Anda di halaman 1dari 52

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Masalah


Berat bayi lahir merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir.
Berat bayi lahir normal (usia gestasi 37-42 minggu) adalah 2.500-4.000 gram. Berat
bayi lahir normal merupakan suatu hal yang sangat penting karena akan menentukan
kemampuan bayi untuk dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan hidup yang baru
sehingga tumbuh kembang bayi akan berlangsung secara normal. BBLR merupakan
salah satu dampak tidak sempurnanya tumbuh kembang janin selama di dalam rahim
ibu. BBLR adalah bayi yang mempunyai berat lahir kurang dari 2.500 gram yang
ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir. BBLR
mempunyai resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi.1
Berat badan lahir 2.500 gram yang hingga kini merupakan standar ukuran
risiko morbiditas dan mortalitas bayi merupakan faktor risiko penting yang
berdampak hingga usia dewasa. Akhir akhir ini, berbagai penelitian menunjukan
berat badan lahir di bawah 3.000 gram memiliki risiko penyakit degeneratif ketika
dewasa. Saat ini, satu dari sepuluh balita di Indonesia terlahir dalam kondisi berat
badan lahir rendah (BBLR), sehingga dapat diasumsikan bahwa lebih banyak lagi
angka bayi dengan berat badan lahir kurang dari 3.000 gram yang berisiko lebih besar
mengalami penyakit degeneratif pada usia dewasa.2
WHO memperkirakan >20 juta bayi berat lahir rendah (BBLR) lahir setiap
tahun dan mempengaruhi 16% dari BBLR di Negara berkembang. Kejadian berat
badan lahir rendah (BBLR) di Negara berkembang sebesar 23,6%, sedangkan di 11
Negara maju kejadian berat badan lahir rendah(BBLR) sebesar 5,9%, jadi kejadian
berat badan lahir rendah(BBLR) di Negara berkembang 4 kali lebih besar
dibandingkan dengan berat badan lahir rendah(BBLR) di Negara maju.3
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun
2012, AKB di Indonesia adalah 32 per 1.000 kelahiran hidup sedangkan untuk Angka
Kematian Neonatus (AKN) yaitu 19 per 1.000 kelahiran hidup. Dari seluruh kematian
bayi di Indonesia sebanyak 46,2% meninggal pada masa neonatus (usia di bawah 1
bulan). Penyebab neonatus sebagian besar karena gangguan pernafasan/afiksia
(35,9%) dab Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) (32,4%).4
Kematian ibu dan bayi di Indonesia yang masih tinggi merupakan fokus utama
pemecahan masalah kesehatan di negara berkembang termasuk di Indonesia. Untuk

1
mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDGs), yaitu Angka Kematian Ibu
(AKI) sebesar 102/100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB)
menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, perlu upaya percepatan yang
lebih besar dan kerja keras karena kondisi saat ini di Indonesia, AKI mencapai 307
per 100.000 kelahiran hidup dan AKB 32 per 1.000 kelahiran hidup. 5 Angka Kematian
Bayi di Indonesia masih tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain di
kawasan ASEAN.6
Berdasarkan Hasil Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa persentase balita
(0-59 bulan) dengan BBLR sebesar 10,2%. Persentase BBLR tertinggi terdapat di
Provinsi Sulawesi Tengah (16,9%) dan terendah di Sumatera Utara (7,2%).7
Kejadian BBLR yang tinggi menunjukan bahwa kualitas kesehatan dan
kesejahteraan masyarakat masih rendah oleh karena itu diperlukan upaya untuk
menurunkan angka kejadian BBLR agar kualitas kesehatan dan kesejahteraan
masyarakat menjadi meningkat. Kejadian BBLR ini bisa dicegah bila kita mengetahui
faktor faktor penyebabnya. Namun sampai saat ini belum ada penelitian terkait
hubungan antara kadar hemoglobin dan faktor faktor lainnya dengan berat badan
lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Berat badan lahir 2.500 gram merupakan standar ukuran risiko morbiditas dan
mortalitas bayi merupakan faktor risiko penting yang berdampak hingga usia dewasa
1.2.2 Besarnya angka kejadian berat bayi lahir rendah di negara berkembang yaitu 23,4%,
dimana 4 kali lebih besar dibandingkan dengan negara maju yaitu 5,9%.
1.2.3 Tingginya angka kematian bayi yaitu sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup dan angka
kematian neonatus 19 per 1.000 kelahiran hidup di Indonesia.
1.2.4 Terdapat berat badan lahir rendah sebagai sebagian besar dari penyebab kematian
neonatus di Indonesia yaitu sebesar 32,4%.

1.3 Hipotesis

2
1.3.1 Adanya hubungan kadar Hb dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai
bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat pada Bulan
November 2016.
1.3.2 Adanya hubungan usia ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai
bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta periode pada Bulan
November 2016.
1.3.3 Adanya hubungan paritas ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.4 Adanya hubungan jarak kehamilan dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.5 Adanya hubungan frekuensi antenatal care ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu
yang mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.6 Adanya hubungan status gizi ibu saat hamil dengan berat badan lahir bayi pada ibu
yang mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.7 Adanya hubungan pekerjaan ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.8 Adanya hubungan pendidikan ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.
1.3.9 Adanya hubungan pendapatan keluarga dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
periode pada Bulan November 2016.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar Hb dan faktor-faktor
lainnya dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat pada Bulan November 2016.

3
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya sebaran berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi di
wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada Bulan November 2016.
2. Diketahuinya sebaran kadar Hb pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada Bulan November 2016.
3. Diketahuinya sebaran responden berdasarkan usia ibu, paritas, jarak kehamilan,
status gizi, pemeriksaan kehamilan (ANC), pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan
pendapatan keluarga di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta
Barat pada Bulan November 2016.
4. Diketahuinya hubungan antara kadar Hb, usia ibu, paritas, jarak kehamilan, status
gizi, pemeriksaan kehamilan (ANC), pendidikan ibu, pekerjaan ibu, dan
pendapatan keluarga terhadap berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai
bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat pada
Bulan 2016.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Bagi Peneliti
1. Memberikan pengetahuan dan pengalaman bagi peneliti dalam menjalankan tugas.
2. Penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai hubungan kadar Hb dan
faktor-faktor lainnya terhadap berat badan lahir bayi bagi peneliti.

1.5.1 Bagi Institusi Pendidikan


1. Mengamalkan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi atau tugas
perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian,
dan pengabdian masyarakat.
2. Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana, khususnya Fakultas Kedokteran,
sebagai salah satu lembaga pendidikan yang peduli terhadap penelitian ilmiah
dibidang kesehatan.

1.5.2 Bagi Masyarakat / Ibu hamil


1. Sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan
kesehatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan
dan pemenuhan status gizi pada ibu hamil.
2. Untuk mencegah kejadian berat badan lahir bayi rendah.

4
1.5.4. Bagi Puskesmas / Tempat Penelitian
1. Memberikan masukan dan sebagai pertimbangan untuk membuat kebijakan dalam
bidang KIA, khususnya pada fasilitas pelayanan kesehatan primer dalam
merencanakan program kesehatan ibu dan anak agar mempunyai sasaran yang
tepat, sehingga kejadian berat badan lahir rendah dapat diantisipasi sedini
mungkin

5
Bab II
Pendahuluan

2.1 Tinjauan Teori


2.1.1 Hemoglobin
Hemoglobin merupakan bagian dari sel darah merah (eritrosit), yang berfungsi
untuk membawa oksigen dari paru ke jaringan tubuh. Hemoglobin (Hb) terbentuk dari
heme dan globin. Rantai globin terdiri atas 4 rantai polipeptida (tetramer). Orang
dewasa normal membentuk HbA dengan kadar 95% dari seluruh hemoglobin. Sisanya
terdiri dari HbA2 yang kadarnya tidak lebih dari 4% dan HbF (fetus) dengan kadar
yang senantiasa menurun sampai usia 6 bulan hingga hanya mencapai kadar kurang
dari 1%. Tetramer globin HbA terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai beta (aa/), HbA2
terdiri dari 2 rantai alfa dan 2 rantai delta (aa/dd), dan HbF terdiri dari 2 rantai alfa
dan 2 rantai gamma (aa/).Pembentukan dari hemoglobin dimulai dari fase
proeritroblas dan tetap berlanjut bahkan saat fase retikulosit.8

Gambar 1. Struktur Heme.9

Bagian penting dari pembentukan hemoglobin adalah unsur besi (Fe), total
kandungan unsur besi dalam tubuh rata-rata adalah 4-5g, dimana 65% dalam bentuk
hemoglobin, 4% dalam bentuk myoglobin, dan 1% dalam bentuk heme lain yang
berfungsi dalam oksidasi intrasel. 15-30% sisa tersimpan dalam hepar dalam bentuk
ferritin.10 Kebutuhan Fe saat kehamilan bertambah sangat banyak dibandingkan
dengan kondisi tidak hamil, saat hamil anak tunggal seorang ibu memerlukan asupan
Fe kurang lebih 1000 mg. 1000 mg tersebut akan dibagi lagi, 500 mg diperlukan

6
untuk hemoglobin ibu, 300 mg diperlukan untuk fetus dan placenta, 200 mg
diperlukan untuk pembuangan yang dilakukan secara fisiologis oleh usus, urin, dan
kulit agar tidak terjadi defisiensi.10

Gambar 2. Sintesis Hemoglobin dalam Sel Darah Merah yang Sedang Berkembang.9

Hemoglobin juga akan mengalami proses destruksi, proses ini dimulai dari
pecahnya eritrosit yang akan mengakibatkan keluarnya dari hemoglobin. Hemoglobin
bebas ini akan difagosit oleh makrofag, terutama pada sel kupffer di hepar dan
makrofag limpa. Setelah beberapa jam, makrofag akan melepas zat Fe dari
hemoglobin kemudian dilepas ke aliran darah kembali. Zat Fe akan berikatan dengan
transferrin dan akan dibawa ke sumsum tulang untuk produksi baru sel darah merah
atau dibawa ke hepar untuk disimpan dalam bentuk ferritin.8
Secara global kadar Hb rata-rata pada kelompok populasi perempuan tidak hamil
berusia 15-49 tahun yaitu 12,6 g/dL dan sebanyak 29% mengalami anemia. Kadar Hb
rata-rata secara global untuk kelompok perempuan hamil berumur 15-49 tahun yakni
11,4 g/dL dengan angka prevalensi anemia sebesar 38,2%. Kadar Hb rata-rata pada
kelompok populasi perempuan tidak hamil berumur 15-49 tahun di Asia yaitu 12,5
g/dL, dengan populasi yang mengalami anemia sebanyak 31,6%. Kadar Hb rata-rata
pada kelompok perempuan hamil berumur 15-49 tahun di Asia yaitu 11,3 g/dL dengan
angka prevalensi anemia sebesar 38,2%.10

7
2.1.2 Pemeriksaan Hemoglobin
Pemeriksaan darah
Suatu penelitian memperlihatkan perubahan konsentrasi Hb sesuai dengan
bertambahnya usia kehamilan. Pada trimester pertama konsentrasi Hb tampak
menurun, kecuali pada perempuan yang telah memiliki Hb rendah (<11.5 gr/dl).
Konsentrasi paling rendah didapatkan pada trimester kedua yaitu pada usia kehamilan
sekitar 30 minggu, Pada trimester tiga terjadi sedikit peningkatan Hb, kecuali pada
perempuan yang sudah memiliki Hb tinggi (>14.6 gr/dl) pada pemeriksaan pertama.11
a. Metode hemoglobin color scale
Metode ini praktis dan sederhana serta tidak memerlukan pereaksi ataupun
peralatan tertentu, teknik ini dapat memperkirakan kadar hemoglobin dengan
membandingkan warna dari tetesan darah yang diserap pada kertas
chromatography, kemudian dibandingkan dengan warna yang sudah tersedia di
kertas tersebut yang berkisar dari 4 sampai 14 gr/dl. Deretan warna yang ada pada
standar sudah dikalibrasi sedemikian rupa secara kualitatif sehingga setiap warna
menunjukan nilai kadar Hb. Kondisi yang paling optimal untuk melihat adalah
dengan sudut 45 derajat terhadap arah datangnya sinar matahari. Klasifikasi cara
ini meliputi moderate (8-12gr/dl), pronounced (6-8gr/dl), severe (6gr/dl).
Walaupun menurut WHO, HCS memiliki sensitivitas dan spesifisitas sebesar 95%
dan 99.5%, menurut sebuah studi yang dilakukan di India dan Zanzibar (afrika
timur) dapat disimpulkan bahwa HCS tidak seharusnya digunakan untuk
menentukan kadar Hb karena tingkat akurasi nya belum disetujui.11
b. Metode Sahli
Prinsip metode ini adalah membandingkan warna darah secara visual
akan tetapi metode ini memerlukan peralatan dan pereaksi tertentu. Peralatan
yang digunakan sangat sederhana dan ringan. Cara kerjanya yaitu 5 tetes HCl 0.1
N dimasukan ke dalam tabung khusus yang disebut hemometer. Darah yang akan
ditentukan kadar Hbnya di pipet sebanyak kurang lebih 20 mikroliter dan
dimasukan ke dalam tabung hemometer tadi lalu ditempatkan dalam alat
hemometer. Pada alat tersebut terdapat dua tabung. Tabung pertama berisikan
larutan standar. Posisi kedua tabung itu berdampingan dan sisi kedua tabung bisa
dilihat dari sisi yang sama. Kemudian tabung yang berisikan contoh darah
ditambah aquades secara perlahan sehingga warna larutan menyamai warna
larutan standar yang ada pada tabung sebelahnya. Setelah persamaan warna

