Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah kami haturkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan banyak nikmatnya kepada penulis sehingga atas berkat dan rahmat
serta karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul
Hukum menikah dalam islam ini sesuai dengan waktu yang penulis rencanakan.

Terima kasih penulis sampaikan juga kepada dosen pendidikan agama


yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk mengerjakan tugas ini,
sehingga penulis menjadi lebih mengerti dan memahami mata kuliah dengan tema
hukum dalam islam, tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar
besarnya kepada seluruh pihak yang baik secara langsung maupun tidak
langsung telah membantu dalam upaya penyelesaian makalah ini baik mendukung
secara moril maupun materil.

Dalam makalah ini, walaupun penulis telah berusaha semaksimal


mungkin, akan tetapi penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kesalahan,
kekurangan dan kehilafan dalam penulisan makalah ini. Untuk itu, saran dan
kritik tetap penulis harapkan demi perbaikan makalah ini kedepan. Akhir kata
penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Terima Kasih.

Palembang , 26 Februari 2015

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar...i

Daftar isi....ii

I.Pendahuluan.1

I.1 Latar Belakang Masalah....1

I.2 Rumusan Masalah..................................................................................2

I.3 Tujuan Penulisan....................................................................................2

II.Pembahasan.............3

Pengertian,hukum,rukun,dan syarat pernikahan..........3


Penyebab atau kriteria wanita yang haram di nikahi...................................7
Kewajiban suami & istri.............................................................................11
Hal-hal yang dapat memutuskan ikatan pernikahan..................................11
Pengertian,hukum,macam-macam,bilangan,dan rukun talak....................13
Pengertian iddah........................................................................................14
Pengertian,hukum,syarat,dan ketentuan rujuk...........................................15
pasal tentang pernikahan menurut undang-undang...................................16

III.Penutup............................................................................................................17
III.1 Kesimpulan..........17
III.2 Saran....17
IV.Daftar Pustaka..18

ii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG MASALAH

Kehidupan berkeluarga cerminan semua makhluk ciptaan Allah SWT,


sehingga kelangsungan kehidupan di dunia akan terus menerus berkembang.
Manusia adalah salah satu makhluk yang sangat sempurna di bandingkan dengan
makhluk lainnya. Manusiapun di takdirkan untuk hidup berpasang -
pasangan satu dengan yang lainnya yakni yang berlainan jenis.
Dengan jalan nikah inilah yang paling baik untuk dapat melangsungkan
keturunan.Nikah adalah fitra yang berarti sifat asal dan pembawaan manusia
sebagai makhluk Allah SWT.Setiap manusia yang sudah dewasa serta sehat
jasmani dan rohaninya pasti membutuhkan teman hidup yang berlawanan jenis
kelaminnya. Teman hidup yang dapat memenuhi kebutuhan biologis, yang dapat
mencintai dan dicintai, yang dapat mengasihi dan dikasihi, serta yang dapat
bekerja sama untuk mewujudkan ketentraman, kedamaian dan kesejahteraan
dalam hidup berumah tangga.
Nikah adalah salah satu asas pokok hidup yang paling utama dalam
pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Karakteristik khusus dari Islam bahwa
setiap ada perintah yang harus dikerjakan umatnya pasti telah ditentukan
syariatnya (tata cara dan petunjuk pelaksanaannya), dan hikmah yang dikandung
dari perintah tersebut. Maka tidak ada satu perintah pun dalam berbagai aspek
kehidupan ini, baik yang menyangkut ibadah secara khusus seperti perintah shalat,
puasa, haji, dan lain-lain. Maupun yang terkait dengan ibadah secara umum
seperti perintah mengeluarkan infaq, berbakti pada orang tua, berbuat baik kepada
tetangga dan lain-lain yang tidak memiliki syariat, dan hikmahnya.
Begitu pula halnya dengan menikah. Ia merupakan perintah Allah SWT untuk
seluruh hamba-Nya tanpa kecuali dan telah menjadi sunnah Rasul-Nya, maka
sudah tentu ada syariaatnya, dan hikmahnya.Untuk itu pada kesempatan kali ini
kami akan membahas mengapa seorang muslim dan muslimin harus
melaksanakan pernikahan di dalam hidupnya.
I.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian dari pernikahan?

