Anda di halaman 1dari 36

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT berbaring.

Faktor yang menjadi kontribusi dari heat


DARURAT (PPGD) syncope termasuk dehidrasi dan kekurangan aklimatisasi.

1. Heat Related Illness i. Gejala

a. Heat Rash Kepala terasa ringan

Iritasi kulit karena keringat berlebih saat cuaca panas Pusing

atau lembab Pingsan


i. Gejala ii. Penanganan Pertama

Terlihat seperti kumpulan jerawat, bintil Lakukan penanganan pingsan.


atau blister kecil. Duduk atau berbaring di tempat dingin
Lebih mungkin terkena pada leher, dada saat gejala mulai terasa.
atas, paha, dan lipatan siku. Minum air, jus, atau minuman isotonik
ii. Penanganan Pertama perlahan.
Kurangi beraktivitas di tempat panas, cari c. Heat Cramps
tempat lebih dingin atau sejuk. Nyeri atau spasme otot yang diakibatkan oleh

Jaga area yang terpengaruh kering. pengeluaran keringat berlebih saat melakukan aktivitas

Bedak bisa digunakan untuk berat. Pengeluaran keringat tersebut menguras kadar ion

menyamankan. garam tubuh dan kelembabannya. Penurunan kadar ion

b. Heat Syncope garam pada otot mengakibatkan keram yang nyeri.

Pingsan atau pusing yang biasa terjadi karena berdiri i. Gejala

terlalu lama atau bangun tiba-tiba dari posisi duduk atau Nyeri atau spasme otot.
Biasa terjadi pada perut, lengan, atau Pucat atau kulit memerah
kaki. Keram otot
ii. Penanganan Pertama Kenaikan temperatur badan sedikit dan
Hentikan aktivitas dan duduk di tempat tidak signifikan
teduh atau dingin. Napas cepat dan dangkal
Minum air dingin atau minuman isotonik. ii. Penanganan Pertama
Jangan melanjutkan aktivitas hingga heat Istirahat pada tempat dingin, teduh atau di
cramps reda, karena aktivitas yang lebih ruangan dengan air conditioner.
jauh dapat menyebabkan heat exhaustion Minum banyak air atau minuman dingin.
atau heat stroke. Semprot air dingin. Bila memungkinkan,
d. Heat Exhaustion korban mandi dengan air dingin.
Respon tubuh terhadap kehilangan air dan ion garam
berlebih, biasanya melalui keringat berlebih. Beraktivitas
pada tempat panas, penderita hipertensi, dan geriatri
lebih cenderung terkena heat stroke. e. Heat Stroke
i. Gejala Kondisi kegagalan thermoregulasi pada tubuh. Terjadi
Keringat berlebih jika tubuh tidak lagi dapat mengontrol temperatur:
Kelelahan yang ekstrim temperatur tubuh meningkat dengan sangat cepat,
Pusing dan bingung kemampuan berkeringat rusak, dan tubuh tidak dapat
Mual mendinginkan diri. Temperatur tubuh pada heat stroke
Kulit basah dan lembab yaitu 41C atau lebih selama 10-15 menit. Heat stroke
dapat menyebabkan kematian atau kecacatan jika tidak a. Berdasarkan ada/tidaknya kondisi medis lain yang menyertai
diberi penanganan pertama. :
i. Gejala 1. Hipotermia Primer adalah hipotermia yang terjadi murni
Kulit panas dan kering karena paparan lingkungan yang menyebabkan
Halusinasi gangguan regulasi suhu, dengan tidak ada kondisi medis
Gemetar atau meriang yang mendasari.

Sakit kepala berdenyut 2. Hipotermia Sekunder adalah hipotermia yang terjadi

Temperatur badan tinggi karena adanya kondisi medis yang mendasari yang

Pusing dan bingung mengakibatkan penurunkan suhu tubuh.


b. Berdasarkan tingkat keparahan hipotermia :
Ngomong melantur
1. Hipotermia ringan (32-35 C)
ii. Penanganan Pertama
Antara 34 C dan 35 C menggigil keras,
Cari bantuan atau pertolongan medis.
biasanya dalam semua ekstremitas.
Pindahkan ke tempat dingin dan sejuk.
di bawah 34 C, amnesia, dan disartria,
Semprot atau guyur dengan air dingin.
tingkat pernapasan dapat meningkat.
Kipas badannya.
sekitar 33 C, ataksia dan apatis. Dalam
2. Hipotermia
rentang suhu ini, berikut ini juga dapat
Hipotermia menggambarkan keadaan di mana mekanisme tubuh diamati: hiperventilasi, takipnea, takikardia.
untuk pengaturan suhu tidak mampu lagi menghadapi stressor 2. Hipotermia sedang (28-32 C)
dingin. Konsumsi oksigen menurun, dan gangguan

Hipotermia diklasifikasikan : sistem saraf pusat lebih lanjut seperti


hipoventilasi, hiporefleksia, penurunan aliran 3. Hangatkan tubuh dengan selimut kering atau sleeping bag.
ginjal, dan membuka baju paradoks. 4. Lakukan rewarming eksternal aktif dengan benda hangat
suhu 32 C atau lebih rendah pingsan. (misalnya, botol air panas) ditempatkan di aksila, di pangkal
suhu 31 C atau di bawah, tubuh kehilangan paha, dan perut.
kemampuan untuk menghasilkan panas dan 5. Dalam keadaan darurat, tim penyelamat dapat memberikan
menggigil. skin to skin contact dengan pasien ketika botol kaca/benda
Pada 30 C, pasien mengembangkan risiko hangat lain tidak tersedia
lebih tinggi untuk aritmia. 6. Berikan minuman hangat dan manis apabila masih sadar

Antara 28 C dan 30 C, pupil melebar dan


kurang responsif terhadap cahaya, bisa sampai 3. Acute Mountain Sickness

kematian otak. Penyakit yang menyerang pemanjat gunung, pendaki gunung,

3. Hipotermia berat (<28 C) pemain ski, atau travelers pada ketinggian, biasanya 2400 mdpl.

oliguria, pingsan, hipotensi, apnea, denyut nadi AMS disebabkan karena berkurangnya tekanan udara dan

menurun, hilang reflek, kurang respon dengan menurunnya kadar oxygen pada ketinggian.

