Anda di halaman 1dari 6

1.

Habitat dan relung

Habitat merupakan tempat tinggal suatu makhluk hidup dan berkembang biak.
Menurut Shelford dan Clements, Habitat merupakan lingkungan fisik yang berada pada
sekitar spesies, komunitas, kelompok spesies yang mempengaruhi dan dimanfaatkan oleh
spesies tersebut.

Suatu habitat terdiri dari faktor fisik, seperti kelembaban, tanah, ketersediaan cahaya,
kisaran suhu dan juga faktor biotik seperti adanya predator dan ketersediaan makanan.

Semua makhluk hidup atau organisme memiliki habitat dan tempat tinggal masing-
masing. Istilah habitat juga dipakai untuk menunjukkan tempat tumbuhnya sekelompok
organisme dari beberapa spesies yang membentuk suatu komunitas. Misalnya untuk
menyebut tempat kehidupan padang rumput dapat disebut sebagai habitat padang
rumput, untuk hutan mangrove maka dapat menggunakan istilah habitat hutan mangrove,
untuk hutan pantai maka dapat menggunakan istilah habitat hutan pantai, dan juga untuk
hutan rawa maka dapat menggunakan habitat hutan rawa.

Relung (niche) adalah posisi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas
danKonsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris,
dengan pengertian status fungsional suatu organisme dalam komunitas tertentu. Dalam
penelaahan suatu organisme, kita harus mengetahui kegiatannya, terutama mengenai
sumber nutrisi dan energi, kecepatan metabolisme dan tumbuhnya, pengaruh terhadap
organisme lain bila berdampingan atau bersentuhan, dan sampai seberapa jauh organisme
yang kita selidiki itu mempengaruhi atau mampu mengubah berbagai proses dalam
ekosistem.

ekosistem tertentu, yang merupakan akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis


serta perilaku spesifik organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya
ditentukan oleh tempat organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang
dimilikinya. Dapat dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara
hidup organisme dalam lingkungan hidupnya.

Niche ada yang bersifat umum dan spesifik. Misalnya ayam termasuk mempunyai
niche yang umum karena dapat memakan cacing, padi, daging, ikan, rumput dan lainnya.
Ayam merupakan polifag, yang berarti makan banyak jenis. Makan beberapa jenis
disebut oligofag, hanya makan satu jenis disebut monofag seperti wereng, hanya makan
padi.

Apabila terdapat dua hewan atau lebih mempunyai niche yang sama dalam satu
habitat yang sama maka akan terjadi persaingan. Dalam persaingan yang ketat, masing-
masing jenis mempertinggi efisiensi cara hidup, dan masing-masing akan menjadi lebih
spesialis yaitu relungnya menyempit. Akan tetapi bila populasi semakin meningkat,
maka persaingan antar individu di dalam jenis tersebut akan terjadi pula. Dalam
persaingan ini individu yang lemah akan terdesak ke bagian niche yang marginal.
Sebagai efeknya ialah melebarnya relung, dan jenis tersebut akan menjadi lebih
generalis. Ini berarti jenis tersebut semakin lemah atau kuat. Makin spesialis suatu jenis
semakin rentan makhluk tersebut.

2. Struktur trofik dan piramida ekologi

Fenomena interaksi rantai makanan dan hubungan antara ukuran organisme dengan
metabolisme menghasilkan suatu struktur trofik yang khas untuk setiap ekosistem.
Semakin kecil ukuran suatu organisme maka semakin besar metabolis-menya per gram
biomasanya, dan sebaliknya semakin besar ukuran tubuh suatu organisme semakin kecil
metabolismenya per gram berat tu-buhnya.

Struktur trofik dapat diukur dan dinyatakan dalam jumlah energi yang
disimpan/ditambat per satuan luas per satuan waktu pada aras trofik (biomasa per satuan
luas). Struktur trofik dapat digambarkan dalam bentuk diagram yang kemudian dikenal
sebagai piramida ekologi. Aras trofik I (produsen) diletakkan sebagai dasar piramida,
kemudian diatasnya adalah aras-aras trofik yang berikutnya (herbivora, karnivora)
sebagai konsumen primer, sekunder, tersier.dan seterusnya sampai ke tingkat yang
tertinggi. Piramida ekologi, ada tiga macam yaitu :

1. Piramida jumlah: yang menggambarkan jumlah individu pada masing-masing aras


trofik

2. Piramida biomasa: yang menggambarkan besarnya biomasa pada masing-masing


aras trofik. Biomasa dapat dinyatakan dalam satuan berat kering atau berat abu.

