Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

ANATOMI HISTOLOGI HEWAN

JARINGAN IKAT KHUSUS

OLEH

KELOMPOK 5

NAMA-NAMA KELOMPOK :

1. ELISABET WENDE

2. NOVIA WIDIATY TUTHAES

3. STEFANY SENDA

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hewan adalah organisme autotrof yang mengambil energi kimia dari makanan yang
dicernanya. Pada jaringan hewan, fungsi berkorelasi dengan struktur dan sistem organ yang
satu dengan sistem organ yang lain saling ketergantungan. Ukuran tubuh dan bentuk tubuh
hewan biasanya mempengaruhi interaksi hewan dengan lingkungan, sedangkanbentuk fisik
didarat bergantung pada adaptasi proporsi dan postur tubuh.
Semua kehidupan ditandai dengan tingkat organisasi yang berhirarki. Sel menempati
tempat khusus dalam hirarki kehidupan karena merupakan tingkat organisasi terendah dalam
kehidupan yang mampu hidup mandiri sebagai suatu organisme. Organisme multiseluler
memiliki sel-sel khusus. Sel-sel tersebut mampu membentuk jaringan yang merupakan
tingkat struktur dan fungsi yang lebih tinggi. Pada sebagian hewan, kombinasi berbagai
jaringan membentuk unit fungsional yang disebut organ, dan kumpulan organ yang bekerja
bersama-sama membentuk sistem organ.
Struktur hewan adalah kumpulan dari berbagai macam jaringan yang melaksanakan
suatu tugas tertentu akan membentuk organ. Derajat dari organisme ditentukan dari makin
beragamnya organ yang dimiliki. Jaringan tersusun atas beberapa sel yang memiliki struktur
dan fungsi yang sama. Jaringan dengan struktur yang khusus memungkinkan mempunyai
fungsi yang spesifik, sebagai contohnya otot-otot jantung yang bercabang menghubungkan
sel jantung yang lainnya. Organ merupakan kumpulan berbagai jaringan (tidak selalu sama)
yang bersatu membentuk suatu material struktural dan fungsional tertentu. Sistem organ
adalah kelompok berbagai organ yang saling berinteraksi dan bekerja sama membentuk
sebuah fungsi yang kompleks untuk kehidupan makhluk hidup. Jaringan didalam tubuh
hewan mempunyai sifat yang khusus dalam melakukan fungsinya seperti peka dan
pengendali (jaringan saraf), gerakan (jaringan otot), penunjang dan pengisi tubuh (jaringan
ikat), absorbsi dan sekresi (jaringan epitel)dan jaringan lainnya. Jaringan pembentuk organ
manusia atau vertebrata terdiri atas beberapa jaringan utama salah satunya adalah jaringan
pengikat yang merupakan jaringan yang penting untuk menyusun tubuh hewan.
Berdasarkanuraiandiatas, makalahinidisusununtukmenguraikanmengenaijaringan
pengikat, terlebih jaringan pengikat khusus yang terdiri dari jaringan lemak (adiposa) dan
jaringan darahdilihatdari, karakteristik,fungsi, komponen penyusun, dan histopatologia pada
jaringan tersebut.

B. Rumusan Masalah
Beberapa rumusan masalah yang akan dijawab melalui pembahasan dari makalah ini
adalah :
1. Jelaskan pengertian dan fungsi dari jaringan ikat pada hewan !
2. Uraikan komponen-komponen dari jaringan ikat pada hewan !
3. Jelaskan pengertian dan fungsi jaringan lemak!
4. Uraikan histopatologis dari jaringan lemak!
5. Jelaskan pengertian jaringan darah!
6. Uraikan komponen-komponen dan histopatologis pada jaringan darah!
7. Jelaskan fungsi dari jaringan darah!
C. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan
karakteristik, fungsi, komponen penyusun, dan histopatologis pada jaringan ikat khusus
terlebih jaringan lemak (adiposa) dan jaringa darah pada hewan.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari makalah ini adalah membahas tentang pengertian dan fungsi dari
jaringan ikat, komponen-komponen, dan jenis-jenis jaringan ikat khusus pada hewan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Dan Fungsi Jaringan Ikat


