Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN CHOLELITHIASIS

Di susun oleh:

Anindya Sekar Utami

20164030076

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

2017
A. DEFINISI
Kolelithiasis adalah batu empedu yang merupakan gabungan dari beberapa unsur
yang membentuk suatu material mirip batu yang dapat ditemukan dalam kandung
empedu (cholecystolithiasis) atau di dalam saluran empedu (choledocholithiasis) atau
pada kedua-duanya (Sjamsuhidayat & de Jong W, 2012).

B. KLASIFIKASI
1. Batu kolesterol
Batu kolesterol mengandung >50% kolesterol dan sisanya terdiri dari protein dan
garam kalsium. Batu kolesterol juga sering mengandung kristal kolesterol dan
musin glikoprotein. Kristal kolesterol yang murni biasanya agak lunak dan adanya
protein menyebabkan konsistensi batu empedu menjadi lebih keras.
2. Batu Pigmen
Batu pigmen merupakan campuran dari garam kalsium yang tidak larut,
terdiri dari kalsium bilirubinat, kalsium fosfat, dan kalsium karbonat. Kolesterol
terdapat dalam batu pigmen dalam jumlah yang kecil yaitu 10% dalam batu
pigmen hitam dan 10-30% dalam batu pigmen coklat. Batu pigmen dibedakan
menjadi dua yaitu batu pigmen hitam dan batu pigmen coklat, keduanya
mengandung garam kalsium dari bilirubin. Batu pigmen hitam mengandung
polimer dari bilirubin dengan musin glikoprotein dalam jumlah besar, sedangkan
batu pigmen coklat mengandung garam kalsium dengan sejumlah protein dan
kolesterol yang bervariasi.
3. Batu campuran antara kolesterol dan pigmen dimana mengandung 20-50%
kolesterol.
C. ETIOLOGI
Empedu normal terdiri dari 70% garam empedu (terutama kolik dan asam
chenodeoxycholic), 22% fosfolipid (lesitin), 4% kolesterol, 3% protein dan 0,3%
bilirubin. Etiologi batu empedu masih belum diketahui dengan sempurna namun yang
paling penting adalah gangguan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan
susunan empedu, stasis empedu dan infeksi kandung empedu. Sementara itu,
komponen utama dari batu empedu adalah kolesterol yang biasanya tetap berbentuk
cairan. Jika cairan empedu menjadi jenuh karena kolesterol, maka kolesterol bisa
menjadi tidak larut dan membentuk endapan di luar empedu (Smeltzer & Bare, 2014).

D. FAKTOR RISIKO
1. Jenis Kelamin
Wanita besiko 3x lipat terkena kolelitiasis dibandingkan pria. Ini dikarenakan oleh
hormon estrogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh
kandung empedu. Kehamilan, yang meningkatkan kadar estrogen juga
meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi
hormon (estrogen) juga meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan
penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu.
2. Usia
Usia >40 tahun cenderung terkena kolelitiasis dibandingkan usia muda karena
adanya proses aging, yaitu suatu proses menghilangnya kemampuan jaringan
untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan
fungsi normalnya.Selain itu, semakin bertambah usia menyebabkan bertambahnya
sekresi kolesterol oleh hati dan menurunnya sintesis asam empedu.
3. Berat badan (BMI)
Orang dengan Body Mass Index (BMI) tinggi memiliki resiko lebih tinggi terjadi
kolelitiasis karena dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung
empedu pun tinggi, dan mengurangi kontraksi/pengosongan kandung empedu.
4. Makanan
Konsumsi makanan mengandung lemak terutama lemak hewani beresiko
menderita kolelitiasis. Kolesterol merupakan komponen dari lemak. Jika kadar
kolesterol yang terdapat dalam cairan empedu melebihi batas normal, maka cairan
empedu dapat mengendap dan lama kelamaan menjadi batu.
5. Aktifitas fisik
Kurangnya aktifitas fisik berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya
kolelitiasis karena kandung empedu akan lebih sedikit berkontraksi.
6. Nutrisi intravena jangka lama
Nutrisi intravena jangka lama mengakibatkan kandung empedu tidak terstimulasi
untuk berkontraksi karena tidak ada makanan/ nutrisi yang melewati intestinal.
