Anda di halaman 1dari 26

RANGKUMAN CHAPTER 20: Accounting

for Pensions and Postretirement Benefits

Tujuan Dari Dana Pensiun

Dana Pensiun merupakan suatu badan hukum yang berdiri sendiri dan terpisah dari Pemberi
Kerja, yang berfungsi untuk mengelola dan menjalankan program pensiun sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku.

Mengingat bahwa Dana Pensiun mempunyai tujuan dan kegiatan usaha yang berlainan dengan
perusahaan pada umumnya, maka perlu disusun Satandar Akuntansi Keuangan yang berlaku
khusus untuk Dana Pensiun sebagai pedoman proses akuntansi serta proses penyusunan laporan
keuangan. Kekhususan Standar Akuntansi Keuangan Dana Pensiun terutama mengenai isi
laporan keuangan, penilaian Aset dan penentuan kewajiban manfaat pensiun.

Menurut PSAK 18 mengenai Dana Pensiun

Ruang Lingkup

01. Pernyataan ini harus diterapkan dalam akuntansi dan pelaporan Dana

Pensiun.

02. Pernyataan ini mengatur tentang akuntansi dan pelaporan oleh Dana Pensiun kepada pihak
yang berkepentingan. Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan kepada masing-masing peserta
program pensiun tentang hak manfaat pensiun mereka masing-masing.

03.PSAK No. 24 tentang Imbalan Kerja, mengatur tentang penentuan biaya pensiun dan
Aset/kewajiban sehubungan program pensiun yang harus dilaporkan dalam laporan keuangan
Pemberi Kerja. Dengan demikian, pernyataan ini perlu dikaji dalam kaitannya dengan Standar
Akuntansi Keuangan tersebut.

04. Standar Akuntansi Keuangan lainnya juga berlaku dalam penyusunan laporan keuangan
Dana Pensiun sepanjang tidak diatur dalam Pernyataan ini.

05. Pernyataan ini beraku untuk Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) dan Program Pensiun
Manfaat Pasti (PPMP), sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangan yang berlaku di
bidang Dana Pensiun.
06. Pernyataan ini tidak mengatur tentang kesejahteraan karyawan dalam bentuk lain, misalnya
kewwajiban pemberian pesangon, pengaturan kompensasi yang ditangguhkan (deferred
compensation management), tunjangan kesehatan, kesejahteraan program bonus, dan lain-lain.
Program jaminan kesejahteraan sosial yang diwajibkan pemerintah (Jamsostek) juga diluar
lingkup Pernyataan ini.

Definisi

07. Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini :

Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankanprogram yang menjanjikan
manfaat pensiun.

Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh orang atau badan
yang memperkerjakan karyawan, selaku sendiri, untuk menyelenggarakan Program Pensiun
Manfaat Pasti atau Program Pensiun Iuran Pasti, bagi kepentingan sebagian atau seluruh
karyawannya, sebagai peserta, dan yang menimbulkan kewajiban bagi pemberi kerja.

Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) adalah Dana Pensiun yang dibentuk oleh bank atau
perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan Program Pensiun Iuran Pasti bagi perorangan,
baik karyawan maupun Pekerja Mandiri, yang terpisah dari Dana Pensiun Pemberi Kerja bagi
karyawan bank atau perusahaan asuransi jiwa yang bersangkutan.

Peraturan Dana Pensiun adalah peraturan yang berisi ketentuan yang menjadi dasar
penyelenggaraan program pensiun.

Program Pensiun adalah setiap program yang mengupayakan manfaat pensiun bagi Peserta.

Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) adalah Program Pensiun yang iurannya ditetapkan dalam
Peraturan Dana Pensiun dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan dalam
rekening masing-masing peserta sebgai manfaat pensiun.

Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP) adalah Program Pensiun yang manfaatnya ditetapkan
dalam Peraturan Dana Pensiun atau Program Pensiun lain yang bukan merupakan Program
Pensiun Iuran Pasti.

Manfaat Pensiun adalah pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat dan
dengan cara yang telah ditetapkan dalan Peraturan Program Pensiun.

Peserta adalah setiap orang yang memenuhi persyaratan Peraturan Dana Pensiun untuk menjadi
penerima manfaat pensiun.
Pemberi Kerja adalah badan usaha yang memiliki program pensiun bagi karyawannya. Pemberi
Kerja dapat merupakan pendiri atau mitra pendiri.

Pendiri adalah :

(a) Orang atau badan yang membentuk Dana Pensiun Pemberi Kerja; atau

(b) Bank/perusahaan asuransi jiwa yang membentuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan.

Mitra Pendiri adalah pemberi kerja yang ikut serta dalam suatu Dana Pensiun Pemberi Kerja
Pendiri untuk kepentingan sebagian atau seluruh karyawannya.

Kewajiban Aktuaria (Present Value of Accumulated Pension Benefit/Actuarial Present Value of


Promised Retirement Benefit) adalah nilai sekarang pembayarann manfaat pensiun yang akan
dilakukan Dana Pensiun kepada karyawan yang masih bekerja dan yang sudah pensiun, dihitung
berdasarkan jasa yang telah diberikan.

Pendanaan adalah pembayaran iuran oleh pemberi kerja atau pemberi kerja dan peserta atau
peserta yang sifatnya tidak dapat ditarik kembali, dalam rangka menyiapkan dana untuk
memenuhi kewajiban membayar manfaat pensiun.

Aset bersih adalah total seluruh aset Dana Pensiun tidak termasuk piutang jasa lalu (past service)
yang belum jatuh tempo, dikurangi seluruh kewajiban, kecuali kewajiban aktuaria yang dihitung
oleh aktuaris.

Selisih Kewajiban Aktuaria adalah selisih Kewajiban Aktuaria dan Aset Bersih.

Nilai Wajar (Fair Value) adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau, suatu
kewajiban diselesaikan antara pihak yang memahami dan yang berkeinginan untuk transaksi
wajar (armss lenght transaction).

Pihak adalah perorangan, perusahaan, usaha bersama, atau setiap kelompok yang terorganisasi.

PENJELASAN

Akuntansi dan Pelaporan Dana Pensiun

08. Program Pensiun dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP)
dan Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP).

09. Dana Pensiun dapat berupa Dana Pensiun Pemberi Kerja atau Dana Pemsiun Lembaga
Keuangan. Dana Pensiun Pemberi Kerja dapat menyelenggarakan PPIP atau PPMP, sedangkan
Dana Pensiun Lembaga Keuangan hanya dapat menyelenggarakan PPIP.

