Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersi terdiri dari bulatan
bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak
bercampur. Dalam batasan emulsi, fase terdispersi dianggap sebagai fase
dalam dan medium dispersi sebagai fase luar atau fase kontinu. Emulsi yang
mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut emulsi minyak
dalam air dan biasanya diberi tanda sebagai emulsi m/a. Sebaliknya
emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak disebut emulsi
air dalam minyak dan dikenal sebagai emulsi a/m. Karena fase luar dari
suatu emulsi bersifat kontinu, suatu emulsi minyak dalam air bisa
diencerkan atau ditambah dengan air atau suatu preparat dalam air. Umumnya
untuk membuat suatu emulsi yang stabil, perlu fase ketiga atau bagian ketiga
dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulsifying egent). Tergantung pada
konstituennya, viskositas emulsi dapat sangat bervariasi dan emulsi farmasi
bisa disiapkan sebagai cairan atau semisolid (setengah padat). Berdasarkan
konstituen dan maksud pemakaiannya, emulsi cair bisa dipakai secara oral,
topikal atau parenteral; emulsi semisolid digunakan secara topikal. Banyak
preparat farmasi yang mungkin sebenarnya emulsi tidak digolongkan sebagai
emulsi karena cocok untuk masuk dalam kategori sediaan farmasi lainnya
yang lebih tepat. Misalnya, lotio lotio tertentu, liniment, krim, salep, dan
vitamin dalam bentuk tetes diperdagangan bisa jadi emulsi, tapi dikenal
sebagai anggota dari golongan lain dari emulsi (Ansel, 2005 : 376).
Parafin cair adalah campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak
mineral. Parafin cair adalah cairan kental, transparan, tidak berfluorensasi,
tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak mempynyai rasa. Parafin
cair praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol, larut dalam kloroform dan
dalam eter. Parafin stabil meskipun dalam bentuk cair dan mungkin dapat
terjadi perubahan secara fisik. Parafin cair dapat digunakan sebagai zat aktif
untuk obat konstipasi yang berfungsi sebagai laksatif.

1
Laksatif atau pencahar adalah makanan atau obat obatan yang diminum
untuk membantu mengatasi sembelit dengan membuat feses bergerak dengan
mudah di usus. Dalam operasi pembedahan, obat ini juga diberikan kepada
pasien untuk membersihkan usus sebelum operasi dilakukan. Laksatif
merupakan obat bebas yang digunakan untuk mengatasi konstipasi atau
sembelit.
Konstipasi atau sembelit adalah kelainan pada sistem pencernaan yang
mengakibatkan pengerasan feses yang berlebihan sehingga sulit untuk dibuang
atau dikeluarkan dari tubuh dan dapat menyebabkan kesakitan yang hebat
pada penderitanya.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan


Adapun maksud dan tujuan dari percobaan ini, yaitu:
a. Mengetahui rancangan formula dalam pembuatan emulsi parafin cair.
b. Memahami pembuatan sediaan emulsi parafin cair.
c. Memahami evaluasi pada sediaan emulsi parafin cair.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Umum
2.1.1 Definisi Sediaan Emulsi
a. IMO hal 132
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat cair atau larutan
obat, terdispersi dalam cairan pembawa, distabilkan dengan zat
pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
b. FI III : 9
Emulsi adalah sediaan yang mengandung bahan obat air atau
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok.
c. FI IV : 6
Emulsi adalah sistem dua fase dimana salah satu cairannya terdispersi
dalam cairan yang lain dalam bentuk tetesan-tetesan kecil.
d. RPS 18 th : 298
Emulsi adalah suatu sistem terdispersi yang terdiri dari paling sedikit 2
fase cairan yang tidak saling bercampur
e. Lachman : 1029
Emulsi adalah suatu campuran yang tidak stabil secara termodinamika
yang terdiri dari 2 cairan yang tidak saling bercampur
f. Parrot : 354
Emulsi adalah suatu sistem polifase dari 2 campuran yang tidak saling
bercampur.Salah satunya tersuspensi
dengan bantuan emulgator keseluruh partikel lainnya.
Ukuran diameter partikelnya 0.2 50 m.
g. Physical Phar. : 522
Emulsi adalah sistem yamg tidak stabil secara termodinamika
mengandung paling sedikit 2 fase cair yang tidak bercampur satu
diantaranya terdispersi sebagai globul-globul (fase pendispersi) dalam
fase cair lainnya (fase kontinyu) distabilkan dengan adanya bahan
pengemulsi / emulgator.

3
h. Scovilles :314
Emulsi yang digunakan dalam farmasi adalah sediaan yang mengandung 2
cairan yang tidak bercampur, satu diantaranya terdispersi secara
seragam sebagai globul
i. Ansel : 376
Emulsi adalah suatu dispersi dimana fase terdispersi terdiri dari
bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa
yang tidak saling bercampur.
j. Encyclopedia : 138
Umumnya digambarkan sebagai sistem heterogen, terdiri dari dua cairan
yang tidak bercampur. Satu diantaranya didispersikan secara seragam
sebagai tetesan kecil dalam cairan lain.
2.1.2 Tujuan Pemakaian Emulsi
a. Untuk dipergunakan sebagai obat dalam atau per oral. Umumnya tipe
emulsi tipe O/W.
b. Untuk dipergunakan sebagai obat luar. Bisa tipe O/W maupun W/O,
tergantung pada banyak faktor, misalnya sifat atau efek terapi yang
dikehendaki. (Syamsuni, 129).
2.1.3 Macam-Macam Emulsi
Berdasarkan penggunaannya emulsi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Emulsi penggunaan per-oral
Emulsi minyak dalam air
Biasanya mempunyai tipe minyak dalam air. Emulgator merupakan
film penutup dari minyak obatnya untuk menutupi rasa tidak enak, zat
perasa diberikan diberikan pada fase ekstern untuk memberikan rasa enak.
2. Emulsi untuk injeksi itravena
Emulsi parenteral telah diselidiki untuk penggunaan makanan dan
minyak obat untuk hewan dan manusia. Penggunaan emulsi parenterol
meminta perhatian khusus selama produksi seperti pemilihan emulgator
ukuran dan kesamaan butiran tetes pada penggunaan intravena.
Emulsi untuk pemakaian oral

