Anda di halaman 1dari 33

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT INTRA OPERATIF

Selain sebagai kepala advokat pasien dalam kamar operasi yang menjamin kelancaran jalannya
operasi dan menjamin keselamatan pasien selama tindakan pembedahan. Secara umum fungsi
perawat di dalam kamar operasi seringkali dijelaskan dalam hubungan aktivitas-aktivitas sirkulasi
dan scrub (instrumentator).
Deskripsi peran dan tanggung jawab perawat pada fase intra operatif
a) Perawat sirkulasi (circulation nurse)
Mempersiapkan dan mengatur ruang operasi
melindungi keselamatan dan kebutuhan pasien dengan memantau aktivitas anggota tim bedah dan
memeriksa kondisi di dalam ruang operasi.
Tanggung jawab utamanya meliputi memastikan kebersihan, suhu yang sesuai, kelembapan,
pencahayaan, menjaga peralatan tetap berfungsi dan ketersediaan berbagai material yang
dibutuhkan sebelum, selama dan sesudah operasi.
memantau praktik asepsis untuk menghindari pelanggaran teknik asepsis sambil mengkoordinasi
perpindahan anggota tim yang berhubungan (tenaga medis, rontgen dan petugas laboratorium).
Perawat sirkuler juga memantau kondisi pasien selama prosedur operasi untuk menjamin
keselamatan pasien.

b) Scrub nurse (instrumentator)


Peran dan fungsi perawat sebagai scrub nurse :
melakukan desinfeksi lapangan pembedahan dan drapping
mengatur meja steril, menyiapkan alat jahit, diatermi dan peralatan khusus yang dibutuhkan untuk
pembedahan.
membantu dokter bedah selama prosedur pembedahan dengan melakukan tindakan-tindakan yang
diperlukan seperti mengantisipasi instrumen yang dibutuhkan, spon, kassa, drainage dan peralatan
lain
serta terus mengawasi kondisi pasien ketika pasien dibawah pengaruh anastesi. Saat luka ditutup
perawat harus mengecek semua peralatan dan material untuk memastikan bahwa semua jarum,
kassa dan instrumen sudah dihitung lengkap.
Kedua fungsi tersebut membutuhkan pemahaman, pengetahuan dan ketrampilan perawat
tentang anatomi, perawatan jaringan dan prinsip asepsis, mengerti tentang tujuan pembedahan,
pemahaman dan kemampuan untuk mengantisipasi kebutuhan-kebutuhan dan untuk bekerja
sebagai anggota tim yang terampil dan kemampuan untuk menangani segala situasi kedaruratan di
ruang operasi.
c) Perawat anestesi
Perawat anestesi adalah perawat yang berlatih di bidang anestesi dan telah menyelesaikan
program D-III anestesi atau yang sederajat.
Perawat mahir atau terlatih di bidang anestesi, yaitu perawat yang telah mendapat pendidikan
sekurang-kurangnya selama 6 (enam) bulan atau perawat yang telat bekerja pada layanan anestesi
di rumah sakit minimal 1 tahun.
Perawat yang berpengalaman di bidang perawatan atau terapi intensif yaitu perawat yang telah
mendapatkan pelatihan dan pendidikan sekurang-kurangnyaselama 6 (enam) bulan atau perawat
yang telah bekerja pada pelayanan di ruang perawatan intensif (ICU) minimal 1 (satu) tahun.

d) Aktivitas umum keperawatan pada fase inta operatif


Aktivitas keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4 hal,yaitu :
Safety Management
Monitoring Fisiologis
Monitoring Psikologis
Pengaturan dan koordinasi Nursing Care

1. pengkajian

a. Identifikasi pasien
b. Validasi data yang dibutuhkan dengan pasien
c. Telaah cacatan pasien terhadap adanya :
Informed consent yang benar dengan tanda tangan pasien
Kelengkapan catatan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik
Hasil pemeriksaan diagnostik
Kelengkapan riwayat dan pengkajian masyarakat
Checklist pra operasi

Lengkapi pengkajian keperawatan pra operasi segera, meliputi : status fisiologi (misalnya tingkat sakit,
tingkat kesadaran), status psikososial (misalnya ekspresi kekhawatiran, tingkat ansietas, masalah
komunikasi verbal, mekanisme koping) dan status fisik (misalnya tempat operasi, kondisi kulit dan
efektifitas persiapan, pencukuran dan sendi tidak gerak).

2. Diagnosa keperawatan yang biasanya sering muncul pada tahap intra operasi adalah :

a. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (luka insisi)


b. Resiko cedera berhubungan dengan kondisi lingkungan eksternal misal struktur lingkungan,
pemajanan peralatan, instrumensasi dan penggunaan obat-obat anestesi
3. intervensi dan implementasi keperawatan dapat dilakukan antara lain ;

a. Memberikan dukungan emosional

Rasional : Kesejahteraan emosional pasien harus dijaga selama operasi. Sebelum di anestesi perawat
bertanggung jawab untuk membuat pasien nyaman dan tidak cemas. Bila pasien sadar atau bangun
selama prosedur pembedahan,perawat bertugas menjelaskan prosedur tindakan yang dilakukan,
memberikan dukungan psikologis dan meyakinkan pasien. Ketika pasien sadar dari pengaruh anestesi,
penjelasan dan pendidikan kesehatan perlu dilakukan. Hal ini dilakukan terhadap semua pasien,
terutama pada operasi dengan sistem anestesi lokal dan regional. Pemantauan kondisi pasien pasien
akan mempengaruhi kondisi fisik dan kerja sama pasien.

b. Mengatur posisi yang sesuai

Rasional :Pengaturan posisi yang sesuai diperlukan untuk memudahkan pemedahan dan juga untuk
menjamin keamanan fisiologi pasien.

Posisi yang diberikan pada saat pembedahan disesuaikan dengan kondisi pasien.

c. Mempertahankan keadaan asepsis dalam pembedahan

Rasional : Perawat bertanggung jawab untuk mempertahankan keadaan asepsisi selama operasi
berlangsung. Perawat bertangung jawab terhadap kesterila alat dan bahan yang diperlukan dan juga
bertanggung jawab terhadap seluruh anggota tim operasi dalam menerapkan prinsip steril. Jika sesuatu
yang dianggap tidak seril menyentuh daerah yang steril, maka instrumen yang terkontaminasi, maka
instrumen yang terkontaminasi juga harus diganti.

d. Menjaga kestabilan temperatur pasien

Rasional : Temperatur di kamar operasi dipertahankan pada suhu standar kamar operasi dan
kelembabannya diatur untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Pasien biasanya merasakan
kedinginan dikamar operasi jika tidak di berikan selimut yang sesuai. Kehilangan panas pada pasiien
berasal dari kulit dan daerah yang terbuka untuk dilakukan operasi. Ketuka jaringan tidak tertutup kulit
akan terekspose oleh udara, sehingga akan terjasi kehilangan panas yang berlebihan. Pasien harus dijaga
sehangat mungkin untuk meminimalkan kehilangan panas tanpa menyebabkna vasodilatasi yang justru
menyebabkan bertambahnya pendarahan.

e. Memonitor terjadinya hipertermi malignan

Rasional : Diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi berupa kerusakan sistem saraf pusat atau
bahkan kematian. Monitoring secara kontinyu diperlukan untuk menentukan tindakan pencegahan dan
penanganan sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan komplikasi.
f. Membantu penutupan luka operasi

Rasional : Penutupan luka dilakukan lapis demi lapis dengan menggunakan benang yang sesuai dengan
jenis jaringan. Penutupan kulit menggunakan benang bedadh untuk mendekatkan tepi luka sampai
dengan terjadainya penyembuhan luka operasi. Luka yang terkontaminasi dapat terbuka seluruhnya
atau sebagian saja. Ahli bedah memilih metode dan tipe jahitan atau penutupan luka berdasarkan
daerah operasi, ukuran dan dalamnya luka operasi serta usia dan kondisi pasien. Setelah luka operasi
dijahit kemuadian dibalut dengan kassa steril untuk mencegah kontaminasi luka, mengabsorpsi
drainase, dan membantu penutupan luka insisi. Jika penyembuhan luka terjadi tanpa komplikasi, jahitan
biasanya bisa dibuka setelah 7 10 hari tergantung lukanya.

g. Membantu drainase

Ditempatkan pada luka operasi untuk mengalirkan darah, serum, debris dari tempat operasi yang bila
tidak dikeluarkan dapat memperlambat penyembuhan luka dan menyebabkan terjadinya infeksi. Tipe
drain bedah dipilih berdasarkan ukuran luka. Drain biasanya dicabut bila produk drain suda berkurang
dalam jumlah yang signifikan. Dan bentuk produk sudah serius, tidak dalam bentuk darah lagi.

h. Memindahkan pasien dari ruang operasi ke ruang pemulihan atau ruang ICU

Sesudah operasi selesai dijalankan,tom operasi akan memberikan pasien pakaian yang bersih, kemudian
memindahakan pasien dari meja operasi ke brankard. Selama proses pemindahan ini tim operasi harus
menghindari membawa pasien tanpa pakaian, karena mengganggu privacy bagi pasien dan salah satu
predisposisi terjasinya kehilangan panas, infeksi dan shock, serta mencegah luka operasi terkontaminasi
serta kenyamanan pasien. Hindari peminadhan pasien secara tiba-tiba, keran merupakn predisposisi
terjadinya hipotensi. Pengaman tempat tidur (side rail) harus selalu dipasang untuk keamanan pasien,
karena pasien biasanya akan mengalami periode gelisah saat dipindahkan dari ruang operasi.

D. Post Operasi

Proses keperawatan pascaoperatif pada praktiknya akan dilaksanakan secara berkelanjutan baik
di ruang pemulihan, ruang intensif, dan ruang rawat inap bedah. Fase pascaoperatif adalah suatu
kondisi dimana pasien sudah masuk di ruang pulih sadar sampai pasien dalam kondisi sadar betul
untuk dibawa keruang rawat inap.