8
tercapai kadar Hb dapat diketahui dengan membaca batas permukaan larutan yang
sejajar dengan skala yang tertera pada alat hemometer dekat dengan tabung
contoh darah tadi. Kerugian dari metode sahli disebabkan oleh masalah
subyektifitas dalam menilai warna, membutuhkan akurasi dalam menggunakan
pipet, perbandingan yang tidak jelas dan sensitivitas yang rendah.12,13,14
c. Metode Sianmethemoglobin
Berbeda dengan metode kertas lakmus atau hemoglobin color scale,
metode ini memerlukan peralatan dan pereaksi khusus, tetapi hasil yang diperoleh
lebih teliti. Metode Sianmethemoglobin bekerja dengan prinsip perubahan
hemoglobin menjadi methemoglobin dengan penambahan KCN dan ferricyanide
dimana penyerapannya diukur pada panjang gelombang 540 nm menggunakan
photoelectric calorimeter terhadap pelarut standar yang telah diketahui
konsentrasinya. Metode ini masih dianjurkan oleh WHO terutama untuk daerah
yang berkekurangan karena dinilai dapat menghasilkan data yang lebih teliti.
Kekurangan dari pemeriksaan ini adalah masalah pencemaran lingkungan akibat
reagen cyanide.13
d. Serum Ferritin, Total Iron Binding Capacity dan Saturasi Transferrin
Ferritin merupakan sebuah protein yang disintesis oleh tubuh dan terutama
digunakan untuk menyimpan cadangan besi pada saat dibutuhkan. Tubuh
memerlukan besi untuk membuat hemoglobin untuk darah dan myoglobin untuk
otot. Setiap protein ini menggunakan besi untuk mensuplai oksigen dan energi
untuk kebutuhan sehari-hari. Kelebihan besi akan disimpan sebagai molekul
ferritin dimana dapat menyimpan sekitar 4500 atom besi untuk setiap ferritin.
Total Iron Binding Capacity (TIBC) sering diukur bersamaan dengan serum besi.
Pengukuran ini menandakan kapasitas yang dimiliki oleh molekul transferin untuk
mengikat serum besi. Saturasi transferrin dapat dihitung dengan membagi serum
besi dengan TIBC lalu dikalikan dengan 100. Hasil akhir didapatkan sebagai
persentase saturasi transferrin (TS%).15

2.1.3 Berat Badan Lahir Bayi


Menurut NCHS dan CDC, berat badan lahir adalah berat neonatus ditentukan
segera setelah kalahiran atau sesegera mungkin. Berat lahir dinyatakan ke dalam nilai
gram yang paling dekat.16 Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang
terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa kesehatan anak pada semua

9
kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan/penurunan antara lain
tulang, otot, lemak, cairan tubuh, dll. Berat badan dipakai sebagai indikator terbaik
pada saat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak.17

2.1.4 Kategori Berat Badan Bayi Lahir (BBL)


Terdapat beberapa tipe BBL sesuai dengan berat lahir pertama kali,
diantaranya adalah :18
1. Bayi lahir dengan berat lahir tinggi atau High Birth Weight (HBW) (4000
gram), biasanya terjadi pada usia kehamilan normal atau post-cedera kelahiran
seperti di bahu (ketidakmampuan melahirkan bahu dengan mekanisme
kelahiran secara biasa), selain itu, angka kematian bayi lebih tinggi terjadi
pada bayi yang lahir dengan berat 4000 gram dibandingkan dengan bayi lahir
dengan berat 3000 gram.
2. Bayi lahir dengan berat lahir sedang yakni sebesar 2500 3999 gram.
3. Bayi lahir dengan berat lahir cukup rendah yakni sebesar 1500 2400 gram,
maka bayi tersebuit membutuhkan pelayanan kesehatan khusus seperti
pelayanan pengobatan atau pemeriksaan secara rutin.
4. Bayi lahir dengan berat lahir sangat rendah atau Very Low Birth Weight
(VLBW), yakni <1500 gram, dapat meningkatkan risiko kejadian kronis
seperti masalah saluran pernafasan, pertumbuhan postnatal yang buruk,
gangguan otak dan penyakit infeksi. Kondisi ini membutuhkan pendidikan dan
pelayanan khusus bagi petugas pelayanan kesehatan kepada pengasuh korban
maupun korban dari bayi lahir dengan berat lahir sangat rendah.

2.1.5 Pengukuran Berat Badan Lahir Bayi


Kualitas bayi baru lahir juga dapat diketahui melalui pengukuran berat badan
bayi setelah dilahirkan. Pengukuran berat badan bayi lahir dapat dilakukan dengan
menggunakan timbangan yang relatif murah, mudah dan tidak memerlukan banyak
waktu. Berat badan bayi baru lahir yang ditimbang sesuai cara penimbangan bayi baru
lahir menurut Bobak ( 2005 ) yaitu : 1) Periksa timbangan bayi dalam kondisi baik
atau tidak rusak . 2) Sebelum ditimbang, jarum menunjukkan ketelitian angka nol (0).
3) Bayi ditimbang dengan posisi ditidurkan tanpa kain atau pakaian bayi. 4) Catat
berat badan bayi baru lahir pada angka yang telah ditunjukkan jarum timbangan

10
dengan teliti. Alat ukur berat badan bayi baru lahir yang dipergunakan adalah
timbangan bayi dengan ketelitian 0,01 kg. 17

2.1.6 Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir


A. Kadar Hemoglobin
Pada masa kehamilan kadar hemoglobin menjadi salah satu indikator penting
yang menyatakan bahwa ibu dan jabang bayi dalam keadaan sehat. WHO mengatakan
bahwa kadar hb paling nyata dilihat dalam trimester ke 3, karena adanya proses
hemodilusi pada masa kehamilan. Pada masa ini baru dapat dikatakan bahwa seorang
ibu menderita anemia dalam masa kehamilan nya atau tidak. Kadar Hb ibu hamil pada
trimester ke 3 yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah dapat mengakibatkan
pertumbuhan janin terhambat (makhoul). Pada penelitiaan Setiawan dkk pada tahun
2011 yang dilakukan di kota Pariaman dikatakan bahwa belum bisa menemukan
hubungan kadar Hb ibu terhadap BBL. Menurut asumsi peneliti hal ini terjadi karena
masih ada faktor-faktor lain yang belum dapat disingkirkan sebagai faktor perancu
dalam penelitian.19 Namun pada penelitian Maksum dkk di RS Muwardi Surakarta
dan penelitian Joko dkk di RS Islam Samarinda, dikatakan adanya hubungan antara
kadar hb yang turun di trimester 3 dengan kejadian BBLR. 20 Hal ini pun didukung
oleh penelitian yang dikerjakan oleh Vitrianingsih dkk, yaitu ada hubungan antara
kadar Hb dengan berat lahir, dimana ibu dengan anemia akan mempunyai peluang 5
kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia. Hasil
penelitian ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayati tahun 2005
yang menyatakan bahwa ibu hamil yang terpapar anemia memiliki peluang 3,7 kali
lebih besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan yang tidak anemia. 21 Penelitian di
Afrika Timur menunjukan bahwa ibu yang mengalami anemia dengan kadar hb 7,4
g/dl meningkatkan insiden kejadian BBLR sebesar 42% dan angka kematian sebesar
147,1 per 1000 kelahiran hidup. Pada ibu hamil yang mengalami anemia dengan
kadar hemoglobin 8,8 g/dl meningkatkan insiden kejadian BBLR sebesar 12,7% dan
angka kematian sebesar 51 per 1000 kelahiran hidup. Hal yang sama juga diperoleh
dari hasil penelitian di Malaysia bahwa ibu hamil yang memiliki kadar hb 6,5 g/dl
atau kurang meningkatkan insiden kejadian BBLR sebesar 20%.22

11
B. Usia
Penelitian Sitorus pada tahun 2007 menyatakan umur ibu erat kaitannya
dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan
berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan dengan kehamilan pada wanita
yang cukup umur. Pada umur yang masih muda, perkembangan organ-organ
reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya
belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan ibu tersebut belum dapat
menanggapi kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi. Selain itu
semakin muda usia ibu hamil, maka anak yang dilahirkan akan semakin ringan. Meski
kehamilan dibawah umur sangat berisiko, kehamilan diatas usia 35 tahun juga tidak
dianjurkan karena sangat berbahaya. Mengingat mulai usia ini sering muncul penyakit
seperti hipertensi, tumor jinak peranakan, atau penyakit degeneratif pada persendian
tulang belakang dan panggul. Bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang
ditakutkan bayi lahir dengan membawa kelainan. Dalam proses persalinan sendiri,
kehamilan di usia lebih ini akan menghadapi kesulitan akibat lemahnya kontraksi
rahim serta sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat bahwa
faktor umur memegang peranan penting terhadap derajat kesehatan dan kesejahteraan
ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya merencanakan kehamilan pada usia antara 20-35
tahun. 23
Berdasarkan hasil penelitian Ismi Trihardiani di puskesmas singkawang timur
dan utara pada tahun 2011, diperoleh sebanyak 3 (42,9%) subjek yang berumur resiko
yaitu subjek yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun saat hamil
melahirkan bayi BBLR. Subjek yang tidak resiko yaitu subjek yang berumur 20-35
tahun ada 4 (57,1%) subjek yang melahirkan bayi dengan BBLR. Dari hasil uji
statistik diperoleh nilai p=0,119 yang artinya tidak ada hubungan antara umur dengan
kejadian BBLR.24
Berdasarkan hasil penelitian Vitrianingsih dkk di RSUD Wonosari Gunung
Kidul Yogyakarta pada tahun 2012 ditemukan bahwa sebanyak 17 (7,9%) ibu dengan
umur tidak beresiko melahirkan bayi BBLR. Sedangkan ibu dengan umur beresiko
ada 30 (38%) yang melahirkan bayi BBLR. Dari uji statistik diperoleh nilai p=0,001
ada ada hubungan antara umur ibu dengan berat badan lahir bayi dimana ibu dengan
umur beresiko akan berpeluang 4 kali untuk melahirkan BBLR dibanding ibu dengan
umur tidak beresiko. Hal ini sejalan dengan teori yang disampaikan Sulistyawati
(2009) bahwa pada proses pembuahan kualitas sel telur wanita usia ini sudah menurun

12
jika dibandingkan dengan sel telur pada wanita dengan usia reproduksi sehat (20-35
tahun). Jika proses pembuahan mengalami gangguan makan dapat menyebabkan
terjadinya ganggguan pembuhan pada buah kehamilan, hal ini kemungkinan
menyebabkan IUGR yang berakibat bayi BBLR. Hal ini juga sejalan dengan
penelitian yag dilakukan oleh Ruji (2009) menyatakan bahwa terdapat hubungan
antara umur ibu dengan kejadian BBLR dimana ibu hamil dengan uumur kurang dari
20 tahun dan diatas 35 tahun memiliki risiko 12,5 kali untuk melahirkan BBLR
dibandingkan dengan ibu yang berumur 20-35 tahun. 21 Hal ini pun sejalan dengan
penelitian Reichman di kota Amerika pada tahun 2006 bahwa ibu yang melahirkan di
usia >35 tahun dan <20 tahun berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah
sebesar 2,1 kali. Usia ibu saat melahirkan yang paling berisiko pada umumnya terjadi
pada saat usia remaja (<20 tahun) dan usia lanjut (>35 tahun). Pada ibu yang
tergolong usia remaja, maka dapat diketahui proses biologis yang berpengaruh
terhadap berat bayi yang akan dilahirkan. Proses biologis tersebut adalah :
A. Berkurangnya aliran darah pada mulut rahim dan uterus akibat ketidakmatangan
organ rahim sehingga mempengaruhi aliran nutrisi dari rahim ibu ke janin.
B. Adanya persaingan kebutuhan gizi antara ibu dengan janin, oleh karena itu
direkomendasikan agar tetap menjaga asupan makanan dan kalori dalam
kehidupan sehari hari.
Sedangkan pada ibu hamil dengan usia lansia (>35 tahun), proses biologis yang
berpengaruh terhadap berat bayi lahir adalah :
A. Tingginya prevalensi masalah kesehatan kronis yang berkaitan dengan usia seperti
hipertensi, diabetes melitus, komplikasi kesehatan pada masa hamil yang
berpengaruh terhadap berat lahir bayi.
B. Menurunnya potensi kesuburan.
C. Berubahnya pola gaya hidup yang kurang sehat sehingg menimbulkan beberapa
penyakit pada ibu dan dapat mempengaruhi kondisi janin.

