Anda di halaman 1dari 13

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ANDALIMAN

PADA FASE PERTUMBUHAN BAKTERI PATOGEN


(Antibacterial Activity from Andaliman Extract During
Growth Phase of Pathogenic Bacteria)

Adolf Parhusip11

ABSTRACT
Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium DC) is one of the traditional spices
from North-Sumatera. In this andaliman was extracted by maceration method using
nonpolar, semipolar and polar solvent. The result show that the best yield and effi-
ciency achieved using ethyl acatate, methanol and hexan. Growth phase contains of
lag phase (1h),log phase (8 h) and stationary phase (16 h). Andaliman extracted using
ethyl acatate has the highest inhibition activity toward B. creus, S. aureus and S.
typhimurium with 50% concentration.

Key words: andaliman, extract, activity antibacterial

PENDAHULUAN
Dewasa ini tuntutan masyarakat terhadap kuantitas maupun kualitas bahan
pangan semakin kritis. Masalah keamanan pangan menjadi penting seiring dengan
semakin majunya tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang gizi, pangan,
dan bahan tambahan makanan (BTM). Penggunaan pengawet kimia yang banyak
menimbulkan efek samping dan merugikan konsumen telah mendorong industri pangan
untuk mencari alternatif lain, seperti pengawet alami dari tanaman. Dengan semakin
meningkatnya kebutuhan terhadap pangan olah minimal, para peneliti terus mencari
komponen antimikroba alami yang dapat digunakan.
Andaliman (Zanthoxyllum acanthopodium DC) adalah salah satu jenis rem pah
khas Sumatera Utara yang dimanfaatkan sebagai bumbu masakan tradisional gule
arsik (gulai ikan tanpa santan) dan sangsang, naniura (sejenis makanan yang diolah
dengan pengasaman selama 24 jam) (Hasairin 1994). Penggunaan andaliman semakin
berkurang karena bergesernya pola makan dan gaya hidup masyarakat. Hal ini dapat
mengakibatkan kepunahan jenis rempah andaliman. Oleh karena itu, manfaat lain dari
andaliman perlu dicari sehingga lebih berguna bagi masyarakat dan memiliki nilai

' Dosen Tidak Tetap Jurusan Teknologi Pangan UPH

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 41


ekonomi yang lebih baik. Peneliti tertarik untuk mengembangkan potensi andaliman
ini menjadi salah satu komoditi potensial sebagai bahan pangan sekaligus sumber
pengawet pangan alami.

BAHAN DAN METODE


Bahan
Biji andaliman sebagai rempah uji diperoleh dari Medan, Sumatera Utara dalam
bentuk keringbeku. Rempah andaliman kering tersebut dihaluskan dengan blender
untuk selanjutnya digunakan sebagai sampel dalam penelitian.
Bakteri uji yang digunakan ialah Staphylococcus aureus FNCC 0057, Salmo-
nella typhimurium FNCC 0134, dan Bacillus cereus FNCC 0034 yang merupakan koleksi
Pusat Antar Universitas Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Persiapan Bakteri Uji


Sebanyak satu ose bakteri dari stok agar miring diinokulasikan ke dalam media
nutrien broth (NB) dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37C. Sebanyak 0.1 ml
kultur bakteri ditambahkan ke dalam 9.9 ml media nutrien broth diinkubasikan selama
24 jam pada suhu 37C. Kultur bakteri uji (105 cfu/ml) digunakan dalam uji aktivitas
antimikroba ekstrak andaliman.

