Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya
dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu
yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan,
pertimbangan dan kebijaksanaan.
Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu perilaku, khususnya suatu
rumpun ilmu yang mengkaji aktivitas manusia. Dalam kaitan ini, lingkup kajian
aktivitas manusia sangatlah luas, yakni mencakup aktivitas manusia sebagai
individu atau kelompok, sebagai kesatuan etnis, bangsa atau ras,dalam lingkup
geografis, administratif atau sosial budaya, dalam satuan organisasi, institusi
pemerintahan, berkenaan dengan kegiatan ideologi, politik, ekonomi, sosial
budaya, pendidikan, keamanan, keagamaan, serta kesejahteraan masyarakat.
Sebagaimana dikemukakan Philiph H. Coombs [ CITATION Muc76 \l 1033 ]

Ada tiga jenis sumber utama input dari masyarakat bagi sistem pendidikan, yaitu:
1. Ilmu pengetahuan, tujuan-tujuan dan nilai-nilai yang berlaku di dalam
masyarakat.
2. Penduduk serta tenaga kerja yang tersedia.
3. Ekonomi atau penghasilan masyarakat.
Terhadap ketiga sumber utama input bagi sistem pendidikan tersebut,
dilakukan seleksi berdasarkan tujuan, kebutuhan, efisiensi dan relevansinya bagi
pendidikan. Selain itu, seleksi dilakukan pula atas dasar nilai dan norma tertentu
dengan alasan bahwa pendidikan bersifat normatif. Hasil seleksi tersebut
selanjutnya diambil atau diterima sebagai input sistem pendidikan.
Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input masukan (raw input): peserta didik.
Komponen masukan (raw input), adalah kualitas siswa yang akan
mengikuti proses pendidikan. Kualitas tersebut dapat berupa potensi kecerdasan,
bakat, minat belajar, kepribadian siswa, dan sebagainya. Apabila kualitas masukan
itu rendah atau tidak mendukung terwujudnya prestasi belajar yang tinggi,
tentunya tidak dapat diharapkan menjadi lulusan yang bermutu tinggi, meskipun
aspek-aspek lainnya mendukung, seperti proses pembelajaran yang baik serta alat
pendidikan yang bagus. Kualitas potensi ini terutama yang bersifat tetap seperti
tingkat intelegensinya rendah, hasil belajarnya cenderung berbeda dengan anak
yang tingkat kecerdasannya tinggi, sebab hal itu akan mempengaruhi daya
tangkapnya, daya analisanya, kemampuan berhitungnya, dan lain sebagainya
selama mengikuti pelajaran. Pendidikan hanyalah mengoptimalkan potensi-
potensi yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan. Dengan kata lain tidak
mungkin membuat anak yang kecerdasannya rendah menjadi anak yang
kecerdasannya tinggi, sehingga prestasi belajarnya juga tinggi seperti anak yang
memang pintar.
2. Input alat (instrumental input): kurikulum, dan pendidik Komponen
masukan yang berperan sebagai alat pendidikan (insrumental input) adalah semua
faktor yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi proses
pembelajaran, misalnya kurikulum, media pengajaran, alat evaluasi hasil belajar,
fasilitas/sarana dan prasarana, guru, dan sejenisnya. Aspek kualitas masukan (raw
input) mutu lulusan juga dipengaruhi oleh faktor instrumental input. Betapapun
tingginya kualitas masukan (peserta didik), tetapi tidak didukung oleh kurikulum
yang tepat, alat evaluasi hasil belajar yang valid, kualitas guru dan komitmennya
yang baik, dan sebagainya tentulah akan sulit untuk mewujudkan tercapainya
mutu pendidikan yang tinggi.
3. Input lingkungan (environmental input): keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
mempengaruhi proses pendidikan. Komponen lingkungan pendidikan
(enviromental input) dapat berupa sosial budaya masyarakat, aspirasi pendidikan
orang tua siswa, kondisi fisik sekolah, kafetaria sekolah, dan sejenisnya. Secara
langsung maupun tidak langsung aspek ini akan mempengaruhi proses
pembelajaran dan muaranya pada masalah mutu lulusan.