C. Paritas
Paritas secara luas mencakup gravida/jumlah kehamilan, prematur/jumlah
kelahiran, dan abortus/jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau
banyaknya anak yang dilahirkan. Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita
melahirkan anak ke empat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga
anak dan terjadi kehamilan lagi keadaan kesehatannya akan mulai menurun, sering

13
mengalami kurang darah (anemia), terjadi perdarahan lewat jalan lahir dan letak bayi
sungsang ataupun melintang.23
Berdasarkan hasil penelitian Ismi Trihardiani di puskesmas singkawang timur
dan utara pada tahun 2011, diperoleh nilai p=0,043 yang artinya bahwa ada hubungan
antara paritas dengan kejadian BBLR. Berdasarkan paritas, sebagian besar berat badan
lahir normal terjadi pada subyek yang tidak berisiko (kurang dari empat). Hasil
analisis hubungan antara paritas dengan kejadian BBLR diperoleh bahwa ada
sebanyak 3 (42,9%) subyek yang memiliki paritas lebih dari sama dengan empat kali
melahirkan bayi BBLR, sedangkan diantara subyek yang memiliki paritas tidak
berisiko, ada 4 (57,1%) subyek yang melahirkan bayi BBLR. Hasil uji statistik
diperoleh nilai p=0,043 maka dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara
paritas dengan kejadian BBLR. Pada penelitian ini juga didapatkan, subyek dengan
paritas lebih dari sama dengan empat kali mempunyai risiko 5,3 kali untuk
melahirkan BBLR dibandingkan subyek dengan paritas kurang dari empat kali.24
Berdasarkan hasil penelitian Vitrianingsih dkk di RSUD Wonosari Gunung
Kidul Yogyakarta pada tahun 2012, diperoleh hasil uji statistik p= 0,079 artinya tidak
ada hubungan antara paritas dengan berat lahir bayi. Penelitian ini tidak sejalan
dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Joeharno & Zaenab (2006)
yang menyatakan bahwa paritas merupakan faktor risiko penyebab kejadian BBLR
pada bayi, hasil pengujian statistik diperoleh OR=2,438 sehingga dapat dikatakan
bahwa ibu dengan paritas >3 berisiko 3 kali untuk melahirkan BBLR. Hal ini
dimungkinkan ibu dengan paritas tinggi lebih banyak mempunyai pengetahuan dan
pengalaman karena kehamilan yang lalu sehingga ibu dapat menjaga dan
mempertahankan kehamilannya dengan lebih baik sehingga bayi yang dilahirkan
tidak BBLR.21

D. Jarak Kehamilan
Jarak kelahiran yang pendek akan menyebabkan seorang ibu belum cukup
waktu untuk memulihkan kondisi tubuhnya setelah melahirkan sebelumnya. Ibu hamil
dalam kondisi tubuh kurang sehat inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab
kematian ibu dan bayi yang dilahirkan serta risiko terganggunya sistem reproduksi. 25
Sistem reproduksi yang terganggu akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan
janin yang dikandungnya sehingga berpengaruh terhadap berat badan lahir.26 Ibu
hamil yang jarak kelahirannya kurang dari dua tahun, kesehatan fisik dan kondisi

14
rahimnya masih butuh istirahat yang cukup. Ada kemungkinan juga ibu masih harus
menyusui dan memberikan perhatian pada anak yang dilahirkan sebelumnya,
sehingga kondisi ibu yang lemah ini akan berdampak pada kesehatan janin dan berat
badan lahirnya.27
Akan tetapi berdasarkan hasil uji statistik pada penelitian oleh Trihardiani Ismi
di Singkawang pada tahun 2011 menunjukkan hubungan yang tidak bermakna antara
jarak kelahiran dengan berat badan lahir (p=0,496). Hal ini dikarenakan sebagian
besar subyek pada penelitian ini, yaitu sebesar 90,8% memiliki jarak kelahiran lebih
dari sama dengan dua tahun. Sama halnya dengan penelitian di Kotawaringin
menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jarak kelahiran
dengan kejadian BBLR (p=0,872).24 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bener pada
tahun 2012 menyatakan bahwa kejadian BBLR terjaid pada ibu yang memiliki jarak
kehamilan <12 bulan sebesar 40,3%, sedangkan bayi lahir normal terjadi pada ibu
yang memiliki jarak kehamilan minimal 24 bulan yakni sebesar 44,7%. Adapula
penelitian yang dilakukan oleh Kasim pada tahun 2011 menunjukan bahwa sebagian
besar (59%) ibu yang memiliki jarak kehamilan <2 tahun melahirkan bayi dengan
catatan BBLR, serta mayoritas (64,3) ibu yang memiliki jarak kehamilan 2 4 tahun
melahirkan bayi dengan catatan berat lahir normal.

E. Pemeriksaan Kehamilan (ANC)


Pemeriksaan kehamilan (ANC) merupakan pemeriksaan yang diberikan
kepada ibu hamil oleh tenaga kesehatan selama kehamilannya, dengan jumlah standar
kunjungan selama hamil minimal empat kali, mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik
umum dan kebidanan, pemeriksaan laboratorium atas indikasi tertentu serta indikasi
dasar dan khusus.28,29 Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan sejak dini akan
memungkinkan diketahuinya kelainan atau masalah kesehatan yang dihadapi ibu
selama proses kehamilannya, sehingga dapat diambil langkah langkah yang dapat
menyelamatkan janin dan ibunya.29 Hasil uji statisistik pada penelitian Ismi
Trihardiani di Singkawang pada tahun 2011 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan
antara frekuensi pemeriksaan kehamilan dengan berat badan lahir dengan nilai
p=0,255. Hal ini dikarenakan sebagian besar subyek (86%) telah melakukan
pemeriksaan kehamilan sebanyak lebih dari sama dengan empat kali. Sebagaimana
penelitian di Tanzania yang menunjukkan hubungan yang tidak bermakna secara

15
statistik antara paritas dengan BBLR, walaupun persentase kejadian BBLR lebih
besar pada ibu yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.24

F. Status Gizi
Berat badan bayi normal sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu yang baik
pula, jika status gizi ibu selama hamil terpenuhi maka perkembangan dan
pertumbuhan janinnya akan optimal. Salah satu cara melakukan penilaian status gizi
pada kelompok masyarakat adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal
dengan antropometri. Beberapa macam antropometri yang telah digunakan antara lain
: berat badan ( BB ), panjang badan ( PB ) atau tinggi badan ( TB ), lingkar lengan
atas (LILA), lingkar kepala ( LK ), lingkar dada ( LD ) dan lapisan lemak bawah kulit
( LLBK ). Seorang ibu hamil akan melahirkan bayi yang sehat bila tingkat kesehatan
dan gizinya berada pada kondisi yang baik. Dalam hal ini kelebihan atau kekurangan
zat gizi harus dihindari.30
Cara penilaian status gizi ibu hamil antara lain dengan mengukur lingkar
lengan atas atau LILA. Pengukuran LILA adalah suatu cara untuk mengetahui risiko
kekurangan energi kronik ( KEK ) wanita usia subur ( WUS ). Pengukuran LILA tidak
dapat digunakan untuk memantau perubahan status gizi dalam jangka pendek.
Pengukuran LILA digunakan karena pengukurannya sangat mudah dan dapat
dilakukan oleh siapa saja. Salah satu tujuannya adalah mengetahui risiko KEK pada
WUS baik ibu hamil maupun calon ibu, untuk menapis wanita yang mempunyai
resiko melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah ( BBLR ). Ambang batas LILA pada
WUS dengan resiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm atau di bagian merah pita
LILA artinya wanita tersebut mempunyai resiko KEK dan diperkirakan akan
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah ( BBLR ). BBLR mempunyai resiko
kematian, gizi kurang, gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.30
Menurut penelitian Vitrianingsih dkk di RSUD Wonosari Gunungkidul
Yogyakarta pada tahun 2012, ibu dengan risiko KEK akan mempunyai peluang 6 kali
untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak KEK. Gizi ibu saat
hamil sangat penting untuk pertumbuhan janin yang dikandung. Gizi yang baik
diperlukan agar janin berkembang pesat dan tidak megalami hambatan.21
Berdasarkan penelitan Gustimaya di puskesmas Tilango kabupaten Gorontalo
tahun 2015, didapatkan lebih besar 37 responden (57,8 %) NON KEK (LILA 23,5
cm) melahirkan bayi dengan NON BBLR ( 2500 gram) dan sebanyak 14 responden

16
(21,9%) KEK (LILA < 23,5 cm) melahirkan bayi BBLR (< 2500 gram) yang artinya
terdapat hubungan antara status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi.31
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah pengukuran
dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri (kecuali orang kidal, kita
ukur lengan kanan). Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan
dalam keadaan titik tegang dan kencang. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam
arti tidak kusut dan sudah dilipat-lipat sehingga permukaannya sudah tidak rata. Hasil
pengukuran LILA ada dua kemungkinan yaitu kurang dari 23,5 cm dan lebih atau
sama dengan 23,5 cm. Bila kurang dari 23,5 cm berarti wanita tersebut berisiko
KEK..30,32
Menurut penelitian Ismi Trihardiani tahun 2011 di Puskesmas Singkawang
Timur dan Singkawang Utara, sebagian besar berat badan lahir normal terjadi pada
subyek yang tidak menderita KEK. Sebanyak 4 (57,1%) subyek yang memiliki nilai
LLA kurang dari 23,5 cm (KEK) melahirkan bayi BBLR, sedangkan diantara subyek
yang memiliki nilai LLA lebih dari sama dengan 23,5 cm (tidak KEK), ada 3 (42,9%)
subyek yang melahirkan bayi BBLR. Hasil uji statistik diperoleh nilai p=0,009 maka
dapat disimpulkan ada hubungan yang signifikan antara LLA dengan kejadian BBLR.
Hal ini menunjukkan bahwa subyek KEK mempunyai risiko 7,9 kali untuk
melahirkan BBLR dibandingkan subyek tidak KEK.24

G. Sosial Ekonomi
Tingkat sosial ekonomi diantaranya adalah (pendapatan, pendidikan dan
pekerjaan). Tingkat ekonomi (pendapatan) yang rendah dapat mempengaruhi pola
makan. Sebagian besar pengeluaran ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan,
dengan berorientasi pada jenis pangan karbohidrat. Hal ini disebabkan makanan yang
mengandung banyak karbohidrat, lebih murah dibandingkan dengan makanan sumber
zat besi, protein, vitamin, dan mineral. Sehingga kebutuhan gizi yang lengkap pada
maasa kehamilan menjadi sulit terpenuhi. Semakin besar pendapatan maka semakin
besar pula kemungkinan bayi lahir dengan berat yang normal. Menurut penelitian
African Journal of Reproductive Health, kelompok dengan tingkat pendapatan yang
rendah memiliki kejadian anemia lebih besar yaitu sebanyak 61,1% .33-35
Faktor pekerjaan ibu juga mempengaruhi terhadap berat bayi lahir. Dalam hal
ini yang dimaksud adalah aktivitas fisik yang dialami oleh sang ibu. Ibu yang
melakukan pekerjaan berat atau memiliki aktivitas dengan intensitas tinggi
membutuhkan energi yang cukup besar. Dalam masa kehamilan energi tidak hanya

17
dibutuhkan oleh ibu saja namun juga sang jabang bayi. Maka pada ibu-ibu yang
memiliki pekerjaan berat memiliki resiko lebih tinggi untu melahirkan bayi dengan
berat kurang dibandingkan ibu yang melakukan pekerjaan ringan.35
Pendidikan merupakan salah satu ukuran yang digunakan dalam status sosial
ekonomi. Ibu hamil yang memiliki pendidikan yang kurang, akan mempengaruhi
kemampuan ibu dalam mendapatkan informasi mengenai anemia, serta bagaimana
merawat bayi dalam kandungan. Pada penelitian Jayant (2010) tentang faktor resiko
maternal kejadian bayi berat lahir rendah di India yang menyatakan bahwa ibu yang
berpendidikan rendah akan beresiko 1,6 kali untuk melahirkan bayi dengan berat
kurang dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi. 34-35