lingkungan sekitar, dilatasi pupil metetap, detak i. Gejala

jantung tidak beraturan. Susah tidur


Pusing dan kepala ringan
Tatalaksana awal : Kelelahan
1. Tempatkan pasien dalam lingkungan yang hangat Sakit kepala
2. Lepaskan pakaian basah, dan menggantinya dengan baju Kehilangan nafsu makan
yang kering. Mual dan atau muntah
HR meningkat Cairan yang keluar mengandung konsentrasi
Penurunan pernapasan sodium lebih banyak daripada konsentrasi dalam
ii. Penanganan Pertama darah.
Pergi ke tempat yang lebih rendah.
Komplikasi neurologis dapat terjadi pada hyponatremi dan
Istirahat
hypernatremi.
Berikan oksigen ekstra
4. Dehidrasi b. Severitas

Kondisi ketidakseimbangan cairan yang terjadi saat tubuh tidak


mendapatkan cukup air seperti seharusnya. Dapat disebabkan
karena berlebihan keringat, demam, atau penyakit lain yang
mendasari.
a. Osmolaritas
i. Isonatremic ( Isotonic) : 130-150 mEq/L
Cairan yang keluar mengandung konsentrasi
sodium yang sama dengan konsentrasi dalam
darah.
ii. Hyponatremic (Hypotonic) : <130 mEq/L
i. Mild to moderate
Cairan yang keluar mengandung konsentrasi
Kehausan
sodium lebih rendah daripada konsentrasi dalam
Mulut kering
darah.
Oligouria
iii. Hypernatremic (Hypertonic) : >150 mEq/L
Urin kuning gelap
Kulit kering 5. Hipoglikemia
Sakit kepala Rendahnya kadar gula dalam darah, sehingga tubuh tidak
Keram otot memiliki cukup energi. Terjadi saat kadar gula darah jatuh
ii. Severe melebihi kadar normalnya biasanya dibawah 70 mg/dL.

Tidak buang air kecil (anuria) i. Gejala

Kulit kering Lapar

Kebingungan Gemetar

Pusing dan kepala ringan Berkeringat

Detak jantung cepat Pusing dan kepala terasa ringan

Mata cekung Ngantuk

Lesu Kebingungan

Tidak sadar atau delirium Anxietas

Syok Lemas

c. Penanganan Pertama Kesusahan berbicara

Minum, usahakan minuman yang mengandung ii. Penanganan Pertama

elektrolit. Pemberian permen, gula, minuman manis

Pemberian larutan ORT (Oral Rehydration untuk meningkatkan gula darah pada

Therapy). hipoglikemia dimana kesadaran korban

Pemberian cairan IV pada kondisi severe. masih penuh


Jika kesadaran korban menurun maka 2) Pasien dapat batuk sangat keras dan bernapas
diberikan larutan glukosa atau dextrose 3) Pasien tidak sadar
40% (D40) secara intravena.

6. Tersedak
1. Pasien tersedak masih sadar
Pasien dengan gejala tersedak, kesulitan bernafas,
berbicara, dan tidak dapat batuk.
Penatalaksanaan
a. Memberikan minimal 5x tepukan pada punggung.
Tepuk punggung dengan tumit tangan penolong dan
2. Pasien tidak sadar
posisi pasien membungkuk ditahan denga tangan
yang lain.
b. Melakukan Heimlich Manuever sampai 4x dengan
cepat. Letakkan kepala pada tengah abdomen, di atas
pusar dan di bawah rongga iga. Genggam kepalan 1
dengan tangan yang lain. Lakukan dorongan
abdomen dengan cepat.
c. Lakukan 5x backdown/ dorongan punggun dan
hemlich maneuver sampai :
1) Objek tertelan keluar
a. Eksternsikan kepala/ head tilt maksimal. Lakukan 2x Pertanyaan-pertanyaan berikut harus ditanyakan:
initial breathing Apakah kehilangan kesadaran penuh?
b. Bila dada tidak mengembang lakukan 30x kompresi Apakah kehilangan kesadaran dengan onset cepat dan
dada durasi singkat?
c. Lihat adakah objek yang keluar dan bila melihat Apakah pemulihan spontan, lengkap, dan tanpa gejala sisa
benda yang masih tetrtahan di mulut segera keluarkan ?
d. Bila tidak ada napas : lakukan a-c, bila ada nafas : Jika jawabannya adalah positif, sinkop sangat mungkin; jika
chek breathing dan nadinya 1 atau lebih negatif, bentuk lain dari hilangnya kesadaran
e. Bila masih juga tidak bernapas lakukan harus dipertimbangkan.
cricotyroidectomy Anamnesis tambahan yang perlu ditanyakan :
7. Pingsan / Syncope Detail kejadian sinkop dari saksi yang tersedia
(misalnya, apakah pasien mengalami kebingungan
Syncope didefinisikan sebagai kehilangan kesadaran disertai
postsyncope)
dengan ketidakmampuan untuk mempertahankan postur tubuh
Riwayat pengobatan Pasien
yang terjadi sementara dengan pemulihan yang spontan.
Riwayat medis pribadi atau keluarga pasien penyakit
Tanda dan gejala: jantung
2. Gejala Presyncope :
1. Anamnesis pasca sinkop pada pasien penting dilakukan
pusing
untuk mencari kausa dari sinkop :
vertigo, lemah, diaphoresis, ketidaknyamanan epigastrium,
Faktor Pemicu
mual, penglihatan kabur, pucat.
Aktifitas pasien sebelum syncope
3. Pemeriksaan fisik :
Posisi pasien saat peristiwa itu terjadi
Vital sign a. Gejala dan tanda
Pengukuran tingkat glukosa oleh rapid fingerstick
Peninjauan adakah tanda trauma

Manajemen awal :

Pertahankan jalan napas


Berikan oksigenasi yang cukup
Berikan terapi glukosa bila perlu
Pembatasan aktifitas fisik

8. Asthma Akut
Gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan
banyak sel dan elementnya, menyebabkan peningkatan
hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan mengi, sesak
napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan
atau dini hari.
b. Penanganan pertama

