Anda di halaman 1dari 6

Lailatus

| Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis


Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis



Lailatus Syifa Selian
FakultasKedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Penyakit ginjal kronis adalah kerusakan ginjal 3 bulan, berupa kelainan struktural atau fungsional dan atau tanpa penurunan
laju filtrasi glomerulus dengan manifestasi kelainan patologis dan terdapat tanda-tanda kelainan ginjal. Tn. UY, usia 55 tahun,
datang dengan keluhan perut membesar disertai dengan bengkak pada tungkai bawah. Keluhan ini dirasakan sejak 4 bulan yang
lalu, awalnya bengkak pada kaki. Sejak 4 bulan terakhir pasien mengaku buang air kecil hanya satu kali sehari dan jumlahnya
sedikit. Pasien juga mengeluh nafsu makan berkurang, mual dan muntah, kulit terasa kering, dan terkadang muncul rasa gatal.
Pasien mengakui adanya riwayat darah tinggi sejak 5 tahun yang lalu, namun pasien tidak pernah control dan tidak pernah
minum obat darah tinggi. Hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium: tekanan darah 160/100 mmHg, respirasi 22 kali/menit, nadi
0
92 kali/menit, dan suhu 36,5 C. Asites (+), edema tungkai (+), hemoglobin 10 mg/dl, hematokrit 16,2 %, ureum 234 mg/dl,
2.
dancreatinin 10,8 mg/dl. Pada perhitungan laju filtrasi glomerulus didapatkan hasil 6,12 ml/menit/1,73m Pasien didiagnosa
dengan gagal ginjal kronik (GGK) derajat 5danhipertensi derajat II. Pada pasien ini diberikan terapi diet ginjal 1900 kal/hari, diet
rendah protein 40 gram/hari, injeksi furosemid 2 ampul/8 jam, kaptopril 2x12,5 mg. Tindakan yang dilakukan pada pasien ini
adalah hemodialisis cito.

Kata kunci: gagal ginjal kronik

A 55 Years Old Man with Chronic Kidney Disease

Abstract
Chronic kidney disease (CKD) is defined as the presence of kidney damage, or a decreased level of kidney function, for three
months or more, either structural or functional abnormalities, with or without decreased glomerular filtration rate. Mr. UY, 55
years old, came with complaints of abdominal bloating accompanied by swelling in the lower limbs. This complaint is felt since
four months ago, initially legs swelling. For last 4 months, the patients admitted to urinate only once a day and few in number.
Patient also complained of poor appetite, nausea and vomiting, dry skin, and sometimes he felt itching. This patient has
untreated hypertension since 5 years ago. Physical and laboratory examination obtained blood pressure 160/100 mmHg,
0
respiration rate 22 times/min, pulse 92 beats/min and the temperature 36,5 C, ascites, both legs swelling, hemoglobin 10
2
mg/dl, hematocrit 16.2%, urea 234 mg/dl, creatinine 10.8 mg/dl. His glomerular filtration rate was 6.12 ml/min/1,73m . Patients
diagnosed as CKD grade 5 + hypertension grade II. The patient got renal diet therapy of 1900 cal/d, low protein diet of 40 gr/d,
intravenous furosemide 2 amp/8 h, captopriltab 2 x12.5 mg. He also had hemodialysis cito.

Keyword: chronic kidney disease

Korespondensi: Lailatus Syifa Selian, S.Ked, alamat Jl. Pelita 2 no 29 Labuhan Ratu Bandar Lampung, HP 08117257700, email
lailashiva@gmail.com