Metodologi Penelitian
1. Proses ekstraksi (Houghton dan Raman 1998)
Sampel biji andaliman keringbeku dihaluskan dan disaring dengan ukuran 40
mesh. Tepung disimpan dalam wadah plastik yang kedap udara, yang setiap saat
dapat dipergunakan selanjutnya. Adapun penggunaan pelarut yang digunakan
berdasarkan kekuatan polaritasnya, seperti disajikan pada Tabel 1.
Proses selanjutnya adalah ekstraksi senyawa-senyawa yang terkandung di
dalam biji andaliman. Sebanyak 200 gram bubuk andaliman dimaserasi dengan 400
ml pelarut non polar (heksana), kemudian disonikator selama 15 menit dan akhirnya
dishaker pada suhu 37C selama 1 hari. Campuran ini kemudian disaring menggunakan
kertas whatman, dan selanjutnya ampas bubuk andaliman tersebut dimaserasi kembali
sebanyak 2 kali dengan perlakuan sama seperti diatas sedangkan filtrat yang diperoleh
dipekatkan dengan menggunakan evaporator pada suhu 45C. Tahap ini dilakukan
untuk menghilangkan lipid dan mendapatkan ekstrak nonpolaryang terkandung dalam
andaliman. Ampas andaliman hasil penyaringan terakhir kemudian dikeringkan di dalam

42 Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


oven pada suhu 40C selama 24 jam. Perlakuan yang sama seperti diatas juga
dilakukan pada ampas yang telah kering dengan pelarut semipolar dan polarsehingga
diperoleh ekstrak semipolardan ekstrak polar.
Untuk menyempumakan hilangnya masing-masing sisa pelarut, ekstrak yang
diperoleh ditiup dengan gas nitrogen. Masing-masing ekstrak disimpan dalam botol
berwarna coklat berukuran 100 ml dan disimpan dalam refrigerator. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada skema penelitian seperti yang disajikan pada
Gambar 1.

Tabel 1. Penggunaan pelarut organik berdasarkan kekuatan polaritasnya

Polaritas Pelarut Kekuatan Pelarut


Nonpolar Heksana 0.0
Semipolar Etil asetat 3.1
Polar Metanol 5.1

2. Penentuan fase pertumbuhan bakteri uji (Lin et a/. 2000)


Tahap ini bertujuan untuk menentukan fase lag, fase eksponensial, dan fase
stasioner masing-masing bakteri. Bakteri yang digunakan adalah S. cereus, S. aureus,
S. typhimurium. Penentuannya dilakukan dengan cara sebagai berikut: satu ose dari
agar miring biakan murni NA diinokulasikan ke dalam 5 ml NB. Selanjutnya diinkubasi
selama 24 jam. Kultur yang telah 24 jam diambil sebanyak 10 V*\ diinokulasikan kembali
ke dalam 10 ml NB. Selanjutnya diinkubasi, dan diamati pada jam ke 0 sampai dengan
24 jam menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm. Setelah
diketahui masing-masing fase pertumbuhan bakteri uji, maka setiap bakteri dilakukan
penghitungan sel menggunakan alat hemasitometer.

3. Aktivitas bakterisidal ekstrak andaliman pada fase pertumbuhan bakteri


uji (Lin era/. 2000)
Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan ekstrak andaliman yang mempunyai
aktivitas tertinggi terhadap bakteri uji pada masing-masing fase. Pengujian ini dilakukan
berdasarkan atas kemampuan menghasilkan zona penghambatan berupa diameter
penghambatan suatu zat antibakieri (dalam hal ini ekstrak andaliman) terhadap bakteri
uji yang ditumbuhkan pada agar.

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 43


Andaliman
(cuci, seleksi, freeze drying)

Diekstrak pelarut nonpolar


(heksana)

Disonikator (15 menit)


V
Dishakersuhu 37 C, 1 hari

diulang
Ampas Filtrat
V
Diekstrak dengan semipolar Dipekatkan (45 C)
(etil asetat)
Ekstrak nonpolar
Disonikator (15 menit)

Dishaker suhu 37C, J hari

diulang
Ampas
1
Filtrat

* Diekstrak dengan polar Dipekatkan (45 C)


( metanol)

Ekstrak semipolar
Disonikator (15 menit)
I
Dishaker suhu 3 7C, 1 hari

Ampas Filtrat
diulang
Dipekatkan (45 C)

