mengalami
nyeri saat berkemih atau disuria dan ketika berjalan akan timbul nyeri.
Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan
jaringan parut. Kelenjar getah bening selangkangan biasanya agak
membesar. Gejala awal ini sifatnya lebih nyeri, lebih lama dan lebih
meluas dibandingkan gejala berikutnya dan mungkin disertai dengan
demam dan tidak enak badan (Salvaggio, 2009).
Pada pria, lepuhan dan luka bisa terbentuk di setiap bagian penis,
termasuk kulit depan pada penis yang tidak disunat. Pada wanita, lepuhan
dan luka bisa terbentuk di vulva dan leher rahim. Jika penderita
melakukan hubungan seksual melalui anus, maka lepuhan dan luka bisa
terbentuk di sekitar anus atau di dalam rektum. Pada penderita gangguan
sistem kekebalan (misalnya penderita infeksi HIV), luka herpes bisa
sangat berat, menyebar ke bagian tubuh lainnya, menetap selama
beberapa minggu atau lebih dan resisten terhadap pengobatan dengan
asiklovir. Gejala-gejalanya cenderung kambuh kembali di daerah yang
sama atau di sekitarnya, karena virus menetap di saraf panggul terdekat
dan kembali aktif untuk kembali menginfeksi kulit. HSV-2 mengalami
pengaktivan kembali di dalam saraf panggul. HSV-1 mengalami
pengaktivan kembali di dalam saraf wajah dan menyebabkan fever blister
atau herpes labialis. Tetapi kedua virus bisa menimbulkan penyakit di
kedua daerah tersebut. Infeksi awal oleh salah satu virus akan
memberikan kekebalan parsial terhadap virus lainnya, sehingga gejala
dari virus kedua tidak terlalu berat.
4) Komplikasi
Komplikasi yang paling ditakutkan adalah akibat dari penyakit ini
pada bayi yang baru lahir (Daili, 2009). Herpes genitalis pada trimester
awal kehamilan dapat menyebabkan abortus atau malformasi kongenital
berupa mikroensefali. Pada bayi yang lahir dari ibu pengidap herpes
ditemukan berbagai kelainan seperti hepatitis, ensefalitis,
keratokonjungtifitis bahkan stillbirth.