Ruang pulih sadar (recovery room) atau unit perawatan pasca anastesi (PACU) merupakan suatu
ruangan untuk pemulihan psiologis pasien pascaoperatif. PACU biasanya terletak berdekatan
dengan ruang operasi. Pasien yang masih di bawah pengaruh anestesi atau yang pulih dari
anastesi di tempatkan di unit ini untuk ke mudahan akses ke :
1). Perawat yang di siapkan dalam merawat pasien pascaoperatif segera.
2). Ahli anastesi dan ahli bedah.
3). Alat pemantau dan peralatan khusus, medikasi, dan penggantian cairan.
Dalam lingkungan ini,pasien di berikan perawatan spesialis yang di sediakan oleh mereka yang
sangat berkualifikasi untuk memberikannya

Pengkajian di ruang pemulihan berfokus pada keselamatan jiwa pasien. Fokus pengkajian meliputi : pengkajian
resprasi, sirkulasi, status neurologi, suhu tubuh, kondisi luka dan drainase, nyeri, gastrointestinal, genitourinary, cairan
dan elektrolit, psikologi dan kemanan peralatan.

pengkajian Implikasi dan hasil pengkajian


Pengkajian awal Pengkajian awal pascaoperatif adalah sebagai berikut:
Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan
Usia dan kondisi umum pasien, kepatenan jalan nafas, tanda-tanda
vital
Anestesi dan medikasi lain yang digunakan
(misalnya:narkotik,relaksan otot,antibiotic).
Segala masalah yang terjadi dalam ruang operasi yang mungkin
mempengaruhi perawatan pascaoperatif (misalnya: hemoragi
berlebihan, syok,dan henti jantung).
Patologi yang dihadapi (jika malignansi, apakah pasien atau keluarga
sudah diberitahukan).
Cairan yang diberikan, kehilangan darah, dan penggantian.
Segala selang, drain, kateter, atau alat bantu pendukung lainnya.
Informasi spesifik tentang siapa ahli bedah atau ahli anestesi yang
akan diberitahu.
System pernafasan Control pernafasan
Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan depresi pernafasan .
sehingga, perawat perlu mewaspadai pernafasan yang dangkal dan
lambat serta batuk yang lemah.
Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman ventilasi pernafasan,
kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi nafas, dan warna
membrane mukosa. Apabila pernafasan dangkal, letakkan tangan
perawat di atas muka atau mulut pasien shingga perawat dapat
merasakan udara yang keluar.
Kepatenan jalan nafas
Jalan nafas oral atau oral airway masih dipasang untuk
mempertahankan kepatenan jalan nafas sampai tercapai pernafasan
yang nyaman dengan kecepatan normal. Apabila fungsi pernafasan
sudah kembali normal . maka perawat mengajarkan pasien cara
membersihkan jalan nafas dengan cara meludah. Kemampuan
melakukan hal tersebut menandakan kembalinya reflex muntah
normal.
Salah satu kekhawatiran terbesar perawat adalah obstruksi jalan
nafas akibat aspirasi muntah, akumulasi sekresi, mukosa di faring
atau spasme faring.

Status sirkulasi Respons TTV


Pasien beresiko mengalami komplikasi kardiovaskular akibat
kehilangan darah secara actual atau resiko dari tempat pembedahan,
efek samping anestesi, ketidakseimbangan elektrolit, dan depresi
mekanisme regulasi sirkulasi normal.
Pengkajian kecepatan denyut dan irama jantung yang teliti serta
pengkajian tekanan darah menunjukkan status kardiovaskular pasien.
Perawat membandingkan TTV praoperatif dengan pascaoperatif .
dokter harus diberitahu jika tekanan darah pasien terus menurun
dengan cepat pada setiap pemeriksaan atau jika kecepatan denyut
jantung menjadi semakin tidak teratur.
Perawat mengkaji perfusi sirkulasi dengan melihat warna dasar kuku
dan mukosa.
Respons perdarahan pascaoperatif
Masalah sirkulasi yang sering terjadi adalah perdarahan.
Kehilangan darah terjadi secara eksternal melalui drain atau insisi,
atau secara internal pada luka bedah.
Perdarahan dapat mengakibatkan turunnya tekanan darah,
meningkatnya kecepatan denyut jantung dan pernafasan, denyut nadi
lemah, kulit dingin, lembab, pucat, serta gelisah.
Apabila perdarahan terjadi secara eksternal, maka perawat
memperhatikan adanya peningkatan drainase yang mengandung
darah pada balutan atau melalui drain. Apabila balutan basah , maka
darah mengalir kesamping pasien dan berkumpul di bawah seprai
tempat tidur. Perawat yang waspada selalu memeriksa adanya
drainase di bawah tubuh pasien, apabila perdarahan terjadi secara
internal , maka tempat pembedahan menjadi bengkak dan kencang.
Respons cedera sirkulasi
Pasien yang menjalani bedah pelvis atau pasien yang diposisikan
litotomi selama pembedahan berlansung beresiko mengalami
thrombosis vena provunda. Dua komplikasi serius dari TVP adalah
embolisme pulmonary, dan sindrom pascafibilitis.
Respons thrombosis vena profunda (TVP) secara patofisiologi
dimulai dengan adanya inflamasi ringan sampai berat dari vena yang
terjadi dalam kaitannya dengan pembekuan darah. Komplikasi dapat
terjadi dari sejumlah penyebab , termasuk cedera pada vena yang
disebabkan oleh pengikat yang terlalu ketat atau penahan tungkai
pada waktu operasi, lebih umum lagi adalah melambatnya aliran
darah dalam ekstremitas akibat metabolism yang melambat dan
depresi sirkulasi setelah pembedahan. kemungkinan juga beberapa
factor ini berinteraksi untuk menghasilkan thrombosis, tungkai kiri
lebih sering terkena disbanding yang kanan.
Control suhu Lingkungan ruang operasi dan ruang pulih sadar sangat dingin,
Penurunan tingkat fungsi tubuh pasien menyebabkan turunnya
metabolism dan menurunkan suhu tubuh, apabila pasien mulai sadar,
mereka mungkin akan mengeluh kedinginan dan tidak nyaman.
Perawat mengukur suhu tubuh pasien dan memberikan selimut
hangat. Apabila suhu berada pada < c maka penghangat eksternal
dapat digunakan . meningkatnya suhu tubuh menyebabkan
peningkatan metabolism, sirkulasi, serta pernafasan pasien.
Menggigil mungkin bukan merupakan tanda hipotermia, tetapi hanya
efek samping dari obat anestesi tertentu, menggigil dapat dikurangi
dengan memberikan Demerol dalam jumlah kecil.
Pada hipertermia maligna tertentu, mungkin terjadi komplikasi
akibat pemberian anestesi yang dapat mengancam kehidupan,
hipertermia meligna menyebabkan takipnea, takikardia, tekanan
darah tidak stabil, dan kaku otot.

Status neurologi Obat-obatan , perubahan elektrolit dan metabolism, nyeri dan factor
emosional dapat mempengaruhi tingkat kesadaran bersamaan dengan
hilangnya efek anestesi, maka reflex , kekuatan otot, dan tingkat
orientasi pasien akan kembali normal.
Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien dengan cara memanggil
pasien dengan suara sedang.
Perawat memperhatikan apakah pasien merespons dengan tepat atau
terlihat bingung dan disorientasi.
Apabila pasien tetap tidur atau tidak berespons , maka perawat
mencoba mengkaji pasien dengan cara menyentuh atau
menggerakkan tubuh pasien dengan lembut.
Perawat dapat memeriksa reflex pupil, reflex muntah, dan mengkaji
genggaman tangan serta pergerakan ekstermitas pasien.
Kaji tingkat respons sensibilitas dengan membandingkan peta
dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi taktil. Pengkajian
dermatom (segmen area kulit yang dipengaruhi segmen medulla
spinalis) saraf spinalis dilengkapi saat kedatangan, selama periode
pemulihan di ruang pulih sadar dan saat pasien pindah dari ruang
pulih sadar. Biasanya perawat mengkaji level dermatom dengan cara
meyentuh pasien secara bilateral dan mendokumentasikan area tubuh
yang sentuhannya dapat dirasakan pasien, sentuhan dapat dilakukan
dengan cara menekan tangan atau mencubit kulit pasien dengan
lembut.
Pengkajian orientasi pada lingkungan ruang pulih sadar sangat
penting dalam mempertahankan kesadaran pasien.perawat
mengorientasikan kembali pasien. Menjelaskan pembedahannya
sudah selesai, dan memberi gambaran tentang prosedur dan tindakan
keperawtan yang dilakukan di ruang pemulihan. Apabila pasien
mempunyai persiapan yang baik sebelum pembedahan, maka
kecemasannya akan lebih rendah pada saat perawat di ruang pulih
sadar mulai memberi perawatan.

