Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Pelayanan gizi menyediakan makanan sesuai dengan jumlah dan macam
zat gizi, yang diperlukan konsumen secara menyeluruh. Makanan yang
dipersiapkan dan disajikan bercitarasa tingi, yang memenuhi syarat kesehatan
dan sanitasi. Untuk mendapatkan makanan tesebut, diperlukan
pengembangan resep terhadap menu yang telah ada. Pengembangan resep
bisa melalui pembuatan masakan (makanan) baru, yang masih menggunakan
bahan makanan yang sama, sehingga tercipta menu yang lebih bervariasi
(Aritonang, 2014).
Modifikasi resep sebagai salah satu cara untuk meningkatkan citarasa
makanan. Menu yang telah ada dimodifikasi, sehingga dapaxt mengurangi
rasa bosan/jenuh pasien terhadap masakan yang sering disajikan. Demikian
pula pengembangan resep untuk meningkatkan nilai gizi masakan, sekaligus
meningkatkan daya terima pasien. Modifikasi resep dapat berupa modifikasi
bahan pendukungnya, modifikasi bentuk, atau cara pengolahannya. Dengan
demikian, modifikasi resep dimaksudkan untuk : (1) Meningkatkan
keanekaragaman masakan bagi pasien ; (2) Meningkatkan nilai gizi pada
masakan; dan (3) Meningkatkan daya terima pasien terhadap masakan
(Aritonang, 2014).
Depkes (2011) menyatakan bahwa terdapat tiga fase dalam proses
pengobatan gizi buruk baik kwashiorkor, marasmus, maupun marasmik-
kwashiorkor yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi.
Berdasarkan tahapan fase makanan rujukan dari Depkes RI (2003) yang
terdiri dari fase stabilisasi, fase transisi dan fase rehabilitasi yaitu
makanannya berupa formula WHO ( F-75, F-100, F-135). F -75 diberikan
pada saat fase stabilisasi (1-7 hari) artinya pemberian Formula F-75 ke
pasien sesuai dengan tabel petunjuk pemberian F-75 yaitu pemberiannya
sesuai dengan berat badan anak dan kondisi anak, sedangkan pemberian F-
100 diberikan pada fase transisi artinya pemberian F-100 ke pasien sesuai
dengan tabel petunjuk pemberian F-100 yaitu pemberiannya sesuai dengan
berata badan anak dan kondisi anak.

1
1.2 RumusanMasalah
Rumusan masalah dalam praktikum ini adalah bagaimana membuat
formula untuk gizi buruk fase stabilisasi dan transisi.

1.3 Tujuan
a. Tujuan Umum
Dapat membuat formula makanan bagi penderita balita gizi buruk
dengan zat gizi yang tepat agar dapat meningkatkan status gizi balita pada
fase stabilisasi dan transisi
b. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap rasa dari F-75,
F-100, M dan M 2.
2) Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap warna dari F-
75, F-100, M dan M 2.
3) Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap aroma F-75, F-
100, M dan M 2.
4) Mengidentifikasi tingkat kesukaan konsumen terhadap tekstur dari F-
75, F-100, M dan M 2.
5) Mengidentifikasi mutu fisik dari F-75, F-100, M dan M 2.
6) Menganalisa biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan hidangan F-75,
F-100, M dan M 2.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gizi Buruk
2.1.1 Definisi Gizi Buruk
Gizi buruk merupakan status kondisi seseorang yang kekurangan
nutrisi, atau nutrisinya di bawah standar. Gizi buruk banyak dialami
oleh bayi dibawah lima tahun (balita). Kasus gizi buruk merupakan
aib bagi pemerintah dan masyarakat karena terjadi di tengah
pesatnya kemajuan zaman (Republika, 2009).
Gizi buruk merupakan istilah teknis yang biasanya digunakan
oleh kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah
kondisi seseorang yang nutrisinya di bawah rata-rata. Hal ini
merupakan suatu bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi
menahun.
Depkes (2011) menyatakan bahwa gizi buruk menggambarkan
keadaan gizi anak yang ditandai dengan satu atau lebih tanda
berikut yaitu sangat kurus, edema (minimal pada kedua punggung
kaki), BB/PB atau BB/TB < -3 SD, LLA < 11.5 cm untuk anak usia
6-59 bulan. Keadaan balita dengan gizi buruk sering digambarkan
dengan adanya busung lapar. Gizi buruk atau kurang energi protein
(KEP) terus menjadi salah satu masalah kesehatan utama di dunia
sampai saat ini, terutama pada anak-anak di bawah lima tahun
(Hockenberry & Wilson, 2009).
Kelompok anak usia di bawah lima tahun merupakan kelompok yang
rentan terhadap kesehatan dan gizi karena sistem kekebalan tubuh
yang belum berkembang sehingga menyebabkan lebih mudah
terkena masalah nutrisi. (Nurhalinah, 2006; Davis & Sherer, 1994
dalam Fitriyani, 2009). Hal ini dapat diperparah jika bayi lahir
prematur dan berat badan lahir rendah sehingga pertumbuhan dan
perkembangan terganggu sebagai akibat dari kekurangan nutrisi.
Anak usia di bawah lima tahun yang sehat atau kurang gizi dapat
diketahui dari pertambahan berat badannya. Bila pertambahan berat
badan sesuai dengan pertambahan umur menurut suatu standar
organisasi kesehatan dunia, anak tersebut dapat dikatakan bergizi

3
baik. Bila sedikit di bawah standar dikatakan bergizi kurang dan
bila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk.

2.1.2 Pengukuran Gizi Buruk


Gizi buruk ditentukan berdasarkan beberapa pengukuran antara lain:
Pengukuran Klinis
Metode ini penting untuk mengetahui status gizi balita tersebut
gizi buruk atau tidak. Metode ini pada dasarnya didasari oleh
perubahan-perubahan yang terjadi dan dihubungkan dengan
kekurangan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan epitel
seperti kulit,rambut,atau mata. Misalnya pada balita marasmus
kulit akan menjadi keriput sedangkan pada balita kwashiorkor
kulit terbentuk bercak-bercak putih atau merah muda (crazy
pavement dermatosis).
Pengukuran Antropometri
Metode ini dilakukan beberapa macam pengukuran antara lain
pengukuran tinggi badan,berat badan, dan lingkar lengan atas.
Beberapa pengukuran tersebut, berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas sesuai dengan usia yang paling sering dilakukan dalam
survei gizi. Di dalam ilmu gizi, status gizi tidak hanya
diketahui dengan mengukur BB atau TB sesuai dengan umur secara
sendiri-sendiri, tetapi juga dalam bentuk indikator yang dapat
merupakan kombinasi dari ketiganya.
Berdasarkan Berat Badan menurut Umur diperoleh kategori :
1. Tergolong gizi buruk jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Tergolong gizi kurang jika hasil ukur -3 SD sampai dengan < -2
SD.
3. Tergolong gizi baik jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Tergolong gizi lebih jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Tinggi Badan (24 bulan-60 bulan)
atau Panjang badan (0 bulan-24 bulan) menurut Umur diperoleh
kategori:
1. Sangat pendek jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
2. Pendek jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Tinggi jika hasil ukur > 2 SD.
Berdasarkan pengukuran Berat Badan menurut Tinggi badan
atau Panjang Badan:
1. Sangat kurus jika hasil ukur lebih kecil dari -3 SD.
4
2. Kurus jika hasil ukur 3 SD sampai dengan < -2 SD.
3. Normal jika hasil ukur -2 SD sampai dengan 2 SD.
4. Gemuk jika hasil ukur > 2 SD.

2.1.3 Penyebab Gizi Buruk


1) Penyebab langsung, yaitu :
a. Keadaan gizi yang dipengaruhi oleh ketidakcukupan asupan
makanan dan penyakit infeksi yang ditimbulkan seperti
penyakit diare, campak dan infeksi saluran nafas yang kerap
menimbulkan berkurangnya nafsu makan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Hidayati (2011) yang mengatakan bahwa
beberapa faktor lain yang mempengaruhi nutrisi pada anak
adalah penyakit infeksi, sosial ekonomi, dan tingkat
pendidikan orang tua. Kondisi anak yang sakit
menyebabkan nutrisi tidak dapat dimanfaatkan tubuh secara
optimal karena adanya gangguan akibat penyakit infeksi.
b. Malnutrisi yang berawal dari nutrisi ibu yang kurang saat
sebelum dan sesudah hamil, dan penyakit infeksi, maka
pada gilirannya nanti akan mengakibatkan terlahirnya bayi
dengan berat badan rendah yang kemudian akan
mengakibatkan gizi buruk pada anak tersebut.

2) Penyebab secara tidak langsung, yaitu :


a. Ketersediaan pangan tingkat rumah tangga yang rendah
b. Ketersediaan pelayanan kesehatan yang tidak memadai
c. Kemiskinan merupakan akibat dari krisis ekonomi dan
politik yang mengakibatkan sulitnya mendapatkan pekerjaan
yang kemudian berakibat pada minimnya pendapatan
seseorang dan ketersediaan panganpun berkurang.
d. Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pekerjaan,
pendapatan, pengetahuan, dan perilaku orang tua dalam
memenuhi kebutuhan nutrisi anak (Depkes, 2008 dalam
Sulistiyawati 2011).
e. Lingkungan yang tidak sehat dan tempat tinggal yang berjejalan
menyebabkan infeksi akan sering terjadi. Dan kemudian penykit
infeksi itu akan berpotensi sebagai penyokong atau

5
pembangkit gizi buruk (Gizi Dalam daur Kehidupan.
Arisman, MB., 2002).

2.1.4 Kriteria Anak Gizi Buruk


1) Gizi Buruk Tanpa Komplikasi
a. BB/TB: < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya Edema dan atau;
d. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan
2) Gizi Buruk dengan Komplikasi
Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah
satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut:
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat
b. Demam sangat tinggi
c. Penurunan kesadaran
2.1.5 Klasifikasi Gizi Buruk
Gizi buruk berdasarkan gejala klinisnya dapat dibagi menjadi 3 :
a. Marasmus
Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang
paling sering ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir
dari tingkat keparahan gizi buruk. Gejala marasmus antara lain
anak tampak kurus, rambut tipis dan jarang,kulit keriput yang
disebabkan karena lemak di bawah kulit berkurang, muka
seperti orang tua (berkerut), balita cengeng dan rewel meskipun
setelah makan, bokong baggy pant, dan iga gambang.
Pada patologi marasmus awalnya pertumbuhan yang kurang dan
atrofi otot serta menghilangnya lemak di bawah kulit merupakan
proses fisiologis. Tubuh membutuhkan energi yang dapat
dipenuhi oleh asupan makanan untuk kelangsungan hidup
jaringan. Untuk memenuhi kebutuhan energi cadangan protein
juga digunakan. Penghancuran jaringan pada defisiensi kalori tidak
6
hanya untuk memenuhi kebutuhan energi tetapi juga untuk sistesis
glukosa.
b. Kwashiorkor
Kwashiorkor adalah suatu bentuk malnutrisi protein yang berat
disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi dan
asupan protein yang inadekuat. Hal ini seperti
marasmus,kwashiorkor juga merupakan hasil akhir dari tingkat
keparahan gizi buruk.
Tanda khas kwashiorkor antara lain pertumbuhan terganggu,
perubahan mental,pada sebagian besar penderita ditemukan
oedema baik ringan maupun berat, gejala gastrointestinal, rambut
kepala mudah dicabut, kulit penderita biasanya kering dengan
menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar,sering
ditemukan hiperpigmentasi dan persikan kulit, pembesaran
hati,anemia ringan, pada biopsi hati ditemukan perlemakan.
Gangguan metabolik dan perubahan sel dapat menyebabkan
perlemakan hati dan oedema. Pada penderita defisiensi protein
tidak terjadi proses katabolisme jaringan yang sangat berlebihan
karena persediaan energi dapat dipenuhi dengan jumlah kalori yang
cukup dalam asupan makanan. Kekurangan protein dalam diet akan
menimbulkan kekurangan asam amino esensial yang dibutuhkan
untuk sintesis. Asupan makanan yang terdapat cukup karbohidrat
menyebabkan produksi insulin meningkat dan sebagian asam
amino dari dalam serum yang jumlahnya sudah kurang akan
disalurkan ke otot. Kurangnya pembentukan albumin oleh hepar
disebabkan oleh berkurangnya asam amino dalam serum yang
kemudian menimbulkan oedema.
c. Marasmiks-Kwashiorkor
Marasmiks-kwashiorkor gejala klinisnya merupakan campuran
dari beberapa gejala klinis antara kwashiorkor dan marasmus
dengan Berat Badan (BB) menurut umur (U) < 60% baku median
WHO-NCHS yang disertai oedema yang tidak mencolok.
Menurut Pudjiadi (2000, dalam Sulistiyawati, 2011) ada empat
dampak gizi buruk. (1) anak dapat memiliki kelainan pada organ-

