Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH ANALISIS INSTRUMEN

Kromatografi Gas

Oleh :

Nita Shelvia

1500066

DIII-IV B

Dosen Pengampu :

Haiyul Fadhli,M.Si.,Apt

PROGRAM STUDI DIII FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU

YAYASAN UNIVERSITAS RIAU

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan
sebuah makalah yang berjudul Kromatografi Gas dengan baik meskipun banyak
kekurangan didalamnya. Shalawat beriring salam kita hadiahkan kepada nabi
Muhammad Saw semoga kita selalu istiqomah dijalannya.

Adapun makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah
yaitu Analisis Instrumen. Dalam penulisan makalah sampai selesai, penulis dapat
mendapat arahan dan bimbingan dari banyak pihak. Oleh karena itu pada
kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih banyak terhadap pihak yang
membantu. Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan sumbangan pikiran serta
masukan (saran) dari berbagai pihak untuk penyempurnaan dimasa yang akan
datang.

Akhir kata penulis berharap semoga makalah tentang Kromatografi Gas


ini dapat memberikan manfaat.

Pekanbaru, Maret 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 2

1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

2.1. Pengertian Kromatografi Gas ....................................................................... 3

2.1.1. Sistem Instrumental dari Kromatografi Gas ......................................... 4

2.1.2. Prinsip Kromatografi Gas ..................................................................... 9

2.2.Penerapan Kromatografi Gas dalam Bidang Farmasi ................................. 10

2.3.Sampel yang dapat dianalisa Menggunakan Kromatografi Gas ................. 11

2.4.Kelebihan dan Kekurangan dari Kromatografi Gas .................................... 11

2.5.Cara preparasi sampel pada Kromatografi Gas .......................................... 12

2.5.1.Penerapan Kromatografi Gas dalam analisis kuantitatif ...................... 14

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 16

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 19

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sekarang ini deteksi sifat spesifik suatu senyawa menjadi sangat


penting,terutama dalam bidang farmasi, kimia, dan klinik, serta bidang lainnya.
Suatu analisis kimia seperti pengambilan cuplikan, pemisahan senyawa
pengganggu, isolasi senyawa yang dimaksudkan, pemekatan terlebih dahulu
sebelum identifikasi dan pengukuran banyak dilakukan. Banyak metode analisis
seperti spektrofotometri, manganometri, atau lainnya, akan tetapi semuanya
membutuhkan kerja ekstra dan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil
analisis dibandingkan dengan teknik kromatografi. Sehingga yang akan dibahas
yaitu tentang Kromatografi Gas.

Kromatografi Gas merupakan teknik instrumental yang dikenal kan


pertama kali pada tahun 1950-an. Kromatografi Gas (KG) ini merupakan metode
yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi senyawa-senyawa organic yang
mudah menguap dan senyawa-senyawa gas anorganik dalam suatu campuran.

Perkembangan teknologi yang signifikan dalam bidang elektronik,


computer, dan kolom telah menghasilkan batas deteksi yang lebih rendah serta
identifikasi senyawa menjadi lebih akurat melalui teknik analisis dengan resolusi
yang meningkat.

Penggunaan kromatografi gas sebagai suatu teknik kuantitatif dalam


analisis obat semakin kurng penting karena munculnya KCTT dan semakin
canggihnya teknik ini. Meskipun demikian, kromatografi gas ini masih berperan
dalam jenis-jenis analisis kuantitatif tertentu dan memiliki penerapan yang luas
dalam analisis kuantitatif.

1
Kromatografi gas ini banyak digunakan dibidang ilmu pengetahuan,
pembuatan minuman, dan industry makanan, analisis parfum, bahan penyedap,
industry petrokimia, analisis mikrobiologi bdan biokimia klinis. Didalam industry
farmasi, kromaografi gas ini kadang terabaikan karena KCTT makin canggih dan
membuat kromatografi gas ini berada dibelakangnya.