2. Bagaimana hukum nikah dalam agama islam?

3. Apa saja rukun dan syarat sah suatu pernikahan dalam agama islam?

4. Apa penyebab atau kriteria wanita yang haram di nikahi dalam agama
islam?

5. Apa saja kewajiban dari suami & istri?

6. Apa saja hal-hal yang dapat memutuskan ikatan pernikahan?

7. Apa pengertian,hukum,macam-macam,bilangan,dan rukun talak?

8. Apa pengertian dari iddah?

9. Apa pengertian,hukum,syarat,dan ketentuan rujuk?

10. Isi dari pasal tentang pernikahan menurut undang-undang?

I.3 TUJUAN PENULISAN

Memahami definisi dari pengertian pernikaha,talak,iddah,dan rujuk.


Mengetahui apa saja hukum-hukum dari pernikahan,talak,dan rujuk dalam
agama islam.
Mengetahui wanita yang haram di nikahi dalam agama islam,kewajiban
suami & istri, serta hal-hal yang dapat memutuskan ikatan pernikahan.
Mengetahui rukun-rukun,syarat,serta ketentuan dari pernikahan,talak,dan
rujuk.
Mengetahui isi pasal tentang pernikahan menurut undang-undang.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Pernikahan

SecaraBahasa : kumpulan, bersetubuh, akad. Secara syarI : dihalalkannya


seorang lelaki dan untuk perempuan bersenang-senang, melakukan hubungan
seksual, dll.

Kata nikah berasal dari Bahasa arab yang didalam Bahasa Indonesia sering
diterjemahkan dengan perkawinan. Nikah menurut istilah syariat islam adalah
akad yang menghalalkan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada
hubungan Mahram sehingga dengan akad tersebut terjadi hak dan kewajiban
antara kedua insan.

Hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan adalah merupakan tuntutan


yang telah diciptakan oleh Allah SWT dan untuk menghalalkan hubungan ini
maka disyariatkanlah akad nikah. Pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang
diatur dengan pernikahan ini akan membawa keharmonisan, keberkahan dan
kesejahteraan baik bagi laki-laki maupun perempuan, bagi keturunan diantara
keduanya bahkan bagi masyarakat yang berada disekeliling kedua insan tersebut.

Berbeda dengan pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak dibina
dengan sarana pernikahan akan membawa malapetaka baik bagi kedua insan itu,
keturunannya dan masyaraka disekelilingnya. Pergaulan yang diikat dengan tali
pernikahan akan membawa mereka menjadi satu dalam urusan kehidupan
sehingga antara keduannya itu dapat menjadi hubungan saling tolong-menolong,
dapat menciptakan kebaikan bagi keduannya dan menjaga kejahatan yang
mungkin akan menimpa kedua belah pihak itu. Dengan pernikahan seseorang juga
akan terpelihara dari kebinasaan hawa nafsunya.

Allah SWT berfirman dalam surat An Nisa Ayat 3 sebagai berikut :

Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kami senangi, dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan berlaku adil maka (kawinilah) seorang
saja. (An Nisa : 3)

Ayat ini memerintahkan kepada orang laki - laki yang sudah mampu untuk
melaksanakan nikah. Adapun yang dimaksud adil dalam ayat ini adalah adil
dalam memberikan kepada istri berupa pakaian, tempat, giliran dan lain lain
yang bersifat lahirlah. Ayat ini juga menerangkan bahwa islam memperbolehkan
poligami dengan syarat syarat tertentu.

3
Hukum Nikah

Hukum pernikahan bersifat kondisional, artinya berubah menurut situasi dan


kondisi seseorang dan lingkungannya.

