Anda di halaman 1dari 12

PERENCANAAN MEMBANGUN INDUSTRI PAKAN AYAM BROILER DENGAN MENGGUNAKAN BUNGKIL INTI

SAWIT (BIS) SEBAGAI BAHAN TAMBAHAN DALAM PAKAN

BAB I

PENDAHULUAN

Pakan merupakan faktor penting dan strategis dalam meningkatkan produksi dan produktivitas
ternak, sehingga perlu dijaga agar ketersediaan dan mutu pakan yang beredar terjamin. Untuk
mendukung hal tersebut perlu dilakukan optimalisasi pemanfaatan bahan pakan lokal, pengembangan
pabrik pakan/unit pengolah pakan, serta menjaga keamanan dan kualitas pakan. Keamanan pakan
bertujuan untuk menjaga ketersediaan pakan yang baik.
Pakan yang baik dan berkualitas harus memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia)
dan Standard Internasional (Codex Alimentarius Commision).

Pabrik pakan bertujuan untuk memproduksi pakan dengan kualitas baik agar dengan mudah diterima
oleh peternak yang membutuhkan. Mutu Pakan adalah kesesuaian pakan terhadap dipenuhinya
persyaratan Standar Nasional Indonesia (SNI) atau Persyaratan Teknis Minimal (PTM) yang ditetapkan.
Tanggung jawab pabrik pakan adalah menjaga mutu dan kualitas produknya. Setiap Pabrik pakan
memiliki keunggulan masing-masing, sehinggadalam sistem pemasaran memerlukan trik agar pakan
yang diproduksi dapat di distribusikan.

BAB II

BUSINESS PLAN

2.1.Deskripsi Perusahaan

Broiler Feed with BIS merupakan suatu rencana perusahaan yang akan memproduksi pakan jadi
untuk ayam. Bahan pakan tambahan yang digunakan dalam pembuatan pakan mengandung Bungkil Inti
Sawit (BIS), sedangkan bahan utamnya adalah jagung. Penambahan limbah agroindustri ini belum
banyak digunakan sebagai pakan unggas dikarenakan mengandung serat kasar yang tinggi. Oleh karena
itu, perusahaan pakan ini akan menggunakan BIS dengan melakukan pengolahan melalui fermentasi.
Tujuan dari dilakukan fermentasi ini adalah untuk meningkatkan kecernaan protein.

2.1.1. Visi dan Misi

a. Visi

Memanfaatkan pakan lokal dan limbah agroindustri sebagai pakan ayam untuk memperoleh hasil
produktivitas optimal. Melakukan pengolahan BIS agar dapat diterima oleh sistem pencernaan unggas
dan meningkatkan konsumsi pakan.
b. Misi

Untuk mencapai produktivitas yang optimal tersebut, maka diperlukan misi-misi pendukung
terwujudnya visi, yaitu :

- Melakukan pemilihan bahan baku pakan secara baik dan benar, baik secara fisik maupun kimia.

- Melakukan pengolahan BIS dengan proses fermentasi melalui metode yang sesuai.

- Menjaga kebersihan ataupun keamanan bahan baku dan pakan.

- Memperkenalkan kepada konsumen tentang BIS dan keunggulannya.

- Mengetahui pasar, sasaran, distribusi dan harga.

- Kemudahan memperoleh informasi perusahaan.

2.1.2. Analisis Situasi

Bungkil Inti Sawit (BIS) merupakan salah satu limbah agroindustri yang banyak tersedia dari
proses pengolahan minyak sawit. Pemanfaatan BIS masih belum banyak digunakan. Limbah agroindustri
ini memiliki kandungan serat kasar yang tinggi, sehingga dalam penggunaannya hanya dalam jumlah
sedikit atau dilakukan pengolahan, misalnya dengan melakukan fermentasi menggunakan
mikroorganisme.