4
Baik bentuk minyak dalam air atau air dalam minyak yang dapat
dipakai untuk pemakaian kulit dan memoran mukosa dengan proses
emulsi kemungkinan terbentuk lotion atau cream yang karsistensinya
mempunyai sifat-sifat :
Dapat meluas daerah yang diobati
Dapat mudah dicuci
Tidak membekas pada pakaian
Memiliki bentuk ,bau, warna dan rasa yang baik
2.1.4 Syarat-Syarat Sediaan Emulsi
Sediaan emulsi dapat terbentuk jika :
Terdapat 2 zat yang tidak saling melarutkan
Terjadi proses pengadukan (agitosi)
Terdapat emulgator
Sediaan emulsi yang baik adalah sediaan emulsi yang stabil,
dikatakan stabil apabila sediaan emulsi tersebut dapat mempertahankan
distribusi yang teratur dari fase terdispersi dalam jangka waktu yang lama.
(R. Voight hal 434)
2.1.5 Komposisi Sediaan Emulsi
Sediaan emulsi secara umum terdiri dari bahan aktif dan juga tambahan
a. Bahan aktif antara lain :
Paraffin cair
Oleum iecoris aselli
Curaubitae semin
b. Bahan tambahan antara lain :
Emulgator menstabilkan dengan cara menempati antara permukaan
antara tetesan minyak dan air. Emulgator juga mengurangi tegangan antar
muka antara fase sehingga meningkatakan proses emulsifikasi selama
pencampuran.
1. Gom Arabikum
Menambahakan sekaligus 1 1/2 bagian kepada gom itu, kemudian
digerus sampai diperoleh suatu masa yang homogen.

5
2. Merah telur
Merah telur digerus dalam mortar dengan 3ml air dan kemudian
ditambahkan sedikit-sedikit minyaknya. Setelah diencerkan disraing
dengan air kas.
3. Tragakan
Mula-mula tragakan digerus dengan air yang 20 kali banyaknya,
kepada mucilago ini ditambahkan bergantian sejumlah kecil minyak dan
air, sangatlah perlu menamabahkan minyak dalam jumlah lebih kecil. 1
gram tragakan = 10 gram gom arab.
4. Carboxymethyloellulose (CMC)
Larutannya dibuat dengan jalan menuangi zat dengan air didih dan
membiarkannya beberapa
c. Pengawet antimikroba /preserudife
Sediaan emulsi memerlukan bahan antimikroba karena fase air
memepermudah pertumbuhan mikroorganisme. Sehingga fungsi dari
pengawet antimikroba yaitu dapat mengurangi kortaminasi
mikroorganisme. Contoh pengawet :
Asam benzoat
Metil paraben (nipagin)=0,015-0,
Prophylparaben (nipasol)=0,01-0,02%
d. Antioksidan
Diperlukan untuk mencegah terjadinya kekeringan dari fase
minyak ataupun oksidasi zat berkhasiat. Contoh :
Asam askorbat
Asam sitrat
Askorbil
Sulfit
e. Pembau (corigen adoris)
Zat pembau ditambahkan agar menutupi bau dari zat aktifnya yang
mungkin menyengat. Contoh
Oleum citri

6
Oleum ricini
Oleum cinamommi
Vanillium
f. Pewarna (corigen colori)
Zat pewarna ditambahkan agar menutupi penampilan yang tidak
menarik. Contoh
Eritrosin
Tartrozin
Roosberry red
g. Perasa (corigen saporis)
Zat perasa ditambahkan agar menutupi rasa dari minyak, sehingga
dapat menarik bagi anak-anak. Contoh
Gliserin : >20%
Sukrosa : 67%
2.1.6 Metode Pembuatan Emulsi
a. Metode Gom Kering (Metode Kontinental)
Pada Metode Gom kering atau yang biasa dikenal dengan nama
metode 4:2:1, formula yang digunakan untuk membuat corpus emulsi
adalah 4 bagian minyak, 4 bagian air, dan 4 bagian gom (atau emulgator).
Sedangkan pada metode Kontinental, formulanya adalah 4:3:2.
Setelah corpus emulsi ini terbentuk, bahan bahan formulatif cair lainnya
yang larut dalam fase luar, ditambahkan sedikit demi sedikit sambil terus
diaduk. Ada pun zat zat formulatif lainnya yang berbentuk padat seperti
pengawet, stabilizer, pewarna, perasa, dll dilarutkan dalam fase luar
terlebih dahulu sebelum ditambahkan ke dalam corpus emulsi. Sedangkan
zat zat formulatif yang dikhawatirkan akan mengganggu stabilitas
emulsi ditambahkan paling akhir.
b. Metode Gom Basah
Zat pengemulsi ditambahkan kedalam air (zat pengemulsi
umumnya larut dalam air) agar membentuk suatu mucilago, kemudian

7
minyak perlahan-lahan ditambahkan untuk membentuk emulsi, kemudiaan
diencerkan denganm sisa air.
c. Metode Botol Forbes
Metode ini cocok untuk pembuatan emulsi yang berisi minyak
minyak menguap dan mempunyai viskositas rendah. Serbuk gom
dimasukkan ke botol kering, tambah 2 bagian air dan dikocok kuat dalam
keadaan botol tertutup rapat. Tambahkan minyak dan air secara bergantian
sedikit demi sedikit sambil terus dikocok setiap kali dilakukan
penambahan air dan minyak. Metode ini kurang cocok untuk minyak
kental karena viskositasnya yang terlalu tinggi sehingga sulit untuk
dikocok dan dicampur dengan gom dalam botol.
2.1.7 Bentuk Kerusakan Emulsi

Gambar 1. Perubahan stabilitas emulsi. (1) Emulsi segar , (2) Flokulasi, (3) koalesen, (4) creaming, (5)
Ostwald ripening, (6) inversi fase

a. Creaming
Merupakan merupakan suatu bentuk kerusakan emulsi secara estetika.
Hal ini pasti terjadi pada zat terdispersi yang memiliki bobot jenis yang
lebih besar dibandingkan dengan zat pendispersinya. Kerusakan ini
bersifat reversibel dan dapat diatasi dengan melakukan pengocokan.
b. Flokulasi
Kerusakan ini terjadi akibat lemahnya gaya tolak menolak (potensial
zeta) antara tetes-tetes terdispersi, sehingga mengakibatkan tetes