Sehingga resiko terbentuknya batu menjadi meningkat dalam kandung empedu.

E. MANIFESTASI KLINIS
Sebagian besar pasien kolelitiasis adalah asimptomatis (tidak ada gejala). Jika
simptomatis, gejala yang mungkin timbul adalah nyeri dan kolik bilier, ikterus,
perubahan warna urin dan feses dan defisiensi vitamin (Smeltzer dan Bare, 2014).
1. Nyeri dan kolik bilier: nyeri dan kolik bilier disebabkan karena obstruksi pada
duktus sistikus yang tersumbat oleh batu empedu sehingga terjadi distensi dan
menimbulkan infeksi. Kolik bilier tersebut disertai nyeri hebat pada abdomen
kuadran kanan atas, pasien akan mengalami mual dan muntah dalam beberapa jam
sesudah mengkonsumsi makanan dalam porsi besar.
2. Ikterus: obstruksi pengaliran getah empedu ke dalam duodenum akan
menimbulkan gejala khas, yaitu getah empedu tidak dibawa kedalam duodenum
sehingga diserap oleh darah yang membuat kulit dan membran mukosa berwarna
kuning dan terasa gatal-gatal di kulit.
3. Perubahan warna urin: warna urin yang berwarna sangat gelap dan feses yang
tampak kelabu dan pekat.
4. Defisiensi vitamin: obstruksi aliran empedu dalam waktu lama juga akan
mengganggu absorpsi vitamin A, D, E dan K yang larut lemak sehingga
menyebabkan defisiensi vitamin tersebut. Defisiensi vitamin K dapat menghambat
proses pembekuan darah yang normal.
F. PATOFISIOLOGI
Empedu memainkan peranan penting dalam pencernaan dan absorpsi lemak,
karena asam empedu yang melakukan dua hal antara lain: asam empedu membantu
mengemulsikan partikel-partikel lemak yang besar menjadi partikel yang lebih kecil
dengan bantuan enzim lipase yang disekresikan dalam getah pankreas, asam empedu
membantu transpor dan absorpsi produk akhir lemak yang dicerna menuju dan
melalui membran mukosa intestinal. Empedu juga bekerja sebagai suatu alat untuk
mengeluarkan beberapa produk buangan yang penting dari darah, antara lain bilirubin,
suatu produk akhir dari penghancuran hemoglobin, dan kelebihan kolesterol yang di
bentuk oleh sel- sel hati. Pada keadaan normal, asam empedu, lesitin dan fosfolipid
membantu dalam menjaga solubilitas empedu. Bila empedu menjadi bersaturasi tinggi
(supersaturated) oleh substansi berpengaruh (kolesterol, kalsium, bilirubin), akan
berkristalisasi dan membentuk nidus untuk pembentukan batu. Kristal yang terbentuk
terjebak dalam kandung empedu, kemudian kristal tersebut bertambah ukuran,
beragregasi, melebur dan membentuk batu (Guyton, 2014).
Batu kolesterol terjadi karena konsentrasi kolesterol di dalam cairan empedu
tinggi. Ini akibat dari kolesterol di dalam darah cukup tinggi. Jika kolesterol di
kandung empedu tinggi, pengendapan akan terjadi dan lama-kelamaan menjadi batu.
Kolesterol yang merupakan unsur normal pembentuk empedu bersifat tidak larut
dalam air. Kelarutannya bergantung pada asam-asam empedu dan lesitin (fosfolipid)
dalam empedu. Pada pasien yang cenderung menderita batu empedu akan terjadi
penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan sintesis kolesterol dalam hati;
keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu oleh kolesterol yang
kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan membentuk batu. Getah empedu
yang jenuh oleh kolesterol merupakan predisposisi untuk timbulnya batu empedu dan
berperan sebagai iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung empedu
(Smeltzer dan Bare, 2014).
Batu pigmen hitam umumnya dijumpai pada pasien sirosis atau penyakit
hemolitik kronik seperti thalasemia dan anemia sel sikle. Batu pigmen coklat sering
dihubungkan dengan kejadian infeksi. Batu pigmen akan terbentuk bila pigmen tak
terkonjugasi dalam empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi
batu (Smeltzer dan Bare, 2014).