7
organ tubuh seperti Analisis praktik atrofi pada sistem gastro
intestinal, penimbunan lemak pada hepar, dan pengecilan
pancreas (2) gizi buruk membuat otak mengurangi sintesa protein
DNA. Akibatnya terdapat otak dengan jumlah sel yang kurang
atau otak dengan ukuran yang lebih kecil (3) dapat terjadi
gangguan pada sistem endokrin (4) dapat mengakibatkan
kematian bila gizi buruk disertai penyakit infeksi seperti
tuberculosis, radang paru, atau infeksi saluran cerna.
Nutrisi berperan penting dalam penyembuhan penyakit.
Kesalahan pengaturan diet dapat memperlambat penyembuhan
penyakit. Dengan nutrisi akan memberikan makanan-makanan
tinggi kalori, protein dan cukup vitamin-mineral untuk mencapai
status gizi optimal. Nutrisi gizi buruk diawali dengan pemberian
makanan secara teratur, bertahap, porsi kecil, sering dan mudah
diserap. Frekuensi pemberian dapat dimulai setiap 2 jam kemudian
ditingkatkan 3 jam atau 4 jam.

2.2 Fase Stabilisasi


Fase stabilisasi biasanya terjadi selama 1-2 hari. Pada awal fase stabilisasi
perlu pendekatan yang sangat hati-hati, karena keadaan faali anak sangat
lemah dan kapasitas homeostatik berkurang.
Pemberian makanan harus dimulai segera setelah anak dirawat dan
dirancang sedemikian rupa sehingga energi dan protein cukup untuk
memenuhi metabolisma basal saja.
Formula khusus seperti Formula WHO 75/modifikasi/Modisco yang
dianjurkan dan jadwal pemberian makanan harus disusun sedemikian rupa
agar dapat mencapai prinsip tersebut diatas dengan persyaratan diet sebagai
berikut :
Porsi kecil, sering, rendah serat dan rendah laktosa
Energi : 80-100 kkal/kgBB/hari
Protein : 1-1.5 gr/kgBB/hari
Cairan : 130 ml/kgBB/hari (jika ada edema berat 100 ml/kgBB/hari)

8
Bila anak mendapat ASI teruskan, dianjurkan memberi Formula WHO
75/pengganti/Modisco dengan menggunakan cangkir/gelas, bila anak
terlalu lemah berikan dengan sendok/pipet
Pemberian Formula WHO 75/pengganti/Modisco atau pengganti dan
jadwal pemberian makanan harus disusun sesuai dengan kebutuhan anak.
Keterangan :
Pada anak dengan selera makan baik dan tidak edema, maka tahapan
pemberian formula bisa lebih cepat dalam waktu 2-3 hari (setiap 2 jam)
Bila pasien tidak dapat menghabiskan Formula WHO
75/pengganti/Modisco dalam sehari, maka berikan sisa formula
tersebut melalui pipa nasogastrik (dibutuhkan ketrampilan petugas)
Pada fase ini jangan beri makanan lebih dari 100 Kkal/kgBB/hari
Pada hari 3 s/d 4 frekwensi pemberian formula diturunkan menjadi setiap
jam dan pada hari ke 5 s/d 7 diturunkan lagi menjadi setiap 4 jam
Lanjutkan pemberian makan sampai hari ke 7 (akhir minggu 1)

Pemantauan pada fase stabilisasi :


Jumlah yang diberikan dan sisanya
Banyaknya muntah
Frekwensi buang air besar dan konsistensi tinja
Berat badan (harian)
Selama fase ini diare secara perlahan berkurang pada penderita dengan
edema , mula-mula berat badannya akan berkurang kemudian berat badan
naik

2.3 Fase Transisi


Pada fase ini anak mulai stabil dan memperbaiki jaringan tubuh yang
rusak (cathup). Fase transisi merupakan fase peralihan dari fase
stabilisasi yang cara pemberian makanan sebagai berikut:
Pemberian makanan pada fase transisi diberikan secara berlahan-lahan
untuk menghindari risiko gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak
mengkonsumsi makanan dalam jumlah banyak secara mendadak.
Ganti formula khusus awal (energi 80-100 kkal/kgBB/hr dan protein 1-1.5
gram/kgBB/hari) dengan formula khusus lanjutan (energi 100-150
9
kkal/kgBB/hari dan protein 2-3 gram/kgBB/hari ) dalam jangka waktu 48
jam. Modifikasi bubur/makanan keluarga dapat digunakan asalkan dengan
kandungan energi dan protein yang sama.
Kemudian naikkan dengan 10 ml setiap kali, sampai hanya sedikit formula
tersisa, biasanya pada saat tercapai jumlah 30 ml/kgBB/kali pemberian
(200 ml/kgBB/hari).
Pemantauan pada fase transisi :
1) Frekuensi nafas
2) Frekuensi denyut nadi
Bila terjadi peningkatan detak nafas > 5 kali/menit dan denyut nadi >
25 kali /menit dalam pemantauan setiap 4 jam berturutan, kurangi
volume pemberian formula. Setelah normal kembali, ulangi menaikkan
volume seperti di atas.
3) Timbang anak setiap pagi sebelum diberi makan

Setelah fase transisi dilampaui, anak diberi :


Formula WHO 100/pengganti/Modisco 1 dengan jumlah tidak
terbatas dan sering.
Energi : 150-220 kkal/kgBB/hari
Protein 4-6 gram/kgBB/hari
Bila anak masih mendapat ASI, teruskan, tetapi juga beri formula
WHO 100/Pengganti/Modisco 1, karena energi dan protein ASI tidak
akan mencukupi untuk tumbuh-kejar.

2.4 Fase Rehabilitasi


Bila anak masih medapatkan ASI,teruskan ASI, ditambah dengan makanan
formula karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tubuh-
kejar. Diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F-100, dengan
penambahan makanan untuk anak dengan BB < 7 kg diberikan makanan bayi
dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan makanan anak. Asupan gizi 150-
220 KKal/kgBB/hari dan protein 4-6 g/kgBB/hari. Fase rehabilitasi diberikan
secara bertahap dimulai dari pemberian Formula WHO 135 sampai makanan
biasa. Adapun persyaratan diet sebagai berikut :

10
a. Formula khusus sebagai formula 135/modifikasi/modosco III
b. Jumlah zat gizi :
Energi : 150 200 Kkal/Kg BB/hari
Protein : 4 6 gr/Kg BB/hari
Cairan : 150 200 ml/Kg BB/hari
Kenaikan Berat Badan pada Fase Rehabilitasi
Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan.
Penimbangan dilakukan pada waktu dan kondisi yang sama (misalnya
pada pagi hari, dengan pakaian minimal, sebelum makan pagi, dan
seterusnya), dengan timbangan yang sudah dikalibrasi. Penghitungan
kenaikan berat badan dihitung setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari.
Contoh perhitungan kenaikan berat badan setelah 3 hari :
Berat badan saat ini = 6300 gram
Berat badan 3 hari yang lalu = 6000 gram
Kenaikan berat badan (dalam gram) = 6300-6000 gram = 300 gram
Kenaikan berat badan per hari = 300 gram : 3 hari = 100 gram/hari
Bagi hasil dengan berat rata-rata dalam kilogram = 100g/hari : 6,15 kg
= 16,3 g/kg/hari

Jika kenaikan berat badan :


Kurang (<5 g/kgBB/hari), anak membutuhkan penilaian ulang lengkap
Sedang (5-10 g/kgBB/hari), periksa apakah target asupan terpenuhi,
atau mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi
Baik (>10 g/kgBB/hari)

Jika kenaikan berat badan kurang, tentukan :


Apakah hal ini terjadi pada semua kasus yang ditangani (jika ya, perlu
dilakukan kaji ulang menyeluruh tentang tatalaksana kasus
Apakah hal ini terjadi pada kasus tertentu (lakukan penilaian ulang pada
anak ini seperti pada kunjungan baru)

Masalah umum yang harus diperiksa jika kenaikan berat badan kurang :
a. Pemberian makanan yang tidak adekuat
Apakah makan pada malam hari diberikan
Apakah asupan kalori dan protein yang ditentukan terpenuhi? Asupan
yang sebenarnya dicatat dengan benar (misalnya berapa yang diberikan
dan berapa sisanya). Jumlah makanan dihitung ulang sesuai dengan
kenaikan berat badan anak. Perlu diperiksa apakah anak muntah atau
makanan hanya dikulum lama tanpa ditelan (ruminating)

11
Teknik pemberian makan : apakah frekuensi makan sering, jumlah tak
terbatas
Kualitas pelayanan: apakah petugas cukup termotivasi/ramah/sabar
dan penuh kasih sayang
Semua aspek penyiapan makan: penimbangan, pengukuran jumlah
bahan, cara mencampur, rasa, penyimpanan yang higienis, diaduk
dengan baik jika minyak pada formula tampak terpisah
Makanan pendamping ASI yang diberikan cukup padat energi
Kecukupan komposisi multivitamin dan tidak kadaluarsa
Penyiapan larutan mineral mix dibuat dan diberikan dengan benar
Di daerah endemik gondok, periksa apakah kalium yodida
ditambahkan pada larutan mineral mix (5 mg/L), atau semua anak
diberi Lugols iodine (5-10 tetes/hari)
Jika diberi makanan pendamping ASI, periksa apakah sudah
mengandung larutan mineral mix.

