Anda di halaman 1dari 15

Tugas Evaluasi Program dr.Melda Suryana, M.

Epid

Febri Ekawati (11.2012.293)

1. Kriteria KLB diare

Peningkatan kejadian kesakitan/kematian karena Diare secara terus menerus


selama 3 kurun waktu berturut-turut (jam, hari, minggu).

Peningkatan kejadian/kematian kasus Diare 2 kali /lebih dibandingkan jumlah


kesakitan/kematian karena Diare yang biasa terjadi pada kurun waktu
sebelumnya (jam, hari, minggu).

CFR karena Diare dalam kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50%
atau lebih dibandingkan periode sebelumnya.

2. Kriteria sumur gali :

Syarat Lokasi atau Jarak

Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak
sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage
pit), dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada
keadaan serta kemiringan tanah.
o Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir.
o Jarak sumur minimal15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran
seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah, dan sebagainya.
Dinding Sumur Gali
o Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur gali harus
terbuat dari tembok yang kedap air (disemen). Hal tersebut dimaksudkan
agar tidak terjadi perembesan air/pencemaran oleh bakteri dengan
karakteristik habitat hidup pada jarak tersebut. Selanjutnya pada
kedalaman 1,5 meter dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata
tanpa semen, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding sumur
o Pada kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur harus
dibuat dari tembok yang tidak tembus air, agar perembesan air
permukaan yang telah tercemar tidak terjadi. Kedalaman 3 meter diambil
karena bakteri pada umumnya tidak dapat hidup lagi pada kedalaman
tersebut. Kira-kira 1,5 meter berikutnya ke bawah, dinding ini tidak
dibuat tembok yang tidak disemen, tujuannya lebih untuk mencegah
runtuhnya tanah.
o Dinding sumur bisa dibuat dari batu bata atau batu kali yang disemen.
Akan tetapi yang paling bagus adalah pipa beton. Pipa beton untuk
sumur gali bertujuan untuk menahan longsornya tanah dan mencegah
pengotoran air sumur dari perembesan permukaan tanah. Untuk sumur
sehat, idealnya pipa beton dibuat sampai kedalaman 3 meter dari
permukaan tanah. Dalam keadaan seperti ini diharapkan permukaan air
sudah mencapai di atas dasar dari pipa beton.
o Kedalaman sumur gali dibuat sampai mencapai lapisan tanah yang
mengandung air cukup banyak walaupun pada musim kemarau.
Bibir sumur gali
Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara lain :
o Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air setinggi minimal 70 cm
untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek
keselamatan.
o Dinding sumur di atas permukaan tanah kira-kira 70 cm, atau lebih tinggi
dari permukaan air banjir, apabila daerah tersebut adalah daerah banjir.
o Dinding parapet merupakan dinding yang membatasi mulut sumur dan
harus dibuat setinggi 70-75 cm dari permukaan tanah. Dinding ini
merupakan satu kesatuan dengan dinding sumur.
Lantai Sumur Gali
Beberapa pendapat konstruksi lantai sumur antara lain :
o Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air 1,5 m lebarnya dari
dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan 20 cm di atas
permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat.
o Tanah di sekitar tembok sumur atas disemen dan tanahnya dibuat miring
dengan tepinya dibuat saluran. Lebar semen di sekeliling sumur kira-kira
1,5 meter, agar air permukaan tidak masuk.
o Lantai sumur kira-kira 20 cm dari permukaan tanah.
Saluran Pembuangan Air Limbah
Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur menurut, dibuat
dari tembok yang kedap air dan panjangnya sekurang-kurangnya 10 m.
Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya
pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, tapi air sumur diambil
dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis sumur ini adalah
kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan
kondisi sumur selalu tertutup.
3. Yang dilakukan di pojok oralit : tempat dimana petugas kesehatan melakukan
demonstrasi cara membuat oralit dan larutan gula garam dan memberikan oralit
yang telah dibuat kepada ibu untuk diberikan kepada anaknya sambil diberikan
penyuluhan.
4. Berikut ini adalah klasifikasi ISPA berdasarkan P2 ISPA untuk golongan umur 2
bulan sampai 5 tahun :
PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
PNEUMONIA BERAT : ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding
dada ke dalam.
BUKAN PNEUMONIA : ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa
disertai demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat

Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :

Pneumonia berat ditandai dengan nafas cepat dan tarikan dalam dan kuat
dinding dada bagian bawah
Bukan pneumonia batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan
kuat dinding dada bagian bawah atau napasa cepat
5. Kader ISPA :
Dilatih untuk bisa membedakan kasus pneumonia dari kasus-kasus
bukan pneumonia
Memberikan penjelasan dan komunikasi perihal penyakit batuk pilek
biasa serta penyakit pneumonia kepada ibu-ibu serta perihal tindakan
yang perlu dilakukan oleh ibu yang anaknya menderita penyakit
Memberikan pengobatan sederhana untuk kasus-kasus batuk pilek
Merujuk kasus pneumonia berat ke puskesmas/rumah sakit terdekat
Mencatat kasus yang ditolong dan dirujuk
6. Skrining adalah suatu kegiatan untuk mengidentifikasi suatu penyakit atau
masalah yang secara klinis belum jelas dengan menggunakan suatu tes atau
pemeriksaan tertentu sehingga dapat secara cepat membedakan orang yang
tampak sehat benar-benar sehat atau orang yang tampak sehat sesungguhnya
menderita sakit.
7. Kriteria skrining :
Menurut Mausner dan Bahn (1997), ada 10 kriteria yang harus dipenuhi dalam
program skrining yaitu:

Penyakit atau keadaan yang dicari haruslah merupakan masalah


kesehatan yang penting.
Tersedia obat yang potensial dan disepakati untuk pengobatan penderita
yang ditemukan.
Tersedia fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti dan pengobatan.
Penyakit atau keadaan yang dideteksi harus mempunyai masa laten atau
asimtomatik dini.
Tersedia alat uji skrining yang sesuai.
Uji skrining yang tersedia harus dapat diterima oleh populasi sasaran.
Perjalanan alamiah penyakit atau keadaan yang akan dideteksi harus
benar-benar diketahui.
Harus ada kebijakan yang sudah disepakati dari mereka yang diobati
sebagai penderita.
Biaya skrining secara ekonomis harus seimbang dengan resiko biaya
untuk perawatan medis secara keseluruhan.
Harus dimungkinkan untuk diadakan follow up dan kemungkinan untuk
pencariaan/penemuan penderita secara berkesinambungan.
8. Macam-macam skrining :

Mass Screening (Skrining Masal) :Dilakukan pada seluruh populasi.


Prescriptive Screening (Skrining Preskriptif)
Dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi individu-individu sehat
terhadap suatu penyakit yang dapat dicegah lebih lanjut.
Multiple Screening (Skrining Ganda)
Dilakukan dengan melibatkan penggunaan berbagai uji skrining pada
saat yang bersamaan.
Selective screening
Single screening
Case finding screening
9. Penanggulangan fokus adalah kegiatan pemberantasan nyamuk penular DBD
yang dilaksanakan dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN-
DBD ), Larvasidasi, Penyuluhan dan Penyemprotan ( Fogging ) menggunakan
insektisida yang sesuai.

10. Manfaat TFR : membantu pemerintah menekan jumlah kelahiran dan dapat
membantu memberikan masukkan kepada pemerintah dalam mengambil
kebijakan.

TFR adalah taksiran jumlah anak yang dilahirkan oleh 1000 wanita bila para
wanita tersebut terus menerus hamil pada saat mereka berada pada tingkat
kesuburan menurut usia pada saat sekarang.

ASFR: Banyaknya kelahiran per 1000 wanita pada kelompok usia tertentu antara
15-49 tahun. ASFR merupakan indikator kelahiran yang memperhitungkan
perbedaan fertilitas dari wanita usia subur menurut umurnya. ASFR berguna
untuk pelaksanaan program KB dan peningkatan pelayanan Kesehatan Ibu dan
Anak (KIA).
11. Penanganan penyakit kolera :
Dasar pengobatan kolera yaitu pengobatan bersifat simtimatik, causal dan
penggantian cairan.