Respons nyeri Saat pasien sadar dari anestesi umum, rasa nyeri menjadi sangat
terasa. Nyeri mulai terasa sebelum kesadaran pasien kembali penuh.
Nyeri akut akibat insisi menyebabkan pasien gelisah dan
menyebabkan tanda-tanda vital berubah. Apabila pasien merasa
nyeri, mereka sulit melakukan batuk efektif dan nafas dalam. Pasien
yang mendapat anestesi regional dan local biasanya tidak mengalami
nyeri karena area insisi masih berada dibawah pengaruh anestesi.
Pengkajian rasa tidak nyaman pasien dan evaluasi terapi untuk
mengilangkan rasa nyeri merupakan fungsi keperawatan yang
penting. Skala nyeri merupakan metode efektif bagi perawat untuk
mengkaji nyeri pascaoperatif mengevaluasi respons pasien terhadap
pemberian analgesic, dan mendokumentasikan beratnya nyeri secara
objektif . pengkajian nyeri praoperatif digunakan sebagai dasar bagi
perawat untuk mengevaluasi efektifitas intervensi selama masa
pemulihan
Genitourinari Dalam waktu 6-8 jam setelah anestesi , pasien akan mendapatkan
control fungsi berkemih secara volunter, bergantung pada jenis
pembedahan
Pasien perlu dibantu berkemih jika pasien tidak dapat berkemih
dalam waktu 8 jam. Karena kandung kemih yang penuh dapat
menyebabkan nyeri dan sering menyebabkan kegelisahan selama
pemulihan, maka pemasangan kateter mungkin diperlukan.
Apabila pasien telah terpasang kateter tetap, maka urine harus
mengalir sedikitnya 2 ml/kg/jam pada dewasa dan 1 ml/kg/jam pada
anak-anak.
Perawat mengobservasi warna dan bau urine pasien.
Pembedahan yang melibatkan saluran perkemihan , biasanya akan
menyebabkan urine mengandung darah kurang lebih selama 12-24
jam setelah pembedahan, bergantung pada jenis pembedahan.
System gastrointestinal Anestesi memperlambat motilitas gastrointestinal dan menyebabkan
mual. Normalnya selama tahap pemulihan setelah pembedahan,
bising usus terdengar lemah atau hilang ke tempat kuadran.
Inspeksi abdomen menentukan adanya distensi yang mungkin terjadi
akibat akumulasi gas.
Pada pasien yang baru menjalani bedah abdomen, distensi terjadi jika
pasien mengalami pendarahan internal. Distensi juga terjadi pada
pasien yang mengalami ileac paralitik akibat pembedahan bagian
usus. Paralis usus dengan distensi dan gejala obstruksi akut ini
mungkin juga berhubungan dengan pemberian obat-obatan
antikolinergik.
Karena pengosongan lmbung berlansung lambat akibat pengaruh
anestesi , maka isi lambung yang terakumulasi tidak bisa keluar dan
dapat menimbulkan mual dan muntah. Normalnya pasien tidak boleh
minum saar di ruang pulih sadar Karena lambatnya pergerakan usus
beresiko menyebabkan mual dan muntah karena pasien masih berada
dibawah pengaruh anestesi.
Keseimbangan cairan dan Karena pasien bedah beresiko mengalami ketidakseimbangan cairan,
elektrolit dan elektrolit, maka perawat mengkaji status hidrasi dan memonitor
fungsi jantung dan neurologi untuk melihat adanya tanda-tanda
perubahan elektrolit, tanggung jawab yang penting
adalah mempertahankan kepatenan infuse IV. Satu-satunya sumber
asupan cairan untuk pasien segera setelah pembedahan selesai adalah
melalui infuse. Perawat menginspeksi tempat pemasangan kateter
IV untuk memastikan bahwa kateter berada pada posisi yang tepat
dalam vena sehingga cairan dapat mengalir dengan lancer .
dokter memberikan program tentang kecepatan pemberian setiap
cairan infuse . untuk memastikan pemasukan cairan yang adekuat.
Perawat menjaga jangan sampai infuse cairan berjalan lambat.
Setelah pembedahan,, pasien mungkin juga menerima produk darah
yang jumlahnya bergantung pada banyaknya kehilangan darah selama
pembedahan berlansung.
Catatan intake dan output cairan yang akurat membantu proses
pengkajian fungsi ginjal dan sirkulasi . perawat mengukur semua
sumber pengeluaran, termasuk urine, drainase lambung, drainase
luka, serta mencatat adanya kehilangan cairan yang tidak dapat
dirasakan akibat diaphoresis, mucus yang diisap dari jalan nafas tidak
termasuk perhitungan output cairan.
Di ruang pulih sadar, perawat mengkaji kondisi kulit pasien, melihat
Integritas kulit, kondisi luka,
dan drainase adanya kemerahan, ptekie, abrasi, atau luka bakar,
Kemerahan dapat menunjukkan adanya sensitifitas terhadap obat
atau alergi.
Abrasi atau ptekie dapat terjadi karena posisi yang kurang tepat atau
pengikatan yang menyebabkan cedera pada lapisan kulit.
Luka bakar dapat menunjukkan bahwa bantalan arde kauter listrik
tidak terpasang dengan benar pada kulit pasien, luka bakar atau cedera
serius pada kulit harus didokumentasikan sebagai laporan kecelakaan
Setelah pembedahan, sebagian besar luka bedah ditutup dengan
balutan untuk melindungi tempat luka dan mengumpulkan drainase.
Perawat mengobservasi, jumlah,wrna, bau dan konsistensi drainase
yang terdapat pada balutan.
Perawat memperkirakan jumlah drainase, dengan cara mencatat
jumlah kasa yang basah.
Tidak optimalnya pengaturan posisi bedah akan memicu terjadinya
thrombosis vena ekstermitas bawah, kram otot ekstermitas bawah,
parastesia ekstermitas bawah, distensi otot abdomen, cedera pleksus
brakialis, cedera tekan pada proesus spinalis vertebra torakalis,
olekranon, scapula, region sacrum, dan kalkaneus.

2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi


Berdasarkan pada data pengkajian, diagnosis keperawatan pascaoperatif dapat mencakup beberapa
diagnosis berikut:
1. Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kondisi pernafasan efek
sekunder anestesi
2. Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan nafas(lidah),
penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi, efek depresan dari medikasi
dan agen anestesi.
3. Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi normal,
perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia, pengumpulan darah perifer, dan
vasokontriksi.
4. Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan neuromuscular
pascabedah.
5. Resiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena provunda). Berhubungan dengan cedera
vascular, pembentukan thrombus pada ekstremitas, efek sekunder kompresi posisi bedah.
6. Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama periode
intraoperatif
7. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi, dan
penurunan masukan cair.
8. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan efek depresan dari anestesi, penurunan intoleransi
aktifitas, dan pembatasan aktivitas yang diresepkan.
9. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tempat insisi bedah dan drainase.
10. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan kerentanan terhadap invasi bakteri.
11. Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan dalam gaya
hidup, dan perubahan dalam konsep diri.
12. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh, kehilangan fungsi dan
struktur organ pasca bedah.
resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control
pernafasan efek sekunder anestesi.
Tujuan ; mengefektifkan jalan nafas, mempertahankan ventilasi pulmonal, dan mencegah
hipoksemia (penurunan oksigen dalam dara) dan hiperkapnea (kelebihan karbondioksida
dalam darah)
Criteria evaluasi :
Frekuensi pernafasan dalam batas normal (12-20x/menit)
Pasien tidak menggunakan otot bantu nafas
Tidak terdengar bunyi nafas tambahan
Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi
Intervensi Rasional
Atur rempat pasien dengan didekatkan pada Pasien biasanya masih mendapat okigenisasi
akses oksigen dan suction pemeliharaan sampai sadar penuh
Kaji dan observasi dalan nafas Deteksi awal untuk interpretasi selanjutnya
Salah satu cara untuk mengetahui apakah
pasien bernafas atau tidak adalah dengan
menempatkan telapak tangan di atas hidung
dan mulut pasien untuk merasakan hembusan
nafas. Gerakan toraks dan diafragma tidak
selalu menandakan pasien bernafas.

Pertahankan kepatenan jalan nafas Jalan nafas oral atau oral airway tetap
terpasang untuk kepatenan jalan nafas
sampai tercapai pernafasan yang nyaman
dengan kecepatan normal.apabila fungsi
pernafasan sudah kembali normal, bantu
pasien membersihkan jalan nafas dengan
cara meludah. Kemampuan melakukan hal
tersebut menandakan kembalinya reflex
muntah normal.
Atur posisi kepala untuk mempertahankan Tindakan terhadap obstruksi hipofariangus
jalan nafas termasuk mendongakkan kepala ke belakang
dan mendorong ke depan pada sudut rahang
bawah, seperti jika mendorong gigi bawah di
depan gigi atas.
Beri oksigen 3 liter/menit Pemenuhan oksigen dapat membantu
meningkatkan paO2 dicairan otak yang akan
mempengaruhi pengaturan pernafasan.
Bersihkan secret pada jalan nafas Kesulitan pernafasan dapat terjadi akibat
sekresi lendir yang berlebihan.membalikkan
pasien dari satu sisi ke sisi lainya
memungkinkan cairan yang terkumpul untuk
keluar dari sisi mulut. Jika gigi pasien
mengatup, mulut dapat dibuka secara manual
dan berhati-hati dengan spatel lidah yang
dibungkus kasa.
Jika terjadi muntah, pasien dibalikkan miring
dan vomitus dikumpulkann dalam basin
emesis. Wajah diusap dengan kasa atau
kertas tisu . kemudian sifat serta jumlah
muntah dicatat.
Mucus atau muntah yang menyambut faring
atau trakea dihisap dengan ujung penghisnap
faringeal atau kateter nasal yang dimasukkan
ke dalam nasofaring atau orofaring.
Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan control kepatenan jalan
napas (lidah), penurunan control batuk efektif dan muntah efek sekunder anestesi,
efek depresan dari medikasi dan agens anestesi.
Tujuan: Pola napas kembali efektif sesuai dengan berkurangnya efek anestesi umum dan
pasien mampu melakukan laatihan pernapasan pascabedah.
Kreteria evaluasi:
Frekuensi peranapasan dalam batas normal (12-20 x/menit)
Pasien tidaka menggunakan otot bantu napas.
Saturasi oksigen 100%
Oral airway sudah bisa dilepas saat pasien keluar ruang pemulihan.
Intrevensi Rasional
Kaji dan monitor control pernapasan Obat anestesi tertentu dapat menyebabkan
depresi pernapasan. Oleh karena itu, perawat
harus mewaspadai pernapasan yang dangkal
dan lambat serta batuk yang lemah.
Monitor frekuensi, irama, kedalaman Deteksi awal adanya perubahan terhadap
ventilasi pernapasan, kesimetrisan gerakan control pola pernapasan dari medulla
dinding dada, bunyi napas, dan warna oblongata untuk intervensi selanjutnya.
membrane mukosa.
Pastikan fungsi pernapasan sudah optimal. Tindakan evaluasi untuk menentukan
dimulainya latihan pernapasan sesuai yang
diajarkan pada saat praoperatif.
Instruksikan pasien untuk napas dalam. Meningkatkan ekspansi paru. Untuk
memperbesar ekspasnsi dada dan pertukaran
gas. Sebagai contoh, meminta pasien untuk
menguap atau untuk melakukan inspirasi
maksimal.
Instruksikan untuk melakukan batuk efektif. Batuk juga didorong untuk melonggarkan
sumbatan mucus. Pembebatan dengan
cermat pada abdomen atau insisi toraks
membantu pasien mengatasi ketakutannya
bahwa eksresi dari batuk dapat menyebabkan
insisi bedah terbuka.

