Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PERAN KELUARGA BERENCANA DALAM UPAYA


MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN MATERNAL DI INDONESIA

Disusun oleh :
Riska Rachmania 030.09.208 Anindya 030.11.033
Graca JV. Morena 030.10.117 Anya Dwi Nastiti 030.11.038
Adri Permana Utama 030.11.007 David Sethia Perdana 030.11.064
Akhta Yudistira 030.11.014 Dein Imelga 030.11.067
Aldisa Puspitasari 030.11.015 Dewi Rezeki Arbi 030.11.074
Angie Beatrice Willeam 030.11.032 Dina Amalia Pratiwi 030.11.080

Pembimbing :
Dr. dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG(K)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


PERIODE 3 APRIL 2017 10 JUNI 2017
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Peran Keluarga
Berencana Dalam Upaya Menurunkan Angka Kematian Maternal di Indonesia. Penulis juga
ingin mengucapkan terima kasih kepada Dr. dr. Raditya Wratsangka, Sp.OG(K) selaku dosen
pembimbing, teman - teman dan seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi para
pembaca. Penulis juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu penulis mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan di dalamnya. Penulis
mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki kekurangan
makalah ini di kemudian hari.

Jakarta, April 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................... i


DAFTAR ISI..................................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ................................................................................................... 1
Bab II Keluarga Berencana ....................................................................................... 2
2.1 Definisi Keluarga Berencana ................................................................... 2
2.2 Tujuan Keluarga Berencana ..................................................................... 2
2.3 Sasaran Keluarga Berencana .................................................................... 3
2.4 Akseptor Keluarga Berencana ................................................................. 4
2.5 Jenis-Jenis Kontrasepsi ............................................................................ 6
Bab III Angka Kematian Maternal ............................................................................. 10
Bab IV Peran Keluarga Berencana Dalam Menurunkan Angka Kematian Maternal 14
KESIMPULAN ................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, Angka
Kematian Ibu (AKI) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara target AKI di tahun
2015 adalah 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Keberhasilan upaya kesehatan ibu, di
antaranya dapat dilihat dari indikator AKI. AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa
kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau
pengelolaannya tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dan lain-
lain di setiap 100.000 kelahiran hidup. 1,2
Upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan salah
satu prioritas utama dalam penanganan bidang kesehatan. Departemen Kesehatan pada tahun
2000 telah menyusun Rencana Strategis (Renstra) jangka panjang sebagai upaya penurunan
angka kematian ibu dan kematian bayi baru lahir. Dalam Renstra ini difokuskan pada
kegiatan yang dibangun atas dasar sistem kesehatan yang mantap untuk menjamin
pelaksanaan intervensi dengan biaya yang efektif berdasarkan bukti ilmiah yang dikenal
dengan nama Making Pregnancy Safer (MPS). 1,2
Kementerian Kesehatan juga meluncurkan program Expanding Maternaland
Neonatal Survival (EMAS) pada tahun 2012 dalam rangka menurunkan angka kematian ibu
dan neonatal sebesar 25%. Program ini dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan
jumlah kematian ibu dan neonatal yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat,
Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Program EMAS berupaya menurunkan
angka kematian ibu dan angka kematian neonatal dengan cara : 1) meningkatkan kualitas
pelayanan emergensi obstetri dan bayi baru lahir minimal di 150 Rumah Sakit PONEK dan
300 Puskesmas/Balkesmas PONED); dan 2) memperkuat sistem rujukan yang efisien dan
efektif antar puskesmas dan rumah sakit. 1,2
Penyebab kematian ibu selain karena perdarahan, preeklamsia/eklamsia adalah
tingginya paritas pada seorang ibu, yang diikuti rendahnya akses terhadap pelayanan
kesehatan. Tingginya paritas seorang ibu, selain mempunyai dampak terhadap angka
kesakitan dan kematian ibu juga meningkatkan jumlah penduduk yang tidak terkendali. Pada
isu status reproduksi 4 Terlalu (4T) : yaitu keadaan ibu yang terlalu muda (untuk menikah,
hamil dan punya anak), usia terlalu tua tetapi masih produktif, kehamilan terlalu sering dan
jarak kehamilan terlalu dekat memberi peran penting terhadap penurunan AKI dan
pencapaian program Keluarga Berencana.1,2
1
BAB II
KELUARGA BERENCANA