Ketersediaan BIS cukup banyak di Indonesia. Menggunakan bahan pakan lokal dapat meminimalkan
impor pakan, sehingga dapat menekan keuangan. Selain kualitas pakan, kandungan gizi suatu bahan
sangat diperlukan dalam membuat formula pakan, sesuai dengan kebutuhan ternak sehingga perlu
diperhatikan jumlahnya.

2.1.3. Gambaran Produk

Memiliki tambahan bahan pakan berupa BIS untuk meningkatkan jumlah konsumsi dan kecernaan
protein ayam. Pengolahan BIS dialakukan dengan fermentasi terlebih dahulu sebelum ditambahkan.
Kandungan protein dan serat kasar yang terdapat dalam BIS sangat tinggi. Oleh karena itu, BIS
difermentasi terlebih dahulu. Bahan baku BIS digunakan sebagai asupan protein bagi ternak ayam.

2.1.4. Lingkungan Tempat Produksi


Produksi pengolahan bahan pakan menjadi pakan jadi dilakukan sepenuhnya dil ingkungan pabrik,
hal ini dikarenakan untuk mempermudah mengecekan (kontrol) mutu dan kualitas serta menjaga
keamanan bahan pakan dan pakan jadi.

2.1.5. Pembentukan Struktur Organisasi Perusahaan

Berdirinya suatu pabrik pakan harus diiringi dengan kepemimpinan. Pembentukan struktur
organisani bertujuan untuk mempermudah segala proses yang terjadi dalam perusahaan, memiliki
penanggung jawab, lebih terkoordinasi, dan mudah memperoleh data dan informasi. Struktur organisasi
dibentuk sesuai dengan latar belakang karyawan agar dapat dijalankan dengan baik.

2.1.6. Resiko

Resiko yang akan dihadapi adalah adanya fluktuasi harga bahan baku yang akan mempengaruhi
produksi dan harga jual pakan. Modal untuk bahan baku bertambah, biaya produksi meningkat, produksi
pakan dapat menurun atau tetap dan hal ini akan menyebabkan harga jual produk naik dan ini dapat
menjadi ancaman bagi besar kecilnya penjualan. Kepercayaan peternak yang akan menjadi konsumen
juga tidak mudah, biasanya peternak akan memilih produk pakan yang sudah biasa mereka gunakan dari
satu merek tertentu.

2.2.Produksi

2.1. Bahan dan Alat Produksi

a. Bangunan Pabrik

Suatu pabrik pakan yang akan dibangun, diawali dengan menyediakan lahan sebagai tempat
berdirinya pabrik. Pabrik yang akan dibuat disesuaikan dengan jenis usaha yang akan dilakukan.
Ketersediaan lahan atau tempat pabrik pakan diusahkan berada pada tempat strategis agar
mempermudah akses.

b. Bahan Baku

Manajemen ketersediaan bahan baku untuk produksi pakan. Bahan baku yang digunakan dalam
produksi diperoleh dari pemasok dengan syarat dan ketentuan yang telah disepakati bersama. Pemilihan
bahan baku didasarkan pada kebutuhan nutrisi ayam. Oleh karena itu, membutuhkan pertimbangan dan
analisa bahan pakan untuk memperoleh bahan baku yang berkualitas.
c. Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan disesuikan dengan ilmu atau
keahlian yang dimiliki.

2.2.Proses Produksi

a. Pemilihan bahan baku pakan

Bahan baku yang digunakan dipilih sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan dan
di sesuaikan dengan SNI.
Bahan pakan yang telah diseleksi, kemudian diamankan untuk menjaga kualitas bahan. Pengolahan
bahan pakan dilakukan dengan bantuan mesin agar mempercepat proses pembuatan pakan.

BIS yang digunakan dilakukan fermentasi dengan prosedur sebagai berikut :

- Bungkil inti sawit ditambah air sebanyak 600 ml per kg


BIS, kemudian ditiriskan, agar tidak terlalu basah. Bahan yang telah ditiriskan, dikukus dan dibiarkan
sampai uap air keluar dan ditutup, kemudian dibiarkan selama 30 menit. Proses selanjutnya
didinginkan hingga suhunya 70oC dan diaduk bersama campuran mineral.

