Anda di halaman 1dari 40

Referensi Artikel

RESILIENSI PADA PASANGAN PARUH BAYA DAN DAMPAKNYA PADA


ASPEK PSIKIATRI

Oleh :
Aulia Muhammad F G99151048 Dwi Bhakti Pertiwi G99152091

Azamat Agus SG99151049 Fenti Endriyani G991520104

Miftah Nurizzahid G99151050 Reinita Vany G991520105

Naili Nur S G99151051 Sheila Savitri G991520109

Amarisanti G99151052 Agya Ghilman Faza G99152096

Rosita Alifa P G99152090

Pembimbing :
Istar Yuliadi, dr., M.Si, FIAS

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU JIWA


SMF JIWA FK UNS/ RSUD DR.MOEWARDI
SURAKARTA
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan refrat
yang berjudul : Resiliensi Pada Pasangan Paruh Baya dan Dampaknya Pada
Aspek Psikiatri. Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan referensi
artikel ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, baik berupa bimbingan dan
nasihat, oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Prof. Em. Ibrahim Nuhriawangsa, dr., Sp.KJ (K)
2. Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)
3. Prof.Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ (K)
4. Prof. Dr.Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)
5. Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ (K)
6. Yusvick M. Hadin, dr., Sp.KJ
7. Djoko Suwito, dr., SP.KJ
8. I.G.B. Indro Nugroho dr., Sp.KJ
9. Gst. Ayu Maharatih, dr., Sp.KJ
10. Makhmuroch, dr., Dra., MS
11. Debree Septiawan, dr., Sp.KJ, M.Kes
12. Istar Yuliardi, dr., M.Si., FIAS
13. Rohmaningtyas HS, dr., Sp.KJ, M.Kes
Penulis menyadari bahwa referensi artikel ini masih belum sempurna,
oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk
perbaikan refrat ini. Semoga refrat ini bermanfaat bagi kita semua.

November 2016

Penulis

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................. 1
Daftar Isi........................................................................................................... 2
BAB I : Pendahuluan........................................................................................ 3
A. Latar Belakang.................................................................................... 3
B. Tujuan................................................................................................. 7
C. Manfaat............................................................................................... 7
D. Rumusan Masalah............................................................................... 8
BAB II : Pembahasan....................................................................................... 9
A. Pernikahan.......................................................................................... 9
1. Definisi........................................................................................... 9
2. Menurut Undang-Undang.............................................................. 9
3. Menurut Agama............................................................................. 9
B. Resiliensi Keluarga............................................................................. 17
1. Definisi........................................................................................... 17
2. Sumber .......................................................................................... 21
3. Tahap Pembentukan....................................................................... 23
4. Faktor yang mempengaruhi........................................................... 28
C. Pasangan Paruh Baya.......................................................................... 31
1. Definisi........................................................................................... 31
2. Karakteristik................................................................................... 32
D. Dampak Resiliensi.............................................................................. 33
1. Dampak Fisik................................................................................. 33
2. Dampak Psikologis........................................................................ 34
BAB III : Penutup............................................................................................. 35
A. Simpulan............................................................................................. 35
B. Saran................................................................................................... 36
Daftar Pustaka................................................................................................... 37

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesatuan sosial terkecil dalam kehidupan masyarakat manusia adalah


keluarga. Keluarga memiliki peranan yang sangat penting, karena di dalam
sebuah keluarga berlangsung proses sosialisasi yang akan berpengaruh besar
terhadap tumbuh dan berkembangnya setiap individu, baik secara fisik,
mental maupun sosial. Oleh karena itu, tugas utama keluarga untuk
memenuhi kebutuhan jasmani, rohani dan sosial semua anggotanya,
mencakup pemeliharaan dan perawatan anak-anak, membimbing
perkembangan pribadi, serta mendidik agar mereka hidup sejahtera.
Undang-undang RI Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, menegaskan bahwa
pembangunan nasional mencakup semua dimensi dan aspek kehidupan
termasuk perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga untuk
mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang dilaksanakan berdasarkan
Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang-undang tersebut memberikan penegasan kepada seluruh keluarga dan
masyarakat di seluruh Indonesia, bahwa keluarga memiliki posisi sentral
dalam pembangunan nasional untuk mewujudkan masyarakat adil dan
makmur. Terdapat cita-cita yang ingin dicapai oleh Undang-undang RI
Nomor 52 Tahun 2009, yaitu; 1) terwujudnya keluarga yang berkualitas, yaitu
keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah dan bercirikan
sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal,
berwawasan ke depan, bertanggung jawab, harmonis dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, dan 2) terwujudnya ketahanan dan kesejahteraan
keluarga, yaitu kondisi keluarga dengan ciri-ciri memiliki keuletan dan
ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik material guna hidup

3
mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis
dalam meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin.
Kemudian pada Pasal 5 (1) Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2009
tentang Kesejahteraan Sosial, keluarga ditempatkan pada inti dan sentral
pengembangan kekuatan bangsa dan negara, karena secara fenomenologis
rakyat menyatu pada keluarga-keluarga. Kekuatan keluarga berarti kekuatan
negara dan bangsa. Sebaliknya kelemahan keluarga adalah cermin buram
pemerintah dalam menjalankan roda manajemen kepemimpinannya
mengayomi, memberikan bimbingan, motivasi, stimulasi, dan variasi
alternatif bagi rakyat melakukan pilihan hidupnya. (Tumanggor, 2010)
Secara universal setiap keluarga memiliki sejumlah fungsi. Menurut
Zastrow dalam Solihin, keluarga memiliki lima fungsi (Solihin, 2007): 1)
replacement of the population, yaitu fungsi keluarga untuk regenerasi atau
melanjutkan keturunan, 2) care of the young, yaitu fungsi pengasuhan dan
perawatan terhadap anak-anak, sehingga anakanak tersebut dapat tumbuh dan
berkembang secara optimal, 3) sosialization of new members, yaitu fungsi
untuk mensosialisasikan nilai-nilai budaya, norma, bahasa dan lain-lain
kepada anggota keluarganya, 4) regulation of social behavior, yaitu fungsi
pengaturan perilaku sosial. Kegagalan pengaturan perilaku sosial akan
menghasilkan ketidakcocokan dengan harapan yang diinginkan, 5) source of
affection, yaitu fungsi untuk memberikan kasih sayang, cinta yang tulus
kepada semua anggota keluarga. Bilamana ini mengalami kegagalan, maka
keluarga akan menjadi kurang harmonis.
Dewasa ini keluarga menjadi salah satu isu tematik pembangunan
sosial, baik nasional maupun global. Tidak sedikit keluarga yang mengalami
perubahan struktur, fungsi dan peranannya. Terjadinya perubahan-perubahan
tersebut telah menggoyahkan eksistensi keluarga, sehingga keluarga rentan
mengalami kegoncangan, tidak memiliki ketahanan (resiliensi) atau
mengalami disorganisasi. Sebagaimana terjadi dewasa ini, dimana arus
transformasi social yang mengiringi proses perubahan sosial tidak dapat

4
dicegah, dan memasuki ranah kehidupan manusia di semua bidang
kehidupan.
Fenomena perdagangan perempuan dan anak, tindak kekerasan
perempuan dan anak serta tawuran pelajar, merupakan indikasi tidak
berfungsinya peranan keluarga. Corak kehidupan materialistis dan
individualistis, tampaknya sudah merasuki kehidupan sebagian keluarga di
Indonesia, sebagaimana dilansir berbagai media massa nasional dewasa ini.
(Khoiruddin, 2002)
Gejala perpecahan dan gejolak keluarga akhir-akhir ini juga makin
terasa. Berbagai indikator mudah dilihat. Misalnya perceraian, pertengkaran
suami istri, kenakalan anak (menentang orang tua, mencuri, berjudi,
melanggar aturan sekolah dan masyarakat, meminum-minuman keras, dan
penggunaan obat-obat terlarang).Dan yang paling membingungkan keluarga
adalah dengan makin banyaknya kasus kehamilan di luar nikah. (Willis,
2009)
Fakta tersebut sejatinya merupakan sebagian dari indikator tidak
adanya resiliensi (ketahanan) dalam keluarga. Resiliensi keluarga merupakan
kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan
serta mengandung kemampuan fisik material dan psikis mental spiritual guna
hidup mandiri, mengembangkan diri dan keluarganya untuk mencapai
keadaan harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir dan batin.
(Dagun, 2002)
Resiliensi keluarga mutlak diperlukan dan dikembangkan sebagai
salah satu syarat tercapainya keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah,
baik bagi pasangan yang masih muda, paruh baya, bahkan tua. Resiliensi
keluarga ditandai dengan: 1) sikap melayani sebagai tanda kemuliaan, 2)
keakraban antara suami-istri menuju kualitas perkawinan yang baik, 3) orang
tua yang mengajar dan melatih anaknya dengan penuh tantangan kreatif,
pelatihan yang konsisten dan mengembangkan keterampilan, 4) suami-istri
yang menjadi pemimpin dengan penuh kasih, dan 5) anak-anak yang mentaati
dan menghormati orang tuanya. (Chapman, 2003)

