Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK PERAH

Manajemen Pakan Sapi Perah

Disusun oleh:

Kelas B

Kelompok 8

Elisa Nur Oktaviani 200110120023


Reza Febrian 200110120044
Aditya Fathurrahman 200110130089
Putri Dewi 200110130014
Diniar Suci D 200110130129
Rina Latvia 200110130310
Nuraisyah S. P. W 200110130348

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2015
I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Produktivitas seekor ternak ditentukan oleh faktor genetik sebagai variable

tetap dan lingkungan sebagai variable kontrol. Dalam hal ini faktor lingkungan

berperan lebih banyak dalam menentukan produktivitas ternak yaitu sebesar 70%,

sedangkan faktor genetik hanya menyumbangkan 30% kontribusinya dalam


menentukan produksivitas ternak. Sapi perah sebagai ternak yang dipelihara dengan

tujuan untuk menghasilkan susu sebagai produk utamanya juga produktivitasnya

ditentukan oleh kedua faktor tersebut. Kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan

sangat bergantung pada potensi genetik induk serta manajemen pemeliharaan yang

diterapkan peternak. Manajemen pemeliharaan meliputi manajemen kandang,

manajemen breeding, serta manajemen pakan.

Pakan merupakan salah satu komponen yang paling dibutuhkan oleh ternak

untuk dapat mempertahankan hidupnya serta melakukan proses produksi. Dalam

suatu usaha peternakan, pada umumnya kebutuhan terhadap pakan merupakan

kebutuhan utama dan dapat menghabiskan sekitar 70% dari total pengeluaran.
Kualitas pakan yang baik serta didukung dengan pemberian yang baik pula terhadap

ternak akan meningkatkan performa dan produkstivitas ternak.

Pada sapi perah, pemilihan dan pemberian jenis pakan harus dilakukan secara

tepat, karena akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas susu yang dihasilkan.

Oleh karena itu, pengetahuan tentang pakan ini harus dimiliki oleh setiap peternak
yang ingin sukses dalam beternak sapi perah dengan kualitas dan kuantitas susu yang

baik.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana kebutuhan nutrisi pakan komplit pada tiap periode laktasi.

2. Apa saja komposisi nutrisi dalam pakan.

3. Bagaimanan cara pembuatan pakan komplit.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui kebutuhan nutrisi pakan komplit pada tiap periode laktasi.

2. Mengetahui komposisi nutrisi dalam pakan.

3. Mengetahui cara pembuatan pakan komplit.


II

KAJIAN KEPUSTAKAAN

2.1 Kebutuhan Pakan PerPeriode Laktasi

2.1.1 Periode Awal Laktasi

Masa awal laktasi biasanya adalah pada 100 hari pertama laktasi, pada masa
awal laktasi sapi akan mengalami puncak produksi susu yaitu pada bulan kedua

laktasi pada sapi Holstein. Konsumsi pakan menurun, akibatnya sapi akan mengalami

penurunan berat badan. Dan pada akhir masa awal laktasi ini sapi akan mengalami

puncak konsumsi dry matter yang akan menyebabkan penurunan berat badan (berat

badan turun sehingga menjadi paling rendah pada masa laktasi).

Pemberian ransum pada sapi laktasi biasanya mengacu pada kebutuhan

protein (CP) dan energi (net energy). Akan tetapi untuk mendapatkan produksi

maksimal, pemberian ransum harus seimbang effective fiber, non-structural

carbohydrates, ruminal undegraded protein, soluble protein-nya.

Penambahan konsentrat peda pakan antara 0.5-0.7 kg/hari selama dua minggu
pertama laktasi, jangan sampai kebanyakan hal ini Untuk menghindari permasalahan

pencernaan seperti asidosis, dan penurunan intake. Protein sangat penting pada awal

laktasi. Jadi pada masa awal laktasi rekomendasi pemberian protein 17-19% pada

ransum. Sekitar 30-35% dari protein harus proiten yang tidak terdegradasi di rumen

(UIP), 30% adalah protein yang dapat tercerna.