- Setelah itu dicampur dengan kapang Aspergillus niger sebanyak 6-10


g per kilogram bahan, diaduk sampai merata dan dimasukkan ke dalam loyang plastik (tray).
Selanjutnya difermentasi pada suhu 30oC selama 3
hari, kemudian dilakukan proses enzimatis selama 2
hari dengan cara dipadatkan dalam kantong plastik
dengan kondisi hampa udara. Pada proses enzimatis dipergunakan suhu ruang dan 40oC. Tahap
selanjutnya adalah pengeringan dalam oven pada suhu 60C selama lebih kurang 2 hari.

b. Uji Kualitas Pakan

Ransum tersusun dari kumpulan bahan baku yang diformulasikan secara khusus sehingga memiliki
kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan. Kualitas ransum sangat ditentukan dari kualitas bahan
baku yang digunakan. Namun saat ini kualitas bahan baku sulit dipertahankan karena iklim sudah tidak
stabil lagi akibat adanya pemanasan global. Selain itu perbedaan supplier juga akan mempengaruhi
keragaman kualitas bahan baku. Melihat kondisi tersebut perlu sekiranya kita melakukan suatu uji yang
terdiri dari uji fisik, mikroskopik maupun kimia agar bahan baku dan ransum tetap berkualitas.

Dari pengujian bahan baku, terutama uji kimia, kita bisa mendapatkan data real kandungan nutrisi
yang dapat digunakan sebagai dasar formulasi ransum. Dan pengujian ransum jadi dapat difungsikan
untuk memastikan kembali ransum yang dibuat apakah sudah sama dengan formula awal. Hal ini perlu
dilakukan karena terkait alur proses pembuatan ransum yang panjang terutama saat penimbangan dan
pencampuran yang sangat memungkinkan terjadinya penurunan kualitas.

Terdapat perbedaan parameter yang diukur dalam pengujian kualitas fisik, mikroskopik dan kimia.
Namun ketiganya mempunyai hubungan yang erat. Misalnya jika kualitas fisik dan mikroskopik tidak
bagus maka kemungkinan besar kualitas kimianya juga kurang bagus.

1. Uji fisik

Uji fisik dilakukan dengan melihat penampakan yang bisa diukur dengan panca indra, seperti berat
jenis, ukuran partikel (partikel size), biji pecah, biji jamur, benda asing, kutu, bau, warna dan rasa.

Berat jenis (BJ)

Adalah mengukur berat sampel dibagi dengan volume sampel, satuannya g/l. Langkah pengujiannya
dengan mengambil sampel, selanjutnya dimasukkan dalam tabung ukur 1 l lalu ditimbang untuk
mengetahui beratnya.

Kontaminasi

Adalah bahan yang tidak diharapkan ada dalam bahan baku atau ransum. Adanya bahan kontaminan ini
akan mengakibatkan adanya nilai nutrisi semu, seperti halnya penambahan urea pada tepung ikan atau
kontaminasi tepung bulu pada meat bone meal (MBM) atau poultry meat meal (PMM). Penambahan
urea maupun tepung bulu akan meningkatkan nilai protein kasar, namun urea tidak dapat dimanfaatkan
oleh tubuh ayam, bahkan beracun sedangkan protein kasar dari tepung bulu meskipun kadarnya tinggi
namun kecernaannya rendah.

Selain urea dan tepung bulu, penambahan bahan kontaminan juga bisa meningkatkan berat (massa),
biasanya dengan menambahkan kerikil. Salah satu cara mendeteksinya bisa dilakukan uji BJ. Selain itu,
kontaminasi biji pecah, biji berjamur, kutu, kotoran (benang, tumpi, janggel, dll) juga sering terjadi. Sieve
shaker, suatu alat bantu yang bisa digunakan untuk mendeteksi adanya bahan kontaminan, seperti
pecahan biji jagung. Alat ini bekerja dengan memisahkan ukuran sampel melalui
beberapa screen dengan ukuran berbeda (semakin ke bawah semakin kecil). Hasil perhitungan jumlah
bahan kontaminan kemudian dibandingkan dengan standar. Menurut SNI (1998), jumlah biji pecah
dalam jagung maksimal 2%.Sieve shaker berfungsi memisahkan partikel pada sampel biji-bijian.

