Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN DIAGNOSA

OSTEOPOROSIS

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Farmakologi
yang dibina oleh Ibu Dr. N. Putu Eka Sudiwati, SKp, M.Kes

KELOMPOK 6 :
1. Yolanda Fany Z (1601100046)
2. Ilham Dody P (1601100057)
3. Tri Wulan W (1601100069)
4. Tesalonika Liontinia C (1601100080)
5. Dwi Nurfiyanto (1601100083)
6. Putri Nur M (1601100086)
7. Farrah Fathia F (1601100088)

POLTEKKES KEMENKES MALANG


JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN MALANG
MEI 2017
i

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
dengan judul Asuhan Keperawatan pada Lansia dengan Diagnosa Osteoporosis tepat
pada waktunya. Dan tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak
yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini :
1. Ibu Dr. N. Putu Eka Sudiwati, SKp, M.Kes (Biomed). selaku Dosen
Farmakologi Program Diploma III Keperawatan Malang, yang telah memberi
kesempatan kepada kami untuk menyampaikan laporan ini.
2. Teman teman Program Diploma III Keperawatan I B yang telah membantu
kami baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kami berharap makalah ilmiah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan dalam memahami membuat asuhan keperawatan pada lansia dengan diagnosa
osteoporosis. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari
berbagai pihak kami harapkan.

Malang, 22 Mei 2017

Penyusun
ii

DAFTAR ISI

UCAPAN TERIMA KASIH ........................................................................ i


DAFTAR ISI ................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ..................................................................... 2
1.3 Tujuan ....................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian penyakit osteoporosis ................................................ 3
2.2 Etiologi penyakit osteoporosis ..................................................... 3
2.3 Patofisiologi penyakit osteoporosis .............................................. 7
2.4 Patogenesis Penyakit Osteoporosis .......................................... 10
2.5 Contoh Kasus dan Pengobatan Osteoporosis ............................ 10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ................................................................................ 16
3.2 Saran ........................................................................................... 16

DAFTAR RUJUKAN ................................................................................ 17


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama bidang kesehatan
dibeberapa negara termasuk Indonesia sangat mempengaruhi kualitas
kesehatan penduduk serta meningkatkan umur harapan hidup manusia.
Akibatnya, jumlah penduduk lanjut usia (Lansia) menjadi meningkat dan
cenderung bertambah. Jumlah penduduk lansia mengalami peningkatan
diseluruh dunia, baik di negara maju maupun negara berkembang.
Penuaan merupakan proses normal perubahan yang berhubungan
dengan waktu, sudah dimulai sejak lahir dan berlanjut sepanjang hidup. Usia
tua adalah fase akhir tentang rentang kehidupan (fatimah,2010).
Ada beberapa definisi tentang lanjut usia dan tergantung dari cara
berfikir seseorang. Menurut UU RI no. 4 tanun 1965 usia lanjut adalah mereka
yang berusia 55 tahun keatas. Sedangkan menurut dokumen pelembagaan usia
lanjut dalam kehidupan bangsa yang diterbitkan oleh departemen dosial dalam
rangka pencanangan Hari Lanjut Usia Nasional tanggal 29 Mei 1996 oleh
presiden RI, batas usia lanjut adalah 60 tahun keatas.
Peningkatan jumlah lansia tersebut akan menimbulkan masalah pada
usia lanjut terutama masalah degeneratif. Dalam makalah ini kami mengangkat
kasus osteoporosis karena osteoporosis merupakan salah satu penyakit
degeneratif yang semakin tinggi angka prevalensinya dan perlu diwaspadai
adalah osteoporosis.
Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2009
osteoporosis menduduki peringkat kedua dibawah penyakit jantung sebagai
masalah kesehatan utama dunia. Menurut data Internasional Osteoporosis
Foundation (IOF) lebih dari 30% wanita diseluruh dunia mengalami resiko
seumur hidup untuk patah tulang akibat osteoporosis, bahkan mendekati 40%,
sedangkan pada pria, resikonya berada pada angka 13% (WHO, 2009).