2.1.2 Periode Pertengahan Laktasi

Periode pertengahan laktasi adalah periode dari 100 hari sampai 200 setelah

melahirkan anak. Fase Pada periode ini sapi akan mengalami puncak produksi (8-10

minggu setelah kelahiran) sapi juga mengalami puncak DM intake sehingga tidak

mengalami penurunan bobot badan. Sapi akan mengalami puncak DM tidak lebih

dari 10 minggu setelah melahirkan. Pada posisi ini, sapi akan makan DM tidak

kurang 4% dari bobot badan. Pemberian pakan yang baik akan memperpanjang
puncak produksi. Pada breed yang bagus setiap 2 kg susu yang dihasilkan akan

membutuhkan DM sebanyak 1 kg (McDonald, 2002).

Target yang harus dihasilkan pada saat puncak produksi, adalah untuk

menghasilkan produksi susu sebanyak-banyaknya. rata-rata sapi pada periode ini

menghasilkan susu 200-225 kg dari seluruh masa laktasi sebelumya. Kunci dari

periode pertengahan laktasi ini adalah memaksimalkan DM intake. Pada periode ini

sapi dituntunt untuk diberi pakan dengan kualitas hijauan yang tinggi (minimal 40-

45% DM pada ransum) dan tingkat efektifitas serat hampir sama dengan masa awal

laktasi.

2.1.3 Periode Akhir Laktasi


Periode ini adalah mulai 200 hari setelah melahirkan dan diakhiri pada saat

masa kering sapi.periode ini produksi susu menurun dan feed intake juga menurun.

Oleh karena itu feed intake tidak sebanding dengan susu yang dihasilkan. Sapi juga

akan mengalami peningkatan bobot badan, hal ini untuk mengganti jaringan yang

hilang (BB) pada saat periode awal laktasi. Makanan sumber protein dan energy tidak

begitu penting dalam periode ini. Ransum yang murah dapat diformulasikan dengan
NPN dan sumber dan karbohidrat yang mudah terfermentasi seperti molasses

(McDonald, 2002).

2.2 Pakan Komplit

Dalam teknologi pakan ternak kini dikembangkan sebuah inovasi produk

yang baru yaitu pakan lengkap (pakan komplit), yang mempunyai nilai nutrisi lebih

lengkap dan lebih tinggi dibanding dengan bahan pakan asalnya. Pakan komplit

merupakan sistem pemberian pakan dalam bentuk tunggal dari hasil pencampuran
bahan-bahan pakan yang telah menjalani proses pelleting untuk menghindari seleksi

pakan oleh ternak, meningkatkan nilai nutrisi, palatabilitas, efisiensi pakan, serta

memudahkan pemberian pakan di lapangan (Owens, 1979).

Pakan lengkap (pakan komplit) merupakan sistem pemberian pakan dalam

bentuk tunggal yang dapat dibuat dengan proses pelleting, yaitu proses pencampuran

atau penggabungan beberapa bahan pakan melalui proses mekanik dengan tujuan

untuk meningkatkan nilai nutrisi, palatabilitas, efisiensi pakan, menghindari seleksi

pakan oleh ternak serta memudahkan pemberian pakan di lapangan (Owens, 1979).

Ruminansia mempunyai sifat seleksi terhadap bahan pakan yang tersedia dan tidak

ada kontrol terhadap kemungkinan akibat buruk suatu bahan pakan (Parakkasi,
1995). Pemberian pakan komplit pada ternak sapi potong diharapkan mampu

mencukupi kebutuhan nutrisi ternak.

Hartadi, dkk (1997) menyatakan bahwa pakan komplit adalah makanan yang

cukup gizi untuk ternak tertentu, di dalam tingkat fisiologi tertentu, dibentuk atau

dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan dan mampu merawat hidup

pokok atau produksi (atau keduanya) tanpa tambahan atau substansi lain. Pakan
komplit dapat dibuat dengan pelleting atau proses aglomerasi (penggabungan)

beberapa bahan pakan melalui proses mekanik dengan tujuan untuk meningkatkan

nilai nutrisi, palatabilitas, efisiensi pakan, serta memudahkan pemberian pakan di

lapangan

2.3 Komposisi Nutrisi Hijauan dan Konsentrat

Kandungan karbohidrat mudah larut dalam air (Water Soluble Carbohydrate

atau WSC) pada rumput-rumputan umumnya adalah fruktan dan beberapa komponen
gula seperti glukosa, sukrosa dan raffinosa. Rumput-rumputan asal temperate

kandungan karbohidratnya lebih banyak dalam bentuk fruktan sebagai bahan yang

mudah larut dala air (WSC) yang umumnya disimpan dalam batang, sedangkan jenis

rumput-rumputan asal tropis dan subtropics umumnya lebih banyak mengandung

karbohidrat dalam bentuk pati daripada fruktan dan umumnya disimpan dalam bagian

daun.