H. Kepatuhan Konsumsi Tablet Zat Besi


Kebutuhan fe pada ibu hamil cukup tinggi karena selain diperlukan untuk
janin dan plasenta juga karena adanya proses retensi air atau penambahan cairan
sebanyak 40% dalam tubuh ibu. Jumlah Fe yang dianjurkan pada ibu hamil adalah 18
mg perhari. Kebutuhan yang dianjurkan tersebut sulit diperoleh dari sumber makanan
saja tanpa penambahan zat besi dalam makanan. Dalam makanan biasa terdapat 10
20 mg besi setiap hari, tetapi hanya dibawah 10,0% dari jumlah tersebut yang
diabsorbsi. WHO menganjurkan untuk memberikan suplementasi zat besi pada ibu
hamil. Setiap ibu hamil diharapkan meminum paling sedikit 90 tablet selama hamil,
sesegera mungkin setelah rasa mual berkurang atau hilang. Konsumsi tablet besi
secara baik memberi peluang terhindarnya ibu hamil dari anemia. Berdasarkan
penelitian sugiarsih, sebanyak 64.,9% ibu hamil yang tidak teratur mengonsumsi
tablet tambah besi mengalami anemia. Persentasi tersebut lebih tinggi dibandingkan
dengan ibu yang mengonsumsi tablet tambah darah secara teratur yaitu 48.3%. Agar
dapat di minum dengan baik sesuai aturan, sangat dibutuhkan kepatuhan dan
kesadaran ibu hamil dalam mengonsumsinya. Namun demikian kepatuhan juga sangat
dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya bentuk obat yang besar, warna obat, rasa
dan efek samping dari tablet ini antara lain mengakibatkan nyeri lambung, mual,
muntah, konstipasi dan diare.35

I. Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil

18
Pertambahan berat badan ibu hamil merupakan salah satu fenomena biologis
yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan janin. Di Indonesia, standar
pertambahan berat badan ibu hamil yang normal adalah sekitar 9-12 kg. Namun
terdapat kelemahan terkait stnadar pertambahan berat badan ibu hamil di Indonesia
yakni belum ada standar pertambahan berat badan ibu hamil sesuai kategori IMT
sebelum hamil dan pertambahan berat badan per trimester. 36 Beberapa penelitian di
Negara Asia lainnya (Jepang, Taiwan dan Sri Lanka) telah menggunakan standar
berat badan pada ibu hamil yang telah ditetapkan oleh Institute of Medicine (IOM).
Hasil penelitian Abeysana pada tahun 2011 di Kota Gampaha Sri Lanka menunjukan
bahwa hampir sebagian besar (45,5%) ibu yang memiliki IMT overweight sebelum
hamil memiliki pertambahan berat badan normal selama masa kehamilan. Sedangkan
standar pertambahan berat badan tiap semester (trimester 1 adalah usia kehamilan 0
12 minggu, terimester 2 adalah usia kehamilan 13 27 minggu dan trimester 3 adalah
usia kehamilan 28 40 minggu).38
Secara umum, beberapa penelitian menunjukan ada hubungan yang signifikan
antara pertambahan berat badan ibu hamil dengan BBLR. Penelitian yang dirangkum
dengan menggunakan desain studi case control, penelitian Aea pada tahun 2013 di
Algeria menunjukan bahwa pertambahan berat badan yang rendah selama kehamilan
berhubungan dengan kejadian BBLR.39 Selain itu, telah disebutkan bahwa
pertambahan berat badan mencapai 10 kg selama kehamilan dapat memberikan efek
proteksi terhadap BBLR. Pernyataan tersebut didukung dengan alsan secara biologis,
bahwa berat badan yang kurang selama kehamilan terjadi karena kurangnya nutrisi
atau asupan makanan sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan janin.40
Kondisi ekonomi, ketersediaan makanan dapat mempengaruhi asupan
makanan yang dikonsumsi sehari hari. Asupan makanan tersebut dapat berpengaruh
terhadap status gizi ibu. Jika asupan makanan dalam kehidupan sehari hari terpenuhi
dengan baik, maka status gizi ibu dapat dikatakan baik atau ideal. Begitu juga
sebaliknya, jika asupan makanan dalam kehidupan sehari hari kurang, maka status
gizi ibu dapat dikatakan undernutrition atau kurang gizi sehingga berakibat terhadap
kondisi kesehatan baik pada ibu maupun pada bayi yang akan dikandung. Kekurangan
nutrisi atau malnutrisi pada wanita dalam masa reproduksi dapat mempengaruhi
kondisi kesehatan ibu baik sebelum hamil, selama kehamilan dan setelah masa
kehamilan. Pada masa kehamilan dapat mengakibatkan durasi kehamilan, rendahnya
pertambahan berat badan selama hamil sehingga mengakibatkan gangguan

19
pertumbuhan janin. Jika pertambahan berat badan pada ibu hamil rendah maka dapat
berpengaruh terhadap kondisi kesehatan janin.41

Kerangka Teori

20
Kerangka Konsep

21

Berat Badan Lahir Bayi


Kadar Hb
Bab III

22
Metode Penelitian

3.1 Desain Penelitian


Desain penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan pendekatan cross
sectional untuk mengetahui hubungan kadar Hb dan faktor-faktor lainnya dengan
berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas
Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat periode November 2016.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat pada
bulan November 2016

3.3 Populasi
3.3.1 Populasi Target
Semua ibu yang mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan
Kemanggisan, Jakarta Barat.
3.3.2 Populasi Terjangkau
Ibu yang mempunyai bayi di wilayah Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat yang
datang ke posyandu pada tanggal 9 November 10 November 2016.

3.4 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.4.1 Kriteria Inklusi
3.4.1.1 Ibu yang mempunyai bayi di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan
Jakarta Barat.
3.4.1.2 Ibu yang memiliki buku antenatal care.
3.4.1.3 Bayi yang dimiliki merupakan anak kandung.
3.4.1.4 Kelahiran tunggal dan cukup bulan.
3.4.1.5 Tidak menderita penyakit kronis.
3.4.1.6 Bersedia untuk mengikuti penelitian dengan menandatangani inform consent dan
mengisi kuesioner.
3.4.2 Kriteria Eksklusi
3.4.2.1 Ibu tidak mengisi kuesioner dengan lengkap
3.4.2.2 Kelahiran multipel
3.5 Sampel
3.5.1 Besar Sampel
Melalui rumus di bawah ini didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut:

23
N1 = (Z )2 x p x q N2 = N1 + 10%N1
2
L
Keterangan :
N1 = Besar sampel minimal
N2 = Jumlah sampel ditambah substitusi 10% (Substitusi adalah persen subjek
penelitian yang mungkin keluar atau drop out)
Z = Standar variasi, ditentukan oleh tingkat kepercayaan pada = 0,05; Z
=1,96
p = Proporsi variabel yang diteliti
q =1p
L = Derajat kesalahan yang masih diterima adalah 10% = 0.1

Tabel 3.1 Nilai Proporsi Variabel Bebas


Proporsi variabel bebas P (Variabel) Q (Variabel) N (Variabel)
Kadar Hb 0.42 0.58 93.5
Umur ibu 0.38 0.62 90.5
Paritas 0.42 0.58 93.5
Jarak Kehamilan 0.59 0.41 92.9
ANC 0.45 0.55 95.1
Status gizi 0.57 0.43 94.1
Pekerjaan ibu 0.47 0.53 95.6
Pendidikan ibu 0.52 0.48 95.8
Pendapatan Keluarga 0.54 0.46 95.4

Berdasarkan rumus diatas, didapatkan angka N Pendidikan ibu sebesar 95.8


N Pendidikan Ibu : (1.96)2 x 0.48 x 0.52 = 95.8
0.12
Untuk menjaga kemungkinan adanya subjek penelitian yang drop out, maka dihitung :
N2 : N1 + (10% x N1) = 95.8 + 9.58 = 105.38 dibulatkan 106
Jadi jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 106 orang
3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan non probability
sampling yaitu, Purposive sampling di wilayah Kelurahan Kemanggisan

3.6 Cara Kerja


3.6.1 Peneliti mengumpulkan bahan ilmiah dan merencanakan desain penelitian.
3.6.2 Peneliti menentukan jumlah sampel minimal, didapatkan jumlah sampel minimal 106
orang ibu yang mempunyai bayi di wilayah Kelurahan Kemanggisan.
3.6.3 Peneliti menyusun kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data.

24
3.6.4 Peneliti melapor, meminta izin dan persetujuan dari Puskesmas wilayah Kelurahan
Kemanggisan, untuk melakukan penelitian pada wilayah Kelurahan Kemanggisan,
Jakarta Barat periode November 2016.
3.6.5 Peneliti mengumpulkan data ibu yang mempunyai bayi dari Puskesmas wilayah
Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat periode November 2016.
3.6.6 Peneliti melakukan pengumpulan data primer dengan meminta responden yang
memenuhi kriteria mengisi kuesioner.
3.6.7 Peneliti melakukan pengumpulan data sekunder melalui buku antenatal care ibu yang
mempunyai bayi yang datang ke Posyandu.
3.6.8 Peneliti melakukan pengolahan data berupa editing, verifikasi, dan koding terhadap
data primer milik responden yang sudah dikumpulkan. Selannjutnya dimasukkan dan
diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu program SPSS (Statistical
Package for Soial Science) versi 16.0.
3.6.9 Data yang didapat disajikan dengan tekstular dan tabular.
3.6.10 Peneliti melakukan pengolahan, analisis data dan interpretasi data.
3.6.11 Pelaporan hasil penelitian.

3.7 Identifikasi Variabel


Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependen) dan variabel bebas
(independen).
3.7.1 Variabel Dependen
Variabel dependen (terikat) berupa berat badan lahir bayi.
3.7.2 Variabel Independen
Variabel independen berupa kadar Hb, usia ibu, paritas, jarak kehamilan, ANC, status
gizi, pekerjaan ibu, pendidikan ibu, dan pendapatan keluarga.

3.8 Sumber Data


3.8.1 Sumber data adalah data primer yang diambil dengan kuesioner serta data sekunder
yang diambil dari buku antenatal care ibu yang mempunyai bayi yang datang ke
Posyandu di wilayah Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat

3.9 Definisi Operasional


3.9.1 Subjek Penelitian
3.9.1 Ibu yang mempunyai bayi yang tinggal di wilayah Kelurahan Kemanggisan Jakarta
Barat yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

3.9.2 Responden

25
Responden adalah ibu yang mempunyai bayi dari subjek penelitian yang bersedia
untuk mengisi kuesioner.

3.9.3 Variabel Dependen


3.9.3.1 Berat badan lahir
Definisi : Berat bayi lahir yang diukur segera setelah lahir atau sesegera
mungkin setelah layak dan dicatat dalam buku antenatal care ibu.
Alat ukur : Data berat badan lahir yang tercatat dalam buku antenatal care ibu.
Cara ukur : Diambil dari data berat badan lahir yang tercatat dalam buku
antenatal care ibu.
Hasil ukur : Dinyatakan dalam gram (g)
Skala ukur : Interval

3.9.4 Variabel Independen


3.9.4.1 Kadar Hb Ibu Hamil
Definisi : Kandungan hemoglobin dalam darah yang dinyatakan dalam satuan
g/dl (gram per desiliter) pada Ibu hamil yang diukur pada saat trimester
III kehamilan dan dicatat dalam buku antenatal care ibu.
Alat ukur : Data kadar hemoglobin trimester III kehamilan yang tercatat dalam
buku antenatal care ibu.
Cara ukur : Diambil dari data kadar hemoglobin trimester III kehamilan yang
tercatat dalam buku antenatal care ibu.
Hasil ukur : Dinyatakan dalam g/dL
Skala ukur : Interval

3.9.4.2 Usia Ibu


Definisi : Usia merupakan lamanya hidup ibu yang memiliki bayi, yang dimulai
sejak dilahirkan sampai saat penelitian dilakukan. Usia pasien dihitung
dari tanggal, bulan, tahun penelitian dikurangi tanggal, bulan, tahun
lahir yang tertera di KTP yang masih berlaku. Bila terdapat kelebihan
umur kurang dari enam bulan dibulatkan ke bawah. 3 Usia ibu yang
diambil adalah usia pada saat ibu mengalami proses persalinan anak
yang terakhir.
Alat ukur : Kartu Tanda Penduduk (KTP), dengan melihat tanggal lahir pasien.
Cara ukur : Responden mengisi lembar kuesioner dengan usia pada KTP
responden dikurangi dengan usia anak terakhir.
Hasil ukur : Dinyatakan dalam satuan tahun
Skala ukur : Rasio

26
3.9.4.3 Paritas
Definisi : Jumlah anak yang pernah dilahirkan baik lahir hidup maupun lahir
mati.
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Mengisi kuesioner pada bagian riwayat persalinan.
Hasil ukur : Dinyatakan dengan jumlah anak yang lahir.
Skala ukur : Interval

3.9.4.4 Jarak Kehamilan


Definisi : Selang waktu antara kelahiran terakhir dengan awal kehamilan
sekarang
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Mengisi kuesioner pada bagian checklist jarak kehamilan
Hasil ukur : Dinyatakan dalam tahun
Skala ukur : Rasio