1
2

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan penyakit osteoporosis ?
2. Apa etiologi dari penyakit osteoporosis ?
3. Apa patofisiologi penyakit osteoporosis ?
4. Apa patogenesis penyakit osteoporosis?
5. Sebutkan contoh kasus dan pengobatan pada penyakit osteoporosis ?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari penyakit osteoporosis.
2. Untuk mengetahui etiologi dari penyakit osteoporosis.
3. Untuk mengetahui patofisiolgi penyakit osteoporosis.
4. Untuk mengetahui patogenesis penyakit osteoporosis.
5. Untuk mengetahui contoh kasus dan pengobatan pada penyakit osteoporosis.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Osteoporosis


Osteoporosis berarti tulang keropos, apapun penyebabnya, dan terjadi
pada kebanyakan lansia. Pengurangan masa tulang akibat penuaan memang
gejala biasa namun menjadi penyakit apabila masa tulang mencapai tingkat
yang membuatnya mudah patah. Resiko mengalami patah tulang akibat
osteoporosis meningkat tajam sejalan dengan usia. Pada umur 80 tahun, satu
dari tiga wanita dan satu dari lima pria berisiko mengalami patah tulang
pinggul atau patah tulang belakang hal ini disebabkan oleh osteoporosis
(fatimah,2010)
Osteoporosis adalah kelainan di mana terjadi penurunan massa tulang
total. Terdapat perubahan pergantian tulang homeostasis normal, kecepatan
resorpsi tulang lebih besar dari kecepatan pembentukan tulang,
mengakibatkan penurunan masa tulang total. Tulang secara progresif menjadi
rapuh dan mudah patah, tulang menjadi mudah fraktur dengan stres yang tidak
akan menimbulkan pengaruh pada tulang normal.
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas
berupa massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan
penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan
kerapuhan tulang.

2.2 Etiologi Penyakit Osteoporosis


Faktor-faktor yang mempengaruhi pengurangan massa tulang pada usia
lanjut:

3
4

2.2.1. Determinan Massa Tulang

1. Faktor genetik

Perbedaan genetik mempunyai pengaruh terhadap derajat


kepadatan tulang. Beberapa orang mempunyai tulang yang cukup besar
dan yang lain kecil. Sebagai contoh, orang kulit hitam pada umumnya
mempunyai struktur tulang lebih kuat/berat dari pacia bangsa Kaukasia.
Jacii seseorang yang mempunyai tulang kuat (terutama kulit Hitam
Amerika), relatif imun terhadap fraktur karena osteoporosis.

2. Faktor mekanis

Beban mekanis berpengaruh terhadap massa tulang di


samping faktor genetk. Bertambahnya beban akan menambah massa
tulang dan berkurangnya beban akan mengakibatkan berkurangnya
massa tulang. Dengan perkataan lain dapat disebutkan bahwa ada
hubungan langsung dan nyata antara massa otot dan massa tulang.
Kedua hal tersebut menunjukkan respons terhadap kerja mekanik
Beban mekanik yang berat akan mengakibatkan massa otot besar dan
juga massa tulang yang besar. Sebagai contoh adalah pemain tenis
atau pengayuh becak, akan dijumpai adanya hipertrofi baik pada otot
maupun tulangnya terutama pada lengan atau tungkainya; sebaliknya
atrofi baik pada otot maupun tulangnya akan dijumpai pada pasien
yang harus istrahat di tempat tidur dalam waktu yang lama,
poliomielitis atau pada penerbangan luar angkasa. Walaupun
demikian belum diketahui dengan pasti berapa besar beban mekanis
yang diperlukan dan berapa lama untuk meningkatkan massa tulang
di sampihg faktor genetik.
5

3.Faktor makanan dan hormon

Pada seseorang dengan pertumbuhan hormon dengan


nutrisi yang cukup (protein dan mineral), pertumbuhan tulang
akan mencapai maksimal sesuai dengan pengaruh genetik yang
bersangkutan. Pemberian makanan yang berlebih (misainya
kalsium) di atas kebutuhan maksimal selama masa
pertumbuhan, disangsikan dapat menghasilkan massa tulang
yang melebihi kemampuan pertumbuhan tulang yang
bersangkutan sesuai dengan kemampuan genetiknya.