APE : Arus Puncak Ekspirasi

9. Gigitan ular dan lintah


ULAR
a. Sifat Ular
Ular takut pada manusia, pada kebanyakan kasus
ular menggigit manusia untuk mengusir manusia.
Gigitan ular tidak semuanya berakhir dengan Berjalanlah dengan hati-hati dan perhatikan benar di
kematian. Kematian tidak datang seketika atau mana anda menapakkan kaki. Bila ada tumpukan
dalam beberapa menit saja. Gejala biasanya timbul kayu, sebaiknya anda berjalan di atasnya daripada
15 menit sampai 2 jam kemudian setelah korban berjalan di sekitarnya. Kecuali, anda sudah yakin
digigit ular. benar tempat sekitar aman.
Bila anda mengambil buah pastikan di sekitar pohon
b. Ciri-ciri gigitan ular tidak terdapat hal-hal yang mencurigakan.
Bisa ular ada yang bersifat merusak dinding pembuluh Sebaiknya anda juga berhati-hati ketika berjalan di
darah (missal : ular pohon) dan ada yang bersifat
merusak jaringan saraf (missal : ular kobra, ular laut). sekitar perairan (sungai, danau).
Jangan sekali-kali mengganggu, menganiaya atau
bercanda untuk menggoda ular. Ular tidak dapat
menutup matanya, oleh karena itu, anda tidak dapat
mengira apakah ia sedang tidur atau tidak. Beberapa
Keterangan :
spesies seperti mamba, kobra dan bushmaster akan
A: Tidak berbisa ( tanpa bekas taring ). menyerang ketika didekati oleh orang asing.
B: Ular berbisa dengan taring di belakang.
Gunakan tongkat ketika berjalan, untuk memastikan
C: Ular berbisa dengan taring di depan ( Ular
Sendok/Kobra, Ular Laut ). apa yang ada di hadapan anda.
D: Ular berbisa dengan taring di depan agak ke samping Gunakan alas kaki, dekker, dan pelindung kaki
( Ular Pohon ).
lainnya dengan benar terutama pada malam hari.
c. Mencegah agar tidak digigit ular Jangan PANIK ketika anda bertemu dengan ular.
Tetaplah tenang, ular tidak dapat mendengar apa
yang anda katakan. Gerak-gerik anda sesekali dapat Usahakan korban tenang dan tetap sadar.
mengejutkan ular yang sedang tidur atau berjemur. Letakkan daerah gigitan lebih rendah dari jantung.
Pada umumnya, ular akan segera berlalu, bila anda Imobilisasi seluruh badan pasien dengan
memberikannya kesempatan untuk pergi. JANGAN membaringkan pasien, dan imobilisasi daerah bekas
dihalang-halangi dengan membuat tindakan- gigitan dengan bebat (pressure immobilization atau
tindakan yang tidak perlu. pressure pad). Pergerakan apapun atau kontraksi
Berhati-hatilah, jika anda benar-benar harus otot dapat meningkatkan absorpsi dari racun ke
membunuh ular untuk dimakan atau untuk pembuluh darah dan pembuluh limfe.
keamanan. Terkadang,walaupun tidak biasa, Hindari interfensi dengan luka gigitan seperti insisi,
kehangatan dan tubuh orang yang tertidur dapat pengambilan racun baik dengan spuit atau mulut,
menarik perhatian ular. garuk, pijat, maupun aplikasi herbal dan kimia. Hal-
hal tersebut dapat menimbulkan infeksi,
d. Gambaran jika digigit ular berbisa meningkatkan absorpsi racun dan meningkatkan
Akan timbul rasa nyeri di daerah tusukan (muncul perdarahan lokal.
segera setelah gigitan), daerah gigitan bengkak,
Segera larikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
kemerahan, memar (dapat cepat berkembang),
penglihatan kembar/kabur, mengantuk, sakit kepala,
pusing dan pingsan, mual dan atau muntah dan diare,
rasa sakit atau berat didada dan perut, tanda-tanda
tusukan gigi, gigitan biasanya pada tungkai/kaki, sukar LINTAH
bernafas dan berkeringat banyak, kesulitan menelan
serta kaku di daerah leher. Lintah adalah binatang yang air liurnya mengandung zat anti
pembekuan darah/antikoagulan sehingga menyebabkan darah
e. Pertolongan pertama akan terus mengalir ke luar dan masuk ke perut lintah.
a. Tanda dan gejala https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/hypoglycemia.html - diakses
Pembengkakan 5 november 2015
Gatal http://www.niddk.nih.gov/healthinformation/healthtopics/Diabetes/h
Kemerahan. ypoglycemia/Pages/index.aspx - diakses 5 november 2015
http://emedicine.medscape.com/article/767359-overview#a2
b. Pertolongan pertama diakses 5 november 2015

Siram minyak/air tembakau dan garam atau kenakan Pedoman diagnosis & penatalaksanaan Asma di
Indonesia
api ke tubuh lintah supaya lintah cepat melepaskan
gigitan lintah.

Referensi :
http://www.cdc.gov/niosh/topics/heatstress - diakses 4 November
2015
http://emedicine.medscape.com/article/770542-treatment#d11
diakses 5 November 2015
https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000133.htm -
diakses 4 November 2015
http://emedicine.medscape.com/article/303571-overview#a2-
diakses 4 November 2015
http://emedicine.medscape.com/article/906999-overview - diakses 4
November 2015

https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000982.htm -
diakses 4 November 2015
TRAUMATOLOGI c. Vulnus scissum : luka sayat/iris yang ditandai dengan
tepi luka berupa garis lurus dan beraturan.
d. Vulnus laceratum (luka robek): luka dengan tepi yang
Trauma : kerusakan pada tubuh manusia yang disebabkan oleh tidak beraturan atau compang-camping biasanya karena
perpindahan energi yang berlebihan baik disengaja ataupun tidak tarikan atau goresan benda tumpul.
yang menimbulkan suatu perubahan struktur baik anatomis ataupun e. Vulnus punctum(luka tusuk): luka akibat tusukan benda
histologis dan perubahan fungsi dari tubuh manusia Traumatologi : runcing yang biasanya kedalaman luka lebih daripada
Ilmu yang mempelajari tentang trauma lebarnya.
f. Vulnus morsum : luka gigitan binatang
Ada beberapa bentuk dari traumatologi, diantaranya :
g. Vulnus combutio : luka bakar
a. Luka (vulnus) h. Luka tertutup termasuk memar, cedera karena himpitan
a. Sprain dan cedera remuk.
b. Strain Penanganan luka :
c. Dislokasi 1. Evaluasi luka :
d. Fraktur a. Anamnesis
a. Luka/Vulnus Bagaimana, dimana, kapan luka terjadi
Istilah sehari-hari: Luka. Luka/vulnus adalah terputusnya Berhubungan dengan cara penanganan, untuk
keutuhan jaringan lunak baik di luar maupun di dalam tubuh. memperkirakan kemugkinan terjadinya
Klasifikasi luka: kontaminasi
b. Ekskoriasi (luka lecet/gores) : cedera pada permukaan b. Pemeriksaan fisik
epidermis akibat bersentuhan dengan benda Lokasi apakah ada cedera struktur yang lebih
berpermukaan kasar/ runcing. dalam
Eksplorasi menyingkirkan kemungkinan cedera Berdasarkan penyebab:
struktur yang lebih dalam, menemukan benda Gaya langsung: Cedera terjadi pada bagian yang
asing yang mungkin tertinggal pada luka dan mengalami kontak dengan gaya yang diterima,
menentukan adakah jaringan yang sudah mati. misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka
c. Tindakan antisepsis : tulang akan patah tepat di tempat terjadinya
Daerah yang disucihamakan harus lebih besar dari benturan.
ukuran luka Gaya tidak langsung: Gaya yang diterima bagian
Prinsip mulai dari tengah, ke arah luar dengan tubuh tertentu diteruskan sehingga bagian yang tidak
pengusapan spiral mengalami gaya akan ikut rusak, misalnya pada saat