8
terdispersi tersebut saling berdekatan. Hal ini dapat diatasi juga dengan
pengocokan, namun untuk mencegah terjadinya pelekatan yang kuat, maka
ditambahkan koloid pelindung (musilago) untuk melindungi permukaan
tetes terdispersi tersebut, jadi akan mudah terlepas saat dikocok.
c. Oswald Ripening
Merupakan suatu jalan untuk menuju ke sebuah koalesens
(penggabungan tetes terdispersi).
d. Koalesens
Merupakan suatu bentuk kerusakan yang diakibatkan oleh kurangnya
surfaktan yang digunakan, sehingga lapisan pelindung pada permukaan
tetesan lemah. Jadi tetesan tersebut akan berfusi (bergabung) membentuk
suatu tetesan yang berdiameter lebih besar. Kerusakan ini bersifat
irreversibel dan akan menyebabkan terjadinya pemisahan fase (cracking).
e. Inversi fase
Kerusakan ini terjadi karena volume fase terdispersi hampir sama
jumlahnya dengan fase pendispersi sehingga terjadi perubahan tipe dari
o/w menjadi w/o atau sebaliknya.
2.1.8 Cara Menentukan Emulsi
Menurut DOM 509
Beberapa metode tersedia untuk menentukan tipe emulsi. Beberapa
metode paling umum meliputi pengenceran tetesan, kelarutan cat,
pembentukan creaming, konduktivitas listrik, dan tes fluoresensi.
a) Tes Pengenceran Tetesan
Metode ini berdasarkan prinsip bahwa emulsi bercampur dengan
luar akibatnya, jika air ditambahkan ke dalam emulsi M/A, air akan
terdispersi cepat dalam emulsi. Jika minyak ditambahkan tidak akan
terdispersi tanpa pengadukan yang kuat. Begitu pula dengan emulsi A/M.
b) Uji kelarutan cat
Uji ini berdasarkan prinsip bahwa dispersi cat secara seragam
melalui emulsi jika cat larut dalam fase luar. Amaran, cat larut air secara

9
cepat mewarnai emulsi M/A tapi tidak mewarnai emulsi tipe A/M. Sudan
III, cat larut minyak dengan cepat mewarnai emulsi A/M, tidak tipe M/A.
c) Uji Arah Creaming
Creaming adalah fenomena antara 2 emulsi yang terpisah dari
cairan aslinya dimana salah satunya mengapung pada permukaan lainnya.
Konsentrasi fase terdispersi adalah lebih tinggi dalam emulsi yang
terpisah. Jika berat jenis relatif tinggi dari kedua fase diketahui, maka arah
creaming dari fase terdispersi menunjukkan adanya tipe emulsi M/A. jika
cream emulsi menuju ke bawah berarti emulsi A/M. hal ini berdasarkan
asumsi bahwa mimyak kurang padat daripada air.
d) Uji Hantaran Listrik
Uji hantaran listrik berdasarkan pada prinsip bahwa air
menghantarkan arus listrik sedangkan minyak tidak. Jika elektrode
ditempatkan pada emulsi menghantarkan artus listrik, maka emulsi M/A.
jika sistem tidak menghantarkan arus listrik, maka emulsi adalah A/M.
e) Tes Fluoresensi
Banyak minyak jika dipaparkan pada sinar UV berfluoresensi, jika
tetesan emulsi dibentangkan dalam lampu fluoresensi di bawah mikroskop
dan semuanya berfluoresensi, menunjukkan emulsi A/M. Tapi jika emulsi
M/A, fluoresensinya berbintik-bintik.

2.1.9 Kelebihan dan Kekurangan Emulsi


Keuntungan emulsi
a. Menurut Lachman
Bioavalaibilitas besar
Onset lebih cepat
Penerimaan pasien mudah diberikan pada anak-anak
Rasa obat, minyak jeruk bisa ditutupi oleh penambahan zat
tambahan lain.
Formulasi, karena bisa mempertahankan stabilitas obat yang larut
dalam minyak.

10
Kerugian emulsi
Sulit diformulasikan karena harus mencampur 2 fase yang tidak
tercampurkan.
Mudah ditumbuhi oleh mikroba karena adanya air.
Kestabilan fisika dan kimia terjamin dalam waktu lama.
b. Menurut Ansel
Keuntungan
Menurut eleganti tertentu dan mudah dicuci.
Dapat mengontrol penampilan, viskositas dan derajat kekasaran
dari emulsi.
Sebagian besar lemak dan pelarut untuk lemak yang dimasukkan
untuk pemakaian ke dalam tubuh manusia, relatif memakan biaya,
akibatnya pengenceran yang aman dan tidak mahal.
Kerugian
Emulsi merupakan suatu campuran yang tidak stabil secara
termodinamika.
Jika pengocokan ditentukan, tetesan akan bergabung menjadi satu
dengan cepat.
Biasanya hanya satu fase yang bertahan dalam bentuk tetesan.
2.1.10 Faktor - Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Stabilitas Fisika Sediaan
Emulsi
1. Ukuran fase terdispersi/dalam suatu emulsi stabil, jika butir yang
terdispersi berada dalam keadaan terbagi halus dalam waktu yang lama,
bila fase terdispersi makin mendekati keadaan koloidal maka emulsi
tersebut makin stabil.
2. Konsentrasi fase dalam Adalah salah satu faktor penyebab terjadinya
creaming. Butir-butir yang besar dan dapat bergerak dengan cepat akan
menubruk butir-butir yang kecil dengan pergerakan yang lambat.
3. Bila konsentrasi fase dalam lebih besar , sehingga butir-butir yang berada
pada dasar sampai permukaan bersentuhan maka gerakan dari butirbutir
tidak memungkinkan lagi karena alasan ruang geometriknya.

11
4. Viskositas fase luar makin besar viskositas emulsi , maka makin kurang
gerakan/tumbukan butir-butir fase dalam, dengan demikian menghalangi
bersatunya fase dalam dan menghindari terjadinya creaming.
2.1.11 Pemakaian Sediaan Emulsi
Sediaan emulsi dapat dipergunakan untuk obat dalam maupun obat
luar. Untuk obat dalam, lebih disukai emulsi tipe m/a karena rasa atau bau
minyak yang tidak enak dapat tertutup/dikurangi. Minyak dalam butir-
butir halus lebih mudah dicerna. Contoh : emulsi minyak ikan.

12
2.2 Teori Khusus
2.2.1 Efek Farmakologi Paraffin Liquid
Ditinjau dari aspek farmakologi, Paraffin Liquid digunakan sebagai zat
aktif untuk obat konstipasi yang bertindak sebagai laksatif emolien/lubrikan.
Laksatif emolien bekerja dengan cara melapisi feses dan memberikan efek licin
sehingga mempermudah jalannya feses. Selain itu paraffin liquid juga
menempel di dinding kolon dan memberikan efek hidrofobik yang
menghambat penyerapan air di kolon sehingga massa feses menjadi lebih
besar. Zat aktif ini bekerja lokal di kolon dan tidak perlu di absorbi. Apabila
diabsorbsi sedikit, paraffin liquid memiliki efek samping reaksi granulomatosa.
Efek samping lainnya adalah pneumonia lipoid dan gangguan absorbs vitamin
larut lemak.
Ditinjau dari aspek farmasetis, paraffin liquid biasa digunakan sebagai fase
minyak/pembawa dalam emulsi, baik sediaan semisolid maupun cair. Dalam
hal ini, paraffin liquid bekerja sebagai pelarut senyawa-senyawa yang larut
dalam minyak lemak.
2.2.2 Uraian Bahan
a. Parafin Cair (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Paraffinum Liquidum
Nama lain : Parafin cair
Pemerian :Cairan kental transparan, tidak
berfluoresensi,tidak berwarna,hampir tidak
mempunyai rasa.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air dan dalam
(95%)P, larut dalam kloroform P eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya
Kegunaan : Laksativum.
Inkompabilitas :
b. PGA ( FI III, 279)
Nama Resmi :GUMMI ACACIAE