2.2.2. Determinan Penurunan Massa Tulang

1. Faktor genetik

Faktor genetik berpengaruh terhadap risiko terjadinya fraktur.


Pada seseorang dengan tulang yang kecil akan lebih mudah mendapat
risiko fraktur dari pada seseorang dengan tulang yang besar. Sampai
saat ini tidak ada ukuran universal yang dapat dipakai sebagai ukuran
tulang normal. Setiap individu mempunyai ketentuan normal sesuai
dengan sitat genetiknya serta beban mekanis den besar badannya.
Apabila individu dengan tulang yang besar, kemudian terjadi proses
penurunan massa tulang (osteoporosis) sehubungan dengan lanjutnya
usia, maka individu tersebut relatif masih mempunyai tulang tobih
banyak dari pada individu yang mempunyai tulang kecil pada usia yang
sama

2. Faktor mekanis

Di lain pihak, faktor mekanis mungkin merupakan faktor yang


terpenting dalarn proses penurunan massa tulang schubungan dengan
lanjutnya usia. Walaupun demikian telah terbukti bahwa ada interaksi
6

panting antara faktor mekanis dengan faktor nutrisi hormonal. Pada


umumnya aktivitas fisis akan menurun dengan bertambahnya usia; dan
karena massa tulang merupakan fungsi beban mekanis, massa tulang
tersebut pasti akan menurun dengan bertambahnya usia.

3. Kalsium

Faktor makanan ternyata memegang peranan penting dalam


proses penurunan massa tulang sehubungan dengan bertambahnya
Lisia, terutama pada wanita post menopause. Kalsium, merupakan
nutrisi yang sangat penting. Wanita-wanita pada masa peri menopause,
dengan masukan kalsiumnya rendah dan absorbsinya tidak bak, akan
mengakibatkan keseimbangan kalsiumnya menjadi negatif, sedang
mereka yang masukan kalsiumnya baik dan absorbsinya juga baik,
menunjukkan keseimbangan kalsium positif. Dari keadaan ini jelas,
bahwa pada wanita masa menopause ada hubungan yang erat antara
masukan kalsium dengan keseimbangan kalsium dalam tubuhnya. Pada
wanita dalam masa menopause keseimbangan kalsiumnya akan
terganggu akibat masukan serta absorbsinya kurang serta eksresi
melalui urin yang bertambah. Hasil akhir kekurangan/kehilangan
estrogen pada masa menopause adalah pergeseran keseimbangan
kalsium yang negatif, sejumiah 25 mg kalsium sehari.

4. Protein

Protein juga merupakan faktor yang penting dalam


mempengaruhi penurunan massa tulang. Makanan yang kaya protein
akan mengakibatkan ekskresi asam amino yang mengandung sulfat
melalui urin, hal ini akan meningkatkan ekskresi kalsium.

Pada umumnya protein tidak dimakan secara tersendiri, tetapi


bersama makanan lain. Apabila makanan tersebut mengandung fosfor,
7

maka fosfor tersebut akan mengurangi ekskresi kalsium melalui urin.


Sayangnya fosfor tersebut akan mengubah pengeluaran kalsium
melalui tinja. Hasil akhir dari makanan yang mengandung protein
berlebihan akan mengakibatkan kecenderungan untuk terjadi
keseimbangan kalsium yang negatif

5. Estrogen

Berkurangnya/hilangnya estrogen dari dalam tubuh akan


mengakibatkan terjadinya gangguan keseimbangan kalsium. Hal ini
disebabkan oleh karena menurunnya eflsiensi absorbsi kalsium dari
makanan dan juga menurunnya konservasi kalsium di ginjal.

6. Rokok dan kopi

Merokok dan minum kopi dalam jumlah banyak cenderung


akan mengakibatkan penurunan massa tulang, lebih-lebih bila disertai
masukan kalsium yang rendah. Mekanisme pengaruh merokok
terhadap penurunan massa tulang tidak diketahui, akan tetapi kafein
dapat memperbanyak ekskresi kalsium melalui urin maupun tinja.

