Anda di halaman 1dari 13

1.

Etiologi Penyakit Infeksi Jaringan Lunak Rongga Mulut


Banyak mikroorganisme yang bisa menyebabkan penyakit infeksi jaringan lunak
rongga mulut. Penggolongan mikroorganisme tersebut dibagi menjadi 3, yaitu bakteri,
jamur dan virus.
A. Bakteri
1) Treponema pallidum
Bakteri yang paling sering kita jumpai sebagai etiologi penyakit infeksi
jaringan lunak rongga mulut adalah Treponema pallidum sebagai
penyebab dari penyakit syphilis. Banyak jalan yang digunakan bakteri ini
sebagai jalan masuk diantaranya melalui kontak secara seksual dengan
partner yang mamiliki lesi aktif, transfusi darah maupun transplacental
atau kontak antara ibu dan bayi melalui plasenta bayi.
Patogenesis T. pallidum :

GAMBARAN KLINIS
Stadium I (Syphilis primer)
Ulser kronis pada tempat infeksi, keras, indurasi, tidak sakit chancre
Lesi tidak ada eksudat
Lokasi; genital (umumnya), bibir, rongga mulut, jari.
Lymphadenopathy regional
Lesi sembuh 3-12 minggu dengan sedikit atau tidak tjd jar parut
periode latent

Stadium II (Syphilis sekunder)


Mulai setelah 2-10 minggu
Mocous patches (Ulser mukosa yang ditutupi oleh eksudat)
Rash makulopapular berwarna coklat kemerahan.
Condyloma latum pd permukaan kulit dan mukosa

Lymphadenopathy.
demam, flulike symptoms.
Tahap ini jg dapat sembuh spontan (periode latent)

Stadium III (Syphilis tertier)


Timbul bbrp tahun sth infeksi
Gumma (ulser destruktif) pada berbagai organ
IO; khas pada palatal perforasi palatal.
Glositis dengan mukosa atropi
4x beresiko terjadi squamous sel carcinoma
Melibatkan sistem kardiovaskular dan CNS
Tahap ini jarang, krn tx antibiotik yang efektif.

2) Neisseria gonorrhoeae
Bakteri lain yang dapat menimbulkan penyakit infeksi jaringan rongga mulut
adalah Neisseria gonorrhoeae sebagai bakteri penyebab penyakir gonorrhoe yang
menginfeksi bagian traktus genital bawah, rektum, faring, dan mata. Bakteri ini
dapat menyebar melalui kontak seksual.
Gejala klinis oral gonorrhea tidak spesifik yakni berupa ulser multiple dan
erythema generalis serta terjadi stomatitis generalis. Infeksi gonorrhea pada
pharyng lebih sering dengan gejala erythema generalis, ulser dan
lymphadenopathy servikal.

3) Mycobacterium tuberculosis
Selain itu bakteri lainnya adalah Mycobacterium tuberculosis sebagai
etiologi dari penyakit tuberkulosis (TBC). Penularannya bisa melalui
droplet yang terinfeksi kemudian masuk ke paru-paru orang lain.
Patogenesis M. tuberculosis :
Gambaran klinis penderita TBC menunjukkan bahwa penderita mengalami
demam, keringat malam, malaise, penurunan BB, batuk, hemoptysis dan dada sakit.
Manifestasi rongga mulut terjadi ulser indurasi kronis serta nonhealing yang biasanya
tidak menimbulkan sakit. Lokasi terjadinya bisa di lidah, palatum, tuberculous
osteomyelitis pada maxilla & mandibula serta pada pharyng yang menyebabkan ulser,
sakit.
B. Jamur
Selain bakteri, jamur juga bisa menjadi etiologi dari penyakit infeksi jaringan
lunak rongga mulut. Contoh jamur sebagai etiologi penyakit infeksi jaringan
lunak rongga mulut adalah jamur Candida albicans opportuistik sebagai etiologi
dari penyakit candidiasis. Spesies yg lain dari candida (jarang) adalah C.
parapsilosis, C. tropicalis, C. glabrata, C. krusei, C. pseudotropicalis dan C.
guilliermondi. Gambaran klinis dari candidiasis adalah lunak, plak keputihan,
bila dikerok ada bekas kemerahan dan burning sensation. Lokasi terjadinya biasa
pada mukosa bukal, lidah, palatum & bibir.

C. Virus
Virus yang sering kali menyerang jaringan lunak rongga mulut adalah HSV-1.
Gambaran klinis penyakit ini berupa vesikular multipel, kecil,
cluster,pseudomembran putih, sakit tajam, terasa terbakar dan sembuh 7-10 hari.
Lokasi terjadinya biasa di bibir, palatum keras, attached gingiva,dorsum lidah.
2. Patogenesis Infeksi Virus

Tahap pertama dari infeksi virus adalah berikatannya ligan pada virus dengan
reseptor pada sel host. Ligan merupakan reseptor yang dimiliki virus. Ligan pada virus
sendiri terdiri dari glikoprotein yang bermacam-macam, yaitu glikoprotein B (gB),
glikoprotein C (gC), glikoprotein D (gD), glikoprotein E (gE), glikoprotein H (gH) dan
glikoprotein I (gI) dimana setiap glikoprotein memiliki fungsinya masing-masing dalam
menginfeksi sel host.

Glikoprotein B, C, D, dan H pada virus ini nantinya akan membentuk ikatan


pertama yang kontak dengan reseptor sel host. Fungsi lain dari glikoprotein B adalah
mampu meleburkan membran sel host sehingga terjadi fusi antara membran sel host dan
membran virus.

Sedangkan glikoprotein I, C, dan E akan menghalangi kerja sistem imun tubuh


sel host dimana gC akan berikatan dengan komplemen khususnya C3 yang akan
menghambat aktivitasnya memberi sinyal pada antibodi. Sedangkan gI dan gE akan
mengelabui antibodi dalam mengenali antigen.

Setelah tahap berikatannya ligan virus dengan sel host, maka tahap selanjutnya
dalam infeksi virus ini adalah berfusinya virus dengan sel host. Keadaan ini akan
menyebabkan nucleocaspid mmasuk kedalam sitoplasma dan masuk menuju inti sel.
Dalam hal ini, protein tegumen akan ikut serta mengiringi nucleocaspid tadi
masuk ke inti sel. Protein tegumen terdiri dari protein alpha (), beta (), dan gama ()
dimana fungs dari setiap protein ini berbeda-beda.

Protein berfungsi membantu fase awal terjadinya transkripsi antara DNA virus
dan DNA sel host dan nantinya protein ini akan menghasilkan protein dimana protein
ini berfungsi dalam membantu replikasi DNA. Sedangkan protein berfungsi sebagai
protein akhir yang membantu pembentukan komponen struktur virus membentuk virion-
virion.

Tahap berikutnya adalah virion-virion yang terbentuk akan keluar dari sel host
dan bisa bergerak melalui 2 jalan. Jalan pertama virion akan bergerak sepanjang saraf
sensorik menuju ganglion saraf dan akan berubah menjadi virus laten. Jalan kedua virion
akan bergerak menuju sel disekitarnya dan kembali melakukan replikasi dan nantinya
akan menyebar ke daerah syaraf yang dipersyarafi.

Selain itu virus laten akan aktif bereplikasi ketika ada faktor pencetusnya
sehingga terdapat alasan terjadi infeksi rekaren. Selain itu, virus laten bisa menuju sistem
saraf pusat sehingga nantinya bisa menjalar ke seluruh saraf di wajah sehingga bisa
menyebabkan neuralgya dan myalgya.