Ekstrak polar

Gambar 1. Diagram Alir Proses Ekstraksi Andaliman dengan Metode


Maserasi

44 Jumal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


Persiapan untuk melakukan analisis, kultur bakteri yang akan diuji disegarkan
terlebih dahulu seperti dikemukakan diatas. Medium NA steril dipersiapkan dan
didinginkan sampai suhu 50C. Ke dalam 20 ml NA steril tersebut diinokulasikan
sebanyak 0,2% kultur segar dari media NB pada fase lag, fase log dan fase stasioner
dengan konsentrasi 105 sel/ml. Kemudian media yang telah diinokulasikan tersebut
dibentuk menjadi agar cawan dengan ketebalan 4-5 mm dan pada agar yang membeku
tersebut dibentuk sumur-sumur dengan diameter 6 mm dan kedalam sumur-sumur
tersebut dimasukkan 60 pi larutan ekstrak dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%
dan 50% dan kontrol yang tidak mengandung ekstrak andaliman (Garriga ef al. 1993).
Masing-masing agar cawan tersebut diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37C.
Data yang diperoleh adalah selisih diameter penghambatan sampel dengan diameter
penghambatan kontrol. Pengukuran zona penghambatan pertumbuhan yang ditandai
dengan adanya area bening yang menunjukkan tidak adanya pertumbuhan bakteri uji.

HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Rendemen dan Efisiensi Ekstraksi
Rendemen dan kadar air andaliman segar setelah freeze dry adalah 32.29%
dan 67.71%. Efisiensi pelarut, rendemen dari andaliman segardan rendemen ekstrak
yang dihasilkan dengan menggunakan metode maserasi dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Efisiensi pelarut, rendemen dari andaliman segar dan rendemen


ekstrak andaliman dengan metode maserasi

Rendemen ekstrak Rendemen ekstrak


Jenis Efisiensi pelarut (%)
andaliman segar (%) bubuk andaliman (%)
Pelarut Rataan
Ul. 1 Ul. 2 Ul. 1 Ul. 2 Rataan Ul. 1 Ul. 2 Rataan

Heksana 88.85 89.01 88.93 8.52 6.78 7.65 4.60 8.00 6.30

Etilasetat 99.15 99.10 99.12 8.14 3.06 5.60 4.39 3.91 4.15

Metanol 97.95 98.11 98.03 5.52 2.63 4.07 2.98 3.36 3.17

Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etil asetat yang


paling efisien (99.12%) digunakan dalam mengekstrak komponen aktif andaliman yang
bersifat semipolar, diikuti dengan metanol (98.03%) dan heksana (88.93%). Sedangkan
rendemen ekstrak yang lebih tinggi dihasilkan dari buah segar adalah dengan
menggunakan pelarut heksana (7.65%), etil asetat (5.60%) dan metanol (4.07%). Hal

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No, 1, April 2004 45


ini dapat dijelaskan bahwa kandungan komponen aktif andaliman banyak mengandung
senyawa nonpolar, semipolardan polar. Demikian juga rendemen ekstrak yang diperoleh
dari bubuk andaliman mengikuti pola yang sama dengan rendemen ekstrak andaliman
segar. Murhadi (2001) mengemukakan bahwa tahapan ekstraksi berpengaruh terhadap
rendemen ekstrak heksana, ekstrak etil asetat dan ekstrak metanoi. Dikemukakan
bahwa ekstraksi dengan metode maserasi dengan pelarut semipolar (etil asetat)
dilakukan terlebih dahulu sebelum ekstraksi polar (metanoi) menghasilkan rendemen
ekstrak etil asetat lebih tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanoi.
Menurut Houghton dan Raman (1998), pelarut etil asetat (semipolar) sebagian
besar meiarutkan senyawa-senyawa alkaloid, aglikon-aglikon, dan glikosida. Pelarut
metanoi (polar) terutama dapat mengekstrak kelompok senyawa gula, asam-asam
amino, glikosida dan juga dapat meiarutkan beberapa kelompok senyawa yang juga
larut dalam petroleum eter, heksana, klorofom, etil asetat, etanol dan air dalam jumlah
dan proporsi berbeda-beda. Rendemen ekstrak heksana lebih besar dari ekstrak etil
asetat dan metanoi, terlebih jika ekstraksi heksana dilakukan lebih dahulu sebelum
ekstraksi etil asetat dan metanoi.
Komponen-komponen alkaloid dalam jaringan tanaman dapat diekstrak melalui
beberapa metode diantaranya dengan metode maserasi menggunakan aseton
(Ramsewak et a/1999); metode homogenisasi menggunakan pelarut etanol (polar)
dalam etil asetat (Holstege ef a/1995); dan metode soxhiet menggunakan metanoi
diakhiri dengan ekstraksi menggunakan diklorometan (Brookeef a/. 1996).