Sunnah, yaitu bila nafsu mendesak, mampu menikah tetapi dapat memelihara
diri dari zina.
Wajib, yaitu bila nafsu mendesak, mampu menikah dan berpeluang besar
jatuh ke dalam zina.
Makruh, yaitu bila nafsu mendesak, tak mampu memberi nafkah tetapi tidak
merugikan istrinya.
Mubah, yaitubila tak ada alasan yang mendesak/mewajibkan segera menikah
dan/atau alasan yang mengharamkan menikah.
Haram, yaitu bila nafsu tak mendesak, tak mampu memberi nafkah sehingga
merugikan isterinya.

Rukun dan Syarat Sah Nikah

Akad nikah tidak akan sah kecuali jika terpenuhi rukun rukun yang enam
perkara ini :

1. Ijab Qabul

Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita


kepada mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima
ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah pihak. Al Qur-an mengistilahkan ijab-
qabul sebagai miitsaaqan ghaliizhaa (perjanjian yang kokoh) sebagai pertanda
keagungan dan kesucian, disamping penegasan maksud niat nikah tersebut adalah
untuk selamanya.

Syarat ijab-qabul adalah :


1. Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh semua pihak yang hadir
2. Menyebut jelas pernikahan & nama mempelai pria-wanita
2. Adanya mempelai pria.

Syarat mempelai pria adalah :

4
1. Muslim & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka); lihat QS. Al Baqarah :
221, Al Mumtahanah : 9
2. Bukan mahrom dari calon isteri
3. Tidak dipaksa
4. Orangnya jelas
5. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji

3. Adanya mempelai wanita

Syarat mempelai wanita adalah :

1. Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) &


mukallaf; lihat QS. Al Baqarah : 221, Al Maidah : 5
2. Tidak ada halangan syari (tidak bersuami, tidak dalam masa iddah &
bukan mahrom dari calon suami)
3. Tidak dipaksa
4. Orangnya jelas
5. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji

4. Adanya wali

Syarat wali adalah :


1. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
2. Adil
3. Tidak dipaksa
4. Tidaksedang melaksanakan ibadah haji

Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:

1. Ayah
2. Kakek
3. Saudara laki-laki sekandung
4. Saudara laki-laki seayah
5. Anak laki-laki dari saudara laki laki sekandung

5
6. Anak laki-laki dari saudara laki laki seayah
7. Paman sekandung
8. Paman seayah
9. Anak laki-laki dari paman sekandung
10. Anak laki-laki dari paman seayah
11. Hakim

5. Adanya saksi (2 orang pria).

Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah
saksi, tetapi Islam mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur
lagi adil agar pernikahan tersebut menjadi sah.

Syarat saksi adalah :

1. Muslim laki-laki & mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka)


2. Adil
3. Dapat mendengar dan melihat.
4. Tidak dipaksa
5. Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul
6. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji

6. Mahar

Beberapa ketentuan tentang mahar :

1. Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya)
dari seorang suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat
aqad nikah. Lihat QS. An Nisaa : 4.
2. Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan
kepada/milik mertua.
3. Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya
persetubuhan
4. Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan
kerelaan

6
5. Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syariat Islam menyerahkan
perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat yang berlaku. Boleh
sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat.
Rasulullah saw senang mahar yang mudah dan pernah pula.
Wanita yang Haram di Nikahi

Allah SWT berfirman,

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu
terkecuali pada masa yang telah lampai.Sesungguhnya perbuatan itu amatlah dan
dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas
kamu (mengenai) ibu-ibumu; anak-anak yang perempuan; saudara-saudaramu
yang perempuan; saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara
ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudara yang laki-
laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu
yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua);
anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang sudah kamu
campuri, tetapi jika kamu belum campuri dengan isteri kamu itu (dan sudah kamu
ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu)
isteri-isteri anak kandungmu (menantu);, dan menghimpunkan (dalam
perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada
masa lampau sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan
(diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak
yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas
kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri yang
telah kamu nikahi (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka
maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa
bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling
merelakannya, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(An-Nisaa:22-24).