5
Resiliensi keluarga dipengaruhi oleh dua faktor, yakni factor resiko
dan protektif. Faktor resiko merupakan faktor-faktor yang dapat mengancam
kesejahteraan keluarga karena sangat berhubungan dengan outcome negative.
Faktor resiko memiliki pengaruh yang dapat secara langsung meningkatkan
kemungkinan munculnya perilaku maladaptif. Sedangkan faktor protektif
merupakan factor yang mendukung keluarga untuk menjadi resilien dalam
menghadapi tantangan hidup. (Benard, 2004)
Faktor resiko yang berpotensi menurunkan resiliensi keluarga menurut
Willis antara lain, ketidakberfungsian sistem keluarga, suami dan istri sibuk
bekerja sehingga anak-anak kurang mendapat perhatian, istri/suami terlalu
dominan dalam pengambilan keputusan, anak-anak terlibat dalam tawuran,
memiliki anak yang kecanduan narkoba, dan kurang harmonisnya hubungan
seksual antara suami dan istri. (Willis, 2009) Faktor resiko terakhir, yakni
kurang harmonisnya hubungan seksual antara suami dan istri bila dibiarkan
akan menjadi problem bagi kelangsungan sebuah keluarga. Kurang
harmonisnya hubungan seksual antara suami dan istri kemungkinan salah satu
sebabnya adalah faktor usia. Semakin lanjut usia seseorang, maka hasrat
untuk melakukan hubungan seksual suami-istri semakin berkurang. Keadaan
ini disebabkan barangkali oleh faktor fisik yang sudah tidak sekuat waktu
muda dulu. Usia paruh baya merupakan periode dimana seseorang juga
mengalami penurunan gairah seksual.
Usia paruh baya merupakan masa yang ditakuti (a dreaded period)
bagi sebagian orang. (Mappiare, 2005) Bagi wanita, usia paruh baya tidak
saja berarti menurunnya kemampuan reproduktif dan datangnya menopause,
tetapi juga berarti merosotnya daya tarik seksual. Pada umumnya wanita
merasa tidak lagi menggiurkan bagi suami mereka. Sedangkan bagi pria,
paruh baya merupakan usia yang mengandung arti menurunnya kemampuan
fisik (secara menyeluruh) termasuk berkurangnya vitalitas seksual.
Pandangan umum terhadap usia berbahaya (dangerous age) bagi
orang paruh baya ini adalah saat-saat yang genting dimana sering terjadi para
suami menjauhkan diri dari isteri, khusus dalam kehidupan seksual. Banyak

6
ahli yang mengatakan bahwa suami tidak sekedar menjauhkan diri, melainkan
tidak jarang para suami mulai tidak setia terhadap istri atau menceraikannya
untuk menikah lagi dengan gadis belasan yang seusia anak gadis mereka.
Usia paruh baya sebagai usia berbahaya, juga mengandung arti bagi
banyak aspek kehidupan lainnya. Antara lain, jika individu jatuh sakit karena
berlebihan dalam bekerja, berlebihan dalam kekhawatirannya, atau hidup
yang sembarangan. Apabila sakit akibat kelebihan kerja demikian serius,
dapat menuntun individu kearah kematian. (Hurlock, 1995)
Menurut Hurlock, usia paruh baya tidak saja berbahaya bagi pasangan
suami istri, akan tetapi juga melingkupi bahaya-bahaya lain. Bahaya lain
tersebut berkaitan dengan mudahnya kejangkitan penyakit, baik fisik maupun
mental, menjadi pecandu alkohol, penyalahgunaan narkoba, kehancuran
perkawinan dan bunuh diri, baik bagi pria maupun wanita. (Nasution, 2010)
Lebih jauh Hurlock mengatakan, usia paruh baya tidak sepenuhnya hanya
berisi gambaran yang tidak enak. Masa ini juga merupakan masa berprestasi.
Pada umumnya, puncak prestasi itu dicapai dalam usia 40 sampai 50 tahun.
Setelah itu seseorang tinggal bersenang-senang menikmati jerih payahnya.
Para pejabat dan pemimpin formal kebanyakan berada pada usia itu.
Di dalam tulisan ini akan dikaji bagaimana peran pasangan usia paruh
baya dalam meningkatkan resiliensi keluarga dan faktor-faktor protektif
apakah yang mempengaruhi resiliensi keluarga pada pasangan usia paruh
baya.

B. Tujuan
1. Mengetahui tentang relisiensi pada pasangan paruh baya dan hal-hal yang
terkait dengan resiliensi.
2. Mengetahui peran suami dan istri dalam meningkatkan resiliensi keluarga.
3. Mengetahui dampak resiliensiyang terjadi pada pasangan paruh baya
terutama dalam bidang psikiatri.

7
C. Manfaat
1. Bagi Mahasiswa
Dapat memperkaya informasi dan pengetahuan tentang dampak
apa saja yang akan terjadi pada rendahnya resiliensi pasangan paruh baya
sehingga dapat menjadi ancuan untuk memberikan pelayanan terutama
konseling masalahperan suami dan istri dalam meningkatkan resiliensi
keluarga pada saat praktik di lapangan.
2. Bagi Institusi
Dapat mengukur pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam
menyusun suatu makalah dengan mengambil dari berbagai literatur serta
dijadikan sebagai refrensi pengetahuan tambahan yang diharapkan dapat
dikembangkan di kemudian hari.

D. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian pernikahan menurut undang-undang dan menurut
agama?
2. Apakah pengertian resiliensi keluiarga?
3. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi resiliensi pada keluarga?
4. Bagaimanakah peran suami dan istri dalam meningkatkan resiliensi pada
keluarga?
5. Apakah definisi pasangan paruh baya?
6. Bagaimanakah karakteristik pasangan paruh baya?
7. Apakah dampak dalam bidang psikiatri mengenai resiliensi pada
pasangan paruh baya?

8
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pernikahan
1. Definisi
Pernikahan adalah dua orang menjadi satu saling merindukan, saling
membutuhkan dan saling mendukung yang diwujudkan dalam kehidupan
bersama (Wardhani, 2012). Pernikahan secara ringkas bermakna ikatan lahir
dan batin antara pria dengan wanita sebagai suami istri yang berbagi senang
maupun susah dalam rumah tangga untuk menjalankan perintah Tuhan.
Pergeseran usia pernikahan semakin marak terbukti dari data statistik tahun
2000 rata-rata usia menikah pada wanita 22,9 tahun (Christie dkk, 2013).
2. Menurut Undang-Undang
Pernikahan mempunyai nilai ibadah bagi yang menjalankannya tercantum
dalam UU No.1 tahun 1974 pasal 1: "Perkawinan adalah ikatan lahir dan
batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri untuk
tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa". Sedangkan pada pasal 2 ayat 1 berbunyi sebagai berikut,
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing
agamanya dan kepercayaannya itu (Mukson, 2013).
3. Menurut Agama
a. Pernikahan Menurut Agama Islam
Nikah pada hakekatnya adalah aqad antara calon suami istri untuk
membolehkan keduanya bergaul sebagai suami istri, aqad artinya ikatan
atau perjanjian, jadi perjanjian untuk mengikatkan diri dalam pernikahan
antara seorang wanita dengan seorang pria. (Asmin, 1986)
Aqad pernikahan yang dilangsungkan sebelum dicatatakan, secara
agama pernikahan tersebut sah. Dengan melakukan ijab Kabul (yaitu
penawaran oleh wali mempelai perempuan dan penerimaan oleh mempelai
laki-laki) di hadapan sekurang-kurangnya dua saksi laki-laki yang harus
beragama Islam dan berkelakuan baik. (Soewondo, 1984)

9
Menurut Rusli dan R. Tama (2006) Agama Islam mensyariatkan
pernikahan dengan tujuan-tujuan tertentu, antara lain adalah :
1) Melanjutkan keturunan
2) Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan maksiat
3) Menimbulkan rasa kasih sayang
4) Menghormati sunah, rasul dan,
5) Membersihkan keturunan.
Pernikahan yang sah menurut agama islam adalah pernikahan yang
dilakukan secara hukum islam yaitu melalui aqad nikah karena memenuhi
rukun dan syarat. (Hamid, 1978)
Rukun ialah unsur pokok (tiang) sedangkan syarat merupakan unsur
pelengkap dalam setiap perbuatan hukum, pernikahan sebagai perbuatan
hukum tentunya juga harus memenuhi rukun dan syart-syarat tertentu.
(Asmin, 1986). Agama islam menentukan sahnya akad nikah kepada tiga
macam syarat, yaitu :
1) Dipenuhinya semua rukun nikah
2) Dipenuhinya syarat-syarat nikah
3) Tidak melanggar larangan pernikahan sebagai yang ditentukan oleh
syariat.
Rukun nikah merupakan bagian dari pada hakekat pernikahan, artinya
bila salah satu dari rukun nikah tidak dipenuhi, maka tidak akan terjadi
suatu pernikahan. Syarat nikah menurut agama Islam diperinci ke dalam
syarat-syarat untuk mempelai wanita dan syarat-syarat untuk mempelai
laki-laki. Syarat-syarat nikah dapat digolongkan kedalam syarat materiil
dan harus dipenuhi agar dapat melangsungkan pernikahan, syarat bagi
calon mempelai laki-laki :
1) Beragama islam
2) Terang laki-lakinya (bukan banci)
3) Tidak dipaksa (dengan kemauan sendiri)
4) Tidak beristri lebih dari empat orang
5) Bukan mahramnya bakal istri

