Anda di halaman 1dari 16

I.

EFISIENSI SALURAN IRIGASI

A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Air adalah komponen ekosistem yang sangat mempengaruhi
kehidupan di alam. Hampir seluruh makhluk hidup memerlukan air untuk
bertahan hidup, berkembang, dan tumbuh. Tanaman memerlukan air
karena air merupakan kebutuhan pokok tanaman yang harus di penuhi.
Air yang didapatkan oleh tanama alaminya berasal dari air hujan dan air
dalam tanah. Namun tidak setiap saat air hujan dan air tanaman tersebut
mencukupi kebutuhan hujan. Oleh karena itu perlu adanya penambahan
air yang dibutuhkan tanaman, salah satunya dengan cara irigasi.
Irigasi adalah upaya manusia dalam menyediakan, mengatur, dan
memanfaatkan air yang berguna untuk menunjang pertanian. Definisi dari
irigasi yang lain yaitu adalah usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan
air tanaman yang tidak tercukupi oleh air hujan dan air tanah. Irigasi
meliputi irigasi permukaan, irigasi rawa, irigasi air bawah tanah, irigasi
pompa, dan irigasi tambak. Ada beberapa sumber air irigasi yang sering
digunakan, yaitu sumber utama adalah air hujan, air permukaan alami dan
buatan, serta air bumi. Pelaksanaan pemberian air kepada tanaman perlu
mengetahui kapan pemberian air dan seberapa banyak air yang diberikan.
Daerah aliran sungai (DAS) secara ekologis adalah suatu wilayah
kesatuan ekosistem yang terbentuk secara alamiah dengan pengaruh dari
manusia dan aktifitas alam lainnya. Daerah Aliran Sungai berfungsi
sebagai penampung air hujan, daerah resapan, daerah penyimpanan air,
penangkap air hujan dan pengaliran air. Kondisi sumber daya air di
Daerah Aliran Sungai (DAS) semakin hari menunjukkan kecenderungan
yang semakin menurun. Efisiensi saluran air irigasi dapat meningkatkan
efektifitas penggunaan air sehingga air irigasi tepat sasaran dan tidak
banyak terbuang. Pemanfaatan air irigasi yang baik akan meningkatkan
ketersediaan air bagi tanaman yang lebih tercukupi bagi pertumbuhan.
Pengukuran efisiensi saluran air irigasi bertujuan untuk mengetahui

1
2

kebutuhan air pada tanaman. Hal ini berkaitan dengan debit air yang
terkandung dalam saluran air irigasi baik primer, sekunder maupun
tersier.
2. Tujuan
Tujuan praktikum Efisiensi Saluran Irigasi agar mahasiswa
terampil dalam menghitung atau mengukur debit air pada saluran irigasi
dan dapat mengetahui tingkat efisiensi saluran irigasi.
B. METODOLOGI PRAKTIKUM
1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum acara Efisiensi Saluran Irigasi dilaksanakan pada hari
Sabtu, 2 April 2016 bertempat di Kecamatan Mojolaban, Kabupaten
Sukoharjo..
2. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Current meter
2) Sepatu boot
3) Tali
4) Meteran
5) Stopwatch
6) Pelampung (bola)
b. Bahan
1) Saluran irigasi sekunder
2) Saluran irigasi tersier
3. Cara Kerja
a. Memilih 2 saluran terbuka masing-masing pada saluran sekunder dan
tersier.
b. Mengukur kecepatan aliran air (V dalam m/s) menggunakan current
meter dititik awal (Qin) dan debit pada titik berikutnya yang
diasumsikan sebagai titik akhir (Qout) saluran kemudian mengukur dan
mencatat jaraknya.
3

c. Mengukur kecepatan aliran pada tiga titik (tengah dan dua pada
pinggir saluran) dan melakukan sebanyak tiga kali ulangan kemudian
menghitung rata-ratanya.
d. Mengukur kecepatan aliran pada saluran sekunder dan tersier
menggunakan metode pelampung.
e. Mencatat ketinggian penampang melintang (drata-rata) dan lebar saluran
(w) serta luas penampang basah saluran (A) dengan rumus:
A (m2) = drata-rata x w
Dimana : drata-rata (m) = (d1+d2+d3)/3
4

C. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


1. Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Hasil Perhitungan Efisiensi Saluran Irigasi
d v Q
Lebar Kedalam V
Saluran Posisi an (d)
rata- rata- rata- Efisiensi
Saluran (m/s)
rata rata rata
Sekunder In a : 260 cm 1. 76 Vp1 : 0,3 0,7633 Vp : Qp : 25,5 %
: 2,6 m Vp2 : 0,2 0,23 0,380
2. 83 Vp3 : 0,2
b : 175 cm Vd1 : 0,2 Vd : Qd :
: 1,75 m 3. 70 Vd2 : 0,3 0,26 0,430
Vd3 : 0,3
Out a : 263 cm 1. 44 Vp1 : 0,3 0,5333 Vp : Qp : 42,7 %
: 2,63 m Vp2 : 0,2 0,23 0,283
2. 70 Vp3 : 0,2
b : 199 cm Vd1 : 0,2 Vd : Qd :
: 1,99 m 3. 46 Vd2 : 0,3 0,2 0,246
Vd3 : 0,1
Tersier In w : 53 cm 1. 6,5 V1 : 0,375 0,07 V: Q: -14,3 %
(Pelampung) : 0,53 m V2 : 0,375 0,37 0,013
2. 7
3. 7,5 V3 : 0,375 5 9
Out w : 53 cm 1. 7 V1 : 0,375 0,08 V: Q:
: 0,53 m 2. 9 V2 : 0,375 0,37 0,015
3. 8 V3 : 0,375 5 9
Tersier In w : 53 cm 1. 6,5 V1 : 0,375 0,07 V: Q: -15,3 %
(Current : 0,53 m V2 : 0,375 0,37 0,010
meter)
2. 7
3. 7,5 V3 : 0,375 5 4
Out w : 53 cm 1. 7 V1 : 0,375 0,08 V: Q:
: 0,53 m 2. 9 V2 : 0,375 0,37 0,012
3. 8 V3 : 0,375 5

Sumber : Laporan Sementara


Analisis Data
a. Irigasi Sekunder
1) In
Perhitungan nilai A
1
A = 2(a+b) x t
1
= 2(2,6 + 1,75) x 0,7633
5

1
= 2 (4,35) 0,7633

= 1,653 m2
Perhitungan nilai Q
Qp =Vp x A
= 0,23 x 1,653
= 0,380 m3/s
Qd = Vd x A
= 0,26 x 1,653

= 0,430 m3/s

Perhitungan Efisiesi


Ep = 100%

0,3800,283
= 100%
0,380

= 25,5 %
2) Out
Perhitungan nilai A
1
A= (a+b) x t
2

1
= (2,63+1,99) x 0,5333
2

1
= (4,62) 0,5333
2

= 1,231 m2
Perhitungan nilai Q
Qp = Vp x A
= 0,23 x 1,231
= 0,28313 m3/s
Qd = Vd x A
= 0,2 x 1,231
= 0,2462 m3/s
6

b. Saluran Tersier (Pingpong)


1) In
Perhitungan nilai A
A=dxw
= 0,07 x 0,53
= 0,0371 m2
Perhitungan nilai Q
Q=AxV

= 0,0371 x 0,375

= 0,0139 m3/s
2) Out
Perhitungan nilai A
A=dxw
= 0,08 x 0,53
= 0,0424 m2
Perhitungan nilai Q
Q=AxV
= 0,0424 x 0,375
= 0,0159 m3/s
Perhitungan Efisiensi

E= 100%

0,01390,0159
= 100%
0,0139

= - 14,3 %
c. Saluran Tersier (Current meter)
1) In
Perhitungan nilai A

A=dxw

= 0,07 x 0,53
7

= 0,0371 m2
Perhitungan nilai Q
Q=AxV
= 0,0371 x 0,283
= 0,0104 m3/s
2) Out
Perhitungan nilai A
A=dxw
= 0,08 x 0,53
= 0,0424 m2
Perhitungan nilai Q
Q=AxV
= 0,0424 x 0,283
= 0,012 m3/s
Perhitungan Efisiensi