13
Nama Lain :Gom Akasia, Gom arab
Nama Kimia :-
Rumus Molekul :-
Berat Molekul :-
Pemerian : Hampir tidak berbau, rasa tawar seperti
lendir
Kelarutan : Mudah larut dalam air, menghasilkan
larutan yang kental dan tembus cahaya.
Praktis tidak larut dalam etanol (95%)
Khasiat/Kegunaan : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Inkompabilitas :Akasia tidak bercampur dengan sejumlah
zat termasuk amidopyrine, apomorphine,
kresol, etanol (95%), garam besi, morfin,
fenol, physostigmine, tanin, timol, dan
vanili. Adanya enzim pengoksidasi dapat
mempengaruhi stabilitas zat. Namun, enzim
dapat tidak aktif dengan pemanasan pada
100C untuk waktu yang singkat.
c. Sorbitol Monoleat (Span 60)
Nama Resmi : Sorbotin Monooleat
Nama lain : Span 60
Pemerian : Larutan berminyak, tidak berwarna, bau
karakteristik dari asam lemak
Kelarutan : Praktis tidak larut, tetapi terdispersi dalam
air, dapat bercampur dengan alkohol,
sedikit larut dalam minyak kapas.
Peyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai emulgator tipe minyak
d. Polioksietilen Sorbitan Monoleat (Tween 60)
Nama Resmi : Polyoxyethyllene sorbitan monooleate

14
Nama lain : Tween 60
Pemerian : Cairan kental seperti minyak, jernih
kuning, bau karakteristik dari asam lemak
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95 %
P,dalam etanol P, sukar larut dalam parafin
cair P dan dalam minyak biji kapas P.
Peyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Kegunaan : Sebagai emulgator tipe air
Inkompabilitas : Perubahan warna dan pengendapan terjadi
dengan berbagai zat, khususnya fenol, tanin,
tar, dan bir seperti metanial. Aktivitas
berkurang dengan adanya antimikroba
pengawet paraben. (Rowe,551).
e. Na CMC
Nama resmi :NATRII CARBOXY METHYL
CELULOSUM
Nama lain : Natrium karbon krimetil sellulosa
Pemerian : Serbuk atau butiran, putih atau putih
kuning gading, tidak berbau atau hampir
tidak berbau
Kelarutan : Mudah mendispersi dalam air, membentuk
suspensi kolodial, tidak larut dalam etanol
(95%) p, dalam eter p dan dalam pelarut
organik lain
Khasiat/kegunaan : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
f. Aquadest ( FI III, 96)
Nama resmi : AQUADESTILLATA
Nama lain : air suling
RM/BM : H2O/18,02

15
Pemerian : Cairan jernih, tidak berbau. Tidak
berwarna, tidak mempunyai rasa
Khasiat/kegunaan :Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

16
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Formula
I. Formula Asli
Paraffinum Liquidum
II. Rancangan Formula
a. Metode Korpus Emulsi Basah
Parafin cair 30%
PGA 10%
Na CMC 0,05%
Aquadest ad 100 ml
b. Metode Korpus Emulsi Kering
Parafin cair 30%
Emulgator (Tween 60 dan Span 60) 3%
PGA 10%
Na CMC 0,05%
Aquadest ad 100 ml

III. Master Formula


Nama produk : PARALAX
Jumlah produk : 2 botol @ 100 ml
No.Reg : DBL8701400733A1
No.Batch : D02407078

Diproduksi oleh: Tanggal Formula Tanggal Produksi

17
PT.AKFATOR
FARMA
Dosis
Kode Perbotol Perbotol
No Nama Bahan Fungsi Bahan
Bahan (metode korpus (metode korpus
emulsi basah) emulsi kering)

01 01 PL Parafin cair Zat aktif 30 ml 30 ml


02 02 PGA Pulvis Gummi Arabicum Emulgator 10 g 10 g
03 03 TW Tween 60 Emulgator - 2,15 g
04 04 SP Span 60 Emulgator - 0,85 g
05 05 CMC Na CMC Penstabil dan 50 mg 50 mg
Pengental
06 06 AQ Aquadest Solvent 100 ml 100 ml

IV. Alasan
Secara farmasetik, proses emulsifikasi memungkinkan ahli farmasi
dapat membuat suatu preparat yang stabil dan rata dari campuran dua
cairan yang saling tidak bisa bercampur. Dalam hal ini obat diberikan
obat diberikan dalam bentuk bola bola kecil bukan dalam bulk.
Untuk emulsi yang diberikan secara oral, tipe emulsi minyak dalam
air memungkinkan pemberian obat yang harus dimakan tersebut
mempunyai rasa yang lebih enak walaupun yang diberikan sebenarnya
minyak yang tidak enak rasanya, dengan menambahkan pemanis dan
pemberi rasa pada pembawa airnya, sehingga mudah dimakan dan
ditelan sampai ke lambung. Ukuran partikel yang diperkecil dari bola
bola minyak dapat mempertahankan minyak tersebut agar lebih dapat
dicernakan dan lebih mudah diabsorpsi, atau jika bukan dimaksudkan
untuk itu, tugasnya juga akan lebih efektif, misalnya meningkatkan
efikasi minyak mineral sebagai katartik bila diberikan dalam bentuk
emulsi (Ansel, 2005 : 377).