Penurunan perfusi perifer berhubungan dengan depresi mekanisme regulasi sirkulasi


normal, perdarahan pascaoperatif, penurunan curah jantung, hipovolemia,
pengumpulan darah perifer, dan vasokontriksi.
Tujuan: Dalam waktu 15 menit pascabedah perfusi perifer menjadai optimal.
Kriteria evaluasi:
Denyut nadi perifer teraba.
Akral hangat
Pengisian kapiler < 3 detik
Tidak terlihat adanya sianosis sentaral atau perifer.
TTV dalam batas normal.
Kulit perifer tidak pucat.
Output urine 50 ml/jam.
Intervensi Rasional
Monitor tandaa dan gejala penurunan perfusi Pasien dipantau terhadapa segala tanda dan
jaringan. gejala yang menandakan menurunnya
perfusi jaringan, yaitu: penurunan tekanan
darah; satursi O2yang tidka adekuat;
pernapasan cepat atau sulit; peningkatan
frekuensi nadi > 100 x/menit; gelisah;
respons melambat; kulit dingin, kusam, dan
sianosis; denyut perifer menurun atau tak
teraba; output urine kurang dari 30 ml/jam.
Salah satu dari tanda dan gejala ini harus
dilaporkan.
Beri intervensi sesuai dengan penyebab Tindakan dilakukan untuk mempertahankan
penurunan perfusi. perfusi jaringan yang adekuat, tergantung
pad penyebab tidak adekuatnya perfusi
jaringan. Tindakan yang dilakukan dapat
mencakup penggantian cairan, terapi
komponen darah, medikasi untuk
mendukung atau memperbaiki fungsi
jantung (misalnya: vasodilator koroner,
antidisritmia, dan agen inotropik), dan
pemberian oksigen.
Respons pasien terhadap tindakan ini
dipantau dan didokumentasikan. Selain itu,
suhu ruangan dijaga agar nyama, kemudian
pasien diberi pakaian yang mencukupi dan
slimut untuk mencegah menggigil yang
menyebabkan vasokontriksi. Efek daraia
terapi cairan dan komponen darah dipantau.
Lakukan percepatan mobilisasi aktivitas. Aktivitas sepertai latihan tungkai dilakukan
untuk menstimulasi sirkulasi dan pasien
didorong untuk berbalik dan mengubah
posisi dengan perlahan dan untuk
menghindari posisi yang megganggu arus
bali vena.

Risiko terhadap cedera vascular (thrombosis vena profunda/TVP) berhubungan


dengan cedera vascular, pembentukan thrombus pada ekstremitas, efek sekunder
kompresi posisi bedah.
Tujuan: Dalam Waktu 1 X 24 Jam Tidak Terjadi TVP.
Kriteria evaluasi: Tidak terdapat tanda-tanda Hormans.
Intervensi Rasional
Monitor tanda dan gejala thrombosis vena Gejala pertama TVP bisa berupa nyeri atau
profunda (TVP). keram pada kaki seperti yang ditunjukkan
oleh tanda Homan.
Lakukan latihan tungkai Upaya yang diarahkan pada pencegahan
pembentukan thrombus temasuk tindakan
seperti latian tungkai yang dapat diajarkan
sebelum pembedahan.
Hindari posisi kaki yang menggantung. Duduk di tepi tempat tidur dan kaki
menggantung dapat membahayakan dan
tidak dianjuran pada pasien yang rentan,
karena tekanan di bawah lutut dapat
membahayakan sirkulasi.
Kolaborasi pemberian heparin. Heparin dosis rendah dapat diresepkan dan
diberikan melalui subkutan sampai pasien
bisa ambulasi. Warfarin dosis rendah adalah
antikoagulan lain yang mungkin dibeikan.
Dextran 40 dan Dextran 70 (dengan berat
molekul rendah dan tinggi) adalah plasma
ekspander yang mengurangi pembentukan
bekuan mikroskopik yang dicetuskan oleh
hemokonsentrasi.
Nyeri bernubungan dengan cedera jaringan lunak bedah urogenital, kerusakan
neruomuskular pascabedah.
Tujuan: Dalam waktu 1 x 24 jam nyeri berkurnag atau teradaptasi.
Kriteria evaluasi:
TTV dalam batas normal.
Nyeri di tingkat 0 atau 1 dari skala 0-4.
Itervensi Rasional
Kaji kemmpuan control nyeri pasien. Banyak factor fisiologi (motivasi, afektif,
kognitif, dan emosional) yang dapat
memengaruhi persepsi nyeri.
Kaji persiapan pengelolaan nyeri Persiapan praoperatif yang diterima oleh
peroeperatif. pasien (termasuk informasi tentang apa yang
diperkirakan dan dukungan psikologis)
adalah factor yang signifikan dala
menurunkan ansietas dan nyeri yang dialami
dalam periode pascaoperatif.
Kaji skala nyeri. Saka nyeri pascaoperatif tergantung pada
persepsi fisiologis dan psikologis individu,
toleransi yang ditimbulkan untuk nherim
letak insisi, sifat prosedur, dan kedalaman
trauma bedah.
Lakukan manajemen nyeri keperawatan.
Istirahatkan pasien. Istirahatkan secara fisiologis akan
menurunkan kebutuhan oksigen yang
diperlukan untuk memnuhi kebutuhan
metabolism basa.
Ajarkan tekni relaksasi pernapsan dalam Meningkatkan asupan O2 sehingga
saat nyeri muncul. menurukan nyeri sekunder dari iskemia
spina.
Ajarkan tekni distraksi pada saat nyeri. Distraksi (pengalihan perhatian) dapat
menurunkan stimulus internal.
Manajemen lingkungan: lingkungan tenang, Lingkungan tenang akan menurunkan
batasi pengunjung dan istirahatkan pasien. stimulus nyeri eksternal dan pembatasan
pengunjung akan membantu meningkatkan
kondisi O2 ruangan yang akan bekurnag
apabila banyak pengunjung yang berada di
ruangan. Istirahat akan menurunkan
kebutuhan O2jaringan perifer.
Lakukan manajemen sentuhan. Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa
sentuhan dukungan psikologis dapat
membantu menurunkan nyeri. Masase
ringan dapat meningkatkan aliran darah dan
membantu suplai darah dan oksigen ke area
nyeri.
Lakukan teknik stimulasi perkutaneus. Salah satu metode distraksi untuk
menstimulasi pengeluaran endorphin-
enkefalin yang berguna sebagai analgetik
internal untuk memblok rasa nyeri.
Tingkatkan pengetahuan tentang penyebab Pengetahuan membantu mengurangi
nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri nyerinya dan mengembangkan kepatuhan
akan berlangsung. pasien terhadap rerncana teraupetik.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Analgesik memblok lintasan nyeri, sehingga
analgesik. nyeri akan berkurang.

Konstipasi berhubungan dengan penurunan motilitas lambung dan usus selama


periode intraoperatif.
Tujuan: Dalam Waktu 3 X 24 Jam Fungsi Peristalik Menjadi Normal.
Kriteria evaluasi:
TTV dalam batas normal
Peristaltik usus normal
Pasien mampu BAB.
Intervensi Rasional
Kaji kemampuan peristaltic setiap 4-8 jam. Anestesi umum akan memengaruhi
penurunan peristaltic usus. Penilaian bunyi
bising usus merupakan parameter penting
yang dilakukan perawat untuk mengetahui
fungsi intestinal sudah optimal.
Perawat mengkaji peristaltic usus setiap 4-8
jam. Perawat secara rutin mengaustulasi
abdomen untuk mendeteksi kembalinhya
bising usus normal. Adanya suara seperti
berkumur yang nyaring sebanyka 5-30 kali
per menit pad setup kuadran abdomen
menunjukkan bahwa peristaltic telah
kembali normal. Bunyi gemerincing bernada
tinggi yang disertai dengan distensi abdomen
menunjukkan usus belum berfungsi dengan
baik. Perawat menanyakan apakah pasien
sudah mengeluarkan gas (flatus). Hal ini
merupakan tanda penting yang menunjukkan
bahwa fungsi usus telah kembali normal.
Berikan asupan nutrisi dan tingkatkan secara Beberapa jam pertama setelah pembedahan,
bertahap. pasien hanya menerima cairan melalui IV.
Apabila dokter memprogramkan pemberian
diet normal pada malam pertama setalah
pembedahan, pertama-tama perawat
memberikan cairan yang encer, seperti air,
jus apel, atau the, setelah mual pasien hilang.
Jumlah cairan yang terlalu banyak dapat
menyebabkan distensi dan muntah. Apabila
pasien dapat menoleransi cairan tanpa rasa
mual, diet terus diberikan sesuai program.
Pasien yang telah menjalani bedah abdomen
biasanya berpuasa selama 24-48 jam pertama
setelah pembedahan. apabila peristaltic
sudah kembali, perawat memberikan cairan
yang encer, dilanjutkan dengan cairana yang
kental, diet ringan makanan padat, dan
akhirya diberikan diet regular.
Lakukan dan tingkatkan ambulasi dan Aktivitas fisik merangsang kembalinya
latihan. pertistaltik. Pasien yang mengalami distensi
abdomen dan nyeri karena gas akan
merasa lebih nyaman ketika berjalan.
Pertahankan asupan cairan yang adekuat. Caiaran menjaga feses tetap lembut sehingga
mudah dikeluarkan. Jus buah dan air hangat
biasanya sangat efektif.
Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian Perawat memberikan enema, supositoria
obat supositoria. rectal, dan selang rectal sesuai instruksi.
Apabila terjadi konstipasi atau distensi,
dokter mencoba memasang peristaltic
melalui katarik atau enema. Selang rectal
atau enema aliran balik meningkatkan
keluarnya flatus.