Terapi cairan

- Pengobatan utama pada kolera adalah penggantian cairan elektrolit dan


keseimbangan asam basa yang cepat dan adekuat, yaitu dengan pemberian
cairan yang tergantung pada derajat dehidrasinya. Rehidrasi dilaksanakan dua
tahap yaitu : terapi rehidrasi dan maintenance. Penderita dehidrasi berat dengan
shock hipovolemik harus segera diberi cairan pengganti secara intravena. Pada
anak yang berusia lebih muda dapat menerima cairan kurang lebih 30 ml/tetes
selama satu jam pertama, 40 ml/tetes dalam 2 jam berikutnya serta kurang lebih
40 mg/kgBB jam ketiga dan selanjutnya pada anak-anak yang berusia lebih
lanjut dan orang dewasa biasanya diberikan jumlah keseluruhan tersebut dalam
3-4 jam.
- Perlu juga monitoring tanda-tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu, serta
perlu diperhatikan ronkhi paru-paru yang sering akibat edema paru dan untuk
mencegah hidrasi berlebihan.
Pengobatan berdasarkan kausal yaitu pemberian antibiotika untuk membunuh
kuman vibrio. Tetrasiklin dengan dosis 50 mg/kgBB/hari selama 3 hari, atau
Chlorampenicol dengan dosis 50-100 ml/kgBB/hari selama 5 hari atau dapat
diberikan doksisiklin 4mg/kgBB/selama 3 hari.

12. Cara pelaporan kasus kolera :

SP2TP-LB1 Jenis Penyakit adalah Singkatan dari Sistem Pencatatan dan


Pelaporan Terpadu Puskesmas Laporan Bulanan dengan Lembaran Jenis
Penyakit. Laporan SP2TP-LB1-Jenis Penyakit ini adalah salah satu dari 4 jenis
laporan yang ada dalam format SP2TP yaitu:

SP2TP-LB1- Jenis Penyakit yang masih menggunakan kode penyakit


ICD-9.
SP2TP-LB2- Penggunaan Obat
SP2TP-LB3- Program Puskesmas berisi laporan program yang
dilaksanakan oleh Puskesmas misalnya Laporan hasil program
perbaiakan Gizi, Laporan hasil Program KIA-KB, Laporan Program
Imunisasi, Laporan Program P2M dll.
SP2TP-LB4- Kegiatan Pelayanan di Puskesmas yang berisi laporan
kunjungan jumlah kunjungan rawat jalan dan inap puskesmas, laporan
jumlah pasien dengan perawatan kesehatan masyarakat, laporan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut, laporan jumlah kegiatan
penyuluhan, laporan jumlah kegiatan kesehatan lingkungan dan laporan
jumlah pelayanan laboratorium.
13. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk :

Angka kelahiran

Angka kematian

Angka perpindahan penduduk (migrasi)

14. Penyuluhan ASI eksklusif apa saja :


Pengertian pemberian ASI eksklusif
Manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi dan ibu
Kapan dan bagaimana ASI diberikan
Cara menyusui yang benar
Cara menjaga mutu dan jumlah produksi ASI
Cara menyimpan ASI di rumah dan cara memberikan ASI yang
disimpan.

15. Pada posyandu, ada indicator gizi grafik SKDN

SKDN adalah data untuk memantau pertumbuhan balita SKDN sendiri


mempunyai singkatan yaitu sebagai berikut:
S =adalah jumlah balita yang ada diwilayah posyandu,
K =jumlah balita yang terdaftar dan yang memiliki KMS,
D =jumlah balita yang datang ditimbang bulan ini,
N =jumlah balita yang naik berat badanya.
Pencatatan dan pelaporan data SKDN untuk melihat cakupan kegiatan
penimbangan , kesinambungan kegiatan penimbangan posyandu , tingkat
partisipasi masyarakat dalam kegiatan , kecenderungan status gizi , efektifitas
kegiatan

16. Definisi posyandu : wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh
dan untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait.

Sistem posyandu dan jelaskan :

Meja I : Pendaftaran

Meja II : Penimbangan

Meja III : Pengisian KMS

Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS

Meja V : Pelayanan kesehatan berupa:

Imunisasi

Pemberian vitamin A dosis tinggi.


Pembagian pil KB atau kondom.
Pengobatan ringan.
Konsultasi KB.
Petugas pada meja I dan IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan meja V
merupakan meja pelayanan medis.

