Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
PENDAHULUAN
Ada tiga jenis sumber utama input dari masyarakat bagi sistem pendidikan, yaitu:
1. Ilmu pengetahuan, tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang berlaku di dalam
masyarakat.
2. Penduduk serta tenaga kerja yang tersedia.
3. Ekonomi atau penghasilan masyarakat.
Terhadap ketiga sumber utama input bagi sistem pendidikan tersebut,
dilakukan seleksi berdasarkan tujuan, kebutuhan, efisiensi dan relevansinya bagi
pendidikan. Selain itu, seleksi dilakukan pula atas dasar nilai dan norma tertentu
dengan alasan bahwa pendidikan bersifat normatif. Hasil seleksi tersebut
selanjutnya diambil atau diterima sebagai input sistem pendidikan.
Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input masukan (raw input): peserta didik.
Komponen masukan (raw input), adalah kualitas siswa yang akan
mengikuti proses pendidikan. Kualitas tersebut dapat berupa potensi kecerdasan,
bakat, minat belajar, kepribadian siswa, dan sebagainya. Apabila kualitas masukan
itu rendah atau tidak mendukung terwujudnya prestasi belajar yang tinggi,
tentunya tidak dapat diharapkan menjadi lulusan yang bermutu tinggi, meskipun
aspek-aspek lainnya mendukung, seperti proses pembelajaran yang baik serta alat
pendidikan yang bagus. Kualitas potensi ini terutama yang bersifat tetap seperti
tingkat intelegensinya rendah, hasil belajarnya cenderung berbeda dengan anak
yang tingkat kecerdasannya tinggi, sebab hal itu akan mempengaruhi daya
tangkapnya, daya analisanya, kemampuan berhitungnya, dan lain sebagainya
selama mengikuti pelajaran. Pendidikan hanyalah mengoptimalkan potensi-
potensi yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan. Dengan kata lain tidak
mungkin membuat anak yang kecerdasannya rendah menjadi anak yang
kecerdasannya tinggi, sehingga prestasi belajarnya juga tinggi seperti anak yang
memang pintar.
2. Input alat (instrumental input): kurikulum, dan pendidik Komponen
masukan yang berperan sebagai alat pendidikan (insrumental input) adalah semua
faktor yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi proses
pembelajaran, misalnya kurikulum, media pengajaran, alat evaluasi hasil belajar,
fasilitas/sarana dan prasarana, guru, dan sejenisnya. Aspek kualitas masukan (raw
input) mutu lulusan juga dipengaruhi oleh faktor instrumental input. Betapapun
tingginya kualitas masukan (peserta didik), tetapi tidak didukung oleh kurikulum
yang tepat, alat evaluasi hasil belajar yang valid, kualitas guru dan komitmennya
yang baik, dan sebagainya tentulah akan sulit untuk mewujudkan tercapainya
mutu pendidikan yang tinggi.
3. Input lingkungan (environmental input): keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
mempengaruhi proses pendidikan. Komponen lingkungan pendidikan
(enviromental input) dapat berupa sosial budaya masyarakat, aspirasi pendidikan
orang tua siswa, kondisi fisik sekolah, kafetaria sekolah, dan sejenisnya. Secara
langsung maupun tidak langsung aspek ini akan mempengaruhi proses
pembelajaran dan muaranya pada masalah mutu lulusan.
1) TujuanPendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah
pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat
dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan
pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan
praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan
merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkah
laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik
maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku
perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung
oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.
Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai
tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir
pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu.
Pandangan hidup yang menjiwai tingkah laku manusia akan menjiwai
tingkah laku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan
pendidikan manusia. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang
nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.
Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada
segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin
dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Langeveld mengemukakan
jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak
lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan dan tujuan perantara.
Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas
dan sempit tujuan yang ingin dicapai. Urutan hirarkhis tujuan
pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar
mulai dari :
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan
Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau
kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan
instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
2) Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia
sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik.
Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak
pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan
termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada
pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya
bermuara pada dua hal tersebut di atas. Persoalan yang berhubungan
dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik
dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut: Anak bukanlah orang
dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat
kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan.
Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan
pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat
hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus
diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas.
Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.
c) Guru/pendidik
Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara lagsung maupun
tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat
untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru
sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan
baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan.
Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang terkait
dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan
intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi)
terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang
berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun
cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang
dapat dipertanggungjawabkan.
5) Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan
pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan
kepada peserta didik isi/bahan pelajaran yang digunakan sebagai
pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran yang biasanya
disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Macam-macam isi
pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan
moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan intelektual,
pendidikan keterampilan dan pendidikan jasmani.
6) Lingkungan Pendidikan
Lingkunganpendidikanmerupakan suatu tempat di mana
suatu pendidikan dilaksanakan. Lingkungan pendidikan meliputi
segala segi kehidupan atau kebudayaan. Lingkungan pendidikan
dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang
terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis,
lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan
lingkungan iklim geographis.
2.3 HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTAR KOMPONEN PENDIDIKAN
Keseluruhan komponen-komponen Pendidikan diatas merupakan
satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik,
Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, input
lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung
dapat mempengaruhi proses pendidikan. Sehingga dalam pencapaian
tujuan pendidikan secara optimal dapat ditempuh melalui proses
berkomunikasi yang intensif.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Komponen pendidikan merupakan bagian-bagian dari sistem proses
pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses
pendidikan.
Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input masukan (raw input): peserta didik.
Komponen masukan (raw input), adalah kualitas siswa yang akan
mengikuti proses pendidikan. Kualitas tersebut dapat berupa
potensi kecerdasan, bakat, minat belajar, kepribadian siswa, dan
sebagainya.
2. Input alat (instrumental input): kurikulum, dan pendidik
Komponen masukan yang berperan sebagai alat pendidikan
(insrumental input) adalah semua faktor yang secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi proses pembelajaran, misalnya
kurikulum, media pengajaran, alat evaluasi hasil belajar,
fasilitas/sarana dan prasarana, guru, dan sejenisnya.
3. Input lingkungan (environmental input): keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA