Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan kuantitas dan kualitas hidup individu,
permasalahan yang dihadapi juga semakin kompleks. Permasalahan dimaksud sering kali
tidak cukup bahkan tidak mampu diatasi sendiri . Ia juga tidak terselesaikan dengan tuntas
hanya dengan diberi pelayanan dalam bentuk informasi dan nasihat. individu memerlukan
pelayanan yang secara sistematis mampu membantu mengentaskan masalah yang
dihadapinya sehingga ia mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas
kehidupan efektif sehari-hari.

Individu memiliki kemampuan dalam diri sendiri untuk mengerti diri, menentukan hidup,
dan menangani masalahmasalah psikisnya asalkan konselor menciptakan kondisi yang dapat
mempermudah perkembangan individu untuk aktualisasi diri. Menurut Rogers motivasi orang
yang sehat adalah aktualisasi diri. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol
oleh peristiwa kanak anak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet
trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya. Rogers lebih melihat pada
masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara
bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga
kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang
terjadi pada waktu itu.

Kemajuan berpikir dan kesadaran manusia akan diri dan dunianya, telah mendorong
terjadinya globalisasi. Situasi global membuat kehidupan semakin kompetitif dan membuka
peluang bagi manusia untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak
positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berfikir, meningkatkan
kernampuan, dan tidak puas terhadap apa yang dicapainya pada saat ini. Adapun dampak
negatif dari globalisasi tersebut adalah (1) keresahan hidup di kalangan masyarakat yang
semakin meningkat karena banyaknya konflik, stress, kecemasan, dan frustasi; (2) adanya
kecenderungan pelanggaran disiplin, kolusi, dan korupsi, makin sulit diterapkannya ukuran
baik-jahat serta benar-salah secara. lugas; (3) adanya ambisi kelompok yang dapat
menimbulkan konflik, tidak saja konflik psikis, tetapi juga konflik fisik; dan (4) pelarian dari
masalah melalui jalan pintas yang bersifat sementara juga adiktif, seperi penggunaan obatobat
terlarang.

Person centered terapi sangat sesuai untuk tipe-tipe klien tertentu. Konseling yang
berpusat pada individu paling cocok untuk klien yang menderita bermacam-macam gejala,
bukan gejala-gejala yang sangat spesifik. Tiga alasan person centered terapi sangat cocok
bagi klien tertentu. Klien harus merasa tertarik pada pengalaman batinnya. Orang yang tidak
suka berbicara mandalam tentang dirinya, tidak cocok dengan jenis terapi ini. Klien juga
harus sangat pandai bergaul (highly socially skilled). Orang yang tidak bisa mengenal kondisi
kondisi utama tadi tidak akan memberikan respon terhadap kondisi-kondisi tersebut. Alasan
selanjutnya, klien harus merasa membutuhkan hubungan dekat. Person centered therapy
melibatkan hubungan yang dekat.

Pendekatan konseling person-centered menekankan pada kecakapan klien untuk


menentukan isu yang penting bagi dirinya dan pemecahan masalah bagi dirinya yang paling
penting dalam kualitas hubungan konseling adalah pembentukan suasana hangat, permisif
dan penerimaan yang dapat membuat klien untuk menjelajahi struktur dirinya dalam
hubungan dengan pengalaman yang unik. Konsep pokok yang mendasari konseling person-
centered adalah hal yang menyangkut konsep-konsep mengenai diri (self), aktualisasi diri,
teori kepribadian Rogers, dan hakekat kecemasan. Rogers berpendapat bahwa konstruk inti
konseling person centered adalah konsep tentang diri dan konsep menjadi diri atau
pertumbuhan perwujudan diri. Dikatakan konsep diri atau struktur diri dapat dipandang
sebagai konfigurasi persepsi yang terorganisasikan tentang diri yang membawa kesadaran.
Konfigurasi persepsi yang dimaksud terdiri atas unsur-unsur persepsi tehadap karakteristik
dan kecakapan seseorang, pengamatan dan konsep diri dalam hubungan dengan orang lain
dan lingkungan, kualitas nilai yang dipandang sebagai pertautan dengan pengalaman dan
objek, dan tujuan dan citacita yang dipandang mempunyai kekuatan positif dan negatif. Diri
(self) merupakan atribut yang dipelajari yang membentuk gambaran diri individu sendiri. Diri
manusia dapat dipandang sebagai subjek yaitu saya (I), dan objek yaitu ku (me)

B. Identitas Konseli

Nama: PS

Jurusan: Teknik

Semester:
c. Arah Konseling

Rogers (dalam Ivey dan Downing, 1980, Corey, 1986) mensyaratkan enam kondisi
yang diperlukan dalam menciptakan hubungan antar keduanya dalam rangka menciptakan
perubahan kepribadian:

1. Ada dua orang dalam kontak psikologis

2. Orang pertama disebut klien, orang yang mengalami inkongruensi.

3. Orang kedua, disebut konselor, adalah orang yang kongruen yang dapat
mengaktualisasikan dirinya.

4. Terapis memberikan perhatian positif (unconditional positive regard) dan peduli


terhadap klien.