Larutan antiseptik yang dianjurkan : povidone seseorang jatuh dengan telapak tangan terlebih

iodine 10% atau klorheksidine glukonat 0,5% dahulu dan menumpu, maka lengan bawah dan

d. Pembersihan luka : pergelangan tangan orang itu bisa patah juga secara

Irigasi/siram dengan air bersih atau infus NaCl tidak langsung.

Hialngkan semua benda asing dan jaringan yang Gaya puntir: terjadi akibat upaya tubuh atau posisi

mati anatomis sedemikian rupa, sehingga pada saat


benturan seolah terkunci, sehingga gaya berubah
Berikan antiseptik
menjadi momen puntiran.
b. Fraktur/ Patah tulang
Berdasarkan sifat :
Fraktur adalah terputusnya atau diskontinuitas jaringan tulang
Fraktur tertutup : fragmen tulang yang patah tidak
yang ditandai dengan rasa nyeri, pembengkakan, deformitas,
tampak dari luar
gangguan fungsi, pemendekan, dan krepitasi.
Fraktur terbuka : fragmen tulang yang patah tampak
Jenis fraktur :
dari luar
tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi)
memberikan istirahat, dan mengurangi rasa sakit.
1) Tujuan pemasangan bidai:
o Mempertahankan posisi bagian patah agar
tidak bergerak
o Mengurangi rasa nyeri
o Mencegah terjadinya komplikasi
o Memudahkan dalam transportasi korban
o Menghindari trauma soft tissue (saraf dan
Gejala dan tanda:
pembuluh darah pada bagian distal yang
Deformitas
cedera)
Nyeri (dolor)
o Mengistirahatkan anggota badan yang patah
Memar
2) Prinsip pemasangan bidai:
Pembengkakan (oedem)
Proteksi diri sebelum melakukan pembidaian
Krepitasi
Jangan melepaskan stabilisasi manual pada
Ujung tulang terlihat pada patah tulang terbuka
tulang yang cedera sampai pembidaian
Penatalaksanaan:
sempurna dilakukan
Pembidaian.
Jangan coba-coba mereposisi/menekan
Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman
fragmen tulang yang keluar kembali ke
kawat, atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang
tempat semula
digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian
Buka pakaian yang menutupi tulang yang Contoh :
patah sebelum memasang bidai, bila ada
perdarahan atasi dulu
Berikan padding (bantalan) pada tulang yang
menonjol
Panjang bidai mencakup 2 sendi (proximal
dan distal fraktur)
Bahan yang digunakan sebagai bidai tidak Fraktur femur
mudah patah dan juga tidak terlalu lentur
Ikatan pada bidai mantap tapi tidak terlalu
kuat ataupun terlalu longgar
Beri bantalan lembut pada pemakaian bidai
yang kaku
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan
bidai:
Sensorik, yaitu dengan memberi rangsangan
Motorik, yaitu dengan menggerakkan
Denyut arteri
Refiling kapiler, yaitu dengan kembali kapiler
yang telah dihambat
fraktur radius/ulna cedera spinal
Penatalaksanaan : langsung evakuasi
a. Dislokasi Sendi Usahakan perbaikan hanya dapat dilakukan di Rumah
Terlepasnya atau keluarnya bonggol sendi dari mangkoknya Sakit. Oleh karena itu kirim korban ke rumah sakit
Dislokasi Sendi Bahu dengan diberi bantalan dibawah lutut dan kaki untuk
Tanda-tanda korban yang mengalami Dislokasi sendi membatasi gerakan-gerakan selama diperjalanan.
bahu yaitu:
o Sendi bahu tidak dapat digerakakkan
o Korban mengendong tangan yang sakit dengan yang b. Sprain dan Strain
lain Sprain(terkilir sendi): teregangnya atau robeknya ligamen
o Korban tidak bisa memegang bahu yang berlawanan (yaitu jaringan ikat yang menghubungkan dua atau lebih
o Kontur bahu hilang, bongkol sendi tidak teraba pada tulang dalam sebuah sendi). Terjadi akibat gerakan yang
tempatnya salah sehingga sendi teregang melampaui gerakan normal.
Penatalaksanaan : Biasanya, sprain terjadi pada keadaan seperti saat orang
Lakukan immobilisasi sebisa mungkin supaya tidak terjatuh dengan bertumpu pada tangan, mendarat dengan
terjadi cedera lebih lanjut. bagian luar dari kaki, atau mendatar keras di tanah sehingga
Dislokasi Sendi Panggul menyebabkan lutut terpelintir.
Tanda-tanda klinis terjadinya dislokasi panggul: Gejala : nyeri, peradangan, ketidakmampuan
o Kaki pendek dibandingkan dengan kaki yang tidak menggerakan tungkai, bengkak, memar, tidak stabil
mengalami dislokasi Diagnosis :
o Kaput femur dapat diraba pada tanggul 1. Look (inspeksi) : warna kemerahan/kebiruan,
o Setiap usaha menggerakkan pinggul akan bengkak/cekungan, deformitas, cara berjalan
mendatangkan rasa nyeri 2. Feel (palpasi) : perubahan suhu, nyeri tekan.
3. Move (gerak) : aktif (korban diminta terkena akan memicu terjadinya komplikasi lebih
menggerakan sendiri bagian yang sakit), pasif lanjut.
(pemeriksa membantu korban menggerakan Ice: Kompres dingin dengan es. Kompres dingin atau
bagian yang sakit) es akan menghasilkan vasokontriksi untuk
Strain (terkilir otot): teregangnya otot dan tendon (jaringan mengurangi pembengkakan dengan meletakkan di
ikat/penghubungan yg kuat yg menghubungkan otot dengan bagian yang terluka selama 2-3 menit setiap 2 jam
tulang). Strain terjadi karena pembebanan secara tiba-tiba sekali sehari dalam 24 jam pertama. Kita harus
pada otot tertentu. Terjadi ketika otot terulur dan menempatkan kain di atas daerah yang cidera dengan
berkontraksi secara mendadak, seperti pada pelari atau kantong es untuk menghindari luka akibat suhu
pelompat. rendah. Terapi dengan kompres dingin ini harus
Gejala : nyeri, spasme/ kaku otot, kehilangan dimulai dengan segera dan diteruskan sampai 24-36
kekuatan, keterbatasan lingkup gerak sendi. jam setelah luka terjadi.
Diagnosis : dilakukan LFM (look, feel, move) juga Compress: Penekanan pada bagian yang cedera.
seperti pada sprain. Tindakan Compress artinya menekan bagian yang
Penatalaksanaan sprain dan strain : mengalami cedera dengan menggunakan perban
Rest: Mengistirahatkan wilayah yang cedera. Jangan khusus (ace bandage). Sebelum dibebat usahakan
menaruh beban pada tempat yang cedera selama 36- memberikan perawatan pertama pada luka
48 jam. Dapat digunakan alat bantu seperti crutch (desinfektan dan kasssa steril) kemudian baru dibebat
(penopang/penyangga tubuh yang terbuat dari kayu sesuai dengan lokasi cedera (sesuaikan ukuran bebat).
atau besi) untuk mengurangi beban pada tempat yang Periksa apakah pembebatan terlalu kencang, mudah
cedera. Aktivitas yang berlebih pada bagian tubuh yg lepas, dan mengganggu pergerakan sendi yang
normal atau tidak.
Elevation: Bagian yang cedera ditinggikan dari a. Menopang suatu luka
jantung selama 24-36 jam untuk memudahkan b. Mengimobilisasi luka
kembalinya darah dan untuk mengurangi c. Menutup luka
pembengkakan. Misalnya jika yang cedera lutut, d. Menopang bidai
upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian lutut Pembebatan biasanya dapat dilakukan dengan
diangkat atau ditopang dengan alat supaya posisinya menggunakan :