18
V. Alasan Penggunaan Bahan
1. Zat Aktif : Parafin cair
Ditinjau dari aspek farmakologi, parafin cair digunakan
sebagai zat aktif untuk obat konstipasi yang bertindak sebagai
laksatif emolien / lubrikan. Laksatif emolien bekerja dengan cara
melapisi feses dan memberikan efek hidrofobik yang menghambat
penyerapan air di kolon sehingga massa feses menjadi lebih besar.
Zat aktif ini bekerja lokal di kolon dan tidak perlu diabsorpsi.
Ditinjau dari aspek farmasetis, parafin cair biasa digunakan
sebagai fase minyak / pembawa dalam sistem emulsi, baik sediaan
semisolid maupun sediaan cair. Dalam hal ini, parafin cair bekerja
sebagai pelarut senyawa senyawa yang larut dalam minyak
mineral.
Indikasi : Konstipasi
Peringatan : Hindari penggunaan jangka panjang.
Kontraindikasi : Anak usia di bawah 3 tahun.
Efek Samping : Tirisan (rembesan) anal parafin
menyebabkan iritasi anal setelah
penggunaan jangka panjang, reaksi
granulomatosa disebabkan oleh absorpsi
sedikit parafin cair (terutama dari emulsi),
pneumonia lipoid dan gangguan absorpsi
vitamin vitamin larut lemak.
Dosis : 10 ml pada malam hari bila perlu. Tidak
boleh digunakan sebelum tidur.
(PIO Nas BPOM RI)
2. Zat Tambahan
a. Na CMC
Fungsi Na CMC yang terpenting, yaitu sebagai pengental,
stabilisator, pembentuk gel, dan sebagai pengemulsi (Winarno,

19
1985). Sebagai pengental, Na CMC mampu mengikat air
sehingga molekul molekul air terperangkap dalam struktur
gel yang dibentuk oleh Na CMC (Manife, 1989).
Cara melarutkan Na CMC yang baik adalah dengan cara
ditaburkan di dalam air dingin dan dibiarkan beberapa jam, lalu
diaduk perlahan lahan sampai larut. Atau diaduk kuat kuat
dengan pengaduk cepat (mixer) (IMO, 2010 : 140).
b. Aquadest
Air murni diperoleh dengan penyulingan, cara pertukaran
ion, osmosis terbalik atau cara lain yang sesuai. Air murni ini
dibuat dari air yang memenuhi persyaratan Perwakilan
Perlindungan Lingkungan Federal berkenaan dengan air
minum. Dibandingkan dengan air minum biasa, air murni lebih
bebas dari kotoran zat-zat padat. Apabila diuapkan sampai
kering, harus tidak meninggalkan sisa lebih dari 0,001% (1 mg
dari total zat padat per 100 ml contoh yang diuapkan). Jadi air
murni 100 kali lebih bebas dari zat-zat padat yang larut
daripada air. Air murni dimaksudkan untuk penggunaan dalam
pembuatan bentuk-bentuk sediaan-sediaan yang mengandung
air, kecuali dimaksudkan untuk pemberian parenteral injeksi
(Ansel, 2005 : 314, 315).
3. Emulgator
a. PGA
Bahan bahan karbohidrat seperti zat zat yang terjadi
secara alami: akasia (gom), tragakan, agar, kondrus, dan pektin.
Bahan bahan ini membentuk koloida hidrofilik bila
ditambahkan ke dalam air dan umumnya menghasilkan emulsi
m/a. Gom mungkin merupakan zat pengemulsi yang paling
sering digunakan dalam preparat emulsi yang dibuat baru (r.p.)
oleh ahli farmasi di apotek (Ansel, 2005 : 380).
b. Tween 60 dan Span 60

20
Zat zat pembasah, yang bersifat kationik, anionik, dan
non-ionik. Zat zat ini mengandung gugus gugus hidrofilik
dan lipofilik, dengan bagian lipofilik dari molekul
menyebabkan aktivitas permukaan dari molekul tersebut
(Ansel, 2005 : 380).
Tween 60 dan Span 60 merupakan zat pengemulsi non-
ionik. Zat pengemulsi non-ionik menunjukkan tidak adanya
kecenderungan untuk mengion. Tergantung pada sifatnya
masing masing, beberapa dari grup ini membentuk emulsi
m/a dan lainnya membentuk emulsi a/m. Harga HLB untuk
pengemulsi Tween 60 (Polioksietilen sorbitan monostearat)
adalah 14,9. Harga HLB untuk pengemulsi Span 60 (Sorbitan
monostearat) adalah 4,7.
VI. Perhitungan Bahan

1. Metode korpus emulsi basah

30 ml
Parafin cair = x 100 ml = 30 ml
100 ml

10
PGA = x 100 ml = 10 g
100

Aquadest untuk melarutkan PGA = 1,5 x 10 = 15 ml

0,05
Na CMC = x 100 ml = 0,05 g = 50 mg
100

Aquadest = ad 100 ml

2. Metode korpus emulsi kering

30 ml
Parafin cair = x 100 ml = 30 ml
100 ml

10
PGA = x 100 ml = 10 g
100

Aquadest untuk melarutkan PGA = 1,5 x 10 = 15 ml

21
0,05
Na CMC = x 100 ml = 0,05 g = 50 mg
100

Aquadest = ad 100 ml

Perhitungan HLB

3
Emulgator = x 100 ml = 3gram
100

HLB butuh = 12

Harga HLB Tween 60 = 14,9

Harga HLB Span 60 = 4,7

Tween 60 = a gram

Span 60 = (3 a) gram

(a x 14,9) + [(3 a) x 4,7] = (3 x 12)

14,9 a + 14,1 4,7 a = 36

10,2 a = 36 14,1

10,2 a = 21,9

21,9
a = 10,2

a = 2,15 g

Tween 60 = 2,15 g

Span 60 = 3 2,15 = 0,85 g

VII. Alat dan Bahan


Alat alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain
waterbath, kompor listrik, mixer, piknometer, gelas ukur, mortir,

22
stamper, batang pengaduk, beaker glass, tabung reaksi, pipet tetes,
timbangan, sendok tanduk, corong dan erlenmeyer.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain parafin cair,
PGA, Na CMC, emulgator tween 60 dan span 60, aquadest, kertas
saring, aluminium foil, dan tisu.
VIII. Cara Kerja
a. Metode korpus emulsi basah
1. Disiapkan alat dan bahan.
2. Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan bahan.
3. Dicampurkan PGA dengan aquadest di dalam mortir, kemudian
tunggu sampai mengembang.
4. Ditambahkan parafin cair, kemudian aduk kuat sampai terbentuk
korpus.
5. Ditambahkan Na CMC, lalu aduk menggunakan mixer,
kemudian dimasukkan dalam tabung sedimentasi.
6. Ditambahkan aquadest sampai 100 ml.

b. Metode korpus emulsi kering

1. Disiapkan alat dan bahan.

2. Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan bahan.

3. Dididihkan aquadest yang akan digunakan lalu didinginkan


sebelum dipakai.

4. Dilelehkan terlebih dahulu span 60 dengan menggunakan


waterbath.

5. Dicampurkan emulgator tween 60 dan span 60 dengan parafin


cair tanpa mengembangkan emulgator.

6. Ditambahkan Na CMC dan PGA, lalu diaduk menggunakan


mixer, kemudian dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi.

23
7. Ditambahkan aquadest sampai 100 ml.