2.1 Definisi Keluarga Berencana


Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat
diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran
dalam hubungan dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam
keluarga.3
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia
perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga kecil, bahagia dan sejahtera.3
Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk menjarangkan jumlah dan jarak
kehamilan dengan memakai kontrasepsi. Secara umum keluarga berencana dapat
diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur banyaknya kehamilan sedemikian rupa
sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta keluarganya yang bersangkutan
tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung dari kehamilan tersebut.
Diharapkan dengan adanya perencanaan keluarga yang matang kehamilan merupakan
suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari perbuatan untuk
mengakhiri kehamilan dengan aborsi.1

2.2 Tujuan Keluarga Berencana (KB)


Kebijakan Keluarga Berencana (KB) bertujuan untuk mengendalikan
pertumbuhan penduduk melalui usaha penurunan tingkat kelahiran. Kebijakan KB ini
bersama-sama dengan usaha-usaha pembangunan yang lain selanjutnya akan
meningkatkan kesejahteraan keluarga. Upaya menurunkan tingkat kelahiran dilakukan
dengan mengajak pasangan usia subur (PUS) untuk berkeluarga berencana. Sementara
itu penduduk yang belum memasuki usia subur (Pra-PUS) diberikan pemahaman dan
pengertian mengenai keluarga berencana.3
Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan: 3

2
a. Tujuan demografi yaitu mencegah terjadinya ledakan penduduk dengan menekan
laju pertumbuhan penduduk (LLP) dan hal ini tentunya akan diikuti dengan
menurunnya angka kelahiran atau TFR (Total Fertility Rate) dari 2,87 menjadi 2,69
per wanita. Pertambahan penduduk yang tidak terkendalikan akan mengakibatkan
kesengsaraan dan menurunkan sumber daya alam serta banyaknya kerusakan yang
ditimbulkan dan kesenjangan penyediaan bahan pangan dibandingkan jumlah
penduduk. Hal ini diperkuat dengan teori Malthus (1766-1834) yang menyatakan
bahwa pertumbuhan manusia cenderung mengikuti deret ukur, sedangkan
pertumbuhan bahan pangan mengikuti deret hitung.
b. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak
pertama dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta
menghentikan kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
c. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari
satu tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk
tercapainya keluarga bahagia.
d. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan
menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan
berkualitas.
e. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya suatu
keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan
produktif dari segi ekonomi.

2.3 Sasaran Program KB


Sasaran utama dari pelayanan KB adalah Pasangan Usia Subur (PUS). Pelayanan
KB diberikan di berbagai unit pelayanan baik oleh pemerintah maupun swasta dari
tingkat desa hingga tingkat kota dengan kompetensi yang sangat bervariasi. Pemberi
layanan KB antara lain adalah Rumah Sakit, Puskesmas, dokter praktek swasta, bidan
praktek swasta dan bidan desa.3
a. Sasaran Langsung
Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15 - 49 tahun,
Karena kelompok ini merupakan pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual
dan setiap kegiatan seksual dapat mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara
3
bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari sehingga memberi efek langsung
penurunan fertilisasi. 3
b. Sasaran Tidak Langsung
1). Kelompok remaja usia 15 - 19 tahun, remaja ini memang bukan merupakan
target untuk menggunakan alat kontrasepsi secara langsung tetapi merupakan
kelompok yang beresiko untuk melakukan hubungan seksual akibat telah
berfungsinya alat-alat reproduksinya. Sehingga program KB disini lebih
berupaya promotif dan preventif untuk mencegah terjadinya kehamilan yang
tidak diinginkan serta kejadian aborsi.
2). Organisasi-organisasi, lembaga-lembaga kemasyarakatan, instansi-instansi
pemerintah maupun swasta, tokoh-tokoh masyarakat (alim ulama, wanita, dan
pemuda), yang diharapkan dapat memberikan dukungannya dalam pelembagaan
NKKBS.
3). Sasaran wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi. 3