10. Pembentukan dan pengelolaan Dana Pensiun harus didasarkan pada peraturan perundangan
yang berlaku.
Program Pensiun Iuran Pasti

11. Dalam PPIP, jumlah yang diterima oleh peserta pada saat pensiun bergantung pada jumlah
iuran dari pemberi kerja, atau iuran peserta dan pemberi kerja atau iuran peserta, dan hasil usaha.
Kewajiban dari pemberi kerja adalah membayar iuran sesuai dengan yang ditetapkan dalam
Peraturan Dana Pensiun. Bantuan aktuaris biasanya tidak diperlukan, meskipun nasihat aktuaris
kadang-kadang digunakan untuk memperkirakan manfaat pensiun yang akan diterima peserta
pada saat pensiun., berdasarkan jumlah iuran saat ini dan dimasa depan serta estimasi hasil
investasi Dana Pensiun.

12. Peserta berkepentingan untuk mengetahui kegiatan investasi Dana Pensiun karena sangat
menentukan manfaat pensiun yang diterima. Baik peserta maupun pemberi kerja berkepentingan
untuk mengetahui apakah iuran telah dilakukan sesuai dengan Peraturan Dana Pensiun,
pengawasan atas kekayaan Dana Pensiun telah dilakukan secar tepat, atau kegiatan operasional
Dana Pensiun telah dilaksanakan secara efisien dan wajar. Sedangkan Pemerintah
berkepentingan untuk mengetahui apakah Dana Pensiun telah dikelola sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.

13. Tujuan dari pelaporan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPIP adalah menyediakan
informasi secara periodik mengenai penyelenggaraan program pensiun, posisi keuangan, serta
kinerja investasi. Tujuan tersebut lazimnya dapat dipenuhi dengan menyusun laporan yang antara
lain terdiri dari :

(a) Penjelasan atas kegiatan penting Dana Pensiun selama satu periode pelaporan dan dampak
setiap perubahan Peraturan Dana Pensiun;

(b) Laporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi
keuangan Dana Pensiun pada akhir periode pelaporan; dan

(c) Penjelasan mengenai kebijakan/arahan investasi.

Program Pensiun Manfaat Pasti

14. Dalam PPMP, besarnya manfaat pensiun yang dijanjikan kepada peserta dientukan dengan
rumus manfaat pensiun yang telah ditetapkan dalam Peraturan Dana Pensiun. Rumus tersebut
dipengaruhi oleh masa kerja, faktor penghargaan per tahun masa kerja, dan penghasilan dasar
pensiun.

15. PPMP menbutuhkan bantuan akturis secara periodik untuk menentukan nilai kewajiban
aktuaria, mengkaji kembali asumsi aktuarial yang digunakan dan merekomendasikan tingkat
iuran yang seharusnya.

16. Tujuan pelaporan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP adalah menyediakan
informasi secara periodik mengenai penyelenggaran program pensiun, posisi keuangan, serta
kinerja investasi yang berguna untuk menentukan besarnya kekayaan Dana Pensiun dihubungkan
dengan besarnya kewajibannya membayar manfaat pensiun kepada peserta pada saat tertentu.
Tujuan ini lazimnya dapat dipenuhi dengan menyusun laporan yang antara lain terdiri dari :

(a) Penjelasan mengenai kegiatan penting selama satu periode pelaporan dan dampak dari setiap
perubahan peraturan Dana Pensiun;

(b) Laporan tentang transaksi dan kinerja investasi selama periode pelaporan dan posisi
keuangan Dana Pensiun pada akhir periode pelaporan;

(c) Penjelasan mengenai kebijakan/arahan investasi; dan

(d) Perhitungan kewajiban aktuaria berdasarkan laporan aktuaris yang terakhir.

Kewajiban Aktuaria

17. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, perlu diungkapkan
penjelasan yang memadai mengenai sumber perhitungan kewajiban aktuaria, seperti metode
penilaian dan asumsi aktuarial yang digunakan aktuaris, nama aktuaris, dan tanggal laporan
aktuaris yang terakhir.

Frekuensi Penilaian Aktuarial

18. Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP wajib memiliki laporan aktuaris sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku. Dalam laporan keuangan Dana Pensiun harus disebutkan
tanggal laporan aktuaris terakhir yang digunakan sebagai dasar penyusunan laporan keuangan
yang bersangkutan.

Laporan Keuangan Dana Pensiun

19. Laporan keuangan Dana Pensiun terdiri atas laporan aset bersih, laporan perubahan aset
bersih, neraca, perhitungan hasil usaha, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.

20. Khusus untuk Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, laporan mengenai kewajiban
akturia dan perubahannya perlu disusun sebagai lampiran laporan keuangan.

21. Sebagai informasi tambahan atas laporan keuangan perlu disajikan antara lain portofolio
investasi, rincian biaya yang merupakan beban Dana Pensiun selama satu periode sesuai dengan
Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana Pensiun Pemberi Kerja), atau rincian biaya yang dapaat
dipungut dari Peserta atau dibebankan pada rekening Peserta selama satu perode sesuai dengan
Peraturan Dana Pensiun (untuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan).

Penilaian Aset Dana Pensiun

22. Aset Dana Pensiun dinilai sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, namun
mengingat tujuan Dana Pensiun dan kekhususan informasi yang diperlukan, maka dalam neraca,
untuk aset tertentu disamping nilai historis, perlu ditentukan pula nilai wajarnya. Selisih antara
nilai historis dan nilai wajar disajikan sebagai Selisih Penilaian Investasi.

Utuk tujuan penyusunan laporan aset bersih dan laporan perubahan aset bersih, investasi Dana
Pensiun dinilai berdasarkan nilai wajar (fair value). Surat-surat berharga dinilai berdasarkan
harga pasar karena dianggap sebagai nilai yang paling tepat untuk mengukur nilai surat berharga
pada tanggal laporan dan hasil investasi selama satu periode tersebut. Surat-surat berharga yang
nilai jatuh temponyasudah ditetapkan dan memang dimaksudkan untuk membayar manfaat
pensiun, dinilai berdasarkan nilai jatuh temponya dengan asumsi tingkat pengembalian yang
tetap. Jika suatu investasi tidak memiliki nilai wajar, maka perlu diungkapkan alasan mengapa
nilai wajar tidak dapat ditentukan. Aset operasional dinilai berdasarkan nilai buku.

Penyajian Informasi dalam Laporan Keuangan

23. Laporan Keuangan Dana Pensiun perlu mengungkapkan informasi relevan antara lain
sebagai berikut :

(a) Laporan Aset Bersih:

(i) Nilai aset pada akhir periode dengan klasifikasi yang teapat;

(ii) Dasar penilaian aset;

(iii) Investasi sesuai dengan rincian jumlah investasi menurut jenis; dan

(iv) Kewajiban selain daripada kewajiban aktuaria.