Hal yang mempengaruhi komposisi nutrisi hijauan yaitu :

1. Spesies tanaman

2. Umur tanaman, contohnya PK<3% pada rumput yang sudah tua,

sedangkan pada rumput yang masih muda dapat mencapai >30%.


3. Iklim

4. Pemupukan

Dibanding fruktan, pati lebih sulit larut dalam air sehingga kandungan WSC

rumput-rumputan asal tropis sangat rendah (<6%) dibandingkan rumput-rumputan

asal temperate (>7%). Kandungan nutrisi hijauan tersebut perlu diperhatikan


sehubungan dengan proses pengawetan hijauan baik berupa pengawetan kering (hay)

maupun pada proses pengawetan basah/segar (silase).

Penggolongan tanaman budidaya maupun alami yang umum digunakan

sebagai hijauan makanan ternak terdiri atas jenis rumput-rumputan (gramineae),

perdu atau semak (herba), dan pepohonan. Spesies hijauan yang memiliki potensi

tinggi sebagai hijauan makanan ternak, antara lain: rumput-rumputan, perdu/semak

dan legum pohon. Rumput-rumputan terdiri atas rumput para (Brachiaria mutica),
rumput benggala (Panicum maximum), rumput kolonjono (Panicum muticum), dan

rumput buffel (Cenchrus ciliaris).

Perdu/semak terdiri atas beberapa jenis legum seperti kacang gude (Cajanus

cajan), komak (Dolichos lablab), dan perdu lainnya dari limbah tanaman pangan

pertanian seperti jerami padi, jagung, kedelai, kacang tanah, ubi jalar dan daun ubi

kayu. Legum pohon terdiri atas sengon laut (Albazzia falcataria), lamtoro (Leucaena

leucocephala), kaliandra (Calliandra calothyrsus) dan turi (Sesbania grandiflora)

(Reksohadiprojo, 1984).

Manurung (1996) menyatakan bahwa hijauan leguminosa merupakan sumber

protein yang penting untuk ternak ruminansia. Keberadaannya dalam ransum ternak
akan meningkatkan kualitas pakan. Limbah pertanian adalah hasil ikutan dari

pengolahan tanaman pangan yang produksinya sangat tergantung pada jenis dan

jumlah areal penanaman atau pola tanam dari tanaman pangan disuatu wilayah

(Makkar, 2002).

Konsentrat dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu konsentrat sumber protein

dan konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi apabila
mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20% dan serat kasar 18%,

sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena mempunyai

kandungan protein lebih besar dari 20% (Sutardi, T. 1981).

Komposisi membuat konsentrat untuk pertumbuhan berat badan yang baik,

dalam komposisi konsentrat tersebut harus terkandung unsur protein yaitu

komposisinya terdiri dari dedak halus 75%, jagung giling 8%, bungkil kedelai 3%,

bungkil kelapa 10%, kalsium 2% dan garam dapur 2%. Semua bahan itu harus dalam
kondisi lembut agar mudah bercampur satu sama lain. Bahan itu kemudian dicampur

dalam suatu wadah dan diaduk sampai merata (Siregar, S. B. 1995).