Pendahuluan Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan
Ginjal adalah salah satu organ utama suatu keadaan patologis yang ditandai dengan
sistem kemih atau tractus urinarius yang penurunan fungsi ginjal dengan penyebab yang
berfungsi menyaring dan membuang cairan beragam. GGK dianggap sebagai salah satu
sampah metabolisme dari dalam tubuh.1 Fungsi masalah kesehatan yang dapat berkembang
ginjal secara umum antara lain yaitu sebagai menjadi epidemi pada dekade yang akan datang
ultrafiltrasi yaitu proses ginjal dalam dikarenakan angka insidensi yang terus
menghasilkan urin, keseimbangan elektrolit, meningkat dan intervensinya yang
pemeliharaan keseimbangan asam basa, membutuhkan biaya besar.4 GGK tahap akhir
eritropoiesis atau fungsi ginjal dalam produksi adalah dimana penderita memerlukan terapi
eritrosit, regulasi kalsium dan fosfor atau pengganti ginjal berupa dialisis atau
mengatur kalsium serum dan fosfor, regulasi transplantasi ginjal.5
tekanan darah, ekresi sisa metabolik, dan Kasus GGK semakin bertambah tiap
toksin.2,3 tahunnya, prevalensi GGK di Amerika adalah 10-

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|95



Lailatus | Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis

13% atau sekitar 25 juta orang dan meningkat kontrol dan tidak pernah minum obat darah
sekitar 8% setiap tahunnya. Prevalensi GGK di tinggi.
Indonesia tahun 2009 sebesar 12,5%atau 18 Pada pemeriksaan fisik dan laboratorium
juta jiwa, sedangkan di negaranegara didapatkan kesadaran komposmentis keadaan
berkembang lainnya, diperkirakan sekitar 4060 umum tampak sakit sedang, berat badan 56 kg,
kasus perjuta penduduk pertahun.4-6 tinggi badan 165cm, kesan gizi normal, indeks
Faktor risiko penyakit ginjal kronik massa tubuh (IMT) normal yaitu 20,5 kg/m2,
diantaralain: pasien dengan diabetes melitus tekanan darah 160/100 mmHg, frekuensi napas
atau hipertensi, obesitas atau perokok, 22 kali/menit, nadi 92 kali/menit, dan suhu
berusialebih dari 50 tahun, individu dengan 36,50C. Kepala normosefal, perut asites,dan
riwayat diabetes mellitus, dan hipertensi serta kedua tungkai edema. Hemoglobin 10 mg/dl,
penyakit ginjal dalam keluarga.2,7 hematokrit 16,2%, ureum 234 mg/dl, dan
Penyakit ginjal kronik dapat kreatinin 10,8 mg/dl. Pada perhitungan laju
menyebabkan timbulnya berbagai manifestasi filtrasi glomerulus didapatkan hasil 6,12
yang komplek diantaranya penumpukan cairan, ml/menit/1,73m2.
edema paru, edema perifer, kelebihan toksik Berdasarkan anamnesa, pemeriksaan
uremik, pericarditis, iritasi sepanjang saluran fisik, dan pemeriksaan penunjang, makapada
gastrointestinal dari mulut sampai anus, pasien ini dapat di tegakkan diagnosa gagal
gangguan keseimbangan biokimia berupa ginjal kronik derajat 5 dan hipertensi derajat II.
hiperkalemia, hiponatremi, asidosis metabolik, Kemudian pasien diberikan tatalaksana
gangguan keseimbangan kalsium fosfat lama berupadiet ginjal 1900 kal/hari, diet rendah
kelamaan mengakibatkan demineralisasi tulang protein 40 gram, infuse RL X gtt, injeksi ranitidin
neuropati perifer, pruritus, pernafasan dangkal, 1 ampul/12 jam, injeksi furosemide 2 ampul/8
anoreksia, mual, muntah, kelemahan, dan jam, captopril 12,5 mg 3x1. Tindakan yang
keletihan.1,2,7 Timbulnya berbagai manifestasi dilakukan pada pasien ini adalah hemodialisis
klinis pada gangguan penyakit ginjal kronik cito.
menyebabkan timbulnya masalah biopsiko-
sosio-kultural spiritual. 7 Pembahasan
Masalah kesehatan yang dibahas pada
Kasus kasus ini adalah seseorang yang berusia 55
Tn. UY, usia 55 tahun, datang dengan tahun yang menderita hipertensi sejak 5 tahun
keluhan perut membesar disertai dengan yang lalu yang mengakibatkan gagal ginjal
bengkak pada tungkai bawah. Keluhan ini kronik. Kriteria diagnosis GGK yaitu kerusakan
dirasakan sejak 4 bulan yang lalu, awalnya ginjal yang terjadi lebih dari 3 bulan berupa
bengkak pada kaki, bengkak terjadi sepanjang kelainan struktural atau fungsional dengan atau
hari tidak berkurang meskipun kaki diposisikan tanpa penurunan laju filtrasi glomerulus.
lebih tinggi. Pasien mengatakan buang air kecil Manistasi dari GGK dapat berupa kelainan
hanya satu kali sehari dan jumlahnya sedikit, histopatologis, kelainan fungsi ginjal termasuk
berwarna kuning jernih, tidak ada darah, tanpa kelainan dalam komposisi darah, urin dan
mengedan serta tanpa demamsejak 4 bulan kelainan dalam tes pencitraan. Selain itu laju
terakhir. Dalam 1 bulan terakhir pasien merasa filtrasi glomerulus <60 ml/menit/1,73 m3 selama
perut semakin membesar, perut terasa seperti 3 bulan dengan atau tanpa kerusakan ginjal.
2,5,8,9
penuh, tidak tegang dan terasa berisi cairan,
pasien tidak merasa kembung. Pasien juga Berdasarkan anamnesis pasien
merasa cepat lelah, lemah, letih, nafsu makan mengeluhkan mual muntah setiap akan makan,
berkurang, mual dan muntah, kulit terasa mulutnya terasa pahit sehingga pasien malas
kering, dan terkadang muncul rasa gatal. Pasien makan, akhirnya badan terasa lemas, tidak
mengakui adanya riwayat darah tinggi sejak 5 bergairah dan tidak mampu beraktivitas normal.
tahun yang lalu, namun pasien tidak pernah Berdasarkan pemeriksaan fisik regio abdomen,
didapatkan inspeksi cembung, shifting dullness,