Infeksi yang tidak terdeteksi atau tidak tertangani secara adekuat

Jika makanan sudah adekuat dan tidak terdapat malabsorpsi tetapi


kenaikan berat badan masih kurang, perlu diduga adanya infeksi
tersembunyi. Beberapa infeksi seringkali terabaikan, misalnya: infeksi
saluran kemih, otitis media, tuberkulosis, giardiasis dan HIV/AIDS.
Pada keadaan tersebut:
Lakukan pemeriksaan ulang dengan lebih teliti
Ulangi pemeriksaan mikroskopis pada urin dan feses
Jika mungkin, lakukan foto toraks

12
Tabel 1. Kebutuhan Zat Gizi Fase Rehabilitasi

Tabel 2. Tata Laksana Rumah Sakit pada Penderita Gizi Buruk


2.5 Formula 75 (F-75)
Makanan formula atau bahan makanan campuran merupakan kombinasi dari
berbagai bahan yang memungkinkan penambahan kekurangan sesuatu zat gizi
dalam sesuatu bahan dalam bahan lain sehingga menjadi sesuatu bahan yang
mengandung zat-zat gizi dalam jumlah cukup sesuai dengan kebutuhan.
Makanan formula memiliki syarat sebagai berikut : Bernilai gizi tinggi,
dapat diterima baik citarasanya dan dibuat dari bahan makanan setempat.
Formula 75 atau F-75 adalah formula yang diberikan pada penderita gizi
buruk fase stabilisasi yang diberikan secara bertahap dengan tujuan
memberikan makanan awal agar anak dalam kondisi stabil. Formula 75 (F-75)
ini terdapat 2 variasi yaitu formula 75 (F-75) tanpa tepung dan formula 75

13
(F75) dengan tepung, cara membuatnya sama hanya saja terdapat perbedaan
pada pemberian tepung. Formula 75 (F-75) diberikan untuk penderita gizi
buruk dengan diare karena memiliki osmolaritas yang lebih rendah.
Bahan yang diperlukan untuk membuat makanan formula 75 ini adalah gula,
susu skim bubuk, minyak sayur dan larutan elektrolit. Sedangkan untuk
formula 75 dengan tepung ada penambahan tepung beras.
a. Gula pasir
Gula pasir adalah jenis gula yang paling mudah dijumpai, digunakan
sehari-hari untuk pemanis makanan dan minuman. Gula pasir juga
merupakan jenis gula yang digunakan dalam penelitian ini.Gula pasir
berasal dari cairan sari tebu. Setelah dikristalkan, sari tebu akan mengalami
kristalisasi dan berubah menjadi butiran gula berwarna putih bersih atau
putih agak kecoklatan (raw sugar). Gula pasir merupakan karbohidrat
sederhana yang dibuat dari cairan tebu. Gula pasir dominan digunakan
sehari hari sebagai pemanis baik di industri maupun pemakaian rumah
tangga.
Menurut Darwin (2013), gula adalah suatu karbohidrat sederhana karena
dapat larut dalam air dan langsung diserap tubuh untuk diubah menjadi
energi.

b. Susu skim bubuk


Susu skim adalah susu yang kadar lemaknya telah dikurangi hingga
berada dibawah batas minimal yang telah ditetapkan. Susu skim merupakan
bagian susu yang tertinggal sesudah krim diambil sebagian atau seluruhnya.
Susu skim mengandung zat makanan dari susu kecuali lemak dan vitamin
vitamin yang larut dalam lemak. Susu skim memiliki rasa yang asin,
berebeda dengan susu segar yang normalnya memiliki rasa yang agak
manis dan tidak asin. Hal ini berasal dari garam-garam mineral flourida dan
sitrat. Warna pada susu skim yaitu putih. Kebanyakan susu bubuk berwarna
putih kekuningan, namun berbeda dengan susu skim yang berwarna putih
saja, hal ini dikarenakan tidak adanya kandungan lemak pada susu tersebut.
Aroma atau bau pada susu skim ini adalah beraroma manis dikarenakan
tidak adanya penyimpangan pada susu skim. Untuk ukuran rumah tangga

14
pada susu skim per sendok makannya ialah rata-rata 9,5 gr. URT pada susu
skim kurang lebih sama dengan URT pada susu bubuk instant.
c. Minyak sayur
Minyak sayur/minyak nabati adalah sejenis minyak yang terbuat dari
tumbuhan. Digunakan dalam makanan dan memasak. Beberapa jenis
minyak nabati yang biasa digunakan ialah minyak kelapa sawit, jagung,
zaitun, kedelai bunga matahari dll (Wikipedia, 2009).
Berdasarkan kegunaannya, minyak nabati terbagi menjadi dua golongan.
Pertama, minyak nabati yang dapat digunakan dalam industri makanan
(edible oils) dan dikenal dengan nama minyak goreng meliputi minyak
kelapa, minyak kelapa sawit, minyak zaitun, minyak kedelai dan
sebagainya. Kedua, minyak yang digunakan dalam industri non makanan
(non edible oils) misalnya minyak kayu putih, minyak jarak (Ketaren,
1986).
d. Larutan elektrolit
Larutan Elektrolit adalah larutan untuk membuat formula WHO. Bahan
untuk membuat 2500 ml larutan elektrolit mineral, terdiri atas :
KCL 224 g
Tripotassium Citrat 81 g
MgCL2.6H2O 76 g
Zn asetat 2H2O 8,2 g
CuSO4.5H2O 1,4 g
Air sampai larutan menjadi 2500 ml (2,5 L)
Ambil 20 ml larutan elektrolit, untuk membuat 1000 ml Formula WHO-
75, Formula WHO 100, atau Formula WHO 135. Bila bahan-bahan tersebut
tidak tersedia, 1000 mg Kalium yang terkandung dalam 20 ml larutan
elektrolit tersebut bisa didapat dari 2 gr KCL atau sumber buah-buahan
antara lain sari buah tomat (400 cc)/jeruk (500cc)/pisang (250g)/alpukat
(175g)/melon (400g).
e. Tepung beras
Tepung beras terdiri dari tepung beras pecah kulit dan tepung beras
sosoh. Tepung beras banyak digunakan sebagai bahan baku industri seperti
bihun dan bakmi, macaroni, aneka snacks, aneka kue kering (cookies),
biscuit, crackers, makanan bayi, makanan sapihan untuk Balita, tepung

15
campuran (composite flour) dan sebagainya. Tepung beras juga banyak
digunakan dalam pembuatan pudding micxture atau custard. Makanan
bayi yang terbuat dari tepung beras, sudah dapat diberikan kepada bayi yang
berumur 2-3 bulan, sedangkan kepada bayi yang berumur 5 bulan dapat
diberikan dalam bentuk nasi tim.
Standar mutu tepung beras ditentukan menurut Standar Industri
Indonesia (SII). Syarat mutu tepung beras yang baik adalah : kadar air
maksimum 10%, kadar abu maksimum 1%, bebas dari logam berbahaya,
serangga, jamur, serta dengan bau dan rasa yang normal. Di Amerika,
dikenal dua jenis tepung beras, yaitu tepung beras ketan dan tepung beras
biasa. Tepung ketan mempunyai mutu lebih tinggi jika digunakan sebagai
pengental susu, pudding dan makanan ringan.
Proses pembuatan tepung beras dimulai dengan penepungan kering
dilanjutkan dengan penepungan beras basah (beras direndam dalam air
semalam, ditiriskan, dan ditepungkan). Alat penepung yang digunakan
adalah secara tradisional (alu, lesung, kincir air) dan mesin penepung
(hammer mill dan disc mill).
Pada F-75 tanpa tepung cara membuatnya yaitu campurkan gula dan
minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix,
kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan
berbentuk gel. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil
diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa
langsung diminum. Masak selama 4 menit, bagi anak yang disentri atau
diare persisten. Sedangkan pada F-75 dengan tepung cara membuatnya yaitu
campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan
mineral mix, kemudian masukkan susu skim dan tepung sedikit demi
sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Tambahkan air sedikit demi
sedikit sambil diaduk sampai homogen sehingga mencapai 1000 ml dan
didihkan sambil diaduk-aduk hingga larut selama 5-7 menit.
2.6 Formula 100 (F-100)
Formula 100 atau F-100 adalah formula yang diberikan pada penderita gizi
buruk fase transisi dengan tujuan memberikan makanan pada anak yang
kondisinya mulai stabil, dan untuk memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.

16
Bahan yang diperlukan untuk membuat makanan formula 100 ini adalah gula,
susu skim bubuk, minyak sayur dan larutan elektrolit.
Cara membuat F-100 yaitu campurkan gula dan minyak sayur, aduk
sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix, kemudian masukkan susu
skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Encerkan
dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen volume
menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak dulu
selama 4 menit
2.7 Formula 135 (F-135)
Pada Terapi nutrisi fase rehabilitasi adalah bertujuan untuk mengejar
pertumbuhan anak. Diberikan setelah anak sudah bisa makan. Makanan padat
diberikan pada fase rehabilitasi berdasarkan BB< 7 kg diberi MP-ASI dan BB
7 kg diberi makanan balita. Diberikan makanan formula 135 (F 135) dengan
nilai gizi setiap 100 ml F135 mengandung energi 135 kal dan protein 3,3
gram.

FORMULA WHO
Bahan Per 100 ml F 75 F 100 F 135
Susu skim bubuk g) 25 85 90
Gula pasir g 100 50 65
Minyak sayur g 30 60 75
Lar.elektrolit mL 20 20 27
Tambahan air s/d 1000 1000 1000
F 75 F 100 F 135
NILAI GIZI
Energi Kalori 750 1000 1350
Protein g 9 29 33
Lactosa g 13 42 48
Potasium Mmol 36 59 63
Sodium Mmol 6 19 22
Magnesium Mmol 4.3 7.3 8
Seng Mg 20 23 30
Copper Mg 2.5 2.5 3.4

17
% energi protein 5 12 10
% energi lemak 36 53 57
Osmolality Mosm/l 413 419 508

Tabel 3. Nilai Gizi Formula WHO (F75, F100 dan 135)


2.8 Modisco
Modisco merupakan singkatan dari Modified Dried Skimmed Milk and
Coconut. Modisco pertama kali dtemukan oleh May dan Whitehead pada
tahun 1973. Modisco merupakan makanan atau minuman bergizi tinggi yang
pertama kali dicobakan pada anak-anak yang mengalami gangguan gizi berat
di Uganda (Afrika) dengan hasil yang memuaskan. Manfaat modisco yang
paling utama adalah untuk mengatasi gizi buruk padamanusia dengan cepat
dan mudah. Karena modisco mempunyai kandungan kalori yang tinggi serta
mudah dicerna oleh usus manusia. Modisco juga dapat membantu
mempercepat penyembuhan penyakit sehingga biaya pengobatan menjadi
lebih ringan(Sudiana & Acep, 2005).
Kombinasi MPT komposisinya antara lain: agar-agar dengan variasi rasa,
putih telur ayam, gula pasir, susu skim dengan berat 80 gr. Tujuan utama MPT
digunakan untuk meningkatkankadar albumin dalam darah. MPT diberikan
pada pasien-pasien bedah yang hypoalbumin (<3gr/dl) dengan waktu
pemberian 2x perhari (pk.10.oo dan 16.oo wib) selama 7 s/d 10 hari.
Pembuatan Modisco Putih Telur ( MPT ) sesuai standar pelayanan gizi di
RSUP Dr. Kariadi dilakukan oleh tenaga SMKKBoga dan produksi
dilaksanakan di Instalasi Gizi RSUP Dr. Kariadi, sedangkan distribusi MPT ke
pasien oleh tenaga pramusaji IRNA bedah. Namun sampai sekarang belum ada
pembuktian peningkatan kadar albumin dalam darah sesuai yang diharapkan.
(Sumber: Standar Pelayanan Instalasi Gizi RSUP. Dr. Kariadi Semarang).
Bahan baku Modisco
Susu, gula pasir, minyak goreng atau margarine
Sifat Modisco
Berkalori tinggi, Murah, Mudah dibuat , Dapat diolah dengan beraneka
ragam makanan
Yang Membutuhkan Modisco