Jaringan adalah kelompok sel yang serupa secara struktural (begitu pula dengan
produk yang dihasilkan) yang mengalami spesialisasi untuk menjalankan suatu fungsi
tertentu. Ada 4 jenis jaringan dasar yang ditemukan pada tubuh hewan yaitu : jaringan
epitelium, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf. Semua struktur tubuh
hewantersusun dari beragam jumlah jaringan ini.
Jaringan ikat adalah jaringan yang tersusun atas sel dan substansi dasar. Kedua
penyusun tersebut merupakan ciri khas yang hanya dapat ditemukan pada jaringan ikat.
Jaringan ikat berkembang dari sel-sel mesenkim pada lapisan mesoderm (lapisan tengah
embrio). Sel-sel ini berdiferensiasi membentuk jaringan ikat dengan berbagai bentuk dan
variasi. Letak sel-sel jaringan ikat tidak berhimpitan rapat (terpencar- pencar), tetapi apabila
berhubungan hanya bagian protoplasamanya saja.
Berikut ini berbagai fungsi dari jaringan ikat secara umum :
1. Jaringan ikat memberi bentuk dan penunjang bagi tubuh.
2. Jaringan ikat mengikat berbagai jaringan agr tetap menyatu dan menyediakan materi
pembungkus antar bagian-bagian tubuh, menyimpan lemak dan membantu dalam
perbaikkan jaringan.
3. Substansi dasar dari jaringan ikat yang renggang memberikan jalur untuk pembuluh
darah dan saraf, nutrien, gas, dan sisa metabolisme di transport dari kapiler ke sel dan
sebaliknya, melalui substansi dasar.
4. Substansi dasar merupakan suatu barrier (penghalang) terhadap penyebaran bakteri yang
berbahaya dan juga menjadi tempat berlangsungnya pertahanan terhadap serangan
bakteri.
B. Komponen Komponen Jaringan Ikat
Jaringan ikat tersusun dari berbagai komponen yaitu matriks dan sel- sel jaringan ikat.
Bentuk sel- sel jaringan ikat tidak teratur, sitoplasmanya bergranula dan intinya
menggembung.
Matriks Jaringan Ikat
Matriks adalah zat yang dihasilkan sel-sel penyusunjaringan ikat dan tersebar di antara
sel-sel tersebut (ekstraseluler). Zat penyusun matriks berupa bahan dasar dan serat-serat.
Bahan dasar ini merupakan bahan yang homogen dan semicair yang mengandung serat
protein, proteoglikan (gabungan protein dan karbohidrat), serta garam-garam mineral.
Matriks tersusun oleh serabut-serabut dan bahan dasar.

A. Serabut jaringan ikat


Berdasarkan bentuk dan reaksi kimianya, Serabut dibedakan menjadi tiga jenis,
yaitu serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikular.
Serabut Kolagen Jaringan Ikat
Serabut kolagen mempunyai daya elastisitas rendah, daya regang sangat tinggi,
berwarna putih, dan bentuknya berupa berkas-berkas beragam. Serabut kolagen
terdapat pada tendon (penghubung otot dengan tulang) dan jaringan ikat longgar.
Serat berkolagen (collagenous fiber) terbuat dari kolagen yang mungkin
merupakan protein yang paling berlimpah dalam kingdom hewan. Serat
berkolagen bersifat tidak elastis dan tidak mudah robek jika ditarik mengikuti
panjangnya.
Serabut Elastin Jaringan Ikat
Serabut elastis (elastic fiber) adalah untaian panjang yang tebuat dari protein
yang disebut elastin. Serat elastin memberikan suatu sifat seperti karet yang
melengkapi kekuatan serat berkolagen yang tidak elastis.Serabut elastin
mempunyai elastisitas tinggi, berwarna kuning, lebih tipis dari serabut kolagen,
dan bentuknya seperti bangunan bercabang-cabang dan tebal. Serabut elastin
tersusun oleh protein dan mukopolisakarida. Serabut elastin antara lain terdapat
pada pembuluh darah dan ligamen. Elastisitas serabut elastin akan semakin
menurun dengan semakin bertambahnya usia seseorang.
Serabut Retikular Jaringan Ikat

Serat retikuler (reticular fiber) adalah serat yang tipis dan bercabang. Tersusun
atas kolagen dan tersambung dengan serat berkolagen, serat ini membentuk suatu
anyaman yang ditenun dengan karet yang menghubungkan jaringan ikat dengan
jaringan disebelahnya. Serabut retikular mempunyai daya elastisitas rendah.
Hampir sama dengan serabut kolagen, tetapi ukurannya lebih kecil. Serabut ini
berperan menghubungkan antara jaringan ikat dengan jaringan lainnya.

B. Bahan dasar jaringan ikat


Bahan dasar penyusun matriks berupa bahan homogen setengah cair yang terdiri
dari mukopolisakarida sulfat dan asam hialuronat. Matriks bersifat lentur jika asam
hialuronatnya tinggi dan akan bersifat kaku jika mukopolisakaridanya tinggi. Bahan
dasar yang terdapat dalam sendi bersifat kental, sedangkan yang terdapat dalam
tulang punggung bersifat padat.
Sel Sel Jaringan Ikat
Di dalam matriks tertanam berbagai sel-sel penyusun jaringan ikat. Beberapa jenis sel
yang tertanam dalam matriks sebagai berikut.

a. Fibroblast Jaringan Ikat

Fibroblast berfungsi mensintesis dan mensekresikan protein pada serabut.

b. Makrofag Jaringan Ikat


Makrofag bentuknya berubah-ubah (tidak teratur) dan khusus terdapat di dekat
pembuluh darah, berfungsi dalam pinositosis dan fagositosis. Makrofag dapat
digerakkan atau didistribusikan ke jaringan lain yang mengalami peradangan.
Magrofag juga berfungsi untuk menelan (fagosit) benda asing seperti bakteri, virus
atau sel-sel yang mati

c. Sel Tiang (Sel Mast) Jaringan Ikat

Sel tiang berfungsi menghasilkan substansi heparin dan histamin. Substansi heparin
adalah suatu anti koagulan yang dapat menghalangi pengubahan protrombin
menjadi trombin yang berfungsi mencegah pembekuan darah. Substansi histamin
adalah suatu zat yang dihasilkan mastosit sebagai reaksi terhadap antigen yang
sesuai dan berfungsi meningkatkan permeabilitas kapiler darah.