3. Struktur dan daur hidup HSV-1

Virus herpes banyak terdapat didalam lingkungan, tipe virus ini mampu
menyerang manusia dan hewan. lebih dari 100 spesies virus herpes saat ini,
delapan diantaranya menyerang manusia dan bersifat zoonosis. Virus herpes
termasuk dalam tipe virus yang memiliki ukuran besar dibandingkan dengan
ukuran virus yang lainnya. Secara morfologi, anggota virus herpes memilki
struktur yang serupa satu dengan yang lainnya. Virus HSV terdiri atas 20 faset
dan kapsidnya tersusun sebanyak 162 kapsomer. Morfologi struktur dari virus
herpes dari arah dalam keluar terdiri dari genom DNA utas ganda linier (double
helix linear), berbentuk toroid, kapsid, lapisan tegumen, dan selubung. Kapsid
terdiri atas protein protein yang tersusun dalam simetri ikosahedral. Tegumen
yang terdapat diantara kapsid dan selubung merupakan massa fibous dengan
ketebalan yang bervariasi.
Amplop virus bersifat sedikit pleomorphic (mampu berubah bentuk), berbentuk
bola dim memiliki diameter 120-200. Pada permukaan amplop yang dapat
diproyeksikan dengan banyaknnya duri (spike) yang menyebar merata di seluh
permukaan virus herpes. Nukleokapsid virus herpes dikelilingi oleh kulit yang
terdiri dari bahan globular yang sering asimetris. Virus herpes memiliki total
panjang genom 120000-220000 nt. Guanine + cytosine ratio 35-75 %.

Replikasi Virus Herpes

Virus herpes bereplikasi dalam metabolisme sel inang dengan menggunakan asam
nukleat. Virus yang menempel pada induk semang akan masuk dalam
metabolisme induk semang dan keluar dari sel induk semang dengan merusak
membran plasma.

Virus masuk kedalam sel dengan cara fusi glikoprotein selubung virus dengan
reseptomya yang terdapat di membran plasma, reseptor dari cytomegalovirus
dapat berupa heparin sulfate, amino peptidase dan glikoprotein membran plasma
lain. Selanjutnya, nukleo kapsid pindah dari sitoplasma ke inti sel. Setelah kapsid
rusak, genom virus kemudian dilepaskan didalam inti sel. Genom DNA yang
tadinya linear segera berubah menjadi sirkuler. Sebagian gen langsung
ditranskripsikan dan produk RNA-nya dipindahkan ke sitoplasma untuk bersama
ribosom sel ditranslasikan membentuk kelompok protein alfa. Klompok protein
ini kemudian pindah ke inti sel untuk memfasilitasi transkripsi gen penyandi
protein beta, terjadi transkripsi dan translasi lategenes menjadi protein gamma.
Jumlah jenis protein yang disandi lebih dari 50, banyak diantara proteon alfa dan
beta merupakan enzim dari protein lain yang akan berikatan dengan DNA genom
virus.

Transkripsi DNA virus terjadi sepanjang siklus replikasi didalam sel dengan
bantuan enzim RNA polymerase sel dan protein virus lain. Transkripsi dalam
bentuk DNA virus selanjutnya dirakit menjadi virion pada membran inti sel.
Pelepasan virion dari sitoplasma keluar inti sel terjadi melalui struktur tubuler
atau melalui proses eksositosis vakuola yang berisi virion.

4. Respon tubuh terhadap infeksi virus

Respons imun nonspesifik terhadap infeksi virus

Secara jelas terlihat bahwa respons imun yang terjadi adalah


timbulnya interferon dan sel natural killler (NK) dan antibodi yang
spesifik terhadap virus tersebut. Pengenalan dan pemusnahan sel yang
terinfeksi virus sebelum terjadi replikasi sangat bermanfaat bagi pejamu.
Permukaan sel yang terinfeksi virus mengalami modifikasi, terutama
dalam struktur karbohidrat, menyebabkan sel menjadi target sel NK. Sel
NK mempunyai dua jenis reseptor permukaan. Reseptor pertama
merupakan killer activating receptors, yang terikat pada karbohidrat dan
struktur lainnya yang diekspresikan oleh semua sel. Reseptor lainnya
adalah killer inhibitory receptors, yang mengenali molekul MHC kelas I
dan mendominasi signal dari reseptor aktivasi. Oleh karena itu sensitivitas
sel target tergantung pada ekspresi MHC kelas I. Sel yang sensitif atau
terinfeksi mempunyai MHC kelas I yang rendah, namun sel yang tidak
terinfeksi dengan molekul MHC kelas I yang normal akan terlindungi dari
sel NK. Produksi IFN- selama infeksi virus akan mengaktivasi sel NK
dan meregulasi ekspresi MHC pada sel terdekat sehingga menjadi resisten
terhadap infeksi virus. Sel NK juga dapat berperan dalam ADCC bila
antibodi terhadap protein virus terikat pada sel yang terinfeksi.