18
Penderita penyakit infeksi menahun, Orang yang sembuh dari penyakit
berat, Mereka yang sulit makan karena infeksi bawaan, Anak yang sehat
tapi kurus.
Keuntungan Modisco
Mempercepat penyembuhan., pengobatan lebih ringan
Modisco Tidak Boleh Diberikan Kepada
Anak gemuk, Bayi dibawah usia 6 tahun, Penderita penyakit ginjal, hati,
dan jantung.
Cara Memberikan Modisco
Dapat diberikan sebagai bahan minuman untuk diet penuh, Dapat
diberikan sebagai campuran bahan makanan lain, misalnya minuman
dicampur coklat atau buah-buahan, Dicampur pada bubur kacang hijau
atau kolak pisang.
2.9 Makanan Formula
a. Pengertian Makanan Formula
Makanan formula atau bahan makanan campuran merupakan
kombinasi dari berbagai bahan yang memungkinkan penambahan
kekurangan suatu zat gizi dalam suatu bahan dalam bahan lain sehingga
menjadi sesuatu bahan yang mengandung zat-zat gizi dalam jumlah cukup
sesuai dengan kebutuhan.
b. Syarat Makanan Formula
1) Bernilai Gizi Tinggi 3) Dibuat dari BM setempat
2) Dapat diterima baik citarasanya
2.10 Parameter Mutu
a. Uji Organoleptik
Uji organoleptik disebut juga dengan pengukuran inderawi merupakan
ilmu pengetahuan yang menggunakan indera manusia untuk mengukur
tekstur, penampakan, aroma dan flavor produk pangan. Penerimaan
konsumen terhadap suatu produk diawali dengan penilaiannya terhadap
penampakan, flavor dan tekstur.
Objek yang diukur atau dinilai sebenarnya adalah reaksi psikologis
(reaksi mental) berupa kesadaran seseorang setelah di berirangsangan,
maka disebut juga penilaian sensorik. Rangsangan yang dapat di indra
dapat bersifat mekanis (tekanan, tusukan), bersifat fisis (dingin, panas,
sinar, warna), sifat kimia (bau, aroma, rasa). Pada waktu alat indra
menerima rangsangan, sebelum terja di kesadaran prosesnya adalah

19
fisiologis, yaitu dimulai di reseptor dan diteruskan pada susunan syaraf
sensori atau syaraf penerimaan.
Kriteria-kriteria tersebut sudah dapat dikaitkan untuk mewakili
kualitas suatu bahan pangan, baik minuman maupun makanan. Selain itu,
system ini sudah banyak dibakukan dan dijadikan sebagai alat bantu dalam
laboratorium dan bidang lainnya. Namun, hasil yang didapat tidak 100 %
menjamin kebenaran, karena di dalamnya hanya di perlihatkan perlakuan
yang terbaik atau yang paling disenangi oleh para panelis. Atau
kekurangannya adalah penilaian dapat bersifat subjektif. Karena itu uji
organoleptik ini biasa dengan uji hedonik. Uji ini tidak
akan memperlihatkan suatu produk yang disenangi oleh panelis karena
dalam pengujiannya telah di acak. Oleh karenanya dibutuhkan suatu
analisis data untuk menggabungkan berbagai penilaian yang telah di dapat.
b. Uji Mikrobiologi Melalui Uji Kuantitatif Mikroorganisme
Mikrobiologi pangan adalah ilmu yang mempelajari pengaruh proses
pengolahan terhadap sel mikroorganisme, termasuk mekanisme ketahanan
mikroorganisme terhadap proses pengolahan. Disamping itu, ilmu
mikrobiologi pangan merupakan ilmu yang juga mempelajari perubahan-
perubahan yang merugikan seperti kebusukan dan keracunan makanan,
maupun perubahan-perubahan yang menguntungkan seperti dalam
fermentasi makanan. Proses pengolahan dan pengawetan makanan tidak
sepenuhnya dapat mencegah semua perubahan-perubahan yang
merugikan. Contohnya, pada makanan-makanan yang telah diawetkan
dengan pembekuan atau pengeringan, enzim-enzim yang terdapat di dalam
bahan pangan masih mungkin aktif dan menyebabkan perubahan warna,
tekstur maupun citarasa dari suatu produk pangan. Hal ini menunjukkan
sebelum produk pangan mengalami proses pembekuan atau pengerimngan
sebaiknya dilakukan proses pendahuluan dengan pemanasan, seperti
blansir, yang berguna untuk menginaktifkan enzim-enzim yang terdapat di
dalam bahan pangan mentah.
Berbagai macam uji mokrobiologis dapat dilakukan terhadap bahan
pangan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan daya tahan
suatu makanan, uji kualitatif bakteri patogen untuk menenetukan tingkat
keamanan dan uji indikator untuk menentukan tingkat sanitasi makanan
20
tersebut. Pengujian yang dilakukan terhadap tiap bahan pangan tidak sama
tergantung berbagai faktor, seperti jenis dan komposisi bahan pangan, cara
pengepakan dan penyimpanan serta komsumsinya, kelompok konsumen
dan berbagai faktor lainnya (Dirjen POM., 1979).
Mikroorganisme yang banyak tumbuh pada bahan pangan adalah
bakteri, kapang dan khamir yang dapat menyebabkan kerusakan dalam
segi organoleptik maupun komposisi bahan kimia. Pertumbuhan
mikroorganisme dipengaruhi oleh nutrisi, waktu, suhu, pH, kadar air,
ketersediaan gas-gas dan Aw. Untuk dapat tumbuh dan befungsi secara
normal, organisme membutuhkan air, sumber energi, nirogen, vitamin,
mineral dan faktor lainnya. Banyaknya mikroorganisme aerob suatu
bahan pangan dilihat dari kandungan TPC. Kapang menyerang bahan
yang mengandung pektin, pati dan selulosa. sedangkan khamir
menyerang bahan yang mengandung gula (Winarno, 1997).
c. Uji Kadar Protein dengan Metode Kjeldahl
1) Dasar Teori
Protein merupakan suatu zat makanan yang amat penting bagi
tubuh., karena zat ini di samping berfungsi sebagai bahan baker dalam
tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein
adalah sumber asam-asam amino yang mengandung unsure-unsur
C,H,O dan N yang tidak di miliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul
protein mengandung pula fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang
mengandung unsure logam seperti besi dan tembaga.Sebagai zat
pembangun protein merupakan bahan pembentuk jaringan-jaringan
baru yang selalu terjadi dalam tubuh. Pada masa pertumbuhan proses
pembentukan jaringan terjadi secara besar-besaran, pada masa
kehamilan droteinlah yang membenuk jaringan janin dan pertumbuhan
embrio. Protein juga mengganti jaringan tubuh yang rusak dan yang di
rombak.Fungsi utama protein bagi tubuh ialah untuk membentuk
jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada.
Protein dapat juga di gunakan untuk bahan baker apabila keperluan
energi tunbuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein ikut
pula mengatur berbagai proses tubuh baik langsung maupun tidak
langsung dengan membentuk zat-zat pengatur proses dalam tubuh.

21
Protein mengatur keseimbangan cairan dalam jaringan dan pembuluh
darah, yaitu dengan menimbulkan tekanan osmotic koloid yang dapat
menarik cairan dari jaringan ke dalam pembuluh darah.Sifat atmosfer
protein yang yapat bereaksi dengan asam dan basa, dapat mengatur
keseimbangan asam-basa dalam tubuh.
Protein dalam tubuh manusia, terutama dalam sel jaringan,
bertindak sebagai bahan membrane sel, dapat membentuk jaringan
pengikat misalnya kolagen dan elastin, serta membentuk protwin yang
inert seperti rambut dan kuku.Di samping itu protein yang bekerja
sebagai enzim, bertindak sebagai plasma (albumin), membentuk
antibody, membentuk komplek dengan molekul lain, serta dapat
bertindak sebagai bagian sel yang bergerak. Kekurangan protein dalam
waktu lama dapat menggaggu berbagai proses dalam tubuh dan
menurunnkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.Fungsi protein
sendiri adalah :
Sebagai bahan bakar atau energi karena mengandungkarbon, maka
dapat digunakan oleh tubuh sebagai bahan bakar. Protein akan
dibakar manakala keperluan tubuh akan energi tidak diterpenuhi oleh
lemak dan karbohidrat;
Sebagai zat pengatur yaitu mengatur berbagai proses tubuh baik
secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai bahan pembentuk
zat-zat yang mengatur berbagai proses tubuh;
Sebagai zat pembangun yaitu untuk membantu membangun sel-sel
yang rusak maupun yang tidak rusak. Kebutuhan protein meningkat
sesuai dengan pertambahan umur.

Siklus protein di dalam tubuh manusia terjadi suatu siklus protein,


artinya protein di pecah menjadi komponen-komponen yang ebih kecil
yaitu adam amino dan atau peptide. Terjadi juga suatu sintesis protein
baru untuk mengganti yang lama.Praktis tidak ada sebuah molekul
protein pun yang di sintesis untuk di pakai seumur hidup. Semuanya
akan di pecah dan di ganti dengan yang baru dengan laju yang berbeda
tergantung jenis dan keperluanya dalam tubuh. Waktu yang di perlukan
untuk mengganti separuh dari sejumlah kelompok protein tertentu

22
dengan protein baru di sebut half life atau waktu paruh jangka hidup
protein.
Asam amino bila suatu protein di hidrolisis dengan asam, alkali,
atau enzim, akan di hasilkan campuran asam-asam amino. Sebuah asam
amino terdiri dari sebuah gugus amino, sebuah gugus karboksil, sebuah
atom hydrogen, dan gugus R yang terikat pada sebuah atom C yang di
kenal sebagai karbon a, serta gugus R merupakan rantai cabang.Semua
asam amino berkonfigurasi a dan mempunyai konfigurasi L kecuali
glisin yang tidak memupunyai atom C asimetrik.Hanya asam amino L
yang merupakan komponen protein.Karena itu penulisan isomer optic
jarang dilakukan, dan bila tidak ada tanda apa-apa, maka yang di
maksud adalah asam amino L.
Pemurnian protein merupakan tahap yang harus di lakukan untuk
mempelajari sifat dan fugsi protein. Sejumlah besar protein lebih dari
seribu, telah berhasil di isolasi dalam bentuk yang murni.Kini protein
yang dapat dipisahkan dari molekul-molekul kecil dengan cara dialysis
melalui selaput semi permeable. Molekul-molekul dengan BM lebih
besar dari 15.000 tertahan dalam kantung dialysis, sedang molekul-
molekul dengan ukuran lebih kecil dan juga ion-ion akan melewati
pori-pori selaput semi permeable tersebut keluar dari kantung dialysis.