d. Sel Lemak Jaringan Ikat

Sel lemak berfungsi menyimpan lemak. Jaringan ikat yang memiliki sel lemak dalam
jumlah banyak disebut Jaringan adiposa.

e. Berbagai Jenis Sel Darah Putih

Sel darah putih berfungsi melawan patogen (berupa bakteri, virus, atau Protozoa)
yang menimbulkan penyakit. Sel-sel darah putih bergerak bebas secara diapedesis di
antara darah, limfa, atau jaringan ikat untuk membersihkan patogen. Sel darah putih
ada 2 macam, yaitu sel darah putih granulosit dan agranulosit. Sel darah putih
granulosit (yang bergranula), yaitu eosinofil, basofil, dan neutrofil, sedangkan yang
agranulosit (tidak bergranula) yaitu lomfosit dan monosit.

C. Klasifikasi Jaringan Ikat Khusus


1.JARINGAN ADIPOSA (LEMAK)
A. Pengertian Jaringan Adiposa (Lemak)
Jaringan lemak adalah jaringan yang tersusun atas sel-sel lemak. Sel-sel lemak
sendiri adalah sel yang berisi gumpalan lemak atau globul lemak sehingga inti dan
sitoplasma terdorong ke tepi sel. Nama lain untuk sel lemak adalah sel adiposa. Letak
jaringan lemak tepat di bawah kulit tubuh, disekitar organ tubuh pada jaringan tulang
atau sum-sum tulang, jaringan lemak dapat pula ditemukan pada kelenjar.
Lemak yang terdapat di kulit disebut lemak subkutanaeus, sedangkan lemak yang
berada di sekitar organ tubuh di sebut lemak ektopik.

Gambar Sel Lemak

Karena struktur molekul lemak yang kaya akan rantai unsur karbon (-CH2-CH2-CH2-)
maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya
lemak untuk larut di dalam air. Lemak hanya dapat larut dalam larutan non polar seperti
eter, klorofom, dan benzol.
B. Fungsi Jaringan Lemak

1. Fungsi lemak sebagai sumber energi


Lemak memiliki fungsi utama untuk mensuplai energi bagi tubuh. Lemak menyediakan
energi, dengan fungsi ini lemak akan mengurangi fungsi protein agar dapat berperan
untuk fungsi lain seperti memperbaiki jaringan tubuh yang rusak.

2. Lemak berfungsi untuk pembentukan sel

Selain memasok energi, lemak juga membantu dalam pembentukan struktur sel dan
jaringan seperti membran sel dalam tubuh manusia.

3. Mengatur suhu tubuh

Lemak sangat berperan dalam mengatur suhu tubuh agar tetap hangat, hampir setengah
dari lemak berada di bawah kulit yang berfungsi untuk menjaga tubuh agar tetap
hangat, walaupun dalam kondisi cuaca sedang dingin.

4. Fungsi lemak untuk menjaga organ tubuh

Lemak juga berfungsi untuk menjaga kondisi organ dalam dalam tubuh. Hal ini
dikarenakan lemak terdapat sekitar 45% dalam organ tubut. Jaringan adiposaini
memberikan perlindungan mekanik (bantalan) dan dukungan di beberapa organ
utama, misalnya ginjal.

C. Histopatologis Pada Jaringan Adiposa ( Lemak)


1. Lipoma
Lipoma adalah tumor adiposa atau jaringan lemak yang umumnya ditemukan
pada jaringan subkutan dari kepala, leher, bahu dan punggung. Lipoma
ditemukan pada semua jenjang usia kebanyakan umur 40 dan 60 tahun. Lipoma
tumbuh secara lambat, umumnya tumor jinak, dan apabila disentuh akan terasa
lunak.
2. Kista
Kista ditandai dengan tumbuhnya benjolan berisi cairan, biasanya nanah dan
berada dekat dengan permukaan kulit, apabila disentuh kista akan terasa keras.
Kista dapat menyebabkan peradangan pada kulit seperti kulit menjadi
membengkak dan berwarna kemeraahan.
3. Penyakit Fabry
Penyakit ini disebabkan oleh glikolipid yang merupakan hasil metabolisme
lemak menumpuk pada jaringan. Penumpukan glikolipid menyebabkan
pertumbuhan pada kulit yang tidak bersifat kanker ( angiokeratomas), kornea
mata menjadi berawan yang mengakibatkan pandangan menjadi buruk, rasa
terbakar yang terjadi pada lengan dan kaki dan orang tersebut bisa mengalami
demam.
4. Obesitas
Obesitas adalah penumpukan lemak yang sangat tinggi di dalam tubuh sehingga
membuat berat badab berada di luar batas ideal. Sejumlah komplikasi dapat
timbul akibat obesitas, bahkan diantaranya dapat membahayakan nyawa.
Beberapa komplikasi yang cukup serius dianataranya : stoke, penyakit jantung
koroner, diabees tipe 2 dan kanker usus.

