Anda di halaman 1dari 2

dibuat larutan standar.

Tujuan pembuatan larutan standar adalah untuk membuat


kurva kalibrasi yang nantinya akan digunakan untuk menghitung kadar besi dalam sampel.
Larutan standar dibuat dengan melarutkan sampel obat dengan HCl lalu diencerkan dengan
aquades hingga tanda tera. HCl harus dilarutkan terlebih dahulu karena agar sampel yang
dianlisis larut sempurna terlebih dahulu dan HCl pekat juga dapat mereduksi Fe3+ menjadi
Fe2+. Hal ini dikarenakan besi dalam keadaan Fe2+ akan lebih stabil dibandingkan besi Fe3+.
Dalam keadaan dasar. Setelah itu didapatkan larutan standar 10 ppm, untuk diketahui alat
yang kami gunakan yakni pada spektrofotometer uv vis dapat menyerap cahaya apabila
senyawa yang dianalisis mempunyai senyawa kromofor dan ausokrom oleh karena itu pada
sampel larutan standar ditambahkan senyawa pengompleks yakni larutan (NH4SCN)
(amonium tiosulfat) dimana merupakan pereaksi warna dan reaksinya dengan larutan besi
yang merupakan senyawa kompleks [Fe(SCN)]2+. Pereaksi ini akan menghasilkan warna
yang menyerap dengan kuat sehingga dapat digunakan untuk analisa besi dalam kadar kecil.
Suatu larutan dijadikan sebagai pereaksi harus memenuhi beberapa persyaratan.
NH4SCN merupakan pereaksi warna, sebab reaksinya dengan zat yang dianalisis yaitu besi
(Fe) selektif dan sensitif yaitu membentuk kompleks besi tiosianat yang berwarna merah.
Warna yang ditimbulkan yaitu merah bata, stabil untuk jangka waktu yang lama, sehingga
serapannya tidak berubah-ubah hingga akhir analisis. Tidak membentuk warna dengan zat-
zat lain yaitu ion H+, Cl- dan NO3- yang ada dalam larutan.Warna merah bata yang dihasilkan
mempunyai warna komplementer hijau biru. Warna komplementer terbentuk ketika cahaya
putih yang berisi seluruh spektrum panjang gelombang melewati suatu medium (larutan
kimia berwarna) yang tembus cahaya bagi panjang panjang gelombang tertentu tetapi
menyerap panjang panjang gelombang yang lain akibatnya medium itu akan tampak
berwarna bagi pengamat.

Hasil analisis yang didapatkan ialah untuk metode standar adisi 1 pada konsentrasi 0
absorbansinya 0.021, konsentrasi 5 absorbansinya 0.117, konsentrasi 10 absorbansinya
0.276, konsentrasi 15 absorbansinya 0,386, konsentrasi 20 absorbansinya 0,424 sedangkan
untuk metode standar adisi 2 didapatkan absorbansi pada konsentrasi 0 = 0,71 dan 1 = 0,087.
Dari hasil yang didapatkan diatas sesuai dengan hukum Lambert-Beer bahwa hubungan
antara konsentrasi (ppm) dengan nilai absorben (a) tegak lurus atau berbanding lurus dimana
semakin tinggi konsentrasi, maka nilai absorbennya atau daya tembus cahaya yang di lewati
sampel semakin besar. Kadar Fe (Besi) yang diperoleh dalam sediaan secara spektrofotometri
berdasarkan metode standar adisi adalah sebesar 5,956 ppm.