2) Penentuan Kadar Protein


a) Metode Kjeldahl
Metode Kjeldahl dikembangkan pada taun 1883 oleh pembuat
bir bernamaJohann Kjeldahl. Makanan didigesti denganasam kuat
sehingga melepaskan nitrogen yangdapat ditentukankadarnya
dengan teknik titrasi yang sesuai. Jumlah protein yang ada kemudian
dihitung dari kadar nitrogen dalam sampel.
Metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan
nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang
mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan
dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan
menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan

23
kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam
larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.
Prinsip dasar yang sama masih di gunakan hingga sekarang,
walaupun dengan modifikasi untuk mempercepat proses dan
mencapai pengukuran yang lebih akurat. Metode ini masih
merupakan metode standart untuk penentuan kadar protein. Karena
metode Kjeldahl tidak menghitung kadar protein secara langsung,
diperlukan faktor konversi (F) untuk menghitung kadar protein total
dan kadar nitrogen. Faktor konversi6,25 (setara dengan 0,16 g
nitrogen pergram protein) digunakan untuk banyak jenis makanan,
namun angka ini hanya nilai rata-rata, tiap protein mempunyai
faktor.
Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi
menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan
tahap titrasi.
b) Tahap destruksi
Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat
sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya.Elemen karbon,
hidrogen teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan
nitrogennya (N) akan berubah menjadi (NH4)2SO4. Untuk
mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator berupa
campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Gunning menganjurkan
menggunakan K2SO4 atau CuSO4. Dengan penambahan katalisator
tersebut titk didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga destruksi
berjalan lebih cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi,
kadang-kadang juga diberikan Selenium. Selenium dapat
mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan
titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke
valensi rendah atau sebaliknya.
c) Tahap destilasi
Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi
ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan
dipanaskan.Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating
ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang

24
besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn). Ammonia yang
dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam khlorida atau asam
borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan. Agar supaya kontak antara
asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung tabung
destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam. Untuk mengetahui
asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator misalnya
BCG + MR atau PP.
d) Tahap titrasi
Apabila penampung destilat digunakan asam khlorida maka sisa
asam khorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH
standar (0,1 N). Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna
larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila
menggunakan indikator PP.
%N = N. NaOH 14,008 100%
Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka
banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat
diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan
indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan
warna larutan dari biru menjadi merah muda.
%N = N.HCl 14,008 100 %
Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya
dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N
menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun
protein dalam suatu bahan.
3) Keuntungan dan Kerugian
a) Keuntungan :
Metode Kjeldahl digunakan secara luas di seluruh dunia dan
masih merupakan metode standar dibanding metode lain.
Sifatnya yang universal, presisi tinggi dan reprodusibilitas baik
membuat metode ini banyak digunakan untuk penetapan kadar
protein.
b) Kerugian
Metode ini tidak memberikan pengukuran protein sesungguhnya,
karena tidak semua nitrogen dalam makanan bersumber dari
protein.

25
Protein yang berbeda memerlukan faktor koreksi yang berbeda
karena susunan residu asam amino yang berbeda.
Penggunaan asam sulfat pada suhu tinggi berbahaya, demikian
juga beberapa katalis
Teknik ini membutuhkan waktu lama.

26
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu


3.1.1 Praktikum
Hari dan Tanggal : Senin, 15 Mei 2017
Tempat : Laboratorium Kuliner Poltekkes Banjarmasin

3.1.2 Uji Organoleptik


Hari dan Tanggal : Senin, 15 Mei 2017
Tampat : Laboratorium Kuliner Poltekkes Banjarmasin

3.2 Kasus Gizi Buruk


Gino (laki-laki) 18 bulan, PB 67 cm, BB 4.8 kg (kondisi odema), BBA
4.32 kg, kerumah sakit karena batuk sejak dua hari yang lalu. Gino tampak
letargis, lemah dan pucat. Pemeriksaan fisik : pernapasan 50x/menit, nadi
160x/ menit, suhu 38.5oC, cuping hidung kembang kempis, iga kelihatan
menonjol, terdapat tarikan dinding dada dan ada edema di kedua punggung
kaki. Data biokimia : Hb 10.2 mgdl, leukosit 9000/ml, trombosit 230000/ml,
Na 155 mmol/lL GDS 110 mgdl, kalium 3.1 mEq/L, MCV 89.5 IL, MCH 25.5
Pg, MCHC 29.3 gr/dl. Anamnesis : hanya mendapat ASI sampai 4 bulan dan
sejak lahir sudah diberikan pisang serta makanan lain seperti biskuit dan roti.
Anamnesis diet : rata-rata makan sehari 3x, hanya 4-5 sendok makan (lauk,
kuah sayur ,tempe atau tahu) jarang makan buah, tidak suka ikan dan daging.
Makan ayam dan telur (sebulan sekali) dan sering jajan permen, es, kerupuk,
biskuit dan kadang-kadang makan bakso keliling. Food recall satu hari
sebelum sakit sebagai berikut :
Pagi : Biskuit 4 keping, teh manis gelas (gula 1 sdm)
Snack pagi : permen gula 2 buah
Siang : nasi piring (50 gram) ,kuah sup mangkok ,tahu
llllllllllllllllllllllllllll goreng 1 potong (50 gram) ,teh manis gelas (gula 1 sdm)
Malam : lontong isi ukuran kecil (50 gram), tahu goreng 1 potong
llllllllllllllllllllllllllll (50 gram), teh manis gelas (gula 1 sdm)

27
Pasien didiagnosa menderita marasmus dengan odema. Pasien
mendapatkan dextrose NS 570cc/24 jam (8tpm), ampisilin 150mg/6 jam,
gentasilin 30mg/ 24 jam. Setelah pasien diberikan standar formula untuk fase
stabilisasi, pasien dapat menghabiskan makanan yang diberikan setelah 2 hari
dirawat di rumah sakit. Setelah 4 hari, pasien diberikan formula untuk fase
transisi odem pasien mulai berkurang dan berat badan pasien mengalami
kenaikan menjadi 4,7 kg. Untuk mempertahankan dan dalam upaya
meningkatkan BB pasien maka fase pemberian makanan ditingkatkan menjadi
fase rehabilitasi pada 1 - 2 minggu sampai BB/PB mencapai -2SD.

Perhitungan :
1. Perhitungan Kebutuhan Gizi :
BB dengan odema = 4,8 kg
BBA = 4,8 kg 10%(4,8 kg)
= 4,8 0,48 = 4,32 kg
BBI = Berdasarkan tabel Z-score
= 7,7 kg
Status Gizi = BB/PB (4,32 kg Gizi Buruk)
Perhitungan setiap fase :
a. Fase Stabilisasi = 80 x BBI
= 80 x 7,7
= 616
Kalori Infus (Dextrose ) 570 cc/24 jam

= x 2,5

= 14,25 x 4 kkal = 57 kkal


Kebutuhan Energi = 616 kalori infus
= 616 57
= 559 kkal
Protein = 1 gr x BBI
= 1 gr x 7,7
= 7,7 gr (5,5%)
Lemak = 25% x kebutuhan energi
= (25% x 559 kkal) : 9
= 15,53 gr
Karbohidrat = 69,5% x kebtuhan energi
= (69,5% x 559 kkal) : 4
= 97,13 gr
Cairan = 130 ml x kgBBI/hari
= 130 ml x 7,7
= 1001 ml/hari

28
Cairan yang dibutuhkan = cairan cairan infus
= 1001 570 cc
= 431 ml
b. Fase Transisi = 110 x BBI
= 110 x 7,7
= 847
Kalori Infus (Dextrose ) 570 cc/24 jam

= x 2,5

= 14,25 x 4 kkal = 57 kkal


Kebutuhan Energi = 847 kalori infus
= 847 57
= 790 kkal
Protein = 3 gr x BBI
= 3 gr x 7,7
= 23,1 gr (11,7%)
Lemak = 18,3% x kebutuhan energi
= (18,3% x 790 kkal) : 9
= 16,06 gr
Karbohidrat = 70% x kebtuhan energi
= (70% x 790 kkal) : 4
= 138,25 gr
Cairan = 150 ml x kgBBI/hari
= 150 ml x 7,7
= 1155 ml/hari
Cairan yang dibutuhkan = cairan cairan infus
= 1155 570 cc
= 585 ml
c. Fase Rehabilitasi = 150 x BBI
= 150 x 7,7 kg
= 1155
Kalori Infus (Dextrose ) 570 cc/24 jam

= x 2,5

= 14,25 x 4 kkal = 57 kkal


Kebutuhan Energi = 1155 kalori infus
= 1155 57
= 1098 kkal
Protein = 3 gr x BBI
= 3 gr x 7,7
= 23,1 gr (11,7%)
Lemak = 18,3% x kebutuhan energi

29
= (18,3% x 1098 kkal) : 9
= 22,33 gr
Karbohidrat = 70% x kebtuhan energi
= (70% x 1098 kkal) : 4
= 192,15 gr
Cairan = 150 ml x kgBBI/hari
= 150 ml x 7,7
= 1155 ml/hari
Cairan yang dibutuhkan = cairan cairan infus
= 1155 570 cc
= 585 ml

3.3 Identifikasi Resep


a. Nama Resep : F-75
Bahan
- 25 g Susu skim bubuk
- 100 g Gula pasir
- 30 g Minyak sayur
- 20 ml Larutan Elektrolit
- 1000 ml (Tambahan air s/d 1000 mL)
Cara Membuat :
1. Campurkan gula dan minyak sayur
2. Aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix
3. Kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit
4. Aduk sampai kalis dan berbentuk gel
5. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk
sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml.
6. Larutan ini bisa langsung diminum.
7. Masak selama 4 menit, bagi anak yang disentri atau diare persisten.
b. Nama Resep : F-100
Bahan
- 85 g Susu skim bubuk
- 50 g Gula pasir
- 60 g Minyak sayur
- 20 ml Larutan Elektrolit
- 1000 ml (Tambahan air s/d 1000 mL)
Cara Membuat :
1. Campurkan gula dan minyak sayur
2. Aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix
3. Kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit
4. Aduk sampai kalis dan berbentuk gel

30
5. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk
sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml.
6. Larutan ini bisa langsung diminum.
7. Masak selama 4 menit, bagi anak yang disentri atau diare persisten.
Diagram Alir :
Siapkan masing-masing bahan sesuai jumlahnya

Campurkan gula dan minyak sayur

Aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix

Kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit aduk sampai


kalis dan berbentuk gel

Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk


sampai homogen volume menjadi 1000 ml Larutan ini bisa
langsung diminum atau dimasak dulu selama 4 menit.

c. Nama Resep : Modisco


Bahan
- 20 gr/4 sdm Susu bubuk Skim
- 10 gr/ 1 sdm Gula
- 4,6 cc/1 sdt Minyak kelapa
- 200 cc/ 1 gls Air masak
Cara Membuat :
Susu Skim, gula dan minyak diaduk sampai rata, lalu ditambahkan
dengan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk hingga cairan larut.
Disaring dan dimasukkan dalam gelas kemudian diminum dalam
keadaan hangat
d. Nama Resep : Modisco 2
Bahan
- 20 gr/4 sdm Susu bubuk Skim
- 10 gr/ 1 sdm Gula
- 11,2 gr /1 sdm Margarine
- 200 cc/ 1 gls Air masak
Cara Membuat :
Susu Skim, gula dan margarine diaduk sampai rata, lalu
ditambahkan dengan air sedikit demi sedikit sambil terus diaduk
hingga cairan larut. Disaring dan dimasukkan dalam gelas kemudian
diminum dalam keadaan hangat.
3.4 Analisis Biaya
3.5.1 Biaya Standar Resep

31
No Nama Bahan Jumlah Biaya
F 75
1 Susu skim bubuk 25 gr 3000
2 Minyak sayur 30 gr 2000
3 Gula pasir 100 gr 1400
4 Lar. Elektrolit 20 gr 2000
Jumlah Rp 8400
F100
No Nama Bahan Jumlah Biaya
1 Susu skim bubuk 85gr 9000
2 Minyak sayur 60 gr 4000
3 Gula pasir 50 gr 700
4 Lar. Elektrolit 20 gr 2000
Jumlah Rp 15700
Modisco
No Nama Bahan Jumlah Biaya
Susu bubuk skim 20 gr/4 sdm 3000
Gula 10 gr/ 1 sdm 140
Minyak kelapa 4,6 cc/1 sdt 2000
Jumlah Rp 5140
Modisco 2
No Nama Bahan Jumlah Biaya
Susu bubuk Skim 20 gr/4 sdm 3000
Gula 10 gr /1 sdm 140
Margarine 11,2 gr /1 sdm 500
Jumlah Rp 3640
Jumlah Rp 32.880