Bau

Setiap bahan baku penyusun ransum maupun ransum jadi mempunyai bau dan warna yang spesifik.
Misalnya jagung mempunyai aroma khas jagung. Bungkil kedelai yang bagus mempunyai ciri-ciri fisik bau
segar khas kedelai.

Warna

Setiap bahan baku penyusun ransum maupun ransum jadi mempunyai warna yang spesifik. Warna
mempengaruhi kandungan nutrisi suatu bahan baku. Misalnya jagung warna kuning keputihan
kandungan karotenoidnya lebih rendah dibanding dengan jagung kuning orange. Berbeda dengan
bungkil kacang kedelai, warna yang terlalu cerah keputihan mengindikasikan kandungan tripsin
inhibitor tinggi (suatu zat yang menghambat pencernaan protein).

Rasa

Sama halnya dengan bau dan warna, uji rasa bisa digunakan untuk mendeteksi kualitas. Jika rasa tepung
ikan sama seperti asinnya masakan, maka diprediksikan kadar garamnya sekitar 23%.

2. Uji mikroskopis

Pengujian dengan mengamati ukuran dan bentuk partikel bahan menggunakan alat mikroskop. Dalam uji
mikroskopis metode TCE (Tetrachorethilene), mikroskop yang digunakan adalah mikroskop sterio dengan
kemampuan perbesaran 8-50 kali dan mikroskop compound dengan perbesaran 4-400 kali. Dengan
menggunakan alat tersebut ciri-ciri fisik bahan baku bisa diketahui lebih detail, sehingga jika ada
kontaminasi bisa terdeteksi. Adanya kontaminasi tepung bulu pada tepung ikan ditandai dengan adanya
serabut tipis.

3. Uji Kimia

Adalah nilai suatu zat yang ada di dalam sampel yang bisa diketahui dengan adanya suatu reaksi kimia.
Kualitas kimia yang minimal harus di-ketahui oleh pelaku usaha ayam adalah kadar air (KA), protein kasar
(PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), abu, kalsium (Ca), fosfor (P) dan energi metabolisme (EM). Hasil
analisis ini menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak akan digunakan dalam campuran.
Kedelapan parameter nutrisi tersebut ada yang dibutuhkan ayam dalam jumlah banyak dan ada yang
dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Jika ada parameter nutrisi yang tidak seimbang, maka efeknya akan
sangat besar terhadap performa ayam.

Kadar Air (KA)

Kadar air menentukan nilai presentase nutrisi yang ada dalam bahan baku atau ransum jadi. KA yang
tinggi akan menurunkan kandungan nutrisi yang ada dan mempengaruhi tingkat kontaminasi jamur.
Selain itu KA juga mempengaruhi warna, bau dan tekstur.

Protein Kasar (PK)

Protein kasar sangat dibutuhkan ayam untuk pertumbuhan dan produksi, sehingga kandungannya wajib
diketahui. Namun jika jumlahnya kelebihan akan memicu feses basah.

Lemak Kasar (LK)

Lemak kasar adalah komponen nutrisi yang dibutuhkan oleh ayam namun jika kelebihan akan
berdampak negatif, seperti penurunan feed intake. Salah satu fungsi lemak adalah sebagai pelarut
vitamin (A,D,E,K) dan sumber energi.
Serat Kasar (LK)

Salah satu fungsi serat yaitu mempengaruhi laju alir pakan dalam usus sehingga memudahkan proses
pencernaan dan penyerapan nutrisi. Meskipun demikian jika kelebihan justru akan menghambat
pencernaan dan penyerapan karena serat kasar tidak dapat dicerna oleh ayam.