d. Kondiloma Akuminata
1) Defenisi
Kondiloma akuminata (KA) adalah infeksi menular seksual dengan
kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa (Zubier, 2009).
2) Etiologi
Lebih dari 90% kondiloma akuminata disebabkan oleh Virus
Papiloma Humanus (VPH) tipe 6 dan 11. VPH merupakan virus DNA
yang merupakan virus epiteliotropik (menginfeksi epitel ) dan tergolong
dalam famili Papovaviridae. Berdasarkan kemungkinan terjadinya
displasia epitel dan keganasan maka VPH dibagi menjadi VPH berisiko
rendah (low risk), VPH beresiko sedang (moderate risk) dan VPH
berisiko tinggi (high risk). VPH tipe 6 dan tipe 11 paling sering
ditemukan pada kondiloma akuminata yang eksofitik dan pada displasia
derajat rendah (low risk), sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering
ditemukan pada displasia keganasan yang berisiko tinggi (high risk)
sedangkan risiko menengah (moderate risk) terdiri atas VPH tipe 33, 35,
39, 40, 43, 45, 51, 52, 53, 54, 55, 56, 58. Pada sekitar 10% pasien
mengalami kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh kombinasi
beberapa VPH (Ghadishah, 2009).
3) Gejala klinis
Kondiloma akuminata atau yang umum dikenal sebagai kutil
genitalis paling sering tumbuh di permukaan tubuh yang hangat dan
lembab. Pada pria, area yang sering terkena adalah ujung dan batang
penis dan di bawah prepusium jika tidak disunat. Pada wanita, kutil
timbul di vulva, dinding vagina, leher rahim (serviks) dan kulit di
sekeliling vagina. Kutil genitalis juga bisa terjadi di daerah sekeliling
anus dan rektum, terutama pada pria homoseksual dan wanita yang
melakukan hubungan seksual secara genitoanal. Kutil biasanya muncul
dalam waktu 1-6 bulan setelah terinfeksi, dimulai sebagai pembengkakan
kecil yang lembut, lembab, berwarna merah atau pink. Mereka tumbuh
dengan cepat dan bisa memiliki tangkai. Pada suatu daerah seringkali
tumbuh beberapa kutil dan permukaannya yang kasar memberikan
gambaran seperti bunga kol. Pada wanita hamil, pada gangguan sistem
kekebalan (penderita AIDS atau pengobatan dengan obat yang menekan
sistem kekebalan) dan pada orang yang kulitnya meradang, pertumbuhan
kutil ini sangat cepat.
Keadaan klinis kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk yaitu
bentuk akuminata, bentuk papul dan bentuk datar. Selain itu, dikenal pula
sebutan Giant Condyloma untuk keadaan klinis KA tampak sangat besar,
bersifat invasif lokal dan tidak bermetastasis (Zubier, 2009).
4) Komplikasi
Kondiloma akuminata yang diakibatkan oleh VPH berisiko tinggi
dapat berkembang menjadi keganasan. Infeksi VPH akan semakin buruk
pada pasien imunodefisiensi dan memperbesar kemungkinan terjadinya
keganasan. Penyakit laten semakin sering kambuh pada wanita yang
sedang hamil. Pendarahan sering terjadi pada flat penile wart (Ghadishah,
2009).
3. Pencegahan IMS
Prinsip umum pengendalian IMS adalah:
a. Tujuan utama:
1) Memutuskan rantai penularan infeksi IMS
2) Mencegah berkembangnya IMS dan komplikasinya
3) Tujuan ini dicapai melalui:
4) Mengurangi pajanan IMS dengan program penyuluhan untuk
menjauhkan masyarakat terhadap perilaku berisiko tinggi
5) Mencegah infeksi dengan anjuran pemakaian kondom bagi yang
berperilaku risiko tinggi
6) Meningkatkan kemampuan diagnosa dan pengobatan serta anjutan untuk
mencari pengobatan yang tepat.
7) Membatasi komplikasi dengan melakukan pengobatan dini dan efektif
baik untuk yang simptomatik maupun asimptomatik serta pasangan
seksualnya.
Menurut Direktorat Jenderal PPM & PL (Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan) Departemen Kesehatan RI, tindakan pencegahan
dapat dilakukan dengan beberapa tindakan, seperti:
a. Mendidik masyarakat untuk menjaga kesehatan dan hubungan seks yang
sehat, pentingnya menunda usia aktivitas hubungan seksual, perkawinan
monogami, dan mengurangi jumlah pasangan seksual.
b. Melindungi masyarakat dari IMS dengan mencegah dan mengendalikan
IMS pada para pekerja seks komersial dan pelanggan mereka dengan
melakukan penyuluhan mengenai bahaya IMS, menghindari hubungan
seksual dengan berganti-ganti pasangan, tindakan profilaksis dan terutama
mengajarkan cara penggunaan kondom yang tepat dan konsisten.
c. Menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan untuk diagnosa dini dan
pengobatan dini terhadap IMS. Jelaskan tentang manfaat fasilitas ini dan
tentang gejala-gejala IMS dan cara-cara penyebarannya.
C. HIV/AIDS
1. Pengertian HIV/AIDS
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah sejenis virus yang
menyerang system kekebalan tubuh manusia dan dapat menimbulkan AIDS.
HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas
menangkal infeksi.
AIDS adalah singkatandari Acquired Immuno Deficiency Syndrome,
yang berarti kumpulan gejala atau sindroma akibat menurunnya kekebalant
ubuh yang disebabkan infeksi virus HIV.
Tubuh manusia mempunyai kekebalan untuk melindungi diri dari
serangan luar seperti kuman, virus, dan penyakit. AIDS melemahkan atau
merusak system pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya berdatanganlah
berbagai jenis penyakit lain. Dalam jumlah besar virus hiv terdapat pada
daerah vagina dan sperma penderita, sedangkan dalam jumlah kecil terdapat
pada ASI & air liur.

2. Penyebab HIV/AIDS
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok
rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
a. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan
b. Pengguna narkoba suntik
c. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
d. Bayi yang ibunya positif HIV

3. Penularan HIV/AIDS
a. Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa
kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
b. Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
c. Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
d. Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat
melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan
tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan
makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi
atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan
HIV/AIDS (ODHA).