10
6) Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan bakal istrinya
7) Mengetahui bekal istrinya tidak haram dinikahinya
8) Tidak sedang dalam ihram haji atau umrah
Selanjutnya mengenai syarat bagi calon mempelai wanita untuk dapat
melangsungkan pernikahan, adalah:
1) Beragama islam
2) Terang perempuannya (bukan banci)
3) Telah memberi izin kepada wali untuk menikahinya
4) Tidak bersuami, dan tidak dalam masa idah
5) Bukan mahram bakal suami
6) Belum pernah dilian (sumpah lian) oleh bakal suaminya
7) Terang orangnya
8) Tidak sedang dalam ihram haji atau umrah

b. Pernikahan Menurut Agama Katolik


Pernikahan Katolik bersifat monogami, kekal dan sakramental, tujuan
dari Pernikahan katolik untuk saling melengkapi antar satu dengan yang
lain dengan kata lain untuk saling menyempurnakan dan saling
membutuhkan, dan untuk menghasilkan keturunannya kelak. Sahnya
Pernikahan Katolik adalah Pernikahan yang dilakukan, diteguhkan dan
diberkati oleh pejabat gereja.
Pernikahan antara seorang pria dan wanita yang dilakukan secara sah
ditingkatan menjadi satu sakramen. Sakramen diberikan oleh suami istri
itu sendiri, dengan mengucapkan janji saling mencintai dan setia satu sama
lain dihadapan imam dan para saksi. (Asmin, 1986). Syarat-syarat
Pernikahan katolik :
1) Syarat Materiil.
a) Calon mempelai sudah mengerti makna penerimaan sakramen
Pernikahan beserta akibat-akibatnya
b) Tidak berdasarkan paksaan
c) Pria sudah berumur 16 tahun dan wanita 14 tahun

11
d) Tidak terikat tali Pernikahan dengan pihak lain
e) Beragama katolik
f) Tidak ada hubungan darah yang terlampau dekat
g) Tidak melnggar larangan Pernikahan
2) Syarat Formil
a) Dua bulan sebelum hari pernikahan, calon mempelai
memberitahukan maksudnya kepada pastor paroki pihak wanita
atau pihak pria bila calon isteri tidak beragama katolik
b) Pastor paroki akan mengadakan penyelidikan kanonik
mengenai ada atau tidaknya halangan Pernikahan, pengertian
calon mempelai tentang makna menerima sakremen Pernikahan
dengan segala akibatnya
c) Bila tidak ada halangan Pernikahan, pastor paroki akan
mengumumkan berturut-turut 3 kali pada misa hari minggu
d) Bila tidak ada pencegahan Pernikahan, pernikahan dapat
dilangsungkan pada hari yang ditentukan
e) Pernikahan dilakukan menurut aturan gereja katolik yaitu :
harus dihadapan ordinaries wilayah atau pastor-pastor atau
imamdiakon yang diberi delegasi oleh salah satu dari mereka
untuk meneguhkan Pernikahan tersebut, harus di saksikan oleh
dua orang saksi
f) Setelah Pernikahan menurut hukum agama selesai, pernikahan
tersebut haruslah dicatatkan di kantor Catatan Sipil

c. Pernikahan Menurut Protestan


Pernikahan menurut agama Protestan hampir sama dengan Katholik.
Pandangan agama Protestan mengenai pernikahan dimulai dengan melihat
pernikahan sebagai suatu peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan. Dasar
utama dari pernikahan menurut Alkitab adalah kasih yang tulus dari dua
orang, sehingga mereka menentukan untuk hidup bersatu dalam suka atau
duka sehinggga diceraikan oleh kematian. (Soerjono, 1982).

12
Pernikahan menurut pandangan protestan adalah suatu persekutuan
hidup dan percaya yang total, eksklusif dan bersambung. Seorang pria
dengan seorang wanita yan dikuduskan dan diberkati oleh kristus Yesus.
Tujuannya adalah supaya dengan pernikahan itu seorang pria dan seorang
wanita dapat saling bantu membantu, saling melengkapi, saling
menyempurnakan satu dengan lainnya, sehingga akan dapat dicapai
kebahagian hidup materiil dan spiritual di dalam kasih dan rahmat Tuhan.
(Verkuly, 1984).
Menurut keyakinan Kristen Protestan, pernikahan mempunyai dua
aspek :
1) Aspek sipil, yang mana erat hubungannya dengan masyarakat dan
negara, karena Negara berhak mengaturnya menurut undang-
undang negara
2) Pernikahan adalah merupakan soal agama, yang harus tunduk
kepada hukum agama

d. Pernikahan Menurut Hindu


Sistem pernikahan hindu adalah cara atau bentuk usaha yang
dibenarkan dan yang dapat dilakukan oleh seseorang menurut hukum
hindu dalam melegalisir tata cara pernikahan, sehingga dengan demikian
baik formil maupun materiil dapat dinyatakan sah sebagai suami isteri.
(Atardi, 1987).
Berdasarkan Manusmreti (Manudharmasastra), Pernikahan umat
Hindu bersifat religious dan obligator (mengikat), hal ini dihubungkan
dengan adanya kewajiban bagi seorang untuk mempunyai keturunan laki-
laki (purusa) agar anak tersebut dapat menyelamatkan orangtua dari
neraka. (Pudja, 1984)
Tetapi jika Pernikahan tidak dilangsungkan dengan upacara menurut
hukum Hindu maka pernikahan itu tidak sah. Dalam Hukum Adat Bali,
pernikahan selain dilandasi oleh UU Pernikahan, juga dilandasi oleh

13
Agama Hindu. Dalam hukum adat Bali dikenal adanya dua bentuk
Pernikahan yaitu:
1) Bentuk Biasa, yaitu Pernikahan yang dilakukan antara seorang
laki-laki dengan seorang perempuan, dengan si laki-laki
berkedudukan sebagai purusa. Dalam Pernikahan seperti ini si laki-
laki mengawini si perempuan dengan menarik perempuan itu
masuk rumpun keluarga laki-laki. Perempuan berkedudukan
sebagai predana. Dalam arti juga keturunannya nanti secara
otomatis akan masuk ke dalam rumpun keluarga si laki-laki sebagi
suaminya dan tidak mempunyai hubungan hukum dengan keluarga
ibunya. Terjadinya bentuk pernikahan ini adalah sebagai akibat
dianutnya sistem kekeluargaan patrilineal di Bali. Menurut sistem
kekeluargaan patrilineal, anak laki-laki yang memegang peranan
yang sangat penting selaku pelanjut keturunan dalam keluarga,
sehingga dalam pernikahan si istri akan mengikuti suami dan
demikian pula berlaku bagi anak-anaknya nanti akan masuk
menjadi anggota keluarga ayahnya.
2) Bentuk Nyentana, yaitu pernikahan yang dilakukan dengan si
perempuan berkedudukan sebagai purusa. Hal ini merupakan
kebalikan dari bentuk Pernikahan biasa yang berlaku dan
dilaksanakan di Bali. Dalam Pernikahan seperti ini, si perempuan
kawin dengan si laki-laki dengan menarik si laki-laki itu masuk ke
rumpun keluarga si perempuan. Si perempuan menjadi
berkedudukan sebagai laki-laki, sedangkan si laki-laki akan
berkedudukan sebagai perempuan. bagi si perempuan akan berlaku
hukum kewarisan yang lazim berlaku untuk laki-laki di keluarga
itu. Dalam arti juga keturunannya nanti secara otomatis akan
masuk ke dalam rumpun keluarga si perempuan sebagai istrinya
yang berstatus purusa dan tidak mempunyai hubungan hukum
dengan keluarga ayahnya. Bagi laki-laki yang nyentana,

14
kedudukannya dalam warisan adalah sebagai perempuan. (Atardi,
1987)
Istilah pernikahan di Bali adalah Patukun-luh, Pemberian jujur atau
Patukun-luh oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan adalah sebagai
lambang diputuskannya hubungan kekeluargaan si istri dengan orang tua,
nenek moyang, saudara-saudara sekandungnya. Dalam hal ini perlu
diperhatikan mengenai pernikahan rangkat (Gandharwa Wiwaha) yang
menurut hukum Hindu formalitas menurut hukum hindu ia sudah sah
sebagai suami istri sejak upacara bea-kaon (mekala-kalaan), namun karena
proses hukum yang dikehendaki untuk registrasinya maka saat kedua
pihak telah melakukan upacara keagamaan agar mencatatkan Pernikahan.
(Pudja, 1984)

e. Pernikahan Menurut Budha


Doktrin atau pokok ajaran agama Budha disebut Dharma, ajarannya
ini dirumuskan dalam apa yang disebut empat kebenaran yang mulia atau
empat aryasatyani. Aryasatyani terdiri dari empat kata, yaitu: Dukha
artinya penderitaan, samudaya artinya sebab, nirodha artinya pemadaman,
dan marga artinya jalan yaitu jalan kelepasan. (Asmin, 1986).
Pernikahan menurut agama budha adalah sebagai suatu ikatan suci
yang harus dijalani dengan cinta dan kasih sayang seperti yang diajarkan
oleh Budha. Pernikahan adalah ikatan lahir dan bathin dari dua orang yang
berbeda kelamin, yang hidup bersama untuk selamanya dan bersama-sama
melaksanakan Dharma Vinaya untuk mendapatkan kebahagiaan dalam
kehidupan sekarang dan kehidupan yang akan datang. Menurut Asmin
(1986) dikenal 4 macam pernikahan di dalam ajaran agama budha :
1) Raksasa (chavo) yang hidup bersama,karena suami isteri adalah
pasangan yang hinadan berkelakuan buruk.
2) Raksasa yang hidup bersama Dewi, karena suami yang
berkelakuan buruk hidup dengan isteri yang berbudi luhur dan
berkelakuan baik.