3.9.4.5 Pemeriksaan Kehamilan (ANC)


Definisi : Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh ibu hamil untuk
mengetahui kondisi kesehatan ibu dan janin yang sedang dikandung.
Anjuran jumlah kunjungan ANC yaitu minimal 4 kali selama masa
kehamilan.
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Mengisi kuesioner pada bagian pemeriksaan kehamilan (antenatal
care)
Cara Hitung : Dihitung jumlah total kunjungan ANC yang telah di lakukan selama
masa kehamilan.
Hasil ukur : Dinyatakan dalam frekuensi (kali)
4 kali = sesuai anjuran
< 4 kali = tidak sesuai anjuran
Skala : Kategorik - Ordinal
Koding :
Sesuai anjuran = 0
Tidak sesuai anjuran = 1

27
3.9.4.6 Status Gizi Ibu Hamil
Definisi : Ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi saat masa kehamilan
yang dinyatakan dengan ukuran lingkar lengan atas.
Alat ukur : Data pengukuran lingkar lengan atas yang tercatat dalam buku
antenatal care ibu.
Cara ukur : Diambil dari data pengukuran lingkar lengan atas yang tercatat dalam
buku antenatal care ibu.
Hasil ukur : Dinyatakan dalam cm
Skala ukur : Interval

3.9.4.7 Pekerjaan
Definisi : Pekerjaan merupakan suatu kegiatan aktif dalam bentuk tugas atau
kerja yang menghasilkan sebuah karya atau pendapatan.
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Mengisi kuesioner tentang check list status pekerjaan
Hasil ukur :
Tidak bekerja
Bekerja
Skala ukur : Kategorik Nominal
Koding : Tidak bekerja = 0
Bekerja = 1

3.9.4.8 Pendidikan
Definisi : Jenjang pendidikan formal dari suatu institusi tertentu yang
mencakup tingkat SD atau sederajat, SMP atau sederajat, SMA atau
sederajat, dan Perguruan Tinggi/Akademi yang sederajat.3,7
Alat ukur : Kuesioner
Cara ukur : Mengisi kuesioner pada bagian checklist pendidikan terakhir.
Menurut UU RI Nomor 20 Tahun 2003, jejang pendidikan formal
terdiri atas:
1. Pendidikan dasar : berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah
Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat, serta Sekolah
Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MT) atau
bentuk lain yang sederajat.

28
2. Pendidikan Menengah : berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan
Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) serta bentuk lain yang sederajat.
3. Pendidikan Tinggi : mencakup program pendidikan diploma, sarjana,
magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan
tinggi.
Cara ukur dengan memilih jenjang pendidikan pada kolom identitas seperti
dibawah ini:
1. Tidak sekolah
2. SD/MI (tamat/tidak tamat)
3. SMP/MTS (tamat/ tidak tamat)
4. SMA/MA (tamat/ tidak tamat)
5. Diploma (tamat/tidak tamat)
6. Sarjana (tamat/ tidak tamat)
Hasil ukur : Dibagi menjadi Dasar, Menengah, dan Tinggi
Skala ukur : Kategorik Ordinal
Koding :
Tinggi = 0
Menengah = 1
Dasar = 2

3.9.4.9 Pendapatan Keluarga


Definisi : Jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota rumah tangga yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun perseorangan
maupun rumah tangga. Pendapatan keluarga merepresentasikan status
ekonomi dari keluarga tersebut.6
Alat ukur : Kuesioner.
Cara ukur : Mengisi kuesioner pada bagian checklist tingkat pendapatan keluarga.
Menurut Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 230 Tahun 2015 tentang Upah Minimum Provinsi (UMP)
Tahun 2016 Pasal 1 menyatakan bahwa Upah Minimum Provinsi
(UMP) Tahun 2016 di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebesar
3.100.000,00 (tiga juta seratus ribu rupiah) per bulan.
Memilih tingkat pendapatan keluarga pada kolom berikut:
< Rp. 3.100.000 ,-
> Rp. 3.100.000 ,-
Hasil ukur :
< Rp. 3.100.000 ,- = rendah

29
Rp. 3.100.000 ,- = tinggi
Skala ukur : Kategorik Ordinal.
Koding :
Tinggi = 0
Rendah = 1

3.10 Teknik Pengelolaan Data, Analisis, dan Penyajian Data


3.10.3 Pengumpulan Data
Data dikumpulkan melalui kuesioner, dan data sekunder yang didapatkan dari
buku antenatal care ibu yang mempunyai bayi yang datang ke Posyandu di
wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan periode November 2016.
3.10.4 Pengolahan Data
Data-data yang telah dikumpulkan diolah melalui proses editing, verifikasi, dan
koding, kemudian data diolah dengan menggunakan program komputer yaitu
program SPSS. Pengolahan data untuk penelitian ini diolah dengan menggunakan
aplikasi SPSS yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu:
3.10.4.1 Editing
Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh
atau editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data
terkumpul.
3.10.4.2 Koding
Koding merupakan catatan untuk memberikan kode numerik (angka) terhadap
data yang terdiri atas beberapa kategori.
3.10.4.3 Tabulasi
Pada tahap ini, jawaban-jawaban responden yang sama dikelompokkan dengan
teliti dan teratur lalu dihitung dan dijumlahkan kemudian dituliskan dalam bentuk
tabel-tabel.
3.10.5 Analisis Data
Terhadap data yang telah diolah dilakukan analisis data sesuai dengan cara uji
statistic menggunakan uji Pearson, Kendalls tau, Independent sample T-test dan
Anova.
a. Analisis Univariat

30
Analisis univariat dilakukan secara deskriptif dari masing-masing variable
dengan tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan. Analisis univariat dilakukan
untuk melihat gambaran atau deskripsi dari setiap variabel yang diteliti yaitu
kadar Hb, usia ibu, paritas, jarak kehamilan, status gizi, pemeriksaan kehamilan
(ANC), pendapatan keluarga, pekerjaan ibu, dan pendidikan ibu di wilayah kerja
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat periode November 2016.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis hubungan antara setiap
variabel independen yang diteliti dengan variabel dependen. Derajat kemaknaan
() yang digunakan adalah 0,05, yang berarti dalam 100 kali menolak H0 ada 5
kali menolak H0 padahal H0 benar; disebut juga tingkat kepercayaan 95%.
Keputusan dari hasil uji statistik menggunakan p-value. Nilai p atau p-value
diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana perbedaan yang terjadi
(bermakna atau tidak bermakna) antara dua kategori atau lebih yang
dibandingkan. Jika p-value maka H0 ditolak atau ada hubungan yang
bermakna diantara kedua variabel, sebaliknya jika p-value > maka H0 gagal
ditolak atau tidak ada hubungan yang bermakna diantara kedua variabel.
3.10.6 Penyajian Data
Data yang didapat disajikan secara tekstular dan tabular.
3.10.7 Interpretasi Data
Data diinterpretasi secara analitik antara variabel-variabel yang ditentukan.
3.10.8 Pelaporan Data
Data disusun dalam bentuk laporan penelitian yang selanjutnya dipresentasikan di
hadapan Staf Pengajar Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas
Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.

3.11 Etika Penelitian


Responden yang melakukan pengisian kuesioner pada penelitian ini dijamin
kerahasiaan terhadap data-data yang diberikan dan berhak untuk menolak menjadi
responden.

3.12 Sarana Penelitian


3.12.3 Tenaga

31
Penelitian dilakukan oleh empat orang mahasiswa kepaniteraan ilmu kedokteran
masyarakat, dengan dibantu oleh satu orang pembimbing yaitu dosen ilmu
kedokteran masyarakat.
3.12.4 Fasilitas
Fasilitas yang tersedia berupa ruang perpustakaan, ruang diskusi, rekam medis,
lembar kuesioner, komputer, printer, program SPSS ver.16, internet dan alat tulis.

Bab IV
Hasil Penelitian

Proses pengumpulan data yang dilakukan di wilayah Kelurahan Kemanggisan pada


tanggal 9-10 November 2016 didapatkan sampel sebanyak 109 ibu yang mempunyai bayi.
Hasil penelitian ini kami sajikan dalam tabel sebagai berikut:

4.1 Hasil Analisa Univariat

Tabel 4.1.1 Karakteristik Berat Badan Lahir Bayi, Kadar Hb, Usia, Paritas, Jarak
Kehamilan, Lingkar Lengan Atas pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah
Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat Periode November 2016

Std. Minimum
Normalita
Variabel Mean Variance Deviatio - Range
s
n Maximum
Berat
123723.66
Badan 3122.02 351.744 2300-3900 1600 Normal
6
Lahir Bayi

Kadar Hb 12.025 0.952 0.9757 9.2-14.5 5.3 Normal

Usia 28.98 32.666 5.715 17-42 25 Normal


Paritas 1.88 0.902 0.950 1-5 4 Tidak
Normal
Jarak
Tidak
Kehamila 2.78 9.118 3.020 0-10 10
Normal
n
Lingkar Tidak
25.48 6.164 2.4827 21.4-34.0 12.6
Lengan Normal

32
33
Tabel 4.1.2 Sebaran Kunjungan ANC, Pendidikan, Pekerjaan, dan Pendapatan
Keluarga pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kelurahan Kemanggisan
Jakarta Barat Periode November 2016.

Variabel Frekuensi Persentase (%)


Kunjungan ANC
Sesuai anjuran 55 50.5
Tidak sesuai anjuran
54 49.5

Pekerjaan Ibu
Bekerja 43 39.4
Tidak bekerja
66 60.6

Pendapatan Keluarga
Rendah 35 32.1
Tinggi
74 67.9

Pendidikan
Dasar 17 15.6
Menengah 71 65.1
Tinggi 21 19.3

34
4.2 Hasil Analisa Bivariat

Tabel 4.2.1 Analisa Bivariat Kadar Hb, Usia, Paritas, Jarak Kehamilan, Lingkar
Lengan Atas terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu yang Mempunyai Bayi di
Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat Periode
November 2016

Kadar Hb
Variabel
r N p Uji Ho
Kadar Hb 0.171 109 0.075 Pearson Correlation Diterima
Usia 0.158 109 0.101 Pearson Correlation Diterima
Paritas 0.192 109 0.012 Kendall's tau Ditolak
Jarak Ditolak
0.277 109 0.000 Kendall's tau
Kehamilan
LILA 0.207 109 0.002 Kendalls tau Ditolak

Tabel 4.2.2 Analisa Bivariat ANC, Pendidikan, Pekerjaan, dan Pendapatan


Keluarga terhadap Berat Badan Lahir pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah
Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan Jakarta Barat Periode November 2016.

35
Kadar Hb
Mean CI
Variabel Upper
Differenc p N Ho
Lower
e

ANC 219.798 92.375 347.221 0.001 109 Ditolak

Pekerjaan 278.830 151.825 404.835 0.000 109 Ditolak

Pendidikan 3122.02 3055.24 3188.80 0.656 109 Diterima

Pendapatan
Keluarga 457.490 343.619 571.361 0.000 109 Ditolak

BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Sebaran Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah
Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada Bulan November 2016

36
Pada Tabel 4.1.1 terlihat bahwa sebaran berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi di wilayah Kelurahan Kemanggisan memiliki rentang dari 2300
gram hingga 3900 gram, sebanyak 5 orang (4.6%) ibu yang mempunyai bayi dengan
berat badan lahir < 2500 gram (BBLR), dibandingkan dengan 104 ibu (95.4%) yang
memiliki bayi dengan berat badan lahir 2500 gram dari 109 ibu yang diteliti. Rata-
rata berat badan lahir bayi 3122.02 gram dengan nilai tengah 3100 gram. Maka pada
penelitian ini didapatkan prevelansi BBLR pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan sebesar 4.6%. Jika dibandingkan dengan data
Riskesdas tahun 2013 yang menyebutkan bahwa prevalensi balita (0-59 bulan) dengan
BBLR di Indonesia sebesar 10,2%, angka kejadian BBLR pada penelitian ini lebih
rendah.7 Data spesifik prevalensi BBLR pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah
Jakarta, terlebih lagi di wilayah-wilayah Kecamatan Jakarta Barat belum ada,
sehingga tidak dapat dilakukan perbandingan yang sebenarnya.