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|96


Lailatus | Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis

kesan asites, dan nyeri tekan epigastrium. Keluhan edema pada pasien ini
Pemeriksaan ekstremitas didapatkan pitting mengarahkan pada penyakit ginjal. Pasien
edema pada ekstremitas inferior. Hal tersebut diketahui memiliki penyakit hipertensi sejak 5
menandakan bahwa terdapat edema pada tahun yang lalu. Hal ini dapat mengarahkan
seluruh tubuh pasien yang mengarahkan pada penyebab dari bengkak pada ekstremitas yaitu
beberapa kelainan, seperti kelainan organ gagal ginjal kronik yang merupakan komplikasi
jantung, hepar, ginjal, dan kelainan lain. dari penyakit hipertensi.6,11,12
Kelainan organ jantung dapat disingkirkan pada Kriteria diagnosis penyakit ginjal kronik
pasien ini karena pasien tidak memiliki riwayat adalah laju filtrasi glomerulus <60
2
sesak napas yang dirasakan pada saaat aktivitas ml/menit/1,73 m selama 3 bulan dengan atau
maupun istirahat, serta tidak terdapat gejala tanpa kerusakan ginjal.9 Pada pasien ini
sesak pada malam hari, orthopnea maupun perhitungan laju filtrasi glomerulus didapatkan
dyspneu on effort. Kriteria framingham pada hasil 6,12 ml/menit/1,73m2.
pasien ini pun tidak ditemukan.9,10

6,9-11
Tabel 1. Klasifikasi penyakit ginjal kronik berdasarkan derajat penyakit
2
Derajat Penjelasan GFR (ml/mnt/1,73m )
1 Kerusakan ginjal dengan GFR normal atau 90
2 Kerusakanginjaldengan ringan 60-89
3 Kerusakanginjaldengan sedang 30-59
4 Kerusakanginjaldengan berat 15-29
5 End Stage Renal Diesease <15