15
3) Dewa yang hidup bersama Raksesi, karena suami yang
berkelakuan baik hidup dengan isteri yang berkelakuan buruk.
4) Dewa yang hidup bersama Dewi, karena suami isteri merupakan
pasangan yang mulia, yang berkelakuan baik.
Tujuan dari pernikahan ini untuk mencapai kebahagian lahir dan batin,
baik dalam kehidupan sekarang maupun dalam kehidupan yang akan
datang. Syarat-syarat pernikahan menurut agama Budha mengatur masalah
pernikahan umatnya, di atas bahwa syarat materiil yang minimal harus
dimiliki oleh umat Budha yang bermaksud akan melangsungkan
pernikahan adalah sebagai berikut :
1) Apapun yang mendorong suatu pasangan untuk menikah cinta
kasih dan pengertian yang baik dengan tujuan membahagiakan satu
nama lain adalah hal utama yang harus dikembangkan.
2) Usia kedua calon mempelai tidak terlalu jauh berbeda.
3) Kedua calon mempelai haruslah sedharma, mempunyai keyakinan
yang sebanding tata susila yang sebanding, kemurahan hati yang
sebanding dan kebiksanan yang sebanding pula.

B. Resiliensi Keluarga
1. Definisi
Dalam masa hidup manusia akan mengalami beberapa fase, dimulai sejak
lahir dan kemudian bertumbuh dan berkembang menjadi anak, remaja, hingga
dewasa. Selama melewati fase hidup tersebut manusia akan hidup dalam
berbagai lapis lingkup sosial, keluarga sebagai ruang terkecil namun paling
berpengaruh, sekolah dan pertemanan, hingga lebih luas lagi masyarakat
secara keseluruhan. Di setiap fase yang akan dilalui, adalah hal yang pasti
bahwa perubahan akan dialami oleh tiap individu manusia, dari yang sudah
menjadi biasa dialami menjadi suatu hal baru, bisa menyenangkan atau
menyebalkan. Bagaimana individu menyesuaikan diri dan selalu berupaya
agar kondisi dirinya selalu seimbang, secara mental dan fisik, hal ini yang
secara simpel melukiskan bagaimana resilensi itu. Dalam arti secara harfiah

16
resiliensi diterjemahkan dari bahasa resapan asing sebagai daya pegas, lebih
detail lagi diartikan fungsi pegas adalah memposisikan segala benda yang
terhubung dengannya akan kembali pada posisi awalnya, jika terdapat daya
asing yang kecil atau besar berupaya mempengaruhi posisi benda tersebut.
Dalam Meeting of The International Society For Traumaticstress Studies tahun
2013, banyak ahli psikologi yang mengutarakan pendapat mereka tentang
resilensi. Dr. Catherine Panter-Brick (2013) (Dalam Southwick Steven M,
Bonanno George A., Masten Ann S, Panter-Brick Catherine and Yehuda
Rachel, 2014) mengatakan bahwa resiliensi adalah proses tiap individu untuk
memanfaatkan segala sumber daya dan kemampuan yang dimiliki untuk
mempertahankan kesejahteraan hidup sebagai manusia. Digunakan kata proses
karena resiliensi menyangkut banyak aspek yang terlibat dan bukan hanya
terjadi sebagai suatu event. Dr. George Bonanno (2013) (Dalam Southwick
Steven M, Bonanno George A., Masten Ann S, Panter-Brick Catherine and
Yehuda Rachel, 2014) berpendapat resiliensi secara sederhana adalah lintasan
yang stabil dari fungsi tubuh yang sehat setelah menghadapi kejadian
traumatis hebat dalam hidup. Penjelasan tersebut digunakan sebagai gambaran
dalam kondisi akut dan singkat.
The American Psychological Association (2014) (Dalam Southwick
Steven M, Bonanno George A., Masten Ann S, Panter-Brick Catherine and
Yehuda Rachel, 2014) mendefinisikan resilensi sebagai proses yang dilakukan
dalam upaya beradaptasi terhadap beragam tantangan, trauma, tragedi, atau
sumber stress khusus lainnya. Berbagai definisi yang disampaikan memberi
persamaan arti secara implisit dan menjelaskan bahwa jika seorang individu
dapat tetap produktif, dan memiliki emosional yang stabil akan memiliki
resiliensi yang baik. Resiliensi yang baik dalam lingkungan sekolah belum
tentu memastikan bahwa ia memiliki resiliensi yang baik dalam keluarga atau
tantangan hidup sosial lainnya (MacPhee David, Lunkenheimer Erika, dan
Riggs Nathaniel, 2015). Hal tersebut memberi informasi bahwa resiliensi yang
dialami oleh setiap individu memiliki mekanisme yang berbeda tergantung

17
kondisi dan tantangan yang dihadapi, meski secara mendasar terkonsep
serupa.
Dalam keluarga terjadi interaksi diad, antara suami dan istri, antara ibu
dengan anak, ayah dengan anak, atau lebih luas secara menyeluruh interaksi
anggota keluarga yang ada. Dalam interaksi yang ada terdiri atas suatu
regulasi atau ketentuan yang berjalan secara alami atau dengan pengaturan
terstruktur dari tokoh dalam keluarga, regulasi yang dimulai dari masing-
masing personal individu meluas menjadi hubungan timbal balik atar anggota
keluarga, regulasi emosi, dan regulasi struktur lainnya (MacPhee David,
Lunkenheimer Erika, dan Riggs Nathaniel, 2015). Beberapa regulasi yang ada
dalam keluarga tersebut menjadi fokus perhatian dalam pembicaraan resiliensi
dalam beberapa dekade terakhir. Dalam pengertian yang ada resiliensi
keluarga adalah proses koping dan adaptasi dalam keluarga sebagai suatu unit
(Issabela Nida dan Hendriani Wiwin, 2010). Proses yang ada dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal. Merujuk pada resiliensi keluarga berhubungan
erat dengan regulasi dalam keluarga diartikan bahwa, ketika suatu ketentuan
baik yang tersamaikan dengan jelas atau tidak dalam suatu keluarga dapat
membantu membangun resiliensi yang baik saat suatu individu dalam keluarga
mengalami permasalahan antar masing-masing anggota keluarga. Sebagai
penggambaran singkat, saat seorang anak merusak pot bunga kesayangan sang
ibu, namun anak tersebut tidak mengakuinya, berupaya menyembunyikannya
atau menggunakan pelampiasan kepada anggota keluarga lainnya, yang
kemudian dilanjutkan dengan sang ibu yang menunjukan emosi negatif
kepada bukan hanya satu anggota keluarga, namun keseluruhan, maka
hubungan internal keluarga menjadi tidak stabil, dan jika terdapat gangguan
luar yang datang menerpa keluarga tersebut, sebagai contoh sang anak lainnya
mencuri uang tetangganya, dapat hampir dipastikan, keberlangsungan
keluarga akan dipertanyakan. Hal ini akan berimplikasi berbeda jika saat sang
anak merusak pot ibunya, dan ia mengakuinya, kemudian memafkan, dan sang
ibu menunjukan emosi positif, hubungan antar anak dan ibu tersebut akan
dengan cepat membaik dan kondisi menjadi stabil kembali, yang jika