3. JARINGAN MUKOSA

A. Karakteristik jaringan mukosa

Membran mukosa adalah jaringan berbentuk lapisan atau membran yang melapisi
beberapa organ tubuh. Membran ini melapisi daerah tubuh yang terpapar lingkungn luar
dan juga melapisi organ dalam. Daerah yang terpapar lingkungan luar misalnya lubang
hidung, bibir, kelopak mata, telinga, area genital, dan anus.
Jaringan mukosa membentuk membran mukosa yang melapisi beberapa organ tubuh.
Membran ini melapisi beberapa organ tubuh. Membran ini melapisi beberapa organ
tubuh yang terpapar lingkungan luar dan juga melapisi organ dalam. Daerah tubuh yang
terpapar lingkungan luar misalnya lubang hidung, bibir, kelopak mata, telinga, area
genital, dan anus. Organ dalam yang dilapisi membran mukosa adalah organ organ pada
saluran kencing, saluran pencernaan, dan saluran pernapasan. Sebagian besar embran ini
mengandung kelenjar yang mensekresikan cairan seperti lendir atau mukus sehingga
disebut sebagai membran mukosa.
B. Fungsi Jaringan Mukosa

Membran mukosa memiliki beberapa fungsi diantaranya:

1) Melindungi, melembabkan, dan melicinkan lapisan sehingga tidak kering seperti


pada mukosa mulut, sinus, mata dan genital.
2) Menangkap kuman, debu dan kotoran sehingga dapat dibuang oleh tubuh
contohnya mukosa hidung dan mulut.
3) Melicinkamn lapisan sehingga mudah terjadi pertukaran udara misalnya pada
mukosa paru paru.
4) Membantu penyerapan zat - zat nutrisi misalnya pada mukosa usus
C. Histopatologis Pada Jaringan Mukosa
Beberapa penyakit yang dapat mengenai membran mukosa antara lain:
1) Leuklopakia : merupakan kelainan yang terjadi pada mukosa rongga mulut,
leukolplakia merupakan suatu istilah lama yang digunakan untuk menunjukan suatu
bercak putih yang terdapat pada membran mukosa dan sukar untuk dihilangkan atau
terkelupas.
2) Infeksi : jika membran mukosa terluka atau robek sistem perlindungan membran
mukosa rusak sehingga kuman dan kotoran mudah masuk dan menyebabkan infeksi
bakteri, virus, parasit atau jamur. Infeksi dapat terjadi pada membran mukosa pada
semua tempat. Pada saluran napas, infeksi dapat terjadi dimukosa hidung (rinitis) dan
tenggorokan (bronkitis). Pada saluran pencernaan, infeksi dapat terjadi dimulut,
kerongkongan (esofagits), lambung (gastritis), usus (ileitis, kolitis), dan anus. Pada
saluran cerna, infeksi dapat terjadi dimukosa saluran kencing (uretritis), kandung
kemih, dan alat kelamin. Penyakit menular seksual seperti gonorhea sifilis
merupakan peradangan pada membran mukosa alat kelamin akibat infeksi yang dapat
ditularkan melalui kontak antar membran mukosa saat hubungan seksual.
3) Trauma : pada membran mukosa umumnya mengenai mukosa yang berhubungan
dengan lingkungan luar, seprti mata, hidung, mulut, anus, dan alat kelamin.
4) gangguan imun : dapat berupa alergi dan penyakit imun. Bentuk alergi pada mukosa
bervariasi dari ringan sampai berat. Alergi ringan dapat berupa gatal atau kemerahan,
sedangkan alergi berat dapat berupa pembengkakan mukosa yang hebat dan kematian
sel epitel. Penyakit imun juga bervariasi umumnya menimbulkan gejala benjolan
berisi air pada mukosa mulut atau anus (pemfigus atau pemfigoid).
4. JARINGAN RETIKULER
A. Karakteristik Jaringan Retikuler
Jaringan retikuler adalah jenis jaringan yang ditemukan dalam tubuh yang didukung
dengan kerangka percabangan serat olagen yang dikenal sebagai serat retikuler. Serat ini
hadir dalam berbagai jenis jaringan ikat dan terutama terkonsentrasi dalam jaringan ikat
retikuler. Beberapa contoh struktur dalam tubuh yang meliputi jenis jaringan ikat termasuk
hati, limfa dan jaringan getah bening.
Dalam jaringan ikat retikuler, sel-sel yang dilihat dari dekat serat retikuler dapat
dilihat dalam bentuk rangkaian bercabang benang. Jaringan ini mirip dengan jaringan ikat
dengan jumlah tinggi serat elastis, kecuali bahwa jaringan ikat retikuler serat kolagen yang
bercabang, sedangkan serat elastis sejajar satu sama lain.
5. JARINGAN DARAH
A. Pengertian Jaringan Darah
Darah adalah jaringan ikat yang sel-selnya( elemen pembentuknya) tertahan dan