7. Alkohol

Alkoholisme akhir-akhir ini merupakan masalah yang sering


ditemukan. Individu dengan alkoholisme mempunyai kecenderungan
masukan kalsium rendah, disertai dengan ekskresi lewat urin yang
meningkat. Mekanisme yang jelas belum diketahui dengan pasti.

2.3 Patofisiologi Penyakit Osteoporosis

Dalam keadaan normal, tulang dalam keadaan seimbang antara proses


pembentukan dan penghancuran. Fungsi penghancuran (resorpsi) yang
8

dilaksanakan oleh osteoklas, dan fungsi pembentukan yang dijalankan oleh


osteoblas senantiasa berpasangan dengan baik. Fase yang satu akan
merangsang terjadinya fase yang lain. Dengan demikian tulang akan
beregenerasi. Keseimbangan kalsium, antara yang masuk dan keluar, juga
memiliki peranan yang penting, bahkan merupakan faktor penentu utama
untuk terjadinya osteoporosis adalah kadar kalsium yang masih terdapat pada
tulang. Seseorang memiliki densitas tulang yang tinggi (tulang yang padat),
mungkin tidak akan sampai menderita osteoporosis. Kehilangan kalsium
tidak akan mencapai tingkat dimana terjadi osteoporosis. Lebih kurang 99%
dari keseluruhan kalsium tubuh berada di dalam tulang dan gigi. Apabila
kadar kalsium darah turun di bawah normal, tubuh akan mengambilnya dari
tulang untuk mengisinya lagi. Dengan bertambahnya usia, keseimbangan
sistem mulai terganggu. Tulang kehilangan kalsium lebih cepat dibanding
kemampuannya untuk mengisi kembali. Secara umum, osteoporosis terjadi
saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih dominan dibanding fungsi
pembentukan sel-sel tulang, karena pola pembentukan dan resopsi tulang
berbeda antar individu. Para ahli memperkirakan ada banyak faktor yang
berperan mempengaruhi keseimbangan tersebut. Kadar hormon tiroid dan
paratiroid yang berlebihan dapat mengakibatkan hilangnya kalsium dalam
jumlah yang lebih banyak. Obat-obat golongan steroid pun dapat
mengakibatkan hilangnya kalsium dari tulang.
9

Proses pembentukan dan penimbunan sel-sel tulang


mencapai kepadatan maksimal berjalan paling efisien sampai umur mencapai
30 tahun, dengan bertambahnya usia, semakin sedikit jaringan tulang yang
dibuat. Dengan usia yang lanjut, jaringan tulang yang hilang semakin banyak.
Penelitian memperlihatkan bahwa setalah mencapai usia 40 tahun, akan
kehilangan tulang sebesar 0,5% setiap tahunnya. Pada wanita dalam masa
pascamenopause, keseimbangan kalsium menjadi negatif dengan tingkat 2 kali
lipat dibanding sebelum menopause. Faktor hormonal menjadi sebab mengapa
wanita dalam masa pascamenopause mempunyai resiko lebih besar untuk
menderita osteoporosis. Pada masa menopause, terjadi penurunan kadar
hormon estrogen. Estrogen memang merupakan salah satu faktor terpenting
dalam mencegah hilangnya kalsium tulang. Selain itu, estrogen juga
merangsang aktivitas osteoblas serta menghambat kerja hormon paratiroid
dalam merangsang osteoklas.
10