18
kemudian muncul tantangan baru dari luar, maka upaya penyelesaiannya akan
dengan cepat ditemui, sehingga semua kondisi dapat kembali seperti semula.
Hal yang serupa juga berguna pada hubungan ayah dan ibu. Regulasi yang
mempengaruhi berikutnya yaitu emosi, tergambar dalam analogi sebelumnya
betapa pengontrolan diri terhadap emosi, melalui regulasi yang mengharuskan
setiap individu dalam keluarga memproses secara baik penyebab emosi dan
tidak meluapkannya dengan cara buruk, menjadi suatu teknik dalam proses
resiliensi. Tidak dipungkiri bahwa setiap keluarga memiliki batasan dalam
mengelola emosi yang mungkin muncul, namun jika semua emosi tersebut
dikeluarkan pada kondisi yang tepat dengan kadar yang sesuai, maka hasil
resiliensi yang adekuat akan tercipta. Beberapa hal yang ada di atas
menunjukan bahwa sistem regulasi yang berperan dalam resiliensi terdiri atas
kemampuan individu dalam menstabilkan dan mengorganisasikan diri secara
adaptif dalam fungsinya sebagai anggota keluarga (MacPhee David,
Lunkenheimer Erika, dan Riggs Nathaniel, 2015). Kemampuan tersebut
menggambarkan faktor internal yang diperlukan, selain faktor eksternal yang
antara lain lingkungan dan masyarakat (Issabela Nida dan Hendriani Wiwin,
2010). Dalam suatu refrensi disebutkan bahwa resilensi dipengaruhi secara
biologis oleh faktor genetik, biomolekuler, dan hormonal selain itu faktor
proses tumbuh kembang dan faktor ekonomi banyak disinggung sebagai
faktor pendukung yang kuat dalam melawan faktor resiko (Southwick Steven
M, Bonanno George A., Masten Ann S, Panter-Brick Catherine and Yehuda
Rachel, 2014). Sehingga tidaklah menjadi hal tabu jika kestabilan ekonomi
merupakan hal penting dalam baiknya resilensi keluarga, yang kemudian akan
menjadi penjelasan lebih jauh saat suatu pasangan telah memasuki fase paruh
baya dan tidak seproduktif saat usia muda atau kondisi lainnya yang terjadi
yang berhubungan dengan faktor ekonomi. Resiliensi keluarga sangat
ditentukan oleh peran individu dalam keluarga dalam menyelesaikan
tantangan yang ada aplikasi didalamnya berupa komunikasi, saling
menghargai, kepercayaan, keteguhan, dan tetap memegang moral yang
berlaku (Issabela Nida dan Hendriani Wiwin, 2010). Keseharian aktivitas

19
dalam anggota keluarga seperti makan malam bersama dan mengobrol dapat
memberikan jalan bagi resiliensi agar berjalan baik.

2. Sumber Resiliensi
Menurut Grotberg (1995) dalam Jannah (2016), ada tiga aspek
kemampuan yang membentuk resiliensi pada seorang individu, untuk
dukungan eksternal dan sumber-sumbernya, digunakan istilah I Have. Untuk
kekuatan individu dalam diri pribadi digunakan istilah I Am, sedangkan untuk
kemampuan interpersonal digunakan istilah I Can.
a. Have (sumber dukungan eksternal)
Sebelum individu menyadari akan siapa dirinya (I Am) dan apa
yang bisa dia lakukan (I Can), individu membutuhkan dukungan
eksternal untuk mengembangkan perasaan keselamatan dan keamanan
yang merupakan inti untuk mengembangkan resiliensi. Aspek ini
merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan
resiliensi, antara lain:
Memiliki anggota keluarga yang bisa dipercaya dan menerima
apa adanya
Memiliki satu orang atau lebih (bukan keluarga) yang bisa
dipercaya dan menerima apa adanya
Orang yang membatasi tingkah laku
Orang yang mendukung independensi
Role model yang baik
Akses kesehatan, pendidikan, sosial, dan keamanan
Keluarga dan lingkungan yang stabil
b. I Am (sumber internal)
Aspek ini merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri sendiri,
meliputi perasaan, sikap, dan keyakinan di dalam diri individu. Ada
beberapa baigan dari aspek I Am, yaitu:
Perasaan disukai atau dicintai oleh orang lain

20
Tenang dan memiliki pembawaan yang baik
Memiliki target dan rencana masa depan
Menghormati diri sendiri dan orang lain
Empati dan peduli terhadap orang lain
Bertanggung jawab terhadap perilaku diri sendiri dan menerima
konsekuensinya
Percaya diri, optimis, dan penuh harapan
c. I Can (kemampuan sosial dan interpersonal)
I Can adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk
mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam berkomunikasi dengan
orang lain, memecahkan suatu masalah dalam berbagai aspek
kehidupan (seperti akademis, pekerjaan, pribadi, dan sosial) dan
mengatur tingkah laku, serta mendapatkan bantuan saat individu
membutuhkannya. Hal-hal yang mempengaruhi aspek I Can adalah:
Menghasilkan ide dan cara baru dalam melakukan sesuatu
Mengerjakan tugas sampai selesai
Menyukai humor sebagai pelepas ketegangan
Mengekspresikan pemikiran dan perasaan kepada orang lain
Mampu mengatasi permasalahan dalam berbagai kondisi
Mengatur tingkah laku diri sendiri (perasaan, impuls, tindakan)
Mendapat bantuan ketika membutuhkan
Kemampuan untuk mengendalikan perasaan dan dorongan dalam hati
dimiliki oleh individu yang resilien. Mereka mampu menyadari perasaan
mereka dan mengekpresikannnya dalam kata-kata dan perilaku yang tidak
mengancam perasaan dan hak orang lain. Ini membantu individu untuk
mengetahui seberapa banyak waktu yang diperlukan untuk berkomunikasi dan
seberapa banyak ia dapat menangani berbagai macam situasi. Selain itu,
individu yang resilien juga dapat menemukan seseorang untuk dimintai
bantuan, untuk menceritakan perasaan dan masalah, serta mencari cara untuk
menyelesaikan masalah pribadi dan interpersonal.

21
Setiap faktor dari aspek I Have, I Am, I Can memberikan kontribusi
pada berbagai macam tindakan yang dapat meningkatkan potensi resiliensi.
Individu yang resilien tidak membutuhkan semua faktor dari setiap aspek.
Tetapi apabila individu hanya memiliki satu aspek, individu tersebut tidak bisa
dikatakan sebagai individu yang resilien. Misalnya, individu mampu
berkomunikasi dengan baik (I Can), tetapi tidak memiliki hubungan yang dekat
dengan orang lain (I Have) dan tidak dapat mencintai orang lain (I Am), ia tidak
termasuk individu yang resilien.

3. Tahap pembentukan resiliensi


Resiliensi dapat dibentuk pada usia berapapun, namun membentuk
resiliensi dalam setiap kelompok usia lebih mudah jika dilihat dalam building
blocks dari pertumbuhan dan perkembangan. Building blocks ini
berkoresponden dengan usia dan tahap perkembangan umum bagi semua orang
dan mengidentifikasi serta menetapkan batas untuk faktor resiliensi bisa
dibentuk pada usia yang berbeda. Building blocks resiliensi terdiri atas trust,
autonomy, initiative, industry, dan identity (Erikson, 1985 dalam Jannah,
2016). Kelima tahap pembentukan resiliensi sesuai dengan lima tahap pertama
perkembangan hidup menurut Erikson dan berkontribusi terhadap kemampuan
individu untuk menghadapi, mengatasi, menjadi kuat, atau bahkan berubah
oleh pengalaman kesulitan (Grotberg, 2000 dalam Jannah, 2016). Dengan kata
lain, pengembangan tahap pembentukan memperlengkapi individu untuk
berurusan dengan kesulitan hidup.
Tahap pembentukan resiliensi menggabungkan paradigma resiliensi
yang membentuk proses untuk berhadapan dengan kemalangan hidup.
Paradigma resiliensi terdiri dari tiga komponen (Grotberg, 2000 dalam Jannah,
2016).
Tabel 2.1. Paradigma resiliensi
Aspek Definisi Building
Blocks
I Dukungan dari lingkungan luar Trust

22
Have individu untuk meningkatkan
resiliensi
I Am Dorongan dari dalam diri Autonomy
individu untuk meningkatkan Initiative
kekuatan menuju resiliensi
I Can Penguasaan kemampuan Industry
interpersonal dan pemecahan Identity
masalah

Berikut penjelasan setiap tahap pembentukannya:


a. Trust
Resiliensi yang dimiliki saat ini tidak tiba-tiba ada. Hal tersebut
merupakan hasil dari pengalaman yang didapatkan di awal kehidupan,
bahkan mungkin sebelum dilahirkan. Pengalaman ini biasanya dimulai
di dalam keluarga. Trust terbentuk ketika individu berada di tahun-
tahun pertama kelahiran. Perasaan percaya ini akan sangat
menentukan seberapa jauh seorang individu memiliki kepercayaan
terhadap orang lain mengenai hidupnya, kebutuhan dan perasaannya,
serta kepercayaan terhadap dirinya sendiri mengenai kemampuan,
tindakan, dan masa depannya. Kepercayaan ini menjadi sumber
pertama bagi pembentukan resiliensi.
Ketika individu memiliki rasa percaya, mereka lebih siap untuk
menerima batasan perilaku mereka dan meniru role model (I Have),
dan mereka lebih mungkin untuk menjadi orang yang menyenangkan,
empatik, peduli, dan optimis (I Am), dan dapat lebih mudah terlibat
dan sukses dalam hubungan interpersonal, mampu memecahkan
masalah di berbagai situasi, dan mampu menjangkau bantuan (I Can).
b. Autonomy
Tahap pembentukan resiliensi yang kedua adalah otonomi
(autonomy) yang telah dibangun pada tahap kepercayaan, dimana
berkembang sekitar dua atau tiga tahun. Cirinya adalah adanya
kesadaran anak bahwa ia terpisah dari orang lain. Kesadaran ini