dibawa dalam matriks cairan (plasma). Darah lebih berat dibandingkan air dan lebih
kental. Cairan ini memiliki rasa dan bau yang khas, serta pH 7,4 (7,35-7,45). Warna
darah pada manusia dan hewan mamalia lainya bervariasi dari merah terang sampai
merah merah tua kebiruan tergantung dari kadar oksigen dan karbondioksida yang
dibawa oleh sel darah merah. Darah serangga tidak berwarna karena tidak
mengandung hemoglobin tetapi mengandung hemosianin. Dalam tubuh manusia
mengalir sekitar 5 liter darah, sekitar 55%nya adalah cairan atau plasma darah
sedangkan 45% sisanya terdiri atas sel darah.
B. Fungsi Darah
Keberadaan darah dalam tubuh mempunyai arti penting bagi kehidupan
individu. Hal ini disebabkan darah mempunyai beberapa fungsi penting sebagai
berikut:
1. Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.
Kandungan oksigen dalam darah antara 0,36% - 20%. Meningkatnya kadar
oksigen dalam darah karena adanya ikatan oksigen dengan hemoglobin.
Hemoglobin berfungsi mengikat oksigen ke paru paru dan mengedarkanya ke
seluruh jaringan tubuh. Saat di paru paru terjadi reaksi antara hemoglobin
dengan oksigen, sebagai berikut :
2 Hb2 4 O2 4 HbO2
Setelah sampai di sel sel tubuh terjadi reaksi pelepasan oksigen oleh
hemoglobin, sebagai berikut :
4 HbO2 2 Hb2 4 O2
Selain mengikat oksigen, hemoglobin juga mengikat karbon monoksida yang
bersifat racun. Gas ini biasanya dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar
kendaraan bermotor. Jika gas ini terhirup dan berikatan dengan hemoglobin,
kandungan oksigen dalam darah menurun. Keadaan ini dapat memberikan
dampak bagi kesehatan tubuh.
2. Mengangkut sari sari makanan dari usus ke jaringan tubuh
Sari sari makanan seperti asam lemak, asam amino, dan monosakarida
masuk ke dalam sistem sirkulasi melalui kapiler yang berada di vili usus halus.
Sari sari makanan ini diangkut menuju ke dalam sel sel tubuh. Sari sari
makanan ini untuk metabolisme, aktivitas, dan membentuk sel sel atau jaringan
yang baru.
3. Mengangkut karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru
Karbondioksida hasil respirasi sel dilepas dari plasma dan masuk ke dalam
dinding kapiler secara difusi, kemudian dibawah ke paru paru untuk dibuang.
Karbondioksida yang ada dalam darah antara 2,7% - 60%. Sebagian
karbondioksida membentuk hidrogen karbonat atau bikorbonat berupa ion
(HCO-3) yang diangkut ke plasma dan sel darah merah. Di paru paru, hidrogen
karbonat diuraikan menjadi air dan karbondioksida. Karbondioksida dalam
pembuluh kapiler secara difusi masuk ke dalam alveolus paru paru.
4. Mengangkut hasil ekskresi dari jaringan tubuh ke ginjal
Tubuh dalam melakukan metabolisme menghasilkan zat zat tubuh yang
bersifat racun, misalnya urea dan asam urat. Zat sisa ini oleh darah diangkut ke
ginjal untuk menjalani beberapa proses agar bisa dikeluarkan dari dalam tubuh.
5. Mengatur dan mengontrol temperatur tubuh
Tubuh saat beraktivitas akan melepaskan panas. Panas yang dihasilkan
diedarkan ke seluruh tubuh oleh darah sehingga diseluruh tbuh terdapat
kesamaan temperatur. Jika udara di lingkungan dingin, maka pembuluh kapiler
akan menciut untuk menghemat panas tubuh. Dan ketika udara di lingkungan
panas, maka pembukuh kapiler akan melebar dan aliran darah semakin cepat
sehingga panas tubuh dapat diedarkan ke seluruh tubuh.
6. Mengatur distribusi hormon
Di dalam tubuh terdapat kelenjar yang menghasilkan hormon. Hormon ini
diangkut oleh plasma dan dikirim ke bagian tubuh yang memerlukannya.
C. Komponen Penyusun Darah
Darah manusia terdiri atas dua komponen yaitu plasma darah atau cairan darah
dan sel sel darah.
a. Plasma Darah ( Cairan Darah)
Plasma darah terdiri atas: air (91,0%), protein (8,0%) dan mineral (0,9%). Plasma
darah nampak seperti cairan berwarna kunung pucat. Senyawa atau zat zat kimia
yang terlarut dalam cairan darah adalah sebagai berikut:
a. Sari makanan dan mineral yang terlarut dalam darah misalnya: monosakarida,
asam lemak, gliseril, kolesterol, asam amino dan garam garam mineral.
b. Enzim, hormon, antibodi, sebagai zat zat hasil produksi sel sel