(b) Laporan Perubahan Aset Bersih:

(i) Biaya jasa kini (iuran normal) yang jatuh tempo, baik yang berasal dari pemberi kerja atau
pemberi kerja dan peserta atau peserta;

(ii) Biaya jasa lalu (iuran tambahan) yang jatuh tempo;

(iii) Hasil investasi, antara lain bunga, dividen, dan sewa;

(iv) Pendapatan lain-lain;

(v) Manfaat yang sudah dibayarkan dan yang masih terutang, dirinci untuk peserta yang pensiun,
meninggal, atau cacat, juga untuk pembayaran manfaat secara sekaligus;

(vi) Beban administrasi;

(vii) Beban investasi;

(viii) Beban lain-lain;


(ix) Pajak penghasilan;

(x) Keuntungan atau kerugian dari pelepasan investasi dan penurunan atau kenaikan nilai
investasi; dan

(xi) Pengaihan dana ke dan dari Dana Pensiun lain.

(c) Neraca :

(i) Posisi keuangan Dana Pensiun; dan

(ii) Nilai historis; khusus untuk investasi ditentukan juga nilai wajarnya.

(d) Perhitungan Hasil Usaha :

(i) Pendapatan dan beban investasi;

(ii) Beban administrasi; dan

(iii) Pendapatan lain-lain.

(e) Laporan Arus Kas :

Laporan arus kas disajikan sesuai dengan sifat kegiatan usaha Dana Pensiun selama periode
pelaporan; dan

(f) Catatan atas Laporan Keuangan.

Laporan Keuangan Dana Pensiun

24. Laporan keuangan Dana Pensiun, baik yang menyelenggarakan Program Pensiun Manfaat
Pasti (PPMP) maupun Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP), mencakup :

(a) Laporan aset bersih;


(b) Laporan perubahan aset bersih;
(c) Neraca;
(d) Perhitungan hasil usaha;
(e) Laporan arus kas; dan
(f) Catatan atas laporan keuangan.

Laporan Aset Bersih

25. Laporan ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang jumlah aset bersih yang tersedia
untuk membayar manfaat pensiun kepada peserta pada tanggal laporan.
Total seluruh aset Dana Pensiun tidak termasuk piutang jasa lalu (past service) yang belum jath
tempo, dikurangi seluruh kewajiban kecuali kewajiban aktuaria, menunjukan jumlah aset bersih
yang tersedia untuk manfaat pensiun pada tanggal laporan. Aset untuk tujuan penyusunan
laporan ini, dinilai sesuai dengan penjelasan pada paragaraf 28.

Laporan Perubahan Aset Bersih

26. Laporan ini berisi informasi tentang perubahan atas jumlah aset bersih yang tersedia untuk
manfaat pensiun, serta menguraikan penyebab perubahan tersebut yang terperinci atas
penambahan dan/atau pengurangan yang terjadi selam satu periode tertentu.

Neraca, Perhitungan Hasil Usaha, dan Laporan Arus Kas

27. Neraca, laporan hasil usaha, dan laporan arus kas disusun berdasarkan Kerangka Dasar
Penyusunan dan Pelaporan Laporan Keuangan yang berazas utama biaya historis. Khusus untuk
investasi, ditentukan juga nilai wajanya. Selisih antara nilai historis dan nilai wajar disajikan
sebagai Selisih Penilaian Investasi. Selisih Penilaian Investasi bukan merupakan unsur hasil
usaha, tetapi akan mengoreksi nilai historis mnjadi nilai wajar.

Untuk penyusunan laporan keuangan Dana Pensiun yang menyelenggarakan PPMP, penentuan
kewajiban aktuaria berdasarkan laporan aktuaris terakhir. Dalam Neraca, selisih antara nilai
kewajiban aktuaria dan aset bersih disajikan sebagai Selisih Kewajiban Aktuaria.

Dalan nearaca Dana Pensiun yang menyelenggaraka PPMP, piutang kepada pemberi kerja
sehubungan dengan jasa masa lalu karyawan diakui sebesar jumlah yang telah jatuh tempo pada
tanggal laporan.

Penilaian Aset Dana Pensiun

28. Untuk tujuan penyusunan laporan aset bersih dan laporan perubahan aset bersih, aset dinilai
sebagai berikut :

(a) Uang tunai, rekening giro, dan deposito di bank dinilai menurut nilai nominal;

(b) Sertifikat deposito, Surat Berharga Bank Indonesia, Surat Berharga Pasar Uang, dan surat
pengakuan utang lebih dari setahun dinilai berdasarkan nilai tunai;

(c) Surat berharga berupa saham dan obligasi yang diperjualbelikan di bursa efek, dinilai
menurut nilai pasar yang wajar pada tanggal laporan;

(d) Penyertaan pada perusahaan yang sahamnya tidak diperdagangkan dibursa eek, dilaporkan
berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil penilaian independen;

(e) Investasi pada tanah dan bangunan dilaporkan berdasarkan nilai appraisal sebagai hasil
penilaian independen ;
(f) Piutang dilaporkan berdasarkan jumlah yang dapat ditagih, setelah memperhitungkan
penyisihan piutang tidak tertagih; dan

(g) Aset operasional antara lain komputer, peralatan kantor, dan peralatan lainnya dilaporkan
berdasarkan nilai buku.

Bila suatu aset, misalnya gedung, digunakan sebagian untuk investasi dan sebagian untuk
kegiatan operasional, maka penggolongan aset sebagai investasi atau aset operasional ditentukan
berdasarkan mana yang lebih signifikan.

Pengungkapan

29. Informasi tentang hal tersebut dibawah ini perlu diungkapkan secukupnya dalam catatan atas
laporan keuangan, antara lain :

(a) Penjelasan mengenai program pensiun serta perubahan yang terjadi selama periode laporan :

(i) Nama pendiri Dana Pensiun dan mitra pendiri (jika ada);

(ii) Kelompok karyawan yang menjadi peserta program jumlah pensiun;

(iii) Jumlah peserta program pensiun dan jumlah pensiunan;

(iv) Jenis program pensiun;

(v) Iuran yang berasal dari peserta, jika ada;

(vi) Untuk PPMP, penjelasan mengenai manfaat pensiun yang dijanjikan; dan

(vii) Penjelasan mengenai rencana penggabungan, pemisahan, pemindahan kelompok peserta,


dan pembubaran Dana Pensiun (jika besar kemungkinannya terjadi);

(b) Penjelasan singkat mengenai kebijakan akuntansi yang penting;

(c) Penjelasan mengenai kebijakan pendanaan;

(d) Rincian portofolio investasi; dan

(e) Perhitungan kewajiban aktuaria, metode penilaian, asumsi aktuarial, serta nama dan tanggal
laporan aktuaris terakhir (dalam hal PPMP).

KETENTUAN TRANSISI

30. Jika penerapan Pernyataan ini mengakibatkan perubahan kebijakan akuntansi, perubahan
tersebut dilaporkan secara prospektif.
TANGGAL EFEKTIF

31. Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan Dana Pensiun yang mencakup periode
yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 1995. Penerapan lebih dini dianjurkan.