2.4 Patogenesis Penyakit Osteoporosis

Massa tulang pada orang dewasa yang lebih tua setara dengan puncak
massa tulang puncak yang dicapai pada usia 18-25 tahun dikurangi jumlah
tulang yang hilang. Puncak massa tulang sebagian besar ditentukan oleh
faktor genetic, dengan kontribusi dari gizi, status endokrin, aktivitas fisik dan
kesehatan selama pertumbuhan.
Proses remodeling tulang yang terjadi bertujuan untuk mempertahankan
tulang yang sehat dapat dianggap sebagai program pemeliharaan, yaitu
dengan menghilangkan tulang tua dan menggantikannya dengan tulang baru.
Kehilangan tulang terjadi ketika keseimbangan ini berubah, sehingga
pemindahan tulang berjumlah lebih besar daripada penggantian tulang.
Ketidakseimbangan ini dapat terjadi karena adanya menopause dan
bertambahnya usia.
Pemahaman patogenesis osteoporosis primer sebagian besar masih
deskriptif. Penurunan massa tulang dan kerapuhan meningkat dapat terjadi
karena kegagalan untuk mencapai puncak massa tulang yang optimal,
kehilangan tulang yang diakibatkan oleh resoprsi tulang meningkat, atau
penggantian kehilangan tulang yang tidak adekuat sebagai akibat menurunnya
pembentukan tulang. Selain itu, analisis patogenesis osteoporosis harus
mempertimbangkan heterogenitas ekspresi klinis.

2.5 Contoh Kasus dan Pengobatan Osteoporosis


Kasus:
Ny. X, usia 70 tahun, menemui dokter karena ia merasa bertambah pendek
beberapa cm dalam setahun terakhir. Ia juga merasa bahwa punggungnya
semakin bungkuk dan perutnya semakin buncit, serta pinggangnya tidak lagi
tampak. Kegiatan sehari-hari, seperti mengurus rumah tangga dan berbelanja,
terasa semakin sulit karena punggungnya terasa pegal bila berdiri lam.
Walaupun selama ini ia sehat, ia mengalami menopause dini pada usia 41 tahun,
namun ketika itu ia tidak dianjurkan untuk menjalni terapi hormon. Hasil sinar-
11

X menunjukan osteoporosis pada tulang belakang. Ia ditangani dengan


fisioterapi dan diberi obat untuk mencegah pengeroposan lebih lanjut. Pada
kasus ini tampaknya menopause dini merupakan faktor utama terjadinya
osteoporosis tulang belakang yang serius.

2.5.1 Pengobatan pada osteoporosis:

Dalam kasus osteoporosis semua pengobatan yang saat ini diizinkan


untuk osteoporosis hanya bekerja untuk mencegah tapi tidak untuk
menyembukan atau memulihkan tulang yang rusak karena tidak dapat
dipulihkan, maka langkah yang dapat diambil adalah pencegahan sedini
mungkin pada orang yang berisiko mengalami osteoporosis. Pada penyakit
osteoporosis ini pengobatannya dapat dibagi menjadi dua pengobatan, yaitu
terapi dengan hormon pengganti dan terapi non-hormon.

A. Terapi hormon pengganti (THP)


Terapi hormon pengganti (THP) telah lama dipakai untuk pencegahan
dan pengobatan osteoporosis. Penelitian menunjukan bahwa THP
mencegah turunnya masa tulang selama dan setelah menopause serta
menekan resiko patah pergelangan, tulang pinggul dan tulang belakang.
Tetapi terapi ini hanya dapat menangani masalah pada wanita yang akan
menopause maupun yang sudah menopause.
Istilah terapi hormon pengganti dipakai untuk pengobatan dengan
estrogen atau pengobatan kombinasi estrogen dan progesteron. Meskipun
hormon estrogen efektif mengobati gejala menopause serta mencegah
osteoporosis dan penyakit jantung, hormon ini meningkatkan risiko kanker
endometrium (dinding rahim) yang menyerang uterus atau rahim. Resiko
ini dapat dikurangi dengan menambah progenteron dalam pengobatan
sedikitnya 12 hari setiap satu siklus bulanan. Esterogen yang digunakan
dalam THP adalah esterogen alami, sedangkan yang dipakai untuk
12

kontrasepsi adalah sintetik dan lebih kuat. Karena progenteron alami sulit
diberikan lewat oral (terurai dalam saluran pencernaan) dan mempunyai
efek samping, bentuk sintesis yang disebut progestogen digunakan dalam
THP.
Ada banyak preparat yang cocok untuk mencegah osteoporosis.
Diantaranya berupa:
Tablet
Torehan
Susuk yang ditanam di bawah kulit

Dosis yang diperlukan untuk terapi hormon ini cukup tinggi, pada setiap
orang dosis yang diperlukan berbeda-beda. Tetapi dosis yang efektif bagi
kebanyakan wanita adalah:
0,625 mg esterogen konjugasi setiap hari
2 mg estradiol setiap hari
50 mikrogram estradiol trandermal setiap hari

Tablet diminum satu kali sehari, semntara torehan dilakukan satu


sampai dua kali seminggu.