2. Penentuan Fase Pertumbuhan Bakteri Uji


Hasil pengukuran absorbansi untuk menentukan fase pertumbuhan bakteri uji
dapat dilihat pada Gambar 2. Maka dapat ditentukan fase pertumbuhan bakteri uji
yang dianggap mewakili seperti disajikan Tabel 3.

Tabel 3. Penentuan fase pertumbuhan bakteri uji

Bakteri Uji Fase lag Fase log Fase stasioner


B. cereus 1 jam 8 jam 16 jam
S. aureus 1 jam 8 jam 16 jam
S. typhimurium 1 jam 8 jam 16 jam

46 Jumal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


Gambar 2. Kurva pertumbuhan bakteri uji

Informasi fase pertumbuhan ini akan digunakan sebagai acuan untuk pengujian
selanjutnya, yaitu pengujian aktivitas antibakteh ekstrak nonpolar, semipolardan polar
terhadap bakteri uji.

3. Aktivitas bakterisidal ekstrak andaliman pada fase pertumbuhan


Pengujian aktivitas antibakteri terhadap ekstrak nonpolar, semipolar dan polar
andaliman terhadap sel vegetatif bertujuan untuk mengetahui potensi sifat antibakteri
ekstrak andaliman. Pengujian dilakukan dengan metode difusi sumur dengan
konsentrasi ekstrak uji 10%, 20%, 30%, 40% dan 50% (w/w) dengan konsentrasi
bakteri uji adalah 105 cfu/ml.
Pengujian ekstrak heksana pada beberapa konsentrasi terhadap bakteri uji
tidak menunjukkan aktivitas. Hal ini kemungkinan disebabkan komponen aktif yang
terdapat didalam andaliman tidak terekstrak sempurna. Kemungkinan lain juga
disebabkan media agar yang bersifat polar tidak dapat berdifusi dengan baik
terhadap ekstrak heksana sehingga menunjukkan tidak ada aktivitas
bakteri uji.

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 47


|iaoTQSlluHStyprtnunuTlj

Gambar 3. Diameter penghambatan ekstrak etil asetat pada fase lag

Gambar 4. Diameter penghambatan ekstrak metanol pada fase lag

Pada fase lag (lama kontak dengan ekstrak 1 jam), ekstrak etil asetat untuk
masing-masing konsentrasi uji menunjukkan aktivitas penghambatan tertinggi (28.85
mm) dibandingkan dengan ekstrak metanol (19.60 mm), seperti disajikan pada Gambar

48 Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


3 dan Gambar 4. B. cereus merupakan bakteri paling sensitif pada ekstrak andaliman
yang bersifat semipolar terutama dengan semakin tingginya konsentrasi, diameter
penghambatan semakin tinggi (15.55 - 28.85 mm). Sedangkan bakteri S. aureus dan
S. typhimurium lebih rendah aktivitas penghambatannya (10.70-21.60 mm).