Berbagai jenis input pendidikan terseleksi sebagaimana dikemukakan di


atas, selanjutnya akan membentuk komponen-komponen pendidikan atau berbagai
sub sistem pendidikan. Dalam hal ini dilakukan diferensiasi sehingga setiap
komponen memiliki fungsi-fungsi khusus. Namun demikian, karena pendidikan
adalah suatu sistem, maka dalam hal ini semua komponen pendidikan idealnya
melaksanakan fungsinya masing-masing dan berinteraksi satu sama lain yang
mengarah kepada pencapaian tujuan pendidikan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian komponen pendidikan ?
2. Apa saja macam-macam komponen pendidikan?
3. Bagaimana hubungan timbal balik antar komponen pendidikan?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui pengertian komponen pendidikan.
2. Mengetahui macam-macam komponen pendidikan.
3. Mengetahui hubungan timbal balik antar komponen pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1.PENGERTIAN KOMPONEN PENDIDIKAN


Komponen adalah bagian dari suatu sistem yang memiliki peran dalam
keseluruhan berlangsungnya suatu proses untuk mencapai tujuan sistem.
Komponen pendidikan berarti bagian-bagian dari sistem proses pendidikan,
yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses
pendidikan. Bahkan dapat diaktan bahwa untuk berlangsungnya proses kerja
pendidikan diperlukan keberadaan komponen-komponen tersebut.

2.2. KOMPONEN PENDIDIKAN


Komponen-komponen yang memungkinkan terjadinya proses pendidikan atau
terlaksananya proses mendidik, komponen-komponen itu yakni:
1) Tujuan Pendidikan
2) Peserta Didik
3) Pendidik
4) Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik
5) Isi Pendidikan
6) Lingkungan pendidikan

1) TujuanPendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu berarah
pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia yang bersifat
dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan pada tindakan
pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang normatif dan
praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif , ilmu pendidikan
merumuskan kaidah-kaidah; norma-norma dan atau ukuran tingkah
laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia.
Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik
maupun guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku
perbuatan yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung
oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.
Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia menjiwai
tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan mutakhir
pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup tertentu.
Pandangan hidup yang menjiwai tingkah laku manusia akan menjiwai
tingkah laku pendidikan dan sekaligus akan menentukan tujuan
pendidikan manusia. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang
nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.
Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada
segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin
dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan. Langeveld mengemukakan
jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari tujuan umum, tujuan tak
lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan dan tujuan perantara.
Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan dari luas
dan sempit tujuan yang ingin dicapai. Urutan hirarkhis tujuan
pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar
mulai dari :
1) Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945),
2) Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan
Nasional),
3) Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah),
4) Tujuan kurikuler (Pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajran atau
kuliah), dan
5) Tujuan instruksional yang dibagi menjadi dua yaitu tujuan
instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.

Dengandemikian tampak keterkaitan antara tujuan instruksional yang


dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.

2) Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada usia
sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik.
Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak
pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan
termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada
pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya
bermuara pada dua hal tersebut di atas. Persoalan yang berhubungan
dengan peserta didik terkait dengan sifat atau sikap anak didik
dikemukakan oleh Langeveld sebagai berikut: Anak bukanlah orang
dewasa dalam bentuk kecil, oleh sebab itu anak memiliki sifat kodrat
kekanak-kanakan yang berbeda dengan sifat hakikat kedewasaan.
Anak memiliki sikap menggantungkan diri, membutuhkan
pertolongan dan bimbingan baik jasmaniah maupun rohaniah. Sifat
hakikat manusia dalam pendidikan ia mengemukakan anak didik harus
diakui sebagai makhluk individu dualitas, sosialitas dan moralitas.
Manusia sebagai mahluk yang harus dididik dan mendidik.

Sehubungan dengan persoalan anak didik disekolah Amstrong


1981 mengemukakan beberapa persoalan anak didik yang harus
dipertimbangkan dalam pendidikan. Persoalan tersebut mencakup
apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik ?
bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik ? hambatan-hambatan
apakah yang dirasakan oleh anak didik disekolah ? dan bagaimanakah
penguasaan bahasa anak di sekolah ? Berdasarkan persoalan tersebut
perlu diciptakan pendidikan yang memperhatikan perbedaan
individual, perhatian khusus pada anak yang memiliki kelainan, dan
penanaman sikap dan tangggung jawab pada anak didik.
3) Pendidik
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik. Maka
muncullah beberapa individu yang tergolong pada pendidik. Guru
sebagai pendidik dalam lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik
dalam lingkungan keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal
maupun informal sebagai pendidik dilingkungan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas [ CITATION Ali82 \l 1033 ] [
CITATION Til02 \l 1033 ] [ CITATION Uza90 \l 1033 ]
mendasarkan pada konsep pendidikan sebagai gejala kebudayaan,
yang termasuk kategori pendidik adalah:
a) Orang dewasa
Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat umum
kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh
Syaifullah adalah sebagai berikut :
1) manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup
yang pasti dan tetap
2) manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita
hidup tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik
3) manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri
atau perbuatannya sendiri dan yang akan
dipertanggungjawabkan sendiri.
4) manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat
secara konstruktif dan aktif penuh inisiatif
5) manusia yang telah mencapai umur kronologis paling
rendah 18 tahun
6) manusia berbudi luhur dan berbadan sehat
7) manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga
8) manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.
b) Orang tua
Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik
yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua
sebagai pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan
pada hubungan cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir
di lingkungan keluarga mereka. Secara umum dapat dikatakan
bahwa semua orang tua adalah pendidik, namun tidak semua
orang tua mampu melaksanakan pendidikan dengan baik.
sehingga kemampuan untuk menjadi orang tua sama sekali
tidak sejajar dengan kemampuan untuk mendidik.