Beberapa mekanisme utama respons nonspesifik terhadap virus, yaitu :

Infeksi virus secara langsung yang akan merangsang produksi IFN oleh
sel-sel terinfeksi; IFN berfungsi menghambat replikasi virus

Sel NK mampu membunuh virus yang berada di dalam sel, walaupun


virus menghambat presentasi antigen dan ekspresi MHC klas I. IFN tipe I
akan meningkatkan kemampuan sel NK untuk memusnahkan virus yang
berada di dalam sel. Selain itu, aktivasi komplemen dan fagositosis akan
menghilangkan virus yang datang dari ekstraseluler dan sirkulasi.

Respons imun spesifik terhadap infeksi virus

Mekanisme respons imun spesifik ada dua jenis yaitu respons imunitas
humoral dan selular. Respons imun spesifik ini mempunyai peran penting
yaitu :
Menetralkan antigen virus dengan berbagai cara antara lain
menghambat perlekatan virus pada reseptor yang terdapat pada permukaan
sel sehingga virus tidak dapat menembus membran sel, dan dengan cara
mengaktifkan komplemen yang menyebabkan agregasi virus sehingga
mudah difagositosis

Melawan virus sitopatik yang dilepaskan dari sel yang lisis.

Molekul antibodi dapat menetralisasi virus melalui berbagai cara. Antibodi


dapat menghambat kombinasi virus dengan reseptor pada sel, sehingga
mencegah penetrasi dan multiplikasi intraseluler, seperti pada virus
influenza. Antibodi juga dapat menghancurkan partikel virus bebas
melalui aktivasi jalur klasik komplemen atau produksi agregasi ,
meningkatkan fagositosis dan kematian intraseluler.

Kadar konsentrasi antibodi yang relatif rendah juga dapat


bermanfaat khususnya pada infeksi virus yang mempunyai masa inkubasi
lama, dengan melewati aliran darah terlebih dahulu sebelum sampai ke
organ target, seperti virus poliomielitis yang masuk melalui saluran cerna,
melalui aliran darah menuju ke sel otak. Di dalam darah, virus akan
dinetralisasi oleh antibodi spesifik dengan kadar yang rendah, memberikan
waktu tubuh untuk membentuk resposn imun sekunder sebelum virus
mencapai organ target.

Infeksi virus lain, seperti influenza dan common cold, mempunyai masa
inkubasi yang pendek, dan organ target virus sama dengan pintu masuk
virus. Waktu yang dibutuhkan respons antibodi primer untuk mencapai
puncaknya menjadi terbatas, sehingga diperlukan produksi cepat interferon
untuk mengatasi infeksi virus tersebut. Antibodi berfungsi sebagai bantuan
tambahan pada fase lambat dalam proses penyembuhan. Namun, kadar
antibodi dapat meningkat pada cairan lokal yang terdapat di permukaan
yang terinfeksi, seperti mukosa nasal dan paru. Pembentukan antibodi
antiviral, khususnya IgA, secara lokal menjadi penting untuk pencegahan
infeksi berikutnya. Namun hal ini menjadi tidak bermanfaat apabila terjadi
perubahan antigen virus.

Virus menghindari antibodi dengan cara hidup intraseluler. Antibodi lokal


atau sistemik dapat menghambat penyebaran virus sitolitik yang
dilepaskan dari sel pejamu yang terbunuh, namun antibodi sendiri tidak
dapat mengontrol virus yang melakukan budding dari permukaan sel
sebagai partikel infeksius yang dapat menyebarkan virus ke sel terdekat
tanpa terpapar oleh antibodi, oleh karena itu diperlukan imunitas seluler.