lebih tinggi dari jantung. a. Mitella :pembalut berbentuk segitiga


a. Bahan pembalut terbuat dari kain yang berbentuk
segitiga sama kaki dengan berbagai ukuran. Panjang
Yang tidak boleh dilakukan selama 72 jam
kaki antara 50 100 cm.
pertama adalah HARM :
b. Pembalut ini dipergunakan pada bagian kaki yang
Heat di kompres dengan air panas (panas berefek
terbentuk bulat atau untuk menggantung bagian
pada vasodilatasi pembuluh darah sehingga
anggota badan yang cedera
memperparah inflamasi) c. Pembalut ini bisa dipakai pada cedera di kepala,
Alcohol dapat meningkatkan perdarahan dan bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul, telapak
pembengkakan sehingga menghambat penyembuhan kaki dan untuk menggantung tangan
Running berlari dapat memparah cedera
Massage pemijatan dapat meningkatkan
pembengkakan dan cedera

Pembebatan adalah proses menutup luka untuk beberapa tujuan


antara lain untuk :
b. Elastic bandage/ tensocrepe

Simplebandage
TEKNIK EVAKUASI

Teknik Evakuasi adalah upaya pemindahan korban dari


lokasi kejadian yang berbahaya ke tempat yang memadai untuk
diberi pertolongan atau untuk ditindaklanjuti dengan kondisinya
guna kelangsungan hidupnya. Dalam melakukan evakuasi, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Situasi dan kondisi dalam evakuasi,
2. Kondisi korban dan kondisi penolong sendiri,
Figure-eight bandage
3. Hal utama yang perlu diperhatikan sebelum melakukan evakuasi
yaitu kontrol keadaan korban secara medis, tapi tetap disesuaikan
Referensi :
dengan kondisi trauma korban.
Materi TBM refresh
Ketiga keadaan tersebut pada akhirnya mengharuskan kita untuk
Buku Skill Lab FK UNS semester 6
memilih manuver evakuasi yang khas, seperlunya, dengan tidak
Ariningrum D, Subandono J. 2012. Manajemen Luka.FK UNS
membuang waktu.
Oswari, E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta: PT Gramedia
Prinsip utama :
Pustaka Utama
1. Dont further harm
2. Dont move casualty unless absolutely necessary
3. Dont endanger yourself
4. Explain clearly
5. One command
Syarat korban dievakuasi: Jangan abaikan keselamatan penolong sendiri.
a. Penilaian awal sudah dilakukan lengkap, dan monitor terus
Lakukan persiapan terlebih dahulu. Persiapan ini meliputi :
keadaan umum korban.
Perencanaan evakuasi bersama komite evakuasi terkait
b. Denyut nadi dan napas korban stabil dan dalam batas normal
c. Perdarahan yang ada sudah diatasi dan dikendalikan Identifikasi dan analisis lokasi korban
d. Patah tulang yang ada sudah ditangani Komunikasi antar evakuator
e. Rute yang dilalui memungkinkan dan tidak membahayakan
Opsi transportasi korban
penolong dan korban
Keselamatan penolong