E= 100%

0,01040,012
= 100%
0,0104

= - 15,3 %
2. Pembahasan
Saluran irigasi merupakan saluran digunakan untuk pengaliran air
dari sumber air atau membuang kelebihan air yang digunakan pada suatu
lahan. Saluran irigasi mengalirkan air dengan kecepatan tertentu dan
efisiensi debit yang berbeda setiap saluran. Saluran irigasi dibagi menjadi
tiga yaitu saluran irigasi primer, sekunder dan tersier. Saluran irigasi yang
digunakan selama praktikum, saluran terbesar terdapat pada saluran
irigasi kemudian sekunder dan yang terakhir tersier. Saluran irigasi yang
ukurannya semakin bersar maka debit air yang dialirkan semakin besar.
Menurut Ansori et al (2013), saluran irigasi merupakan bangunan
pembawa yang berfungsi membawa air dari bangunan utama sampai
ketempat yang memerlukan. Saluran pembawa ini berupa saluran primer,
8

sekunder dan tersier. Saluran primer (saluran induk) yaitu saluran yang
langsung berhubungan dengan saluran bendungan yang fungsinya untuk
menyalurkan air dari waduk kesaluran yang lebih kecil. Saluran sekunder
yaitu cabang dari saluran primer yang membagi saluran induk kedalam
saluran yang lebih kecil (tersier). Saluran tersier yaitu cabang dari saluran
sekunder yang langsung berhubungan dengan lahan atau menyalurkan air
ke saluran-saluran kwarter. Lalu, menurut Akmal et al. (2014), Irigasi
adalah suatu usaha memberikan air untuk keperluan pertanian tanaman
padi yang dilakukan dengan cara teratur pada petak-petak sawah.
Pemberian air dapat dinyatakan efisien apabila debit air yang disalurkan
melalui sarana irigasi optimal sesuai dengan kebutuhan tanaman padi
pada lahan pertanian yang potensial. Efisiensi irigasi didefinisikan
sebagai perbandingan antara jumlah air yang diberikan dikurangi dengan
jumlah kehilangan air yang dikonsumsi atau digunakan.
Praktikum acara efisiensi saluran air ini menggunakan saluran air
primer, saluran ainr sekunder, dan saluran air tersier untuk diteliti lebih
lanjut. Bunganaen (2011) menjelaskan bahwa jaringan utama merupakan
jaringan irigasi yang berada dalam satu sistem irigasi mulai dari bangunan
utama, saluran induk atau primer, saluran sekunder, dan bangunan sadap
serta bangunan pelengkap lainnya. Saluran primer adalah saluran yang
membawa air dari bangunan utama ke saluran sekunder dan ke petak-
petak tersier yang diairi. Saluran sekunder adalah saluran yang membawa
air dari saluran primer ke saluran tersier dan petak-petak tersier yang
diairi, sedangkan jaringan tersier merupakan jaringan irigasi yang
berfungsi sebagai prasarana pelayanan air di dalam petak tersier yang
terdiri dari daluran pembawa yang disebut saluran tersier, saluran
pembagi yang disebut saluran kuarter dan saluran pembuangan.
Penghitungan debit air irigasi digunakan teknik tertentu. Teknik
atau cara yang digunakan selama praktikum terdapat dua cara yaitu
menggunakan alat current meter dan metode pelampung. Pengukuran
menggunakan alat current meter yaitu dengan memasukkan alat kedalam
9