3. Piramida energi: yang menggambarkan laju aliran energi atau produktivitas pada
setiap aras trofik, energi dapat dinyatakan dalam satuan kalori.
Piramida ekologi memberikan gambaran kasar hubungan antara rantai makanan
dengan komponen-komponen biotik dalam suatu ekosistem. Apabila dibandingkan
dengan piramida ekologi yang lain, maka piramida jumlah kurang memberikan
gambaran hubungan fungsional antara komponen-komponen biotik ekosistem dengan
peranan mereka. Hal ini dapat terjadi karena jumlah individu tidak berbanding lurus
dengan peranan mereka secara fungsional dalam ekosistem.

Piramida biomasa lebih memberikan gambaran yang signifikan terhadap suatu


struktur trofik, karena mampu memberi-kan gambaran secara kasar tentang pengaruh
menyeluruh dari rantai makanan dan pengaruh peranan masing-masing aras trofik.

Piramida energi adalah suatu piramida yang dianggap paling baik dalam
meggambarkan peranan masing-masing komponen ekosistem dibandingkan dengan
pira-mida ekologi, piramida jumlah dan piramida biomasa. Dengan menggunakan
piramida energi maka peranan komuni-tas atau masing-masing aras trofik dalam suatu
ekosistem dapat diketa-hui secara jelas. Hal ini disebabkan oleh karena piramida energi
dapat menggambarkan besarnya aliran energi pada tiap-tiap aras trofik.

3. Rantai dan jaring-jaring makanan

Rantai makanan adalah rangkaian peristiwa makan dan dimakan antar makhluk hidup
untuk kelansungan hidupnya. Proses makanmemakan ini berdasar urutan tertentu dan
berlansung terus-menerus. Dalam ekosistem ini makhluk hidup memiliki perannya
masing-masing, mulai dari yang berperan sebagai peroduser, konsumen dan beberapa
sebagai dekomposer (pengurai).

Produsen adalah makhluk hidup yang dapat memproduksi zat organik dari zat
anorganik. Produsen tidak memakan makhluk hidupnya. Melainkan membuatnya sendiri.
Satu-satunya jenis makhluk hidup yang mampu melakukan proses tersebut adalah
tumbuhan dengan cara fotosintesis. Contoh dari produsen yaitu alga, lemut dan
tumbuhan hijau.

Konsumen adalah makhluk hidup yang tidak bisa membuat makanannya sendiri dan
tergantung kepada organisme lain. Konsumen mengonsumsi organisme lainnya untuk
bertahan hidup. Dalam suatu ekosistem yang berperan sebagai konsumen biasanya
adalah hewan. Konsumen dibagi atas beberapa tingkatan dalam suatu rantai makanan.
Pertama konsumen primer, yaitu hewan yang memakan tumbuhan (herbivora) secara
langsung, contohnya sapi, kelinci, dan lain-lain. Konsumen II (sekunder) yaitu hewan
yang memakan konsumen primer (karnivora). Seterusnya konsumen II dimakan oleh
konsumen III (tersier). Seterusnya kegiatan makan-memakan berlangsung terus hingga
sampai kepada konsumen terakhir atau biasa disebut konsumen puncak. Konsumen
puncak adalah tingkatan dari konsumen dimana tidak ada lagi makhluk hidup lain yang
memakannya. Seperti singa, beruang, buaya dan tentunya manusia.

Dekomposer (pengurai) merupakan pemeran terakhir dalam suatu rantai makanan,


dimana organisme ini berperan menguraikan bahan organik menjadi bahan anorganik.
Dekomposer mengurai bahan organik dari tumbuhan mati atau bangkai hewan dan
mengembalikan nutrisinya ke dalam tanah yang kemudian digunakan oleh produsen
untuk berfotosintesis. Dari sinilah siklus rantai makanan dimulai kembali. Dekomposer
disebut juga detritivor atau pemakan bangkai. Contoh dari organisme ini seperti bakteri
pembusuk dan jamur.

Jaring-jaring makanan adalah sekumpulan dari beberapa rantai makanan yang saling
berhubungan. Rantai makanan hanya bahagian kecil dari sebuah jaring-jaring makanan.
Secara alami, makhluk hidup memakan lebih dari satu variasi makanan. Dan satu jenis
makhluk hidup yang jadi makanan menjadi mangsa dari beberapa jenis pemangsa.

Sebuah jaring-jaring makanan memiliki susunan yang lebih komplek dibanding rantai
makanan. Pada jaring-jaring makanan, suatu organisme bisa memakan lebih dari satu
organisme lainnya dan sebaliknya satu organisme bisa dimakan oleh lebih dari satu
organisme lainnya.