Kromatografi Gas kapiler mampu melakukan pemisahan-pemisahan yang


lebih efisien dibandingkan dengan KCTT, meskipun ada keterbatasan bahwa
senyawa yang dianalisis harus atsiri atau dapat dijadikan atsiri melalui
pembentukan turunan 1 yang sesuai dan juga harus stabil terhadap suhu.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Kromatografi Gas ?


2. Apa prinsip Kromatografi gas ?
3. Bagaimana penerapan Kromatografi gas pada bidang farmasi ?
4. Apa-apa saja instrumentasi Kromatografi Gas ?
5. Bagaimana cara Preparasi sampel pada Kromatografi Gas ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian Kromatografi Gas


2. Mengetahui prinsip dari Kromatografi Gas
3. Mengetahui penerapan kromatografi Gas dalam bidang farmasi
4. Mengetahui instrumentasi penyusun kromatografi Gas
5. Mengetahui cara preparasi sampel pada kromatografi gas

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kromatografi Gas

Kromatografi Gas merupakan suatu cara atau teknik pemisahan dengan


menggunakan fase diam dan fase gerak. Kromatografi gas dapat digunakan untuk
tujuan analisis kuantitatif dan kualitatif, serta dapat digunakan untuk tujuan
preparative.
Fase gerak adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan
tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak
Fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap)
yang terikat pada zat padat penunjangnya.

Kromatografi gas merupakan salah satu jenis kromatografi yang


menggunakan gas sebagai fase gerak nya. Sementara itu, fase diamnya dapat
berupa zat padat dan berupa zat cair yang diikatkan pada pendukung padat.

Syarat suatu senyawa dapat dianalisis dengan kromatografi gas adalah senyawa
tersebut harus bersifat mudah menguap (volatile). Oleh karena itu, senyawa-
senyawa yang bersifat tidak mudah menguap (non volatile) harus diubah terlebih
dahulu menjadi senyawa yang mudah menguap dengan cara derivatisasi.

Derivatisasi sendiri merupakan proses kimiawi untuk mengubah suatu senyawa


menjadi senyawa lain yang mempunyai sifat-sifat yang sesuai untuk dianalisis
menggunakan kromatografi gas.

3
2.1.1. Sistem Instrumental dari Kromatografi Gas

System peralatan atau instrument pada kromatografi gas yairu dengan komponen
utama adalah :

a. Kontrol dengan penyedia gas pembawa


b. Ruang suntik sampel
c. Kolom yang diletakkan dalam oven yang dikontrol secara termostatik
d. System deteksi dan pencatat (detector dan recorder)
e. Computer yang dilengkapi dengan perangkat pengolah data

Yang mana dapat dijelaskan bahwa :


a. Fase Gerak / Gas Pembawa
Fase gerak disebut juga dengan gas pembawa karena tujuan
awalnya adalah untuk membawa solute kekolom, karenanya gas
pembawa tidak berpengaruh pada selektivitas.

4
Syarat gas pembawa adalah :
Tidak reaktif
Murni/kering
Kalau tidak kering maka akan berpengaruh pada detector
Dapat disimpan dalam tangki bertekanan tinggi ( biasanya
merah untuk hidrogn dan abu-abu untuk nitrogen )

Fungsi gas pembawa adalah membawa sampel kedalam system


kromatografi gas.

b. Ruang suntik Sampel (injector)

Lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel secara


cepat dan efisien. Desain yang popular terdiri atas saluran gelas
yang kecil atau tabung logam yang dilengkapi dengan septum karet
pada satu ujung untuk mengakomodasi injeksi dengan semprit
(syringe).

Volume yang disuntikkan dalam kromatografi gas biasanya


dalam rentang 0.5-2 l. volume semprit biasanya adalah 5 dan 10
l. karena helium (gas pembawa) mengalir melalui tabung,

5
sejumlah volume cairan yang diinjeksikan sekitar 0.1-3.0 l akan
segera diuapkan untuk selanjutnya sibawa menuju kolom.