Klasifikasi penyakitberdasarkan GFR, ammonia ini bersifat iritasi kuat, sehingga
dihitung dengan mempergunakan rumus menimbulkan keluhan mual dan muntah.
Cockcroft-Gault sebagai berikut: Keluhan tersebut dapat menyebabkan pasien
= (140-umur) X berat badan *) tidak nafsu makan sehingga membuat pasien
72 X kreatinin plasma (mg/dl) lemas.10,13
9,11
*) pada perempuan dikalikan 0,85. Berdasarkan hasil pemeriksaan
Pada pasien ini didapatkan hasil GFR-nya tekanan darah, didapatkan hasilnya adalah
adalah 6,12 ml/menit/1,73m2. 160/100 mmHg. Berdasarkan kategori
Berdasarkan anamnesis, pasien tekanan darah yang dikeluarkan oleh Joint
mengeluhkan lemas, keluhanini dikarenakan National Committe (JNC) VII menyebutkan
pasien merasa tidak enak pada perutnya, bahwa pasien termasuk dalam kategori
mual dan muntah sehingga pasien tidak mau hipertensi derajat II karena sistol 160 mmHg
makan. Mual tersebut kemungkinan dan diastol 100 mmHg. Klasifikasi tekanan
merupakan komplikasi dari penyakit GGK darah pada orang dewasa menurut JNC VII
yang berupa gastropati uremikum berupa terbagi menjadi kelompok normal,
akumulasi ureum dalam darah. Bakteri prahipertensi, hipertensi derajat 1, dan
dalam saluran gastrointestinal dapat derajat 2.6,11
menguraikan urea menjadi ammonia,

6,11
Tabel 2. Klasifikasi hipertensi
Klasifikasi TD sistolik TD diastolik

Normal < 120 <80


Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi derajat I 140-159 90-99
Hipertensi derajat >160 >100
II