2.4 Akseptor Keluarga Berencana


Untuk mencapai keberhasilan pelayanan keluarga berencana, maka perlu
didukung oleh anggota masyarakat sebagai pendukung gerakan keluarga berencana
dengan berpartisipasi secara aktif sebagai peserta KB atau akseptor KB. Akseptor KB
adalah anggota masyarakat yang mengikuti gerakan KB dengan melaksanakan
penggunaan alat kontrasepsi. (BKKBN 2007) Akseptor KB menurut sasarannya terbagi
menjadi tiga fase yaitu fase menunda atau mencegah kehamilan, fase penjarangan
kehamilan dan fase menghentikan atau mengakhiri kehamilan atau kesuburan. Akseptor
KB lebih disarankan untuk Pasangan Usia Subur (PUS) dengan menggunakan alat
kontrasepsi. Karena pada pasangan usia subur inilah yang lebih berpeluang besar untuk
menghasilkan keturunan dan dapat meningkatkan angka kelahiran. 1

4
Gambar 1. Alternatif pemilihan kontrasepsi untuk akseptor KB wanita

Beberapa istilah mengenai akseptor KB antara lain :


a. Akseptor aktif, adalah pasangan usia subur yang sedang menggunakan salah satu
cara/alat kontrasepsi untuk menjarangkan kehamilan atau mengakhiri kesuburan.
b. Akseptor aktif kembali, adalah pasangan usia subur yang telah menggunakan
kontrasepsi selama tiga bulan atau lebih yang tidak diselingi suatu kehamilan, dan
kembali menggunakan cara alat kontrasepsi baik dengan cara yang sama maupun
berganti cara setelah berhenti/istirahat kurang lebih tiga bulan berturut-turut dan
bukan karena hamil.
c. Akseptor baru, adalah pasangan usia subur yang baru pertama kali menggunakan
alat/obat kontrasepsi atau PUS yang kembali menggunakan alat kontrasepsi setelah
melahirkan atau abortus.
d. Akseptor dini adalah para ibu yang menerima salah satu cara kontrasepsi dalam
waktu 2 minggu setelah melahirkan atau abortus.
e. Akseptor langsung, adalah para istri yang memakai salah satu cara kontrasepsi
dalam waktu 40 hari setelah melahirkan atau abortus.
f. Akseptor dropout, adalah akseptor yang menghentikan pemakaian kontrasepsi lebih
dari 3 bulan.
g. Akseptor lestari, adalah akseptor yang menggunakan alat kontrasepsi secara terus
menerus dalam waktu sekurang-kurangnya 5 tahun.1

5
2.5 Jenis-jenis Konstrasepsi
A. Metode Amenorea Laktasi (MAL)
Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif. Cara kerja MAL dengan
penundaan/penekanan ovulasi. 4
MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila menyusui secara penuh (full
breast feeding), lebih efektif bila pemberian lebih dari 8 kali sehari, belum haid, umur
bayi kurang dari 6 bulan. Efektif sampai 6 bulan dan harus dilanjutkan dengan metode
kontrasepsi lainnya. 4

B. Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA)


Seorang ibu harus mengerti kapan masa suburnya berlangsung, efektif bila
dipakai dengan tertib, tidak ada efek samping, pasangan secara sukarela menghindari
senggama pada masa subur ibu, atau senggama pada masa subur utuk mencapai
kehamilan. 4
Terdapat beberapa macam KBA. Metode lender serviks atau lebih dikenal
sebagai Metode Ovulasi Billings/MOB atau metode 2 hari mukosa servik dan metode
simti termal adalah yang paling efektif. Cara yang kurang efektif misalnya sistem
kalender atau pantang berkala karena kegagalannya sudah cukup tinggi lebih dari 20
%. Metode tersebut tidak diajarkan lagi oleh pengajar KBA. 4