Kepuasan Pensiunan
Menurut Philip Kolter (2004:42) Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul
setelah membandingkan antara persepsi/kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-
harapannya. Dalam konteks kepuasan pensiunan, dapat diartikan sebagai perasaan senang atau kecewa
pensiunan yang muncul setelah membandingkan antara persepsinya terhadap penerimaan manfaat pensiun
dan harapannya. Menurut Ike Janita Dewi (2006:46), penyebab rasa tidak puas pada dasarnya terdiri dari
berbagai hal seperti upah, keuntungan tambahan, kebijakan dan adaministrasi perusahaan, perilaku
pengawasan, kondisi kerja, dan beberapa faktor lain yang tidak langsung berkaitan dengan tugas.

Dampak atas ketidakpuasan pensiunan dapat mempengaruhi citra perusahaan, menimbulkan protes serikat
kerja, mempengaruhi para karyawan yang masih bekerja sehingga loyalitas berkurang, hingga yang
paling ekstrem yaitu demonstrasi pegawai dan pensiunan perusahaan bersangkutan. Kuesioner
pengukuran tingkat kepuasan pensiunan mengacu pada kuesioner kepuasan konsumen dan kuesioner
kepuasan pekerja yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Kuesioner kepuasan pensiunan ini
mengganti objek dari kuesioner pengukuran kepuasan yang dikutip dari buku Survai Diagnosis
Organisasional Konsep dan Aplikasi karangan Fuad Masud.
RANGKUMAN CHAPTER 22: Accounting
Changes and Error Analysis
Accounting for Changes and Error Analysis

1. Perubahan Akuntansi.
2. Perubahan Prinsip Akuntansi.
3. Perubahan Estimasi Akuntansi.
4. Perubahan Pelapor.
5. Koreksi Kesalahan tidak diklasifikasikan sebagai perubahan akuntansi.

1. Perubahan Prinsip Akuntansi.

Melibatkan perubahan dari satu prinsip akuntansi yang berlaku umum untuk Prinsip
akuntansi yang berlaku umum lain.

Contoh: Perubahan dari metode garis lurus depresiasi ke sum-of-years-digit

Metode.

Sebuah perubahan tidak dianggap terjadi ketika sebuah prinsip baru diadopsi di

pengakuan peristiwa yang telah terjadi untuk pertama kalinya atau yang sebelumnya tidak
material.

Contoh:Memanfaatkan sewa padahal sebelumnya sewa tidak dikapitalisasi karena mereka tidak
material.

Jika prinsip akuntansi yang sebelumnya diikuti tidak dapat diterima, atau jika prinsip itu
diterapkan secara tidak benar, perubahan ke prinsip akuntansi yang berlaku umum
dianggap sebagai koreksi kesalahan.

Contoh:Berubah dari memanfaatkan penelitian dan pengembangan untuk expensing itu.

Perubahan prinsip akuntansi dianggap tepat hanya jika perusahaan menunjukkan bahwa
alternatif umumnya diterima akuntansi prinsip adalah lebih baik untuk yang sudah ada.
Tiga pendekatan untuk melaporkan perubahan tersebut telah dipertimbangkan:

1. Retroaktif: Sebuah penyesuaian retroaktif tahun sebelumnya keuangan Laporan dibuat.


2. Sekarang : Efek kumulatif dari metode baru dihitung dan dilaporkan dalam laporan laba
rugi tahun berjalan.
3. Prospektif : Tidak ada perubahan yang dibuat dalam hasil yang dilaporkan sebelumnya.

Kumulatif-Effect Type Perubahan Akuntansi.


Secara umum, perubahan di Prinsip akuntansi diperlakukan sebagai berikut:

Pendekatan saat digunakan.


Efek kumulatif dari perubahan tersebut dilaporkan dalam pendapatan
Laporan keuangan sebelum tidak diubah.
Laba sebelum pos luar biasa dan laba bersih dihitung secara forma disajikan seolah-olah
prinsip baru telah diterapkanselama seluruh periode yang terkena dampak.
Retroaktif-Effect Type Akuntansi Perubahan:

Dalam lima situasi khusus,perubahan pada prinsipnya harus ditangani secara retroaktif. Situasi
ini adalah:

1. Perubahan dari metode LIFO.


2. Perubahan akuntansi untuk konstruksi-jenis kontrak jangka panjang.
3. Perubahan ke atau dari penerbangan penuh metode akuntansi dalam industri ekstraktif.
4. Penerbitan laporan keuangan oleh perusahaan untuk pertama kalinya untuk mendapatkan
modal tambahan, untuk efek kombinasi bisnis, atau untuk mendaftar sekuritas.
5. Kebutuhan oleh pernyataan profesional.

Mengubah dengan metode LIFO:

Dalam situasi seperti itu, persediaan dasar-tahun untuk semua perhitungan LIFO berikutnya
adalah persediaan pembukaan di tahun metode ini diadopsi. Pengungkapan terbatas
menunjukkan Pengaruh perubahan pada hasil usaha pada periode perubahan.

Hal ini terutama karena sejumlah asumsi yang akan diperlukan untuk menghitung efek
perubahan.

1. Perubahan Estimasi Akuntansi: Perubahan tersebut ditangani secara prospektif karena


perkiraan dan revisi mereka merupakan bagian yang melekat dari akuntansi.

Contoh: Perubahan estimasi nilai sisa atau masa manfaat.

1. Setiap kali mustahil untuk menentukan apakah perubahan dalam prinsip atau perubahan
estimasi telah terjadi, perubahan harus dianggap sebagai perubahan estimasi.

Contoh:

Berubah dari memanfaatkan aset untuk membebankan karena estimasi perubahan hidup yang
berguna untuk kurang dari satu tahun.
2. Hati-hati perkiraan yang kemudian membuktikan perubahan yang tidak benar harus
dipertimbangkan estimasi dan tidak kesalahan.
3. Perubahan Pelapor: Perubahan tersebut harus dilaporkan oleh ulangan laporan keuangan
semua periode sebelumnya disajikan.

Contoh: Menyajikan laporan di tempat laporan dari masing-masing perusahaan.

1. Koreksi Error: Koreksi kesalahan harus ditangani sebagai sebelum penyesuaian periode.

Contoh: Membuat kesalahan matematika dalam penentuan beban penyusutan periode


sebelumnya itu.

1. Biaya Politik: Semakin besar perusahaan, semakin besar kemungkinan itu adalah untuk
mengadopsi penurunan pendapatan pendekatan dalam memilih metode akuntansi.
2. Struktur modal: Perusahaan dengan rasio tinggi utang terhadap ekuitas lebih cenderung
memilih metode akuntansi yang akan meningkatkan laba bersih.
3. Pembayaran Bonus: Manajemen akan memilih metode akuntansi yang memaksimalkan
pendapatan, jika bonus mereka terikat dengan pendapatan.
4. laba Halus: Untuk menghindari objek; perhatian politisi, regulator, dan pesaing
perusahaan kadang-kadang memilih akuntansi metode yang memberikan peningkatan
bertahap pendapatan.