Abu

Kandungan abu mencerminkan kandungan mineral secara kuantitatif. Semakin banyak abu maka
semakin banyak kandungan mineralnya. Namun jika jumlahnya kelebihan, proses penyerapan nutrisi
akan terganggu dan menurunkan nafsu makan.

Kalsium (Ca) dan fosfor (P)

Kalsium dan fosfor adalah mineral yang sangat dibutuhkan ayam. Kekurangan kalsium dan fosfor
berakibat pertumbuhan tulang dan kualitas kerabang telur akan terganggu. Namun jika kelebihan justru
akan mengurangi daya serapnya.

Energi metabolisme (P)

Energi metabolisme adalah energi yang dapat digunakan oleh tubuh ayam. Kelebihan energi akan
berdampak terhadap penurunan konsumsi ransum.

Untuk mendapatkan hasil pengujian yang mewakili kualitas seluruh sampel bahan baku atau ransum jadi,
dibutuhkan sampel yang representatif. Sampel yang representatif didapatkan dari 10% total bahan baku
atau ransum yang ada dan diambil secara acak di setiap bagian. Misalnya dalam gudang ransum terdapat
100 karung, maka yang diambil sampel adalah 10 karung (total sampel yang didapatkan 2 kg dari 10
karung tersebut).

Pengujian kualitas fisik, mikroskopik dan kimia mempunyai tujuan untuk memastikan bahan baku atau
ransum jadi benar-benar berkualitas. Uji kualitas sebaiknya dilakukan secara periodik, disetiap
kedatangan bahan baku dan ransum maupun saat terjadi perubahan supplier.

2.3.Pemasaran

Produksi unggas Indonesia telah dapat memenuhi kebutuhan daging ayam, dimana produk ini
dihasilkan terutama dari usaha ayam ras modern. Biaya pakan unggas dapat mencapai 70% dari biaya
produksi. Ransum unggas disusun dari bahan baku lokal dan impor dengan menggunakan teknik
formulasi pakan dengan biaya terendah untuk memenuhi kebutuhan gizi unggas. Bahan baku
dikelompokkan ke dalam sumber energi, protein, hasil samping industri pertanian, mineral dan
suplemen gizi. Imbuhan pakan yang terdiri dari antibiotika, enzim, bahan pengawet dan lain-lain
ditambahkan untuk meningkatkan penampilan produksi.
Produksi pakan di Indonesia hampir mencapai 7 juta ton, yang terdiri dari 85% pakan unggas
sedangkan sisanya untuk pakan ikan, babi dan ternak lainya. Ransum unggas umumnya menggunakan
jagung, bungkil inti sawit (BIS) dan bungkil kedelai sebagai bahan utama clan masing-masing dapat
mencapai 55 clan 23% dari total ransum unggas. Kebutuhan bahan baku dapat dihitung dari produksi
pakan dan untuk memenuhi kebutuhan bahan pakan.

Secara teknis operasional, kegiatan manajerial untuk pengelolaan pabrik pakan ternak unggas Skala kecil
adalah sebagai berikut:

a. Melakukan pemesanan sesuai dengan proyeksi produksi

b. Melakukan proses MRP

c. Melakukan MoU dengan para pemasok

d. Memeriksa kandungan air

e. Memeriksa kualitas dankuantitas bahan

f. Mengelola penyimpanan bahan baku sesuai dengan standar

kualitas.

Manajemen Produksi Proses Skema produksi Pembuatan layout produk Penerapan konsep Total
Quality management Penentuan kapasitas produksi Penentuan komposisi bahan baku dengan bantuan
software pakan ternak Uji produk secara periodik ke laboratorium untuk mengetahui kadar nutrisi pakan
Pengemasan dan labeling Manajemen Stok Mapping pasar Pengelolaan stok perdasarkan produksi dan
pasar.