Dalam tiga ayat diatas Allah SWT menyebutkan perempuan-perempuan yang


haram dinikai. Dengan mencermati firman Allah tersebut, kita dapat
menyimpulkan bahwa tahrim, pengharaman ini terbagi dua:
Pertama: Tahrim Muabbad (pengharaman yang berlaku selama-lamanya), yaitu
seorang perempuan tidak boleh menjadi isteri seorang laki-laki di segenap waktu.
Kedua: Tahrim Muaqqat (pengharaman yang bersifat sementara), jika nanti
keadaan berubah, gugurlah tahrim itu dan menjadi halal.

7
Sebab-sebab tahrim muaqqad (pengharaman selamanya) ada tiga: pertama karena
nasab, kedua haram mushaharah (ikatan perkawinan) dan ketiga karena
penyusuan.
Pertama: perempuan-perempuan yang haram dinikahi karena nasab adalah :
1. Ibu
2. Anak perempuan
3.Saudara perempuan
4. Bibi dari pihak ayah (saudara perempuan ayah)
5. Bibi dari pihak ibu (saudara perempuan ibu)
6. Anak perempuan saudara laki-laki (keponakan)
7. Anak perempuan saudara perempuan).
Kedua: Perempuan-perempuan yang haram diwakin karena mushaharah adalah :
1. Ibu istri (ibu mertua), dan tidak dipersyaratkan tahrim ini suami
harus dukhul bercampur lebih dahulu. Meskipun hanya sekedar
akad nikah dengan puterinya, maka sang ibu menjadi haram atau
menantu tersebut.
2. Anak perempuan dari isteri yang sudah didukhul (dikumpul), oleh
karena itu, manakala akad nikah dengan ibunya sudah
dilangsungkan namun belum sempat (mengumpulinya), maka anak
perempuan termasuk halal bagi mantan suami ibunya itu. Hal ini
didasarkan pada firman Allah, Tetapi kalian belum bercampur
dengan isteri kalian itu (dan sudah kalian campur), maka tidak
berdosa kalian menikahinya. (An-Nisaa:23).
3. Isteri anak (menantu perempuan), ia menjadi haram dikawini
hanya sekedar dilangsungkannya akad nikah.
4. Isteri bapak (ibu tiri) diharamkan ats anak menikahi isteri bapak
dengan sebab hanya sekedar terjadinya akad nikah dengannya.

Ketiga: Perempuan-perempuan yang haram dikawini karena sepersusuan.


Allah SWT berfirman yang artinya, Ibu-ibu kalian yang pernah menyusui kalian;
saudara perempuan sepersusuan. (an-Nisaa:23).
Nabi saw. bersabda, Persusuan menjadikan haram sebagaimana yang menjadi
haram karena kelahiran. (Muttafaqun alaih: Fathul Bari IX:139 no:5099,
Muslim II:1068 no:1444, Tirmidzi II:307 no:1157, Aunul Mabud VI:53 no:2041
dan Nasai VI:99).
Hal.570
8
Oleh karena itu, ibu sepersusuan menempati kedudukan ibu kandung, dan semua
orang yang haram dikawini oleh anak laki-laki dari jalur ibu kandung, haram pula
dinikahi bapak sepersusuan, sehingga anak yang menyusui kepada orang lain
haram kawin dengan:
1. Ibu susu (nenek)
2. Ibu Ibu susu (nenek dari pihak Ibu susu)
3. Ibu Bapak susu (kakek)
4. saudara perempuan ibu susu (bibi dari pihak ibu susu)
5. Saudara perempuan bapak susu
6. cucu perempuan dari Ibu susu
7. Saudara perempuan sepersusuan

Perempuan-Perempuan Yang Haram Dinikahi Untuk Sementara Waktu


1. Mengumpulkan dua perempuan yang bersaudara
Allah SWT berfirman, Dan menghimpun (dalam pernikahan) dua perempuan
yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada mada lampau. (An-Nisaa:23).