IX. Evaluasi

a. pH
Korpus kering = pH 4 (asam)
Korpus basah = pH 5 (asam)
b. Bobot Jenis
Bobot piknometer kosong (a) = 63,5 gram
Bobot piknometer + aqua (b) = 161,6 gram
Bobot botol piknometer + emulsi korpus basah (c1) =167 gram
Bobot botol piknometer + emulsi korpus kering (c2) =172 gram
1 16763,5 103,5
P1 = = = = 1,055 g/ml
161,6 63,5 98,1
2 17263,5 108,5
P2 = = 161,6 63,5= = 1,106 g/ml
98,1

c. Laju Alur
Emulsi korpus basah 10 menit 31 detik
Emulsi korpus kering 7 menit 39 detik
d. Tipe emulsi
1) Dengan metode penampakan visual
a) Korpus kering : Berwarna putih dan agak creame (m/a)
b) Korpus basah : Berwarna putih dan agak creame (m/a)
2) Dengan metode dilusi
a) Korpus kering : Penyebaran sempurna (m/a)
b) Korpus basah : Penyebaran sempurna (m/a)
3) Dengan metode penyerapan
- Dengan menggunakan kertas saring
a) Korpus kering : Cepat terserap (m/a)
b) Korpus basah : Cepat terserap (m/a)
- Dengan benda berpermukaan licin
a) Korpus kering : Cepat mengalir (m/a)
b) Korpus basah : Cepat mengalir (m/a)

24
- Dengan tetesan
a) Korpus kering : Cepat tersebar (m/a)
b) Korpus basah : Cepat tersebar (m/a)
4) Metode pewarnaan
Pewarna larut dalam air (Metilen Blue)
a) Korpus kering : tercampur rata (m/a)
b) Korpus basah : tercampur rata (m/a)
5) Metode fluoresensi cahaya
a) Korpus kering : fluoresensi cahaya tidak jelas (m/a)
b) Korpus basah : fluoresensi cahaya tidak jelas (m/a)
e. Uji Organolebtis
N Evaluasi Hasil Pengamatan Gambar
o. Gom Kering Gom Basah Gom Kering Gom Basah

1. Organole - warna putih - warna


ptis: - bau tengik putih
Warna - rasa khas - bau
Bau parafin tengik
Rasa - rasa khas
parafin
2. Pemeriks Diuji dengan Diuji
aan pH pH universal, dengan pH
dengan universal,
menyelupkan dengan
ke dalam menyelupk
larutan dan an ke
bernilai pH = dalam
4 , Sifat : larutan dan
Asam bernilai pH
= 5 , Sifat :
Asam

25
3. Tipe Diuji dengan Diuji
emulsi metode dengan
dilusi, yaitu metode
meneteskan dilusi,
sediaan ke yaitu
permukaan meneteska
air dan hasil n sediaan
yang ke
diperoleh permukaan
ialah emulsi air dan
tercampur hasil yang
rata dalam diperoleh
air, sehingga ialah
tipenya ialah emulsi
m/a tercampur
rata dalam
air,
sehingga
tipenya
ialah m/a

26
4 Laju alur Dilakukan Dilakukan
. dengan dengan
menggunaka menggunak
n kertas an kertas
saring, dan saring, dan
diperoleh laju diperoleh
alur emulsi laju alur
yaitu 7 menit emulsi
39 detik yaitu 10
menit 31
detik

27
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan
Emulsi adalah suatu disperse di mana fase terdispers terdiri dari
bulatan-bulatan kecil zat cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa yang
tidak tercampur. Dalam batasan emulsi, fase terdispers dianggap sebagai
fase dalam dan medium disperse sebagai fase luar atau fase kontinu.
Emulsi yang mempunyai fase dalam minyak dan fase luar air disebut
emulsi minyak-dalam-air dan biasa diberi tanda sebagai emulsi m/a.
Sebaliknya emulsi yang mempunyai fase dalam air dan fase luar minyak
disebut emulsi air-dalam-minyak dan dikenal sebagai emulsi a/m.
Karena fase luar dari suatu emulsi bersifat kontinu, suatu emulsi minyak
dalam air bisa diencerkan atau ditambah dengan air atau suatu preparat
dalam air. (Howard C. Ansel : 376)
Umumnya untuk membuat emulsi yang stabil, perlu fase ketiga
atau bagian ketiga dari emulsi, yakni: zat pengemulsi (emulsifying agent).
Salah satu emulsifying agent yang berfungsi untuk menurunkan tegangan
permukaan antara fase air dan fase minyak adalah PGA (Pulvis Gummi
Arabicum).
Emulsi merupakan salah satu sediaan yang kurang stabil.
Adapaun faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakstabilan emulsi adalah:
a) Suhu pemanasan tidak stabil
b) Perbedaan intensitas perngadukan
c) Pencampuran kurang merata
d) Ketidaktelitian dalam mengamati kestabilan emulsi
Adapun parameter ketidakstabilan emulsi adalah sebagai berikut:
1) Flokulasi dan Creaming
Fenomena ini terjadi karena penggabungan partikel yang disebabkan
oleh adanya energi permukaan bebas. Flokulasi adalah terjadinya
kelompok-kelompok globul yang letaknya tidak beraturan di dalam suatu
emulsi. Creaming adalah terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi

28
yang berbeda-beda di dalam suatu emulsi. Lapisan dengan konsentrasi
yang paling pekat akan berada akan berada di atas atau di sebelah bawah
tergantung dari bobot jenis fase yang terdispersi.
2) Koalesen dan Demulsifikasi
Fenomena ini terjadi bukan semata-mata karena energi bebas
permukaan tetapi juga karena tidak semua globul terikat oleh film antar
permukaan. Koalesen adalah terjadinya penggabungan globul-globul
menjadi lebih besar, sedangkan demulsifikasi adalah proses lebih lanjut
pada koalesen dimana kedua fase ini terpisah kembali menjadi dua cairan
yang tidak bercampur. Kedua fenomena ini tidak bisa diperbaiki kembali
dengan pengocokan.
Pada praktikum ini menggunakan metode gom kering dan gom basah.
Gom kering atau metode continental yang juga dikenal sebagai metode
4:2:1 karena untuk tiap 4 bagian(volume) minyak, 2 bagian air, dan 1
bagian ditambahkan untuk membuat emulsi utama atau emulsi awal. Gom
basah atau metode inggris, dalam metode ini digunakan proporsi minyak,
air dan gom yang sama seperti pada metode gom kering atau metode
continental, tapi urutan percampurannya berbeda dan perbandingan bahan-
bahannya bisa divariasi selama pembuatan emulsi primer jika diinginkan
oleh pembuatnya.(Howard C. Ansel: 384-385)
Metode gom kering dilakukan cara, terlebih dahulu ditimbang bahan-
bahan yang akan digunakan sesuai dengan perhitungan bahan. Dididihkan
air yang akan digunakan lalu didinginkan sebelum dipakai. Dibuat korpus
emulsi dengan cara mencampur langsung span, tween, PGA, dan air ad
100 mL sedikit demi sedikit, lalu diaduk dengan menggunakan mixer
sampai homogen. Dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi lalu
dilakukan pengamatan dan evaluasi terhadap sediaan emulsi pada waktu
10, 20, 30, 60, hari-1, sampai hari-3. Sedangkan metode gom basah
dilakukan dengan cara, terlebih dahulu menimbang bahan-bahan yang
akan digunakan sesuai dengan keperluan. Dikembangkan emulgator dalam
air panas, lalu digerus kuat sampai homogeny dan terbentuk korpus

