Anda di halaman 1dari 5

FIOSIOGRAFI DAN MORFOLOGI PULAU MALUKU SELATAN (BUSUR BANDA)

Kepulauan Maluku adalah gugusan pulau-pulau yang terletak di sebelah timur Indonesia, memiliki
panjang 180 kilometer dari utara ke selatan dan lebar 70 kilometer dari barat ke timur. Secara garis
besarnya, Maluku dapat dibagi menjadi dua bagian yakni Maluku Utara dan maluku Selatan. Maluku
Utara sebgaian dihubungkan dengan rangkaianpulau-pulau Asia Timur, dan sebagiansistem
Melanesia, sedangkan Maluku Selatan (Busur banda) merupakan suatu bagian dari Sistem
Pegunungan Sunda.

Maluku Selatan merupakan Busur Banda, yaitu sistem kepulauan yang membentuk busur mengelilingi
tapal kuda basin Laut Banda yang membuka ke arah barat. Sistem Kepulauan Maluku Selatan
dibedakan menjadi busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang nonvulkanis. Busur dalam terdiri
dari pulau-pulau kecil (kemungkinan puncak gunungapi bawah laut/seamount) seperti Pulau Damar,
Pulau Teun, Pulau Nila, Pulau Serua, Pulau Manuk dan Kepulauan Banda. Sedangkan busur luar terdiri
dari beberapa pulau yang agak luas dan membentuk kompleks-kompleks kepulauan antara lain
Kepulauan Leti, Kepulauan Babar,Kepulauan Tanimbar, Kepulauan Aru, Kepulauan Kai, Kepulauan
WatuBela, Pulau Seram, dan Pulau Buru. (Sumardi, dkk. 2011)

Morfologinya hampir sama dengan Pulau Sulawesi yakni memiliki 4 lengan dan bentuknya seperti
huruf K, yang membedakan adalah skalanya. Pulau Halmahera memiliki ukuran sepertiga dari Pulau
Sulawesi dan luas permukaannya sepersepuluh dari Pulau Sulawesi. Teluk antar lengan dan teluk Kau
berada di timur laut, teluk Buli di sebelah timur, dan teluk Weda di sebelah selatan.

Pada dasarnya Kepulauan Maluku Selatan ini memiliki topografi yang bergunung dan berbukit, kecuali
di pantai sebelah timur di lengan tenggara umumnya adalah daerah banjir. Pegunungan yang ada di
Kepulauan Halmahera ini menjulang dari timur laut barat daya dengan relief yang beraneka, yakni
berada pada kisaran 500 meter hingga 1.000 meter. Bukit Solat merupakan pegunungan tertinggi yang
menjulang dengan ketinggian 1.508 meter di bagian tengah pulau.

STRATIGRAFI

Maluku Selatan merupakan bagian dari pulau Maluku yang tersusun dari endapan laut dangkal yang
diperkirakan berumur Pliosen-Plistosen sampai Holosen. Batuan penyusunnya terdiri dari batu
gamping, napal, dan endapan alluvium. Formasi batuan penyusun daerah Maluku Selatan dimulai dari
yang paling muda ialah: Formasi Manumbai Formasi Wasir Formasi Alluvium.

Sejarah terbentuknya Maluku Selatan ialah pada zaman miosen bawah, hal ini dibuktikan dengan
pengendapan batu gamping dan napal yang berlangsung sampai zaman miosen tengah. Pada zaman
miosen atas hingga pliosen bawah, terjadi pengangkatan yang berakibat zona pengendapan berubah
menjadi laut dangkal dengan adanya pengendapan napal dan batu gamping yang termasuk dalam
formasi manumbai.
Peta Geologi Regional Wilayah Kepulauan Banda, Maluku (Modifikasi dari
Agustyanto,dkk.,1994)

TEKKTONIK

Sedangkan Maluku Selatan (Busur Banda) dibatasi oleh busur dalam (adanya vulkanisme aktif) dan
busur luar (bebas dari vulkanisme). Basin Banda sendiri terdiri dari bagian utara dan selatan, dimana
bagian utara terletak diantara Sulawesi dan Buru sedangkan bagian selatan terletak di bagian barat
dan Manuk sebelah timur. Antara Maluku utara dan Maluku selatan dipisahkan oleh sebuah
punggungan yang arahnya timur-barat membujur dari lengan timur Sulawesi ke kepala burung Papua
melalui banggai, sula, gomumu (sebelah selatan obi), dan misool. Ambang antara Maluku utara dan
maluku selatan dalam pandangan geo tektonik merupakan batas pemisah antara sistem orogen pasifik
barat dan sistem pegunungan sunda.