c. Protein yang terlarut didalam darah, molekul molekul ini berukuran cukup
besar sehingga tidak dapat menenbus dinding kapiler darah. Contoh:
Albumin, berguna untuk menjaga keseimbangan tekanan osmotik darah.
Globulin, berperan dalam pembentukan -globulin yang merupakan
komponen pembentuk zat antibodi.
Fibrinogen, berperan penting dalam proses pembekuan darah.
d. Urea dan asam urat sebagai zat-zat sisa metabolisme.
e. O2, CO2, N2 sebagai gas gas utama yang terlarut dalam plasma.
Bagian plasma darah yang mempunyai fungsi penting adalah serum. Serum
merupakan plasma darah yang dikeliarkan atau dipisahkan fibrinogenya. Serum
tampak sangat jernih dan mengandung zat antibodi yang berfungsi membinasakan
protein asing yang masuk kedalam tubuh. Protein asing yang masuk kedalam tubuh
disebut antigen. Antigen yang berada dalam sel darah disebut aglutinogen,
sedangkan antibodi yang terdapat dalam plasma darah disebut aglutinin.
Berdasarkan cara kerjanya, antibodi dalam plasma darah dapat melemahkan
penyebab penyakit dengan salah satu cara berikut:
a. Aglutinasi : terbentuknya gumpalan gumpalan yang terdiri dari struktur
struktur berupa antigen pada permukaannya. Misalnya bakteri, atau sel sel
darah merah.
b. Presipitasi: terbentuknya molekul yang besar antara antigen yang larut,
misalnya racun tetanus dengan antibodi sehingga berubah menjadi tidak larut
dan akan mengendap.
c. Netralisasi : antibodi yang bersifat antigenik akan menutupi tempat- tempat
yang toksik dari agen penyebab penyakit
d. Lisin : beberapa antibodi yang bersifat antigenik yang sangat kuat kadang
kadang mampu langsung menyerang membran sel penyebab penyakit sehingga
menyebabkan sel tersebut rusak.
b. Sel Sel Darah
Sel sel darah merupakan sel sel yang hidup. Sel sel darah terdiri dari
Eritrosit (sel sel darah merah), Leukosit (sel sel darah putih) dan trombosit (keping
keping darah).
1. Eritrosit (sel darah merah)
Karakteristik Eritrosit
Eritrosit merupakan bagian utama dari sel sel darah. Setiap mm3 darah pada
seorang laki laki dewasa mengandung 4,2 5,5 juta sel darah merah dan pada
seorang perempuan dewasa kira kira 3,2 5,2 juta sel darah merah. Eritrosit pada
manusia berbentuk bikonkaf seperti cakram dengan diameter 7,5m. Eritrosit
terbungkus dalam membran sel dengan permeabilitas tinggi, sehingga memungkinkan
eritrosit menembus kapilar. Setiap eritrosit mengandung sekitar 300 juta molekul
hemoglobin. Hemoglobin (Hb) adalah molekul yang tersusun dari suatu protein yang
disebut globin. Globin terdiri dari empat rantai polipeptida yang melekat pada empat
gugus hemin.
Tidak semua hewan memiliki sel darah merah, misalnya ikan dari keluarga
Channichthyidae yaitu ikan yang hidup di deerah dingin yang mengandung banyak
oksigen, pada jenis ikan ini oksigen akan larut dengan sendirinya larut dalam darah
mereka sehingga tidak membutukan hemoglobin lagi. Berbeda dengan manusia dan
mamalia lainya, serangga memiliki darah yang tidak mengandung hemoglobin tetapi
mengandung hemosianin, inilah yang menjadi alasan serangga memiliki darah yang
tidak berwarna.
Eritrosit dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih, misalnya ditulang dada,
tulang selangka dan didalam ruas ruas tulang belakang. Pembentukanya terjadi
selama tujuh hari, pada awalnya eritrosit memiliki inti kemudian inti lenyap dan
hemoglobin terbentuk, setelah hemoglobin terbentuk eritrosit dilepas dari tempat
pembentukanya dan masuk ke dalam sirkulasi darah
Sel darah merah biasanya bersikulasi selama 120 hari sebelum menjadi rapuh dan
mudah pecah. Fragmen sel darah merah yang rusak dan terintegrasi akan mengalami
perombakan. Globin dalam eritrositakan terdegradasi menjadi asam amino yang
kemudian akan diperbaharui untuk sintesis protein selular, sedangkan hemin (bagian
yang mengandung zat besi) diubah menjadi biliverdin (pigmen hijau) dan kemudian
menjadi bilirubin (pigmen kuning) yang dilepas kedalam plasma. Bilirubin diserap
oleh organ hati dan diekskresi ke dalam empedu.
Gambar Eritrosit Pada Manusia