29
emulsi. Kemudian ditambahkan parafin cair sebanyak 30 mL. diaduk
menggunakan mixer selama 15 menit. Setelah itu ditambahkan air ad 100
mL sedikit demi sedikit dan diaduk lagi sampai homogeny, dimasukkan
kedalam tabung sedimentasi lalu dilakukan pengamatan dan evaluasi
terhadap sediaan emulsi pada waktu 10, 20, 30, 60, hari-1, sampai
hari-3.

Hasil yang diperoleh dari evaluasi sediaan emulsi dengan metode


korpus kering, yaitu melalui uji organoleptis yang meliputi rasa ,bau, dan warna.
Pada waktu 10, 20, 30, dan 60 sediaan emulsi memiliki warna putih, rasa
khas paraffin, dan bau tengik , dan semakin tengik pada hari-3. Pada pengamtan
organoleptis hari-1, sediaan emulsi menunjukkan adanya pemisahan fase
menjadi tiga bagian dan pada saat dilakukan pengocokan, sediaan emulsi tidak
tercampur sempurna. Uji pH, dilakukan dengan cara mencelupkan ketas pH
universal ke dalam sediaan emulsi dan diperoleh nilai pH sediaan yaitu 4
(asam). Untuk menghitung bobot jenis sediaan emulsi, dilakukan dengan cara
menimbang botol poknometer lalu ditambahkan air dan emulsi sehingga
diperoleh hasil berat jenis sediaan emulsi korpus kering yaitu 172 gram. Laju
alur sediaan emulsi, dilakukan dengan cara sediaan emulsi dituang kedalam
Erlenmeyer dengan menggunakan corong gelas yang telah dilapisi dengan
kertas saring dan laju alur dihitung dengan menggunakan stopwatch, dan
diperoleh laju alur sediaan emulsi korpus kering yaitu 7 menit 39 detik.
Penentuan tipe emulsi dilakukan dengan beberapa metode yaitu, metode
penampakan visual, dilakukan dengan cara mengamati sediaan emulsi, hasil
penampakan visual emulsi korpus kering yaitu berwarna putih dan agak creame
yang menandakan bahwa emulsi korpus kering merupakan tipe emulsi m/a
(minyak dalam air). Metode dilusi, dilakukan dengan cara meneteskan sediaan
emulsi ke permukaan air dan sediaan menyebar rata di permukaan air yang
menandakan bahwa emulsi ini termasuka ke dalam tipe emulsi m/a (minyak
dalam air). Metode penyerapan, dilaakukan dengan cara meneteskan sediaan
emulsi ke atas kertas saring dan terlihat sediaan emulsi menyerap dengan cepat,

30
hal ini menunjukkan bahwa emulsi korpus kering ini merupana tipe emulsi m/a
(minyak dalam air). Dengan menggunakan permukaan benda yang licin,
dilakukan dengan cara meneteskan sediaan emulsi pada permukaan yang licin
dan sediaan korpus kering cepat mengalir pada permukaan licin yang
menunjukkan bahwa emulsi ini termasuk tipe emulsi m/a (minyak dalam air).
Metode pewarnaan, dilakukan dengan menggunakan pewarna larut air yaitu
metilen blue, pada sediaan emulsi korpus kering yang ditetesi dengan metilen
blue warna tercampur dengan rata yang menunjukkan bahwa emulsi ini
termasuk tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Metode fluoresensi cahaya,
dilakukan dengan cara sediaan emulsi dimasukkan kedalam tabung reaksi lalu
diamati di depan cahaya, pada metode ini emulsi memiliki fluoresensi cahaya
yang tidak jelas, hal ini menunjukkan bahwa emulsi ini termasuk ke dalam tipe
emulsi m/a (minyak dalam air). Dari beberapa metode penentuan tipe emulsi
tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan emulsi korpu kering merupakan tipe
emulsi m/a (minyak dalam air). Pada sediaan emulsi korpus kering terjadi
fenomena cracking yaitu pemisahan tidak beraturan fase pendispers dengan fase
terdispers dan tidak dapat bercampur kembali (irreversible).

Hasil yang diperoleh dari evaluasi sediaan emulsi dengan metode korpus
basah, yaitu melalui uji organoleptis yang meliputi rasa ,bau, dan warna. Pada
waktu 10, 20, 30, dan 60 sediaan emulsi memiliki warna putih, rasa khas
paraffin, dan bau tengik , dan semakin tengik pada hari-3. Pada pengamtan
organoleptis hari-1, sediaan emulsi menunjukkan adanya pemisahan fase
menjadi dua bagian, namun pada saat dilakukan pengocokan, sediaan emulsi
kembali seperti semula (reversible) fenomena ini disebut creaming. Uji pH,
dilakukan dengan cara mencelupkan ketas pH universal ke dalam sediaan
emulsi dan diperoleh nilai pH sediaan yaitu 5 (asam). Untuk menghitung bobot
jenis sediaan emulsi, dilakukan dengan cara menimbang botol poknometer lalu
ditambahkan air dan emulsi sehingga diperoleh hasil berat jenis sediaan emulsi
korpus kering yaitu 167 gram. Laju alur sediaan emulsi, dilakukan dengan cara
sediaan emulsi dituang kedalam Erlenmeyer dengan menggunakan corong gelas