23
memungkinkan seseorang untuk mengerti apa yang dia lakukan dapat
memperoleh respon dari sekelilingnya dan sekelilingnya dapat
memperoleh respon dari anak tersebut. Rasa keterpisahan dapat
membawa pada perilaku yang sulit bagi orang tau untuk menerima
atau mentolerirnya. Hal ini termasuk melempar makanan dan benda-
benda, menangis, merengek, atau berteriak-teriak.
Autonomy disertai oleh rasa kebebasan, tetapi juga membawa
tanggung jawab baru, terutama untuk perilaku diri sendiri. Individu
mulai mengembangkan ide tentang benar dan salah, dan merasa
bersalah jika melakukan sesuatu yang dianggap salah oleh
sekelilingnya, seperti memukul orang lain. Kebutuhan anak terhadap
autonomy mungkin terhambat ketika orang tau melakukan segala
sesuatunya atau jika dikritik karena berusaha untuk melakukan sesuatu
sendiri, anak akan merasa malu dan mulai meragukan kemampuannya.
Pada tahap ini, resiliensi dapat dikembangkan dengan:
Menyediakan cinta tanpa syarat dan mengekspresikan cinta baik
secara fisik dan verbal (sehingga terbentuk I Have: kepercayaan,
hubungan penuh kasih sayang),
Menerapkan aturan dan penghapusan hak istimewa dan bentuk
lain dari disiplin yang tidak meremehkan, membahayakan, atau
menolak anak (sehingga terbentuk I Have: struktur dan aturan di
rumah)
Memberi pujian atas prestasi yang diperoleh (sehingga terbentuk
I Am: dicintai, dan juga terbentuk I Can: menyelesaikan tugas)
Mendorong anak mencoba berbagai hal dan melakukan berbagai
hail sendiri dengan bantuan minimal dari orang dewasa
(sehingga terbentuk I Am: menjadi otonom).

c. Initiative
Tahap pembentukan resiliensi yang ketiga, dimana berkembang
sekitar 3 sampai 6 tahun. Ketika individu sudah mulai menemui jenis

24
kegiatan yang tidak bisa diselesaikan. Tetapi apakah individu berhasil
atau tidak, hal itu tidak penting, yang penting adalah keinginan untuk
mencoba yang membangun initiative. Ide-ide kreatif dalam seni dan
sains, penemuan baru, dan pemecahan masalah dalam setiap bidang
kehidupan membutuhkan inisiatif. Ketika individu menghadapi
kesulitan dalam hidup, individu tersebut berada dalam posisi yang
kuat menghadapi kesulitan jika individu mampu mengambil inisiatif
untuk menemukan tanggapan kreatif. Namun terkadang terdapat hal-
hal yang menghalangi perkembangan inisiatif. Jika individu berhenti
atau dikritik terlalu sering saat memulai suatu keigatan, individu
tersebut mungkin merasa berasalah karena merasa mengganggu orang
lain. Jika individu pernah mengalami penolakan terlalu banyak dari
orang lain yang ingin dibantunya, ia mungkin merasa tidak pantas
menerima bantuan. Akhirnya mungkin individu berhenti mencoba
untuk mengambil inisiatif dalam segala hal dan menjadi pasif karena
ia percaya penolakan dan kegagalan merupakan hal yang tak
terelakkan. Perasaan ini didasari rasa sedih, kecewa, dan marah.
Inti dari inisiatif di sini merujuk pada perkembangan minat yang
dimiliki dalam memulai sesuatu yang baru, menjadi digunakan dalam
banyak aktivitias, dan menunjukkan kontribusi dalam aktivitas orang
lain. Selama tahap ini, anak belajar tentang memulai kegiatan, sibuk
membangun berbagai hal, dan menggunakan imajinasinya dalam
bermain, serta memulai banyak pekerjaan tanpa menyelesaikannya.
Orang tua dapat meningkatkan resiliensi anak pada tahap ini dengan
menawarkan bantuan, menghargai perasaan anak mereka, menjelaskan
perilaku yang perlu diubah, menyatakan kebali peraturan, serta
memberi pujian atas usaha dan keberhasilan. Tindakan-tindakan ini
mengintegrasikan komponen resiliensi I Have, I Am, I Can.

d. Industry

25
Tahap keempat pembentukan resiliensi yang berkembang pada usia
sekitar 6 hingga 12 tahun. Pada tahap ini anak secara aktif terlibat
dalam menguasai keterampilan hidup, khususnya di sekolah. Anak
ingin menjadi sukses dan memiliki citra diri yang positif. Dia juga
ingin memiliki teman dekat, serta penerimaan dari teman sebaya. Dia
bisa menyelesaikan tugas dan melakukan berbagai hal dengan orang
lain. Tetapi jika anak tidak berhasil dalam semua industry ini, anak
merasa rendah diri dan menjadi sangat sensitif terhadap
keterbatasannya. Jika guru, orang tau, atau teman sebayanya
mengkomunikasikan bahwa anak tidak mampu, anak akan merasa
tidak aman dan mulai meragukan harga diri dan kemampuannya untuk
berhasil. Pada tahap ini, resiliensi dapat dikembangkan dengan
menggabungkan faktor resilien dari setiap kategori, seperti:
Memberikan cinta tanpa syarat, mengungkapkan cinta secara
verbal dan fisik
Menggunakan perilaku menenangkan untuk membantu anak
mengelola dan mengautr perasaan
Memuji prestasi dan perilaku yang diinginkan
Memberi kesempatan bagi anak untuk berlatih menghadapi
masalah dan kemalangan

e. Identity
Tahap pembentukan resiliensi yang kelima, berkembang pada masa
remaja sekitar usia 12 sampai 20 tahun. Pada tahap perkembangan
resiliensi ini, pembentukan identitas termasuk aspek yang sangat
penting dalam hidup seseorang memperoleh kematangan seksual, dan
berkembangnya kemampuan mental yang paling tinggi dari analisa
dan refleksi. Manfaat pembentukan identitas yang jelas termasuk
keterampilan yang lebih besar dalam membandingkan perilaku
seseorang dengan standar yang diterima, merefleksikan nilai, emosi,
kebenaran, dan cita-cita, serta mengintegrasikan kepentingan seksual

26
dengan perilaku yang bertanggung jawab. Jika remaja tidak berhasil
membangun identitas, dia mungkin mengalami kebingungan peran,
tidak yakin akan kepribadian yang sesungguhnya, dan beralih menjadi
meragukan diri.
4. Faktor yang mempengaruhi resiliensi
Resiliensi keluarga dipengaruhi oleh dua faktor, yakni faktor resiko
dan protektif. Faktor resiko merupakan faktor-faktor yang dapat mengancam
kesejahteraan keluarga karena sangat berhubungan dengan outcome negative.
Faktor resiko memiliki pengaruh yang dapat secara langsung meningkatkan
kemungkinan munculnya perilaku maladaptif. Terdapat beberapa faktor
resiko yang turut mempengaruhi melemahnya resiliensi keluarga. Faktor-
faktor resiko tersebut adalah sebagai berikut:
a. Kurang/ putus komunikasi diantara anggota keluarga
b. Sikap egosentrisme
c. Masalah ekonomi
d. Masalah pendidikan
e. Masalah perselingkuhan
f. Jauh dari agama

Faktor protektif adalah hal-hal yang memperkuat individu atau


keluarga dalam menghadapi faktor-faktor resiko. Faktor protektif terbagi
menjadi dua yaitu faktor protektif internal dan faktor protektif eksternal.
Faktor protektif internal yaitu faktor yang berasalah dari dalam individu yang
bersangkutan dengan moral dan spiritual. Sementara itu, faktor protektif
eksternal adalah faktor dari luar individu yang dapat menahanan kesengsaraan
yang dipengaruhi oleh proses dalam keluarga. Walsh (2006, dalam
Pandanwati K.S., 2012) menyebutkan proses dalam keluarga terdiri dari
sistem kepercayaan yang dianut, pola organisasi keluarga dan proses
komunikasi. Proses organisasi dalam keluarga sendiri meliputi fleksibilitas,
kelekatan keluarga, dan penggunaan sumber ekonomi dan sosial yang
dimiliki keluarga. Proses komunikasi terbagi menjadi kejelasan, keterbukaan
akan emosi yang dirasakan dan kerjasama dalam menyelesaikan masalah.