C. Senggama Terputus
Metode kontrasepsi tradisional yang dilakukan dengan cara mengeluarkan
penis dari vagina sebelum ejakulasi. Sperma tidak masuk dalam vagina sehingga
pembuahan dapat dicegah. 4

D. Metode Barier
- Kondom
Selubung tipis dari karet, vinil atau produk alamiah yang diberi spermisida untuk
perlindungan tambahan. Selubung itu dipasangkan pada penis pada saat penis
ereksi. Kondom berbeda-beda kualitasnya tergantung bentuk, warna, lubrikasi/
pelumasan, ketebalan, tekstur dan penambahan spermisidanya (biasanya
nonoxynol-9).

6
- Diafragma
Alat kontrasepsi dari lateks (karet) berbentuk kubah yang dimasukkan ke dalam
vagina sebelum melakukan hubungan seksual dan berfungsi untuk menutupi
servik.
- Spermisida
Bahan kimia (biasanya nonixynol-9) yang dapat menonaktifkan atau membunuh
sperma. Beberapa jenis spermisida, yaitu Aerosol (busa), Tablet Vaginal,
suppositoria atau lapisan tipis yang bisa larut (dissolvable film), krim. 4

E. Kontrasepsi Kombinasi Oral (Hormon Estrogen dan progesteron)


- Jenis KKO :
a) Monofasik pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progestin dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif.
b) Bifasik pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progestin dalam dosis yang berbeda, dengan 7 tabet tanpa
hormoneaktif.
c) Trifasik pil yang tersedia dalam kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif
estrogen/progestin dalam 3 dosis yang berbeda, dengan 7 tabet tampa hormon
aktif. 4
- Suntikan Kombinasi
a) 25 mg depo medroksiprogesteron asetat dan 5 mg estradiol valerat.
b) 50 mg noretindron enantat dan 5 mg estradiol valerat.
c) Efektivitas: 0.10.4 kehamilan per 100 wanita. 4

F. Kontrasepsi Progestin
- Suntikan Progestin
a) Depo-Provera (DMPA): 150 mg depot-medroxyprogesterone acetate yang
diberikan setiap 3 bulan
b) Noristerat (NET-EN): 200 mg norethindrone enanthate yang diberikan setiap 2
bulan
- Mini pil
a) Kemasan 35-pil: 300 g levonorgestrel atau 350 g norethindrone
b) Kemasan 28-pil: 75 g norgestrel

7
- Implan
a) NORPLANT
Terdiri dari 6 kapsul, mengandung 36 mg levonorgestrel. Lama kerjanya adalah
5 tahun
b) INDOPLAN/JEDE
Terdiri dari 2 batang kapsul, mengandung 75 mg levonorgestrel. Lama kerjanya
adalah 3 tahun
c) IMPLANON
Terdiri dari 1 batang kapsul, mengandung 68 mg 3-keto-desogestrel. Lama
kerjanya adalah 3 tahun. 4

G. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)


- Tanpa obat (inert devices):
Contoh : grafenberg ring, Ota ring, Marguiles coil, Lippes loop, Saf-t-coil, Delta
loop
- Dengan obat (bio-active devices) mengandung hormon:
Contoh : Progestasert dan LNG-20
- Mengandung logam:
AKDR-Cu generasi pertama. Contoh : CuT-200, Cu-7, MLCu-250
AKDR-Cu generasi kedua. Contoh : CuT-380A, CuT-380Ag, CuT-220C, Nova-
T,Delta-T, MLCu-375
AKDR masa depan. Contoh : Ombrelle-250, Ombrelle-380, Cu-Fix. 4