G. PATHWAY
H. KOMPLIKASI
1. Kolesistisis: peradangan pada kandung empedu, dimana terdapat obstruksi atau
sumbatan pada leher kandung empedu atau saluran kandung empedu, yang
menyebakan infeksi dan peradangan pada kandung empedu.
2. Kolangitis: peradangan pada saluran empedu yang terjadi karena adanya infeksi
yang menyebar akibat obstruksi pada saluran empedu.
3. Hidrops: obstruksi kronik dari kandung empedu yang biasa terjadi di duktus
sistikus sehingga kandung empedu tidak dapat diisi lagi oleh empedu.
4. Emfiema: kandung empedu yang berisi nanah. Komplikasi pada pasien yang
mengalami emfiema membutuhkan penanganan segera karena dapat mengancam
jiwa (Sjamsuhidajat, 2012).
I. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan diagnostik untuk kolelitiasis adalah (Smeltzer & Bare, 2014):
1. Pemeriksaan Sinar-X Abdomen, dapat dilakukan jika terdapat kecurigaan
penyakit kandung empedu dan menyingkirkan penyebab gejala lain. Namun hanya
15-20% batu empedu yang cukup kalsifikasi untuk dapat tampak melalui sinar-x.
2. Ultrasonografi, pemeriksaan USG dapat dilakukan secara cepat, akurat, dan dapat
dilakukan pada penderita disfungsi hati dan ikterus. Pemeriksaan USG mendeteksi
kalkuli dalam kandung empedu atau duktus koledokus yang mengalami dilatasi.
3. ERCP (Endoscopic Retrograde Cholangio Pancreatography), pada pemeriksaan
ini sebuah kanul dimasukkan ke dalam duktus koledokus serta duktus
pankreatikus, kemudian bahan kontras disuntikkan ke dalam duktus tersebut untuk
memungkinkan visualisasi serta evaluasi percabangan bilier.
4. Kolangiografi Transhepatik Perkutan, pemeriksaan dengan cara menyuntikkan
bahan kontras langsung ke dalam percabangan bilier. Karena konsentrasi bahan
kontras yang disuntikkan itu relatif besar, maka semua komponen pada sistem
bilier (duktus hepatikus, duktus koledokus, duktus sistikus dan kandung empedu)
dapat dilihat garis bentuknya dengan jelas.
5. MRCP (Magnetic Resonance Cholangiopancreatography), merupakan teknik
pencitraan dengan gema magnet tanpa menggunakan zat kontras, instrumen, dan
radiasi ion. Pada MRCP saluran empedu terlihat sebagai struktur yang terang
karena mempunyai intensitas sinyal tinggi, sedangkan batu empedu akan terlihat
sebagai intensitas sinyal rendah yang dikelilingi empedu dengan intensitas sinyal
tinngi, sehingga metode ini cocok untuk mendiagnosis batu saluran empedu.
J. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Non Bedah
a. ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithoripsy): merupakan prosedur non-
invasif yang menggunakan gelombang kejut berulang (repeated shock waves)
yang diarahkan kepada batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus
koledokus dengan maksud untuk memecah batu tersebut menjadi sebuah
fragmen/bentuk yang lebih kecil.
b. MTBE (monooktanion atau metil tertier butil eter): suatu metode melarutkan
batu empedu dengan menginfuskan suatu bahan pelarut) ke dalam kandung
empedu. Pelarut tersebut dapat diinfuskan melalui selang atau kateter yang
dipasang perkutan langsung ke dalam kandung empedu; melalui selang atau
drain yang dimasukkan melalui saluran T-Tube untuk melarutkan batu yang
belum dikeluarkan pada saat pembedahan; melalui endoskop ERCP; atau
kateter bilier transnasal.
2. Penatalaksanaan Bedah
1. Open kolesistektomi, operasi ini merupakan standar penanganan pasien
dengan batu empedu simptomatik. Indikasi paling umum adalah kolesistitis
dan kolik biliaris rekuren (berulang). Komplikasi berat jarang terjadi, meliputi
perdarahan dan infeksi.