Berbagai ukuran semprit yang beredar dipasaran, sehingga injeksi


dapat berlangsung secara mudah dan akurat.

Pada dasarnya, ada 4 jenis injector pada kromatografi gas, yaitu :


1. Injeksi langsung ( direct injection )
Yang mana sampel yang diinjeksikan akan diuapkan
dalam injector yang panas dan 100% sampel masuk
menuju kolom.
2. Injeksi terpecah ( split injection )
Yang mana sampel yang diinjeksikan diuapkan dalam
injector yang panas dan selanjutnya dilakukan
pemecahan.
3. Injeksi tanpa pemecahan ( Splitness injection )
Yang mana hamper semua sampel diuapkan dalam
injector yang panas dan dibawa kedalam kolom karena
katup pemecah ditutup.
4. Injeksi langsung kekolom ( On column injection )
Yang mana ujung semprit dimasukkan langsung kedalam
kolom

Teknik injeksi langsung kedalam kolom digunakan untuk senyawa-senyawa yang


mudah menguap, karena kalau penyuntikan nya melalui lubang suntik,
dikhawatirkan akan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi
atau terjadi pirolisis.

6
c. Kolom

Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan


karena didalamnya terdapat fase diam. Kolom diletakkan didalam
oven. Oleh Karena itu kolom merupakan komponen sentral pada
kromatografi gas.

Ada 3 jenis kolom pada krimatografi gas, yaitu :

1. Kolom kemas (packing column)


Terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari
tembaga dan aluminium. Panjang jenis kolom ini sekitar 1-5
meter dengan diameter 1-4 mm.

2. Kolom kapiler (capillary column)


Kolom kapiler sangat banyak dipakai karena kolom kapiler
memberikan efisiensi yang tinggi (harga jumlah pelat teori
yang sangat besar >300.000 pelat)

3. Kolom preparative (preparative column)


Digunakan untuk menyiapkan sampel yang murni dari adanya
senyawa tertentu dalam matriks yang kompleks.

Fase diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar
dan semi polar. fase diam non polar yang paling banyak digunakan yaitu metal
polisiloksan dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95%. Fase diam semi polar seperti

7
fenil 50%-metilpolisiloksan 50%. Sementara untuk fase diam yang polar seperti
poli etilenglikol.

d. Detektor

Detector merupakan komponen utama dalam kromatografi


gas. Detector merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung
kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa
komponen hasil pemisahan.
Detector ini berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan
komponen-komponen didalamnya menjadi sinyal elektronik.
Sinyal elektronik akan sangat berguna untuk analisis kualitatif
maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah
diantara fase diam dan fase gerak.

Analisa kuantitatif Analisa Kualitatif


Luas puncak dalam kromatogram Waktu rambat atau waktu Retensi suatu
zat tertentu mencapai detektor dalam
kromatogram

Jenis jenis detector :


Jenis detector Jenis sampel
Hantar panas Senyawa umum
Ionisasi nyata Hidrokarbon

8
Penangkap electron Halogen organic, pestisida
Nitrogen-posfor Senyawa nitrogen dan posfat organic

Fotometri nyala (393) Senyawa-senyawa sulfur


Fotometri nyala (526) Senyawa-senyawa posfor
Foto ionisasi Senyawa-senyawa yang terionisasi
dengan uv
Konduktivitas elektrolitik Halogen, Nitrogen
Fourier transform-infra merah (FT- Senyawa-senyawa organic
IR)
Selektif massa Sesuai untuk senyawa apapun
Emisi atom Sesuai untuk elemen apapun

e. Komputer
Kromatografi modern menggunakan computer yang dilengkapi
dengan perangkat lunaknya (software) untuk digitalisasi signal
detector dan mempunyai beberapa fungsi, yaitu :
Memfasilitasi setting parameter-parameter instrument
seperti : aliran fase gas, suhu oven, dan pemograman suhu
serta penyuntikan sampel secara otomatis.
Menampilkan kromatogram dan informasi-informasi lain
dengan menggunakan grafik berwarna
Merekam data kalibrasi, retensi, serta perhitungan-
perhitungan dengan statistic
Menyimpan data parameter analisis untuk analisis senyawa
tertentu.