32
BAB IV
PARAMETER MUTU
4.1 Uji Mutu Produk
a. Uji Organoleptik
Untuk uji organoleptik, uji yang digunakan adalah dengan Uji Hedonik
(Uji Kesukaan).
1) Bahan : F75, F100, Modisco , Modisco 2
2) Jumlah panelis : 30 orang
3) Alat
Piring plastik : 30 buah
Kuesioner uji organoleptik : 30 lembar (lampiran 1)
Pulpen
4) Cara Kerja :
a) Mengumpulkan seluruh panelis disuatu tempat yang telah
ditentukan dan diberi penjelasan tentang cara pengujian dan
pengisian kuesioner.
b) Panelis dari masing- masing dari anggota kelompok lainya itu
terdiri dari 30 orang panelis mengisi kuesioner uji
organoleptikya itu uji kesukaan.
c) Menyiapkan sampel di dalam gelas plastik.
d) Meminta panelis mengisi pendapatnya secara spontan pada
data kuesioner
e) Panelis menguji organoleptik berdasarkan aroma, rasa,
tekstur, dan warna dari produk sari kedelai dan mengisi kolom
yang telah disediakan untuk menilai tingkat kesukaan dengan
keterangan sampel yang disajikan diberi skala penilaian 1
sampai dengan 6 dengan kriteria : 6=Amat Sangat Suka 5 =
Sangat suka 4 = Suka 3 = Agak suka 2 = Biasa 1 =Tidak Suka
dengan cara memilih salah satu keterangan tersebut dengan
member tanda contreng.
f) Setelah panelis selesai mencicipi satu sampel, panelis
diharapkan minum air putih yang telah disediakan disetiap
meja untuk menetralkan rasa.
5) Diagram Alir :
Mengumpulkan semua panelis disuatu tempat

Menjelaskan tentang cara pengujian dan pengisian kuesioner

Menyiapkapkan sampel di dalam gelas plastik

33
Panelis mengisi kuesioner

Menganalisis Data

Data cita rasa dikumpulkan dengan uji organoleptik melalui


pengamatan langsung menggunakan indera pengelihatan (mata),
indera penciuman (hidung), indera pengecap (lidah), dan indera
peraba (tangan) lalu data dianalisis menggunakan aplikasi SPSS Uji
Non-Parametic Wilcoxson dengan = 0,05 serta analisa Deskriptif.
b. Uji Mikrobiologi
Untuk uji mikrobiologi, kami menggunakan metode cawan sebar dengan
5 kali pengenceran.
1. Alat Metode Cawan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini antara
lain : Cawan petri, tabung reaksi, mikropipet, tip, bunsen, batang
L, mortar, alu, korek api, timbangan analitik, stirrer, batang
pengaduk, kaca arloji, dan incubator.
2. Bahan Cawan Sebar
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini
antara lain : Aquades steril, Nutrien Agar (NA), NaCl Fisiologis,
Alkohol, 70 %.
3. Prosedur Kerja
Sterilisasi alat
Alat yang akan digunakan dicuci dengan deterjen, wadah
dengan mulut lebar dibersihkan dengan merendamnya dalam
deterjen selama 15 30 menit menit, 15 kemudian dibilas
dengan air bersih dan terakhir dengan air suling. Setelah kering
alat alat yang digunakan dibungkus dengan koran atau kertas
bersih kemudian diletakan dalam bak untuk mencegah
kontaminasi kemudian dioven selama 2 3 jam pada suhu
1750C. Untuk alat alat dan bahan seperti sarung tangan, PCA
dan aquades disterilkan didalam autoclave pada suhu 1210C
selama 15 20 menit dengan tekanan 15 atm.
Pembuatan Media Plate Count Agar (PCA)

34
Ditimbang PCA sebanyak 4,5 gram kemudian dilarutkan
dalam 225 ml aquades steril pada gelas beker, selanjutnya
dipanaskan di atas kompor gas dan diaduk secara perlahan-
lahan. Setalah PCA larut semua, kemudian diangkat dan
dituang ke dalam Erlenmeyer dan ditutup dengan aluminium
foil, lalu disterilkan di autoklaf dengan suhu 121C selama 15
menit. Selanjutnya media dituang ke cawan perti sebanyak 10-
15 mL lalu di didinginkan sampai mengeras.
Pengolahan Sampel
Pertama-tama sampel dihaluskan dengan menggunakan
lumpang dan alu steril, setelah sampel menjadi halus
ditimbang sebanyak 1 g sampel masukkan ke dalam tabung
reaksi yang berisi 10 ml larutan (NaCl fisiologis) dan
kemudian di vortex hingga homogen. Dari suspensi tersebut
diambil sebanyak 1 ml dengan menggunakan dispo dan
diencerkan menjadi 1:10 dengan menambahkan NaCl
sebanyak 9 ml, selanjutnya dibuat pengenceran 1:100, yaitu
mengambil 1 ml dari hasil pengenceran sebelumnya, demikian
seterusnya hingga diperoleh pengenceran yang diinginkan
yaitu pengenceran 6.
Inokulasi
Cara kerja yang dilakukan dalam perhitungan bakteri
adalah menumbuhkan bakteri pada media Plate Count Agar di
cawan petri dengan menggunakan metode cawan sebar.Dari 2
pengenceran terakhir diambil suspensi sebanyak 1 ml dengan
menggunakan mikropipet, lalu dipindahkan kedalam cawan
petri kemudian diratakan menggunakan batang L steril.
Inkubasi
Kemudian cawan petri yang berisi biakan dibalik lalu
dimasukkan ke incubator selama 24 jam.
Perhitungan jumlah koloni bakteri
Setelah akhir masa inkubasi koloni yang terbentuk
dihitung.Perhitungan jumlah koloni dilakukan secara manual.
Untuk menghitung koloni bakteri digunakan rumus sebagai
berikut :

35
4. Pengolahan Data
Pengolahan data dengan cara melakukan perhitungan koloni
bakteri pada cawan kemudian dibandingkan dengan standar.
5. Diagram Alir
Timbang Sampel 1 gram secara aseptis

Haluskan secara aseptis

Larutkan didalam tabung reaksi berisi NaCL secara aseptis

Lakukan pengenceran sebanyak 6 kali secara aseptis dengan


menggunakan mikropipet

Ambil 1 ml sampel dari pengenceran ke 5 dan ke 6 secara


aseptis

Masukkan masing-masing sampel kedalam cawan petri berisi


PCA secara aseptis
c. Uji
Kimia Sebarkan dengan menggunakan batang L steril secara aseptis
Untuk
Kemudian inkubasi selama 24 jam dengan cawan terbalik
uji
kimia, kami menggunakan penetapan kadar protein dengan metode
kjeldhal.
1) Tujuan Percobaan
a. Dapat melakukan analisa kadar protein dalam suatu bahan pangan
b. Dapat mengetahui kadar protein dalam bahan
2) Alat yang Digunakan
a. Pemanas Kjeldahl yang dihubungkan dengan pengisap uap aspirator
b. Labu Kjeldahl
c. Alat distilasi
d. Erlenmeyer
e. Buret 50ml
f. Neraca analitik
g. Kertas timbang
h. Gelas kimia
i. Labu Ukur
3) Bahan yang Digunakan
a. Sampel : Formula Tempe Wortel
b. Pereaksi :

36
1) Asam Sulfat (H2SO4)
2) Kalium Sulfat (K2SO4)
3) Raksa Oksida (HgO)
4) Larutan Natrium Hidroksida-Natrium Tiosulfat (NaOH-
Na2S2O3)
5) Larutan Asam Borat (H3BO3) jenuh
6) Larutan Asam Klorida (HCl) 0.02N
7) Larutan Indikator metal merah
8) Indikator metil blue
c. Prosedur Kerja
1) Menimbang sample sebanyak 1 gram lalu memindahkannya
kedalam labu kjeldahl.
2) Menambahkan 1,90,1gr K2SO4, 4010mg HgO, dan 12,00,1ml
H2SO4, serta 20 ml H2O.
3) Menambahkan beberapa butir batu didih, lalu memanaskannya
sampai mendidih selama 15 menit dan larutan menjadi jernih
kehijau-hijauan.
4) Melakukan percobaan dilemari asam menggunakan alat destruksi
dengan unit penghisapan uap.
5) Mendinginkan campuran, lalu menambahkan sejumlah air sekitar
30ml (sambil membilas labu Kjeldahl).
6) Memindahkan isi tabung kedalam alat distilasi. Mencuci dan
membilas labu 5-6 kali dengan 1-2ml air lalu dipindahkan dalam
labu distilasi.
7) Meletakkan erlenmeyer yang berisi 5ml larutan H3BO3 dan 2 tetes
indicator di bawah condenser. Ujung tabung condenser harus
terendam dalam larutan H3BO3.
8) Menambahkan 8-10ml larutan NaOH-Na2S2O3, kemudian
melakukan distilasi sampai tertampung kira-kira 15ml distilat
dalam Erlenmeyer.
9) Membilas tabung condenser dengan air dan menampung
bilasannya dalam Erlenmeyer yang sama.
10) Mengencerkan isi Erlenmeyer sampai kira-kira 50ml, kemudian
dititrasi dengan HCl 0,02N sampai terjadi perubahan warna
menjadi abu-abu.
11) Melakukan langkah yang sama untuk blanko.

37
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil

Gambar 1. Formula WHO 75, Formula WHO 100, Modisco dan


Modisco 2
Tabel 8. Hasil Uji Organoleptik F-75, F-100, M , dan M2
Nama Formula Uji Organoleptik
Warna : Putih susu dengan
agak kekuningan diatasnya
Formula WHO 75 Rasa : Agak manis
Tekstur : Cair
Aroma : Khas susu
Warna : Putih susu dengan
agak kekuningan diatasnya
Formula WHO 100 Rasa : Manis
Tekstur : Cair
Aroma : Khas susu
Warna : Putih Susu (lebih
putih dibandingkan F75 dan
Modisco F100)
Rasa : Manis
Tekstur : Cair
Aroma : Khas susu
Modisco 2 Warna : Putih susu dengan
warna jingga diatasnya
Rasa : Manis dan ada rasa
khas margarine
Tekstur : Cair

38
Aroma : Khas susu dan
margarine

5.2 Pembahasan
5.2.1. Formula WHO 75 dan Formula WHO 100
Dari hasil praktikum yang kami lakukan, kami mencoba
membuat formula makanan F75 pada fase stabilisasi dan F100 pada
fase transisi. Pada Fase stabilisasi untuk penderita gizi buruk dengan
8x pemberiaan menggunakan F-75 dengan bahan susu skim bubuk,
gula pasir, dan minyak sayur yang mengandung energi sebesar 750
kkal dan Protein 9 gram. Adapun Adapun kebutuhan zat gizi pada
fase stabilisasi:
Energi : 80-100 kkal/kg BB/hr
Protein: 1-1.5 gr/kg BB/hr
Cairan: 130 ml/kg/BB/hr atau 100 ml/kg BB/hr bila ada odema
berat.
Dasar pertimbangan penyusunan makanan formula F75 menurut
WHO karena keadaan faal tubuh anak gizi buruk sangat berbeda dari
faal tubuh anak yang tidak gizi buruk. Kondisi faal tubuh anak gizi
buruk yaitu:
a. Metabolisme dasar sangat rendah
b. Produksi ATP sangat terbatas
c. Berbagai fungsi tubuh mengalami shut down
d. Tubuh sangat kekurangan kalium
e. Terjadi hiper natremia intra sel
f. Terjadi kekuranga Mg, Cu, dan Zn