2. Mengumpulkan seorang isteri dengan bibinya dari pihak ayah ataupun dari
pihak ibunya.
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. bersabda, Tidak boleh dikumpulkan
(dalam pernikahan) antara isteri bibinya dari pihak ayah dan tidak (pula) dari
ibunya. (Muttafaqun alaih: II:160, Tirmidzi II:297 no:11359 Ibnu Majah I:621
no:1929 dengan lafadz yang semana dan Nasai VI:98).

3. Isteri orang lain dan wanita yang menjalani masa iddah.


Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-
budak yang kamu miliki. (An-Nisaa :24).
Yaitu diharamkan bagi kalian mengawini wanita-wanita yang berstatus sebagai
isteri orang lain, terkecuali wanita yang menjadi tawanan perang. Maka ia halal
bagi orang yang menawannya setelah berakhir masa iddahnya meskipun ia masih
menjadi isteri orang lain. Hal ini mengacu pada hadits dari Abu Said bahwa
Rasulullah saw. pernah mengutus pasukan negeri Authas. Lalu mereka berjumla
dengan musunya, lantar mereka memeranginya.Mereka berhasil menaklukkan
mereka dan menangkap sebagian di antara mereka sebagai tawanan. Sebagian dari
kalangan sahabat Rasulullah saw merasa keberatan untuk mencampuri para
tawanan wanita itu karena mereka berstatus isteri orang-orang musyrik. Maka
kemudian Allah SWT pada waktu itu menurunkan ayat, Dan (diharamkan pula
kamu mengawini)

9
wanita-wanita bersuami kecuali budak-budak yang kamu miliki. Yaitu mereka
halal kamu campuri bila mereka selesai menjalani masa iddahnya. (Shahih:
Mukhtashar Muslim no:837, Muslim II:1079 no:1456, Trimidzi IV: 301 no:5005,
Nasai 54 VI:110 dan Aunul Mabud VI:190 no:2141).

4. Wanita yang dijatuhi talak tiga


Ia tidak halal bagi suaminya yang pertama sehingga ia kawin dengan orang lain
dengan perkawinan yang sah. Allah SWT berfirman, Kemudian jika si suami
mentalaqnya (ssudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi
baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain
itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama
dan isteri) untuk kawin kembali, jika keduanya berpendapat akan dapat
menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya
kepada kaum yang (mau) mengetahui. (Al-Baqarah :230).
5. Kawin dengan wanita pezina
Tidak halal bagi seorang laki-laki menikahi wanita pezina, demikian juga tidak
halal bagi seorang perempuan kawian dengan seorang laki-laki pezina, terkecuali
masing-masing dari keduanya tampak jelas sudah melakukan taubat
nashuha.Allah menegaskan, Laki-laki yang berzina tidak boleh mengawini
kecuali perempuan berzina atau perempuan musryik; dan perempuan yang berzina
tidak boleh dikawini melainkan oleh laki-laki berzina atau laki-laki yang musyrik,
dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin. (An-Nuur :
3).Dari Amr bin Syuaib, dari ayanya dari datuknya bahwa Martad bin Abi
Martad al-Ghanawi pernah membawa beberapa tawanan perang dari Mekkah dan
di Mekkah terdapat seorang pelacur yang bernama Anaq yang ia adalah teman
baginya. Ia (Martad) berkata, Saya datang menemui Nabi saw. lalu kutanyakan
kepadanya Ya Rasulullah bolehkah saya menikah dengan Anaq Mak Beliau
diam, lalu turunlah ayat, Dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan
oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik. Kemudian Beliau
memanggilku kembali dan membacakan ayat itu kepadaku, lalu bersabda,
Janganlah engkau menikahinya. (Hasanul Isnad: Shahih Nasai no:3027, Aunul
Mabud VI:48 no: 2037, VI:66 dan Tirmidzi V:10 no:3227).
Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis
Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-
Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-
Sunnah), hlm. 567 575.
10
Kewajiban suami & Istri