Peta Tektonik Busur Banda (Hall & Wilson, 2000)


Akibat dari tumbukan Lempeng Australia bagian barat laut dengan Busur Kepulauan Banda sehingga
kerak Benua Australia menunjam di bawah busur kepulauan dengan arah kecondongan ke utara
mengahasilkan timor yang kompleks. Peristiwa tumbukan tersebut diperkirakan terjadi pada umur
Miosen Akhir. Tumbukan awalnya terjadi di bagian tengah Timor dan kemudian berpindah ke arah
baratdaya dengan kecepatan sekitar 110 km/Ma (Harris, 1991). Setelah proses tumbukan tersebut,
terjadi obduksi dari lempeng Busur Banda ke atas batas pasif lempeng benua Australia. Ini
menyebabkan endapan Banda Allochthon muncul di kerak muka busur sehingga menutupi endapan
benua Australia yang berumur Perm-Trias (Gambar 2.6). Peristiwa tumbukan tersebut berlangsung
hingga sekarang sehingga batuan yang berumur pra Pleistosen terlipat dan tersesarkan. Kegiatan
tektonik yang berlangsung hingga sekarang tercirikan oleh adanya kegempaan aktif, terobosan diapir
lempung (mud diapir), serta pengangkatan dan penurunan gerak.

Penampang Skematik Utara Baratlaut Selatan Tenggara dari Busur Banda


(Audley-Charles, 1988 op cit Hall & Wilson, 2000)

GEOLOGI STRUKTUR

Maluku selatan disusun oleh hasil kegiatan endapan laut dangkal berumurPlio-Plistosen Sampai
Holosen.Batuannya terdiri dari batu gamping, napaldan abut lumpur gamping danendapan alluvium.
Urutan batuan dari yangtermuda sampai yang tertua adalah sebagai berikut.Sejarah geologiMaluku
selatan dimulai pada zaman miosen bawah yang masih berupadaerah laut, dirincikan dengan
pengendapan batu gamping dan napal yangberlangsungsampai miosentengah. Pada zaman miosen
atas-Pliosenbawah terjadi pengangkatan dan lingkungan pengendapan berubahmenjadi laut dangkal
dengan adanya pengendapan batu gamping dan napalyang termasuk formasi manumbai. (Robertus,
dkk ; 2011)
POTENSI

Salah satu kepulauan yang berada pada jalur busur dalam vulkanik Banda yaitu Kepulauan Banda (van
Bemmelen, 1949). Kepulauan tersebut terdiri dari gugusan pulau-pulau, beberapa diantaranya
tergolong pulau-pulau besar, seperti Pulau Lonthor, Neira dan Banda Api. Matahelumual (1988)
menyebutkan bahwa secara geologi, Pulau Lonthor, Neira dan Banda api saling terkait dalam hal
pembentukan Komplek Gunung Banda Api. Adanya kemunculan manifestasi panas bumi di Komplek
Gunung Banda Api mengindikasikan adanya potensi panas bumi di wilayah tersebut.

Peta Sebaran Manifestasi Wilayah Kepulauan Banda, Maluku


DAFTAR PUSTAKA

Agustiyanto, D.A., Suparman,M., Partoyo, E dan Sukarna,D., (1994) : Peta Geologi Regional Lembar
Moa, Damar, dan Bandanaira Maluku, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.

Giggenbach, W.F.,1988. Geothermal Solute Equilibria. Derivation of Na-Mg-Ca Geoindicator.


Geochemica Acta, 52.

Matahelemual. J., 1988. G.Banda Api Berita Berkala Vulkanologi, No.115 Direktorat Vulkanologi.

Nicholson, Keith, 1993. Geothermal Fluids, Chemistry and Exploration Techniques, Springer Verlag Inc.

van Bemmelen, R. W., 1949. The Geology of Indonesia, Vol. IA: General Geology of Indonesia and
Adjacent Archipelagoes, The Hague, Martinus Nijhoff, vol. 1A, Netherlands

Beri Nilai