27
Faktor Protektif yang Mempengaruhi Resiliensi Keluarga Menurut
Walsh dalam Lestari, terdapat tiga faktor protektif yang menjadi kunci
resiliensi keluarga, yaitu: (1) sistem keyakinan, (2) pola pengorganisasian
keluarga, dan (3) proses komunikasi dalam keluarga.
Sementara itu Stinnett dalam Lestari mengemukakan faktorfaktor
yang turut mempengaruhi resiliensi keluarga adalah sebagai berikut:
1) Memiliki komitmen
2) Terdapat kesediaan untuk mengungkapkan apresiasi
3) Terdapat waktu untuk berkumpul bersama
4) Mengembangkan spiritualitas
5)Menyelesaikan konflik serta menghadapi tekanan dan krisis
dengan efektif
6) Memiliki ritme
Saling berbagi mengenai sistem kepercayaan terhadap harapan dan
keberhasilan pada saat menghadapi krisis dan masalah dapat menjadikan
sebuah keluarga menjadi lebih kuat. Ketika menghadapi sebuah masalah
sebuah keluarga yang menganut suatu kepercayaan akan dapat melihat
masalah tersebut dengan jernih, lebih optimis, dan mencari jawaban di dalam
kepercayaannya tersebut.(Benzies & Mychasiuk, 2009) Sistem kepercayaan
yang fundamental biasanya terdapat di dalam agama atau kepercayaan
spiritual yang dianut oleh sebuah keluarga. Sistem kepercayaan ini
merupakan salah satu hal paling penting, karena dengan kepercayaan sebuah
keluarga mampu untuk bersatu, saling mengerti, dan mengatasi konflik
bersama-sama.(Black & Lobo, 2008).
Keluarga yang saling bersatu dan memiliki hubungan komunikasi
yang baik, juga merupakan salah satu faktor protektif pada resiliensi.
Resiliensi dapat dikuatkan dengan sifat kooperatif, saling mendukung, dan
memiliki komitmen untuk mengatasi konflik bersama-sama. Terdapat 3
komponen dalam komunikasi dalam resiliensi yaitu: kejelasan, ketersediaan
untuk mengungkapkan perasaan, dan adanya kolaborasi untuk menyelesaikan
masalah yang ada. Sebaliknya pada pasangan yang tidak ingin terbuka dan

28
hanya menutupi saja maka hal tersebut dapat menjadi suatu tekanan.
Pasangan sebaiknya juga sering memiliki waktu untuk bersama seperti saat
makan ataupun menonton televisi. Faktor-faktor protektif tersebut diharapkan
dapat membantu sebuah pasangan untuk tetap mempertahankan
keharmonisan sebuah keluarga, walaupun terkadang hal-hal negatif tetap
dapat muncul tetapi mempunyai berbagai faktor untuk tetap bersama
melewati masalah dengan baik.(Greenfield & Marks, 2004).
Menurut pendapat Drummond et al (2002), faktor protektif resiliensi
pada pasangan paruh baya dapat dibagi menjadi 3 yaitu: penghargaan yang
bersifat adaptif, saling berbagi mengenai pengalaman, dan adanya dukungan
social. Penghargaan yang bersifat adaptif ini adalah adanya rasa percaya pada
anggota keluarga bahwa sebuah keluarga memiliki harapan yang optimis,
kepercayaan diri dan menerima kondisi hidup yang ada serta berusaha tetap
saling mempercayai dan tenang. Strategi untuk mengatasi masalah dapat
diterapkan dengan menggunakan kompensasi pengalaman sebelumnya yaitu
dengan menghargai pengalaman yang penting dan dapat mengatur kehidupan.
Mengklarifikasi masalah dengan jelas dan melihat situasi kembali merupakan
salah satu strategi untuk mengatasi masalah yang sangat penting pada
pasangan paruh baya. Salah satu contoh kondisi dalam menyelesaikan
masalah bersama adalah ini merupakan masalah kita bersama dari pada
mengatakan lebih baik kita lari. Dukungan sosial meliputi berbagai hal dan
bersifat multidimensional yang termasuk : keluarga besar, hubungan yang ada
diluar keluarga, lingkungan tetangga dan pekerjaan serta adanya dukungan
dari professional (Huber et al., 2010).
5. Peran Suami dan Istri dalam Meningkatkan Resiliensi Keluarga
a. Peran Suami
Peran ayah dalam keluarga berdasarkan Ngalim Purwanto, yaitu:
(1) sumber kekuasaan di dalam keluarga
(2) penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar
(3) pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga
(4) pelindung terhadap ancaman dari luar

29
(5) hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan
(6) sebagai pendidik dalam segi-segi rasional (Dagun, 2002).
Dalam ajaran Islam, peran seorang suami sangat besar, diantaranya adalah
sebagai berikut: a) memelihara keluarga dari api neraka, b) mencari dan
memberi nafkah yang halal, c) bertanggungjawab atas ketenangan,
keselamatan, dan kesejahteraan keluarganya, d) memimpin keluarga, e)
mendidik anak dengan penuh rasa kasih saying dan tanggung jawab, f)
member kebebasan berpikir dan bertindak kepada istri sesuai dengan
ajaran agama, g) mendoakan anak-anaknya, h) menciptakan kedamaian
(ketenangan jiwa) dalam keluarga, i) memilih lingkungan yang baik, dan j)
berbuat adil.
b. Peran Istri
Ngalim Purwanto mengidentifikasi ada enam peran seorang istri, yaitu:
(1) sebagai sumber dan pemberi rasa kasih sayang
(2) pengasuh dan pemelihara
(3) tempat mencurahkan isi hati
(4) pengatur kehidupan dalam rumah tangga
(5) pembimbing hubungan pribadi
(6) pendidik dalam segi-segi emosional (Purwanto, 1994).
Berdasarkan peran tersebut dan prinsip-prinsip ajaran Islam, maka peran
istri dalam keluarga diantaranya sebagai berikut.
a) Hormat, patuh, dan taat pada suami sesuai norma agama dan susila
b) Memberikan kasih sayang dan menjadi tempat curahan hati anggota
keluarga
c) Mengatur dan mengurus rumah tangga
d) Merawat, mendidik, dan melatih anak-anaknya sebagai amanah
dari Allah SWT
e) Memelihara, menjaga kehormatan serta melindungi diri dan harta
benda keluarga
f) Menerima dan menghormati pemberian (nafkah) suami serta
mencukupkan (mengelola) dengan baik, hemat, cermat, dan bijak.

30
C. Pasangan Paruh Baya
1. Definisi Pasangan Paruh Baya
Pasangan didefinisikan sebagai seorang perempuan (istri) bagi
seorang laki-laki (suami) (KBBI, 1989). Usia paruh baya juga disebut juga
sebagai usia madya atau usia dewasa tengah (Dean, 2007). Pada umumnya
usia paruh baya dipandang sebagai masa usia antara 40 sampai 60 tahun.
Masa tersebut ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental.
Pada usia 40, individu telah mencapai tempat yang stabil dalam karirnya dan
sekarang harus melihat kedepan pada jenis kehidupan yang akan dijalaninya
sebagai orang dewasa usia tengah baya. Kemudian pada usia 60 tahun
umumnya telah terjadi penurunan kekuatan fisik, seringpula diikuti oleh
penurunan daya ingat. Perubahan fisik yang dialami pada usia madya antara
lain: perubahan dalam penampilan, perubahan dalam kemampuan indera,
perubahan pada keberfungsian fisiologis, perubahan pada kesehatan dan
perubahan seksual. Sedangkan perubahan minat yang dialami pada usia
madya salah satunya adalah perubahan dalam minat keagamaan. Banyak
orang yang berusia madya baik pria maupun wanita yang tertarik pada
kegiatan yang berhubungan dengan keagamaan daripada yang pernah mereka
kerjakan pada waktu masih muda. Keinginan untuk lebih terlibat dengan
keagamaan biasanya dikrenakan mereka mempunyai banyak waktu luang
sehingga kegiatan tersebut dianggap dapat memenuhi kebutuhannya dan
keinginan tersebut akan semakin besar setelah seseorang kehilangan anggota
keluarga atau teman dekatnya. Individu pada usia madya juga menemukan
bahwa agama merupakan sumber kesenangan dan kebahagiaan yang lebih
besar daripada yang pernah diperoleh dulu sewaktu usianya masih muda
(Hurlock,1995).
Walaupun dewasa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan
tersebut lebih lambat dari pada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya
masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia

31
enampuluhan baik sengaja atau tidak sengaja, usia enampuluhan tahun
dianggap sebagai garis batas antara usia paruh baya dengan usia lanjut
(Hurlock, 1995).
2. Karakteristik Pasangan Paruh Baya
Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia madya pun
diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda dari
tahap usia lainnya. Salah satu karakteristik usia madya adalah bahwa
umumnya usia ini dianggap atau dipandang sebagai usia yang berbahaya
dalam rentang kehidupan (Hurlock, 1990). Usia madya merupakan masa di
mana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan perilaku masa
dewasanya dan memasuki suatu periode dalam kehidupan yang akan diliputi
oleh ciri-ciri jasmani dan perilaku baru. Penyesuaian yang radikal terhadap
peran, pola hidup dan berbagai perubahan fisik, akan cenderung merusak
homeostasis fisik dan psikologis seseorang dan kemudian membawanya ke
masa stres. Kekecewaan pada homeostasis fisik dan psikologis tersebut tidak
hanya dapat mengganggu hubungan suami istri, yang kadang-kadang menuju
pada perpisahan atau perceraian, tetapi juga lambat laun membawa pria dan
wanita kepada gangguan jiwa, alkoholisme, pecandu obat dan bunuh diri. Hal
inilah yang menyebabkan usia madya dianggap sebagai usia yang berbahaya
(Hurlock, 1990).
Seperti halnya setiap periode dalam rentang kehidupan, usia paruh baya
pun diasosiasikan dengan karakteristik tertentu yang membuatnya berbeda.
Berikut adalah sepuluh karakteristik usia paruh baya:
1) periode yang sangat ditakuti,
2) masa transisi,
3) masa stress,
4) usia yang berbahaya,
5) usia canggung,
6) masa berprestasi,
7) masa evaluasi,
8) masa dievaluasi dengan standar ganda,

32
9) masa sepi, dan
10) masa jenuh.