10 20 30 40 SO
K o n i B i i f r a a i I r a k andaMman (% )
| B B c a f u O S . aurau O S . Typhmunum j

Gambar 5. Diameter penghambatan ekstrak etil asetat pada fase log

Gambar 6. Diameter penghambatan ekstrak metanol pada fase log

J urn a I llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 49


Fase log (eksponensial) (lama kontak dengan ekstrak 8 jam) merupakan kondisi
paling labil untuk setiap bakteri uji. Ekstrak etil asetat memiliki aktivitas paling tinggi
dibandingkan dengan ekstrak metanol (Gambar 5 dan Gambar 6). Pada setiap fase
pertumbuhan ternyata fase log memiliki diameter penghambatan paling besar, terutama
pada B. cereus dari setiap konsentrasi ekstrak uji.
Pada fase stasioner (lama kontak dengan ekstrak 16 jam) juga B.cereus
merupakan bakteri uji yang sensitif pada setiap konsentrasi ekstrak. Namun pada
fase stasioner bakteri uji relatif resisten terhadap ekstrak andaliman, hal ini terlihat
dari aktivitas diameter penghambatan relatif sama. Utamanya dengan ekstrak
metanol.
Gambar 5 terlihat bahwa diameter penghambatan ekstrak etil asetat pada
fase log lebih lebar daripada ekstrak metanol pada setiap fase pertumbuhan terhadap
bakteri uji. Hal ini diduga disebababkan komponen aktif lebih banyak terekstrak
dalam ekstrak etil asetat. Bakteri B. cereus merupakan bakteri Gram positif
berspora mempunyai kecenderungan lebih sensitif dibandingkan dengan bakteri
Gram negatif (S. typhimurium) hal ini disebabkan karena perbedaan struktur dinding
set bakteri. Pada bakteri Gram positif sebagian besar dinding selnya terdapat lapisan
luar yang disebut dengan membran luar yang terdiri dari lipopolisakarida, protein
dan fosfolipid dan lapisan tipis peptidoglikan (Cano dan Colome 1986). Membran luar
bakteri Gram negatif akan memberikan ketegaran yang lebih kuat dibandingkan
dengan bakteri Gram positif. Adanya ketiga senyawa ini pada membran luar
menyebabkan bakteri Gram negatif mempunyai ketahanan terhadap senyawa
antibakteri (Cuspinera, etal. 2003).
Penelitian yang dilakukan oleh Helander etal. (1998), menyebutkan bahwa
komponen fenolik dari karvakrol dan thymol mampu menghambat bakteri
Salmonella karena kemampuan senyawa ini untuk menghambat pembentukan
DNA dari bakteri tersebut. Hal ini didukung oleh Puupponen-Pimia ef al.
(2001) yang mensitir pernyataan Stammati et al. (1999), bahwa senyawa
fenolik adalah senyawa mutagenik yang dapat menyebabkan kerusakan
DNA bakteri.

50 Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


KonifitT*si h i t r a k and*timan (%f

M B enu% O S m r t u t O S typhlmunum ]

Gambar 7. Diameter penghambatan ekstrak etil asetat pada fase stasioner

Gambar 8. Diameter penghambatan ekstrak metanol pada fase stasioner

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 51


Diduga mekanisme penghambatan bakteri uji oleh ekstrak andaliman
disebabkan karena bereaksi terhadap membran sel atau komponen-komponen di dalam
sitoplasma, bukan terhadap dinding sel bakteri (Kitamoto et al. 2003). Mekanisme
aktivitas antimikroba dari koponen minyak atsiri (karvakrol, sitral, dan geraniol) dapat
menyebabkan peningkatan permeabilitas membran sel, sehingga akan menyebabkan
kehilangan unsur pokokyang menyusun sel (Kim etal. 1995). Sedangkan Nishina et
al. (1999) menunjukkan bahwa kinerja inaktivasi dari komponen anetol biji jintan manis
dapat mengakibatkan rusaknya struktur membran plasma bakteri dan asam nukleat
DNA dalam sel aktif.

KESIMPULAN
Bakteri B. cereus merupakan bakteri paling sensitif dibandingkan dengan S.
aureus dan S. typhimurium hal ini ditunjukkan dari aktivitas diameter penghambatan
dalam metode difusi sumur. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak andaliman menunjukkan
diameter penghambatan juga semakin tinggi yaitu konsentrasi 50%. Ekstrak etil asetat
memiliki aktivitas paling tinggi dibandingkan dengan ekstrak metanol pada setiap fase
pertumbuhan dan konsentrasi ekstrak andaliman. Fase log (lama kontak dengan ekstrak
8 jam) merupakan fase paling sensitif terhadap bakteri uji. Perlu diteiliti lebih lanjut
mekanisme penghambatan ekstrak andaliman terhadap bakteri patogen.