Respons imunitas seluler juga merupakan respons yang penting terutama


pada infeksi virus nonsitopatik. Respons ini melibatkan sel T sitotoksik
yang bersifat protektif, sel NK, ADCC dan interaksi dengan MHC kelas I
sehingga menyebabkan kerusakan sel jaringan. Dalam respons infeksi
virus pada jaringan akan timbul IFN (IFN-a dan IFN-b) yang akan
membantu terjadinya respons imun yang bawaan dan didapat. Peran
antivirus dari IFN cukup besar terutama IFN-a dan IFN-b.

Kerja IFN sebagai antivirus adalah :

1. Meningkatkan ekspresi MHC kelas I


2. Aktivasi sel NK dan makrofag
3. Menghambat replikasi virus
4. Menghambat penetrasi ke dalam sel atau budding virus dari sel
yang terinfeksi.

Limfosit T dari pejamu yang telah tersensitisasi bersifat sitotoksik


langsung pada sel yang teinfeksi virus melalui pengenalan antigen pada
permukaan sel target oleh reseptor spesifik di limfosit. Semakin cepat
sel T sitotoksik menyerang virus, maka replikasi dan penyebaran virus
akan cepat dihambat.

Sel yang terinfeksi mengekspresikan peptida antigen virus pada


permukaannya yang terkait dengan MHC kelas I sesaat setelah virus
masuk. Pemusnahan cepat sel yang terinfeksi oleh sel T sitotoksik
mencegah multiplikasi virus. Sel T sitotoksik menyerang virus (native
viral coat protein) langsung pada sel target.

Sel T yang terstimulasi oleh antigen virus akan melepaskan sitokin seperti
IFN- dan kemokin makrofag atau monosit. Sitokin ini akan menarik
fagosit mononuklear dan teraktivasi untuk mengeluarkan TNF. Sitokin
TNF bersama IFN- akan menyebabkan sel menjadi non-permissive,
sehingga tidak terjadi replikasi virus yang masuk melalui transfer
intraseluler. Oleh karena itu, lokasi infeksi dikelilingi oleh lingkaran sel
yang resisten. Seperti halnya IFN-, IFN- meningkatkan sitotoksisitas sel
NK untuk sel yang terinfeksi.

Antibodi dapat menghambat sel T sitotoksik melalui reaksi dengan


antigen permukaan pada budding virus yang baru mulai, sehingga dapat
terjadi proses ADCC. Antibodi juga berguna dalam mencegah reinfeksi.

Beberapa virus dapat menginfeksi sel-sel sistem imun sehingga


mengganggu fungsinya dan mengakibatkan imunodepresi, misalnya virus
polio, influenza dan HIV atau penyakit AIDS. Sebagian besar virus
membatasi diri (self-limiting), namun sebagian lain menyebabkan gejala
klinik atau subklinik. Penyembuhan infeksi virus pada umumnya diikuti
imunitas jangka panjang. Pengenalan sel target oleh sel T sitotoksik
spesifik virus dapat melisis sel target yang mengekspresikan peptida
antigen yang homolog dengan region berbeda dari protein virus yang
sama, dari protein berbeda dari virus yang sama atau bahkan dari virus
yang berbeda. Aktivasi oleh virus kedua tersebut dapat menimbulkan
memori dan imunitas spontan dari virus lain setelah infeksi virus inisial
dengan jenis silang. Demam dengue dan demam berdarah dengue
merupakan infeksi virus akut yang disebabkan oleh empat jenis virus
dengue. Imunitas yang terjadi cukup lama apabila terkena infeksi virus
dengan serotipe yang sama, tetapi bila dengan serotipe yang berbeda maka
imunitas yang terjadi akan berbeda. Gangguan pada organ hati pada
demam berdarah dengue telah dibuktikan dengan ditemukannya RNA
virus dengue dalam jaringan sel hati dan organ limfoid. Virus dengue
ternyata menyerang sel kupffer dan hepatosit sehingga terjadi gangguan di
hati.