Anda di halaman 1dari 4

1.

Norma kesopanan

Norma kesopanan ditentukan oleh masing-masing kelompok budaya atau komunitas

2. Norma hukum

Ditentukan oleh pemegang otoritas dalam kehidupan berbangsa, bernegara, bermasyarakat.

3. Norma moral/etika

Yang pada umumnya bersifat universal yang ditentukan oleh kelompok atau masyarakat
tertentu.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Etika dan Hukum Kesehatan . Jakarta: Rineka Cipta.

K. Bertens. 2007. ETIKA. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kamus Besar Bahasa Indonesia / Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, ed. 3. cet. 3. Jakarta :
Balai Pustaka, 2005.

Norma - norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya berwujud : perintah dan
larangan. Apakah yang dimaksud perintah dan larangan menurut isi norma tersebut? Perintah
merupakan kewajiban bagi seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat - akibatnya
dipandang baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk tidak
berbuat sesuatu oleh karena akibat - akibatnya dipandang tidak baik. Ada bermacam - macam
norma yang berlaku di masyarakat. Macam - macam norma yang telah dikenal luas ada
empat, yaitu:

Norma Agama

Peraturan hidup yang harus diterima manusia sebagai perintah - perintah, larangan - larangan
dan ajaran - ajaran yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma
ini akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa siksa kelak di akhirat.
Contoh norma agama ini diantaranya ialah:

1. Kamu dilarang membunuh.

2. Kamu dilarang mencuri.

3. Kamu harus patuh kepada orang tua.

4. Kamu harus beribadah.

5. Kamu jangan menipu.

Norma Kesusilaan

Peraturan hidup yang berasal dari suara hati sanubari manusia. Pelanggaran norma kesusilaan
ialah pelanggaran perasaan yang berakibat penyesalan. Norma kesusilaan bersifat umum dan
universal, dapat diterima oleh seluruh umat manusia. Contoh norma ini diantaranya ialah :
1. Kamu tidak boleh mencuri milik orang lain.

2. Kamu harus berlaku jujur.

3. Kamu harus berbuat baik terhadap sesama manusia.

4. Kamu dilarang membunuh sesama manusia.

Norma Kesopanan

Norma yang timbul dan diadakan oleh masyarakat itu sendiri untuk mengatur pergaulan
sehingga masing - masing anggota masyarakat saling hormat menghormati. Akibat dari
pelanggaran terhadap norma ini ialah dicela sesamanya, karena sumber norma ini adalah
keyakinan masyarakat yang bersangkutan itu sendiri. Hakikat norma kesopanan adalah
kepantasan, kepatutan, atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Norma kesopanan
sering disebut sopan santun, tata krama atau adat istiadat. Norma kesopanan tidak berlaku
bagi seluruh masyarakat dunia, melainkan bersifat khusus dan setempat (regional) dan hanya
berlaku bagi segolongan masyarakat tertentu saja. Contoh norma ini diantaranya ialah :

1. Berilah tempat terlebih dahulu kepada wanita di dalam kereta api, bus dan lain - lain,
terutama wanita yang tua, hamil atau membawa bayi.

2. Jangan makan sambil berbicara.

3. Janganlah meludah di lantai atau di sembarang tempat dan.

4. Orang muda harus menghormati orang yang lebih tua.

Norma Hukum

Peraturan - peraturan yang timbul dan dibuat oleh lembaga kekuasaan negara. Isinya
mengikat setiap orang dan pelaksanaanya dapat dipertahankan dengan segala paksaan oleh
alat - alat negara, sumbernya bisa berupa peraturan perundang - undangan, yurisprudensi,
kebiasaan, dan agama. Keistimewaan norma hukum terletak pada sifatnya yang memaksa,
sanksinya berupa ancaman hukuman. Penataan dan sanksi terhadap pelanggaran peraturan -
peraturan hukum bersifat heteronom, artinya dapat dipaksakan oleh kekuasaan dari luar, yaitu
kekuasaan negara. Contoh norma ini diantaranya ialah :

1. Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa/nyawa orang lain, dihukum karena
membunuh dengan hukuman setinggi - tingginya 15 tahun.