Perubahan elimanasi urine berhubungan dengan penurunan aktivitas, efek medikasi,


dan penurunan masukan cairan.
Tujuan: Dalam waktu 8-12 jam pasien mampu berkemih.
Kriteria evaluasi : pasien mampu berkemih secara spontan dan tanpa bantuan selang
kateter
Intervensi Rasional
Kaji kemampuan control berkemih Efek depresan dari anestesi dan analgesic
dapat mengganggu sensasi penuhnya
kandung kemih. Apabila tonus kandung
kemih menurun, pasien akan mengalami
kesulitan untuk memulai berkemih, namun,
pasien harus berkemih dalam waktu 8-12 jam
setelah pembedahan. pasien yang menjalani
pembedahan pada system perkemihan
biasanya akan dipasang kateter tetap untuk
mempertahankan kelancaran aliran urine
sampai control volunteer berkemih kembali
normal.
Bantu pasien untuk berkemih dalam posisi Perawat membantu pasien untuk berada pada
normal posisi normal selama berkemih, pasien laki-
laki akan membutuhkan bantuan untuk
berdiri saat berkemih, pispot menyebabkan
pasien sulit berkemih. Pasien wanita akan
berkemih dengan baik jika ia dapat berkemih
di toilet.
Monitor keinginan berkemih dari pasien Perawat memeriksa pasien dengan sering
untuk mengetahui adanya kebutuhan untuk
berkemih. Pasien bedah yang diharuskan
berbaring di tempat tidur memerlukan
bantuan untuk memegang dan menggunakan
pispot atau urinal. Pasien sering merasa
bahwa tiba-tiba kandung kemihnya penuh
dan perlu segera berkemih, dan perawat
harus berespons dengan cepat jika pasien
meminta bantuan.
Kaji adanya distensi kandung kemih Perawat mengkaji adanya distensi kandung
kemih, apabila pasien tidak berkemih dalam
waktu 8 jam setelah pembedahan, mungkin
pasien perlu dipasang kateter urine , untuk itu
diperlukan instruksi dari dokter.
Monitor asupan dan keluaran cairan tiap 4 Perawat memantau asupan dan keluaran
jam cairan. Jumlah keluaran urine untuk dewasa
minimal 2 ml/kg/jam. Apabila urine
berwarna gelap, pekat dan volumenya
sedikit, maka dokter harus diberitahu. Pasien
mudah mengalami dehidrasi akibat cairan
yang hilang dari luka bedah.perawat
mengukur asupan dan keluaran cairan
selama beberapa hari setelah pembedahan
sampai tercapai asupan cairan dan keluaran
urine yang normal.

Kecemasan berhubungan dengan diagnosis pascaoperatif, kemungkinan perubahan


dalam gaya hidup, dan perubahan dalam konsep diri
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam tingkat kecemasan pasien berkurang atau hilang
Kriteria evaluasi :
Pasien menyatakan kecemasan berkurang
Pasien mampu mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau factor yang
mempengaruhinya.
Pasien kooperatif terhadap tindakan
Wajah rileks
Intervensi Rasional
Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukkan
dampingi pasien dan lakukan tindakan bila rasa agitasi, marah dan gelisah yang akan
menunjukkan perilaku merusak. mempengaruhi posisi pasien pada brankar
sehingga mempunyai resiko jatuh. Apabila
perawat mendapatkan gejala awal perubahan
dari nonverbal, maka perawat meminta
bantuan dari perawat lain di ruang
pemulihan untuk melakukan fiksasi pada
pasien.
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa
marah, menurunkan kerjasama, dan
memperlambat penyembuhan.
Tingkatkan control sensasi pasien Control sensasi pasien (dalam menurunkan
ketakutan) dengan cara memberikan
informasi tentang keadaan pasien,
menekankan pada penghargaan terhadap
sumber-sumber koping (pertahanan diri)
yang positif, membantu latihan relaksasi dan
tehnik-tehnik pengalihan, dan memberikan
respons balik yang positif.
Orientasikan pasien terhadap prosedur rutin Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
dan aktivitas yang diharapkan

Pasien dipindahkan dari ruang pemulihan bila criteria berikut sudah bisa dipenuhi :

1. Gejala vital stabil dan fungsi respiratori serta sirkulatori sempurna.


2. Pasien sudah bangun atau mudah bangun dan bisa memanggil bila ada keperluan.
3. Komplikasi pasca bedah telah dievaluasi dengan cermat dan terkendali.
4. Setelah anastesi regional fungsi motor dan sebagian sensori telah pulih kembali pada daerah yang terkena anastesi.
5. Klien telah mempunyai control suhu tubuh yang baik, fungsi ventilasi yang baik, nyeri dan mual minimal, pengeluaran urin
yang adekuat, dan cairan elektrolitnya seimbang.
Pasien-pasien yang sakit akut yang memerlukan supervise ketat dipendahkan ke unit intensif. Banyak pasien
dipindahkan ke unit klinis. Unit diberi tahu bahwa akan datang pasien dan semua informasi yang tepat mengenai
status pasien dikomunikasikan pada perawat yang akan meneruskan asuhan keperawatan pasca bedah. Perawat dari
ruang pemulihan membuat ringkasan tentang catatan sebelum pasien meninggalkan ruang pemulihan.

Secara umum, obat-obatan anestesi terdiri dari obat pre-medikasi, obat induksi anestesi,
obat anestesi inhalasi, obat anestesi intravena, obat anestesi lokal/regional, obat pelumpuh otot,
analgesia opioid dan analgesia non-opioid.

BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan cara penggunaanya, obat anestesi dapat dibagi dalam sepuluh
kelompok, yakni :
1. Anastetika Inhalasi : gas tertawa, halotan, enfluran, isofluran, scuofluran. Obat obat ini diberikan
sebagai uap melalui saluran nafas. Keuntungannya adalah resepsi yang cepat melalui paru paru
seperti juga ekskresinya melalui gelembung paru (alveoli) yang biasanya dalam keadaan utuh.
Obat ini terutama digunakan untuk memelihara anastesi.
2. Anastetika Intravena : thiopental, diazepam dan midazolam, ketamin, dan propofol. Obat obat
ini juga dapat diberikan dalam sediaan suppositoria secara rectal, tetapi resorpsinya kurang teratur.
Terutama digunakan untuk mendahului (induksi) anastesi total, atau memeliharanya, juga sebagai
anastesi pada pembedahan singkat.
3. Anestetika intramuskular : sangat populer dalam praktek anestesi, karena teknis mudah, relatif
aman karena kadar plasma tidak mendadak tinggi. Keburukannya ialah absorpsi kadang diluar
perkiraan, menimbulkan nyeri dibenci anak-anak, dan beberapa bersifat iritan.
4. Subkutan : sekarang sudah jarang digunakan
5. Spinal : dimasukkan kedalam ruang subarakhnoid (intratekal) seperti pada bupivacaine.
6. Lidah dan mukosa pipi : absorpsi lewat lidah dan mukosa pipi dapat menghindari efek sirkulasi
portal, bersifat larut lemak, contohnya fentanil lolipop untuk anak dan buprenorfin.
7. Rektal : sering diberikan pada anak yang sulit secara oral dan takut disuntik.
8. Transdermal : contoh krem EMLA (eutectic mixture of local anesthetic), campuran lidokain-
prokain masing-masing 2,5%. Krem ini dioleskan ke kulit intakdan setelah 1-2 jam baru dilakukan
tusuk jarum atau tindakan lain.
9. Epidural: dimasukkan kedalam ruang epidural yaitu antara duramater dan ligamentum flavum.
Cara ini banyak pada anestesia regional.
10. Oral : paling mudah, tidak nyeri, dapat diandalkan. Kadang harus diberikan obat peri-anestesia,
seperti obat anti hipertensi, obat penurun gula darah, dan sebagainya. Sebagian besar diabsorpsi
usus halus bagian atas. Beberapa obat dihancurkan asam lambung. Pengosongan lambung yang
terlambat menyebabkan terkumpulnya obat di lambung. Sebelum obat masuk sistemik, harus
melewati sirkulasi portal. Maka dosis oral harus lebih besar dari intramuskular, contohnya petidin,
dopamin, isoprenalin, dan propanolol.

OBAT-OBATAN DALAM ANESTESI


Obat-Obatan Anestesi Umum
Sulfas Atropin
Pethidin
Propofol/ Recofol
Succinil Cholin
Tramus
Efedrin
Obat untuk Anestesi Spinal:
Buvanest atau Bunascan
Catapress (kadang dokter tertentu menambahkannya untuk menambah efek buvanest)

Obat-obatan emergency yang harus ada dalam kotak emergency:


Atropin
Efedrin
Ranitidin
Ketorolac
Metoklorpamid
Aminofilin
Asam Traneksamat
Adrenalin
Kalmethason
furosemid (harus ada untuk pasien urologi)
lidocain
gentamicyn salep mata
Oxitocyn (untuk pasien obsgyn)
Methergin (untuk pasien obsgyn)
Adrenalin

PENGGOLONGAN OBAT PRE-MEDIKASI


1. Golongan Narkotika
- analgetika sangat kuat.
- Jenisnya : petidin, fentanyl, dan morfin.
- Tujuan: mengurangi rasa nyeri saat pembedahan.
- Efek samping: mendepresi pusat nafas, mual-muntah, Vasodilatasi pembuluh darah hipotensi
- diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan sifat analgesik rendah, misalnya: halotan, tiopental,
propofol.
- Pethidin diinjeksikan pelan untuk:
mengurangi kecemasan dan ketegangan
menekan TD dan nafas
merangsang otot polos
- Morfin adalah obat pilihan jika rasa nyeri telah ada sebelum pembedahan
mengurangi kecemasan dan ketegangan
menekan TD dan nafas
merangsang otot polos
depresan SSP
pulih pasca bedah lebih lama
penyempitan bronkus
mual muntah (+)