D. Dampak Resiliensi
Resiliensi pasangan adalah suatu kondisi dimana pasangan mampu
beradaptasi dan berhasil melalui stress. Pasangan yang resilien merespon
secara positif setiap kesulitan dengan mempertimbangkan sudut pandang satu
sama lain, sehingga pasangan tersebut dapat mengatasi masalah dan kesulitan
dengan efektif. Resiliensi membawa dampak positif dalam aspek fisik dan
psikologis. Pasangan yang resilien secara umum memiliki kualitas hidup dan
kesehatan mental yang lebih baik daripada pasangan yang tidak resilien.
Contoh dampak positif yang ditimbulkan oleh resiliensi adalah sebagai
berikut.

1. Dampak psikologis
a. Bahagia dan menikmati kehidupan
Pasangan yang resilien cenderung lebih menikmati kehidupan karena
masing-masing mensyukuri apa yang dimiliki dan tidak menuntut
berbagai hal dari pasangannya, sehingga hidupnya menjadi bahagia.

b. Daya tahan mental yang kuat


Pasangan yang resilien berarti memiliki daya tahan yang kuat dalam
menghadapi permasalahan dan kesulitan. Penelitian menunjukkan
bahwa pasangan yang resilien lebih siap dan mampu mengatasi
berbagai masalah yang akan muncul di masa depan.
c. Risiko depresi lebih rendah
Orang-orang yang berusia paruh baya sampai lansia rentan mengalami
depresi. Pasangan paruh baya yang resilien memiliki daya tahan
mental yang kuat, sehingga risiko depresi menjadi lebih rendah.
d. Kemungkinan terjadinya perceraian rendah
Pasangan mengalami berbagai badai pernikahan yang dapat
menyebabkan terjadinya perceraian. Pasangan yang resilien merespon
suatu permasalahan dengan mempertimbangkan sudut pandang satu

33
sama lain, sehingga badai pernikahan dapat diatasi dan perceraian
dapat dihindari.
2. Dampak fisik
Secara umum, resiliensi dapat membuat seseorang memiliki kemandirian
dalam melakukan kegiatan sehari-hari, umur yang panjang, serta risiko
mortalitas yang rendah. Resiliensi pada individu usia paruh baya dapat
memicu terjadinya proses penuaan yang sukses.

BAB III
PENUTUP

34
A. Simpulan
1. Pernikahan adalah dua orang menjadi satu saling merindukan, saling
membutuhkan dan saling mendukung yang diwujudkan dalam kehidupan
bersama. Pernikahan secara ringkas bermakna ikatan lahir dan batin antara
pria dengan wanita sebagai suami istri yang berbagi senang maupun susah
dalam rumah tangga untuk menjalankan perintah Tuhan.
2. Resiliensi adalah proses tiap individu untuk memanfaatkan segala sumber
daya dan kemampuan yang dimiliki untuk mempertahankan kesejahteraan
hidup sebagai manusia.
3. Resiliensi keluarga sangat ditentukan oleh peran individu dalam keluarga
dalam menyelesaikan tantangan yang ada aplikasi didalamnya berupa
komunikasi, saling menghargai, kepercayaan, keteguhan, dan tetap
memegang moral yang berlaku.
4. Salah satu karakteristik usia madya adalah bahwa umumnya usia ini
dianggap atau dipandang sebagai usia yang berbahaya dalam rentang
kehidupan. Penyesuaian yang radikal terhadap peran, pola hidup dan
berbagai perubahan fisik, akan cenderung merusak homeostasis fisik dan
psikologis seseorang dan kemudian membawanya ke masa stres.
Kekecewaan pada homeostasis fisik dan psikologis tersebut tidak hanya
dapat mengganggu hubungan suami istri, yang kadang-kadang menuju
pada perpisahan atau perceraian, tetapi juga lambat laun membawa pria
dan wanita kepada gangguan jiwa, alkoholisme, pecandu obat dan bunuh
diri.
5. Pasangan yang resilien merespon secara positif setiap kesulitan dengan
mempertimbangkan sudut pandang satu sama lain, sehingga pasangan
tersebut dapat mengatasi masalah dan kesulitan dengan efektif. Resiliensi
membawa dampak positif dalam aspek fisik dan psikologis. Pasangan yang
resilien secara umum memiliki kualitas hidup dan kesehatan mental yang
lebih baik daripada pasangan yang tidak resilien.

35
B. Saran
1. Pengetahuan mengenai resiliensi perlu dimengerti sejak usia madya
sehingga pada saat usia paruh baya, pasangan sudah memiliki ketahanan
terhadap masalah-masalah yang ada. Dengan begitu kesulitan-kesulitan
yang ada direspon dengan positif.
2. Dukungan antar pasangan sangat diperlukan dalam membentuk resiliensi
dalam keluarga.

36
DAFTAR PUSTAKA

Benzies K, & Mychasiuk R (2009). Fostering family resiliency: A review of the


key protective factors. Child & Family Social Work, 14(1), 103-114.

Black K & Lobo M (2008). A conceptual review of family resilience


factors. Journal of Family Nursing, 14(1), 33-55.

Bradley JM, Hojjat M (2016). A model of resilience and marital satisfaction. The
Journal of Social Psychology Vol 156(6)

Chiu, M. Y., & Ho, W. W. (2006). Family relations and mental health of
unemployed middle-aged Chinese men. Journal of mental health, 15(2),
191-203.urnal, 16(2), 107-117.

Dean, Gary J. 2007. An Introduction to Adult Development. Commonwealth of


Pennsylvania.http://www.optimaladult.org/index.cfm/linkservid/A616F0E2-
5056-A32A-F8A8B727FFB29CF5/showMeta/0/

Drummond, J., Kysela, G. M., McDonald, L., & Query, B. (2002). The family
adaptation model: examination of dimensions and relations. The Canadian
journal of nursing research= Revue canadienne de recherche en sciences
infirmieres, 34(1), 29-46.

Fontes AP, Neri AL (2015). Resilience in aging: literature review. Cien Saude
Colet 20(5): 1475-95.
Fox C, Sitkin S (2015). Behavioral science and policy vol. 1 no. 2. Washington
DC: Brookings Institution Press.

Gardner, D. L., Huber, C. H., Steiner, R., Vazquez, L. A., & Savage, T. A. (2008).
The development and validation of the inventory of family protective
factors: A brief assessment for family counseling. The Family Jo

37
Greenfield EA & Marks NF (2004). Formal volunteering as a protective factor for
older adults' psychological well-being. The Journals of Gerontology Series
B: Psychological Sciences and Social Sciences, 59(5), S258-S264.

Huber, C. H., Navarro, R. L., Womble, M. W., & Mumme, F. L. (2010). Family
resilience and midlife marital satisfaction. The Family Journal.

Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan. terj. Istiwidayanti. Jakarta:


Erlangga, 1995.

Issabela, N. & Hendriani, W., 2010. Resiliensi pada Keluarga yang tinggal di
Lingkungan Lokalisasi Dupak, Bangunsari. Insan, 12(3), pp.176186.

Jannah, SAN (2016). Studi deskriptif mengenai resiliensi pada penyandang lupus
usia dewasa awal di Syamsi Duha Foundation Bandung. Fakultas Psikologi
Universitas Islam Bandung.

MacLeod S, Musich S, Hawkins K, Alsgaard K, Wicker ER (2016). The impact of


resilience among older adults. Geriatric Nursing Journal 37: 266-272.

MacPhee David, Lunkenheimer Erika, dan Riggs Nathaniel., 2015. HHS Public
Access. , 33(4), pp.395401.

Masarik, A. S., Martin, M. J., Ferrer, E., Lorenz, F. O., Conger, K. J., & Conger,
R. D. (2016). Couple resilience to economic pressure over time and across
generations. Journal of Marriage and Family.

Mukson. Moh., 2013, Tradisi Perkawinan Usia Dini di Desa Tegaldowo


Kabupaten Rembang (Sebuah Refeksi Kehidupan Masyarakat Pedesaan).
Jurnal Bimas Islam Vol.6, Jakarta Pusat.

Pandanwati K.S., Suprapti V. 2012. Resiliensi keluarga pada pasangan dewasa


madya yang tidak memiliki anak. Jurnal psikologi pendidikan dan
perkembangan, 7 (3): 3-5.

38
Skerrett K, Fergus K (2015). Couple resilience. New York: Springer
Science+Business Media.

Southwick, S.M. et al., 2014. Resilience definitions, theory, and challenges:


Interdisciplinary perspectives. European Journal of Psychotraumatology, 5,
pp.114.

Tim Penyusun. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka,


1989.

Venter N, Snyders R (2009). Resilience in intimate relationship. Department of


Psychology of University of South Africa.

Walsh, F. (2015). Strengthening family resilience. Guilford Publications.

Wassersug, RJ (2016). Couple resilience: emerging perspectives. Journal of Sex


and Marital Therapy Vol 42(6): 569-571.

39