2. Orang yang ingkar janji suatu perikatan yang telah diadakan, diwajibkan mengganti
kerugian, misalnya jual beli.

3. Dilarang mengganggu ketertiban umum.

Hukum biasanya dituangkan dalam bentuk peraturan yang tertulis, atau disebut juga
perundang - undangan. Perundang - undangan baik yang sifatnya nasional maupun peraturan
daerah dibuat oleh lembaga formal yang diberi kewenangan untuk membuatnys. Oleh karena
itu, norma hukum sangat mengikat bagi warga negara.
Dari sudut pandang umum sampai seberapa jauh tekanan norma diberlakukan oleh
masyarakat, norma dapat dibedakan sebagai berikut:

1. Cara (Usage) => Cara mengacu pada suatu bentuk perbuatan yang lebih menonjolkan
pada hubungan antarindividu. Penyimpangan pada cara tidak akan mendapatkan
hukuman yang berat, tetapi sekadar celaan, cemoohan, atau ejekan. Misalnya, orang
yang mengeluarkan bunyi dari mulut (sendawa) sebagai pertanda rasa kepuasan
setelah makan. Dalam suatu masyarakat, cara makan seperti itu dianggap tidak sopan.
Jika cara itu dilakukan, orang lain akan merasa tersinggung dan mencela cara makan
seperti itu.

2. Kebiasaan (Folkways) => Kebiasaan mempunyai kekuatan mengikat yang lebih tinggi
daripada cara (usage). Kebiasaan diartikan sebagai perbuatan yang diulang-ulang
dalam bentuk yang sama karena orang banyak menyukai perbuatan tersebut.
Misalnya, kebiasaan menghormati orang yang lebih tua.

3. Tata Kelakuan (Mores) => Jika kebiasaan tidak semata-mata dianggap sebagai cara
berperilaku, tetapi diterima sebagai norma pengatur, kebiasaan tersebut menjadi tata
kelakuan. Tata kelakuan mencerminkan sifat-sifat yang hidup dari sekelompok
manusia, yang dilaksanakan atas pengawasan baik secara sadar maupun tidak sadar
terhadap anggotanya. Tata kelakuan, di satu pihak memaksakan suatu perbuatan,
sedangkan di lain pihak merupakan larangan sehingga secara langsung menjadi alat
agar anggota masyarakat menyesuaikan perbuatan-perbuatannya dengan tata kelakuan
individu. Misalnya, larangan perkawinan yang terlalu dekat hubungan darah (incest).

4. Adat Istiadat (Custom) => Tata kelakuan yang terintegrasi secara kuat dengan
polapola perilaku masyarakat dapat meningkat menjadi adat istiadat. Anggota
masyarakat yang melanggar adat istiadat akan mendapat sanksi keras. Misalnya,
hukum adat di Lampung melarang terjadinya perceraian pasangan suami istri. Jika
terjadi perceraian, orang yang melakukan pelanggaran, termasuk keturunannya akan
dikeluarkan dari masyarakat hingga suatu saat keadaannya pulih kembali.

http://my-world-ly2k.blogspot.com/2012/02/definisi-nilai-dan-norma.html

Nilai merupakan milik setiap pribadi yang mengatur langkah-langkah yang seharusnya ani
yang dalam dan diperoleh seseorang sejak kecil.

Nilai dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan yang dewasa ini medapat perhatian
khusus, terutama bagi perawat menjadikan mereka lebih menyadari nilai dan hak orang lain
serta dirinya sendiri.

Pengertian Nilai

1. Nilai adalah suatu yang berharga. Keyakinan yang dipegang oleh seseorang sesuai
dengan tuntutan hati nuraninya(secara umum).
2. Seperangkat keyakinan dan sikap pribadi seseorang tentang kebenaran, keindahan, dan
penghargaan dari suatu pemikiran. Objek perilaku yang berorientasi pada tindakan dan
pemberian arah serta makna pada kehidupan seseorang (Simon, 1973)
3. Keyakinan seseorang tentang sesuatu yang berharga, kebenaran atau keinginan
mengenali ide-ide, objek atau perilaku khusus(Znowski, 1974).
Nilai-nilai timbul dari pengalaman pribadi seseorang dan berbeda untuk setiap orang , nilai
tesebut merupakan suatu ciri sebagai berikut;

1. Nilai-nilai membentuk dasar perilaku seseorang.


2. Nilai-nial nyata dari seseorang diperhatikan melalui pola perilaku yang konsisten.

Prinsip Dasar Konsep Nilai

o Menghargai Otonomi
Otonomi adalah kemampuan untuk menentukan sendiri atau mengatur diri sendiri,
menghargai otonomi menghargai manusia sebagai seseorang yang mempunyai harga
diri dan martabat yang mampu menetukan sesuatu bagi dirinya.
o Kedermawanan (Beneficiensi)
Beneficiensi : Merupakan prinsip melakukan yang baik dan tidak merugikan orang
lain.
o Manifestasi
Melukai atau menimbulkan bahaya / cidera bagi orang lain.
o Keadilan (Justice)
Adil pada hakikatnya berarti membawa kita memberikan kepada siapa saja yang
menjadi haknya, semua orang sama nilainya sebagai manusia, maka tuntutan paling
dasar keadilan adalah perlakuan yang sama terhadap semua orang.

Dalami, Ermawati dkk. 2010. Etika Keperawatan. Jakarta : Trans Info Media