2. Golongan Sedativa & Transquilizer


- Golongan ini berfungsi sebagai obat penenang dan membuat pasien menjadi mengantuk.
- Contoh : luminal dan nembufal untuk golongan sedative; diazepam dan DHBF (Dihidrobensferidol) untuk
golongan transquilizer.
- Efek samping: depresi nafas, depresi sirkulasi.
- diberikan apabila pasien memiliki rasa sakit/nyeri sebelum dianestesi, pasien tampak lebih gelisah
Barbiturat
- menimbulkan sedasi dan menghilangkan kekhawatiran sebelum operasi
- depresan lemah nafas dan silkulasi
- mual muntah jarang

Midazolam
- Midazolam sering digunakan sebagai premedikasi pada pasien pediatrik sebagai sedasi dan induksi anestesia.
- Pre-medikasi, induksi, rumatan, sedasi post operasi.
- Memiliki efek antikonvulsan sehingga dapat digunakan untuk mengatasi kejang grand mal
- Dianjurkan sebelum pemberian ketamin karena pasca anestesi ketamin dosis 1-2mg/kgBB menimbulkan
halusinasi.
Diazepam
- induksi, premedikasi, sedasi
- menghilangkan halusinasi karena ketamin
- mengendalikan kejang
- menguntungkan untuk usia tua
- jarang terjadi depresi nafas, batuk, disritmia
- premedikasi 1m 10 mg, oral 5-10 mg

3. Golongan Obat Pengering


- bertujuan menurunkan sekresi kelenjar saliva, keringat, dan lendir di mulut serta menurunkan efek
parasimpatolitik / paravasopagolitik sehingga menurunkan risiko timbulnya refleks vagal.
- Contoh: sulfas atropine dan skopolamin.
- Efek samping: proses pembuangan panas akan terganggu, terutama pada anak-anak sehingga terjadi febris dan
dehidrasi
- diberikan jika anestesi dilakukan dengan anestetika dengan efek hipersekresi, mis: dietileter atau ketamin

OBAT-OBATAN ANESTESI
Obat Dalam Jumlah di pengenceran Dalam Dosis 1 cc
sediaan sediaan spuit (mg/kgBB) spuit =
Pethidin ampul 100mg/2cc 2cc + aquadest 10 cc 0,5-1 10 mg
8cc
Fentanyl 0,05 mg/cc 0,05mg
Recofol ampul 200mg/ 10cc + 10 cc 2-2,5 10 mg
(Propofol) 20cc lidocain 1
ampul
Ketamin vial 100mg/cc 1cc + aquadest 10 cc 1-2 10 mg
9cc
Succinilcholin vial 200mg/ Tanpa 5 cc 1-2 20 mg
10cc pengenceran
Atrakurium ampul 10mg/cc Tanpa 5 cc Intubasi: 0,5- 10 mg
Besilat (Tramus/ pengenceran 0,6, relaksasi:
Tracrium) 0,08,
maintenance:
0,1-0,2
Efedrin HCl ampul 50mg/cc 1cc + aquadest 10 cc 0,2 5 mg
9cc
Sulfas Atropin ampul 0,25mg/cc Tanpa 3 cc 0,005 0,25 mg
pengenceran
Ondansentron ampul 4mg/2cc Tanpa 3 cc 8 mg (dewasa) 2 mg
HCl (Narfoz) pengenceran 5 mg (anak)
Aminofilin ampul 24mg/cc Tanpa 10 cc 5 24 mg
pengenceran
Dexamethason ampul 5 mg/cc Tanpa 1 5 mg
pengenceran
Adrenalin ampul 1 mg/cc 0,25-0,3
Neostigmin ampul 0,5mg/cc Tanpa Masukkan 2 0,5 mg
(prostigmin) pengenceran ampul
prostigmin + 1
ampul SA
Midazolam ampul 5mg/5cc Tanpa 0,07-0,1 1 mg
(Sedacum) pengenceran
Ketorolac ampul 60 mg/2cc Tanpa 30 mg
pengenceran
Difenhidramin ampul 5mg/cc Tanpa 5 mg
HCl pengenceran

Onset dan Durasi yang penting


OBAT ONSET DURASI
Succinil Cholin 1-2 mnt 3-5 mnt
Tracrium (tramus) 2-3 mnt 15-35 mnt
Sulfas Atropin 1-2 mnt
Ketamin 30 dtk 15-20 mnt
Pethidin 10-15 mnt 90-120 mnt
Pentotal 30 dtk 4-7 mnt

Keterangan
A. Obat Induksi intravena
1. Ketamin/ketalar
- efek analgesia kuat sekali. Terutama utk nyeri somatik, tp tidak utk nyeri visceral
- Efek hipnotik kurang
- Efek relaksasi tidak ada
- Refleks pharynx & larynx masih ckp baik batuk saat anestesi refleks vagal
- disosiasi mimpi yang tidak enak, disorientasi tempat dan waktu, halusinasi, gaduh gelisah, tidak terkendali.
Saat pdrt mulai sadar dpt timbul eksitasi
- Aliran darah ke otak, konsentrasi oksigen, tekanan intracranial (Efek ini dapat diperkecil dengan pemberian
thiopental sebelumnya)
- TD sistolik diastolic naik 20-25%, denyut jantung akan meningkat. (akibat peningkatan aktivitas saraf simpatis
dan depresi baroreseptor). Cegah dengan premedikasi opiat, hiosin.
- dilatasi bronkus. Antagonis efek konstriksi bronchus oleh histamine. Baik untuk penderita-penderita asma dan
untuk mengurangi spasme bronkus pada anesthesia umum yang masih ringan.
- Dosis berlebihan scr iv depresi napas
- Pd anak dpt timbulkan kejang, nistagmus
- Meningkatkan kdr glukosa darah + 15%
- Pulih sadar kira-kira tercapai antara 10-15 menit
- Metabolisme di liver (hidrolisa & alkilasi), diekskresi metabolitnya utuh melalui urin
- Ketamin bekerja pd daerah asosiasi korteks otak, sedang obat lain bekerja pd pusat retikular otak

Indikasi:
Untuk prosedur dimana pengendalian jalan napas sulit, missal pada koreksi jaringan sikatrik pada daerah leher,
disini untuk melakukan intubasi kadang sukar.
Untuk prosedur diagnostic pada bedah saraf/radiologi (arteriograf).
Tindakan orthopedic (reposisi, biopsy)
Pada pasien dengan resiko tinggi: ketamin tidak mendepresi fungsi vital. Dapat dipakai untuk induksi pada pasien
syok.
Untuk tindakan operasi kecil.
Di tempat dimana alat-alat anestesi tidak ada.
Pasien asma

Kontra Indikasi
hipertensi sistolik 160 mmHg diastolic 100 mmHg
riwayat Cerebro Vascular Disease (CVD)
Dekompensasi kordis

Harus hati-hati pada :


Riwayat kelainan jiwa
Operasi-operasi daerah faring karena refleks masih baik

2. Propofol (diprifan, rekofol)


Bentuk cairan, emulsi isotonik, warna putih spt susu dgn bhn pelarut tdd minyak kedelai & postasida telur yg
dimurnikan.
Kdg terasa nyeri pd penyuntikan dicampur lidokain 2% +0,5cc dlm 10cc propolol jarang pada anak karena
sakit & iritasi pd saat pemberian
Analgetik tdk kuat
Dpt dipakai sbg obat induksi & obat maintenance
Obat setelah diberikan didistribusi dgn cepat ke seluruh tubuh.
Metabolisme di liver & metabolit tdk aktif dikeluarkan lwt ginjal.
Saat dipakai utk induksi juga dapat tjd hipotensi karena vasodilatasi & apnea sejenak
Efek Samping
bradikardi.
nausea, sakit kepala pada penderita yg mulai sadar.
Ekstasi, nyeri lokal pd daerah suntikan
Dosis berlebihan dapat mendepresi jantung & pernapasan
Sebaiknya obat ini tidak diberikan pd penderita dengan ggn jalan napas, ginjal, liver, syok hipovolemik.
3. Thiopental
Ultra short acting barbiturat
Dipakai sejak lama (1934)
Tidak larut dlm air, tp dlm bentuk natrium (sodium thiopental) mudah larut dlm air

4. Pentotal
Zat dr sodium thiopental. Btk bubuk kuning dlm amp 0,5 gr(biru), 1 gr(merah) & 5 gr. Dipakai dilarutkan dgn
aquades
Lrt pentotal bersifat alkalis, ph 10,8
Lrt tdk begitu stabil, hanya bs dismp 1-2 hr (dlm kulkas lebih lama, efek menurun)
Pemakaian dibuat lrt 2,5%-5%, tp dipakai 2,5% u/ menghindari overdosis, komplikasi > kecil, hitungan
pemberian lebih mudah
Obat mengalir dlm aliran darah (aliran ke otak ) efek sedasi&hipnosis cepat tjd, tp sifat analgesik sangat
kurang
TIK
Mendepresi pusat pernapasan
Membuat saluran napas lebih sensitif thd rangsangan
depresi kontraksi denyut jantung, vasodilatasi pembuluh darah hipotensi. Dpt menimbulkan vasokontriksi
pembuluh darah ginjal
tak berefek pd kontraksi uterus, dpt melewati barier plasenta
Dpt melewati ASI
menyebabkan relaksasi otot ringan
reaksi. anafilaktik syok
gula darah sedikit meningkat.
Metabolisme di hepar
cepat tidur, waktu tidur relatif pendek
Dosis iv: 3-5 mg/kgBB

Kontraindikasi
syok berat
Anemia berat
Asma bronkiale menyebabkan konstriksi bronkus
Obstruksi sal napas atas
Penyakit jantung & liver
kadar ureum sangat tinggi (ekskresinya lewat ginjal)

B. Obat Anestetik inhalasi


1. Halothan/fluothan
v Tidak berwarna, mudah menguap
v Tidak mudah terbakar/meledak
v Berbau harum tetapi mudah terurai cahaya
Efek:
v Tidak merangsang traktus respiratorius
v Depresi nafas stadium analgetik
v Menghambat salivasi
v Nadi cepat, ekskresi airmata
v Hipnotik kuat, analgetik kurang baik, relaksasi cukup
v Mencegah terjadinya spasme laring dan bronchus
v Depresi otot jantung aritmia (sensitisasi terhadap epinefrin)
v Depresi otot polos pembuluh darah vasodilatasi hipotensi
v Vasodilatasi pembuluh darah otak
v Sensitisasi jantung terhadap katekolamin
v Meningkatkan aktivitas vagal vagal refleks
v Pemberian berulang (1-3 bulan) kerusakan hepar (immune-mediated hepatitis)
v Menghambat kontraksi otot rahim
v Absorbsi & ekskresi obat oleh paru, sebagian kecil dimetabolisme tubuh
v Dapat digunakan sebagai obat induksi dan obat maintenance

Keuntungan
cepat tidur
Tidak merangsang saluran napas
Salivasi tidak banyak
Bronkhodilator obat pilihan untuk asma bronkhiale
Waktu pemulihan cepat (1 jam post anestesi)
Kadang tidak mual & tidak muntah, penderita sadar dalam kondisi yang enak

Kerugian
overdosis
Perlu obat tambahan selama anestesi
Hipotensi karena depresi miokard & vasodilatasi
aritmia jantung
Sifat analgetik ringan
Cukup mahal
Dosis dapat kurang sesuai akibat penyusutan

2. Nitrogen Oksida (N2O)


gas yang berbau, berpotensi rendah (MAC 104%), tidak mudah terbakar dan relatif tidak larut dalam darah.