B. Terapi non-hormonal
1. Bisfosfonat.
Merupakan golongan obat sintetis yang semakin populer untuk
terapi osteoporosis. Efek utamanya untuk menon-ektifkan sel-sel
penghancur tulang (osteoklast), sehingga penurunan masa tulang
dapat dicegah. Saat ini ada 3 jenis obat bisfosfonat:
Etidronate. Merupakan obat bisfosfonat pertama yang
digunakan untuk mengatasi osteoporosis. Obat jenis ini
diberikan dalam siklus 90 hari bersama kalsium dalam bentuk
didronel PMO (postmenopausal osteoporosis). Etidronat
diberikan selama dua minggu, diikuti dengan 76 hari (sekitar 11
13

minggu) pemberian kalsium tanpa etidronat. Siklus tiga bulanan


ini diulang sampai setidaknya tiga tahun, biasanya lebih lama.
Etidronat diberikan dalam bentuk tablet satu kali sehari selama
dua minggu. Kalsium tambahan diberikan dalam bentuk tablet
yang dilarutkan dalam air sebagai minuman bersoda.
Alendronate (Fosamax ). Obat ini milik kelas obat-obatan
yang disebut biophosphonates dan disetujui untuk pencegahan
dan pengobatan osteoporosis. Hal ini digunakan untuk
mengobati keropos tulang dari penggunaan jangka panjang
menyebabkan osteoporosis obat-obatan dan digunakan untuk
osteoporosis pada pria. Pada wanita wanita, itu telah terbukti
efektif mengurangi keropos tulang, meningkatkan kepadatan
tulang di tulang belakang dan pinggul, dan mengurangi risiko
fraktur tulang belakang dan pinggul. Alendronate ini diberikan
dalam bentuk tablet 10 miligram, satu kali sehari dan tidak
memerlukan kalsium, tetapi jika kadar kalsium sangat rendah
maka pemberian kalsium dianjurkan.
Risedronate (Actonel ). Seperti Alendronate, obat ini juga
biophosphonate dan disetujui untuk pencegahan dan pengobatan
osteoporosis, untuk keropos tulang dari penggunaan jangka
panjang menyebabkan osteoporosis obat, dan osteoporosis pada
pria. Ditampilkan lambat keropos tulang, menambah kepadatan
tulang, dan mengurangi risiko fraktur tulang belakang dan non-
tulang belakang.
2. Calcitonin (Miacalcin ).
Calcitonin adalah sebuah hormon alami yang terlibat dalam
peraturan kalsium dan tulang metabolisme. Calcitonin dapat
disuntikkan atau diambil sebagai semprot hidung. Pada wanita yang
setidaknya lima tahun luar menopause, ini memperlambat keropos
tulang dan menambah kepadatan tulang tulang belakang.
14

Perempuan melaporkan bahwa itu juga memudahkan rasa sakit yang


terkait dengan fraktur tulang.
3. Raloxifene (Evista ).
Obat ini adalah selective estrogen receptor modulator (SERM)
yang memiliki banyak sifat estrogen. Hal ini telah disetujui untuk
pencegahan dan pengobatan osteoporosis dan dapat mencegah
keropos tulang di tulang belakang, hip dan area lain dari tubuh.
Penelitian telah menunjukkan bahwa itu dapat menurunkan tingkat
fraktur vertebral oleh 30-50%. Re;oxifene diberikan dalam bentuk
tablet satu kali sehari, cara kerja obat ini mirim hormon estrogen
tetapi tidak menyebabkan pendarahan.
4. Vitamin D.
Vitamin D sangat penting untuk kesehatan tulang. Vitamin D
membantu penyerapan kalsium oleh usus sehingga cukum tersedia
kalsium untuk tulang, yang mengandung 99 persen kalsium tubuh.
Kemungkinan vitamin D juga berpengaruh langsung pada tulang
dengan merangsang pembentukan sel-sel tulang. Ada dua macam
vitamin D dengan efek sama, yaitu vitamin D3 (chollecalciferol),
yang terbuat dalam kulit saat terkena sinar matahari dan vitamin D2
(ergocalciferol), yamg diperoleh dari makanan.