2. Kolesistektomi laparoskopik, adalah teknik pembedahan invasif minimal di
dalam rongga abdomen dengan menggunakan pneumoperitoneum sistim
endokamera dan instrumen khusus melalui layar monitor tanpa melihat dan
menyentuh langsung kandung empedunya. Keuntungan dari kolesistektomi
laparoskopik adalah meminimalkan rasa nyeri, mempercepat proses
pemulihan, masa rawat yang pendek dan luka operasi yang minimal.
K. PENCEGAHAN
Pencegahan kolelitiasis dimulai dari masyarakat yang sehat yang memiliki faktor
risiko sebagai upaya untuk mencegah peningkatan kasus kolelitiasis pada masyarakat
dengan cara tindakan promotif dan preventif. Tindakan promotif yang dapat
dilakukan adalah dengan cara mengajak masyarakat untuk hidup sehat, menjaga pola
makan, dan perilaku atau gaya hidup yang sehat. Sedangkan tindakan preventif yang
dapat dilakukan adalah dengan meminimalisir faktor risiko penyebab kolelitiasis,
seperti menurunkan makanan yang berlemak dan berkolesterol, meningkatkan makan
sayur dan buah, olahraga teratur dan perbanyak minum air putih.
L. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Anamnesa
2. Identitas Pasien
3. Keluhan utama: nyeri kuadran kanan atas
4. Sejarah/Riwayat
a. Menentukan berat, ras, jenis kelamin, umur. Riwayat kehamilan, pil KB,
esterogen, atau hormone suplemen.
b. Kecenderungan makan (kesenangan makan) menentukan apakah dietnya
berlebihan lemak dan kolesterol.
c. Riwayat keluarga : Batu empedu, pengobatan medis, dan operasi
5. Pemeriksaan Umum
a. Aktivitas dan istirahat:
- Subyektif : kelemahan
- Obyektif : kelelahan
b. Sirkulasi :
Obyektif : Takikardia, Diaphoresis (berkeringat banyak)
c. Eliminasi :
- Subyektif : Perubahan pada warna urine dan feces
- Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan
atas, urine pekat.
d. Makan / minum (cairan)
Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.
- Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
- Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
- Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
- Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.
Obyektif :
- Kegemukan
- Kehilangan berat badan (kurus)
e. Nyeri/ Kenyamanan :
Subyektif
- Nyeri abdomen menjalar ke punggung sampai ke bahu. Dirasakan tiba-tiba
- Nyeri epigastrium setelah makan.
f. Respirasi :
Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak
nyaman.
g. Keamanan
Obyektif : demam menggigil, jaundice, kulit kering dan pruritus, risiko
perdarahan (defisiensi vitamin K)

M. MASALAH KEPERAWATAN
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien kolelithiasis adalah:
1. Diagnosa pre operatif
a. Nyeri akut
b. Ansietas
c. Nausea
d. Insomnia
e. Hambatan mobilitas fisik
f. Risiko perdarahan
g. Kerusakan integritas kulit
h. Ketidakefektifan pola napas
2. Diagnosa post operatif
a. Nyeri akut
b. Hambatan mobilitas fisik
c. Resiko infeksi
N. ASUHAN KEPERAWATAN (NANDA-NOC-NIC)
No Dx Keperawatan NOC NIC Rasional
1. Nyeri Akut Pain Level, Pain control, Pain Management, Relaxation
Definisi: Comfort level Therapy, Pemijatan, Mobility
Pengalaman sensori dan emosional Mampu mengontrol - Kaji nyeri secara komprehensif: - Mengetahui keadaan terbaru
tidak menyenangkan yang muncul nyeri (tahu penyebab lokasi, karakteristik, onset/durasi, pasien dan membantu menentukan
akibat kerusakan jaringan aktual nyeri, frekuensi, kualitas, skala, tindakan yang akan dilakukan,
atau potensial atau yang Melaporkan bahwa intensitas/beratnya nyeri, faktor sebagai bahan evaluasi
digambarkan sebagai kerusakan; nyeri berkurang pencetus
awitan yang tiba-tiba atau lambat dengan menggunakan - Observasi TTV - Mengetahui perkembangan pasien