Macam-macam posyandu berdasarkan tingkat kematangan :


o Posyandu pratama (warna merah)
Posyandu tingkat pratama adalah posyandu yang masih belum mantap,
kegiatannya belum bisa rutin tiap bulan dan kader aktifnya terbatas.
Keadaan ini dinilai gawat sehingga intervensinya adalah pelatihan
kader ulang. Artinya kader yang ada perlu ditambah dan dilakukan
pelatihan dasar lagi.
o Posyandu madya (warna kuning)
Posyandu pada tingkat madya sudah dapat melaksanakan kegiatan lebih
dari 8 kali per tahun dengan rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau
lebih. Akan tetapi cakupan program utamanya (KB, KIA, Gizi, dan
Imunisasi) masih rendah yaitu kurang dari 50%. Ini berarti, kelestarian
posyandu sudah baik tetapi masih rendah cakupannya. Intervensi untuk
posyandu madya ada 2 yaitu :
Pelatihan Toma dengan modul eskalasi posyandu yang sekarang sudah
dilengkapi dengan metoda simulasi.
Penggarapan dengan pendekatan PKMD (SMD dan MMD) untuk
menentukan masalah dan mencari penyelesaiannya, termasuk
menentukan program tambahan yang sesuai dengan situasi dan kondisi
setempat.
o Posyandu purnama (warna hijau)
Posyandu pada tingkat purnama adalah posyandu yang frekuensinya
lebih dari 8 kali per tahun, rata-rata jumlah kader tugas 5 orang atau
lebih, dan cakupan 5 program utamanya (KB, KIA, Gizi dan Imunisasi)
lebih dari 50%. Sudah ada program tambahan, bahkan mungkin sudah
ada Dana Sehat yang masih sederhana. Intervensi pada posyandu di
tingkat ini adalah :
a. Penggarapan dengan pendekatan PKMD untuk mengarahkan
masyarakat menetukan sendiri pengembangan program di posyandu
b. Pelatihan Dana Sehat, agar di desa tersebut dapat tumbuh Dana Sehat
yang kuat dengan cakupan anggota minimal 50% KK atau lebih.
o Posyandu mandiri (warna biru)
Posyandu ini berarti sudah dapat melakukan kegiatan secara teratur,
cakupan 5 program utama sudah bagus, ada program tambahan dan Dana
Sehat telah menjangkau lebih dari 50% KK. Intervensinya adalah
pembinaan Dana Sehat, yaitu diarahkan agar Dana Sehat tersebut
menggunakan prinsip JPKM.
17. Program wajib yang telah standar dilakukan sesuai pengamatan dan
pengalaman penulis, antara lain:

Promosi Kesehatan (Promkes)

o Penyuluhan Kesehatan Masyarakat

o Sosialisasi Program Kesehatan

o Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)

Pencegahan Penyakit Menular (P2M) :

o Surveilens Epidemiologi

o Pelacakan Kasus : TBC, Kusta, DBD, Malaria, Flu Burung, ISPA,


Diare, IMS (Infeksi Menular Seksual), Rabies
Program Pengobatan :

o Rawat Jalan Poli Umum

o Rawat Jalan Poli Gigi

o Unit Rawat Inap : Keperawatan, Kebidanan

o Unit Gawat Darurat (UGD)

o Puskesmas Keliling (Puskel)

Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

o ANC (Antenatal Care) , PNC (Post Natal Care), KB (Keluarga


Berencana),

o Persalinan, Rujukan Bumil Resti, Kemitraan Dukun

Upaya Peningkatan Gizi

o Penimbangan, Pelacakan Gizi Buruk, Penyuluhan Gizi

Kesehatan Lingkungan :

o Pengawasan SPAL (saluran pembuangan air limbah), SAMI-


JAGA (sumber air minum-jamban keluarga), TTU (tempat-
tempat umum), Institusi pemerintah
o Survey Jentik Nyamuk

Pencatatan dan Pelaporan :

o Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas


(SP2TP)

Program Tambahan/Penunjang Puskesmas :Program penunjang ini biasanya


dilaksanakan sebagai kegiatan tambahan, sesuai kemampuan sumber daya
manusia dan material puskesmas dalam melakukan pelayanan

Kesehatan Mata : pelacakan kasus, rujukan

Kesehatan Jiwa : pendataan kasus, rujukan kasus

Kesehatan Lansia (Lanjut Usia) : pemeriksaan, penjaringan

Kesehatan Reproduksi Remaja : penyuluhan, konseling

Kesehatan Sekolah : pembinaan sekolah sehat, pelatihan dokter kecil.