4. Tanda dan gejala klinis penderita HIV/AIDS


Bervariasi, tergantung pada kekebalan tubuh indivdu masing-masing
dan tahap penyakit HIV/AIDS yang sedang diderita.
a. Gejala awal
1) Gejala hanya seperti flu dan akan sembuh beberapa hari kemudian.
2) Tes darah saat ini masih belum dapat menunjukan adanya infeksi HIV
(masih negatif).
3) Setelah 1 sampai 3 bulan barulah tes darah menjadi positf.
4) Pada tahap ini orang masih tampak sehat.
5) Keadaan nampak sehat ini dapat berlangsung 2-10 tahun.
b. Gejala selanjutnya
1) Demam berkepanjangan.
2) Selera makan hilang.
3) Diare terus menerus tanpa sebab.
4) Becak-bercak putih pada lidah.
5) Berat badan turun secara drastis.
c. Tanda-tanda khas penderita
1) Radang paru
2) Radang saluran pencernaan
3) Kanker kulit
4) Radang karena jamur dimulut dan kerongkongan
5) Gangguan susunan syaraf
6) TBC
5. Pencegahan HIV/AIDS
Prinsip ABCDE yaitu :
a. A = Abstinence
Puasa Seks, terutama bagi yang belum menikah
b. B = Be faithful
Setia hanya pada satu pasangan atau menghindari berganti- ganti
pasangan
c. C = use Condom
Gunakan kondom selalu bila sudah tidak mampu menahan seks
d. D = Drugs No
Jangan gunakan narkoba
e. E = sterilization of Equipment
Selalu gunakan alat suntik steril

6. Tahapan periode HIV/AIDS


Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul
gejala AIDS:
a. Tahap 1: Periode Jendela
1) HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap
HIV dalam darah
2) Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
3) Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
4) Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6
bulan
b. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
1) HIV berkembang biak dalam tubuh
2) Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa
sehat.
3) Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah
terbentuk antibody terhadap HIV
4) Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan
tubuhnya (rata-rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)
c. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
1) Sistem kekebalan tubuh semakin turun
2) Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan
kelenjar limfa di seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya
tahan tubuhnya
d. Tahap 4: AIDS
1) Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
2) Berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

