Anda di halaman 1dari 2

A.

Tatalaksana
1. Terapi abortif migrain (PERDOSSI, 2016).:
Abortif non spesifik: analgetik, obat anti-inflamasi non steroid (OAINS).
Abortif spesifik: triptan, dihidroergotamin, ergotamin, diberikan jika analgetik atau
OAINS tidak ada respon
Resiko medication overuse headache (MOH) harus dijelaskan ke pasien, ketika memulai
terapi migrain akut
Analgetik dan OAINS
a. Aspirin 500-1000 mg per 4-6 jam (Level of evidence: A).
b. Iburprofen 400-800mg per 6 jam (A).
c. Parasetamol 500-1000 mg per 6-8 jam untuk terapi migrain akut ringan
sampai sedang (B).
d. Kalium diklofenak (powder) 50-100 mg per hari dosis tunggal.
Antimuntah
a. Antimuntah oral atau per rektal dapat digunakan untuk mengurangi gejala
mual dan muntah dan meningkatkan pengosongan lambung (B).
b. Metokloperamid 10 mg atau domperidon 10 mg oral dan 30 mg rektal.

Triptan
a. Triptan oral dapat digunakan pada smeua migrain berat jika serangan
sebelumnya belum dapat dikendalikan dengan analgesik sederhana (A).
b. Sumatriptan 30 mg, Eletripan 40-80 mg atau Rizatriptan 10 mg (A).
Ergotamin
Ergotamin tidak direkomendasikan untuk migrain akut (A).
2. Terapi profilaksis migrain (PERDOSSI, 2016):
Prinsip umum:
a. Obat harus dititrasi perlahan sampai dosis efektif atau maksimum untuk
meminimalkan efek samping
b. Obat harus diberikan 6 sampai 8 minggu mengikuti dosis titrasi
c. Pilihan obat harus sesuai profil efek samping dan kondisi komorbid pasien
d. Setelah 6-12 bulan profilaksis efektif, obat dihentikan secara bertahap
Beta bloker
a. Propanolol 80-240 mg per hari sebagai terapi profilaksis lini pertama (A).
b. Timolol 10-15 mg dua kali/hari, dan metoprolol 45-200mg/hari, dapat digunakan
sebagai obat profilaksis alternatif (A)
Antiepilepsi
a. Topiramat 25-200 mg per hari untuk profilaksis migrain episodik dan kronik (A).
b. Asam valproat 400-1000 mg per hari untuk profilaksis migrain episodik (A)
Antidepresi
a. Amitriptilin 10-75 mg, untuk profilaksis migrain (B).
Obat anti inflamasi non steroid
a. Ibuprofen 200 mg 2 kali sehari (B).

B. Edukasi
1. Terapi komprehensif migrain mencakup terapi akut dan profilaksis, manajemenfaktor
pencetus dan gaya hidup melalui strategi self-management (PERDOSSI, 2016).
2. Pasien berperan aktif salam manajemen migrainnya (PERDOSSI, 2016).
Self-monitoring untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
migrain nya.
Mengelola faktor pencetus secara efektif
Pacing activity untuk menghindari pencetus migrain
Menghindari gaya hidup yang memperburuk migrain
Teknik relaksasi
Mempertahankan sleep hygiene yang baik.
Mampu mengelola stres
Cognitive restructuring untuk menghindari berpikir negatif.
Communication skills untuk berbicara efektif tentang nyeri pada keluarga.
3. Menggunakan obat akut atau profilaksis secara wajar (PERDOSSI, 2016).