Kewajiban suami

a. Memberi nafkah

b.Memimpin serta membimbing istri dan anak-anak

c.Bergaul dengan istri dan anak-anak yang baik

d.Menjaga istri dan anak dari bencana

e.Membantu istri dalam tugas sehari-hari

Kewajiban istri

a.Taat pada suami dalam batas yang sesuai dengan ajaran islam

b.Memelihara diri serta kehormatan dan harta benda suami

c.Membantu suami dalam memimpin keselamatan dan kesejahteraan keluarga

d.Menerima dan menghormati pemberian suami

e.Hormat dan sopan pada suami dan keluarganya

f. Memelihara, mengasuh dan mendidik anak

Hal-hal yang dapat memutuskan ikatan pernikahan

Hal hal yang dapat memutuskan ikatan perkawinan, yaitu:

Talak

Talak dari bahasa Arab dari kata thalaqo berarti melepaskan ikatan perkawinan
dengan pengucapan secara sukarela dari pihak suami ke istri. Hukumnya makruh.

Sabda Rasul SAW :Sesuatu yang halal yang amat dibenci Allah ialah talak.
(H.R. Abu Dawud dan Ibnu Majah )

11
Ila

Yaitu sumpah seorang suami yang menyatakan bahwa dia tidak akan
meniduri istrinya selama empat bulan atau lebih. Akibat dari ila adalah suami
tidak boleh meniduri istrinya, kecuali setelah membayar kafarat.

Lian

Tuduhan seorang suami dengan disertai bersumpah atas nama Allah,


bahwa istrinya telah berbuat zina, sumpah tersebut diucapkan sekurang-kurangnya
empat kali, kemudian pihak istri membela dengan mengangkat sumpah bahwa
dirinya tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan suaminya. Akibat lian
suami tidak boleh menikah kembali terhadap mantan istrinya untuk selama-
lamanya.

Khulu

Gugatan seorang istri untuk minta diceraikan oleh suaminya, dengan cara
pihak istri memberikan tebusan (iwadh) kepada suaminya. Akibat dari khuluk
adalah menjadi talak bain jika seluruh ganti rugi terpenuhi, dan jika ganti rugi
tidak terpenuhi maka menjadi talak biasa.

Fasakh

Pembatalan pernikahan karena sebab- sebab tertentu. Akibat perceraian


dengan fasakh, suami tida boleh rujuk kepada bekas istrinya. Jika ingin kembali,
harus melalui akad nikah baru.

Zihar

Ucapan suami yang menyerupakan istrinya dengan ibunya.Jika tidak


dilanjutkan dengan menalak istrinya, suami wajib bayar kafarat.

12
Pengertian Talak

Talak adalah pernyataan atau sikap atau perbuatan untuk melepaskan ikatan
pernikahan. Bisa juga dikatakan sebagai putusnya hubungan perkawinan antara
suami dan istri dalam waktu tertentu atau selamanya.

Hukum Talak

Hukum talak adalah makruh (sesuatu yang dibenci/tidak disenangi). Akan tetapi,
hukum talak dapat diperbolehkan kerika bertujuan menghilangkan mudarat dari
salah satu suami istri.

Talak dapat berhukum wajib apabila mudarat yang menimpa salah satu dari suami
istri tidak dapat dihilangkan, kecuali dengan talak. Talak juga dapat diharamkan
apabila menimbulkan mudarat pada salah seorang dari suami istri atau tidak
menghasilkan manfaat yang lebih baik dari mudaratnya. Talak hanya dapat
diberikan hingga tiga kali. Talak satu dan dua, suami istri tersebut masih boleh
rujuk sebelum habis masa iddahnya(menunggu).

