Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

KOROSI

DI SUSUN OLEH:

DAYANARA CARISSA B.

PERDEDE, GIOVANNI

SERINA THALIA G.

XII IPA 3

YAYASAN ELIFA MITRA SETIA

SMAK.ST.FRANSISKUS ASSISI
I. JUDUL : KOROSI

II. TUJUAN :

1. Mengamati faktor-faktor yang menyebabkan korosi pada logam


2. Mengetahui cara pencegahan korosi pada besi
3. Untuk dapat mengetahui proses korosi dan paku manakah yang menjadi berkarat
setelah dimasukkan ke zat cair
III. LANDASAN TEORI
A. Pengertian Besi dan Korosi

1. Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai
dengan yang merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe
dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya

Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:


Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar,
Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi
menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang
atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat
dicegah dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan
tetapi proses ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink
dan Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.

2. Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara
suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan
senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi
disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau
karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang
berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu
dari besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang
bertindak sebagai katode, di mana oksigen tereduksi .
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion
besi(III) yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat
besi. Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan
bagian mana yang bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor,
misalnya zat pengotor, atau perbedaan rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena
logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada
definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses
ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di
alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah
diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan
baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan
lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui
kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada
banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida
dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat
berbeda bila masih bersih dari oksida.

B. Penyebab korosi dan Pengendalian korosi

1. Penyebab korosi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi suatu logam dapat terkorosi dan kecepatan laju
korosi suatu logam. Suatu logam yang sama belum tentu mengalami kasus korosi yang
sama pula pada lingkungan yang berbeda. Begitu juga dua logam pada kondisi
lingkungan yang sama tetapi jenis materialnya berbeda, belum tentu mengalami korosi
yanga sama. Dari hal tersebut, maka dapat dikatakan bahwa terdapat dua faktor yang
dapat mempengaruhi korosi suatu logam, yaitu faktor metalurgi dan faktor lingkungan.

1. Faktor Metalurgi
Faktor metalurgi adalah pada material itu sendiri. Apakah suatu logam dapat tahan
terhadap korosi, berapa kecepatan korosi yang dapat terjadi pada suatu kondisi, jenis
korosi apa yang paling mudah terjadi, dan lingkungan apa yang dapat menyebabkan
terkorosi, ditentukan dari faktor metalurgi tersebut.
Yang termasuk dalam faktor metalurgi antara lain :

a. Jenis logam dan paduannya


Pada lingkungan tertentu, suatu logam dapat tahan tehadap korosi.Sebagai contoh,
aluminium dapat membentuk lapisan pasif pada lingkungan tanah dan air biasa,
sedangkan Fe, Zn, dan beberapa logam lainnya dapat dengan mudah terkorosi.

b. Morfologi dan homogenitas


Bila suatu paduan memiliki elemen paduan yang tidak homogen, maka paduan
tersebut akan memiliki karakteristik ketahanan korosi yang berbeda-beda pada tiap
daerahnya.
c. Perlakuan panas
Logam yang di-heat treatment akan mengalami perubahan struktur kristal atau
perubahan fasa. Sebagai contoh perlakuan panas pada temperatur 500-800 0C
terhadap baja tahan karat akan menyebabkan terbentuknya endapan krom karbida
pada batas butir. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya korosi intergranular pada
baja tersebut. Selain itu, beberapa proses heat treatment menghasilkan tegangan
sisa. Bila tegangan sisa tesebut tidak dihilangkan, maka dapat memicu terjadinya
korosi retak tegang.
d. Sifat mampu fabrikasi dan pemesinan
Merupakan suatu kemampuan material untuk menghasilkan sifat yang baik setelah
proses fabrikasi dan pemesinan. Bila suatu logam setelah fabrikasi memiliki
tegangan sisa atau endapan inklusi maka memudahkan terjadinya retak.
2. Faktor Lingkungan
Faktor-faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi korosi antara lain:
a) Komposisi kimia
Ion-ion tertentu yang terlarut di dalam lingkungan dapat mengakibakan jenis
korosi yang berbeda-beda.Misalkan antara air laut dan air tanah memiliki sifat
korosif yang berbeda dimana air laut mengandung ion klor yang sangat reaktif
mengakibatkan korosi.Gambar berikut menunjukkan pengaruh komposisi
elemen paduan terhadap ketahan korosi terhadap paduan tembaga.