III

PEMBAHASAN

3.1 Kebutuhan Nutrisi Pakan komplit Pada Sapi Laktasi

Menurut Hartadi, dkk (1997) menyatakan bahwa pakan komplit adalah

makanan yang cukup gizi untuk ternak tertentu, di dalam tingkat fisiologi tertentu,

dibentuk atau dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan dan mampu
merawat hidup pokok atau produksi (atau keduanya) tanpa tambahan atau substansi

lain. Sehingga pakan komplit itu ialah kombinasi dari hijauan dan konsentrat yang

sedemikian rupa diproses untuk menghasilkan produk pakan yang memiliki nilai

nutrisi tinggi dan baik bagi dikonsumsi ternak

Pada sapi perah awal laktasi biasanya berkisar pada 100 hari pertama. Pada

masa ini sapi perah akan sedikit mengalami penurunan konsumsi pakan yang

berakibat terjadi penurunan bobot badan sapi. Hal ini karena daya adaptasi sapi perah

yang masih melakukan adaptasi dari periose dara ke periode laktasi dengan perbedaan

yang signifikan. Pada masa laktasi, sapi perah dikawinkan untuk dapat memproduksi

susu pasca partus pertama sapi. Sapi perah akan dapat memproduksi susu jika telah
kawin dan melahirkan pedet.

Pemberian ransum pada sapi laktasi biasanya mengacu pada kebutuhan

protein (CP) dan energy (net energy). Akan tetapi untuk mendapatkan produksi

maksimal, pemberian ransum harus seimbang effective fiber, non-structural

carbohydrates, ruminal undegraded protein, soluble protein-nya.

Pada masa awal laktasi, pemberian hijauan minimal 40% dari total DM . dengan
panjang partikel hijauan minimal 2.6 cm agar pengunyahan (produksi saliva) maksimal.

Hijauan yang diberikan pun harus berkualitas bagus untuk meningkatkan DM intake.

Penambahan konsentrat peda pakan antara 0.5-0.7 kg/hari selama dua minggu pertama

laktasi, jangan sampai kebanyakan hal ini untuk menghindari permasalahan pencernaan

seperti asidosis, dan penurunan intake. Protein sangat penting pada awal laktasi. Jadi

pada masa awal laktasi rekomendasi pemberian protein 17-19% pada ransum. Jika

menggunakan pakan komplit pakan hijauan tersebut dapat di kombinasi bias dalam
bentuk pelleting, mash, dan lain sebagainya.

Menurut McDonald (2002) menyatakan periode pertengahan laktasi adalah

periode dari 100 hari sampai 200 setelah melahirkan anak. Fase Pada periode ini sapi

akan mengalami puncak produksi (8-10 minggu setelah kelahiran) sapi juga mengalami

puncak DM intake sehingga tidak mengalami penurunan bobot badan.

Kebutuhan protein pada masa pertengahan laktasi lebih rendah dibandingkan

dengan masa awal laktasi. Oleh karena itu kandungan protein dalam ransum antara 15-

16% (PK). Rata-rata sapi pada periode ini menghasilkan susu 200-225 kg dari seluruh

masa laktasi sebelumya. Kunci dari periode pertengahan laktasi ini adalah

memaksimalkan DM intake. Pada periode ini sapi dituntunt untuk diberi pakan dengan
kualitas hijauan yang tinggi (minimal 40-45% DM pada ransum) dan tingkat efektifitas

serat hampir sama dengan masa awal laktasi. Pemberian konsentrat jangan sampai

melebih 2.3 % bobot badan dan sumber non-hijauan lainya.

Menurut McDonald (2002) menyatakan periode akhir laktasi dimulai 200 hari

setelah melahirkan dan diakhiri pada saat masa kering sapi. Sapi akan mengalami

peningkatan bobot badan, hal ini untuk mengganti jaringan yang hilang (BB) pada saat
periode awal laktasi. Pakan hijauan yang diberikan 50-60% sedangkan konsentrat jangan

melebihi 2.5%. Adapun daftar lengkap kebutuhan nutrisi pada tiap periode laktasi sapi

perah dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

3.2 Komposisi Pakan

Sutardi (1981) menyatakan bahwa konsentrat terbagi menjadi dua jenis, yaitu

konsentrat sumber protein dan konsentrat sumber energi. Konsentrat dikatakan

sebagai sumber energi apabila mempunyai kandungan protein kasar kurang dari 20%

dan serat kasar 18%, sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein karena

mempunyai kandungan protein lebih besar dari 20%.


Konsentrat biasanya digunakan dalam jumlah banyak dalam peternakan yang

berorientasi pada penggemukan ternak, seperti sapi potong, ayam ras, dan domba.

Pada peternakan sapi perah penggunakan konsentrat lebih sedikit jika dibandingkan

dengan hijauan.