Kondisi anak gizi buruk pada tahap stabilisasi juga sangat rentan
terhadap makanan dan minuman seperti:
a. Berkadar NaCl tinggi 0,45 g/100 ml
b. Berkadar Energi tinggi 75 kkal/100 ml
c. Berkadar protein tinggi 0,9 g/100 ml
Karenanya pada fase stabilisasi tidak boleh diberikan makanan ataupun
minuman yang lain selain F75 atau dengan kata lain harus memberikan
makanan yang sudah ditetapkan oleh WHO. Untuk makanan pada fase
stabilisasi peningkatan jumlah formula diberikan secara bertahap. Tujuan
39
terapi gizi pada fase stabilisasi adalah memberikan makanan awal (starter)
supaya anak dalam kondisi stabil.
Sedangkan dalam fase transisi pada anak gizi buruk dilakukan
pemberian makannya harus secara bertahap dan perlahan-lahan jumlahnya
yang kemudian ditingkatkan karena untuk menghindari resiko gagal
jantung yang terjadi apabila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah
yang banyak secara mendadak. Maka dari itu diberikan Formula WHO
100 yang berbahan dasar susu skim bubuk , gula pasir, minyak sayur dan
larutan elektrolit. Bahan dasar ini sama dengan formula WHO 75, namun
berbeda dalam jumlah yang digunakan sehingga energy yang dihasilkan
dalam formula ini sebesar 1000 kkal dan Protein 29 gram. Adapun
kebutuhan zat gizi pada fase transisi:
Energi : 100-150 kkal/kg BB/hr
Protein: 2-3 gr/kg BB/hr
Cairan: 150 ml/kg/BB/hr
Proses pemasakan yang dijalani selama kurang lebih 5 menit
menggunakan api kecil bertujuan untuk membuat formula yang berbahan
susu skim, minyak, gula , dan larutan elektrolit menjadi homogeny dan
menghilangkan air yang berlebihan sehingga formula yang dihasilkan
menjadi pekat dan dapat dikonsumsi. Selain itu, pemasakan juga bertujuan
untuk menghasilkan cita rasa yang baik, pemasakan yang berlebihan akan
menyebabkan formula bahan seperti minyak dan bahan yang lain tidak
menyatu atau pecah-pecah, sedangkan jika pemasakan dengan pemanasan
yang kurang akan menghasilkan formula tidak mendapatkan citarasa yang
baik. Selama pemasakan harus dilakukan pengadukan secara terus
menerus agar campuran bahan susu skim, minyak, gula , dan larutan
elektrolit homogeny. Pengadukan ini bertujuan untuk memperoleh strukur
dan cita rasa. Pengadukan tidak boleh terlalu cepat karena dapat
menimbulkan gelembung-gelembung yang dapat merusak tekstur dan
penampakan akhir. Pemasakan harus dilakukan dalam waktu yang singkat
untuk mencegah hilangnya aroma, warna, dan rasa.

40
Pada uji organoleptik, 30 panelis menguji hasil Formula WHO 75 dan
Formula WHO 100 untuk mengetahui persentase warna, aroma, tekstur,
dan rasa sebagai hasil dari daya terima terhadap produk . Adapun hasil
yang didapat sebagai berikut :
a) Uji Warna
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Warna
Formula
Kategori F-75 F-100
N % N %
Sangat Suka 5 16,7 9 30
Suka 21 70 18 60
Agak Suka 4 13,3 3 10
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula F75 pada fase stabilisasi dan


formula F100 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 9 untuk Formula
F75 Dapat terlihat dengan jelas bahwa frekuensi terbesar sebesar 70% (21
orang) adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar
13,3% (4 orang) adalah dengan kategori agak suka. Sedangkan pada
pembuatan formula F100 pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi
terbesar sebesar 60% (18 orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang
terkecil sebesar 10% (3 orang) dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat
berbeda antara kedua Formula yang dibuat.
Warna memegang peranan penting dalam menentukan kesukaan
panelis terhadap suatu produk. Pada penilaian warna terdapat lebih dari
50% total panelis menyukai kedua warna dari formula yang kami buat
sehingga daya terima terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan ini
menurut kami karena adanya pengaruh warna dari susu skim bubuk yang
memang pada dasarnya memiliki warna yang bagus yaitu putih, warna
putih pada susu skim bubuk ini diakibatkan oleh dispersi yang
merefleksikan sinar dari globula-globula lemak serta partikel-partikel

41
koloid senyawa kasein dan kalsium fosfat serta dikarenakan tidak adanya
kandungan lemak pada susu skim. (Muhamad, 2002)
Sedangkan untuk panelis yang agak suka dikarenakan pengenceran
kedua formula dengan ditambahkan 1000 ml air hangat dan campuran
minyak sayur. Susu yang semula memiliki warna dasar putih, semakin
ditambah air yang memiliki sifat panas maka susu skim yang mengandung
riboflavin yang terdegradasi sehingga membuat kandungan susu menjadi
agak kekuningan. Begitupula dengan penambahan minyak, minyak
berwarna kuning berasal dari beta karoten yang kemudian apabila
ditambah dengan air yang memiliki sifat panas maka beta karoten akan
terdegradasi sehingga membuat warna menjadi kekuningan.
Dari warna kedua formula, pada F75 memiliki kuning yang lebih muda
dibandingkan dengan formula F100 karena jumlah bahan yang digunakan
lebih banyak F100 dibanding F75. Tetapi, diatas cairan F75 terdapat
minyak sayur yang agak tergenang dibagian atas cairan susu tersebut, hal
ini dapat terjadi karena cara pengolahan yang kurang tepat, yaitu jika saat
pencampuran seluruh bahan langsung ditambahkan air sedikit demi sedikit
maka akan menyebabkan minyak sayur yang ditambahkan tadi masih
belum menyatu dan minyak sayur tersebut akan tergenang di atas
permukaan cairan susu yang sudah jadi. Maka cara untuk menanggulangi
hal tersebut yaitu dengan cara jika lebih baik saat pencampuran bahan
terutama minyak sayur diaduk/dicampur terlebih dahulu bersama susu
skim tersebut. Karena salah satu sifat susu yaitu dapat mengikat lemak
(yaitu minyak sayur), lalu saat minyak sayur sudah diikat oleh susu dapat
dicampurkan bahan-bahan lain, kemudian tambahkan air hangat hingga
1000 ml.

b) Uji Rasa
Tabel 10. Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Rasa
Formula
Kategori F-75 F-100
N % N %
Sangat Suka 8 26,7 6 20
Suka 16 53,3 20 66,7
Agak Suka 6 20 4 13,3

42
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula F75 pada fase stabilisasi dan


Formula F100 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 10 dapat terlihat
dengan jelas bahwa frekuensi terbesar sebesar 53,3% (16 orang) adalah
dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 20% (6 orang)
dengan kategori agak suka. Sedangkan pada pembuatan formula F100
pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar 66,7% (20
orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 13,3% (4
orang) dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara kedua
Formula yang dibuat.
Pada penilaian rasa terdapat lebih dari 50% total panelis menyukai rasa
formula F75 dan Formula F100 yang kami buat sehingga daya terima
terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan itu dikarenakan rasa gurih
dan agak manis yang terdapat didalam susu skim. Rasa gurih dan agak
manis yang didapat karena garam-garam mineral flourida dan sitrat yang
ada. Kemudian rasa manis yang didapat akibat dari penambahan gula
pasir. Sedangkan penambahan minyak sayur tidak merubah rasa yang ada
karena minyak sayur mempunyai rasa yang natural dan hampir tidak
memiliki efek aroma sehingga tidak merusak rasa alami dari produk.
Rasa agak suka yang ditunjukkan panelis pada uji organo ini
dikarenakan memang ada beberapa panelis yang tidak menyukai susu.

c) Uji Tekstur
Tabel 11.Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Tekstur
Formula
Kategori F-75 F-100
N % N %
Sangat Suka 5 16,7 4 13,3
Suka 21 70 19 63,3
Agak Suka 4 13,3 7 23,3
Agak Tidak Suka 0 0 0 0

43
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula F75 pada fase stabilisasi dan


Formula F100 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 11 dapat terlihat
pada formula F75 bahwa frekuensi terbesar sebesar 70% (21 orang)
adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 13,3% (4
orang) dengan kategori agak suka. Sedangkan pada pembuatan formula
F100 pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar 63,3%
(19 orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar
23,3% (7 orang) dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara
kedua Formula yang dibuat.
Pada penilaian tekstur terdapat lebih dari 50% panelis menyukai
tekstur formula F75 dan Formula F100 yang kami buat sehingga daya
terima terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan ini menurut kami
karena memang formula yang kami buat sama seperti minuman susu pada
umumnya. Sedangkan panelis yang agak suka dikarenakan tekstur susu
yang terlalu encer. Formula yang encer karena takaran yang dilakukan
dalam cara kerja sudah tepat karena takaran yang dibuat sedemikian rupa
telah memperhatikan osmolaritas (tingkat kekentalan) yang telah
disesuaikan dengan kemampuan fungsi pencernaan anak gizi buruk. Pada
anak gizi buruk seringkali adanya gangguan pencernaan, maka dari itu
pada fase stabilisasi dan transisi diberikan pemberian makanan yang tidak
memberatkan kerja saluran pencernaan. Jika standar takaran diabaikan
makan akibat yang terjadi tingkat osmolaritas tidak akan tepat sehingga
balita yang mengalami gizi buruk tidak dapat menerima asupan makan dan
semakin memicu gangguan pencernaan akibat saluran pencernaan yang
tidak optimal.

d) Uji Aroma
Tabel.12 Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Aroma
Formula
Kategori F-75 F-100
N % N %

44
Sangat Suka 5 16,7 7 23,3
Suka 18 60 20 66,7
Agak Suka 7 23,3 3 10
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula F75 pada fase stabilisasi dan


Formula F100 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 12 dapat terlihat
pada formula F75 bahwa frekuensi terbesar sebesar 60% (18 orang)
adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 23,3% (7
orang) dengan kategori agak suka. Pada pembuatan formula F100 pada
fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar 66,7% (20 orang)
dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 10% (3 orang)
dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara kedua Formula
yang dibuat.
Pada penilaian aroma terdapat lebih dari 60% panelis menyukai tekstur
formula F75 dan Formula F100 yang kami buat sehingga daya terima
terhadap kedua produk sudah baik dari aroma dari produk kami. Kesukaan
ini menurut kami karena aroma dari susu skim bubuk yang pada dasarnya
berbau manis namun tidak semanis susu bubuk full cream, karena semakin
manis aroma maka kandungan lemak nya semakin tinggi sedangkan susu
skim tidak mengandung lemak. Untuk panelis yang kurang suka terhadap
aroma kedua Formula disebabkan karena aroma khas susu akan berkurang
seiring dibiarkannya terkena udara yang bebas, namun penambahan
minyak dalam formula dapat berpengaruh terhadap aroma formula, pada
formula F75 didapat presentase kurang suka lebih banyak dibanding F100.
Hal ini terjadi karena adanya proses oksidasi, secara umum proses oksidasi
pada minyak terjadi akibat adanya molekul asam lemak tak jenuh yang
berubah menjadi asam lemak terbang yang kemudian teroksidasi sehingga
membentuk hiperoksida serta asam asam lain yang akan memebrikan
karakteristik bau. Maka dari itu aroma agak kurang disukai pada formula
F75 karena ukuran minyak yang ditambahkan lebih banyak apabila

45
dibanding dengan susu skim yang ada pada F100 dan susu skim yang ada
pada F75, namun minyaknya lebih sedikit dari F100.