Kesehatan Olahraga : senam kesegaran jasmani

1. Puskesmas Pembantu (Pustu) adalah unit pelayanan kesehatan yang sederhana


dan berfungsi menunjang dan membantu memperluas jangkauan Puskesmas
dengan melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Puskesmas dalam ruang
lingkup wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang
disesuaikan dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia.
Apabila dilihat dari fungsinya Pustu memiliki tiga fungsi yaitu :
Pusat penggerak pembanguanan berwawasan kesehatan
Puskesmas selalu berupaya menggerakkan dan memantau
penyelenggaraan pembangunan lintas sector termasuk oleh masyarakat
dan dunia usaha di wilayah kerjanya, sehingga berwawasan serta
mendukung pembangunan kesehatan. Di samping itu puskesmas aktif
memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan
setiap program pembangunan di wilayah kerjanya. Khusus untuk
pembangunan kesehatan, upaya yang dilakukan puskesmas adalah
mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Pusat pemberdayaan keluarga dan masyarakat
Puskesmas selalu berupaya agar perorangan terutama pemuka
masyarakat, keluarga dan masyarakat termasuk dunia usaha memiliki
kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan
masrakat untuk hidup sehat, berperan aktif adalah memperjuangkan
kepentingan kesehatan termasuk sumber pembiayaannya, serta ikut
menetapkan, menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program
kesehatan. Pemberdayaan perorangan, keluarga, dan masyarakat ini
diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi dan situasi, khusunya
social budaya masyarakat setempat.
Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.
Pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menjadi tanggungjawab
puskesmas meliputi :
o Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan perorangan adalah pelayanan yang bersifat
pribadi (private goods) dengan tujuan utama menyembuhkan
penyakit dan pemulihan kesehtan perorangan, tanpa
mengabaikan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Pelayanan perorangan tersebut adalah rawat jalan dan untuk
puskesmas tertentu ditambah dengan rawat inap.
o Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat adalah pelayanan yang bersifat
public (public goods) dengan tujuan utama memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit tanpa
mengabaikan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan.
Pelayanan kesehatan masyarakat tersebut antara lain adalah
promosi kesehatan, pemberatasan penyakit, penyehatan
lingkungan, perbaikan gizi, peningkatan kesehatan keluarga,
keluarga berencana, kesehatan jiwa masyarakat serta berbagai
program kesehatan masyarakat lainnya.

2. Fogging focus : pemberantasan nyamuk DBD dengan cara pengasapan terfokus


pada daerah tempat ditemukannya tersangka/penderita DBD.
Fogging missal : kegiatan pengasapan secara serentak dan menyeluruh pada saat
terjadi KLB DBD
3. WHO menerapkan batasan bahwa dokter masa depan wajib memenuhi kriteria
Lima kualitas seorang dokter , yaitu 'five-star' :
Care provider
Dalam memberikan pelayanan medis, seorang dokter hendaknya:
o Memperlakukan pasien secara holistic
o memandang Individu sebagai bagian integral dari keluarga dan
komunitas.
o Memberikan pelayanan yang bermutu, menyeluruh, berkelanjutan
dan manusiawi.
o Dilandasi hubungan jangka panjang dan saling percaya.
Decision Maker.
Seorang dokter diharapkan memiliki:
o Kemampuan memilih teknologi
o Penerapan teknologi penunjang secara etik.
o Cost Effectiveness
Communicator.
Seorang dokter, dimanapun ia berada dan bertugas, hendaknya:
o Mampu mempromosikan Gaya Hidup Sehat.
o Mampu memberikan penjelasan dan edukasi yang efektif.
o Mampu memberdayakan individu dan kelompok untuk dapat
tetap sehat.
Community Leader.
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seorang dokter
hendaknya:
o Dapat menempatkan dirinya sehingga mendapatkan kepercayaan
masyarakat.
o Mampu menemukan kebutuhan kesehatan bersama individu serta
masyarakat.
o Mampu melaksanakan program sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
Manajer.
Dalam hal manajerial, seorang dokter hendaknya:
o Mampu bekerja sama secara harmonis dengan individu dan
organisasi di luar dan di dalam lingkup pelayanan kesehatan,
sehingga dapat memenuhi kebutuhan pasien dan komunitas.
o Mampu memanfaatkan data-data kesehatan secara tepat dan
berhasil guna.