Kandungan komposisi hijauan terdiri dari PK<3% pada rumput yang sudah

tua, sedangkan pada rumput yang masih muda dapat mencapai >30%. Kandungan

karbohidrat mudah larut dalam air (Water Soluble Carbohydrate atau WSC)
kandungan WSC rumput-rumputan asal tropis sangat rendah (<6%) dibandingkan

rumput-rumputan asal temperate (>7%)

3.3 Cara Pembuatan Pakan Komplit

Pakan komplit merupakan jenis pakan yang cukup mengandung nutrien untuk

hewan dalam tingkat fisiologis tertentu yang dibentuk dan diberikan sebagai satu-

satunya pakan yang mampu memenuhi kebutuhan pokok dan produksi tanpa

tambahan substansi lain, kecuali air. Pakan komplit disusun dari berbagai bahan

pakan hijauan (pakan berserat) dan konsentrat yang telah disesuaikan dengan

kebutuhan domba menjadi satu bentuk pakan sehinga kandungan nutrisinya lengkap.

Bentuk pakan komplit bermacam-macam, antara lain berbentuk mash,


pecahan, balok, dan pelet. Berikut dua contoh pakan komplit :

1. Pakan komplit bentuk mash

Beberapa penelitian menunjukan bahwa pemberian pakan komplit

bentuk mash akan memberikan hasil yang optimal dibandingkan dengan

pemberian pakan hijauan dan konsentrat secara terpisah. Cara pembuatan


pakan komplit bentuk mash adalah semua bahan pakan digiling, kemudian

dicampur hingga homogen.

2. Pakan komplit bentuk pellet

Untuk efektivitas dalam pemberian pakan agar tidak benyak yang

tercecer dan terbuang, pakan tersebut dibuat dalam bentuk pelet. Pemberian

pakan komplit bentuk pelet dapat digunakan untuk mengontrol konsumsi

pakan konsentrat dan berserat sesuai dengan proporsi yang diberikan. Selain
itu juga untuk memperbaiki palatabilitas pakan. Daya cerna pakan berbentuk

pelet tidak banyak berubah, bahkan mempunyai kelebihan yaitu dapat

mengurangi berdebunya ransum sehingga memperbanyak konsumsi pakan.

Pakan komplit bentuk pelet untuk ternak ruminansia dapat menurunkan

degradasi protein lebih lanjut sehingga meningkatkan arus asam amino ke

dalam usus halus. Beberapa penelitian menunjukan bahwa konsumsi pakan

domba dengan pakan komplit bentuk pelet lebih tinggi daripada tidak bentuk

pelet. Pertambahan bobot badan harian domba dengan pakan komplit bentuk

pelet juga lebih bagus daripada tidak dibentuk pelet. Konversi pakan pada

pakan yang berbentuk pelet juga lebih bagus dibandingkan dengan pakan
yang tidak dibentuk pelet. Cara pembuatan pakan komplit pellet biasanya

menggunakan mesin pelleting dengan tetep mengkombinasikan hijauan

dengan konsentrat dan tidak lupa ditambahkan zat-zat aditif penambahan

nutrisi dalam pakan komplit.


Permasalahan yang sering terjadi dalam pemberian pakan domba adalah

masalah ketersediaan pakan, terutama pada musim kemarau. Pakan komplit adalah

suatu pola usaha agrobisnis yang memiliki daya saing dan tingkat survival tinggi.

Pemanfaatan sumber daya lokal menjadi dasar utama konsep ini. Pasalnya, sumber

daya Indonesia masih menyimpan plasma nutfah yang berpotensi untuk

menanggulangi kendala keterbatasan pakan ternak. Bahkan, tidak menutup

kemungkinan pada masa yang akan datang konsep ini bisa menjadi andalan pakan
ternak dalam negeri.