Efek:
Analgesik sangat kuat setara morfin
Hipnotik sangat lemah
Tidak ada sifa relaksasi sama sekali
Pemberian anestesia dengan N2O harus disertai O2 minimal 25%.Bila murni N2O = depresi dan dilatasi
jantung serta merusak SSP
jarang digunakan sendirian tetapi dikombinasi dengan salah satu cairan anestetik lain seperti halotan dan
sebagainya.

3. Eter
- tidak berwarna, sangat mudah menguap dan terbakar, bau sangat merangsang
- iritasi saluran nafas dan sekresi kelenjar bronkus
- margin safety sangat luas
- murah
- analgesi sangat kuat
- sedatif dan relaksasi baik
- memenuhi trias anestesi
- teknik sederhana

4. Enfluran
isomer isofluran
tidak mudah terbakar, namun berbau.
Dengan dosis tinggi diduga menimbulkan aktivitas gelombang otak seperti kejang (pada EEG).
Efek depresi nafas dan depresi sirkulasi lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih iritatif dibanding
halotan.

5. Isofluran
cairan bening, berbau sangat kuat, tidak mudah terbakar dalam suhu kamar
menempati urutan ke-2, dimana stabilitasnya tinggi dan tahan terhadap penyimpanan sampai dengan 5 tahun
atau paparan sinar matahari.
Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi sampai 1/3 dosis jika pakai isofluran

6. Sevofluran
tidak terlalu berbau (tidak menusuk), efek bronkodilator sehingga banyak dipilih untuk induksi melalui
sungkup wajah pada anak dan orang dewasa.
tidak pernah dilaporkan kejadian immune-mediated hepatitis

C. Obat Muscle Relaxant


Bekerja pd otot bergaris terjadi kelumpuhan otot napas & otot-otot mandibula, otot intercostalis, otot-otot
abdominalis & relaksasi otot-otot ekstremitas.
Bekerja pertama: kelumpuhan otot mata ekstremitas mandibula intercostalisabdominal diafragma.
Pd pemberian pastikan penderita dapat diberi napas buatan.
Obat ini membantu pd operasi khusus spt operasi perut agar organ abdominal tdk keluar & terjadi relaksasi
Terbagi dua: Non depolarisasi, dan depolarisasi

Dosis awal Dosis Durasi Efek samping


(mg/kgBB) rumatan (menit)
(mg/kgBB)
Non depol long-acting
1. D-tubokurarin (tubarin) 0.40-0.60 0.10 30-60 Hipotensi
2. Pankuronium 0.08-0.12 0.15-0.020 30-60 Takikardi
3. Metakurin 0.20-0.40 0.05 40-60 Hipotensi
4. Pipekuronium 0.05-0.12 0.01-0.015 40-60 KV stabil
5. Doksakurium 0.02-0.08 0.005-0.010 45-60 KV stabil
6. Alkurium (alloferin) 0.15-0.30 0.5 40-60 Takikardi
Non depol intermediate acting
1. Gallamin (flaxedil) 4-6 0.5 30-60 Hipotensi
2. Atrakurium (tracrium/notrixum) 0.5-0.6 0.1 20-45 Amanhepar&ginjal
3. Vekuronium (norcuron) 0.1-0.2 0.015-0.02 25-45
4. Rokuronium (roculax/esmeron) 0.6-1.0 0.10-0.15 30-60
5. Cistacuronium 0.15-0.20 0.02 30-45 Isomer atrakurium
Non depol short acting
1. mivakurium (mivacron) 0.20-0.25 0.05 10-15 Hipotensi &
2. ropacuronium 1.5-2.0 0.3-0.5 15-30 histamin +
Depol short acting
1. suksinilkolin (scolin) 1.0 3-10
2. dekametonium 1.0 3-10

Durasi
Ultrashort (5-10 menit): suksinilkolin
Short (10-15 menit) : mivakurium
Medium (15-30 menit) : atrakurium, vecuronium
Long (30-120 menit) : tubokurarin, metokurin , pankuronium, pipekuronium, doksakurium, galamin

Efek terhadap kardiovaskuler


tubokurarin , metokurin , mivakurium dan atrakurium : Hipotensi pelepasan histamin dan
(penghambatan ganglion)
pankuronium : menaikkan tekanan darah
suksinilkolin : aritmia jantung
Antikolinesterase
antagonis pelumpuh otot non depolarisasi
neostigmin metilsulfat 0,04-,0,08mg/kg (prostigmin)
piridostigmin 0,1-0,4mg/kg
edrofonium 0,5-1,0mg/kg
- fungsi: efek nilotinik + muskarinik bradikardi, hiperperistaltik, hipersekresi, bronkospasme, miosis,
kontraksi vesicaurinaria
- pemberian dibarengi SA untuk menghindari bradikardi. (2:1)

MAC (Minimal Alveolar Concentration)


konsentrasi zat anestesi inhalasi dalam alveoli dimana 50% binatang tidak memberikan respon rangsang sakit
Halotan : 0,87%
Eter : 1,92%
Enfluran : 1,68%
Isofluran : 1,15%
Sevofluran : 1,8%

Obat Darurat
Nama Berikan bila Berapa yang diberikan?
Efedrin TD menurun >20% dari TD awal 2 cc spuit
(biasanya bila TD sistol <90
diberikan)
Sulfas atropin Bradikardi (<60) 2 cc spuit
Aminofilin bronkokonstriksi 5 mg/kgBB
Spuit 24mg/ml
Dexamethason Reaksi anafilaksis 1 mg/kgBB
Spuit 5 mg/cc
Adrenalin Cardiac arrest 0,25 0,3 mg/kgBB, 1 mg/cc (teori)
Prakteknya beri sampai aman
Succinil cholin Spasme laring 1 mg/kgBB (1cc spuit

ANESTESI LOKAL/ REGIONAL


blokade reversibel konduksi saraf
mencegah DEPOLARISASI dengan blokade ion Na+ ke channel Na ( blokade konduksi) mencegah
permeabilitas membran saraf terhadap ion Na+
Potensi Obat
SHORT act MEDIUM act LONG act

Prototipe Prokain Lidokain Bupirokain


Gol Ester Amida Amida
Onset 2 5 15
Durasi 30-45 60-90 2-4jam
Potensi 1 3 15
Toksisitas 1 2 10
Dosis max 12 Mg/KgBB 6 mg/KgBB 2 Mg/KgBB
Metabolisme Plasma Liver Liver

Keterangan:
Bupivacaine
- Konsentrasi 0,5% tanpa adrenalin, analgesianya sampai 8 jam. Volume yang digunakan <20ml.
Lidokain (Xylocaine, Lidonest)
- Umumnya digunakan 1-2%, dengan mula kerja 10 menit dan relasasi otot baik.
- 0,8% blokade sensorik baik tanpa blokade motorik.
- 1,5% lazim digunakan untuk pembedahan.
- 2% untuk relaksasi pasien berotot.

OPIOID DAN ANALGETIKA NON-OPIOID


OPIOID
Opioid yang sering digunakan dalam anastesi antara lain adalah morfin, petidin, fentanil.
Opioid adalah semua zat baik sintetik atau natural yang dapat berikatan dengan reseptor morfin.
Opioid disebut juga sebagai analgesia narkotik yang sering digunakan dalam anastesia untuk
mengendalikan nyeri saat pembedahan dan nyeri pasca pembedahan.

A. Klasifikasi Opioid
Penggolongan opioid antara lain:
1. opioid natural (morfin, kodein, pavaperin, dan tebain)
2. semisintetik (heroin, dihidro morfin/morfinon, derivate tebain)
3. sintetik (petidin, fentanil, alfentanil, sufentanil dan remifentanil).

B. Obat-obat opioid yang biasa digunakan dalam anastesi


antara lain:
1. MORFIN
a. Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang mengandung otot polos. Efek morfin pada sistem
syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi dan stimulasi. Digolongkan depresi yaitu analgesia, sedasi,
perubahan emosi, hipoventilasi alveolar. Stimulasi termasuk stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah,
hiperaktif reflek spinal, konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH).
b. Farmakokinetik
Morfin tidak dapat menembus kulit utuh, tetapi dapat menembus kulit yang luka. Morfin juga dapat menembus
mukosa. Morfin dapat diabsorsi usus, tetapi efek analgesik setelah pemberian oral jauh lebih rendah daripada
efek analgesik yang timbul setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama. Morfin dapat melewati sawar
uri dan mempengaharui janin. Eksresi morfin terutama melalui ginjal. Sebagian kecil morfin bebas ditemukan
dalam tinja dan keringat.
c. Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau menghilangkan nyeri hebat yang tidak
dapat diobati dengan analgesik non-opioid. Apabila nyerinya makin besar dosis yang diperlukan juga semakin
besar. Morfin sering digunakan untuk meredakan nyeri yang timbul pada infark miokard, neoplasma, kolik renal
atau kolik empedu, oklusi akut pembuluh darah perifer, pulmonal atau koroner, perikarditis akut, pleuritis dan
pneumotorak spontan, nyeri akibat trauma misalnya luka bakar, fraktur dan nyeri pasca bedah.
d. Efek samping
Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi depresi pernafasan, nausea, vomitus, dizzines,
mental berkabut, disforia, pruritus, konstipasi kenaikkan tekanan pada traktus bilier, retensi urin, dan hipotensi.
e. Dosis dan sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria. Morfin oral dalam bentuk larutan diberikan teratur dalam tiap
4 jam. Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB. Untuk
nyeri hebat pada dewasa 1-2 mg intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan.