4. Materi dan energi dalam ekosistem

Aliran energi dan materi dapat terjadi apabila ada peristiwa makan dan dimakan
antara komponen biotik dalam suatu ekosistem yang berarti terjadi perpindahan materi
dan energi dari makhluk hidup satu ke makhluk hidup lainnya. Perpindahan materi atau
zat dan energi dari makhluk yang satu ke makhluk yang lain disebut aliran materi dan
energi.

Sumber energi utama bagi semua kehidupan di bumi adalah energi cahaya matahari.
Dan hanya tumbuhan hijau yang dapat memanfaatkan energi matahari untuk aktivitas
hidupnya melalui proses fotosintesis. Energi tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan,
tetapi dapat berubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya. Berdasarkan hal
tersebut maka energi matahari yang telah digunakan oleh makhluk hidup tidak akan
kembali ke matahari lagi, tetapi akan lepas ke alam bebas karena peristiwa radiasi dan
tidak dapat dimanfaatkan oleh kehidupan. Peristiwa perpindahan energi dalam ekosistem
disebut aliran energi, dan karena perpindahan energi hanya satu arah saja, maka pada
energi tidak ada siklus energi.

Daur materi merupakan siklus perubahan dan perpindahan materi yang terjadi dalam
suatu rantai makanan.

Sumber materi utama adalah planet bumi. Materi (H2O / air dan CO2 /
karbondioksida) yang diserap oleh tumbuhan akan diubah menjadi karbohidrat melalui
proses fotosintesis yang terjadi di daun dengan bantuan klorofil dan energi dari matahari.
Secara sederhana reaksinya adalah:

6 H2O + 6 CO2 -------> C6H12O6 + 6 O2

Secara berturut- turut materi tersebut akan berpindah dari makhluk hidup yang satu ke
makhluk yang lain dan suatu saat akan kembali ke bumi. Setelah mengalami berbagai
proses akan kembali menjadi air (H2O) dan CO2 yang dapat dimanfaatkan kembali oleh
tumbuhan hijau, selanjutnya akan memasuki tubuh organisme lain. Jadi materi memiliki
siklus, misalnya siklus Karbon atau daur karbon.

5. Produktifitas komunitas

Produktivitas adalah laju produksi makhluk hidup dalam ekosistem. Produksi bagi
ekosistem merupakan proses pemasukan dan penyimpanan energi dalam ekosistem.
Pemasukan energi dalam ekosistem yang dimaksud adalah pemindahan energi cahaya
menjadi energi kimia oleh produsen. Sedangkan penyimpanan energi yang dimaksudkan
adalah penggunaan energi oleh konsumen dan mikroorganisme.

Produktivitas primer merupakan laju penambatan energi yang dilakukan oleh


produsen. Menurut Campbell (2002), produktivitas primer menunjukkan jumlah energi
cahaya yang diubah menjadi energi kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu
periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas primer
kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini disimpan
sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan yang sedang
tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul tersebut sebagai
bahan bakar organic dalam respirasinya. Dengan demikian, Produktivitas primer bersih
(net primary productivity, NPP) sama dengan produktivitas primer kotor dikurangi
energi yang digunakan oleh produsen untuk respirasi (Rs):

NPP = GPP Rs
Dalam sebuah ekosistem, produktivitas primer menunjukkan simpanan energi
kimia yang tersedia bagi konsumen. Pada sebagian besar produsen primer, produktivitas
primer bersih dapat mencapai 50% 90% dari produktivitas primer kotor. Menurut
Campbell et al (2002), Rasio NPP terhadap GPP umumnya lebih kecil bagi produsen
besar dengan struktur nonfotosintetik yang rumit, seperti pohon yang mendukung sistem
batang dan akar yang besar dan secara metabolik aktif.
Produktivitas primer dapat dinyatakan dalam energi persatuan luas persatuan
waktu (J/m2/tahun), atau sebagai biomassa (berat kering organik) vegetasi yang
ditambahkan ke ekosistem persatuan luasan per satuan waktu (g/m2/tahun). Namun
demikian, produktivitas primer suatu ekosistem hendaknya tidak dikelirukan dengan total
biomassa dari autotrof fotosintetik yang terdapat pada suatu waktu tertentu, yang disebut
biomassa tanaman tegakan (standing crop biomass). Produktivitas primer menunjukkan
laju di mana organisme-organisme mensintesis biomassa baru. Meskipun sebuah hutan
memiliki biomassa tanaman tegakan yang sangat besar, produktivitas primernya mungkin
sesungguhnya kurang dari produktivitas primer beberapa padang rumput yang tidak
mengakumulasi vegetasi (Campbell et al., 2002).