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|97



Lailatus | Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis

Hipertensi merupakan faktor risiko ARB menghambat sistem renin-angiotensin-


penting untuk perkembangan penyakit ginjal. aldosteron, sehingga menyebabkan pelebaran
Target tekanan darah yang harus diturunkan eferen arteriol. Hal ini dapat menyebabkan
pada pasien dengan gagal ginjal kronik, diabetes penurunan akut pada GFR lebih dari 15 persen
mellitus adalah 130/85 mmHg.2,11 dari baseline dengan peningkatan proporsional
Obat anti hipertensi yang baik untuk dalam kreatinin serum dalam minggu pertama
pasien gagal ginjal adalah golongan angiotensin memulai terapi.4,6,8
converting enziminhibitor (ACEI) dan Diuretik tiazid atau HCT merupakan lini
angiotensin receptor blocker (ARB) karena pertama untuk mengobati hipertensi, tetapi
menurunkan tekanan darah kapiler glomerulus tidak dianjurkan jika tingkat serum kreatinin
dan filtrasi protein. Dosis pemberian captopril lebih tinggi dari 2,5 mg per dL. Obat loop
pada pasien ini kurang, seharusnya diberikan diuretik atau furosemid yang paling umum
3x25 mg. untuk pasien gagal ginjal kronik, selain digunakan untuk mengobati hipertensi tanpa
itu juga di tambahkan obat anti hipertensi komplikasi pada pasien dengan gagal ginjal
golongan ARB seperti candesartan dan kronis. Diuretik hemat kalium harus dihindari
valsartan. Untuk pasien hipertensi derajat II, karena meningkatkan jumlah kalium pada
menurut JNC VII harus diberikan dua obat anti pasien dengan gagal ginjal kronik.6,12
hipertensi kombinasi. Akhirnya obat golongan Pemberian antasida atau ranitidin untuk
ARB tersebut digantikan dengan obat golongan mengatasi masalah gastropati uremikum tidak
calcium channel blocker (CCB), diberikan tepat. Antasida memiliki efek samping terutama
amlodipin 1x10 mg.6,7,11,12 untuk pasien gagal ginjal kronik. Alumunium
Pemberian ACEI efektif dalam yang diabsorpsi dalam jumlah kecil dapat
memperlambat perkembangan insufisiensi tertimbun dalam otak, diduga mendasari
ginjal pada pasien dengan atau tanpa diabetes. sindroma ensefalopati yang terjadi pada pasien
Golongan CCB juga menghambat progresi gagal ginjal kronik. Alumunium hidroksida dapat
insufisiensi ginjal pada pasien dengan diabetes membentuk senyawa yang sukar larut, sehingga
tipe 2. Akhir-akhir ini, ARB berupa irbesartan bisa menimbulkan batu saluran kemih. Pasien
dan losartan telah terbukti memiliki efek dengan GGK derajat V harus melakukan
perlindungan nefropati diabetikum.6 hemodialisis untuk mengurangi keluhan mual
Menurut penelitian, ARB tampaknya muntahnya, agar kadarureum dalam darahnya
memiliki efektivitas yang sama seperti ACEI berkurang. Jika tidak, terapi alternatif lainnya
dalam mengurangi proteinuria. Kombinasi adalah dengan melakukan transplantasi
terapi ARB dan ACEI menyebabkan penurunan ginjal.8,13
proteinuria lebih besar daripada monoterapi. Pasien disarankan untuk mengonsumsi
Pemberian ARB dapat mengurangi ekskresi makanan yang rendah garam yaitu 2-3 gr/hari.
protein dalam urin sekitar 35% dibandingkan Untuk pasien gagal ginjal tidak diperbolehkan
dengan golongan CCB. Inhibitor dari sistem banyak minum sehingga dilakukan pembatasan
renin-angiotensin mengurangi proteinuria cairan 500-800 ml/hari agar tidak menyebabkan
dengan mengurangi tekanan arteri sistemik dan pembengkakan di tubuh pasien.3 Pasien gagal
tekanan filtrasi intraglomerular dan dengan ginjal kronik beresiko mengalami malnutrisi
mengubah pori-pori ukuran dari filtrasi sehingga menurunkan kualitas hidup serta
glomerulus.4 memiliki morbiditas dan mortalitas yang lebih
Pemberian ACEI dan ARB merupakan lini tinggi dibandingkan populasi normal.Beberapa
pertama untuk pasien hipertensi, diabetes faktor penyebab malnutrisi pasien gagal ginjal
melitus (DM) tipe 1 atau 2, dan proteinuria atau kronik adalah keluhan uremia, asupan protein
awal gagal ginjal kronis. Kedua obat ini dan kalori yang menurun, dan inflamasi kronik.
mengurangi tekanan darah dan proteinuria, Untuk itu monitoring status gizi pasien gagal
memperlambat perkembangan dari penyakit ginjal kronik sangat penting.3,8
ginjal, dan memberikan perlindungan
kardiovaskular jangka panjang. Obat ACEI dan