8
Gambar 2. Jenis-jenis AKDR

H. Kontrasepsi Mantap
- Vasektomi
Vasektomi di Amerika Serikat Merupakan metoda kontraseptif yang paling
populer digunakan oleh 13% dari pasangan kawin dari usia subur. Penggunaan
bertambah tiga kali lebih cepat dibanding penggunaan pil kontraseptif oral
- Tubektomi
Dengan menutup tuba fallopii (mengikat dan memotong, memasang cincin,
menjepit atau melakukan electro-cautery), sperma akan dicegah agar tidak dapat
mencapai ova dan menyebabkan terjadinya pembuahan
- Rekanalisasi
Operasi rekanalisasi dengan teknik bedah mikro sudah banyak dikembangkan.
Teknik ini tidak saja menyambung kembali tuba fallopi dengan baik, tetapi juga
menjamin kembalinya fungsi tuba. Hal ini disebabkan oleh teknik bedah mikro
yang secara akurat menyambung kembali tuba dengan trauma yang minimal,
mengurangi perlekatan pasca operasi, mempertahankan fisiologi tuba, menjamin
vibrae tuba tetap bebas sehingga fungsi penangkapan ovum masih tetap baik.4

9
BAB III
ANGKA KEMATIAN MATERNAL

Definisi sehat menurut UU NO 36 tahun 2009 yaitu kondisi sempurna baik fisik,
mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Untuk menilai derajat
kesehatan suatu bangsa WHO dan berbagai lembaga Internasional lainnya menetapkan
beberapa indikator, seperti : morbiditas penyakit, mortalitas kelompok rawan seperti bayi,
balita dan ibu saat melahirkan. Alat ukur yang paling banyak dipakai oleh negara-negara di
dunia adalah usia harapan hidup, Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB).
Angka-angka ini pula yang menjadi bagian penting dalam membentuk indeks pembangunan
manusia atau Human Development Index (HDI) yang menggambarkan tingkat kemajuan
suatu bangsa.5
Kematian ibu menurut definisi WHO adalah kematian selama kehamilan atau dalam
periode 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, akibat semua sebab yang terkait dengan atau
diperberat oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan disebabkan oleh kecelakaan atau
cedera. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
kematian ibu di indonesia masih tinggi sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup angka ini
sedikit menurun jika dibandingkan SDKI tahun 1991 yaitu sebesar 390 per 100.000 kelahiran
hidup. Angka ini sedikit menurun meskipun tidak terlalu signifikan. Target global MDGs
(Millenium Developmental Goals) ke-5 adalah menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)
menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. Pemerintah bersama masyarakat
bertanggung jawab untuk menjamin bahwa setiap ibu memiliki akses terhadap pelayanan
kesehatan ibu yang berkualitas, mulai dari saat hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan terlatih dan perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan
rujukan bila terjadi komplikasi, serta akses terhadap keluarga berencana.6

Gambar 3. Angka Kematian Ibu tahun 1991 2012

10
Pada gambar diatas berdasarkan data SDKI, selama periode tahun 1991- 2007 angka
kematian ibu mengalami penurunan dari 390 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Namun pada SDKI tahun 2012 angka kematian ibu kembali naik menjadi 359 per 100.000
kelahiran hidup. Meskipun AKI dari SDKI tahun 1990 dan 2012 tidak jauh berbeda, namun
untuk mencapat target MDGs 2015 jumlah AKI 102 per 100.000 kelahiran hidup akan sulit
tercapai. Dari data yang didapat, penyebab terbesar kematian ibu selama tahun 2010-2013
masih tetap sama yaitu perdarahan. Sedangkan partus lama merupakan penyumbang
kematian ibu terendah. Sementara itu penyebab lain juga berperan cukup besar dalam
menyebabkan kematian ibu. Yang dimaksud dengan penyebab lain-lain adalah penyebab
kematian ibu secara tidak langsung seperti kondisi penyakit kanker, ginjal jantung,
tuberkulosis dan atau penyakit lainnya.6