Sumber daya lokal yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak

ruminansia adalah pemanfaatan hasil budidaya tanaman pangan dan perkebunan

seperti jerami padi, tongkong jagung, tebon jagung atau batang dan daun jagung sisa

panen, jerami kacang tanah, kulit buah dan biji cokelat, serat dan lumpur sawit,

bungkil inti sawit, serta ampas sagu. Melalui proses bioteknologi praktis dan

sederhana, dapat diciptakan pola pengembangan usaha ternak ruminansia berbasis

sumber daya lokal yang bernilai ekonomis tinggi. Beberapa keuntungan yang

diperoleh dari penerapan konsep Pakan komplit sebagai berikut :

1. Optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal.


2. Memaksimalkan daur ulang (zero waste).

3. Meminimalisasi kerusakan lingkungan (ramah lingkungan).

4. Diversifikasi usaha.

5. Pencapaian tingkat produksi yang stabil dan memadai dalam jangka panjang.

6. Menciptakan kemandirian.
Selain itu, Pakan komplit juga bisa membantu memecahkan masalah nasional

seperti kebutuhan pakan bermutu yang tersedia setiap saat dan tidak tergantung

musim, harga terjangkau, mudah pemberiannya, dan sudah diawetkan, sehingga lebih

tahan lama disimpan. Dengan pemakaian Pakan komplit, diharapkan populasi ternak

ruminansia dapat ditingkatkan.


IV

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan dari makalah ini, sebagai berikut:

1. Awal laktasi pemberian hijauan minimal 40% dari total DM dan Penambahan

konsentrat peda pakan antara 0.5-0.7 kg/hari selama dua minggu pertama laktasi,

jangan sampai kebanyakan. Pertengahan laktasi periode ini kualitas hijauan yang

tinggi (minimal 40-45% DM pada ransum) dan Pemberian konsentrat jangan


sampai melebih 2.3 % bobot badan dan sumber non-hijauan lainya. Pada akhir

laktasi Pakan hijauan yang diberikan 50-60% sedangkan konsentrat jangan

melebihi 2.5%.

2. Konsentrat dikatakan sebagai sumber energi < 20% dan serat kasar 18%,

sedangkan konsentrat dikatakan sebagai sumber protein > 20%. Kandungan

komposisi hijauan terdiri dari PK<3% pada rumput yang sudah tua,

sedangkan pada rumput yang masih muda dapat mencapai >30%. Kandungan

karbohidrat mudah larut dalam air (Water Soluble Carbohydrate atau WSC)

kandungan WSC rumput-rumputan asal tropis sangat rendah (<6%).

3. Cara pembuatan pakan komplit pellet biasanya menggunakan mesin pelleting


dengan tetep mengkombinasikan hijauan dengan konsentrat dan tidak lupa

ditambahkan zat-zat aditif penambahan nutrisi dalam pakan komplit. Cara

pembuatan pakan komplit bentuk mash adalah semua bahan pakan digiling,

kemudian dicampur hingga homogen.


DAFTAR PUSTAKA

AAK, 1991, Petunjuk Beternak Sapi Potong Dan Kerja, Kanisius, Yogyakarta

Hadisutanto, B. 2008. Pengaruh Paritas Induk terhadap Performans Sapi Perah


Fries Holland, Bandung.

Jasper, D.E. 1980. Mastitis In Bovine Medicane and Surgery.Ed. H.E., Amstutz
Amer. Vet.Publ. Inc., Santa Barbara, California, USA.

Kartadisastra, H.R. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia (Sapi,


Kerbau, Domba, Kambing). Yogyakarta: Kanisius. 1997.

Lubis, D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT. Pembangun, Jakarta

Mc Donald, P.R.A.Edwards, J.F.D. Greenhalg and C.A. Morgan. 2002. Animal


Nutrition.6th Edition.

Reksohadiprodjo, S. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropic. Edisi


Kedua. Yogyakarta: BPFE. Universitas Gadjah Mada. 1985.

Siregar, S.B. 1993. Sapi Perah, Jenis, Teknik Pemeliharan, dan Analisa Usaha. P.T
Penebar Swadaya, Jakarta.

______. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Jakarta: PT. Penebar Swadaya.

Sugeng,Y.B.,1998, Sapi Potong, Penebar Swadaya, Jakarta.

Sumarno, B. Penuntun Hijauan Makanan Ternak. Jawa Tengah: Inspektorat/ Dinas


Peternakan Jawa Tengah. 1998.

Tillman, A.D., Hartadi, H. Reksohadiprojo, S., Prawirokusumo, S., Lebdosoekojo, S.


Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
1991.

Tillman,. A.D., H. Hartadi, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekoedjo. 1991. Ilmu


Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.