c) Guru/pendidik
Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara lagsung maupun
tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat
untuk melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru
sebagai pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan
baik persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan.
Persyaratan pribadi didasarkan pada ketentuan yang terkait
dengan nilai dari tingkah laku yang dianut, kemampuan
intelektual, sikap dan emosional. Persyaratan jabatan (profesi)
terkait dengan pengetahuan yang dimiliki baik yang
berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan maupun
cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan yang
dapat dipertanggungjawabkan.

d) Pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan


Selain orang dewasa, orang tua dan guru, pemimpin
masyarakat dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik
juga. Peran pemimpin masyarakat menjadi pendidik
didasarkan pada aktifitas pemimpin dalam mengadakan
pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang dipimpin.
Pemimpin keagamaan sebagai pendidik, tampak pada aktifitas
pembinaan atau pengembangan sifat kerohanian manusia, yang
didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.

4) Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik


Proses pendidikan bisa terjadi apabila terdapat interaksi
antara komponen-komponen pendidikan. Terutama interaksi antara
pendidik dan anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik
bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
Tindakan yang dilakukan pendidik dalam interaksi tersebut
mungkin berupa tindakan berdasarkan kewibawaan, tindakan
berupa alat pendidikan, dan metode pendidikan
Pendidikan berdasarkan kewibawaan dapat dicontohkan
dalam peristiwa pengajaran dimana seorang guru sedang
memberikan pengajaran, diantara beberapa murid membuat suatu
yang menyebabkan terganggunya jalan pengajaran. Kemudian guru
tersebut memberikan peringatan atau menegur, maka beliau ini
telah melaksanakan tindakan berdasarkan kewibawaan. Dengan
demikian tindakan berdasarkan kewibawaan yaitu bersumber dari
orang dewasa sebagai pendidik, untuk mencapai tujuan pendidikan
(tujuan kesusilaan, sosial dan lain-lain) [ CITATION Ali82 \l
1033 ] [ CITATION Til02 \l 1033 ] [ CITATION Uza90 \l 1033 ]
Alat pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
dilakukan ataupun diadakan oleh pendidik yang bertujuan untuk
melaksanakan tugas mendidik Penggunaan alat pendidikan itu
bukan hanya soal teknis, melainkan mempunyai sangkut paut yang
erat sekali dengan pribadi yang menggunakan alat tersebut.
Pendidik yang menggunakan alat itu hendaknya dapat
menyesuaikan diri dengan tujuan yang teerkandung dalam alat itu.
Penggunaan dan pelaksanaan alat itu hendaknya betul-betul timbul
atau terbit dari pribadi yang menggunakan alat itu
(pendidik).Adapun alat pendidikan itu seperti nasihat, teguran,
hukuman, ganjaran, dan perintah.
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas metode atau
bagaimana pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode
yang dilakukan dalam mendidik yaitu metode diktatoral metode
liberal dan metode demokratis (Suwarno, 1981). Metode diktatoral
bersumber dari teori empiris yang menyatakan bahwa
perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh faktor diluar
manusia, sehingga pendidikan bersifat maha kuasa. Sikap ini
menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang
menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari pendirian Naturalisme yang
berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar
ditentukan oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat
ada pada diri manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa
pendidik jangan terlalu banyak ikut campur terhadap
perkembangan anak. Biarkanlah anak berkembang sesuai dengan
kodratnya secara bebas atau liberal.
Metode demokratis bersumber dari teori konvergensi yang
mengatakan bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada
faktor dari dalam dan dari luar. Di dalam perkembangan anak kita
tidak boleh bersifat menguasai anak, tetapi harus bersifat
membimbing perkembangan anak. Di sini tampak bahwa pendidik
dan anak didik sama-sama penting dalam proses pendidikan untuk
mencapai tujuan. Ki Hadjar Dewantoro melahirkan asas
pendidikan yang sesuai dengan metode demokratis, yaitu Tut Wuri
Handayani, ing madyo mangun karsa, ing ngarsa asung tulada
artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang,
kadang-kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak
dan kadang-kadang harus didepan untuk memberi contoh atau
tauladan.

5) Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan
pendidikan. Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan
kepada peserta didik isi/bahan pelajaran yang digunakan sebagai
pedoman penyelengaraan kegiatan pembelajaran yang biasanya
disebut kurikulum dalam pendidikan formal. Macam-macam isi
pendidikan tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan
moril, pendidikan estetis, pendidikan sosial, pendidikan intelektual,
pendidikan keterampilan dan pendidikan jasmani.

6) Lingkungan Pendidikan
Lingkunganpendidikanmerupakan suatu tempat di mana
suatu pendidikan dilaksanakan. Lingkungan pendidikan meliputi
segala segi kehidupan atau kebudayaan. Lingkungan pendidikan
dapat dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang
terdiri dari lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis,
lingkungan sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan
lingkungan iklim geographis.
2.3 HUBUNGAN TIMBAL BALIK ANTAR KOMPONEN PENDIDIKAN
Keseluruhan komponen-komponen Pendidikan diatas merupakan
satu kesatuan yang saling berkaitan dalam proses pendidikan untuk
mencapai tujuan pendidikan. Input mentah (raw input), yaitu peserta didik,
Input alat (instrumental input) seperti: kurikulum, pendidik, input
lingkungan (environmental input) seperti: keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak langsung
dapat mempengaruhi proses pendidikan. Sehingga dalam pencapaian
tujuan pendidikan secara optimal dapat ditempuh melalui proses
berkomunikasi yang intensif.
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Komponen pendidikan merupakan bagian-bagian dari sistem proses
pendidikan, yang menentukan berhasil dan tidaknya atau ada dan tidaknya proses
pendidikan.
Input sistem pendidikan dibedakan dalam tiga jenis, yaitu:
1. Input masukan (raw input): peserta didik.
Komponen masukan (raw input), adalah kualitas siswa yang akan
mengikuti proses pendidikan. Kualitas tersebut dapat berupa
potensi kecerdasan, bakat, minat belajar, kepribadian siswa, dan
sebagainya.
2. Input alat (instrumental input): kurikulum, dan pendidik
Komponen masukan yang berperan sebagai alat pendidikan
(insrumental input) adalah semua faktor yang secara langsung atau
tidak langsung mempengaruhi proses pembelajaran, misalnya
kurikulum, media pengajaran, alat evaluasi hasil belajar,
fasilitas/sarana dan prasarana, guru, dan sejenisnya.
3. Input lingkungan (environmental input): keadaan cuaca, situasi
keamanan masyarakat dll. yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat mempengaruhi proses pendidikan.

Berbagai jenis input pendidikan terseleksi dan akan membentuk


komponen-komponen pendidikan,yaitu Tujuan Pendidikan, Peserta Didik,
Pendidik, Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik, Isi Pendidikan, dan
Lingkungan pendidikan. Dan komponen-komponen pendidikan diatas
saling berkaitan dan merupakan satu kesatuan dalam proses pendidikan
untuk mencapai tujuan pendidikan.

DAFTAR PUSTAKA

Muchtar. (1976). Pendidikan Nasional Indonesia, Pengertia dan Sejarah Perkembangan,.


Bandung: Balai penelitian IKIP.

Syaifullah, A. (1982). Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan. Surabaya: Usaha Nasional.

Tilaar. (2002). Membedah Pendidikan Nasional. Jakarta: Rineka cipta .

Usman, U. (1990). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rasda Karya.


ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji tentang komponen komponen pendidikan. Komponen
pendidikan merupakan suatu sistem proses pendidikan, yang menentukan berhasil
dan tidak atau ada dan tidaknya proses pendidikan. Komponen komponen
pendidikan terdiri dari tujuan pendidikan, peserta didik, pendidik, interaksi
edukatif pendidik dan anak didik, isi pendidikan, lingkungan pendidikan. Dengan
adanya hubungan timbal balik antara komponen komponen pendidikan diatas
akan mencapai suatu tujuan pendidikan itu sendiri. Sehingga dalam
pencapaiannya ditempuh melalui proses berkomunikasi yang intensif.