Perencanaan produksi sangat krusial dalam proses teknis selanjutnya, karena secara umum
pekerjaan selanjutnya diotomatisasi menggunakan software dan mesin produksi. Titik krusial yang
sangat berpengaruh pada efesiensi usaha adalah pada proses pemasaran, proses pembelian bahan baku
pakan.

2.3.1. Desain Produk

A. a. 5 ton per hari

b. Mesin dirakit di Indonesia

c. Maintenance dilakukan oleh SDM setempat

d. Pinja ma n 10 Ta hu n

e. Bunga 16% flat


f. Grace periode 6 bulan

g. Nilai investasi sekitar Rp. 1.977.900.000,- (pinjaman)

h. Modal kerja untuk 3 bulan produksi sebesar

Rp. 1.582.708.500,- (idealnya modal sendiri)

i. Jadi total kebutuhan dana adalah sebesar

Rp. 3.560.608.500,-

B. Pakan temak ungas (broiler)

a. Starter (pakan untuk DOC)

b. Grower (pakan untukayam usia pertumbuhan)

c. Finisher (ayam menjelang dijual)

a. Starter

Produk pakan ternak yang dijual untuk keperluan peternak ayam potong, dengan variasi produk
sebagaistarter, sedangkan pakan untuk periode awal pertumbuhan sampai dengan ayam usia 10 hari,
pakan dalam periode ini mempunyai tingkat protein sangat tinggi mencapai 20% dengan biaya produksi
relative lebih tinggi dibandingkan dengan kebutuhan grower dan finisher.

b. Grower

Pakan untuk periode pertumbuhan antara10 hari sampai 25 hari dengan kadar protein lebih rendah
dibandingkan dengan para periode starter.

c. Finisher

Pakan untuk periode akhir antara 26 hari sampai 38 hari dengan kadar protein lebih rendah
dibandingkan dengan para periode grower, pada periode ini pakan berukuran lebih besar.

C. Kelayakan

1. Kapasitas tahun pertama 5 ton per hari dan dinaikan

secara periodik
2. Rol 3 tahun

3. IRR61%

4. NPV : 6.663.461.000,-

2.3.2. Penetapan Harga Jual

Harga pakan ternak secara umum relatif stabil berada dalam kisaran Rp. 5.000 di tingkat peternak.
Harga pakan juga tidak terlalu terpengaruh oleh harga bahan baku jagung yang sangat fluktuatif, dengan
demikian maka margin keuntungan pembuatan pakan akan sangat ditentukan oleh manajemen stok
bahan baku pakan terutama jagung.

Penentuan harga dalam profil ini mengacu pada harga pakan unggas pada awal tahun 2009, yaitu :

1. Jenis Pakan Keterangan Penggunaan Harga/ Kg (Rp)

Starter DOC sampai dengan satu minggu 5.150

Grower Ayam dalam mass pertumbuhan 5.050

Finisher Ayam mendekati usia panen (sekitar 5.000 38 hari)

Biaya produksi pakan sangat ditentukan oleh harga jagung, sebagai komponen utama pakan
ternak (60%) di para pengumpul jagung kering dengan kadar air sekitar 10% harganya Rp. 1.900 (harga
ini relatif fluktuasi) tergantung musim tanam, pada kondisi sangat baik, harga jagung di tingkat petani
dapat mencapai Rp. 2.900.

2.3.3. Strategi Pemasaran

Pola pemasaran relasional, lebih dari sekedar personal selling, strategi ini akan berpengaruh pada
asumsi biaya modal selama 3 bulan, untuk mengantisipasi adanya kemadekan:

a. Segmentasi

1. Geografis

2. Skala usaha menengah dan kecil

3. Kepemilikan modal

b. Targeting

1. Peternak kecil
2. Peternak menengah yang mandiri

3. Berada di lokasi yang berdekatan dengan pabrik

c. Positioning

Pakan murah berkualitas

d. Marketing Mix

1. Produk untuk broiler

2. Harga lebih murah dibandingkan produk sejenis

3. Distribusi langsung ke peternak

4. Pola penjualan yang dioptimalkan adala h personal selling

5. Promosi dilakukan bersamaan dengan panen

Terdapat beberapa keunggulan investasi pakan ternak, yang sangat penting dipertimbangkan oleh
para calon investor, antara lain adalah sebagai berikut:

1. Pola pemasaran yang mudah bila terintegrasi dengan pengembangan peternakan unggas

2. Bisa terintegrasi dengan pengembangan pertanian jagung clan peternakan unggas.

3. Dapat dibuat dalam Skala kawasan dengan konsep cluster

4. Mempunyai nilai tambah yang sangat besar bagi masyarakat sekitar, bagi sektor terkait, clan
terutama bagi peningkatan geliat pertumbuhan ekonomi kawasan.

5. Produk yang dihasilkan dapat lebih murah dibandingkan para pesaing.

Secara umum investasi pakan ternak menguntungkan setara langsung bagi pemodal, maupun
memberikan maslahat bagistakeholders maupun masyarakat sekitar.

2.3.4. Distribusi

a. Jumlah permintaan sangat tinggi mencapai sekitar 1500 ton per bulan.

b. Kompetisi cukup tinggi, dengan pola pemasaran relasional,sehingga setiap perusahaan pakan
dapat membangun pelanggannya sendiri-sendiri.

c. Pola pemasaran langsung kepada mitra binaan yang dipasok pakan pembayaran setelah panen.
Terkait dengan keterhubungan dengan pasar, maka perusahaan dapat meniru pola pemasaran
yang sudah berjalan dengan pola kemitraan dengan para peternak, terutama peternak kecil yang selama
ini sangat tergantung dari pasokan pakan dari perusahaan besar. Upaya menekan biaya produksi dapat
dilakukan dengan melakukan manajemen pembelian dan pengelolaan stok bahan baku utama dan
tambahan, karena harga jagung sebagai bahan baku utama cenderung fluktuatif sepanjang tahun. Bisnis
yang direkomendasikan dalam profit ini adalah bisnis pakan ternak skala kecil, terutama bila
dibandingkan dengan para pelaku pakan ternak saat ini yang kapasitas produksinya mencapai puluhan
ribu ton per bulan.

Untuk tahap permulaan direkomendasikan pabrik pakan dengan kapasitas sampai dengan 300 ton
per bulan, atau setara dengan kebutuhan pakan ayam sekitar 80.000 ekor per periode, jumlah tersebut
relatif moderat mengingat beberapa distributor pakan di Kabupaten Garut yang telah menjual dapat
mencapai 700 ton per bulan', padahal di Kabupaten Garut terdapat beberapa distributor pakan yang
mempunyai omset tidak jauh berbeda.

Investasi pabrik pakan ternak, telah banyak dinantikan oleh para pelaku usaha perunggasan,
dengan harapan mereka menclapat harga lebih murah, dengan kualitas pakan yang memenuhi standar
dalam hal kadar nutrisi clan tingkat days cernanya. Potensi ini belum banyak dilirik karena kurang
populer jika dibandingkan dengan investasi di bidang pariwisata dan tambang yang setara kasat mata
lebih mudah pengelolaannya, turn over nya relatif lebih cepat, dan telah banyak contoh investasi yang
berhasil di sektor tersebut.

2.3.5. Proyeksi Permintaan

Kebutuhan pakan per ekor ternak unggas pedaging dari DOC sampai panen (sekitar 38 hari)
kurang lebih 3 Kg pakan. Dengan demikian maka proyeksi permintaan dapat disesuaikan dengan proyeksi
pengembangan petenakan.

Dari hasil survey lapangan, para peternak mandiri yang potensial dibangkitkan kembali sekitar 98
orang, dengan rata-rata kepemilikan ayam 1000 ekor per orang maka permintaan pakan per periode
adalah sebanyak 98 X 1.000 X 3 Kg = 294 ton per periode pemeliharaan atau kira setara dengan 5 ton
pakan per hari