Anda di halaman 1dari 24

BAB 3

PERSEKUTUAN: LIKUIDASI PERSEKUTUAN

Bab pertama dari buku ini membahas akuntansi pembentukan dan operasi persekutuan.
Permasalahan yang dititikberatkan pada isi bab tersebut adalah bagaimana akuntansi terhadap
investasi awal oleh masing-masing sekutu, pengambilan modal oleh sekutu serta alokasi laba
rugi persekutuan. Pada Bab 2 dibahas mengenai akuntansi pembubaran persekutuan karena
adanya perubahan kepemilikan.
Akuntansi terhadap persekutuan tidak hanya terbatas pada masalah-masalah tersebut,
melainkan mengatur juga tentang proses akhir dari kegiatan persekutuan. Berakhirnya kontrak
perjanjian pembentukan persekutuan, kerugian terus menerus yang mengakibatkan bangkrutnya
persekutuan, merupakan contoh-contoh peristiwa penyebab berakhirnya perjanjian dan
kegiatan persekutuan. Pada bab ini akan dibahas bagaimana akuntansi terhadap proses akhir
suatu persekutuan.

PENGERTIAN LIKUIDASI
Dalam arti sempit likuidasi berarti pelunasan kewajiban. Dalam arti luas suatu perusahaan yang
kegiatan normalnya telah berakhir dan dalam perusahaan tersebut terjadi proses pengonversian
atau pengubahan aset non-kas menjadi bentuk kas serta melakukan pelunasan atas kewajibannya,
maka perusahaan tersebut dikatakan dalam keadaan likuidasi atau dalam proses likuidasi.
Dengan demikian, dalam konteks persekutuan, likuidasi berarti pembubaran persekutuan dan
usahanya yang pada umumnya diawali dengan kegiatan penjualan aset, pelunasan seluruh
utang persekutuan, dan diakhiri dengan pembagian sisa kas jika masih ada kepada para
sekutu sebagai pengembalian modalnya.
Berdasarkan pengertian likuidasi yang telah dikemukakan, maka proses likuidasi
persekutuan akan meliputi tiga tahap kegiatan pokok berikut ini.
1. Kegiatan menjual aset non-kas. Pada tahap ini terjadi proses pengubahan aset nonkas
menjadi bentuk kas yang disebut dengan realisasi. Apabila dalam realisasi terdapat laba
(rugi), maka laba rugi realisasi, termasuk biaya yang timbul dalam proses likuidasi, harus
didistribusikan kepada para sekutu sesuai ratio pembagian laba rugi di dalam
persekutuan. Distribusi laba rugi realisasi dan biaya likuidasi dibebankan ke akun modal
masing-masing sekutu.

2. Kegiatan pelunasan utang persekutuan. Dalam hal persekutuan mempunyai utang


kepada kreditor intern dan kreditur ekstern, pembayaran yang harus didahulukan (sebagai
prioritas pertama) adalah pembayaran kepada kreditor ekstern.

3. Kegiatan pengembalian hak penyertaan (modal) sekutu. Apabila kewajiban kepada


kreditor ekstern telah diselesaikan dan persekutuan masih memiliki kas, maka kas yang
ada harus dibagikan kepada para sekutu sebagai pelunasan utang dan pengembalian
modal yang ditanamkan dalam persekutuan. Pengembalian modal sekutu hanya dilakukan

Nurofik Halaman 1
kepada sekutu yang mempunyai modal bersaldo kredit dalam akun modalnya. Dalam hal
terdapat sekutu yang mempunyai modal bersaldo debit (defisit), dilain pihak ia memiliki
piutang kepada persekutuan, maka piutang tersebut harus digunakan untuk menutup
defisit modalnya. Bagaimana jika sekutu yang mempunyai modal bersaldo debit tetapi ia
tidak memiliki piutang kepada persekutuan? Jawabnya adalah sekutu yang lain
mempunyai kewajiban untuk menutupnya terlebih dahulu, setelah itu sekutu yang
bersangkutan berkewajiban untuk menyetor kas sejumlah defisit modalnya.

Proses likuidasi dapat berlangsung dengan segera atau dalam waktu beberapa bulan,
bahkan mungkin beberapa tahun. Dari segi akuntansi apabila suatu keputusan untuk
melikuidasi persekutuan telah diambil maka catatan-catatan akuntansi harus disesuaikan dan
ditutup. Laba rugi yang diperoleh dalam periode terakhir dimasukkan ke akun modal masing-
masing sekutu.