Macam macam talak

Rincian macam macam talak adalah sebagai berikut :

a) Talak sunnah yaitu suami menalak istri pada masa suci yang tidak digauli
didalamnya.
b) Talak bidah yaitu suami menalak istrinya ketika haid atau menjalani masa
nifas, atau menalaknya dalam keadaan suci yang ia gauli didalamnya, atau
menalaknya dalam talak tiga dengan satu ungkapan atau tiga ungkapan.
c) Talak bain yaitu suami yang menceraikan tidak akan rujuk pada istrinya.
d) Talak rajI yaitu talak dimana suami berhak rujuk dengan istrinya
meskipun istrinya tidak menghendaki.
e) Talak sarih (jelas) yaitu talak yang tidak membutuhkan nilai talak, tetapi
hanya membutuhkan ungkapan talak sarih.
f) Talak kiasan yaitu talak yang membutuhkan niat talak karena ungkapan
talaknya tidak jelas
g) Talak munjaz dan talak mualaf. Talak munjaz yaitu ucapan menalak pada
saat itu juga. Talak mualaf ialah talak yang dikaitkan dengan mengerjakan
sesuatu atau meninggalkan sesuatu.
13
h) Talak dengan wakil atau tulisan. Apabila suami mewakilkan kepada
seseorang untuk menalak istrinya atau menulis suratyang menjelaskan
bahwa ia menalaknya, mak istrinya menjadi perempuan yang ditalak.

Bilangan Talak

Beberapa bilangan talak adalah sebagai berikut :

1. Talak satu, maksudnya suami baru sekali menjatuhkan talak kepada


istrinya, talak ini disebut talak rajI dan sang suami masih boleh rujuk
kembali kepada mantan istrinya.
2. Talak dua, maksudnya suami sudah menjatuhkan dua kali talak kepada
istrinya, talak ini sama halnya dengan talak satu yaitu sang suami boleh
rujuk kembali kepad mantan istrinya.
3. Talak tiga, maksugnya suami sudah tiga kali menjatuhkan talak kepada
istrinya. Talak ini disebut talak bain.

Rukun Talak

Adapun rukun talak adalah sebagai berikut :

a. Suami yang mukalaf. Oleh karena itu, selain suami yang mukalaf tidak
boleh menjatuhkan talak.
b. Istri yang diikat dengan ikatan perkawinan yang hakiki dengan suami yang
menceraikannya.

Pengertian Iddah

Secara bahasa iddah berarti ketentuan. Menurut istilah iddah ialah masa
menunggu bagi seorang wanita yang sudah dicerai suaminya sebelum ia menikah
dengan laki-laki lain. Masa iddah dimaksudkan untuk memberi kesempatan
kepada bekas suaminya apakah dia akan rujuk atau tidak.

14
1. Lamanya Masa Iddah.

a.Wanita yang sedang hamil masa idahnya sampai melahirkan anaknya. (Lihat
QS. At-Talak :4)

b. Wanita yang tidak hamil, sedang ia ditinggal mati suaminya maka masa
idahnya 4 bulan 10 hari. (lihat QS. Al-Baqoroh ayat 234)

c. Wanita yang dicerai suaminya sedang ia dalam keadaan haid maka


masa idahnya 3 kali quru (tiga kali suci). (lihat QS. Al-Baqoroh : 228)

d. Wanita yang tidak haid atau belum haid masa idahnya selama tiga bulan.
(Lihat QS, At-Talaq :4)

e. Wanita yang dicerai sebelum dicampuri suaminya maka baginya tidak ada
masa iddah. (Lihat QS. Al-Ahzab : 49)

2 Hak Perempuan Dalam Masa Iddah.

a.Perempuan yang taat dalam iddah rajiyyah (dapat rujuk) berhak mendapat dari
suami yang mentalaknya: tempat tinggal, pakaian, uang belanja. Sedang wanita
yang durhaka tidak berhak menerima apa-apa.

b.Wanita dalam iddah bain (iddah talak 3 atau khuluk) hanya berhak atas tempat
tinggal saja. (Lihat QS. At-Talaq : 6)

c.Wanita dalam iddah wafat tidak mempunyai hak apapun, tetapi mereka dan
anaknya berhak mendapat harta waris suaminya.