b) Konsentrasi

Konsentrasi dari elektrolit atau kandungan oksigen akan mempengaruhi


kecepatan korosi yang terjadi. Pengaruh konsentrasi elektrolit terlihat pada
laju korosi yang berbeda dari besi yang tercelup dalam H2SO4 encer atau
pekat, dimana pada larutan encer, Fe akan mudah larut dibandingkan dalam
H2SO4 pekat. Pengaruh konsentrasi terhadap laju korosi dapat dilihat pada
gambar berikut.Suatu logam yang berada pada lingkungan dengan kandungan
O2 yang berbeda akan terbagi menjadi dua bagian yaitu katodik dan anodik.
Daerah anodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang rendah dan
katodik terbentuk pada media dengan konsentrasi O2 yang tinggi.

c) Temperatur

Pada lingkungan temperatur tinggi, laju korosi yang terjadi lebih tinggi
dibandingkan dengan temperatur rendah, karena pada temperatur tinggi
kinetika reaksi kimia akan meningkat.
Gambar berikut menunjukkan pengaruh temperatur terhadap laju korosi pada
Fe. Semakin tinggi temperatur, maka laju korosi akan semakin meningkat,
namun menurunkan kelarutan oksigen. Sehingga pada suatu sistem terbuka,
diatas suhu 800C, laju korosi akan mengalami penurunan karena oksigen akan
keluar sedangkan pada suatu sistem tertutup, laju korosi akan terus menigkat
karena adanya oksigen yang terlarut.

d) Gas, cair atau padat


Kandungan kimia di medium cair, gas atau padat berbeda-beda. Misalkan
pada gas, bila lingkungan mengandung gas asam, maka korosi akan mudah
terjadi (contohnya pada pabrik pupuk). Kecepatan dan penanganan korosi
ketiga medium tersebut juga dapat berbeda-beda.Untuk korosi di udara,
proteksi katodik tidak dapat dilakukan, sedangkan pada medium cair dan
padat memungkinkan untuk dilakukan proteksi katodik.

e) Kondisi biologis
Mikroorganisme seperti bakteri dan jamur dapat menyebabkan terjadinya
korosi mikrobial terutama sekali pada material yang terletak di
tanah.Keberadaan mikroorganisme sangat mempengaruhi konsentrasi oksigen
yang mempengaruhi kecepatan korosi pada suatu material.

2. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur berbagai barang atau
bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah
besi menjadi baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses ini terlalu mahal untuk
kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui bahwa berbagai jenis
logam dapat melindungi besi terhadap korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi yang akan
dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.

1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak besi dengan
udara dan air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin. Oli
dan gemuk mencegah kontak besi dengan air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang sepeda
dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4. Tin plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara
elektrolisis, yang disebut electroplating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang
dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada kontak dengan oksigen (udara) dan air.
Akan tetapi, lapisan timah ada yang rusak, misalnya tergores, maka timah justru
mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena potensial reduksi besi lebih negatif
daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi dengan timah akan membentuk suatu sel
elekrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan
tetapi, hal itu justru yang diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda
dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu
terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan perlindungan katode. Oleh karena potensial
reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel
elekrokimia dengan besi sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang
mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan
kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk bumper mobil.
Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink, kromium dapat memberi
perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak
7. Sacrificial protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika
logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak.
Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut.
Secara periodik, batang magnesium harus diganti.
IV. Alat dan Bahan

Alat:
1. Paku beton
2. Garam Dapur
3. Karet sayur
4. Sendok
5. Aqua botol(8 botol)
6. Label nama
7. Tissue
8. Kertas amplas
9. Gelas ukur

Bahan:
1. Air keran
2. Aquades
3. Garam
4. Cuka
5. Minyak
6. Larutan HCL
V. Prosedur Kerja:
1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk praktikum
2.Potonglah masing-masing 8 botol tersebut menjadi 2 bagian
3. Berilah keterangan pada tiap wadah dengan menempelkan label berikut:
Keadaan terbuka
Air keran(Tertutup)
Aquades(Tertutup)
Air+garam
Air+garam(Tertutup)
Air+cuka
Minyak
Larutan HCL
4. Amplaslah paku sebelum digunakan dalam praktikum
5. Lakukan perlakuan pada masing-masing wadah dengan meletakka paku dalam masing-
masing wadah dan lakukan seperti 8 perlakuan tersebut
6. Amati dan catat perubahan yang terjadi pada masing-masing wadah selama 5 hari
7 Mendokumentasikan hasil praktikum selama 5 hari