2.1.2. Prinsip Kromatografi Gas

Prinsip kromatografi gas ini yaitu suatu fase gerak berbentuk gas mengalir
dibawah tekanan melewati pipa yang dipanaskan dan disalut dengan fase diam
cair atau dikemas dengan fase diam cair yang disalut pada suatu penyangga padat.

9
Analit tersebut dimuatkan kebagian atas kolom melalui suatu portal injeksi
yang dipanaskan, tempat analit menguap. Analit tersebut mulai berkondensasi
dibagian atas kolom , yaitu pada suhu yang lebih rendah. Suhu nya dijaga agar
tetap konstan ataupun deprogram agar meningkat secara bertahap.

Ketika sudah berada didalam kolom, pemisahan suatu campuran yang


terjadi bergantung pada lamanya waktu relative yang dibutuhkan olrh komponen-
komponennya didalam fase diam. Pemantauan efluen kolom dapat dilakukan
dengan berbagai detector.

Kromatografi Gas menggunakan gas sebagai gas pembawa / fase geraknya. Ada 2
jenis kromatografi gas, yaitu :

1. Kromatografi Gas-Cair (KGC)


Yang mana fase diamnya berupa cairan yang diikat pada suatu pendukung
sehingga solute akan terlarut dalam fase diam.
2. Kromatografi Gas-Padat (KGP)
Yang mana fase diamnya berupa padatan dan kadang-kadang berupa
polimerik.

2.2.Penerapan Kromatografi Gas dalam Bidang Farmasi

Kromatografi gas dalam bidang farmasi yaitu untuk digunakan dalam


pengontrolan kuaitas dari zat-zat yang terkandung didalam sediaan farmasi,
analisa hasil-hasil baru dalam pengamatan metabolisme dalam zat-zat alir biologi.

Dan ada juga penerapan atau kegunaan kromatografi dibidang kesehatan


lainnya, bukan farmasi saja, yaitu :
a. Aluminium besi dan tembaga dalam aliase telah ditetapkan dengan melarutkan
sampel diikuti dengan ekstraksi logam-logam itu ke dalam
larutan trifluoroaseton dalam kloroform yang kemudian dikromatografi.
b. Sangat berperan penting dalam upaya memonitor dan mengendalikan
distribusi pencemaran dalam lingkungan.

10
c. Untuk identifikasi dan pengelompokan pemonitoran gas-gas pernapasan
selama anestesia, penelusuran senyawa organik dan organisme hidup pada
planet lain.

2.3. Sampel yang dapat dianalisa Menggunakan Kromatografi Gas

Sampel yang dapat dianalisis dengan Kromatografi Gas diantaranya yaitu :


1. Produk Gas Alam
2. Kemurnian Pelarut
3. Asam Lemak
4. Residu Pestisida
5. Polusi Udara
6. Alkohol
7. Steroid
8. Minyak Atsiri
9. Flavor
10. Ganja (mariyuana)

2.4.Kelebihan dan Kekurangan dari Kromatografi Gas

Kromatografi gas juga sama dengan kromatografi lainnya, yang


mana ia juga mempunyai kelebihan dan kekurangan yang kadang kala
dapat mengganggu ataupun mempermudah pekerjaan. Yang mana
kelebihan dan kekurangan kromatografi gas sebagai berikut :

1) Kelebihan
o Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang
tinggal.
o Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan
efisiensi pemisahan yang tinggi.
o Gas mempunyai vikositas yang rendah.

11
o Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat
sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
o Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah
fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir
segala macam campuran.