air irigasi dimana selama pengamatan melakukan pengukuran pada


permukaan air dan air bagian dalam dengan tiga titik berbeda. Alat yang
dimasukkan pada bagian paling bawah terdapat baling-baling yang akan
bergerak apabila terdapat arus air dan kemudian gerakan tersebut dihitung
oleh bagian menghitung (count) di bagian paling atas. Pengukuran
dilakukan selama satu menit untuk setiap perlakuan. Hasil penghitungan
dengan alat didapat data c yang dapat digunakan untuk menghitung nilai
V (kecepatan aliran) dengan menggunakan rumus. Alat curent meter
memiliki kelebihan yaitu dapat menghemat waktu penghitungan aliran air
dan lebih akurat hasil perhitungannya.
Pengukuran debit pada saluran air irigasi sekunder menggunakan
alat yang bernama current meter. Metode pengukuran debit air Current
meter digunakan karena memiliki keunggulan tertentu dibandingkan
dengan metode pengukuran menggunakan pelampung, misal yaitu lebih
teliti, lebih akurat hasil pengukurannya, dan lain sebagainya. Hal ini
didukung oleh teori dari Hariany (2011), yang menyatakan bahwa
pengukuran debit saluran irigasi dilakukan dengan cara mengukur
kecepatan arus dan penampang melintang saluran dengan menggunakan
alat pengukur kecepatan (current meter). Alat ini digunakan karena
memberikan ketelitian yang cukup tinggi. Kecepatan aliram yang diukur
adalah kecepatan aliran titik dalam satu penampang tertentu. Prinsip yang
digunakan adalah hubungan antara kecepatan aliran dengan putaran
baling baling. Untuk menghitung besarnya kecepatan aliran berdasarkan
kecepatan baling baling digunakan rumus :
v = a + bn [ 1 ]
Dimana:
v = kecepatan aliran (m/dtk)
a = kecepatan permulaan untuk mengatasi gesekan dalam alat
n = banyaknya putaran per detik, n = p/t
b = konstanta
p = jumlah putaran per siklus
10

t = waktu siklus
Penghitungan dengan metode pelampung menggunakan bola kecil
(bola ping-pong) sebagai alat pelampung yang mengapung pada air dan
bergerak mengikuti aliran air. Cara melakukannya dengan memasukkan
bola kedalam air dan membiarkan bola bergerak dari titik awal (in) ke
titik akhir (out) dengan menghitung waktu tempuh menggunakan
stopwatch. Penghitungan dilakukan sebanyak tiga kali ulangan kemudian
data yang diperoleh digunakan untuk mencari kecepatan aliran air dan
kecepatan rata-ratanya. Cara penghitungan dengan pelampung termasuk
cara yang sederhana dan mudah pengaplikasiannya serta alat yang
digunakan mudah untuk didapat tetapi hasilnya kurang akurat. Penyebab
kurang akurat akibat bola yang bergerak tidak hanya lurus tetapi
terkadang berbelok atau menyangkut serta pengaruh pergerakan angin.
Menurut Gunawan dan Didik (2011), kecepatan aliran air yang dicari
atau dihitung dengan metode pelampung dapat diperoleh dengan
perhitungan data waktu (t) serta jarak (d) tempuh pelampung. Kecepatan
aliran air (V) dihitung dengan membagi jarak tempuh pelampung (m)
dengan waktu tempuh pelampung (detik) kemudian dikalikan dengan
faktor korelasi.
Menurut Sumadiyono (2012), Efisiensi irigasi didefinisikan sebagai
perbandingan antara jumlah air yang diberikan dikurangi kehilangan air
dengan jumlah yang diberikan. Kehilangan air irigasi yang terjadi selama
pemberian air disebabkan terutama oleh perembesan (seepage) di
penampang basah saluran, evaporasi (umumnya relatif kecil) dan
kehilangan operasional (operational losses) yang tergantung pada sistem
pengelolaan air irigasi. Kehilangan air irigasi dari pintu sadap tersier
sampai petakan sawah biasanya disebut sebagai efisiensi pemberian
tersier, sedangkan kehilangan air dari sadap bendung sampai ke sadap
tersier dinyatakan sebagai efisiensi pemberian air di jaringan utama.
Tingkat efisiensi pemberian air oleh petani dapat diketahui dengan
mengukur berapa jumlah air yang disalurkan lewat pintu-pintu air di
11