2. PETIDIN
a. Farmakodinamik
Meperidin (petidin) secara farmakologik bekerja sebagai agonis reseptor . Seperti halnya morfin, meperidin
(petidin) menimbulkan efek analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lainnya. Waktu paruh
petidin adalah 5 jam. Efektivitasnya lebih rendah dibanding morfin, tetapi lebih tinggi dari kodein. Durasi
analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam. Dibandingkan dengan morfin, meperidin lebih efektif terhadap
nyeri neuropatik.
b. Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin sebagai berikut :
1) Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang larut dalam air.
2) Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin, asam meperidinat dan asam
normeperidinat. Normeperidin adalah metabolit yang masih aktif memiliki sifat konvulsi dua kali lipat petidin,
tetapi efek analgesinya sudah berkurang 50%. Kurang dari 10% petidin bentuk asli ditemukan dalam urin.
3) Petidin bersifat atropin menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan takikardia.
4) Petidin menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap sfingter oddi lebih ringan.
5) Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah yang tidak ada hubungannya dengan
hipotermi dengan dosis 20-25 mg i.v pada dewasa.
6) Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

c. Farmakokinetik
Absorbsi meperidin dengan cara pemberian apapun berlangsung baik. Akan tetapi kecepatan absorbsi mungkin
tidak teratur setelah suntikan IM. Kadar puncak dalam plasma biasanya dicapai dalam 45 menit dan kadar yang
dicapai antar individu sangat bervariasi. Setelah pemberian meperidin IV, kadarnya dalam plasma menurun
secara cepat dalam 1-2 jam pertama, kemudian penurunan berlangsung lebih lambat. Kurang lebih 60%
meperidin dalam plasma terikat protein. Metabolisme meperidin terutama dalam hati. Pada manusia meperidin
mengalami hidrolisis menjadi asam meperidinat yang kemudian sebagian mengalami konjugasi. Meperidin
dalam bentuk utuh sangat sedikit ditemukan dalam urin. Sebanyak 1/3 dari satu dosis meperidin ditemukan
dalam urin dalam bentuk derivat N-demitilasi.
Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan metabolik otak, dan tekanan intra kranial. Berbeda
dengan morfin, petidin tidak menunda persalinan, akan tetapi dapat masuk ke fetus dan menimbulkan depresi
respirasi pada kelahiran.
d. Indikasi
Meperidin hanya digunakan untuk menimbulkan analgesia. Pada beberapa keadaan klinis, meperidin
diindikasikan atas dasar masa kerjanya yang lebih pendek daripada morfin. Meperidin digunakan juga untuk
menimbulkan analgesia obstetrik dan sebagai obat preanestetik.
e. Dosis dan sediaan
Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10 mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100
mg/ml. ; larutan oral 50 mg/ml. Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg. Dosis untuk
bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.
f. Efek samping
Efek samping meperidin dan derivat fenilpiperidin yang ringan berupa pusing, berkeringat, euforia, mulut
kering, mual-muntah, perasaan lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan sedasi.
3. FENTANIL
a. Farmakodinamik
Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil 75-125 kali lebih
poten dibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan
lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi
anestetik lokal pada blok saraf tepi. Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis
yang tinggi menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Fentanil
dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan neureptanalgesia.
b. Farmakokinetik
Setelah suntikan intravena ambilan dan distribusinya secara kualitatif hampir sama dengan dengan morfin, tetapi
fraksi terbesar dirusak paru ketika pertama kali melewatinya. Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-
dealkilase dan hidrosilasidan, sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin.
c. Indikasi
Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3 mg /kg BB analgesianya hanya
berlangsung 30 menit, karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah.
Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi
bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah, pada bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml.
d. Efek samping
Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot.
Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, ADH, renin, aldosteron dan kortisol.

ANALGETIKA NON OPIOID (NSAID)

Keterangan
Ketorolak
- Diberikan secara oral, intramuskular, intravena.
- Efek analgesia dicapai dalam 30 menit, maksimal setelah 1-2 jam.
- Lama kerja 4-6 jam.
- Dosis awal 10-30mg/hari dosis maks. 90mg/hari, pada manula, gangguan faal ginjal, dan BB <50kg dibatasi
maks. 60mg/hari.
- 30mg ketorolak=12mg morfin=100mg petidin, dapat digunakan bersama opioid.
- Cara kerja menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa mengganggu reseptor opioid di sistem saraf pusat.
- Tidak untuk wanita hamil, menghilangkan nyeri persalinan, wanita menyusui, usia lanjut, anak usia <4th,
gangguan perdarahan, tonsilektomi.
Ketoprofen
- Diberikan secara oral, kapsul, tablet 100-200 mg/hari.
- Per-rektal 1-2 suppositoria.
- Suntikan intarmuskuler 100-300mg/hari.
- Intravena per-infus dihabiskan dalam 20 menit.
Piroksikam
- Oral, kapsul, tablet, flash, suppositoria, ampul 10-20mg/hari.
Tenoksikam
- Suntikan itramuskuler, intravena ampul 20mg/hari dilanjutkan oral.
- Hasil metabolisme dibuang lewat ginjal dan sebagian lewat empedu.
Meloksikam
- Inhibitor selektif Cox-2 dengan efektifitas=diklofenak atau piroksikam tetapi efek samping lebih minimal.
- Dosis satu tablet 7,5mg atau 15mg/hari
Asetaminofen
- Tak punya sifat anti inflamasi dan sifat inhibitor terhadap sintesis prostaglandin sangat lemah, karena itu tak
digolongkan NSAID.
- Biasa untuk nyeri ringan dan dikombinasi analgetik lain
- Dosis oral 500-1000mg/4-6jam, dosis maksimal 4000mg/hari.
- Dosis toksis dapat menyebabkan nekrosis hati karena dirusak oleh enzim mikrosomal hati.
- Lebih disukai dari aspirin karena efek samping terhadap lambung dan gangguan pembekuan minimal.
Efek samping golongan NSAID
- Gangguan saluran cerna: nyeri lambung, panas, kembung, mual-muntah, konstipasi, diare, dispepsia,
perdarahan tukak lambung, ulserasi mukosa lambung.
- Hipersensitivitas kulit: gatal, pruritus, erupsi, urtikaria, sindroma Steven-Johnson.
- Gangguan fungsi ginjal: penurunan aliran darah ginjal, penurunan laju filtrasi glomerulus, retensi natrium,
hiperkalemia, peningkatan ureum-kreatinin, pererenal azotemia, nekrosis papil ginjal, nefritis, sindroma
nefrotik.
- Gangguan fungsi hepar: peningkatan SGOT, SGPT, gamma globulin, bilirubin, ikterus hepatoseluler.
- Gangguan sistem darah: trombositopenia, leukimia, anemia aplastik.
- Gangguan kardiovaskuler: akibat retensi air menyebabkan edema, hipertensi, gagal jantung.
- Gangguan respirasi: tonus bronkus meningkat, asma.
- Keamanan belum terbukti pada wanita hamil, menyusui, proses persalinan, anak kecil, manula.

Alergi obat-obatan anestesi


Alergi obat dapat terjadi melalui semua 4 mekanisme hipersensitifitas Gell dan Coomb, yaitu:

Reaksi hipersensitivitas segera (tipe I), terjadi bila obat atau metabolitnya berinteraksi membentuk
antibodi IgE yang spesifik dan berikatan dengan sel mast di jaringan atau sel basofil di sirkulasi.
- Reaksi antibody sitotoksik (tipe II), melibatkan antibodi IgG dan IgM yang mengenali antigen obat di
membran sel. Dengan adanya komplemen serum, maka sel yang dilapisi antibodi akan dibersihkan atau
dihancurkan oleh sistem monosit-makrofag.
- Reaksi kompleks imun (tipe III), disebabkan oleh kompleks soluble dari obat atau metabolitnya dengan
antibodi IgM dan IgG.
- Reaksi hipersensitivitas lambat (delayed-type hypersensitivity reactions, tipe IV) adalah reaksi yang
dimediasi oleh limfosit T yang spesifik obat.
- Bisa terjadi alergi obat melalui keempat mekanisme tersebut terhadap satu obat, namun yang tersering melalui
tipe I dan IV. Jenis obat penyebab alergi sangat bervariasi dan berbeda menurut waktu, tempat dan jenis
penelitian yang dilakukan. Pada umumnya laporan tentang obat tersering penyebab alergi adalah golongan
penisilin, sulfa, salisilat, dan pirazolon. Obat lainnya yaitu asam mefenamat, luminal, fenotiazin, fenergan,
dilantin, tridion. Namun demikian yang paling sering dihubungkan dengan alergi adalah penisilin dan sulfa.
Alergi obat biasanya tidak terjadi pada paparan pertama. Sensitisasi imunologik memerlukan paparan awal dan
tenggang waktu beberapa lama (masa laten) sebelum terjadi reaksi alergi.
Pengobatan Alergi Obat
Obat-obatan : antihistamin, steroid, bila terjadi reaksi anafilaksis beri adrenalin 1/1000 sc dan
pengobatan sesuai seperti reaksi anafilaksis karena sebab lain.
Menghindari alergen penyebab.
Pengobatan lain dengan cara desensitisasi

Anda mungkin juga menyukai