1. Analisis Kesalahan.
1. Neraca Kesalahan. Hanya mempengaruhi aset, kewajiban, dan pemegang saham
ekuitas:

Contoh:Sebuah kesalahan klasifikasi aset.

2. Kesalahan Laporan Laba Rugi. Hanya mempengaruhi pendapatan dan beban.

Contoh: sebuah kesalahan klasifikasi dari akun pendapatan.

3. Neraca dan Laporan Laba Rugi Efek.


4. Kesalahan menyeimbangkan adalah mereka yang akan diimbangi atau dikoreksi lebih
dari dua periode.

Contoh: Kesalahan sehubungan dengan persediaan.

1. Jika buku telah ditutup:


2. Tidak ada entri yang diperlukan, jika kesalahan sudah diimbangi.
3. Jika kesalahan belum diimbangi, perlu masuk ke menyesuaikan dipertahankan laba.
4. Jika buku-buku belum ditutup.
Dalam menerapkan pedoman-pedoman ini tujuan utamanya adalah melayani pemakaian laporan
keuangan, untuk mencapai jasa semacam ini diperlukan ketepatan, pengungkapan penuh dan
tidak boleh ada informasi yang menyesatkan.

Perubahan prinsip akuntansi akan dianggap tepat, hanya apabila perusahaan menunjukkan bahwa
prinsip akuntansi alternatif yang berlaku umum yang telah diadopsi lebih disukai daripada
prinsip sebelumnya. Dalam menerapkan pedoman profesi akuntansi, preferensi diantara prinsip
akuntansi harus ditentukan atas dasar apakah prinsip yang baru dapat memperbaiki pelaporan
keuangan, bukan atas dasar dampak pajak penghasilan semata. Namun tidaklah selalu mudah
untuk menentukan ukuran atau perbaikan mana yang lebih disukai.
PSAK 24: Imbalan Kerja

Tujuan

Pernyataan ini bertujuan mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja. Pernyataan ini
mengharuskan entitas untuk mengakui:

a.liabilitas jika pekerja telah memberikan jasanya dan berhak memperoleh imbalan kerja yang
akan dibayarkan di masa depan; dan

b.beban jika entitas menikmati manfaat ekonomis yang dihasilkan dari jasa yang diberikan oleh
pekerja yang berhak memperoleh imbalan kerja

Ruang Lingkup

Pernyataan ini diterapkan oleh pemberi kerja dalam pencatatan seluruh imbalan kerja, kecuali
hal-hal yang telah diatur dalam PSAK 53. Pernyataan ini tidak mengatur pelaporan oleh program
imbalan kerja.

Imbalan kerja mencakup


1.imbalan kerja jangka pendek
2.imbalan pascakerja
3.imbalan kerja jangka panjang lainnya
4.pesangon pemutusan kontrak kerja (PKK).

Berikut adalah istilah-istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini


Aset program (plan assets) terdiri atas: (a) aset yang dimiliki oleh dana imbalan kerja jangka
panjang; dan (b) polis asuransi yang memenuhi syarat

Aset yang dimiliki oleh dana imbalan kerja jangka panjang adalah aset (selain instrumen
keuangan terbitan entitas pelapor yang tidak dapat dialihkan) yang dimiliki oleh didirikan
semata-mata untuk membayar imbalan kerja; dan tersedia hanya digunakan untuk membayar
imbalan kerja, tidak dapat digunakan untuk membayar utang

Imbalan kerja (employee benefit) adalah seluruh bentuk pemberian dari entitas atas jasa yang
diberikan oleh pekerja

Imbalan kerja jangka panjang lainnya (other long-term employee benefits) adalah imbalan
kerja (selain imbalan pascakerja dan pesangon PKK) yang jatuh tempo lebih dari 12 bulan
setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan jasanya
Imbalan kerja jangka pendek (short-term employee benefit) adalah imbalan kerja (selain dari
pesangon PKK) yang jatuh tempo dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode pelaporan saat
pekerja memberikan jasa.

Imbalan kerja yang telah menjadi hak (vested employee benefi t) adalah hak atas imbalan
kerja yang tidak bergantung pada aktif atau tidaknya pekerja pada masa depan

Keuntungan dan kerugian aktuarial (actuarial gains and losses) terdiri atas:

(a) penyesuaian akibat perbedaan antara asumsi aktuarial dan kenyataan (experience
adjustments)
(b) dampak perubahan asumsi actuarial

Kewajiban konstruktif adalah kewajiban yang timbul dari tindakan entitas yang dalam hal ini:

(a) berdasarkan praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasi atau pernyataan baru
yang cukup spesifi k, entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa perusahaan
akan menerima tanggung jawab tertentu

(b) akibatnya, entitas telah menimbulkan ekspektasi kuat dan sah kepada pihak lain bahwa
entitas akan melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Pesangon Pemutusan Kontrak Kerja (termination benefi ts) adalah imbalan kerja terutang
sebagai akibat dari:

(a) keputusan entitas untuk memberhentikan pekerja sebelum usia pensiun normal

(b) keputusan pekerja menerima tawaran entitas untuk mengundurkan diri sukarela dengan
imbalan tertentu

Polis asuransi yang memenuhi syarat adalah polis asuransi yang dikeluarkan oleh pihak
asuransi yang tidak memiliki hubungan istimewa dengan entitas pelapor
SELURUH IMBALAN KERJA JANGKA PENDEK

Imbalan kerja jangka pendek mencakup hal-hal seperti:

(a) upah, gaji, dan iuran jaminan sosial;

(b)cuti-berimbalan jangka pendek

(C)utang bagi laba dan utang bonus dalam waktu 12 bulan setelah akhir periode saat pekerja
memberikan jasanya;

(d)imbalan non-moneter
Pengakuan dan Pengukuran
Imbalan Kerja Jangka Pendek
Ketika pekerja telah memberikan jasanya kepada entitas dalam suatu periode akuntansi, entitas
harus

mengakui jumlah tak-terdiskonto (undiscounted amount) atas imbalan kerja jangka pendek yang
diperkirakan untuk dibayar sebagai imbalan atas jasa tersebut sebagai liabilitas (biaya akrual)
atau sebagai beban

Cuti Berimbalan Jangka Pendek

Entitas mengakui prakiraan biaya imbalan kerja jangka pendek dalam bentuk cuti berimbalan
seperti yang diatur pada paragraf 10 sebagai berikut:

(a) cuti berimbalan yang boleh diakumulasi, adalah pada saat pekerja memberikan jasa yang
menambah hak cuti berimbalan di masa depan; dan

(b) cuti berimbalan yang tidak boleh diakumulasi, adalah pada saat cuti tersebut terjadi

Program Bagi Laba dan Bonus

Entitas mengakui prakiran biaya atas pembayaran bagi laba dan bonus yang diatur dalam
paragraf 10 jika, dan hanya jika:

(a) entitas mempunyai kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif atas pembayaran beban
tersebut sebagai akibat dari peristiwa masa lalu; dan

(b) kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal.