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|98


Lailatus | Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis

Standar diet pada Penyakit Ginjal Kronik proteinnya adalah 0,6 gr/kgBB/hari. Perlu
Pre Dialisis dengan terapi konservatif adalah dilakukan pemantauan setiap 1-3 bulan untuk
sebagai berikut: GGK derajat 45, dan monitoring setiap 6-12
1. Syarat dalam menyusun diet energi orang bulan untuk GGK derajat 13. Berarti pasien
dewasa adalah 35 kkal/kg BB, sedangkan berat badan 55 kg dengan GGK derajat 5,
padageriatri umur lebih dari 60 tahun asupan protein per harinya adalah 33 gram. Jika
cukup 30 kkal/kg BB, dengan ketentuan ada satu potong daging ukuran sedang, maka
dan komposisi sebagai berikut: harus dibagi untuk 3 kali makan. Pembatasan
a. Karbohidrat sebagai sumber tenaga, asupan protein menurunkan progresifitas
50-60% dari total kalori penyakit gagal ginjal kronik. Salah satu hasil
b. Protein untuk pemeliharaan jaringan metabolisme protein adalah ureum dan juga zat
tubuh dan mengganti sel-sel yang toksin lainnya, jika terlalu banyak asupan
rusak sebesar 0,6 g/kg BB. Apabila protein akan semakin menimbulkan sindrom
asupanenergi tidak tercapai, protein uremik.3,10
dapat diberikan sampai dengan 0,75 Kebutuhan kalori untuk pasien gagal
g/kg BB. Protein diberikan lebih ginjal kronik adalah 30-35 kkal/kgbb/hari.
rendah dari kebutuhan normal, oleh Asupan kalori perkilogram berat badan pada
karena itu diet ini biasa disebut diet pasien ini seharusnya 1650-1925 kkal/hari atau
rendah protein. Pada waktu yang lalu, 412-480 gram/hari, artinya jika memasak nasi
anjuran protein bernilai biologi kg dapat dibagi untuk 3 kali makan. Asupan
tinggi/hewani hingga 60%, akan protein dan kalori harus diperhitungkanagar
tetapi pada saat ini anjuran cukup pasien tidak mengalami malnutrisi, karena
50%. Saat ini protein hewani dapat kebanyakan dari pasien gagal ginjal mengalami
dapat disubstitusi dengan protein malnutrisi akibat sindrom uremik. 3,13
nabati yang berasal dari olahan Penatalaksanaan penyakit ginjal kronik
kedelai sebagai lauk pauk untuk meliputi:
variasi menu. 1. Terapi spesifik terhadap penyakit dasar,
c.Lemak untuk mencukupi kebutuhan dilakukan sebelum terjadi penurunan
energi diperlukan 30% diutamakan GFR, sehingga perburukan fungsi ginjal
lemak tidak jenuh. tidak terjadi. Jika GFR menurun sampai
d. Kebutuhan cairan disesuaikan dengan 20-30% terapi penyakit dasar sudah tidak
jumlah pengeluaran urin sehari bermanfaat.
ditambah IWL 500 ml. 2. Pencegahan dan terapi terhadap kondisi
e. Garam disesuaikan dengan ada kormobid. Faktor-faktor kormobid ini
tidaknya hipertensi serta antaralain gangguan keseimbangan
penumpukan cairan dalam tubuh. cairan, hipertensi yang tidak terkontrol,
Pembatasan garam berkisar 2,5-7,6 infeksi traktus urinarius, obstruksi traktus
g/hari setara dengan 1000-3000 mg urinarius, obat-obat nefrotoksik, bahan
Na/hari. radiokontras, atau peningkatan penyakit
f. Kalium disesuaikan dengan kondisi ada dasarnya.
tidaknya hiperkalemia 40-70 3. Menghambat perburukan fungsi ginjal,
meq/hari. dengan dua cara yaitu pembatasan
g. Fosfor yang dianjurkan 10 mg/kg asupan protein, seperti yang sudah
BB/hari. dijabarkan diatas, dan terapi
h. Kalsium 1400-1600 mg/hari.3,9,10 farmakologis, yaitu pemberian obat
Asupan protein yang disarankan bagi antihipertensi untuk mengurangi
pasien gagal ginjal kronik 0,75 gr/kgBB/hari hipertensi intraglomerulus. Obat
untuk pasien GFR 30 mL/min/1,73 m2 untuk antihipertensi juga bermanfaat untuk
GGK derajat 1-3, sedangkan untuk GFR yang memperkecil risiko kardiovaskular juga
lebih rendah untuk GGK derajat 45 asupan sangat penting untuk memperlambat