5.2 Sebaran Kadar Hb, Usia, Paritas, Jarak Kehamilan, Status Gizi, ANC,
Pendidikan, Pekerjaan, dan Pendapatan Keluarga pada Ibu yang Mempunyai
Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada Bulan
November 2016
Pada Tabel 4.1.1 terlihat bahwa sebaran kadar Hb yang diukur pada saat
trimester III kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi di Kelurahan Kemanggisan
memiliki rentang dari 9.2 g/dL sampai 14.5 g/dL, sebanyak 12 orang (11%) memiliki
kadar Hb < 11g/dL (menderita anemia), dibandingkan dengan 97 orang (89%) yang
memiliki kadar Hb 11 g/dL (tidak anemia) dari 109 ibu yang diteliti. Rata-rata kadar
Hb 12.025 g/dL dengan nilai tengah 12 g/dL. Maka pada penelitian ini didapatkan
riwayat prevalensi anemia pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah Puskesmas
Kelurahan Kemanggisan sebesar 11%. Jika dibandingkan dengan data Riskesdas
tahun 2013 yang menyebutkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia
sebesar 37.1%, angka kejadian anemia pada penelitian ini lebih rendah.7 Data spesifik
prevalensi anemia pada ibu hamil di wilayah Jakarta, terlebih lagi di wilayah-wilayah
Kecamatan Jakarta Barat belum ada, sehingga tidak dapat dilakukan perbandingan
yang sebenarnya.
Pada Tabel 4.1.1, sebaran usia ibu saat persalinan yang diteliti memiliki
rentang dari usia 17 tahun hingga 42 tahun, dengan rata-rata usia ibu 28.98 tahun,
nilai tengah 28 tahun, dan usia terbanyak adalah 27, 22, 32, dan 35 tahun. Pada

37
penelitian ini didapatkan 13 orang (11.92%) ibu yang mempunyai bayi dengan usia
diatas 35 tahun, 94 orang (86.3%) ibu yang mempunyai bayi dengan usia 20 sampai
35 tahun, dan 2 orang (1.8% ) ibu yang mempunyai bayi dengan usia dibawah 20
tahun.
Pada Tabel 4.1.1, sebaran paritas ibu yang mempunyai bayi pada penelitian ini
memiliki rata-rata 1.88; nilai tengah 2, dengan nilai paritas tertinggi adalah 1. Pada
penelitian ini didapatkan 29 orang (26.6%) dengan paritas lebih dari 2 dan 80 orang
atau (73.4%) dengan paritas kurang dari sama dengan 2. Sebaran paritas yang
terkontrol ini disebabkan oleh program KB yang dilaksanakan dengan baik oleh pihak
Puskesmas di wilayah Kelurahan Kemanggisan.
Pada Tabel 4.1.1, sebaran jarak kehamilan pada ibu yang mempunyai bayi
pada penelitian ini memiliki rentang dari 0 sampai 10 tahun sejak kehamilan pertama
hingga kehamilan selanjutnya, dengan nilai rata-rata jarak kehamilan adalah 2.78
tahun, nilai tengah adalah 2 tahun. Pada penelitian ini didapatkan 5 orang (4.6%)
dengan jarak kehamilan dekat ( <2 tahun), 56 orang (51.4%) dengan jarak kehamilan
cukup ( 2 tahun), dan 48 orang (44%) dengan jarak kehamilan 0 karena ini
merupakan paritas yang pertama dan ibu belum pernah hamil sebelumnya. Jarak
kehamilan 2 tahun menjadi mayoritas dari sebaran data, karena program KB
dilaksanakan dengan baik oleh pihak Puskesmas di wilayah Kelurahan Kemanggisan.
Pada Tabel 4.1.1, sebaran LILA dari 109 ibu yang mempunyai bayi memiliki
rentang dari 21.4 cm sampai 34 cm. Didapatkan 87 orang (79.8%) ibu yang
mempunyai bayi yang tidak berisiko KEK ( 23.5 cm), sedangkan 22 orang (20.2%)
ibu yang mempunyai bayi dengan risiko KEK (<23.5 cm). Rata-rata lingkar lengan
atas 25.484 cm dengan nilai tengah 24.6 cm. Status gizi ibu yang baik di wilayah
Kelurahan Kemanggisan dikarenakan letak demografis kelurahan tersebut berada di
wilayah perkotaan dengan tingkat pendapatan menengah, sehingga jumlah keluarga
dengan tingkat ekonomi rendah yang sulit memperbaiki status gizi sangat minimal.
Pada Tabel 4.1.2, sebaran riwayat kunjungan ANC pada penelitian dibagi
menjadi 2 kategori, yaitu sesuai anjuran dan tidak sesuai anjuran. Didapatkan 55
orang (50.5%) ibu yang mempunyai bayi dengan riwayat kunjungan ANC sesuai
anjuran, sedangkan 54 orang (49.5%) ibu yang mempunyai bayi dengan riwayat
kunjungan ANC tidak sesuai anjuran. Dari data dapat disimpulkan bahwa terdapat
lebih banyak jumlah ibu yang melakukan kunjungan ANC sesuai dengan anjuran,

38
walaupun persentase ibu dengan kunjungan ANC yang tidak sesuai anjuran juga
cukup tinggi.
Sebaran tingkat pendidikan ibu berdasarkan tabel penelitian 4.1.2, didapatkan
bahwa jumlah ibu yang mempunyai tingkat pendidikan dasar sebanyak 21 ibu dengan
persentase 19.3%, jumlah ibu yang mempunyai tingkat pendidikan menengah
sebanyak 71 ibu dengan persentase 65.1%, sedangkan jumlah ibu yang mempunyai
tingkat pendidikan tinggi sebanyak 17 ibu dengan persentase 15.6%. Dari data dapat
disimpulkan bahwa terdapat lebih banyak jumlah ibu yang mempunyai tingkat
pendidikan menengah di wilayah Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat
pada bulan November 2016.
Sebaran pekerjaan ibu berdasarkan tabel penelitian 4.1.12, didapatkan jumlah
ibu yang tidak bekerja sebanyak 66 ibu dengan persentase 60.6% sedangkan jumlah
ibu yang bekerja sebanyak 43 ibu dengan persentase 39.4%. Dari data dapat
disimpulkan bahwa terdapat lebih banyak jumlah ibu yang tidak bekerja di wilayah
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan, Jakarta Barat pada bulan November 2016.
Sebaran pendapatan keluarga berdasarkan tabel penelitian 4.1.2, didapatkan
jumlah ibu yang memiliki pendapatan keluarga rendah sebanyak 35 ibu dengan
persentase 32.1%, sedangkan jumlah ibu yang memiliki pendapatan keluarga tinggi
sebanyak 77 ibu dengan persentase 67.9%. Dari data dapat disimpulkan bahwa
terdapat lebih banyak ibu dengan jumlah pendapatan keluarga yang tinggi atau diatas
upah minimum regional (UMR) Kota Jakarta di wilayah Puskesmas Kelurahan
Kemanggisan, Jakarta Barat, bulan November 2016. Sebaran pendapatan mayoritas
diatas UMR, karena letak demografis yang berada di wilayah perkotaan, sehingga
rata-rata pendapatan keluarga setara atau lebih tinggi dibanding UMR.

5.3 Hasil Analisa Bivariat Kadar Hb terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu
yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kelurahan Kemanggisan pada Bulan
November 2016.
Hubungan Kadar Hb ibu saat trimester III kehamilan dengan berat badan lahir
bayi diuji melalui uji Pearson correlation didapatkan p= 0.075 dengan nilai p> 0.05;
hasil H0 diterima, sehingga tidak ada hubungan antara kadar Hb ibu saat trimester III
kehamilan dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi. Hasil
penelitian ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Vitrianingsih
di Wonosari pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa ada hubungan antara kadar Hb

39
dengan berat lahir, dimana ibu dengan anemia akan mempunyai peluang 5 kali untuk
melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang tidak anemia.21 Hasil penelitian ini
juga tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Hidayati pada tahun 2005
yang menyatakan bahwa ibu hamil yang terpapar anemia memiliki peluang 3,7 kali
lebih besar untuk melahirkan BBLR dibandingkan yang tidak anemia. 21 Hubungan
kadar hemoglobin trimester III dengan berat bayi lahir memang telah dilaporkan pada
beberapa penelitian.19 Kadar hemoglobin ibu hamil trimester III yang rendah dan
tinggi dapat mengakibatkan pertumbuhan janin terhambat atau kecil untuk masa
kehamilan.19 Pada penelitian ini belum dapat menemukan hubungan antara kadar
hemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat bayi lahir. Hal ini dapat disebabkan
oleh karena sebagian besar responden memiliki kadar hemoglobin >11 g/dL atau tidak
mengalami anemia pada saat trimester III kehamilan. Pada dasarnya, berat bayi lahir
memang tidak mutlak dipengaruhi oleh kadar hemoglobin ibu hamil. Berat bayi lahir
dipengaruhi oleh dua faktor ibu yang mempengaruhi pertumbuhan janin intrauterin,
yaitu faktor internal dan eksternal ibu hamil. Faktor internal ibu hamil tidak hanya
kadar hemoglobin, tetapi juga dipengaruhi usia ibu, paritas, jarak kehamilan, status
gizi, penyakit selama kehamilan, dan faktor genetic. Faktor eksternal berupa
kebiasaan hidup ibu hamil, karakteristik asuhan antenatal, dan keadaan sosial
ekonomi keluarga juga turut mempengaruhi pertumbuhan intrauterin sehingga juga
berdampak terhadap berat bayi lahir.19

5.4 Hasil Analisa Bivariat Usia ibu terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu yang
Mempunyai Bayi di Wilayah Kelurahan Kemanggisan pada Bulan November
2016.
Hubungan usia ibu dengan berat badan lahir bayi diuji melalui uji Pearson
correlation didapatkan p= 0.101 dengan nilai p>0.05; hasil H0 diterima, sehingga
tidak ada hubungan antara usia ibu dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Vitrianingsih di Wonosari pada tahun 2012 yang menunjukkan bahwa terdapat
hubungan antara umur ibu dengan berat lahir bayi dimana ibu dengan umur berisiko
akan berpeluang 4 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan ibu dengan umur tidak
berisiko.21 Juga penelitian yang dilakukan oleh Reichman pada tahun 2006 di Amerika
menunjukan bahwa ibu yang melahirkan usia >35 tahun dan <20 tahun berisiko
melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah sebesar 2.1 kali. Namun pada
penelitian ini belum dapat menemukan adanya hubungan antara usia ibu dengan berat

40
badan lahir bayi. Hal ini dapat disebabkan oleh karena sebagian besar responden
berusia 20-35 tahun yang merupakan usia ideal pada saat persalinan.
Jika usia ibu saat proses persalinan <20 tahun atau >35 tahun maka dikatakan
sebagai usia risiko tinggi pada saat proses persalian yang dapat berdampak terhadap
kondisi kesehatan ibu maupun janin salah satunya adalah berat badan lahir rendah.
Hal ini dikarenakan pada ibu yang masih tergolong remaja aliran darah ke uterus
belum berkembang akibat belum matangnya organ reproduksi sehingga berakibat
terhadap kurangnya nutrisi pada janin. Selain itu terdapat persaingan nutrisi antara
perkembangan fisik seorang remaja dengan perkembangan janin. Hal ini dikarenakan
oleh kebutuhan zat gizi pada masa remaja sangat dibutuhkan untuk proses
pertumbuhan sehingga mengakibatkan kurangnya asupan nutrisi pada janin.
Sedangkan risiko ibu yang melahirkan di usia >35 tahun dipengaruhi oleh adanya
masalah kesehatan yang berkaitan dengan usia seperti hipertensi, diabetes mellitus,
serta adanya kemungkinan perubahan pola gaya hidup yang kurang sehat sehingga
menimbulkan penyakit pada ibu yang dapat mempengaruhi kondisi janin.46

5.5 Hasil Analisa Bivariat Paritas terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu yang
Mempunyai Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada
Bulan November 2016.
Hubungan paritas dengan dengan berat badan lahir bayi diuji melalui uji
Kendalls tau didapatkan p= 0.019, dengan nilai p<0.05; hasil H0 ditolak, sehingga
terdapat hubungan antara paritas dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi. Nilai r = 0.192 menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan
korelasi sangat lemah antara paritas dengan berat badan lahir bayi. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh Joeharno & Zaenab
pada tahun 2006 yang menyatakan bahwa paritas merupakan faktor risiko penyebab
kejadian BBLR pada bayi, hasil pengujian statistik diperoleh OR=2,438 sehingga
dapat dikatakan bahwa ibu dengan paritas >3 berisiko 3 kali untuk melahirkan
BBLR.37 BKKBN menyatakan bahwa jumlah anak yang ideal dalam satu keluarga
adalah sebanyak 2-3 anak. Adanya aturan terkait jumlah paritas dalam satu keluarga
adalah untuk meminimalisir terjadinya ledakan jumlah penduduk, masalah kesehatan
ibu maupun bayi serta angka kematian ibu dan bayi.38 Kehamilan yang berulang-ulang
akan menyebabkan kerusakan pada dinding pembuluh darah uterus. Hal ini akan
mempengaruhi nutrisi ke janin pada kehamilan selanjutnya. Selain itu, dapat

41
menyebabkan atonia uteri. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang
selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.39