bangunan sadap yang dinyatakan dalam m3/detik atau liter/detik dan


mengetahui berapa jumlah air yang digunakan oleh petani sesuai dengan
kebutuhan tanaman pada petak sawah yang dilayani yang juga dapat
dinyatakan dalam m3/detik atau liter/detik. Jumlah air yang disalurkan
dapat diketahui melalui pembacaan alat ukur debit yang ada pada pintu-
pintu air atau dengan memasang alat ukur debit, sedangkan jumlah air
yang digunakan oleh petani dapat diketahui melalui perhitungan
kebutuhan air tanaman yang disesuaikan dengan fase pertumbuhan
tanaman yang ditanam oleh petani pada areal tanam yang dilayani oleh
pintu-pintu air. Besarnya tingkat efisiensi pada saluran adalah dapat
dinyatakan sebagai nisbah (perbandingan) debit air yang keluar (Q hilir)
dengan debit air yang masuk (Q hulu) dalam satu penggal saluran
(diantara dua bangunan bagi atau dari bangunan sadap sampai dengan
bangunan bagi pertama).
Berdasarkan hasil pengamatan, Penghitungan saluran sekunder
dilakukan pada tiga bagian berbeda, yaitu dua di tepi saluran dan satu di
tengah saluran. Saluran sekunder pada posisi In dengan kedalaman
masing-masing yaitu 76 cm, 83 cm, dan 70 cm didapatkan nilai d rata-rata
yaitu 0,7633 dan Vp 0,23, Vd 0,26, Qp 0,380, dan Qd 0,430. Saluran
sekunder pada posisi out dengan kedalaman masing-masing 44cm, 70 cm,
dan 46 cm didapatkan nilai d rata-rata yaitu 0,5333 dengan nilai Vp 0,23,
Vd 0,2 Qp 0,283, dan Qd 0,246. Qp dan Qd digunakan dalam perhitungan
untuk mengetahui besar efisiensi saluran irigasi. Setelah dilakukan
analisis data, hasil yang didapat adalah saluran irigasi sekunder pada
posisi in memiliki efisiensi sebesar 25,5% dan pada posisi out sebesar
42,7%.
Pengukuran pada saluran tersier dilakukan dengan 2 metode yaitu
metode pelampung dan metode current meter. Hasil dari pengukuran debit
air menggunakan metode pelampung didapatkan nilai d rata-rata sebesar
0,07 pada posisi in dan 0,08 pada posisi out. Nilai Vin dan Qin masing
sebesar 0,375 m/s dan 0,0139 m3/s. Nilai Vout dan Qout masing sebesar
12

0,375 m/s dan 0,0159 m3/s dan efisiensi sebesar -14,3%. Hasil dari
pengukuran debit air menggunakan metode current meter didapatkan nilai
d rata-rata sebesar 0,07 pada posisi in dan 0,08 pada posisi out. Nilai Vin
dan Qin masing sebesar 0,375 m/s dan 0,0104 m3/s. Nilai Vout dan Qout
masing sebesar 0,375 m/s dan 0,012 m3/s dan efisiensi sebesar -15,3%.
Nilai efisiensi yang negatif menunjukkan bahwa jumlah debit air yang
masuk tidak sama dengan jumlah debit air yang keluar. Penyebabnya
kemungkinan adalah air bocor menuju ke arah samping dan bawah
menembus tanah sehingga efisiensi pada saluran air tersier bernilai
negatif.
Besarnya efisiensi saluran irigasi pada tiap jenis saluran irigasi
berbeda-beda, hal ini sesuai dengan pendapat dari Siregar dan Ivan
(2009), Efisiensi irigasi adalah angka perbandingan dari jumlah air irigasi
nyata yang terpakai untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman dengan
jumlah air yang keluar dari pintu pengambilan (intake). Efisiensi irigasi
terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada umumnya terjadi di jaringan
utama dan efisiensi di jaringan sekunder yaitu dari bangunan pembagi
sampai petak sawah. Efisiensi irigasi didasarkan asumsi sebagian dari
jumlah air yang diambil akan hilang baik di saluran maupun di petak
sawah. Kehilangan air yang diperhitungkan untuk operasi irigasi meliputi
kehilangan air di tingkat tersier, sekunder dan primer. Besarnya masing-
masing kehilangan air tersebut dipengaruhi oleh panjang saluran, luas
permukaan saluran, keliling basah saluran dan kedudukan air tanah.
Besarnya nilai efisiensi irigasi ini dipengaruhi oleh jumlah air yang hilang
selama di perjalanan. Efisiensi kehilangan air pada saluran primer,
sekunder dan tersier berbeda-beda pada daerah irigasi. Besarnya
kehilangan air di tingkat saluran primer 80%, sekunder 90% dan tersier
90%. Sehingga efisiensi irigasi total = 90% x 90% x 80% = 65 %.
Umumnya efisiensi saluran irigasi sangat penting sekali dalam
menyokong kebutuhan air bagi tanaman dan untuk mencapai lokasi lahan
yang jauh supaya dapat dijangkau oleh air irigasi. Hal ini sesuai dengan
13