Ingat tentang triage! Triage merah harus diutamakan untuk


1. Aturan umum tentang evakuasi :
dievakuasi. Perhatikan lokasi cedera pada pasien dan
Perhatikan kondisi korban, apakah mengalami cedera atau
tentukan bagaimana cara melakukan evakuasi terhadap
trauma yang membutuhkan kehati-hatian dalam
korban tersebut.
pengevakuasian.
Bila mungkin, terangkan kepada korban apa yang akan Kapan penderita harus dipindahkan :

dilakukan, agar dapat bekerjasama. 1. Bila tidak ada bahaya; beri pertolongan lebih dulu kemudian
Jangan pindahkan korban sendiri kalau bantuan belum pindahkan penderita
tersedia. 2. Bila ada ancaman bahaya; lakukan pemindahan korban lebih
Jika beberapa orang melakukan evakuasi, 1 orang dulu, kemudian lakukan pertolongan
memberikan komando. 2. Aturan dalam mengangkat dan menurunkan korban :
Angkat dan bawa korban dengan benar agar tidak o Tempatkan posisi kaki senyaman mungkin, salah satu kaki
mengalami cedera otot/sendi. ke depan guna menjaga keseimbangan
o Tegakkan badan dan tekukkan lutut Teknik-teknik transportasi :
o Pegang korban / balut dengan seluruh jari tangan 1. Human crutch
o Usahakan badan korban yang diangkat dekat dengan o Pasien sadar dan masih dapat berjalan
penolong o Dapat dikerjakan oleh satu atau dua penolong
o Jika kehilangan keseimbangan / pegangan, letakkan korban, Teknik : penolong berdiri sejajar pada korban,
atur posisi kembali, lalu mulai kembali mengangkat. kalungkan lengan korban ke leher penolong,
genggam pergelangan tangan korban. Lingkarkan
3. Hal-hal yang harus diperhatikan bila membawa korban tangan penolong pd pinggang korban dan
dengan tandu : melangkahlah secara perlahan mengikuti langkah
korban
o Tandu diperiksa dari kerusakan, dicoba apa mampu menahan
berat korban.
o Korban tidak sadar yang dibawa ketempat jauh, sebaiknya
selalu diikat.
o Penolong yang paling berpengalaman, memberi komando
untuk tiap gerakan.
o Kaki korban selalu di depan, kecuali pada keadaan :
Korban cedera tungkai berat menuruni tangga / turun di
tempat yang miring
Korban hipotermia,menuruni tangga/turun di tempat 2. Pick a bag

yang miring o Dapat dilakukan oleh satu penolong

Korban dengan stroke/kompresi otak tidak boleh di o Korban dalam keadaan sadar

angkat dengan kepala lebih rendah dari kaki o Berat badan korban lebih ringan dari penolong
o Teknik :penolong berjongkok membelakangi korban, minta
korban untuk mengalungkan lengannya ke leher penolong.
Angkat korban secara perlahan, tangan penolong menyangga
korban pada paha. Usahakan agar punggung penolong tetap
lurus.

4. Cradle Method
o Korban sadar
o Berat badan korban lebih ringan
o Hati-hatiter hadap cedera spinal
o Kebalikan dari Pick a Bag
o Teknik :Tubuh penolong
3. Drag Method direndahkan di depan korban,
o Aman untuk korban sadar juga tidak sadar lingkarkan tangan di seputar
o Hati-hati pada korban tidak sadar bila dicurigai terdapat punggung korban. Tangan lain
trauma servikal atau trauma kepala mengangkat korban dari paha dan merapatkan tubuh korban
o Teknik :Posisikan korban terlentang dgn tangan di atas dada. ke penolong
Masukkan tangan penolong lewat ketiak korban dan
genggam pergelangan tangannya secara bersilangan.
5. Two-handed seat
o
o Korban sadar
o Dilakukan oleh dua penolong
o Seperti main becak-becakan
o Teknik :Kedua dua penolong berjongkok berhadapan dengan diikuti penolong depan dengan jeda sebentar.
tangan menyilang membentuk kotak untuk dudukan korban.
Tangan korban memeluk leher penolong dari belakang.
7. Chair Carry
o Alat mudah ditemukan dimana saja, material harus kaku.
Bukan plastic dan bukan jenis
kursi lipat
o Memindahkan korban dengan
media kursi.
o Hati-hati jika ada cedera spinal
6. Fore-and-aft Carry
o Perkirakan beban yang bisa
o Dilakukan oleh dua penolong dari depan dan belakang
ditanggung oleh
korban
kursi
o Tidak dilakukan pd korban dg cedera bahu atau tangan
o Bisa dipakai saat memindahkan korban ke stretcher
o Teknik :Dudukkan korban, penolong satu berada di antara 8. AnklePull
kedua paha korban menghadap depan memegang bawah o Lakukan Ankle Pull apabila curiga cedera pada ekstremitas
lutut korban. Penolong kedua berada di belakang memegang atas.
korban dari ketiak. Mengangkat korban bergiliran dari o Tekniknya hampir sama seperti drag method, tetapi yang
penolong ditarik adalah bagian ankle atau kaki.
di Pegang kaki, khususnya ankle korban dengan kuat
belakang
Usahakan punggung penolong selalu tegak o Amankan leher dengan neck collar atau
Usahakan menarik korban dalam posisi yang sejenis (sandbag, sandal jepit)
yang lurus o Jika tidak tersedia amankan dengan
Perhatikan kondisi jalan evakuasi. Hanya dipegang
lakukan ankle pull apabila kondisi jalan
evakuasi baik. b. Pindahkan dengan log roll
Perhatikan anggota tubuh yang lain, o Untuk memeriksa bagian bawah korban
sepertikepala. Jangan sampai terkena cedera sekunder o Untukmemposisikan korban sebelum dipindahkan ke
akibat kesalahan evakuasi. stretcher
o Dikerjakan oleh sekurangnya 3 penolong
Curiga terjadi cedera spinal jika :

1. Korban jatuh dari ketinggian


1. Terdapat cedera supraclavicula
2. Pernapasan paradoksal
3. Kelumpuhan anggota gerak
6. Gunakan Scoop stretcher atau spine board untuk memindahkan
4. Kecelakaan kecepatan tinggi
korban
5. Terdapat multiple trauma
Lakukan teknik berikut jika dicurigai terdapat trauma spinal :

a. Inline Immobilization
o Posisi leher danb atang badan harus segaris
Langkah-langkah dalam mengangkat tandu : Tandu Buatan Sendiri
Seorang pengangkat berdiri di keempat ujung tandu. Jika ada Meskipun dalam keadaan darurat kita bisa membuat tandu,
tiga orang, dua berdiri dekat kepala dan satu pada kaki tetapi sebaiknya ditunggu sampai bantuan dan peralatan khusus
Seorang pengangkat berdiri di keempat ujung tandu. Jika ada datang. Jika anda harus memindahkan korban ke tempat terlindung,
tiga orang, dua berdiri dekat kepala dan satu pada kaki. Semua tandu dapat dibuat dari permukaan yang keras seperti pintu, tongkat,
pengangkatjongkok dan memegang mengikuti aba-aba, bangkit atau papaniklan. Dapat juga dengan menyisipkan tiang melalui
serentak dan berdiri memegang tandu secara rata. lengan jaket atau anorak. Kekuatan tandu harus selalu dicoba dulu
Aba-aba berikutnya semua pengangkat melangkahkan sebelum digunakan.
kakisebelah dalam dengan langkah pendek.
Untuk menurunkan korban, para pengangkat berhenti kalau ada
aba-aba. Pada aba-aba berikutnya semua jongkok dan
meletakkan tandu hati-hati.
BASIC LIFE SUPPORT (BLS) Langkah utama yang harus dilakukan ketika menemukan korban
adalah :