Upaya safe motherhood


Sejak tahun 1990 sudah ada upaya strategis yang dilakukan dalam upaya menekan
AKI yakni melalui pendekatan safe motherhood, dengan menganggap bahwa setiap
kehamilan mengandung risiko, walaupun kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama
kehamilan dalam keadaan baik. Melalui pendekatan tersebut World Health Organization
(WHO) mengembangkan konsep Four Pillars of Safe Motherhood untuk menggambarkan
berbagai upaya yang harus dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi sebagai satu
kesatuan. Keempat pilar tersebut adalah 1) Keluarga Berencana; 2) Asuhan Antenatal; 3)
Persalinan Bersih dan Aman; dan 4) Pelayanan Obstetri Esensial.7,8

Gambar 4. Four Pillars of Safe Motherhood


11
1. Keluarga berencana
Konseling dan pelayanan keluarga berencana harus tersedia untuk semua
pasangan dan individu. Pelayanan keluarga berencana harus menyediakan informasi dan
konseling lengkap dan juga pilihan metode kontrasepsi yang memadai, termasuk
kontrasepesi darurat. Pelayanan ini merupakan bagian dari program komprehensif
pelayanan kesehatan reproduksi. Program ini berperan dalam menurunkan resiko
kematian ibu melalui pencegahan kehamilan, penundaan usia kehamilan, dan
menjarangkan kehamilan. 8
2. Asuhan Antenatal
Dalam masa kehamilan:
a. Petugas kesehatan harus memberi pendidikan pada ibu hamil tentang cara menjaga
diri agar tetap sehat dalam masa tersebut.
b. Membantu wanita hamil serta kelurganya untuk mempersiapkan kelahiran bayi.
c. Meningkatkan kesadaran mereka tentang kemungkinan adanya resiko tinggi atau
terjadinya komplikasi dalam kehamilan, persalinan dan cara mengenali komplikasi
tersemut secara dini. 8
Petugas kesehatan diharapkan mampu mengidentifikasi dan melakukan
penanganan resiko tinggi/ komplikasi secar dini serta meningkatkan status kesehatan
wanita hamil.8
3. Persalinan Bersih dan Aman
Dalam persalinan:
a. Wanita harus ditolong oleh tenaga kesehatan profesional yang memahami cara
menolong persalinan secara bersih dan aman.
b. Tenaga kesehatan juga haurs mampu mengenali secara dini gejala dan tanda
komplikasi persalinan serta mampu melakukan penatalaksanaan dasar terhadap
gejala dan tanda tersebut.
c. Tenaga kesehatan harus siap untuk melakukan rujukan komplikasi persalinan yang
tidak dapat diatasi ke tingkat pelayanan yang lebih mampu. 8
4. Pelayanan Obstetri Esensial
Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan beresiko tinggi
atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. Pelayanan
obstetric esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayan kesehatan untuk melakukan
tindakan dalam mengatasi resiko tinggi dan komplikasi kehamilan/persalinan. 8

12
Secara keseluruhan, keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan
kesehatan primer. Dua diantaranya, yaitu asuhan antenatal dan persalinan bersih dan aman
merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. Sebagai dasar atau fondasi yang
dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan wanita. 8
Safe motherhood merupakan upaya untuk menyelamatkan wanita agar kehamilan dan
persalinan sehat dan aman, serta melakhirkan bayi yang sehat. Tujuan upaya safe
motherhood adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, dan
menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Upaya ini terutama ditujukan
pada negara yang sedang berkembang kerena 99% kematian ibu didunia terjadi di negara
negara tersebut.8

13
BAB IV
PERAN KELUARGA BERENCANA DALAM MENURUNKAN
ANGKA KEMATIAN MATERNAL

Keluarga sehat memiliki 12 indikator utama yang antara lain adalah keluarga
mengikuti keluarga berencana, ibu bersalin di fasilitas kesehatan, bayi mendapat imunisasi
dasar lengkap, penderita hipertensi berobat teratur, tidak adanya anggota keluarga yang
merokok dan sekeluarga menjadi anggota Jaminas Kesehatan Nasional. Program keluarga
berencana merupakan indikator keluarga sehat yang pertama.9