31
yang telah dilapisi dengan kertas saring dan laju alur dihitung dengan
menggunakan stopwatch, dan diperoleh laju alur sediaan emulsi korpus basah
yaitu 10 menit 31 detik. Penentuan tipe emulsi dilakukan dengan beberapa
metode yaitu, metode penampakan visual, dilakukan dengan cara mengamati
sediaan emulsi, hasil penampakan visual emulsi korpus kering yaitu berwarna
putih dan agak creame yang menandakan bahwa emulsi korpus basah
merupakan tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Metode dilusi, dilakukan
dengan cara meneteskan sediaan emulsi ke permukaan air dan sediaan menyebar
rata di permukaan air yang menandakan bahwa emulsi ini termasuk ke dalam
tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Metode penyerapan, dilaakukan dengan
cara meneteskan sediaan emulsi ke atas kertas saring dan terlihat sediaan emulsi
menyerap dengan cepat, hal ini menunjukkan bahwa emulsi korpus basah ini
merupakan tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Dengan menggunakan
permukaan benda yang licin, dilakukan dengan cara meneteskan sediaan emulsi
pada permukaan yang licin dan sediaan korpus basah cepat mengalir pada
permukaan licin yang menunjukkan bahwa emulsi ini termasuk tipe emulsi m/a
(minyak dalam air). Metode pewarnaan, dilakukan dengan menggunakan
pewarna larut air yaitu metilen blue, pada sediaan emulsi korpus basah yang
ditetesi dengan metilen blue warna tercampur dengan rata yang menunjukkan
bahwa emulsi ini termasuk tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Metode
fluoresensi cahaya, dilakukan dengan cara sediaan emulsi dimasukkan kedalam
tabung reaksi lalu diamati di depan cahaya, pada metode ini emulsi memiliki
fluoresensi cahaya yang tidak jelas, hal ini menunjukkan bahwa emulsi ini
termasuk ke dalam tipe emulsi m/a (minyak dalam air). Dari beberapa metode
penentuan tipe emulsi tersebut dapat disimpulkan bahwa sediaan emulsi korpus
basah merupakan tipe emulsi m/a (minyak dalam air).

Perbedaan sediaan emulsi dengan sediaan yang telah dipasarkan:

Pembe Laxadine Paralax korpus kering Paralax


da korpus
basah

32
Botol Baik baik baik
Etiket Baik, memenuhi Baik, Baik,
syarat, etiket yang
berwarna dapt
menarik perhatian
pasien
Kemas Baik, memenuhi Baik, memenuhi syarat Baik,
an syarat kemasan kemasan. memenuhi
syarat
kemasan.
brosur Baik, memuat Baik, memuat seluruh Baik,
seluruh bagian- bagian-bagian yang harus memuat
bagian yang harus ada di dalam brosur dan seluruh
ada di dalam brosur mudah dipahami oleh bagian-
dan mudah pasien. bagian
dipahami oleh yang harus
pasien. ada di
dalam
brosur dan
mudah
dipahami
oleh
pasien.
Rasa, Sediaan paralax Sediaan
bau memiliki rasa khas paralax
dan paraffin karena pada memiliki
warna sediaan ini tidak rasa khas
ditambahkan bahan paraffin
pemanis maupun karena
pengaroma, sediaan ini pada

33
juga tidak dilakukan sediaan ini
penambahan zat pewarna. tidak
ditambahk
an bahan
pemanis
maupun
pengaroma
juga tidak
ditambahk
an bahan
pewarna.

34
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa sediaan
emulsi Paraffin cair metode korpus basah berwarna putih, rasa khas paraffin dan
berbau tengik, sedangkan Paraffin cair metode korpus kering berwarna putih agak
kekuningan, rasa khas paraffin dan bau tengik. Terjadi sedimentasi pada hari ke 1
pH pada emulsi korpus basah 5 sedangkan pada emulsi korpus kering 4.
Menghasilkan bobot jenis pada emulsi korpus basah 1,055 g/ml, sedangkan pada
emulsi korpus kering 1,106 g/ml. Laju alur pada emulsi korpus basah 10 menit 31
detik, sedangkan pada emulsi korpus kering 7 menit 39 detik. Tipe emulsi pada
kedua metode tersebut adalah M/A ( Minyak dalam Air).

5.2 Saran
Perlu diperhatikan pada saat pembuatan emulsi, praktikan harus
memahami cara kerja dan kesesuaian dari bahan-bahan yang digunakan. Praktikan
juga harus mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi agar
dapat menghasilkan emulsi yang baik.

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.1978.Formularium


Nasional Edisi Kedua.Depkes RI:Jakarta.
2. Dirjen Pom.1995.Farmakope Indonesia Edisi III.Depkes
RI:Jakarta.
3. Dirjen Pom.1995.Farmakope Indonesia Edisi IV.Depkes
RI:Jakarta.
4. Howard.Ansel C. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi
Edisi Keempat . UniversitasIndonesia Press :Jakarta.

36
LAMPIRAN
Brosur

Paralax
Emulsi

Komposisi : Paraffin liquidum 30 ml

Cara Kerja Obat : Bekerja dengan cara merangsang peristaltik


usus besar, menghambat reabsorbsi air dan
melicinkan jalannya faeces.

Indikasi : - Diberikan pada keadaan konstipasi yang


memerlukan :
-Perbaikan peristaltik
-Pelicin jalannya feaces
-Penambahan volume feaces secara
sistematis sehingga feaces mudah
dikeluarkan
- Persiapan menjelang tindakan radiologist dan
operasi

Dosis : -Dewasa : 3 6 sendok takar


-Anak 6 12 tahun : dosis dewasa
Diminum sekali sehari pada malam hari
menjelang tidur.
(1 sendok takar = 5 ml)

Peringatan dan Perhatian :


- Hindari pemakaian yang terus menerus dalam waktu lama karena
dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot,
kehilangan cairan dan elektrolit.
- Hentikan penggunaan obat bila terjadi gangguan usus seperti mual
dan muntah.
- Tidak dianjurkan untuk anak anak dibawah 6 tahun, wanita hamil
dan menyusui dan usia lanjut, kecuali atas petunjuk dokter.

Efek Samping : Reaksi alergi kulit rash dan pruritus, perasaan


terbakar, kolik, kehilangan cairan dan elektrolit,
diare, mual dan muntah.

Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap zat aktif dan


komponen lain dalam Paralax Emulsi, ileus
obstruksi dan nyeri abdomen yang belum
diketahui penyebabnya.

Cara Penyimpanan : Simpan pada suhu dibawah 25C dan terlindung


dari cahaya.

Kemasan : Botol Netto 100 ml


No.Reg. DTL8326700932A1
Dibuat Oleh :
PT AKFATOR FARMA
Toraja - Indonesia

37
Etiket

Komposisi
PARALAX Paraffin Liquidum 30 ml
Emulsi
Paraffin Liquidum Indikasi
Mengatasi Mengatasi susah buang air besar
Aturan pakai
Susah buang air besar
Dewasa : 3 6 sendok takar
Anak-anak : dosis dewasa
PT. AKFATOR FARMA
No. Reg : DTL8326700932A1
TORAJA-INDONESIA
No.Batch : D0513001
AD: 21 Mei 2017
Simpan pada suhu dibawah 25C
100 mL
Diproduksi oleh:
ED : 21 Mei 2021
PT. AKFATOR FARMA
TORAJA-INDONESIA

Emulsi Korpus Basah Emulsi Korpus Kering

38