pendapat Ariyanto (2012) yang menyatakan bahwa kajian efisiensi


operasional saluran irigasi bertujuan untuk menunjang penyediaan bahan
pangan nasional sangat diperlukan, sehingga ketersediaan air di lahan
akan terpenuhi walaupun lahan tersebut berada jauh dari sumber air
permukaan. Usaha teknik irigasi yaitu memberikan air dengan kondisi
tepat mutu, tepat ruang dan tepat waktu dengan cara yang efektif serta
dengan cara ekonomis. Usaha pendayagunaan air melalui irigasi
memerlukan suatu sistem pengelolaan yang baik, sehingga pemanfaatan
air dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. Jika dilihat dari hasil
pengamatan maka dapat diketahui bahwa saluran irigasi yang paling
efisiensi yaitu pada saluran irigasi tersier karena saluran irigasi tersebut
mempunyai luas penampang yang lebih kecil dan mempunyai debit yang
paling kecil sehingga mempunyai nilai efisien paling tinggi yaitu sebesar
33,33% dan dengan hal tersebut maka air irigasi dapat menjangkau
kesemua lahan pertanian yang tempatnya jauh dari sumber air permukaan
sehingga kebutuhan air bagi semua tanaman dapat terpenuhi secara
merata.
D. KOMPREHENSIF
Saluran irigasi terbesar terletak pada saluran primer dengan debit air
terbesar. Hasil pengamatan menunjukkan perbedaan terletak pada luas
penampang, kedalaman, kecepatan, debit aliran air dan efisiensi air irigasi.
Luas penampang yang besar dengan kedalaman saluran yang dalam mampu
menampung debit air lebih banyak dibandingkan pada saluran sekunder dan
tersier. Bentuk saluran pada primer dan sekunder berupa bidang trapesium
sama kaki sedangkan saluran tersier berupa bidang persegi panjang.
Penghitungan kecepatan aliran air pada saluran primer menggunakan metode
current meter sehingga langsung didapatkan nilai c untuk menghitung
kecepatan air dengan rumus 0,000854 x c + 0,05. Penghitungan kecepatan
aliran air pada sekunder dan tersier menggunakan metode pelampung
sehingga untuk mendapatkan nilai V dilakukan secara manual dengan rumus
jarak (s) dibagi waktu (t).
14

Perbedaan dari ketiga tipe saluran tersebut terletak pada kegunaan, luas
penampang, kecepatan aliran, serta cara pengukuran. Saluran primer
berfungsi untuk menyalurkan air menuju saluran sekunder. Saluran sekunder
berfungsi untuk membawa air dari saluran primer menuju petak tersier.
Saluran tersier berfungsi untuk membawa air dari bangunan sekunder menuju
petak-petak kuarter. Ukuran luas penamnpang semakin mengecil dari mulai
saluran primer ke saluran tersier. Terdapatnya perbedaan luas penampang
menyebabkan kecepatan aliran air pada ketiga saluran irigasi tersebut juga
berbeda.
Saluran irigasi primer memiliki kecepatan tercepat dengan debit dan
efisiensi terbesar. Saluran primer mendapatkan aliran air dari daerah hulu dan
merupakan saluran irigasi utama yang kemudian menyalurkan pada saluran
irigasi selanjutnya sehingga dapat dimanfaatkan. Kecepatan aliran air pada
saluran irigasi primer apabila langsung dialirkan pada sawah dapat merusak
sawah dengan mengikis tanah pada petakan sawah. Penggunaan saluran
irigasi yang biasa digunakan pada sawah yaitu saluran irigasi tersier karena
memiliki kecepatan air yang rendah sehingga lebih efisien bagi tanaman
untuk menyerap air dan tingkat pengikisan lapisan tanahnya tidak terlalu
besar. Saluran irigasi sekunder juga dapat digunakan secara langsung untuk
mengairi lahan sawah. Kecepatan saluran primer mencapai 0,5 m/s
sedangkan untuk sekunder dan tersier hanya 0,2 m/s. Penyerapan air oleh
tanaman lebih mudah dilakukan pada kecepatan aliran air yang rendah karena
batang tanaman tidak mudah rubuh, mampu mengoptimalkan pengambilan
air dan pencucian hara dan nutrisi oleh air yang mengalir tidak terlalu cepat.
Efisiensi saluran primer yaitu 56% dan 97% sedangkan sekunder 18% dan
tersier 44%.
15