5. Kalsitriol.
Merupakan bentuk dari vitamin D yang aktif. Kalsitriol terbukti
mencegah hilangnya masa tulang dan mencegah risiko patah tulang
belakang, diberikan dalam bentuk tablet (rocaltrol) dengan dosis
0,25 miligram per hari. Daya kerjanya kuat dapat menyebabkan
tingginya kadar kalsium dalam darah dan urin. Maka dari itu pada
pemberian kalsitriol perlu dilakukan pemeriksaan berkala.
15

6. Suplemen Kalsium.
Kalsium sendiri bukanlah terapi untuk osteoporosis, tetapi
sering digunakan bersama terapi lain untuk memaksimalkan hasilna.
Ada banyak macam suplemen kalsium dengan kandungan kalsium
yang beragam pula. Dosis harian yang dianjurkan adalah antara
1000 dan 1500 miligram (1-1,5 gram) untuk penderita osteoporosis.
Suplemen ini sebaiknya diberikan dalam dosis terbagi (tiga kali
sehari) supaya penyerapan usus lebih optimal.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Osteoporosis adalah penyakit tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa
massa tulang yang rendah, disertai mikro arsitektur tulang dan penurunan kualitas
jaringan tulang yang dapat akhirnya menimbulkan kerapuhan tulang.
Keseimbangan kalsium, antara yang masuk dan keluar, juga memiliki peranan
yang penting, bahkan merupakan faktor penentu utama untuk terjadinya osteoporosis
adalah kadar kalsium yang masih terdapat pada tulang.
Secara umum, osteoporosis terjadi saat fungsi penghancuran sel-sel tulang lebih
dominan dibanding fungsi pembentukan sel-sel tulang, karena pola pembentukan dan
resopsi tulang berbeda antar individu.
Kehilangan tulang terjadi ketika keseimbangan ini berubah, sehingga
pemindahan tulang berjumlah lebih besar daripada penggantian tulang.
Ketidakseimbangan ini dapat terjadi karena adanya menopause dan bertambahnya usia.
3.2 Saran
Penyakit osteoporosis biasanya di alami oleh seseorang yang berusia lanjut.
Untuk menghindari tersebut kita sebagai generasi muda sebaiknya :
Menerapkan pola makan sehat
Olahraga secara teratur
Perbanyak makan makanan yang mengandung vitamin D dan kalsium
Hindari rokok dan minuman keras

16
17

DAFTAR RUJUKAN
Silalahi, Dumaria. 2014. Asuhan Keperawatan Lansia dengan osteoporosis, (Daring),
(http://dumariasilalahi.blogspot.co.id/2013/04/bab-i-pendahuluan-1.html),
diakses pada
Achmad, Yeni. 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Osteoporosis, (Daring),
(https://yeniachmad.wordpress.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-
osteoporosis/) diakses pada
Risa, Anggrisya. 2012. Patofisiologi Osteoporosis, (Daring),
(http://funliciousanggrisyaa.blogspot.co.id/2012/04/patofisiologi-
osteoporosis.html) diakses pada
Aladokter.com. 2016. Osteoporosis, (Daring),
(http://www.alodokter.com/osteoporosis) diakses pada 25 mei 2017
Fatimah. 2010. Merawat Manusia Lanjut Usia Suatu Pendekatan Proses Keperawatan
Gerontik. Jakarta: TIM
Compston, juliet. 2002. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada Osteoporosis. Jakarta:
Dian Rakyat