5.6 Hasil Analisa Bivariat Jarak Kehamilan terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada
Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kelurahan Kemanggisan pada Bulan
November 2016.
Hubungan jarak kehamilan dengan berat badan lahir pada ibu yang
mempunyai bayi diuji melalui uji Kendalls tau didapatkan p= 0.000, dengan nilai
p<0.05; hasil H0 ditolak, sehingga ada hubungan yang bermakna antara jarak
kehamilan dengan berat badan lahir pada ibu yang mempunyai bayi. Nilai r= 0.277
menunjukan korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah antara jarak
kehamilan dengan berat badan lahir. Hasil ini juga sama dengan penelitian Kosim
tahun 2011 yang bahwa sebagian besar (59.5%) ibu yang memiliki jarak kehamilan
<2 tahun melahirkan bayi dengan catatan BBLR, serta mayoritas (64.3%) ibu yang
memiliki jarak kehamilan 2 4 tahun melahirkan bayi dengan catatan berat lahir
normal. Hasil ini sama dengan penelitian Lilungulu tahun 2014 di Tanzania diperoleh
bahwa kejadian BBLR banyak terjadi pada ibu yang memiliki kehamilan terlalu dekat
(<2 tahun) dibandingkan dengan ibu hamil yang memiliki jarak kehamilan normal (2
tahun). Hal ini dapat terjadi karena menurut penelitian tersebut ibu hamil yang
memiliki jarak kehamilan 2 tahun memiliki kondisi biologis yang normal serta dapat
dinyatakan tidak adanya gangguan metabolisme akibat proses persalinan sebelumnya.
Sebaliknya jarak kehamilan yang terlalu dekat dapat berpengaruh terhadap kondisi
bayi pada saat lahir. Hal ini disebabkan oleh nutrisi ibu yang kurang adekuat dan
adanya persaingan nutrisi untuk pertumbuhan janin yang ada didalam kandungan
dengan nutrisi ibu untuk memproduksi air susu ibu (ASI). Selain itu jarak kehamilan
yang terlalu dekat dapat mengakibatkan terjadinya gangguan kesehatan ibu yakni
kurangnya sumber asam folat pada ibu, yang mana asam folat merupakan salah satu
zat penting yang dibutuhkan oleh ibu hamil untuk proses tumbuh kembang janin.45

5.7 Hasil Analisa Bivariat Lingkar Lengan Atas terhadap Berat Badan Lahir Bayi
pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan
Kemanggisan pada Bulan November 2016.
Hubungan lingkar lengan atas dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi diuji melalui uji Kendalls tau didapatkan p= 0.002, dengan nilai
p<0.05; hasil H0 ditolak, sehingga ada hubungan antara lingkar lengan atas dengan
berat badan lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi di wilayah Puskesmas

42
Kelurahan Kemanggisan pada bulan November 2016. Nilai r= 0.207 menunjukan
korelasi positif dengan kekuatan korelasi yang lemah antara LILA dengan berat
badan lahir bayi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Vitrianingsih di
Wonosari tahun 2012 yang menunjukkan bahwa ibu dengan risiko KEK akan
mempunyai peluang 6 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang
tidak KEK dengan uji statistik diperoleh nilai p-value 0,000 dan OR=6,081 21. Gizi ibu
saat hamil sangat penting untuk pertumbuhan janin yang dikandung. Gizi yang baik
diperlukan agar janin berkembang pesat dan tidak mengalami hambatan. Terkait
begitu pentingnya status gizi pada ibu hamil terhadap pertumbuhan janin maka status
gizi harus benar-benar mendapat perhatian. Status gizi janin menentukan berat badan
bayi baru lahir dan status gizi janin ditentukan oleh status gizi ibu selama hamil
sampai melahirkan. Ibu hamil dengan LILA<23.5 cm cenderung mengalami KEK,
yang berarti ibu sudah mengalami keadaan kurang gizi dalam jangka waktu yang
lama. Kekurangan energi secara kronis ini menyebabkan ibu hamil tidak mempunyai
cadangan zat gizi yang adekuat untuk menyediakan kebutuhan fisiologis kehamilan
yakni perubahan hormon dan peningkatan volume darah untuk pertumbuhan janin,
sehingga suplai zat gizi pada janin pun berkurang, akibatnya pertumbuhan dan
perkembangan janin terhambat dan lahir dengan berat badan yang rendah.40

5.8 Hasil Analisa Kunjungan ANC terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada Ibu yang
Mempunyai Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada
Bulan November 2016.
Hubungan kunjungan ANC dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi diuji melalui uji Indpendent Sample T-test didapatkan p= 0.001,
dengan nilai p<0.05 dan mendapatkan hasil H0 ditolak, sehingga ada hubungan antara
kunjungan ANC dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang mempuyai bayi di
wilayah Puskesmas Kelurahan Kemanggisan pada bulan November 2016. Hal ini
dapat disebabkan oleh persentase jumlah ibu dengan riwayat kunjungan ANC yang
tidak sesuai dengan anjuran yang cukup tinggi. Anjuran kunjungan antenatal yang
telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan adalah minimal 4 kali kunjungan selama
masa kehamilan. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kesadaran ibu terhadap
kesehatan kehamilan serta akses pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas
kelurahan belum cukup memadai. Dengan dilakukannya kunjungan ANC selama
masa kehamilan secara teratur maka ibu hamil telah memperoleh tindakan medis
secara langsung yakni skrining kesehatan ibu, saran pola makan dan aktivitas fisik

43
yang sesuai dan dukungan psikologis. Perkembangan janin dan komplikasi kehamilan
dapat terdeteksi secara dini, sehingga tatalaksana dan penanganan dapat dilakukan
dengan cepat dan tepat. Selain itu ibu hamil yang melakukan kunjungan ANC secara
teratur dapat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kondisi kesehatan kehamilan
dengan cara mengatur aktivitas fisik dan memperhatikan kebutuhan energi dan zat
gizi selama masa kehamilan, sehingga kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan
pada janin sangat kecil.41
5.10 Hasil Analisa Bivariat Pekerjaan ibu terhadap Berat Badan Lahir Bayi
pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan
Kemanggisan pada Bulan November 2016.
Status pekerjaan ibu, memiliki pengaruh yang bermakna terhadap berat badan
lahir bayi pada ibu yang mempunyai bayi. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji
dengan Independent sample t-test antara variabel status pekerjaan ibu dengan variable
berat badan lahir bayi diperoleh p = 0,000 (p < 0,05) ; H0 ditolak yang menandakan
adanya hubungan yang bermakna antara status pekerjaan ibu dengan berat badan lahir
bayi pada ibu yang mempunyai bayi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Vitrianingsih di Wonosari pada tahun 2012 yang menunjukkan adanya hubungan
antara pekerjaan ibu dengan berat lahir bayi dengan p-value 0,023 dan nilai OR=2,581
yang artinya ada hubungan antara pekerjaaan ibu dengan berat lahir bayi dimana ibu
yang bekerja akan mempunyai peluang 3 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan
dengan ibu yang tidak bekerja.21 Hasil penelitian ini juga sesuai dengan penelitian
yang dilakukan oleh Thomre pada tahun 2012 yang menjelaskan bahwa pekerjaan
merupakan faktor risiko terjadinya BBLR. Berdasarkan penelitian yang dilakukan
dengan membandingkan ibu hamil yang bekerja ringan dan ibu hamil yang bekerja
berat didapatkan nilai OR=4,37 artinya ibu hamil yang melakukan pekerjaan keras
memiliki risiko 4,37 kali untuk melahirkan BBLR dibandingkan dengan ibu yang
bekerja ringan44. Namun, pada beberapa penelitian tidak menunjukkan adanya
hubungan antara pekerjaan ibu dengan berat bayi lahir. Hal ini dapat disebabkan
karena lingkungan pekerjaan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman. Ibu
yang tidak bekerja akan sibuk dengan pekerjaan rumah tangga dan kurang
berinteraksi dengan lingkungan luar sehingga kurang mendapatkan informasi tentang
kesehatan dan pemenuhan zat gizi yang penting selama kehamilan, dibandingkan
dengan ibu yang bekerja yang bisa bertukar pengalaman dan banyak mendapatkan

44
informasi dari lingkungan kerja atau diluar lingkungan kerja tentang kebutuhan
pemenuhan gizi selama kehamilan.

5.11 Hasil Analisa Bivariat Pendidikan ibu terhadap Berat Badan Lahir Bayi pada
Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Kelurahan
Kemanggisan pada Bulan November 2016.
Pendidikan Ibu tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan berat
badan lahir bayi. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji dengan Anova antara variabel
tingkat pendidikan ibu dengan variable berat badan lahir diperoleh p = 0,656 (p >
0,05). Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Vitrianingsih di Wonosari tahun 2012 didapatkan p-value 0,015 dan nilai OR=3,059
artinya ada hubungan antara pendidikan ibu dengan berat lahir bayi dimana ibu
dengan pendidikan dasar akan mempunyai peluang 3 kali untuk melahirkan BBLR
dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi.21 Hasil penelitian ini juga sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Jayant tahun 2010 tentang Faktor Risiko
Maternal Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Maharashtra Barat, India yang
menyatakan bahwa pendidikan berhubungan dengan kejadian BBLR, dimana ibu
yang berpendidikan rendah akan berisiko 1,6 kali untuk melahirkan BBLR
dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan tinggi.43
Pendidikan adalah bimbingan yang telah diberikan seseorang kepada yang lain
terhadap suatu hal agar mereka data memahami. Tidak dapat dipungkiri bahwa makin
tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi dan akhirnya makin
banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya jika pendidikan seseorang
tergolong rendah maka akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap
penerimaan, informasi dan nilai baru yang diperkenalkan. Pendidikan seorang ibu
mempunyai peran penting terhadap sikap dan perilaku kesehatan salah satunya
kesadaran diri untuk memeriksakan kehamilan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Namun pada penelitian ini belum dapat menemukan hubungan yang bermakna
antara tingkat pendidikan ibu dengan berat badan lahir bayi. Hal ini dapat disebabkan
karena mayoritas ibu yang menjadi responden memiliki tingkat pendidikan menengah
hingga tinggi (80.7%), dan hanya sebanyak 19% ibu yang memilliki tingkat
pendidikan dasar.

45
5.9 Hasil Analisa Bivariat Pendapatan Keluarga terhadap Berat Badan Lahir Bayi
pada Ibu yang Mempunyai Bayi di Wilayah Kelurahan Kemanggisan pada
Bulan November 2016.
Hubungan pendapatan keluarga dengan berat badan lahir bayi pada ibu yang
mempunyai bayi diuji melalui uji Independent sample t test didapatkan p= 0.000,
dengan nilai p<0.05 dan mendapatkan hasil H0 ditolak, yaitu terdapat hubungan antara
angka pendapatan keluarga dengan berat badan lahir bayi. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh Louangpradith Viengsakhone di Vientiane
pada tahun 2010 yang menunjukkan bahwa pendapatan keluarga merupakan salah
satu indikator terpercaya yang menunjukkan fakta bahwa ibu dengan pendapatan
keluarga yang rendah mempunyai risiko 13.9 kali lebih tinggi untuk melahirkan bayi
dengan berat badan lahir rendah (95% CI=8.821.9). Pendapatan rendah yang
dimaksud pada penelitian Viengsakhone adalah kurang dari 1 juta Kips (1 Dolar
Amerika=8,700 Kips) setiap bulannya.42

BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian mengenai hubungan kadar hemoglobin dan faktor-faktor
lainnya dengan berat badan lahir bayi pada ibu- yang mempunyai bayi di wilayah
Kelurahan Kemanggisan pada Bulan November 2016 menggunakan 109 sampel dan
pada subjek yang diteliti didapatkan sebaran berat badan lahir bayi pada ibu yang

46
mempunyai bayi dengan berat badan lahir < 2500 gram (BBLR) sebanyak 5 orang
(4.6%), dibandingkan dengan 104 ibu (95.4%) yang memiliki bayi dengan berat
badan lahir 2500 gram, sebanyak 12 orang (11%) memiliki kadar Hb < 11g/dL
(menderita anemia), dibandingkan dengan 97 orang (89%) yang memiliki kadar Hb
11 g/dL (tidak anemia), sebanyak 13 orang (11.92%) ibu yang mempunyai bayi
dengan usia diatas 35 tahun, 94 orang (86.3%) ibu yang mempunyai bayi dengan usia
20 sampai 35 tahun, dan 2 orang (1.8% ) ibu yang mempunyai bayi dengan usia
dibawah 20 tahun, sebanyak 29 orang (26.6%) dengan paritas lebih dari 2 dan 80
orang atau (73.4%) dengan paritas kurang dari sama dengan 2. Didapatkan 5 orang
(4.6%) dengan jarak kehamilan dekat ( <2 tahun), 56 orang (51.4%) dengan jarak
kehamilan cukup ( 2 tahun), dan 48 orang (44%) dengan jarak kehamilan 0.
Didapatkan 87 orang (79.8%) ibu yang mempunyai bayi yang tidak berisiko KEK
( 23.5 cm), sedangkan 22 orang (20.2%) ibu yang mempunyai bayi dengan risiko
KEK (<23.5 cm). Didapatkan 55 orang (50.5%) ibu yang mempunyai bayi dengan
riwayat kunjungan ANC sesuai anjuran, sedangkan 54 orang (49.5%) ibu yang
mempunyai bayi dengan riwayat kunjungan ANC tidak sesuai anjuran. Jumlah ibu
yang mempunyai tingkat pendidikan dasar sebanyak 21 ibu (19.3%), tingkat
pendidikan menengah sebanyak 71 ibu (65.1%), dan tingkat pendidikan tinggi
sebanyak 17 ibu (15.6%). Ibu yang tidak bekerja sebanyak 66 ibu (60.6%) sedangkan
jumlah ibu yang bekerja sebanyak 43 ibu (39.4%). Ibu yang memiliki pendapatan
keluarga rendah sebanyak 35 ibu (32.1%), sedangkan jumlah ibu yang memiliki
pendapatan keluarga tinggi sebanyak 77 ibu (67.9%).
Tidak terdapat hubungan signifikan antara kadar Hb, usia ibu, dan pendidikan
ibu terhadap berat badan lahir bayi. Didapatkan hubungan signifikan antara paritas,
jarak kehamilan, status gizi, frekuensi kunjungan ANC, pekerjaan ibu, dan pendapatan
keluarga dengan berat badan lahir bayi di wilayah Kelurahan Kemanggisan pada
Bulan November 2016.