dari intensitas ringan hingga berat manajemen nyeri - Observasi petunjuk nonverbal - Reaksi nonverbal adalah respon
dengan akhir yang dapat Mampu mengenali mengenai ketidaknyamanan yang dapat dilihat dan menjadi
diantisipasi atau diprediksi. nyeri (skala, evaluasi
Batasan karakteristik: intensitas, frekuensi - Kontrol faktor lingkungan yang - Lingkungan yang nyaman
- Diaforesis dan tanda nyeri) mempengaruhi nyeri seperti suhu membantu pasien dalam
- Dilatasi pupil Menyatakan rasa ruangan, pencahayaan, dan mengontrol nyeri
- Ekspresi wajah nyeri nyaman setelah nyeri kebisingan
- Fokus menyempit berkurang - Ajarkan terapi relaksasi: napas - Slow deep breathing memberikan
- Fokus pada diri sendiri Tanda vital dalam dalam (Slow deep breathing) efek rileks dan tenang. Suasana
- Perubahan posisi untuk rentang normal dengan cara tarik napas dalam rileks dapat meningkatkan hormon
menghindari nyeri selama 4 detik, tahan 3 detik, endorphin yang berfungsi
- Putus asa keluarkan melalui mulut selama 5 menghambat tranmisi impuls nyeri
- Sikap melindungi area nyeri detik. lakukan selama 5-10 menit sepanjang saraf sensoris dari
Faktor yang berhubungan: nosiseptor saraf perifer ke kornu
- Agens cedera biologis dorsalis kemudian ke thalamus,
- Agens cedra fisik serebri yang mengakibatkan
- Agens cedera kimiawi menurunnya persepsi nyeri
- Mobilisasi dini - Latihan ambulasi dini dapat
meningkatkan sirkulasi darah
yang akan memicu penurunan
nyeri dan penyembuhan luka
lebih cepat. Terapi latihan dan
mobilisasi merupakan modalitas
yang tepat untuk memulihkan
fungsi tubuh bukan saja pada
bagian yang mengalami cedera
tetapi juga pada keseluruhan
anggota tubuh
- Kolaborasi pemberian analgesik: - Ketorolac: penatalaksanaan nyeri
ketorolac sedang hingga berat.jangka pendek
1. Hambatan Mobilitas Fisik Mobility Level Exercise Therapy: Joint Mobility
Definisi: keterbatasan dalam Kriteria hasil: - Kaji kemampuan pasien - Untuk mengetahui sejauh
gerakan fisik atau satu atau lebih - Klien meningkat dalam dalam mobilisasi mana kemampuan pasien
ekstremitas secara mandiri dan aktivitas fisik dalam mobilisasi.
terarah - Mengerti tujuan dari - Monitor TTV sebelum/setelah - Sebagai bahan evaluasi dan
Batasan karakteristik peningkatan mobilitas latihan dan lihat repon pasien mengantisipasi hal yang
- Dispnea setelah beraktifitas - Memverbalisasikan saat latihan buruk pada pasien
- Gangguan sikap berjalan perasaan dalam - Inisiasi pengukuran kontrol - Mengurangi rasa tidak
- Gerakan lambat meningkatkan nyeri sebelum latihan nyaman pada pasien
- Gerakan spastik kekuatan dan - Latih pasien untuk melakukan - ROM meningkatkan rentang
- Gerakan tidak terkoordinasi kemampuan berpindah ROM gerak, kekuatan otot,
- Instabilita postur - Memperagakan stabilitas sendi dan
- Kesulitan membolak-balik posisi penggunaan alat bantu kardiovaskuler.
- Keterbatasan rentang gerak untuk mobilisasi - Dorong, dampingi dan bantu - Memotivasi kemadirian
- Ketidaknyamanan (misal: walker) pasien saat mobilisasi dan pasien dalam mobilisasi dan
- Melakukan aktivitas lain sebagai bantu penuhi kebutuhan bantu pasien saat pasien tidak
pengganti pergerakan bisa melakukan mobilisasi
- Penurunan kemampuan - Jelaskan pada pasien dan - Menambah pengetahuan dan
keterampilan motorik halus keluarga manfaat dan tujuan keterampilan keluarga serta
- Penurunan kemampuan dilakukan latihan pasien, sehingga dapat
keterampilan motorik kasar - Ajarkan latihan ROM pasif, melakukan sendiri setelah
- Penurunan waktu reaksi ROM dengan bantuan, atau keluar dari rumah sakit
- Tremor akibat bergerak ROM aktif - Terapi pasien lebih maksimal
- Kolaborasi dengan fisioterapi dan terarah.