5.2.1. Modisco dan Modisco 2


Pada uji organoleptik, 30 panelis menguji hasil Modisco dan
Modisco 2 untuk mengetahui persentase warna, aroma, tekstur,
dan rasa sebagai hasil dari daya terima terhadap produk. Adapun
hasil yang didapat sebagai berikut :
a) Uji Warna
Tabel 13. Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Warna
Formula
Kategori M 1/2 M2
N % N %
Sangat Suka 11 36,7 4 13,3
Suka 18 60 17 56,7
Agak Suka 1 3,3 9 30
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula M pada fase stabilisasi dan


formula M2 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 13. Untuk M
Dapat terlihat dengan jelas bahwa frekuensi terbesar sebesar 60% (18
orang) adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar
3,3% (1 orang) adalah dengan kategori agak suka. Sedangkan pada
pembuatan formula M2 pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar
sebesar 56,7% (17 orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang
terkecil sebesar 13,3% (4 orang) dengan kategori sangat suka, dan 30% (9
orang) menyatakan agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara kedua
Formula yang dibuat.
Warna memegang peranan penting dalam menentukan kesukaan
panelis terhadap suatu produk. Pada penilaian warna terdapat lebih dari
50% panelis menyukai warna kedua warna dari formula yang kami buat
sehingga daya terima terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan ini

46
menurut kami karena adanya pengaruh warna dari susu skim bubuk yang
memang pada dasarnya memiliki warna yang bagus yaitu putih, menurut
Muhamad (2003) warna putih pada susu skim bubuk ini diakibatkan oleh
dispersi yang merefleksikan sinar dari globula-globula lemak serta
partikel-partikel koloid senyawa kasein dan kalsium fosfat serta
dikarenakan tidak adanya kandungan lemak pada susu skim.
Sedangkan untuk panelis yang agak suka dikarenakan pengenceran
kedua formula dengan ditambahkan 200 ml air hangat. Serta pada cairan
modisco 2 terdapat warna jingga (orange) diatas cairan tersebut, hal ini
disebabkan karena adanya penambahan margarine pada resep modisco 2
yang tidak menyatu pada cairan susu tersebut.

b) Uji Rasa
Tabel 14. Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Rasa
Formula
Kategori M 1/2 M2
N % N %
Sangat Suka 10 33,3 5 16,7
Suka 14 46,7 14 46,7
Agak Suka 6 20 10 33,3
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 1 3,3
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula M pada fase stabilisasi dan


Formula M2 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 14. Dapat pada
formula M dengan jelas bahwa frekuensi terbesar sebesar 46,7% (14
orang) adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar
20% (6 orang) dengan kategori agak suka. Sedangkan pada pembuatan
formula M2 pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar
46,7% (14 orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil
sebesar 33,3% (10 orang) dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat
berbeda antara kedua Formula yang dibuat.
Pada penilaian rasa terdapat lebih dari 50% panelis menyukai rasa
formula M dan Formula M2 yang kami buat sehingga daya terima

47
terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan itu dikarenakan rasa gurih
dan agak manis yang terdapat didalam susu skim. Rasa gurih dan agak
manis yang didapat karena garam-garam mineral flourida dan sitrat yang
ada. Kemudian rasa manis yang didapat akibat dari penambahan gula
pasir. Sedangkan penambahan minyak kelapa pada formula M tidak
merubah rasa yang ada karena minyak kelapa mempunyai rasa yang
natural dan hampir tidak memiliki efek aroma sehingga tidak merusak rasa
alami dari produk. Sedangkan penambahan margarine pada formula M2
dapat menimbulkan rasa gurih jika ditambahkan ke dalam cairan susu
tersebut.
Didapatkannya rasa agak suka pada panelis pada uji organo ini dapat
dikarenakan memang ada beberapa panelis yang tidak menyukai susu.
Sedangkan rasa agak suka panelis pada Formula M2 lebih banyak
dibanding dengan formula M karena adanya rasa margarine yang juga
ikut mendominasi pada formula M tersebut, yang bisa saja beberapa
panelis tidak terlalu menyukai rasa tersebut.

c) Uji Tekstur
Tabel 15.Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Tekstur
Formula
Kategori M 1/2 M2
N % N %
Sangat Suka 11 36,7 6 20
Suka 16 53,3 17 56,7
Agak Suka 3 10 7 23,3
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

Hasil praktikum pembuatan formula M pada fase stabilisasi dan


Formula M2 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 15. Dapat terlihat
pada formula M bahwa frekuensi terbesar sebesar 53,3% (16 orang)
adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 10% (3
orang) dengan kategori agak suka. Sedangkan pada pembuatan formula
M2 pada fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar 56,7% (17

48
orang) dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 23,3% (7
orang) dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara kedua
Formula yang dibuat.
Pada penilaian tekstur terdapat lebih dari 70% panelis menyukai
tekstur formula M dan Formula M2 yang kami buat sehingga daya
terima terhadap kedua produk sudah baik. Kesukaan ini menurut kami
karena memang formula yang kami buat sama seperti minuman susu pada
umumnya. Sedangkan panelis yang agak suka tersebut dapat dikarenakan
tekstur susu yang encer. Formula yang encer karena takaran yang
dilakukan dalam cara kerja sudah tepat karena takaran yang dibuat
sedemikian rupa telah memperhatikan osmolaritas (Tingkat kekentalan)
yang telah disesuaikan dengan kemampuan fungsi pencernaan anak gizi
buruk, Pada anak gizi buruk seringkali adanya gangguan pencernaan,
maka dari itu pada fase stabilisasi dan transisi diberikan pemberian
makanan yang tidak memberatkan kerja saluran pencernaan. Jika standar
takaran diabaikan makan akibat yang terjadi tingkat osmolaritas tidak akan
tepat sehingga balita yang mengalami gizi buruk tidak dapat menerima
asupan makan dan semakin memicu gangguan pencernaan akibat saluran
pencernaan yang tidak optimal.
Dan pada formula M2 juga terdapat komposisi margarine yang bisa
saja ada beberapa panelis yang tidak terlalu menyukai tekstur margarine
saat mencicipi formula M2 ini.

d) Uji Aroma
Tabel.15 Distribusi Frekuensi Tingkat Kesukaan Aroma
Formula
Kategori M 1/2 M2
N % N %
Sangat Suka 11 36,7 11 36,7
Suka 19 63,3 13 43,3
Agak Suka 0 0 6 20
Agak Tidak Suka 0 0 0 0
Tidak Suka 0 0 0 0
Total 30 100.0 30 100.0

49
Hasil praktikum pembuatan formula M pada fase stabilisasi dan
Formula M2 pada fase transisi untuk penderita gizi buruk dapat terlihat
hasil uji organoleptik warna seperti terlihat pada Tabel 15. Dapat terlihat
pada formula M bahwa frekuensi terbesar sebesar 63,3% (19 orang)
adalah dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 36,7% (11
orang) dengan kategori sangat suka. Pada pembuatan formula M2 pada
fase transisi terlihat bahwa frekuensi terbesar sebesar 43,3% (13 orang)
dengan kategori suka dan frekuensi yang terkecil sebesar 20% (6 orang)
dengan kategori agak suka. Hal ini terlihat berbeda antara kedua Formula
yang dibuat.
Pada penilaian aroma terdapat lebih dari 70% panelis menyukai tekstur
formula M dan Formula M2 yang kami buat sehingga daya terima
terhadap kedua produk sudah baik aroma dari produk kami. Kesukaan ini
menurut kami karena aroma dari susu skim bubuk yang pada dasarnya
berbau manis namun tidak semanis susu bubuk full cream, karena semakin
manis aroma maka kandungan lemak nya semakin tinggi sedangkan susu
skim tidak mengandung lemak. Untuk panelis yang agak suka terhadap
aroma Formula M2 dapat disebabkan karena bisa saja ada beberapa
panelis yang memang tidak menyukai susu dan tidak terlalu menyukai
aroma dari margarine yang juga ikut dominan pada formula M2 tersebut.

50
BAB VI
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
Pada kasus gizi buruk dengan status anak laki-laki yang memiliki berat
badan 4,8 kg dan umur 18 bulan, pada fase stabilisasi diberikan Formula
WHO 75 dan Modisco dan pada fase transisi diberikan Formula WHO
100 dan Modisco 2.
Frekuensi pemberian Formula WHO 75 dan 100 adalah 8 kali, Sedangkan
frekuensi pemberian Formula Modisco dan 2 adalah 4x.
Uji organoleptik dari panelis memberikan daya terima yang baik karena
rata-rata panelis menyukai Formula WHO 75, Formula WHO 100,
Modisco serta Modisco 2. Maka mutu dari kedua formula sudah baik.

6.2 Saran
Pada permukaan formula F75 terdapat minyak sayur yang agak tergenang
dibagian atas cairan susu tersebut, hal ini dapat terjadi karena cara pengolahan
yang kurang tepat, yaitu jika saat pencampuran seluruh bahan langsung
ditambahkan air sedikit demi sedikit maka akan menyebabkan minyak sayur
yang ditambahkan tadi masih belum menyatu dan minyak sayur tersebut akan
tergenang di atas permukaan cairan susu yang sudah jadi.
Maka saran untuk menanggulangi hal tersebut yaitu dengan cara jika lebih
baik saat pencampuran bahan terutama minyak sayur diaduk/dicampur terlebih
dahulu bersama susu skim tersebut. Karena salah satu sifat susu yaitu dapat
mengikat lemak (yaitu minyak sayur), lalu saat minyak sayur sudah diikat oleh
susu dapat dicampurkan bahan-bahan lain, kemudian tambahkan air hangat
hingga 1000 ml.

51
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Tinjauan Pustaka Wortel


(http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/39724/Chapter
%20II.pdf;jsessionid=8E88814C94AFE9259B781B73B62B8986?
sequence=4 (Diunduh Pada Tanggal 30 Mei 2017))

Anonim. 2012 . Gizi Buruk. Universitas Sumatera Utara. file pfd

Almatsier, Sunita, 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta

Almatsier, Sunita, 2006. Penuntun Diet. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

F-100 And F-75 (Foods). (https ://En.Wikipedia.Org/Wiki/F-100_ And_F-75_


%28foods%29). Diakses Pada Tanggal 29 Mei 2017

http://Motherchildnutrition.Org/Malnutrition-Management/Info/Feeding-
Formulas-F75-F100.Html. Diunduh Pada Tanggal 28 Mei 2017

http://eprints.polsri.ac.id/832/3/BAB%20II.pdf (Diunduh Pada Tanggal 30 Mei


2017)

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/39633/Chapter
%20II.pdf?sequence=3 (Diunduh Pada Tanggal 30 Mei 2017)

Minarto. 2011. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku II).
Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jendral Bina Gizi dan Kesehatan
Ibu dan Anak. Jakarta

Siswono. 2010. Mineral Mix Solusi Alternatif. (Http://Gizi.Depkes.


Go.Id/Mineral-Mix -Solusi-Alternatif) Diunduh Pada Tanggal 30 Mei
2017

Soegianto Benny. Makanan Formula WHO. Situs Web:


http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/matkul/Ilmu%20Gizi/MAKANAN
%20FORMULA%20WHO.pdf (Diunduh Pada Tanggal 30 Mei 2017)
Teknologi pengolahan jagung (teori dan praktek) pdf (Diunduh Pada Tanggal 30
Mei 2017)

52