a. Memastikan keamanan lingkungan bagi penolong


Pasien dengan kedaruratan dapat terjadi dimana saja, kapan b. Pastikan kesadaran korban dengan nilai kesadaran korban
saja dan dapat dialami oleh siapa saja. Dapat berupa serangan
penyakit mendadak, kecelakaan, atau bencana alam. Time saving is (panggil, sentuhan, rangsang nyeri)
life saving merupakan dasar dari tindakan pada menit-menit pertama c. Meminta pertolongan pada masyarakat sekitar dan menjelaskan
yang dapat menentukan hidup atau mati penderita. Basic Life bahwa kita akan memberi pertolongan (jangan lupa
Support merupakan tindakan-tindakan segera yang dilakukan untuk
memperkenalkan diri agar tidak terjadi kesalahpahaman)
mencegah proses menuju kematian. Dalam Basic Life Support
penolong harus dapat melakukan Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP) d. Memperbaiki posisi korban; agar BLS efektif hendaknya posisi
atau Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) bila diperlukan. Sirkulasi pasien telentang dan berada pada permukaan yang rata dan keras
yang terhenti 3-5 menit dapat menyebabkan kerusakan otak
e. Mengatur posisi penolong; penolong berlutut sejajar dengan
permanen, sedangkan pada korban yang pernah mengalamai
hipoksemia waktunya menjadi lebih sempit sehingga butuh bahu korban
penanganan segera. Keadaan tersebut disebut keadaan gawat Kita dapat menggunakan prinsip DRS, yaitu
darurat, yaitu keadaan yang apabila tidak mendapat pertolongan
cepat, korban dapat kehilangan sebagian anggota tubuh atau D: Danger, yaitu sebelum kita menolong korban pastikan
meninggal. BLS yang dilakukan dengan cara yang benar keamanan untuk diri kita sendiri, pasien, dan lingkungan
menghasilkan cardiac output 30% dari cardiac output normal. Hal R: Responsive, yaitu periksa kesadaran korban secepat
itu berarti total volume darah yang dipompa oleh ventrikel per menit mungkin. Pemeriksaan dapat menggunakan AVPU:
adalah 30% dari normalnya 4,8-6,4 L/menit2. Volume darah total
(volume plasma dan sel darah) pada pria normal rata-rata 75 mL/kg A: Alert; korban sadar dan memiliki orientasi yang
berat badan5. baik

Prinsip penanganan primary survey yaitu deteksi secara V: Verbal; korban sadar dan memiliki orientasi yang
cepat dan koreksi segera kondisi-kondisi yang mengancam jiwa. baik setelah diberikan rangsangan verbal.
P: Pain; korban dapat memberikan respon setelah
diberikan rangsangan nyeri.

U: Unconscious; korban tidak sadar.

S: Send for Help, yaitu meminta pertolongan kepada rumah


sakit atau tempat rujukan yang tepat sehingga korban dapat
diberikan terapi definitif.

Apabila korban dalam keadaan sadar dan memiliki orientasi yang


baik, kita dapat melanjutkan ke secondary survey untuk melakukan
pemeriksaan menyeluruh pada korban. Sedangkan jika terjadi
penurunan kesadaran dan orientasi, kita tetap melanjutkan prosedur
primary survey. Hal tersebut dilakukan untuk menangani
kemungkinan keadaan kegawatdaruratan sehingga meningkatkan
harapan hidup korban.
Ketika kita menemukan korban dalam keadaan unresponsive, tahap
selanjutnya yaitu meraba arteri carotis selama 10 detik, untuk
1. Airway (prinsip: pastikan jalan napas bebas dari benda
memastikan teraba denyut nadi, dan secara bersamaan memeriksa
nafas dengan cara look, listen, and feel. Jika tidak didapatkan denyut asing)
nadi dan napas terhenti atau tersengal, kemudian kita menilai Tindakan yang dilakukan yaitu memastikan terbukanya jalan
Airway, Breathing, Circulation/Chest Compression, Disability, nafas, membersihkan jalan nafas dan membebaskan jalan nafas.
Exposure. Karena alat Automated External Defibrilator (AED) Pada temuan pasien dengan kondisi tidak sadar, langsung
hanya dimiliki oleh tenaga medis di rumah sakit atau tempat bersihkan sumbatan jalan nafas. Cara untuk menilai ada tidaknya
rujukan, maka terapi yang dapat diberikan hanya melakukan pijat sumbatan jalan nafas dengan
jantung sambil menunggu bantuan datang. a. Look ; lihat pergerakan dinding dada, apakah simetris kanan-
Terdapat dua perbedaan pendapat yaitu yang bersumber dari kiri
American Heart Association (AHA) dan Advanced Trauma Life b. Listen ; dengarkan suara napas (adakah napas, adakah suara
Supports (ATLS) mengenai urutan primary survey. AHA
napas tambahan)
merupakan organisasi yang memberikan perhatian terhadap penyakit
jantung menggunakan urutan C-A-B karena ketika terjadi henti c. Feel ; merasakan hembusan napas dari hidung/mulut
jantung mendadak, sebisa mungkin tetap mempertahankan perfusi Jika saat mendengarkan suara napas pasien terdapat suara
pada otak supaya tidak terjadi kerusakan permanen. Sedangkan tambahan, dapat dicurigai terdapat sumbatan pada jalan napas
ATLS yang merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang pasien. Jika terdapat sumbatan maka sumbatan tersebut harus
traumatologi menggunakan urutan A-B-C karena ketika kasus dihilangkan dahulu. Sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan
korban yang terjadi merupakan kasus trauma, maka terdapat dengan jari telunjuk atau jari tengah yang dilapisi kain,
kemungkinan tersumbatnya jalan napas sehingga prioritas utama sedangkan sumbatan benda keras dapat dikorek dengan jari
kita adalah membebaskan dan menjaga jalan napas korban. telunjuk yang dibengkokkan. Sumbatan jalan nafas pada pasien
Penggunaan A-B-C atau C-A-B tergantung dari kasus pada korban tidak sadar paling sering disebabkan oleh pangkal lidah. Mulut
yang akan kita tangani. dapat dibuka dengan teknik cross finger, dimana ibu jari
diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pd mulut korban.
Apabila kita curiga pasien mengalami cidera spinal, maka perlu
Selanjutnya dilakukan pembebasan jalan napas.
melakukan immobilisasi pada kepala dan leher korban dengan collar
neck sambil melakukan primary survey.
a. Tanpa alat: Chin lift dan Jaw Thrust
Chin lift dilakukan dengan cara mengangkat dagu ke depan
dengan jari telunjuk dan jari tengah sambil menekan kening
kebelakang dengan telapak tangan lainnya. Cara yang lebih
aman adalah dengan jaw thrust, yaitu dengan memegang
jawbone dengan kedua tangan dan secara perlahan dorong ke
depan, gunakan keempat jari pada kedua tangan untuk
menekan.