5. Terapis mengalami pemahaman empatik terhadap ukuran internal klien untuk


membentuk sikap atau keputusan dan usaha untuk mengomunikasikannya dengan klien.

6. Komunikasi klien kepada konselor yang berupa pemahaman empatik dan


penghargaan positif tanpa syarat adalah dalam rangka pencapaian derajat minimal. Dalam
perspektif

Rogers hubungan klien berciri kesamaan derajat, karena terapis tidak merahasiakan
pengetahuannya atau berusaha untuk menjadikan proses terapeutik sebagai suatu hal
sifatnya bukan mistis dalam rangka proses perubahan yang ada dalam diri klien.

Terapi yang dikembangkan oleh Carl Ransom Rogers pada tahun 1942 ini bertujuan
untuk membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai
kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri. Kepribadian yang integral adalah
struktur kepribadiannya tidak terpecah, artinya sesuai antara gambaran tenteng diri yang
ideal (ideal-self) dan dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang
berdiri sendiri adalah yang mampu menentukan pilihan sendiri atas dasar tanggung jawab
dan kemampuan. Tidak tergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu
individu harus memahami dirinya, dan menerima keadaan dirinya.

Secara umum tujuan dari konseling ini adalah untuk memfokuskan diri klien pada
pertanggungjawaban dan kapasitasnya dalam rangka menemukan cara yang tepat untuk
menghadapi realitas yang dihadapi klien (Corey, 1986) atau dengan kata lain membantu
klien agar berkembang secara optimal sehingga mampu menjadi manusia yang berguna.
(Sukardi, 1984). Sedangkan secara terinci tujuannya adalah sebagai berikut :

1. Membebaskan klien dari berbagai konflik psikologis yang dihadapinya.

2. Menumbuhkan kepercayaan pada diri klien, bahwa ia memiliki kemampuan untuk


mengambil satu atau serangklaian keputusan yang terbaik bagi dirinya sendiri tanpa
merugikan orang lain.

3. Memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada klien untuk belajar mempercayai


orang lain, dan memiliki kesiapan secara terbuka untuk menerima berbagai pengalaman
orang lain yang bermanfaat bagi dirinya sendiri.

4. Memberikan kesadaran kepada klien bahwa dirinya adalah merupakan bagian dari
suatu lingkup sosial budaya yang luas, walaupun demikian ia tetap masih memiliki
kekhasan atau keunikan tersendiri.

5. Menumbuhkan suatu keyakinan kepada klien bahwa dirinya terus tumbuh dan
berkembang (Process of becoming). (Sukardi. 1984)
BAB II

PROSES KONSELING

Pemahaman dari proses dan prosedur konseling ini dapat dilakukan melalui tiga hal,
yaitu:

a. Kondisi-kondisi konseling Rogers percaya bahwa keterampilan-keterampilan


teknis dan latihan-latihan khusus tidak menjamin keberhasilan konseling atau therapy,
tetapi sikap-sikap tertentu dari konselor merupakan elemen penting dalam perubahan
klien. Sikap tertentu tersebut merupakan Condition Variable atau Facilitative Conditions,
termasuk sebagai berikut: - Dalam relationship, therapist hendaknya tampil secara.
kongruen atau tampil apa adanya (asli). - Penghargaan tanpa syarat terhadap pengalaman-
pengalaman klien secara positif dan penerimaan secara hangat.