2) Kekurangan
o Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap
o Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan
campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah
dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi
pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika
ada metode lain.
o Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat
reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.

2.5.Cara preparasi sampel pada Kromatografi Gas

Teknik preparasi sampel adalah bagian dari proses analisis yang sangat
penting. Karena teknik preparasi sampel adalah proses yang harus dilakukan
untuk menyiapkan sampel sehingga siap untuk dianalisis menggunakan
instrumentasi yang sesuai. Secara umum proses analisis minimal mempunyai
5 langkah, yaitu :

sampling (pengambilan sampel)

preservasi sampel (penyimpanan sampel)

preparasi sampel (penyiapan sampel)

analisis (pengukuran)

interpretasi data (analisis data) dan pembuatan laporan analisis.

12
Kesalahan pada salah satu tahap pada proses analisis akan menyebabkan
terjadinya kesalahan hasil analisis. Akibatnya akan dihasilkan data hasil analisis
yang tidak valid.

Teknik preparasi sampel dilakukan dengan tujuan khusus untuk memisahkan


analit dari matriks sampel yang sangat komplek, memekatkan analit sehingga
diperoleh analit dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari semula, dan mengubah
analit menjadi senyawa lain yang dapat dianalisis dengan instrumentasi yang
tersedia. Proses yang terakhir ini disebut derivatisasi. Pengubahan senyawa
menjadi senyawa lain dimaksudkan untuk:

menghasilkan senyawa yang lebih volatil, misalnya asam lemak yang


berantai panjang tentunya lebih sulit dianalisis dengan kromatografi
gas (GC) karena titik didihnya relatif tinggi. Untuk menurunkan titik
didihnya maka asam lemak tersebut direaksikan dengan alkohol
(metano atau etanol) sehingga terbentuk metil ester atau etil ester yang
titik didihnya lebih rendah.

menghasilkan senyawa yang lebih termo stabil, misalnya analisis


senyawa dengan GC memungkinkan terjadinya degradasi senyawa
oleh pemanasan di injection port. Oleh karena itu analit harus
direaksikan dengan senyawa lain sehingga terbentuk senyawa baru
yang termo stabil.

Selain itu teknik preparasi sampel dapat dilakukan dengan melarutkan


analit ke dalam pelarut yang sesuai, misalnya analit berupa senyawa organik
yang terlarut dalam air dapat dipindahkan ke dalam pelarut organik dengan
teknik ekstraksi. Dengan teknik ini, maka analit dapat dipisahkan dari matrik
yang komplek, dapat dipekatkan dan dilarutkan dalam pelarut yang sesuai.

Selanjutnya teknik preparasi sampel dapat juga digunakan untuk


meningkatkan selektivitas pengukuran. Misalnya analisis senyawa yang
mempunyai isomer optik/ senyawa kiral.

13
2.5.1.Penerapan Kromatografi Gas dalam analisis kuantitatif

Pembuatan larutan kalibrasi mengandung sekitar 0.04% b/v


metiltetosteron dan sekitar 0.04% b/v testosterone dalam etanol ( larutan 1 ).
Bobot serbuk tablet yang mengandung lebih kurang 20 mg metiltestosteron
diektraksi dengan 50 ml etanol untuk membuat larutan 2. Larutan 3 dibuat dengan
cara melarutkan serbuk tablet yang mengandung lebih kurang 20 mg
metiltestosteron dalam tepat 50 ml etanol yang mengandung testosterone dalam
konsentrasi yang tepat sama dengan larutan 1. Dalam sampel ini, 0.5 m larutan
ini diinjeksikan kedalam KG dengan cara tidak pisah.

