Anda di halaman 1dari 2

Farmasi adalah profesi tentang seni dan ilmu penyediaan bahan obat, dari

sumber alam atau sintetik yang sesuai, untuk disalurkan dan digunakan pada
pengobatan dan pencegahan penyakit. Farmasi mencakup pengetahuan tentang
identifikasi, pemilihan, aksi farmakologis, analisis, pengawetan, penggabungan,
dan pembakuan bahan obat dan sediaan obat.
Kata farmasi berasal dari bahasa Yunani pharmakon, yang berarti cantik
atau elok, yang kemudian berubah artinya menjadi racun, dan selanjutnya berubah
lagi menjadi obat atau bahan obat. Oleh karena itu, seorang ahli farmasi
(Pharmacist) ialah orang yang paling mengetahui hal ihwal obat. Ia satu-satunya
ahli mengenai obat, karena pengetahuan keahlian mengenai obat memerlukan
pengetahuan yang mendalam mengenai semua aspek kefarmasian seperti yang
tercantum pada definisi di atas.
A. Ruang Lingkup Farmasi
1. Bidang Industri
Farmasis di industri farmasi terlibat dalam fungsi pemasaran produk, riset
dan pengembangan produk, pengendalian kualitas, produksi dan administrasi atau
manajemen. Industri farmasi menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang Industri Farmasi adalah badan usaha yang
memiliki izin dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat
atau bahan obat. Industri farmasi harus membuat obat sedemikian rupa agar sesuai
dengan tujuan penggunaannya, memenuhi persyaratan yang tercantum dalam
dokumen izin edar (registrasi) dan tidak menimbulkan resiko yang
membahayakan penggunaanya karena tidak aman, mutu rendah atau tidak efektif.
Setiap industri farmasi wajib memperoleh izin industri farmasi dari
Direktur Jenderal. Direktur Jenderal yang dimaksud adalah Direktur Jenderal pada
Kementerian Kesehatan yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang pembinaan
kefarmasian dan alat kesehatan. Persyaratan untuk memperoleh izin industri
farmasi sebagaimana yang tercantum dalam Permenkes RI No.
1799/Menkes/Per/IX/2010 adalah sebagai berikut:
1. Berbadan usaha berupa perseroan terbatas
2. Memiliki rencana investasi dan kegiatan pembuatan obat
3. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak
4. Memiliki paling sedikit 3 orang apoteker Warga Negara Indonesia masing-
masing sebagai penanggung jawab pemastian mutu, produksi, dan pengawasan
mutu.
5. Komisaris dan direksi tidak pernah terlibat, baik langsung ataupun tidak
langsung dalam pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang
kefarmasian
Dikecualikan dari persyaratan di atas poin 1 dan 2, bagi pemohon izin
industri farmasi milik Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara
Republik Indonesia.
CPOB (cara pembuatan obat yang baik) merupakan suatu konsep dalam
industri farmasi mengenai prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan dalam
suatu industri farmasi untuk menjamin mutu obat jadi, yang diproduksi dengan
menerapkan Good Manufacturing Practices dalam seluruh aspek dan rangkaian
kegiatan produksi sehingga obat yang dihasilkan senantiasa memenuhi
persyaratan mutu yang ditentukan sesuai dengan tujuan penggunaannya. CPOB
bertujuan untuk menjamin obat yang dibuat secara dinamis sesuai dengan
perkembangan zaman, memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan sesuai dengan
tujuan penggunaannya. CPOB mencakup seluruh aspek produksi dan
pengendalian mutu.
2. Bidang klinis / rumah sakit
Farmasi klinik melayani perawatan pasien secara langsung untuk
mengoptimalkan medikasi dan mengajarkan atau memberikan pengetahuan
tentang kesehatan dan pencegahan penyakit terhadap masyatakat. farmasis yang
bekerja dirumah sakit bertanggung jawab atas medikasi klinik terhadap pasien.
Karena pengobatan yang dilakukan di rumah sakit cenderung kompleks, sebelum
mulai bekerja, farmasis biasanya diwajibkan untuk mengikuti pelajaran tambahan
dan program training setelah lulus.