8. Penatalaksanaan HIV/AIDS
Tidak ada obat untuk menyembuhkan infeksi HIV, tapi ada pengobatan
yang bisa memperlambat perkembangan penyakit. Perawatan ini bisa
membuat orang yang terinfeksi untuk hidup lebih lama dan bisa menjalani
pola hidup sehat. Ada berbagai macam jenis obat yang dikombinasikan untuk
mengendalikan virus.
a. Obat-obatan Darurat Awal HIV
Jika merasa atau mencurigai baru saja terkena virus dalam rentan
waktu 324 jam, obat anti HIV bisa mencegah terjadinya infeksi. Obat ini
bernama post-exposure prophylaxis (PEP) atau di Indonesia dikenal
sebagai profilaksis pasca pajanan. Profilaksis adalah prosedur kesehatan
yang bertujuan mencegah daripada mengobati. Pengobatan ini harus
dimulai maksimal tiga hari setelah terjadi pajanan (terpapar) terhadap
virus. Idealnya, obat ini bisa diminum langsung setelah pajanan terjadi.
Makin cepat pengobatan, maka lebih baik. Pengobatan memakai PEP ini
berlangsung selama sebulan. Efek samping obat ini serius dan tidak ada
jaminan bahwa pengobatan ini akan berhasil. PEP melibatkan obat-obatan
yang sama seperti pada orang yang sudah dites positif HIV. Obat ini bisa
Anda dapatkan di dokter spesialis penyakit IMS atau di rumah sakit.
b. Hasil Tes Positif HIV
Hasil tes positif atau reaktif berarti kita terinfeksi HIV. Hasil tes ini
seharusnya disampaikan oleh penyuluh (konselor) atau pun dokter. Mereka
akan memberi tahu dampaknya pada kehidupan sehari-hari dan bagaimana
menghadapi situasi yang terjadi saat itu. Tes darah akan dilakukan secara
teratur untuk mengawasi perkembangan virus sebelum memulai
pengobatan. Pengobatan dilakukan setelah virus mulai melemahkan sistem
kekebalan tubuh manusia. Ini bisa ditentukan dengan mengukur tingkat sel
CD4 dalam darah. Sel CD4 adalah sel yang bertugas untuk melawan
infeksi. Pengobatan biasanya disarankan setelah CD4 di bawah 350, entah
terjadi gejala atau tidak. Jika CD4 sudah mendekati 350, disarankan untuk
melakukan pengobatan secepatnya. Tujuan pengobatan adalah untuk
menurunkan tingkat virus HIV dalam darah. Ini juga untuk mencegah atau
menunda penyakit yang terkait dengan HIV. Kemungkinan untuk
menyebarkannya juga menjadi lebih kecil.
c. Keterlibatan Penyakit Lain
Bagi penderita hepatitis B dan hepatitis C yang juga terinfeksi HIV,
pengobatan disarankan ketika angka CD4 di bawah 500. Jika penderita
HIV sedang menjalani radioterapi atau kemoterapi yang akan menekan
sistem kekebalan tubuh, pengobatan dilakukan dengan angka CD4 berapa
pun. Atau ketika Anda juga menderita penyakit lain seperti TB, penyakit
ginjal, dan penyakit otak.
d. Obat-obatan Antiretroviral
Antiretroviral (ARV) adalah beberapa obat yang digunakan untuk
mengobati infeksi HIV. Obat-obatan ini tidak membunuh virus, tapi
memperlambat pertumbuhan virus. HIV bisa mudah beradaptasi dan kebal
terhadap satu golongan ARV. Oleh karena itu kombinasi golongan ARV
akan diberikan. Pengobatan kombinasi ini lebih dikenal dengan nama
terapi antiretroviral (ART). Biasanya pasien akan diberikan tiga golongan
obat ARV. Kombinasi obat ARV yang diberikan berbeda-beda pada tiap-
tiap orang, jadi jenis pengobatan ini bersifat pribadi atau khusus. Beberapa
obat ARV sudah digabungkan menjadi satu pil. Begitu pengobatan HIV
dimulai, mungkin obat ini harus dikonsumsi seumur hidup. Jika satu
kombinasi ARV tidak berhasil, mungkin perlu beralih ke kombinasi ARV
lainnya. Jika menggabungkan beberapa tipe pengobatan untuk mengatasi
infeksi HIV, hal ini bisa menimbulkan reaksi dan efek samping yang tidak
terduga. Selalu konsultasikan kepada dokter sebelum mengonsumsi obat
yang lain.
e. Pengobatan HIV Pada Wanita Hamil
Bagi wanita hamil yang positif terinfeksi HIV, ada obat ARV khusus
untuk wanita hamil. Obat ini untuk mencegah penularan HIV dari ibu
kepada bayinya. Tanpa pengobatan, terdapat perbandingan 25 dari 100
bayi akan terinfeksi HIV. Risiko bisa diturunkan kurang dari satu banding
100 jika diberi pengobatan sejak awal. Dengan pengobatan lebih dini,
risiko menularkan virus melalui kelahiran normal tidak meningkat. Tapi
bagi beberapa wanita, tetap disarankan untuk melahirkan dengan operasi
caesar. Bagi wanita yang terinfeksi HIV, disarankan untuk tidak memberi
ASI kepada bayinya. Virus bisa menular melalui proses menyusui. Jika
Anda adalah pasangan yang menderita HIV, bicarakan kepada dokter
sebagaimana ada pilihan untuk tetap hamil tanpa berisiko tertular HIV.
f. Konsumsi Obat Secara Teratur
Anda harus membuat jadwal rutin untuk memasukkan pengobatan
HIV ke dalam pola hidup sehari-hari. Pengobatan HIV bisa berhasil jika
Anda mengonsumsi obat secara teratur (pada waktu yang sama setiap kali
minum obat). Jika melewatkan satu dosis saja, efeknya bisa meningkatkan
risiko kegagalan.
g. Efek Samping Pengobatan HIV
Semua pengobatan untuk HIV memiliki efek samping yang tidak
menyenangkan.Efek samping yang umumnya terjadi yaitu kelelahan,
mual, ruam pada kulit, diare, satu bagian tubuh menggemuk sedangkan
bagian lain kurus dan perubahan suasana hati.
DAFTAR PUSTAKA

Pudiastuti, Ratna Dewi. 2011. Asuhan Kebidanan pada Hamil Normal & Patologi.
Nuha Medika: Yogyakarta
Winkjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan.Yayasan Bina Pustaka: Jakarta
Sarwono, Prawirohardjo. 2011, Ilmu Kebidanan. PT. Bina Pustaka : Jakarta
Lis. 2014. Penyakit Ibu Hamil Yang Biasa Terjadi, Cara Mencegah, Menangani dan
Mengobatinya. Citra Media Pustaka: Yogyakarta
http://www.depkes.go.id/. Fakta Tentang HIV dan AIDS.[Diakses 14 Mei 2017]
http://www.depkes.go.id/. Kumulatif Kasus HIV/AIDS di Indonesia. [Diakses 14 Mei
2017]
http://www.hivtest.org/. Frequently Asked Question on HIV/AIDS. [Diakses 14 Mei
2017]
http://www.alodokter.com/hiv-aids/pengobatan. [Diakses 14 Mei 2017]