E. KESIMPULAN DAN SARAN


1. Kesimpulan
Kesimpulan acara Pengukuran pada Saluran Irigasi dan Efisiensi
Saluran antara lain:
a. Kecepatan rata-rata saluran irigasi pada sekunder bagian permukaan
yaitu 0,23 m/s (in) dan 0,23 m/s (out) sedangkan bagian air dalam
0,26 m/s (in) dan 0,2 m/s (out) serta pada saluran irigasi tersier baik
pada bagian air permukaan dan dalam pada pengukuran pelampung
ataupun current meter adalah 0,375 m/s (in) dan 0,375(out).
b. Efisiensi pada saluran sekunder 25,5% dan 42,7% dan tersier -14,3%
dan -15,3%.
c. Debit air pada saluran irigasi rata-rata untuk saluran sekunder 0,7633
m3/s dan 0,5333 m3/s sedangkan tersier 0,07 m3/s dan 0,08 m3/s.
d. Pengukuran kecepatan pada saluran sekunder menggunakan metode
current meter sedangkan untuk saluran tersier menggunakan 2
metode, yaitu metode current meter dan metode pelampung.
e. Saluran irigasi primer memiliki luas penampang saluran yang luas
dengan kecepatan, debit dan efisiensi terbesar dibandingkan dari
saluran sekunder dan tersier.
2. Saran
Saran acara Pengukuran pada Saluran Irigasi dan Efisiensi Saluran
yaitu sebaiknya saat praktikum praktikan dan co-asisten saling
berkoordinasi terutama mengenai lokasi praktikum sehingga dapat
langsung menuju lokasi.
16

DAFTAR PUSTAKA

Akmal, Masimin dan Meilianda E. 2014. Efisiensi Irigasi Pada Petak Tersier di
Daerah Irigasi Lawe Bulan Kabupaten Aceh Tenggara. Jurnal Teknik
Sipil. 3(3): 21-37.
Ansori A, Ariyanto A dan Syahroni. 2013. Kajian Efektivitas dan Efisiensi
Jaringan Irigasi Terhadap Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi. Studi
Kasus Irigasi kaiti Samo Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu.
E-JOURNAL. Vol 1(1).
Ariyanto A 2012. Kajian Efektifitas Dan Efisiensi Jaringan Irigasi Terhadap
Kebutuhan Air Pada Tanaman Padi. Jurnal Teknik Sipil. 4(12) : 13-15.
Bunganaen W. 2011. Analisis Efisiensi Dan Kehilangan Air Pada Jariringan
Utama Daerah Irigasi Air Sagu. Jurnal Teknik Sipil 4 (2): 80-92.
Gunawan dan Didik EBS. 2011. Studi Potensi Tenaga Air sebagai Energi Primer
Pembangkit Mikro Hidro di Kabupaten Pekalongan. Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-2. Semarang: Fakultas
Teknik Universitas Wahid Hasyim.
Hariany, S. 2011. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi di Saluran Sekunder pada
Berbagai Tingkat Pemberian Air di Pintu Ukur. Jurnal Rekayasa
15(3) : 225-236.
Siregar MA dan Ivan I. 2009. Evaluasi Kinerja Jaringan Irigasi Ujung Gurap
untuk Meningkatkan Efektifitas dan Efisiensi Pengolahan Air Irigasi.
Jurnal Teknik Sipil USU. 3(1) : 1-9.
Sumadiyono. 2012. Analisis Pemberian Air di Jaringan Irigasi Karau Kabupaten
Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah. E-journal.unsrat.ac.id.
diakses pada 13 Mei 2016 pukul 21.00.