DAFTAR PUSTAKA
Brooke P, Dulpin, JH, Redley BL. 1996. Isolation of minor lupin alkaloids. A simple
procedure for the isolation of angustifoline from Lupinus angustifolius (Cv.
Fest) seeds, with application to other lupin alkaloids. J Agric Food Chem. 44:
2129-2133.
Cano RJ, Colome JS. 1986. Microbiology. New York. West Publishing.
Cuspinera VG, Dennis CW, Scott AR. 2003. Antimicrobial properties of commercial
annatto extracts against selected pathogenic, lactic acid, and spoilage micro-
organisms. J Food Protect. 66 :1074-1078.
Garriga M, Hugas M, Aymerich T, Monfort, J.M. 1993. Bacteriocinogenic Activity
of Lactobacilli from Fermentor Sausages. J Appl. Bacteriol. 75: 142-148.
Harbone, JB. 1996. Metode Fitokimia. Penuntun cara modern menganalisistumbuhan.
Edisi kedua. Terjemahan: Kosasih Padmawinata dan Iwang Sudiro: Penerbit
ITB Bandung.

52 Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004


Hasairin, A. 1994. Etnobotani Rempah dalam Makanan Adat Masyarakat Batak, Angkola
dan Mandailing. [Tesis]. Bogor: Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian
Bogor.
Helander LM, Alakomi HL, Latva-Kala K. 1998. Characterization of the action as
selected essential oil components on Gram-negatif bacteria. J Agric Food Cherh
46: 3590-3595.
Holstege DM, James NS, Fred DG. 1995. Rapid multiresidue screen for alkaloids in
plant material and biological samples. J Agric Food Chem. 43: 691-699.
Houghton, PJ dan Raman, A. 1998. Laboratory handbook for the fractination of natural
extracts. Thomson Science: London.
Keller AC, Maillard MP, Hostettmann K. 1996. Antimicrobial steroids from the fungus
Fomitopsis pinicola. Phytochem. 41 (4): 1041-1046.
Kim JM, Marshal MR, Cornell JA, Boston JF, Wei CI. 1995. Antibacterial activity of
carvacrol, citral and geraniols against Salmonella typhimurium in culture me-
dium and fish cubes. J Food Sci 60 (6): 1365-1368.
Kitamoto N, Yoji K, Takashi O, Masaharu Y, Tomoyuki T, Keisuke T. 2003. Bacteri-
cidal effects of konjac fluid on several food-poisoning bacteria. J food Protect.
66:1822-1831.
Lin CM, James FP, Cheng IW. 2000. Antibacterial Mechanism ofAllyl Isothiocyanate.
J. Food Protect. Vol 63 (6): 727-734.
Murhadi. 2002. Isolasi dan Karakterisasi Komponen-komponen Antibakteri dari Biji
Atung (Parinarium glaberimum Hassk). [Disertasi]. Institut Pertanian Bogor.
Nishina AK, Kinaichi H, Uvhibori T, Seino H, Osawa T. 1991. 2,6-dmethoxy-p-
benzequinone as an antimicrobial subtance in the bark of Phylloostachys
heterocycia var Pubscens as a species of thick-stemmed bamboo. J Agric
Food Chem 39:266-269.
Puupponen-Pimia R, Nohynek L, Meier C, Kahkonen M, Heihonen M. 2001. Antimi-
crobial properties of phenolic compound from berries. J Appl Microbiol 90:494-
507.
Ramsewak RS, Muller GN, Gould MS, Dewit DL, Jack LN. 1999. Biological active
carbazole alkaloids from Murraya koeniglii. J Agric Food Chem 47: 444-447

Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 53