Jaw thrust

b. Dengan alat: Oro pharyngeal airway, Naso pharyngeal


airway
Airway definitif: Orotrakeal airway, Nasotrakeal airway,
Surgical airway (Cricothyroidectomy dan tracheostomy)
2. Breathing Jika telah dipastikan tidak teraba denyutan, berikan pijat jantung
Dilakukan identifikasi untuk memastikan korban bernapas atau luar atau Cardio Pulmonary Resucitation (CPR) untuk
tidak, identifikasi dilakukan tidak boleh lebih dari 10 detik. Jika membantu sirkulasi yang dilakukan dengan teknik :
korban tidak bernapas, bantuan napas dapat diberikan melalui o Ambil titik tengah dari sternum, lalu ambil setengah bagian
mulut-mulut atau mulut-hidung dengan memberikan hembusan bawahnya. Daerah tersebut merupakan daerah untuk
awal sebanyak dua kali hembusan sampai dada korban terlihat meletakkan tangan penolong dalam memberikan bantuan
mengembang.
sirkulasi.
Pada saat melakukan hembusan baik dari mulut-mulut maupun
mulut-hidung pastikan o Tumit tangan yang dominan diletakkan di atas tangan yang
mulut penolong dapat menutup seluruh mulut atau hidung sudah berada tepat di titik pijat jantung.
korban dengan baik untuk mencegah terjadinya kebocoran.
o Jari-jari kedua tangan dirapatkan dan diangkat agar tidak ikut
Cara memberikan nafas buatan adalah sebagai berikut: menekan.
Buka sedikit mulut pasien. Ambil nafas panjang dan o Dengan posisi badan tegak lurus, penolong menekan dinding
tempelkan rapat-rapat bibir penolong melingkari mulut dada korban dengan tenaga dari berat badannya secara
pasien. teratur sebanyak 30 kali dgn kedalaman 2-2,4 inch atau 5-6

Tiup selama 1,5-2 detik. Lihat apakah dada terangkat. cm karena terdapat penelitian bahwa terdapat keterkaitan

Tetap pertahankan airway, lepas mulut penolong dari mulut kedalaman kompresi berlebihan dan cedera yang tidak

pasien. mengancam jiwa.

Lihat apakah dada pasien turun waktu exhalasi. o Kecepatan kompresi pada orang dewasa yaitu 100-

3. Circulation / Chest Compression 120x/menit. Jika kecepatan kompresi meningkat menjadi

Pastikan ada tidaknya denyut jantung korban dengan meraba lebih dari 120x/menit, kedalaman kompresi akan berkurang
arteri karotis di daerah leher korban. Penolong dapat meraba sesuai dosis.
pertengahan leher kemudian jari digeser ke sisi kiri atau kanan 1-
2 cm, raba dengan lembut selama 5-10 detik.
o Ketika melakukan pijatan penolong tidak boleh bertumpu o Dapat dilakukan baik oleh 1 atau 2 penolong. Satu penolong
diatas dada diantara kompresi untuk mendukung rekoil melakukan CPR sedangkan penolong lain menjaga jalan
napas. Ketika akan bertukar posisi, pemolong harus
penuh dinding dada pasien. Rekoil dinding dada memberikan
menyelesaikan lima kali siklus CPR
relatif tekananan intrathoraks yang mendorong pengembalian
vena dan aliran darah kardiopulmonari.
o Satu siklus pijat jantung adalah 30 : 2 yaitu 30 kali kompresi
diikuti 2 kali napas buatan dengan setiap napas buatan
diberikan lebih dari 1 detik.
Minimalisasi frekuensi dan durasi gangguan dalam kompresi untuk
mengoptimalkan jumlah kompresi yang dilakukan tiap menit.
4. Disability
Menilai kesadaran (status mental) korban dengan memeriksa 5. Exposure
pupil, anggota gerak, dan tanda vital. Hal yang dilakukan pada Tahap akhir survey primer adalah eksposur korban untuk
pemeriksaan pupil, yaitu memeriksa ukuran pupil, reaksi mengontrol lingkungan dengan segera. Buka seluruh pakaian
terhadap cahaya, dan kesimetrisannya. Cedera spinal bisa untuk pemeriksaan lengkap. Pada saat yg sama mulai
diperiksa dengan mengamati gerak ekstremitas spontan dan lakukan tindakan pencegahan hipotermia (beri selimut,ganti
usaha napas spontan. dengan baju kering, nyalakan pemanas).
Dapat menggunakan Glassgow Coma Scale (GCS) untuk Setelah korban dapat bernafas secara normal kembali, tetapi
penilaian secara lengkap, yaitu masih tidak sadar, lakukan posisi mantap.
Daftar Pustaka

AHA. 2015. Guidelines for CPR and ECC.


http://eccguidelines.heart.org/index.php/american-
heart-association/ ( 5 November 2015).
Montana State University-Bozeman. 1998. Performace
Benchmarks.
http://btc.montana.edu/olympics/physiology/pb01.ht
ml. (15 Oktober 2012).
Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika.
Satyanegara, dkk. 2010. Ilmu bedah Saraf Satyanegara
Edisi IV. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Tambayong Jan. 2009. Patofisiologi. Jakarta: EGC.