Faktor yang berhubungan
- Agens farmaseutikal
- Ansietas
- Depresi
- Fisik tidak bugar
- Gangguan fungsi kognitif
- Gangguan metabolisme
- Gangguan muskulokeletal
- Gangguan neuromuskular
- Gangguan sensoriperseptual
- Gaya hidup kurang gerak
- IMT >persentil ke-75 sesuai usia
- Intoleransi aktivitas
- Kaku sendi
- Keengganan memulai pergerakan
- Kepercayaan budaya tentang
aktivitas yang tepat
- Kerusakan integritas tulang
- Keterlambatan perkembangan
- Kontraktur
- Kurang dukungan lingkungan
(mis. Fisik atau sosial)
- Kurang pengetahuan tentang
nilai aktivitas fisik
- Malnutrisi
- Nyeri
- Penurunan kekuatan otot
- Penurunan kendali otot
- Penurunan ketahanan otot
- Program pembatasan gerak
3. Risiko Infeksi Kontrol Risiko: Proses Kontrol Infeksi & Perawatan Luka
Definisi: Infeksi
Rentan mengalami invasi dan Kriteria Hasil: - Monitor TTV - Mengetahui keadaan terbaru
multiplikasi organisme patogenik pasien dan membantu menentukan
yang dapat mengganggu kesehatan - Suhu tubuh normal tindakan/latihan yang akan
Faktor Risiko: (36,5-37,50C) dilakukan, TTV juga sebagai
- Kurang pengetahuan untuk - Tidak terdapat tanda- indikator tanda-tanda infeksi.
menghindari pemajanan tanda infeksi - Observasi balutan luka terhadap - Mengetahui perkembangan luka:
patogen - Pasien dan keluarga adanya rembesan cairan dan tanda- semakin baik atau buruk
- Malnutrisi dapat mengidentifikasi tanda infeksi.
- Obesitas tanda dan gejala infeksi
- Penyakit kronis (mis: DM) - Lakukan perawatan luka - Meminimalkan risiko infeksi
- Prosedur invasif
Pertahanan Tubuh Primer Tidak
Adekuat - Ajarkan pasien dan keluarga untuk - Mengetahui tanda-tanda infeksi
- Gangguan integritas kulit mengenali tanda dan gejala infeksi lebih dini sehingga mencegah
- Gangguan peristaltis dan kapan harus melaporkannya keadaan yang semakin buruk
- Merokok pada petugas kesehatan
- KPD - Ajarkan pasien dan keluarga cara - Menghindari transfer
- Pecah ketuban lambat cuci tangan 6 langkah untuk mikroorganinsme
- Penurunan kerja siliaris mencegah infeksi
- Perubahan pH sekresi - Jaga pasien tetap bersih dan kering - Memaksimalkan intervensi yang
- Stasis cairan tubuh - Kolaborasi pemberian antibiotik diberikan pada pasien
Pertahanan Tubuh Sekunder Tidak
Adekuat
- Imunosupresi
- Leukopenia
- Penurunan hemoglobin
- Supresi respon inflamasi
- Vaksinasi tidak adekuat
DAFTAR PUSTAKA

Lesmana. (2011). Buku Ajar Penyakit Dalam Jilid 1. Edisi 3. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Schwartz S, Shires G, Spencer F. (2010). Prinsip-prinsip Ilmu Bedah (Principles of
Surgery. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sjamsuhidayat & de Jong W. (2012). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta: EGC.
Price SA, Wilson LM. (2011). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, edisi
4. Jakarta : EGC.
Guyton AC, Hall JE. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Smeltzer & Bare. (2014). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner&Suddarth.
Edisi 8 Volume 2. (Waluyo, A., Kariasa, M., Julia, Kuncara, A., & Asih, Y.,
Penerjemah). Jakarta: EGC