Pada dasamya teori ini tidak ada proses therapy yang khusus, namun beberapa hal
berikut ini menunjukkan bagaimana proses konseling itu terjadi. - Awal Sernula
dijelaskan proses konseling dan psikoterapi sebagai cara kerja melalui kemajuan yang
bertahap, tetapi overlaving, Sp Der (1945), menyatakan bahwa pertanyaan-pertanyaan
emosi yang negatif kemudian diikuti dengan pertanyaanpernyataan emosi yang positif,
dan keberhasilan konseling adalah dengan mengarahkan penyataan-penyataan tersebut
kepada insight, diskusi perencanaan aktivitas. - Perubahan. Self Proses konseling berarti
pula proses perubahan self konsep dan sikap-sikap kea rah self. Konseling yang berhasil
berarti bergeraknya. perasaan-perasaan yang negatif ke arah yang positif. - Teori Formal
Rogers juga mengemukakan teori formal tentang proses konseling (1953), yaitu: a) Klien
secara meningkat menjadi lebih bebas dalam menyatakan perasaan perasaannya. b)
Munculnya perbedaan objek dari ekspresi perasaan persepsinya. c) Perasaan-perasaan
yang diekspresikan secara. bertahap menampakkan adanya kecenderungan inkongruensi
antara pengalaman tertentu dengan self konsepnya. d) Self konsep secara meningkat
menjadi terorganisir, termasuk pengalamanpengalaman. yang sebelumnya ditolak dalam
kesadarannya. e) Klien secara meningkat merasakan adanya penghargaan diri secara.
positif. - Pengalaman-pengalaman

Merasakan pengalaman-pengalaman tertentu dengan segera dalam konseling


merupakan kondisi yang tepat dalam konseling. Selanjutnya, Rogers juga
mengungkapkan adanya tujuan variable yang secara parallel lebih merupakan kesatuan
proses, yaitu makna perasaan pribadi, pola pengalaman, tingkat ketidakkongruennya,
komunikasi self, pola pengalaman yang dikonstruksi, hubungan dengan masalah-
masalahnya, dan pola hubungan dengan yang lainnya.

tahapan konseling berpusat pada person menurut Boy dan Pine (1981) jika dilihat dari
apa yang dilakukan konselor dapat di buat dua tahap. Pertama, tahap membangun
hubungan terapeutik, menciptakan kondisi fasilitatif dan hubungan yang subtantif seperti
empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan positif tanpa syarat. Tahap Kedua, tahap
kelanjutan yang disesuaikan dengan efektifitas hubungan disesuaikan dengan kebutuhan
klien. Sedangkan jika dilihat dari segi pengalaman klien dalam proses hubungan
konseling dapat di jabarkan bahwa proses konseling dapat di bagi menjadi empat tahap,
yaitu:

1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan,


atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.

2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan,
jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan-
kesulitannya.

3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya yang
kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan
belum menyatakan pribadi yang dalam.

4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap
pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan
jalan menghilangkaln pengalaman yang dialaminya.

Memiliki tahap sebagai berikut

1. Klien datang kepada konselor dengan mimik wajah yang sangat kusam, takut,
pakaian keadaan tidak rapi. Seakan-akan masalah yang dihadapinya sangat besar.

2. Klien datang kepada konselor dan mempunyai harapan dapat memperoleh bantuan,
kemudian konselor memberikan alternative bantuan antara lain bimbingan konseling
individu, konseling behavior, dan terapi client centered. Dari beberapa alternative
bimbingan yang diberikan maka alternative yang cocok diberikan kepada konseli adalah
terapi client centered karena sesuai dengan masalah yang dialami klien.

3. Pada saat awal proses konseling konseli datang dengan sikap yang ragu- ragu,
takut. Pada saat konseli ditanya oleh konselor maka jawaban yang diberikan oleh konseli
belum bisa berterus terang, sehingga membutuhkan waktu untuk selanjutnya, dan usaha
yang dilakukan oleh konselor adalah menanamkan kepada konseli.

4. Pada tahap terapi yang terakhir ini konseli mulai menghilangkan sikap takut, dan
ragu- ragu. Sehingga konseli sudah mulai terbuka didepan konselor tentang permasalahan
yang dialaminya, dan konseli mulai menceritakan hal- hal dengan permasalahan yang
dihadapi.
BAB III

PEMBAHASAN

1 Analisis
Berdasarkan hasil konseling yang dilakukan antara konselor dan konseli arah dari
konseling client-centered analisis yang dari hasil konseling adalah Konseli memiliki
permasalahan yang dimiliki antara self ideal yaitu teman kos yang seharusnya membersihkan
kamar dan piket kos dan self experience konseli yang punya teman kos yang pernah kos yang
sangat bersih dan galak dalam membersihkan kamar mandi. Konselor mencoba mengarahkan
dari perasaan konseli
3.2 Saran
Saran kepada konselor:
(1) Klarifikasi atau tanggapan yang diberikan terkadang melenceng dari pernyataan.
(2) Dalam menggali diri konseli belum terlalu terkonsep
(3) Pemilian kata dalam menyusun kalimat masih kurang tepat sehingga terkadang tidak
dipahami oleh konseli