Program keluarga berencana memiliki peran dalam menurunkan angka kematian


maternal dengan mencegah kehamilan, menunda usia kehamilan, serta menjarangkan
kehamilan dengan sasaran utama adalah pasangan usia subur. Prinsip keluarga berencana
adalah menurunkan fertilitas, namun faktor-faktor lain juga berpengaruh terhadap fertilitas
seperti interaksi antara faktor sosial, ekonomi, budaya, dan agama yang mempengaruhi
perilaku dan pengetahuan perempuan terhadap pemakaian kontrasepsi. Oleh karena itu
keluarga berencana memungkinkan perempuan untuk hamil dan melahirkan sesuai pola yang
relatif tanpa risiko sehingga menurunkan angka kematian maternal.10

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2014 tentang


Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana, dan Sistem
Informasi Keluarga menyebutkan bahwa program keluarga berencana (KB) adalah upaya
mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui
promosi, perlindungan, dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan
keluarga yang berkualitas. 10
KB merupakan salah satu strategi untuk mengurangi kematian ibu khususnya ibu
dengan kondisi 4T; terlalu muda melahirkan (di bawah usia 20 tahun), terlalu sering
melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu tua melahirkan (di atas usia 35 tahun).
Selain itu, program KB juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat
timbul rasa aman, tentram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan
kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin. KB juga merupakan salah satu cara yang paling
efektif untuk meningkatkan ketahanan keluarga, kesehatan, dan keselamatan ibu, anak, serta
perempuan. Pelayanan KB menyediakan informasi, pendidikan, dan cara-cara bagi laki-laki
dan perempuan untuk dapat merencanakan kapan akan mempunyai anak, berapa jumlah anak,
berapa tahun jarak usia antara anak, serta kapan akan berhenti mempunyai anak. 11

14
Melalui tahapan konseling pelayanan KB, Pasangan Usia Subur (PUS) dapat
menentukan pilihan kontrasepsi sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya berdasarkan
informasi yang telah mereka pahami, termasuk keuntungan dan kerugian, risiko metode
kontrasepsi dari petugas kesehatan. Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan diantaranya
dalam rangka mengatur jumlah kelahiran atau menjarangkan kelahiran. Sasaran program KB
adalah Pasangan Usia Subur (PUS) yang lebih dititikberatkan pada kelompok Wanita Usia
Subur (WUS) yang berada pada kisaran usia 15-49 tahun. 11
Dari seluruh pasangan usia subur yang menjadi sasaran program keluarga berencana,
terdapat sebagian yang memutuskan untuk tidak memanfaatkan program tersebut dengan
berbagai alasan diantaranya ingin menunda atau tidak ingin memiliki anak lagi. Kelompok
pasangan usia subur ini disebut unmet need. Semakin rendah angka unmet need dapat
mengindikasikan keberhasilan penyelenggaraan program keluarga berencana. Provinsi Bali
memiliki persentase unmet need terendah sebesar 5,6% diikuti Bengkulu 6,1% dan DI
Yogyakarta 7,73%. Sedangkan Provinsi Papua memiliki angka unmet need tertinggi sebesar
29,7% diikuti Papua Barat 23,63% dan Nusa Tenggara Timur 21,83%.3 Unmet need terdiri
dari dua kategori yaitu unmet need karena kurangnya pelayanan dan umet need akibat
pelayanan yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.11