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|99



Lailatus | Pria 55 Tahun dengan Penyakit Ginjal Kronis

pemburukan kerusakan nefron dengan renin-angiotensin system on proteinuria in


mengurangi hipertensi intra-glomerulus renal disease. Ann Intern Med. 2008;
dan hipertrofi glomerulus. Beberapa obat 148(1):30-48.
antihipertensi, terutama ACE Inhibitor. 5. Turner JM, Bauer C, Abramowitz MK,
4. Pencegahan dan terapi terhadap penyakit Melamed ML, Hostetter TH. Treatment of
kardiovaskular. chronic kidney disease. Kidney Int. 2012;
5. Pencegahan dan terapi terhadap 81(4):351-62.
komplikasi.1,8,10,11 6. Judd E, Calhoun DA. Management of
Pada GGK derajat 5 atau pada GFR <15 hypertension in CKD: Beyond the
ml/mnt/1,73 m2 terapinya adalah pengganti Guidelines. Adv Chronic Kidney. 2015;
ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal, 22(2):116-22.
pada pasien ini sudah direncanakan dilakukan 7. Wang C, Deng WJ, Gong WY, Zhang J, Tang
hemodialisa.9,10 H, Peng H, et al. High prevalence of isolated
nocturnal hypertension in chinese patients
Simpulan with chronic kidney disease. J Am Heart
Prognosis untuk ad vitam pada pasien ini Association. 2015; 4(2):351-62.
dipikirkan dubia ad bonam karena keadaan 8. Lopez-Giacoman S, Madero M. Biomarkers
tanda vital pasien baik dalam pengontrolan. in chronic kidney disease, from kidney
Prognosis untuk ad functionam pada pasien ini function to kidney damage. World J
dipikirkan dubia ad malam karena pasien Nephrol. 2015; 4(1):57-73.
menderita gagal ginjal kronik sehingga yang 9. Kamaludin A. Penyakit ginjal kronik.
membutuhkan tatalaksana cuci darah seminggu Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Dalam
2 kali. Hal tersebut mengganggu aktivitas dan Universitas Pelita Harapan; 2010. hlm. 47.
fungsional pasien sehari-hari. Prognosis untuk 10. Suwitra K. Penyakit ginjal kronik. Dalam:
ad sanationam pada pasien dipikirkan dubia ad Sudoyo AW, et al. eds. Buku Ajar Ilmu
malam karena pada pasien ini sudah terjadi Penyakit Dalam. Edisi ke-5. Jakarta: Pusat
penurunan berat dari fungsi ginjalnya.6,10 Penerbitan IPD FK UI; 2009. hlm. 1035-40.
11. Cohen D, Townsend RR. Hypertension and
Daftar Pustaka kidney disease: What do the data really
1. Almualm Y, Huri ZH. Chronic kidney disease show?. CurrHypertens Rep. 2012;
screening methods and its implication for 14(5):462-7.
Malaysia: An in depth review. Global 12. Ravera M, Re M, Deferrari L, VettorettiS,
Journal of Health Science. 2015; 7(4):96- Deferrari G. Importance of blood pressure
109. control in chronic kidney disease. J Am Soc
2. Su SL, Lin C, Kao S, Wu CC, Lu KC, Lai CH, et Nephrol. 2006; 17(4 Suppl 2):S98-103.
al. Risk factor and their interaction on 13. Nand P, Malhotra P, Bala R. Evaluation of
chronic kidney disease: A multi-center case upper gastrointestinal symptoms and effect
control study in Taiwan. BMC Nephrology. of different modalities of treatment in
2015; 16:83-92. patients of chronic kidney disease. JIACM.
3. Palmer SC, Ruospo M, Campbell KL, Larsen 2014; 15(3-4):182-7.
VC, Saglumbene V, Natale P, et al. Nutrition
and dietary intake and their association
with mortality and hospitalisation in adults
with chronic kidney disease treated with
haemodialysis: protocol for DIET-HD, a
prospective multinational cohort study.BMJ
Open. 2015; 5(1):1-7
4. Kunz R, Friedrich C, Wolbers M, Mann JFE.
Meta-Analysis: Effect of monotherapy and
combination therapy with inhibitors of the

J Medula Unila|Volume 4|Nomor 1|November 2015|100