Ganguan Pada Eritrosit


a. Anemia
adalah difesiensi sel darah merah atau kekurangan hemoglobin. Hal ini
mengakibatkan penurunan jumlah sel darah merah, atau jumlah sel darah merah tetap
normal tetapi jumlah hemoglobinnya subnormal. Karena kemampuan darah untuk
membawa oksigen berkurang, maka individu akan terlihat pucat atau kurang tenaga.
Berikut adalah beberapa jenis anemia:
Anemia hemoragi : terjadi akibat kehilangan darah akut. Sumsum tulang
secara bertahap akan memproduksi sel darah merah baru untuk kembali ke
kondisi normal.
Anemia defisiensi zat besi : terjadi akibat penurunan asupan makanan,
penurunan daya absorbsi, atau kehilangan zat besi secara berlebihan.
Anemia sel sabit (sickle cell anemia) : adalah penyakit keturunan dimana
molekul hemoglobin yang berbeda dari hemoglobin normalnya karena
penggantian salah satu asam amino pada rantai polipeptida beta. Akibatnya
sel darah merah, menjadi berbentuk sabit dalam kondisi konsentrasi oksigen
yang rendah. Sel sel darah ini menutup kapilar dan mengganggu aliran
darah.
Talasemia: adalah anemia yang disebabkan gagalnya pembentukan
hemoglobin akibat rusaknya gen globin.
b. Polisitemia
adalah peningkatan jumlah sel darah merah dalam sirkulasi darah, yang
mengakibatkan peningkatan viskositas (kekentalan) dan volume darah
mengakibatkan darah yang mengalir melalui pembuluh darah terhalang dan aliran
kapilar dapat tertutup.
c. Hemofilia
Hemofilia terjadi dimana darah penderita sukar membeku, sehingga apabila
penderita mengalami luka, darah akan menguncur terus. Keadaan ini dapat
menyebabkan kekurangan darah dan mengakibatkan kematian. Penyakit ini bersifat
genetis dan berpeluang besar diturunkan bagi anak laki laki. Hal ini karena gen
pembawa hemofilia terkait pada kromosom X, sehingga wanita hemofilia tidak
pernah dijumpai karena bersifat letal.
2. Leukosit ( Sel Darah Putih )
Karakteristik Leukosit
Jumlah leukosit lebih sedikit dibandingkan dengan eritrosit. Pada laki laki
3
dan perempuan dewasa jumlah eritrosit setiap mm hanya terdapat 5000 sampai
10.000 butir. Leukosit memiliki inti bulat atau cekung. Leukosit memiliki bentuk
bervariasi dengan ukuran lebih besar dibandingkan eritrosit. Leukosit memiliki
beberapa kemampuan yang membedakannya dengan sel darah lain, kemampuan
leukosit adalah sebagai berikut:
Diapedesis : yaitu kemampuan untuk menembus pori pori membran
kapilar dan masuk kedalam jaringan
Gerak amuboid : yaitu gerak leukosit secara bebas. Beberapa sel mampu
bergerak tiga kali panjang tubuhnya dalam satu menit
Kemampuan kemotaksis : pelapasan zat kimia oleh jaringan yang rusak
menyebababkan eritrosit bergerak mendekati (kemotaksis positif) atau
menjauhi (kemotaksis negatif) sumber zat`
Fagositosis : semua leukosit adalah fagositik dengan tugas utama memakan
kuman penyakit dan benda benda asing lainnya, seperti bakteri yang ada
didalam tubuh, tetapi kemampuan ini lebih berkembang pada neutrofil dan
monosit.
Rentang kehidupan leukosit setelah diproduksi didalam sumsum tulang,
leukosit bertahan kurang lebih satu hari dalam sirkulasi sebelum masuk kedalam
jaringan. Sel ini tetap berada didalam jaringan selama beberapa hari, beberapa
minggu, beberapa bulan, bergantung pada jenis leukositnya. Infeksi atau karusakan
jaringan mengakibatkan peningkatan jumlah total leukosit
. Klasifikasi leukosit
Berdasarkan ada tidaknya granula sitoplasma, leukosit dibedakan atas
granulosit apabila sel tersebut memiliki granula pada sitoplasmanya dan
agranulosit apabila sel tersebut tidak memiliki granula pada sitoplasmanya.
A. Granulosit, terdiri dari:
Neutrofil
Neutrofil mencapai 60% dalam jumlah sel darah putih. Neutrofil memiliki
nukleus yang terdiri dari 2-5 lobus. Neutrofil memiliki granula kecil berwarna
merah muda didalam sitoplasmanya, selain itu sel darah putih ini sangat
fagositik dan sangat aktif. Neutrofil memiliki plasma yang bersifat netral dan
terdapat bintik bintik biru yang mengandung histamin. Sel sel ini apabila
sampai ke jaringan yang terinfeksi akan menyerang dan menghancurkan bakteri,
virus atau agen penyebab penyakit lainnya.

Gambar Neutrofil
Eosinofil
Eosinofil mencapai 1 sampai 3% jumlah sel darah putih. Eusinofil memiliki
nukleus yang terdiri dari dua lobus. Sel ini memiliki granula sitoplasma yang
kasar dan besar serta plasma yang bersifat asam. Eusinofil adalah fagositik
lemah, jumlahnya akan meningkat apabila terjasi alergi atau penyakit parasit,
terapi akan berkurang selama stress berkepanjangan. Eosinofil mengandung
enzim peroksidase dan fosfatase yang mampu menguraikan protein
Basofil
Basofil dalam sel darah mencapai kurang dari 1% jumlah leukosit. Basofil
memiliki nukleus yang bentuknya beraturan. Basofil memiliki plasma yang
bersifat basa dan terdapat bintik bintik biru yang disebut yang mengandung
histamin. Histamin adalah bahan kimia yang diproduksi dan disimpan dalam
tubuh, histamin adalah bagian dari respon kekebalan tubuh dan dilepas
selamareaksi alergi. Basofil mempunyai sejumlah granula sitoplasma besar yang
bentuknya tidak beraturan.