Kewajiban kini timbul jika, dan hanya jika, entitas tidak mempunyai alternatif realistis lainnya
kecuali melakukan pembayaran

Pengungkapan

Walaupun Pernyataan ini tidak mensyaratkan pengungkapan khusus atas imbalan kerja jangka
pendek,Pernyataan lainnya mungkin mewajibkan pengungkapan tersebut.

IMBALAN PASCAKERJA: PERBEDAAN ANTARA PROGRAM IURAN PASTI DAN


PROGRAM IMBALAN PASTI

Imbalan pascakerja meliputi:

(a) tunjangan purnakarya seperti pensiun; dan

(b) imbalan pascakerja lain, seperti asuransi jiwa pascakerja dan tunjangan kesehatan pascakerja

Dalam program imbalan pasti:


(a) kewajiban entitas adalah menyediakan imbalan yang dijanjikan kepada pekerja maupun
mantan pekerja; dan

(b) risiko aktuarial (imbalan akan menyebabkan biaya yang lebih besar dari yang diperkirakan)
dan risiko investasi menjadi tanggungan entitas. Jika berdasarkan pengalaman, risiko aktuarial
atau investasi lebih buruk daripada yang diperkirakan, maka kewajiban entitas akan meningkat

Program Multipemberi Kerja

Entitas mengklasifi kasikan program multipemberi kerja sebagai program iuran pasti atau
program imbalan pasti sesuai dengan ketentuan program tersebut (termasuk berbagai kewajiban
konstruktif di luar ketentuan-ketentuan formal). Jika program multipemberi kerja adalah program
imbalan pasti, maka entitas:

a)melaporkan bagian proporsionalnya atas kewajiban imbalan pasti, aset program dan biaya yang
terkait dengan program tersebut dengan cara yang sama dengan program imbalan pasti lainnya;

b)mengungkapkan informasi yang diwajibkan

Program Imbalan Pasti yang Membagi Risiko antar

Berbagai Entitas Sepengendali

Program imbalan pasti yang membagi risiko antar berbagai entitas sepengendali, misalnya,
entitas induk dan entitas anak, bukan merupakan program multipemberi kerja. Entitas yang
berpartisipasi dalam program tersebut memperoleh informasi tentang program secara
keseluruhan diukur sesuai dengan PSAK 24 berdasarkan asumsi yang memberlakukan program
secara keseluruhan.

Program Jaminan Sosial

Entitas mencatat program jaminan sosial dengan cara yang sama seperti program multipemberi
kerja

Imbalan yang Dijamin

Entitas mungkin membayar premi asuransi untuk mendanai program imbalan pascakerja. Entitas
memperlakukan program tersebut sebagai program iuran pasti, kecuali entitas akan memiliki
kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif (baik langsung maupun tidak langsung) untuk:

(a) membayar imbalan kerja secara langsung pada saat jatuh tempo; atau

(b) membayar tambahan imbalan jika pihak asuransi tidak membayar semua imbalan kerja masa
depan yang timbul dari jasa pekerja periode berjalan dan periode sebelumnya.
Jika entitas memiliki kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif seperti itu, entitas
memperlakukan program tersebut sebagai program imbalan pasti

IMBALAN PASCAKERJA: PROGRAM IURAN PASTI

Akuntansi program iuran pasti adalah cukup jelas karena kewajiban entitas pelapor untuk setiap
periode

ditentukan oleh jumlah yang harus dibayarkan pada periode tersebut. Sehingga, tidak diperlukan
asumsi aktuarial untuk mengukur kewajiban atau beban dan tidak ada kemungkinan keuntungan
atau kerugian actuarial

Pengakuan dan Pengukuran

Ketika pekerja telah memberikan jasa kepada entitas selama suatu periode, maka entitas harus
mengakui iuran terutang untuk program iuran pasti atas jasa pekerja:

a)sebagai liabilitas (beban terakru), setelah dikurangi dengan iuran yang telah dibayar. Jika iuran
tersebut melebihi iuran terutang untuk jasa sebelum akhir periode pelaporan, maka entitas
mengakui kelebihan tersebut sebagai aset (beban dibayar di muka) sepanjang kelebihan tersebut
akan mengurangi pembayaran iuran di masa depan atau dikembalikan; dan

b)sebagai beban, kecuali jika Pernyataan lain mensyaratkan atau mengijinkan iuran tersebut
termasuk dalam biaya perolehan asset

Entitas mengungkapkan jumlah yang diakui sebagai beban untuk program iuran pasti

IMBALAN PASCAKERJA: PROGRAM IMBALAN PASTI

Akuntansi untuk program imbalan pasti sangat kompleks karena disyaratkan adanya asumsi
aktuarial

untuk mengukur kewajiban dan beban dan menimbulkan kemungkinan adanya keuntungan dan
kerugian actuarial

Pengakuan dan Pengukuran

biaya yang diakui untuk program imbalan pasti tidak harus sebesar iuran untuk suatu periode.
Akuntansi oleh entitas untuk program imbalan pasti meliputi tahap-tahap berikut:
a)menggunakan teknik aktuarial untuk membuat estimasi andal dari jumlah imbalan yang
menjadi hak pekerja sebagai pengganti jasa mereka pada periode kini dan periode-periode lalu.
B)mendiskontokan imbalan dengan menggunakan metode Projected Unit Credit dalam
menentukan nilai kini dari kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini
c)menentukan nilai wajar aset program
d)menentukan total keuntungan dan kerugian aktuarial dan selanjutnya menentukan jumlah yang
harus diakui
e)menentukan besarnya biaya jasa lalu ketika suatu program diterapkan pertama kali atau diubah
f)menentukan keuntungan dan kerugian ketika suatu program diciutkan (kurtailmen) atau
diselesaikan

Akuntansi untuk Kewajiban Konstruktif

Entitas menghitung tidak hanya kewajiban hukum berdasarkan ketentuan formal program
imbalan pasti,

tetapi juga kewajiban konstruktif yang timbul dari praktik kebiasaan entitas. Kebiasaan akan
menimbulkan kewajiban konstruktif jika entitas tidak memiliki pilihan realistis lain kecuali
membayar imbalan kerja.