6.2 Saran
Dari hasil penelitian dan kesimpulan diatas, peneliti menyarankan bagi
Puskesmas Kelurahan Kemanggisan untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan
program KIA terutama dalam program asuhan antenatal pada ibu hamil terkait dengan
kepatuhan dalam pemeriksaan kehamilan yang sesuai dengan anjuran.

47
DAFTAR PUSTAKA

1. Damanik SM. Klasifikasi bayi menurut berat lahir dan masa gestasi. Dalam : Kosim
MS, Ari Y, Rizalya D, Gatot IS, Ali U. Buku ajar neonatologi. Edisi 1. Jakarta : Ikatan
Dokter Anak Indonesia; 2010. hlm. 11-29.
2. Karima K, Achadi E. Status gizi ibu dan berat badan lahir bayi. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Nasional Vol. 7 No. 3. Oktober 2012. h. 111-9. Diunduh dari :
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=269521&val=7113&title=Status

48
%20Gizi%20Ibu%20dan%20Berat%20Badan%20Lahir%20Bayi pada tanggal 8
Oktober 2016
3. Asiyah S. Hubungan status gizi ibu selama hamil dengan berat badan lahit bayi di
BPM wilayah kerja puskesmas Tiron kecamatan Banyakan Kediri. Malang; Gema
Bidan Indonesia. 2014.
4. Kemenkes RI 2012. Survei demografi dan kesehatan Indonesia 2012. Diunduh dari :
http://www.bkkbn.go.id/litbang/pusdu/Hasil%20Penelitian/SKDI%202012/Laporan
%20Pendahuluan%20SKDI%202012.pdf tanggal 29 Oktober 2016.
5. Tristiyanti WF. Faktor - faktor yang mempengaruhi status anemia pada ibu hamil di
kecamatan Ciampea, kabupaten Bogor, Jawa Barat. [SKRIPSI]. Bogor: Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor. 2006
6. Simanjuntak NA. Hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian bayi berat lahir
rendah (BBLR) di Badan Pengelola Rumah Sakit Umum (BPRSU) Rantauprapat
kabupaten Labuhan Batu tahun 2008. [SKRIPSI]. Medan: Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sumatera Utara. 2009.
7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar 2013. Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI; 2013.
Diunduh dari: http://labdata.litbang.depkes.go.id/riset-badan-litbangkes/menu-
riskesnas/menu-riskesdas/374-rkd-2013 pada tanggal 27 Oktober 2016.
8. Red blood cells, anemia, and polycythemia. Guyton A C, Hall J E, Textbook of
medical physiology eleventh ed. Philadelphia : Elsevier Saunders; 2006. P. 419-26.
9. Pendit BU, Setiawan L, Iriani A, et al. Kapita Selekta Hematologi. Edisi ke 6.
Jakarta : EGC ; 2013.
10. WHO. The global prevalence of anaemia in 2011. Geneva: World Health
Organization; 2011. p. 5,18,27,33.Available from:
http://www.who.int/nutrition/publications/micronutrients/global_prevalence_anaemia
_2011/en/ October 28th 2016.
11. Prawirohardjo S, Saifudin AB. Ilmu kebidanan. 2014. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo.h.775-8.
12. Ingram CF, Lewis SM. (2000) Clinical use of WHO haemoglobin colour scale:
validation and critique. Journal of Clinical Pathology;53:933-937.
13. Srivastava T, Negandhi H, Neogi SB, Sharma J, Saxena R (2014) Methods for
Hemoglobin Estimation: A Review of What Works. Journal of Hematology and
Transfusion 2(3): 1028
14. Barduagni P, Ahmed AS, Curtalle F. Sahli and colour scale methods in diagnosing
anemia. Volume-8 No.7. 2003. Blackwell Publishing Ltd:Tropical Medicine and
International Health.p.616.

49
15. Iron disorders institute. Diunduh dari http://www.irondisorders.org/iron-tests/ pada 29
Oktober 2016.
16. Overview of obstetrics, Chapter 1 In : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth
JC, Rouse DJ, et al. Williams Obstetrics twenty third ed. New York : McGraw-Hill;
2010. Page 3.
17. Widodo Y, Djoko BU, Zulaela. Pertumbuhan Bayi yang Mendapat Asi Eklusif dan Asi
Tidak Ekslusif ; Sains Kesehatan Juli. 2005. 18 (3).
18. CDC. Pediatric and pregnancy nutrition surveilans system: PedNSS Health Indicators.
2009. Available from :
http://www.cdc.gov/pednss/what_is/pedness_health_indicators.htm October 28th
2016
19. Setiawan A, Indrawaty N, Izzah AZ. Hubungan kadar hemoglobin ibu hamil trimester
III dengan berat bayi lahir di kota Pariaman. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013;2(1) :
34-37
20. Maksum A, Maliya A, Kep A. Hubungan Kadar Hemoglobin ibu hamil dengan
kejadian berat bayi lahir renda (BBLR) di RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Prosiding
Seminar Nasional Food Habit and Degenerative Disease: Universitas Muhammadiyah
Surakarta; 2012. h. 31-7.
21. Vitrianingsih , Kusharisupeni, Sabri L. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Berat
Lahir di RSUD Wonogiri Gunungkidul Yogyakarta Tahun 2012. [Tesis]. Yogyakarta :
Universitas Gajah Mada; 2012
22. Maghfiroh L. Pertambahan berat badan ibu hamil dan kejadian berat bayi lahir rendah
(BBLR) di wilayah kerja puskesmas Pamulang kota Tangerang Selatan tahun 2013-
2015. [Skripsi]. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta; 2015.
23. Sitorus, Ronald H, et al. Pedoman Perawatan Kesehatan Ibu dan Janin Selama
Kehamilan. 2007: Bandung; CV. Pionir Jaya Bandung.
24. Trihardiani I. Faktor risiko kejadian berat badan lahir rendah di wilayah kerja
puskesmas singkawang timur dan utara kota singkawang tahun 2011. Semarang:
Universitas Diponegoro; 2011
25. Bobak M, Dejmek J, Sram RJ. Unfavourable Birth Outcomes of the Roma Women in
the Czech Republic and the Potential Explanations: A Population Based Study. BMC
Pub Health. Vol 106, No 5. 2005.p 2461-2458.
26. Mainase, J. Hubungan Faktor lbu Hamil dengan Terjadinya Bayi Lahir Rendah Di
RSUD Dr.M.Haulussy Ambon. Maluku. Program Pasca Sarjana Universitas
Airlangga; 2006
27. Rochjati. Pengenalan Faktor-faktor Risiko Deteksi Dini Ibu Hamil Risiko Tinggi.
Surabaya. Airlangga University Press. 2003.

50
28. Depkes RI. Gizi Seimbang Menuju Hidup Sehat Bagi Bayi Ibu Hamil dan Ibu
Menyusui (Pedoman Petugas Puskesmas). Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat
Depkes RI; 2002. Hal 3-8
29. Sitti Fatimah. Dampak Berat Badan Lahir Terhadap Status Gizi Bayi. 2009. Diunduh
dari http://digilib.litbang.depkes.go.id pada tanggal 27 Oktober 2016.
30. Ariyani DE, Achadi EL, Irawati A. Validitas Lingkar Lengan Atas Mendeteksi risiko
kekurangan Energi Kronis pada Wanita Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat
Nasional. 2012;7(2):83-90
31. Mataihu GP. Hubungan status gizi ibu hamil dengan berat badan bayi baru lahir di
puskesmas tilango kabupaten gorontalo tahun 2015. Gorontalo: Universitas Negeri
Gorontalo. 2015
32. Putri PH, Sulistyono A, Mahmudah. Analisis faktor yang mempengaruhi anemia pada
kehamilan usia remaja. Majalah Obstetri & Ginekologi. 2015;23(1):33-6.

33. Bungsu P. Pengaruh kadar tanin pada teh celup terhadap Anemia gizi besi pada ibu
hamil di UPT Puskesmas Citeureup Kabupaten Bogor tahun 2012.[Tesis]. Jakarta:
Universitas Indonesia; 2012
34. Abriha A, Yesuf M, Wassie M. Prevalence and associated factors of anemia among
pregnant women of Mekelle town: a cross sectional study. BMC Research
Notes.2014:7(888):1-6. Available from: http://www.biomedcentral.com/1756-
0500/7/888 pada tanggal 30 Oktober 2016
35. Sugiarsih U, Wariyah. Hubungan tingkat sosial ekonomi dengan kadar haemoglobin.
Jurnal Kesehatan Reproduksi. 2013;4(2):73-9. Diunduh dari:
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/kespro/article/download/3905/3749
pada tanggal 29 Oktober 2016
36. Kementrian Kesehatan. Pedoman pemantauan wilayah setempat kesehatan ibu dan
anak. Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Ibu; 2010.
37. Watanabe, Hiroko, Kabayema K, et al. A review of i n adequat and extencive weight
gain in pregnancy. Current Womens Health Review: 2009; p. 186-92.
38. Abeysena, Jayawardana. Body mass index and gestational weight gain in two sleected
medical officer of health areas in the gampaha district. Journal of the College of
Community Physicians of Sri Lanka. Vol 16, No.1: 2011.
39. Aea, Ghani. Epidemiology of low birth weight in the town of sidi bel abbes (west of
algeria: a case-control study. Journal Nutrition and Food Sciences. Vol 4, Issues 3:
2013.

51
40. Han, Zhen. Maternal underwight and the risk of preterm birth and low birth weight: a
systematic review and metaanalyses. International Journal of Epidemiology: 2011; p.
40, 65-101.
41. Robberts. Nutrition in pregnancy and lactation. Mosby Collage Publishing: US
America. 1999.
42. Joeharno, Zaenab R. Beberapa faktor Risiko Kejadian BBLR di Rumah Sakit Al-
Fatah Ambon Periode Januari-Desember Tahun 2006; 2006
43. Badan Koordinasi dan Keluarga Berencana (BKKBN). Program kependudukan dan
keluarga berencana nasional. Direktorat Bina Ketahanan Keluarga dan Lansia Rentan:
Jakarta; 2012
44. Budiman, A Riyanto, J Juhaeriah dkk. Faktor ibu yang berhubungan dengan berat
badan bayi lahir di puskesmas Garuda tahun 2010. Jurnal Kesehatan Kartika 2011;
5(3).
45. Suwarni Y, Noor MS, Rahayu A. Hubungan antara paritas, lila, kadar hb dan usia ibu
hamil dengan berat lahir bayi. Studi Obsevasi di Kecamatan Pelaihari Kabupaten
Tanah Laut tahun 2012. Fakultas Kedokteran UNLAM: Banjarbaru; 2012. Hal 62
46. Ernawati, Fitrah, dkk. Hubungan antenatal care dengan berat badan lahir di Indonesia.
Jurnal Gizi Indonesia Vol 1 No 34; 2013.
47. Viengsakhone L, Yoshida Y, Harun R, Sakamoto J. Factors affecting low birth weight
at four central hospitals in Vientiane, lao pdr. Nagoya J Med Sci Vol 72. Nagoya:
Department of Healthcare Administration, Nagoya University Graduate School of
Medicine; 2010. Hal 53
48. Jayant, D. Maternal risk factors for low birth weight neonates: A Hospital Based Case
Control Study In Rural Area Western Maharashtra India; 2005. Diunduh melalui
http://njcmindia.org/uploads/2-3_394-398.pdf
49. Thomre, P. Maternal risk factors determining birth weight of newborns: A Tertiary
Care Hospital Based Study; 2012
50. Bener, Abdul B. The impact of the interpregnancy interval on birth weight and other
pregnancy outcomes. Rev Bras Saude Maternal Infant 12 (3); 2012. P 233-241
51. Ulah. Biological risk factors of low birth weight in rural rajashi. TAJ December Vol
16 No 2; 2006

52