Kategori pertama disebabkan karena kurangnya akses pelayanan keluarga berencana


yang menyebabkan kurangnya familiaritas dan pengetahuan program keluarga berencana,
misalnya terjadi pada perempuan yang tinggal di wilayah terpencil, penolakan masyarakat
terhadap penggunaan kontrasepsi modern, kurangnya pengetahuan dan dukungan suami, serta
budaya yang masih dipegang teguh oleh pasangan usia subur. Kategori kedua disebabkan
karena ketidakpekaan terhadap iklim sosial dan budaya masyarakat, misalkan metode
kontrasepsi yang mempunyai efek terhadap siklus menstruasi ataupun infeksi serta alasan
kesehatan seperti kekhawatiran bahwa kontrasepsi dapat menyebabkan penyakit yang serius,
tersesat dalam tumbuh, atau mempengaruhi kehidupan seksualitas mereka, selain itu sebagian
perempuan masih tabu tentang keluarga berencana sehingga enggan datang ke klinik karena
khawatir privasi mereka terganggu akibat pertanyaan mengenai hal pribadi terutama oleh
petugas laki-laki. Selain itu, kelompok remaja juga membutuhkan pengetahuan mengenai
keluarga berencana meskipun program yang berbeda dari orang dewasa atau yang sudah
berkeluarga. Remaja-remaja yang telah aktif secara seksual perlu dibekali pengetahuan dan
keterampilan agar terhindar dari kehamilan tidak diinginkan, terlindung dari infeksi menular
seksual, dan tumbuh mejadi dewasa yang sehat secara seksual.10

15
KESIMPULAN

AKI adalah jumlah kematian ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang
disebabkan oleh kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya tetapi bukan karena
sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh, dan lain-lain di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Upaya penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu tetap merupakan salah
satu prioritas utama dalam penanganan bidang kesehatan.

Program keluarga berencana memiliki peran dalam menurunkan angka kematian


maternal dengan mencegah kehamilan, menunda usia kehamilan, serta menjarangkan
kehamilan dengan sasaran utama adalah pasangan usia subur.

Untuk mencapai keberhasilan pelayanan keluarga berencana, maka perlu didukung


oleh anggota masyarakat sebagai pendukung gerakan keluarga berencana dengan
berpartisipasi secara aktif sebagai peserta KB atau akseptor KB.

Program keluarga berencana juga memungkinkan perempuan untuk hamil dan


melahirkan sesuai pola yang relatif tanpa risiko sehingga menurunkan angka kematian
maternal.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Prawiroharjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia; 1997.


2. Kementrian kesehatan RI. Sekretariat Jenderal Profil Kesehatan Indonesia Tahun
2015. Jakarta 2016. Available at: http://www.kemkes.go.id.
3. Ide B. Pengawasan Wanita Hamil. Pengantar Kuliah Obstetri.
Jakarta:EGC;2007.p.187-93.
4. Soekir, soekami. Buku Panduan Praktis Pelayan Kontrasepsi. Jakarta: Bina Pustaka
Sarwono Prawiroharjo;2010.
5. Helmizar. Evaluasi kebijakan jaminan persalinan (Jampersal) dalam penurunan angka
kematian ibu dan bayi di Indonesia. Kemas 2014; 9: 197-205.
6. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Situasi kesehatan ibu. Infodatin 2014; 1-
8.
7. Mujiati I. Pelayanan KB Pasca Persalinan dalam Upaya Mendukung Percepatan
Penurunan Angka Kematian Ibu. Buletin jendela data dan informasi kesehatan
kementrian kesehatan Indonesia. 2013. Semester II.
8. Syafrudin, Hamidah. Kebidanan komunitas. Esty Wahyuningsih, editor. Jakarta:
EGC, 2009.p 97-9.
9. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Keberhasilan KB Dapat Turunkan Angka
Kematian Ibu. 2017 [cited 2017 April 14]. Available from:
http://www.depkes.go.id/article/print/17021000003/keberhasilan-kb-dapat-turunkan-
angka-kematian-ibu.html
10. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional. Mencegah Kematian Ibu
Melalui Peran Keluarga Berencana. 2016 [cited 2017 April 14]. Available from:
http://kalbar.bkkbn.go.id/_layouts/mobile/dispform.aspx?List=8c526a76-8b88-44fe-
8f81-2085df5b7dc7&View=69dc083c-a8aa-496a-9eb7-b54836a53e40&ID=198
11. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Budijanto D, Yudianto, Hardhana B, Soenardi TA,
editors. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.p.120-4

17