Anda di halaman 1dari 3

Nama : Rinaldy Avianto

NIM : 30401612444

Analisis Kasus MSDM PT Garuda Indonesia

Kasus:

Pilot-pilot PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) di bawah Asosiasi (APG), Kamis


(28/7/2011) berencana melakukan mogok karena gaji yang diterima lebih kecil
daripada gaji pilot asing yang dikontrak manajemen Garuda Indonesia. Direktur
Operasi Garuda Indonesia, Ari Sapari mengatakan manajemen Garuda akan
memenuhi tuntutan para pilot yang meminta penyesuaian gaji dengan pilot asing
yang dipekerjakan Garuda.

Manajemen Garuda Indonesia lalu mengeluarkan ilustrasi simulasi penggajian


penerbang garuda. Dalam ilustrasi itu disebut penerbang lokal mendapatkan gaji
perbulannya Rp47,7 juta sedangkan penerbang asing USD8.100 setara Rp68,8 juta
per bulan.

Flight allowance yang diterima penerbang lokal Rp10 juta (dengan asumsi 60 jam
terbang), sedangkan penerbang asing tidak mendapatkan karena termasuk di
gaji. Benefit cash seperti THR hingga insentif-bonus yang diterima penerbang lokal
sebesar 3,5 dikali gaji per tahun atau sebesar Rp13,9 juta per bulan. Sedangkan
penerbang asing sama sekali tidak mendapatkannya.

Sementara total uang yang diterima bagi penerbang lokal per tahun mencapai
Rp860 juta sedangkan penerbang asing Rp826 juta. Dengan demikian, selisih gaji
yang bagi penerbang lokal Rp12,3 juta per bulan sedangkan penerbang asing hanya
Rp2,25 juta per bulan.

Penerbang lokal tidak mendapatkan housing allowance, sedangkan penerbang


mendapatkannya sebesar USD1.200 atau setara dengan Rp10 juta per bulan. Pilot
lokal mendapatkan medical allowance, personal accident assurance, lost of flying
licence, iuran pensiun, Jamsostek, kesehatan pensiun, penghargaan pensiun.
Sedangkan pilot asing tidak," kata Ari.

Saat ini, Garuda Indonesia memperkerjakan sebanyak 43 pilot kontrak dan 34


diantaranya pilot asing. Direktur Operasi Garuda Indonesia, Ari Sapari, menjelaskan,
status pilot asing di Garuda hanya bersifat kontrak dengan perjanjian kerja selama
12 bulan. Selama masa kerja tersebut, pilot asing tersebut menerima pendapatan
dalam mata uang dolar Amerika Serikat.

PT Garuda Indonesia Tbk mengklaim jumlah gaji yang didapatkan oleh pilot-pilot
lokalnya lebih besar ketimbang gaji pilot asing yang dikontraknya. Dalam sebulan
gaji pilot lokal mencapai Rp 71 juta, sementara pilot asing Rp 68,8 juta/bulan.
Demikian disampaikan oleh Vice President Corporate CommunicationGaruda
Pujobroto.

Ilustrasi simulasi penggajian penerbang Garuda:


Penerbang Lokal Penerbang Asing
Rp47,7 juta per US$8.100 setara
Gaji
bulan Rp68,8 juta/bulan
(Tidak dapat,
Rp10 juta (asumsi karena termasuk
Flight Allowance
60 jam terbang) di gaji, produksi
80 jam terbang)
3,5 x gaji/tahun
Benefit Cash (TT, THR, Insentif/Bonus) atau Rp13,9 -
juta/bulan
Total Penerimaan per bulan Rp71 juta Rp68,8 juta
Total Penerimaan per tahun Rp860 juta Rp826 juta
Benefit/Non Cash
Benefit Allowance, Personal Accident,
Assurance, Lost of Flying, Iuran Pensiun,
Rp12,3 juta/bulan Rp2,25 juta/bulan
Jamsostek, Kesehatan, Pensiun,
Penghargaan Masa Kerja 20 tahun,
Penghargaan Pensiun
US$1.200 atau
Housing Allowance - setara Rp10
juta/bulan

Namun deputi Teknik Asosiasi Pilot Garuda Isays U. Sampesulse pernah


mengungkapkan bahwa kapten pilot asing yang bekerja pada tahun pertama
mendapat gaji US$ 9.000 atau sekitar Rp 77 juta per bulan. Gaji itu masih ditambah
biaya akomodasi US$ 1.200 atau sekitar Rp 10,3 juta. Adapun first officer asing
menerima biaya akomodasi US$ 7.200 atau sekitar Rp 64,8 juta.

Adapun kapten pilot lokal, yang sama-sama bekerja pada tahun pertama, mendapat
gaji total Rp 43 juta. "Gaji pilot asing itu setara dengan pilot lokal yang sudah punya
masa kerja 20 tahun," kata Isays.

Diskriminasi upah ini terjadi karena Garuda menggunakan standar internasional


ketika mengontrak pilot asing. Sementara untuk pilot lokal, tidak digunakan standar
itu.

Salah satu penyebab terjadinya aksi mogok ini, kata Presiden Asosiasi Pilot Garuda,
Stephanus, karena selama ini telah terjadi sikap diskriminasi yang dilakukan
Manajemen Garuda Indonesia terkait soal pendapatan antara pilot lokal dan asing
yang menyebabkan kesenjangan di antara mereka.
Selain itu, terus bertambahnya jumlah pesawat tidak diimbangi dengan jumlah
penerbang yang memadai menyebabkan sangat padatnya jadwal terbang bagi pilot.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelelahan yang kemudian dapat
membahayakan keselamatan penerbangan.

Analisis Kasus

Ada 3 unsur MSDM yang terdapat pada kasus ini, yaitu:

Kompensasi

Dari kasus diatas dapat dikatakan bahwa permasalahan terdapat pada


ketidakpuasan pilot lokal dengan kebijakan PT Garuda Indonesia terkait dengan
perbedaan gaji yang diterima antara pilot lokal dan pilot asing. Dari data diatas, pilot
asing mendapat gaji sebesar USD 8,100 atau setara dengan Rp 68,8 juta per bulan,
sedangkan pilot lokal hanya mendapatkan Rp 47,7 juta per bulan. Sehingga
masalah ini mengacu pada kurang adilnya sistem kompensasi yang diberikan PT
Garuda Indonesia kepada pegawai-pegawainya.

MSDM Internasional

Berdasarkan kasus diatas, PT Garuda Indonesia mempekerjakan 43 pilot kontrak


dan 34 diantaranya merupakan pilot asing. Pilot asing tersebut dikontrak selama 12
bulan dan dibayar dengan menggunakan mata uang USD.

Pemeliharaan Karyawan

Berdasarkan kasus diatas, para pilot lokal PT Garuda Indonesia melakukan mogok
kerja karena gaji yang diterima lebih kecil daripada gaji pilot asing yang dikontrak
manajemen Garuda Indonesia. Hal ini perlu diperbaiki dan diluruskan oleh PT
Garuda Indonesia agar kondisi kembali normal dan pilot lokal mau kembali bekerja.