Laporan posisi keuangan

Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti merupakan jumlah neto dari:

(a) nilai kini kewajiban imbalan pasti pada akhir periode pelaporan;

(b) ditambah keuntungan aktuarial (dikurang kerugian aktuarial) yang tidak diakui

(c) dikurang biaya jasa lalu yang belum diakui

(d) dikurang nilai wajar aset program pada tanggal neraca (jika ada) yang akan digunakan untuk
penyelesaian kewajiban secara langsung.

Jumlah yang ditentukan ini mungkin negatif (aset)

Entitas menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan nilai wajar aset program dengan
keteraturan

yang memadai (suffi cient regularity) sehingga jumlah yang diakui dalam laporan keuangan tidak
berbeda secara material dari jumlah yang akan ditentukan pada akhir periode pelaporan

Laporan Laba Rugi

Entitas mengakui jumlah neto berikut sebagai beban atau penghasilan, kecuali jika ada
Pernyataan lain yang mensyaratkan atau mengijinkan imbalan tersebut termasuk dalam biaya
perolehan aset:

a.biaya jasa kini

b.biaya bunga

c.hasil yang diharapkan dari aset program


d.keuntungan dan kerugian aktuarial, seperti disyaratkan sesuai dengan kebijakan akuntansi
entitas

biaya jasa lalu

e.dampak kurtailmen atau penyelesaian program

f.dampak batasan dalam ctuarial 61(b), kecuali diakui diluar laporan laba rugi sesuai dengan
ctuarial 101

Pengakuan dan Pengukuran: Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti dan Biaya Jasa Kini

Dalam rangka mengukur nilai kini dari kewajiban imbalan pascakerja dan biaya jasa kini yang
terkait, entitas perlu untuk:

(a) menerapkan metode penilaian

(b) mengaitkan imbalan pada periode jasa

membuat asumsi-asumsi actuarial

Metode Penilaian Aktuarial

Entitas menggunakan metode Projected Unit Credit untuk menentukan nilai kini kewajiban
imbalan pasti,

biaya jasa kini yang terkait dan biaya jasa lalu (jika dapat diterapkan)

Pengaitan Imbalan dengan Periode Jasa

Dalam menentukan nilai kini kewajiban imbalan pasti dan biaya jasa kini yang terkait dan biaya
jasa lalu

(jika dapat diterapkan) entitas mengalokasikan imbalan sepanjang periode jasa dengan
menggunakan formula imbalan yang dimiliki program

Asumsi Aktuarial: Tingkat Diskonto

Tingkat diskonto yang digunakan untuk mendiskontokan kewajiban imbalan pascakerja (baik
yang

didanai maupun tidak) ditentukan dengan mengacu pada bunga obligasi berkualitas tinggi di
pasar aktif pada akhir periode pelaporan. Bila tidak ada pasar aktif (deep market) bagi obligasi
tersebut, maka digunakan tingkat bunga obligasi pemerintah pada pasar yang aktif. Mata uang
dan periode yang dipersyaratkan dalam obligasi tersebut di atas harus sesuai dengan mata uang
dan estimasi periode
kewajiban imbalan pascakerja

Asumsi Aktuarial: Gaji, Imbalan, dan Biaya Kesehatan

Kewajiban imbalan pascakerja diukur dengan mempertimbangkan hal-hal berikut:

(a) estimasi kenaikan gaji di masa depan;

(b) imbalan yang ditentukan dalam program (atau yang timbul dari kewajiban konstruktif yang
jumlahnya

melebihi ketentuan dalam program tersebut) pada akhir periode pelaporan; dan

prakiraan perubahan tingkat imbalan yang ditentukan pemerintah untuk masa depan yang
mempengaruhi imbalan terutang berdasarkan program imbalan pasti

Dalam menentukan asumsi biaya kesehatan harus dipertimbangkan estimasi perubahan biaya
jasa kesehatan di masa depan, baik yang diakibatkan oleh inflasi maupun karena adanya
perubahan-perubahan dalam biaya kesehatan.

Keuntungan dan Kerugian Aktuarial

Dalam mengukur liabilitas imbalan pasti sesuai dengan ctuarial 57, entitas tunduk pada ctuarial
62, mengakui sebagian keuntungan dan kerugian aktuarialnya sebagai penghasilan atau beban
apabila akumulasi keuntungan dan kerugian ctuarial neto yang belum diakui pada akhir periode
pelaporan sebelumnya melebihi jumlah yang lebih besar di antara kedua jumlah berikut ini:

(a) 10% dari nilai kini imbalan pasti pada tanggal tersebut

(b) 10% dari nilai wajar ctua program pada tanggal tersebut.

Batas ini harus dihitung dan diterapkan secara terpisah untuk masing-masing program imbalan
pasti.

Biaya Jasa Lalu

Dalam mengukur liabilitas imbalan pasti, entitas mengakui biaya jasa lalu dengan memerhatikan
batasan yang dijelaskan dalam ctuarial 62 sebagai beban dengan metode garis lurus selama
periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi hak atau vested. Apabila imbalan tersebut
vested segera setelah program imbalan pasti diperkenalkan atau program tersebut diubah, entitas
mengakui biaya jasa lalu pada saat

itu juga.

Pengakuan dan Pengukuran: Aset Program


Nilai Wajar Aset Program

Sesuai dengan ctuarial 57, nilai wajar ctua program merupakan salah satu ctuar yang
dikurangkan dari nilai kini kewajiban imbalan pasti dalam rangka menentukan jumlah yang
diakui dalam laporan posisi keuangan sebagai kewajiban imbalan pasti. Aset program tidak
mencakup iuran yang masih harus dibayar oleh entitas pelapor kepada entitas (dana) terpisah,
dan ctuarial keuangan yang diterbitkan oleh entitas yang tidak dapat dialihkan dan dikuasai oleh
entitas (dana) terpisah

Penggantian

Jika, dan hanya jika, terdapat kepastian bahwa pihak lain akan mengganti sebagian atau seluruh
pengeluaran yang dibutuhkan untuk memenuhi kewajiban imbalan pasti, maka entitas mengakui
bagiannya dalam penggantian tersebut sebagai ctua yang terpisah. Entitas menilai asetnya
sebesar nilai wajarnya. Entitas memperlakukan asset tersebut seperti memperlakukan ctua
program. Dalam laporan laba rugi komprehensif, beban yang berkaitan dengan program imbalan
pasti dapat disajikan secara neto

setelah dikurangkan dengan jumlah yang diakui dalam penggantian

Hasil Aset Program

Hasil ctua program yang diharapkan adalah satu salah satu komponen beban yang diakui di
laporan laba rugi. Perbedaan antara hasil ctua program yang diharapkan dan realisasinya
merupakan keuntungan atau kerugian ctuarial; keuntungan atau kerugian tersebut termasuk di
dalam keuntungan dan kerugian ctuarial atas kewajiban imbalan pasti dalam menentukan jumlah
neto yang dibandingkan dengan batas koridor 10%