B. Agranulosit, terdiri dari:


Limfosit
Limfosit mencapai 30% jumlah total leukosit dalam darah. Limfosit
mengandung nukleus bulat berwarna biru gelap yang dikelilingi lapisan tipis
sitoplasma tanpa memiliki granula. Ukuranya bervariasi terkecil 5m sampai
8m, ukuran terbersarnya adalah 15m. Lomfosit terdiri dari 2 jenis yaitu sel B
yang terbentuk dalam sumsum tulang dan berfungsi dalam pembentukan
antibodi dan sel T yang terbentuk dalam kelenjar timus dan berfungsi dalam
pengaktifan sistem imun. Limfosit berfungsi dalam reaksi imunologis. Reaksi
imunologis adalah reaksi alergi atau sensitifitas terhadap sesuatu.

Monosit
Monosit dalam sel darah mencapai 3 sampai 8% jumlah leukosit. Monosit
adalah sel darah terbesar, diameternya rata rata berukuran 12m sampai 18m.
Nukleusnya besar berbentuk seperti telur atau seperti ginjal, yang dikelilingi
sitoplasma berwarna biru keabuan pucat. Monosit sangat fagositik dan sangat
aktif. Sel ini dapat berkembang dan membesar menjadi makrofag. Makrofag
merupakan sel fagositik yang terbesar dan berumur panjang.

Histopatologis pada Leukosit


a. Leukemia : adalah sejenis kanker yang ditandai dengan peningkatan sel darah
putih yang tidak terkendali.sehingga leukosit ini membinasakan sel darah merah
dengan cara memakannya.
b. Mononukleosis infeksius : disebabkan oleh virus Epstein-Barr, yang ditandai
dengan adanya peningkatan jumlah limfosit dan ketidakseimbangan jumlah sel
yang abnormal.
c. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) : disebabkan oleh human
imunodeficiency virus (HIV), merusak sistem kekebalan tubuh dengan cara
menyerang rangkaian limfosit tertentu yang disebut sel T.
3.Trombosit (Keping Darah)
Trombosit berbentuk oval tidak berinti, berukuran kecil yaitu sekitar 3-4
m. Pada umumnya setiap mm3 darah terdapat 150.000-350.000 trombosit.
Trombosit di bentuk dalam sum-sum tulang dan mempunyai umur 10 hari. Ukuran
trombosit mencapai setengah ukuran sel darah merah, sitoplasmanya terbungkus
suatu membran plasma dan mengandung berbagai jenis granula. Trombosit berperan
dalam proses hemostatis (penghentian pendarahan) dan perbaikan pembuluh darah
yang robek pada saat terluka.

Jika terjadi luka darah keluar, sehingga darah berhubungan dengan udara.
Trombosit yang keluar bersama darah akan pecah karena bergesekkan dengan luka
dan mengeluarkan enzim trombokinase atau tromboplastin. Dengan bantuan ion-ion
Ca2+ , tromboplastin mengubah protombrin dalam darah menjadi trombin. Trombin
akan mengubag fibrinogen yang ada dalam darah menjadi benang-benang fibrin,
yaitu berupa benang-benang halus yang menutup luka sehingga darah tidak keluar
lagi.
\ BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Jaringan ikat adalah jaringan yang tersusun atas sel dan substansi dasar.
Kedua penyusun tersebut merupakan ciri khas yang hanya dapat ditemukan pada
jaringan ikat. Jaringan ikat khusus terdiri dari jaringan adiposa ( lemak) dan jaringa
darah.

Jaringan lemak sersusun dari sel sel lemak yang bersifat hidrofobik.
Fungsi dari jaringan lemak diantaranya adalah : sebagai sumber energi,
pembentukan sel, menjaga suhu tubuh dan menjaga oergan tubuh. Selain
bermnafaat bagi tubuh, lemak juga dapat mengakibatkan ganguan diantaranya :
lipoma, kista, penyakit fabry, dan obesitas.

Jaringan darah merupakan jaringan yang komponen utamanya adalah


plasma darah dan sel sel darah yang terdiri dari sel eritrosit, sel leukosit dan sel
trombosit. Fungsi dari jaringan darah adalah :Mengangkut oksigen dari paru-paru
ke seluruh jaringan tubuh, mengangkut sari sari makanan dari usus ke jaringan
tubuh, mengangkut karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru, mengangkut
hasil ekskresi dari jaringan tubuh ke ginjal, mrngatur dan mengontrol suhu tubuh
dan mengatur distribusi hormon.
DAFTAR PUSTAKA

Sloane, Ethel. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Pearce, Evelyn. 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : PT
Gramedia
Purnomo, dkk. 2006. Biologi untuk kelas XI. Jakarta : Sunda Kelapa Pustaka