Pengertian Rujuk dan Dalilnya

Rujuk adalah mengembalikan status hukum pernikahan secara penuh


setelah terjadi raji yang dilakukan oleh mantansuami terhadap istrinya yang
masih dalam masa iddahnya dengan cara-cara tertentu. Seperti firman Allah
sebagai berikut.

Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka
(para suami) menghendaki ishlah. (Qs. Al Baqarah [2]:228)

15
Hukum Rujuk

a. Haram , apabila dengan rujuk , si istri dirugikan.


b. Makruh , apabila diketahui bahwa meneruskan penceraian lebih
bermanfaat bagi keduanya dibandingkan jika keduanya rujuk.
c. Sunah , apabila diketahui bahwa rujuk lebih bermanfaat dibandingkan
meneruskan penceraian .
d. Wajib, khusus bagi laki-laki yang beristri lebih dari satu , jika salah
seorang ditalak sebelum gilirannya disempurnakan.

Syarat syarat Rujuk

1. Atas kemauan sendiri


2. Dinyatakan dengan perkataan
3. Mantan istri harus masih dalam masa iddah
4. Saksi

Ketentuan Rujuk

1. Rujuk hanya boleh dilakukan jika membawa kebaikan bagi istri dan anak
2. Rujuk hanya dapat dilaksanakan jika penceraian baru terjadi satu / dua kali
3. Rujuk hanya dilakukan sebelum masa iddahnya habis.

Pernikahan menurut undang-undang

Undang undang Nomor 1 Tahun 1974 berbunyi :

Pasal 2 dan 3 : Pernikahan adalah akad yang sangat kuat untuk mentaati
perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.
Pasal 4 : menerangkan sahnya suatu pernikahan
Pasal 5 dan 6 : menerangkan tentang pencatatan perkawinan
Pasal 7 ayat 1 : menerangkan akta nikah yaitu surat keterangan yang
dibuat Pegawai Pencatat Nikah yang menerangkan tentang pelaksanaan
perkawinan dan data suami serta istri
Pasal 53 ayat 1, 2, dan 3 tentang kawin hamil menerangkan perkawinan
seorang wanita hamil di luar nikah dengan pria yang menghamilinya tidak
dapat menghapus dosa zina yang mereka lakukan.

16
BAB III
PENUTUP

III.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa pernikahan merupakan
salah satu wujud dari ibadah kepada Allah SWT, pernikahan ialah suatu ikatan
lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan untuk hidup bersama dalam
suatu rumah tangga melalui aqad yang dilakukan menurut hukum
syariat Islam. Menikah wajib bagi seseorang yang sudah siap baik mental
maupun fisik. Untuk melepaskan pernikahan dilakukan dengan talak, di dalam
islam talak diperbolehkan, tetapi sangat di benci oleh Allah, jika sudah talak
masih ada jalan yang digunakan untuk kembali, yaitu dengan rujuk.

III.2 SARAN
Sebagai salah satu umat islam sebaiknya setelah siap mental maupun
fisiknya, disegerakan menikah selain untuk menghindari zina, juga dapat menjadi
suatu ibadah jika dilakukan untuk mencadi ridho Allah SWT dan memenuhi
kewajiban sebagai umat islam.

17
IV.Daftar Pustaka

https://www.academia.edu/7997556/Makalah_Pengertian_Munakahat
http://www.masuk-
islam.com/?s=MAKALAH+LENGKAP+TENTANG+MUNAKAHAT
https://www.academia.edu/8563608/Munakahat_pernikahan_dalam_islam
https://asmunistkip.wordpress.com/hukum-islam/keabsahan-perkawinan-di-
indonesia/
http://www.lbh-apik.or.id/uu-perk_penjelasan.htm
http://www.hukumonline.com/pusatdata/detail/26834/node/18/uu-no-1-tahun-
1974-perkawinan

18