Kombinasi Bisnis

Dalam kombinasi bisnis, entitas mengakui ctua dan liabilitas dari imbalan pascakerja sebesar
nilai kini kewajiban dikurangi dengan nilai wajar ctua program. Walaupun pihak yang diakuisisi
belum mengakuinya, nilai kini kewajiban mencakup semua hal berikut pada tanggal akuisisi:

(a) keuntungan dan kerugian ctuarial yang muncul sebelum tanggal pembelian

(b) biaya jasa lalu yang timbul dari perubahan imbalan, atau pendirian program, sebelum tanggal
akuisisi (c) jumlah sesuai ketentuan transisi ctuarial 161(b), tidak diakui oleh pihak yang
diakuisisi

Kurtailmen dan Penyelesaian (Curtailments and Settlements)

Entitas mengakui keuntungan atau kerugian atas kurtailmen atau penyelesaian suatu program
imbalan
pasti ketika kurtailmen atau penyelesaian tersebut terjadi. Keuntungan atau kerugian atas
kurtailmen atau

penyelesaian terdiri atas:

(a) perubahan yang terjadi dalam nilai kini kewajiban imbalan pasti;

(b) perubahan yang terjadi dalam nilai wajar asset program;

keuntungan dan kerugian ctuarial dan biaya jasa lalu yang belum diakui sebelumnya

Sebelum menentukan dampak kurtailmen atau penyelesaian, entitas mengukur kembali


kewajiban (dan ctua program yang terkait, jika ada) dengan mengunakan asumsi ctuarial yang
berlaku saat ini (termasuk tingkat bunga dan harga pasar yang berlaku).

Penyajian

Saling Hapus

Entitas melakukan saling hapus antara asset yang berkaitan dengan suatu program dan liabilitas
yang

berhubungan dengan program lain jika, dan hanya jika, entitas:

a)mempunyai hak yang dapat dipaksakan secara hukum untuk menggunakan surplus pada suatu
program untuk menyelesaikan kewajiban program lain; dan

b)bermaksud untuk: menyelesaikan kewajiban dengan dasar neto (net basis), merealisasi surplus
pada satu program dan menyelesaikan kewajiban program yang lain secara simultan

Komponen Keuangan dari Biaya Imbalan Pascakerja

Pernyataan ini tidak menentukan apakah entitas harus menyajikan biaya jasa kini, biaya bunga
dan hasil

aset program yang diharapkan sebagai komponen dari satu item atas penghasilan atau beban
dalam laporan laba rugi komprehensif.

Pengungkapan

Suatu entitas harus mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan
untuk mengevaluasi sifat program imbalan pasti dan dampak keuangan atas perubahan program
selama periode tersebut.

Entitas harus mengungkapkan informasi berikut mengenai program imbalan pasti:


A)kebijakan akuntansi entitas dalam mengakui keuntungan dan kerugian aktuarial.
b)gambaran umum mengenai jenis program.
c)rekonsiliasi saldo awal dan akhir dari nilai kini kewajiban imbalan pasti yang disajikan secara
terpisah
d)analisis kewajiban imbalan pasti terhadap jumlah yang dihasilkan dari program yang
seluruhnya tidak didanai dan jumlah yang dihasilkan dari program yang seluruhnya atau
sebagian didanai.
e)rekonsiliasi saldo awal dan akhir dari nilai wajar asset program serta saldo awal dan akhir hak
penggantian yang diakui sebagai aset sesuai dengan paragraf 114 ditunjukkan secara terpisah,
jika dapat diterapkan,
f)rekonsiliasi nilai kini kewajiban imbalan pasti
g)total beban yang diakui di laporan laba rugi
h)jumlah total yang diakui dalam pendapatan komprehensif Lain

IMBALAN KERJA JANGKA PANJANG LAINNYA

Imbalan kerja jangka panjang lainnya mencakup, antara lain:

a.cuti-berimbalan jangka panjang;

b.imbalan hari raya atau imbalan jasa jangka panjang lainnya

c.imbalan cacat permanen;

d.utang bagi laba dan bonus

e.kompensasi ditangguhkan

Pengakuan dan Pengukuran

Jumlah yang diakui sebagai liabilitas untuk imbalan kerja jangka panjang lainnya adalah total
nilai neto dari jumlah berikut ini:
a)nilai kini kewajiban imbalan pasti pada akhir periode pelaporan;
b)dikurangi dengan nilai wajar dari aset program pada akhir periode pelaporan (jika ada) selain
kewajiban yang harus dilunasi secara langsung

Pengungkapan

Walaupun Pernyataan ini tidak mewajibkan pengungkapan rinci imbalan kerja jangka panjang
lainnya, pernyataan lainnya dapat saja mewajibkan pengungkapan.

PESANGON PEMUTUSAN KONTRAK KERJA (PKK)

Pernyataan ini membahas pesangon PKK secara terpisah dari imbalan kerja lainnya karena
kejadian yang menimbulkan kewajiban ini adalah pemutusan hubungan kerja dan bukan jasa
yang diberikan pekerja.
Pengakuan

Entitas harus mengakui pesangon PKK sebagai liabilitas dan beban jika, dan hanya jika, entitas
berkomitmen untuk:
a)memberhentikan seorang atau sekelompok pekerja sebelum tanggal pensiun normal; atau
b)menyediakan pesangon PKK bagi pekerja yang me nerima penawaran mengundurkan diri
secara sukarela

Pengukuran

Jika pesangon PKK jatuh tempo lebih dari 12bulan setelah periode pelaporan, maka besarnya
pesangon PKK harus didiskontokan dengan menggunakan tingkat diskonto yang dirinci pada
paragraf 83

Pengungkapan

Jika terdapat ketidakpastian mengenai jumlah pekerja yang bersedia menerima tawaran pesangon
PKK, maka terdapat suatu liabilitas kontinjensi. Seperti diatur dalam PSAK 57, entitas
mengungkapkan informasi mengenai liabilitas kontinjensi tersebut, kecuali jika kemungkinan
kecil terjadi arus keluar pada saat penyelesaian.

Ketentuan Transisi

Apabila entitas memilih menggunakan alternative pengakuan keuntungan dan kerugian aktuarial,
maka entitas mengakui saldo keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui pada awal
penerapan Pernyataan ini akibat dari pendekatan koridor sesuai dengan paragraf 97-98 pada
pendapatan komprehensif lain

TANGGAL EFEKTIF

Pernyataan ini berlaku efektif untuk laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada atau
setelah 1

Januari 2012. Penerapan lebih dini tidak diperkenankan. Pernyataan ini merevisi PSAK 24
(revisi 2004): Imbalan Pasti yang disahkan pada tahun 2004.