Larutan 1 menghasilkan factor respons untuk larutan kalibrasi sebagai berikut ;

Larutan 3 menghasilkan factor respons untuk sampel sebagai berikut :

Jumlah metiltestosteron dalam serbuk tablet dapat dihitung sebagai berikut :



=


%



100

14
Dari data analiis tablet metiltestosteron :

bobot 5 tablet = 0.796 g


kandungan metiltestosteron yang dinyatakan pertablet = 25 mg
bobot serbuk tablet yang digunakan untuk penetapan kadar = 0.1713 g
larutan 1 mengandung : 0.04% metiltestosteron dan 0.043% b/v
testosterone
larutan 3 mengandung : metiltestosteron yang diektraksi dari serbuk yang
digunakan untuk penetapan kadar dan 0.043% b/v testosterone
larutan 1 : area puncak testosterone = 216268 ; area puncak
metiltestosteron = 212992
larutan 3 : area puncak testosterone = 191146 ; area puncak
metiltestosteron = 269243

contoh perhitungannya :
212992
1 = = 0.9849
216268

269243
3 = = 1.409
191146

Jumlah metiltestosteron dalam serbuk tablet yang ditentukan dengan


analisis =
1.409 50
0.04 = 0.02861 g = 28.61 mg
0.9849 100

Jumlah metiltestosteron yang diharapkan ada dalam serbuk tablet =


bobot serbuk yang dianalisis
kandungan yang dinyatakan dalam 5 tablet
berat 5 tablet
0.1713
= 5 25 = 28.57 mg
0.7496

28.62
Persentase kandungan yang dinyatakan = 28.57 100 = 100.1 %

15
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

1. Kromatografi Gas merupakan suatu cara atau teknik pemisahan dengan


menggunakan fase diam dan fase gerak.

2. Fase gerak adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan
tercapai dengan partisi sampel antara fase gas bergerak.

3.Fase diam berupa cairan dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap)
yang terikat pada zat padat penunjangnya.

4. Sistem instrumentasi kromatografi gas yaitu :


Fase gerak
Tempat injeksi (injection)
Kolom
Detector
Computer

5. Prinsip kromatografi gas ini yaitu suatu fase gerak berbentuk gas mengalir
dibawah tekanan melewati pipa yang dipanaskan dan disalut dengan fase
diam cair atau dikemas dengan fase diam cair yang disalut pada suatu
penyangga padat.

6. Kromatografi gas dalam bidang farmasi yaitu untuk digunakan dalam


pengontrolan kuaitas dari zat-zat yang terkandung didalam sediaan
farmasi, analisa hasil-hasil baru dalam pengamatan metabolisme dalam
zat-zat alir biologi.

16
7. Sampel yang dapat dianalisis dengan Kromatografi Gas diantaranya yaitu :
o Produk Gas Alam
o Kemurnian Pelarut
o Asam Lemak
o Residu Pestisida
o Polusi Udara
o Alkohol
o Steroid
o Minyak Atsiri
o Flavor
o Ganja (mariyuana)

8. Kelebihan :
o Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang
tinggal.
o Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan
efisiensi pemisahan yang tinggi.
o Gas mempunyai vikositas yang rendah.
o Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat
sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.

9. Kekurangan :
o Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah menguap
o Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan
campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah
dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi
pemisahan dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika
ada metode lain.
o Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat
reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.

10. Secara umum proses analisis minimal mempunyai 5 langkah, yaitu :

17
f. sampling (pengambilan sampel)

g. preservasi sampel (penyimpanan sampel)

h. preparasi sampel (penyiapan sampel)

i. analisis (pengukuran)

j. interpretasi data (analisis data) dan pembuatan laporan analisis.

18
DAFTAR PUSTAKA
Gritter,Roy J. Dkk. 1991. Pengantar Kromatografi. Bandung: Penerbit ITB
Khopkar, S. M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, Jakarta: UI-Press
R.A. Day, JT. & AL. Under wood. 2006. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi ke-6.
Jakarta: Erlangga
Watson, G David. 2005. Analisis Farmasi edisi 2. Jakarta: Buku Kedokteran
Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: CV. Andi Offset

19