JENIS LIKUIDASI
Atas dasar pertimbangan tertentu misalnya jangka waktu realisasi likuidasi dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu (1) likuidasi langsung atau sederhana dan (2) likuidasi
bertahap. Likuidasi langsung biasanya diterapkan apabila realisasi dapat berlangsung secara
sekaligus atau tidak memerlukan waktu yang relatif lama. Dalam likuidasi langsung
pembayaran kembali modal sekutu dilakukan setelah realisasi berakhir secara keseluruhan.
Sebaliknya, apabila realisasi memerlukan waktu relatif lama atau tidak dapat berlangsung
sekaligus, likuidasi bertahap merupakan alternatif yang sebaiknya dipilih. Pada likuidasi
bertahap pembayaran kembali modal kepada sekutu dilakukan pada saat telah tersedia kas
untuk itu, berapapun jumlahnya, meskipun realisasi belum seluruhnya dicapai.

LIKUIDASI LANGSUNG/SEDERHANA
Likuidasi langsung adalah pengonversian seluruh aset persekutuan ke dalam bentuk kas dengan
sekali pendistribusian kas kepada sekutu sebagai penyelesaian akhir. Secara teknis, penerapan
likuidasi langsung akan lebih mudah dibandingkan likuidasi bertahap, karena dalam likuidasi
langsung laba rugi realisasi seluruhnya telah dapat diketahui sebelum pembayaran kembali hak
penyertaan sekutu dilakukan. Berikut ini data untuk beberapa contoh penerapan likuidasi
langsung pada berbagai asumsi nilai realisasi aset.
E, L, Z, dan A adalah sekutu pada persekutuan ELZA yang telah beroperasi selama
sepuluh tahun. Mereka membagi laba rugi dengan rasio E : L : Z : A = 30% : 30% : 20% :
20%. Setelah persekutuan beroperasi selama sepuluh tahun, tepatnya pada tanggal 31 Oktober
2012, semua sekutu memutuskan untuk melikuidasi persekutuan dengan menagih semua
piutang dan menjual semua aset non-kas lainnya. Berikut ini laporan posisi keuangan
persekutuan ELZA per 31 Oktober 2012.

Nurofik Halaman 2
Persekutuan ELZA
Laporan Posisi Keuangan
per 31 Oktober 2012

Aset
Kas Rp20.000.000
Aset Lainnya (Aset non-kas) 360.000.000
Jumlah Aset Rp380.000.000

Liabilitas dan Ekuitas


Liabilitas
Utang Dagang Rp150.000.000
Utang, L 12.000.000
Utang, A 10.000.000
Ekuitas
Modal, E 84.000.000
Modal, L 63.000.000
Modal, Z 41.000.000
Modal, A 20.000.000
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas Rp380.000.000

Selama bulan Nopember 2012 seluruh aset non-kas dapat direalisasi.

Contoh 3.1: Diasumsikan nilai realisasi Rp280.000.000, saldo modal masing-masing sekutu dapat
menyerap rugi realisasi

Pada contoh ini aset non-kas Rp360.000.000 dapat dijual atau direalisasi Rp280.000.000,
sehingga persekutuan mengalami rugi Rp80.000.000. Rugi realisasi sebesar Rp80.000.000
untuk selanjutnya didistribusikan kepada masing-masing sekutu sesuai rasio pembagian laba
rugi di dalam persekutuan. Laporan likuidasi persekutuan disajikan pada Peraga 3.1.

Berdasarkan Peraga 3.1, tampak persekutuan telah mempunyai kas Rp300.000.000


setelah menjual asetnya. Selanjutnya kas yang tersedia tersebut dibayarkan kepada berbagai
pihak yang terkait dengan prioritas pembayaran sebagai berikut ini.

1. Untuk melunasi kewajiban persekutuan kepada pihak eksternal.


2. Apabila pembayaran kewajiban kepada pihak eksternal telah terpenuhi dan persekutuan
masih memiliki kas, maka kas yang ada harus digunakan untuk melunasi kewajiban
persekutuan kepada pihak internal (kreditor internal).
3. Apabila pembayaran kewajiban kepada pihak internal telah terpenuhi dan persekutuan
masih memiliki kas, maka kas yang ada harus dibayarkan atau didistribusikan kepada
para sekutu sebagai pengembalian modalnya.

Nurofik Halaman 3
Peraga 3.1
Persekutuan ELZA
Laporan Likuidasi, 1 - 30 Nopember 2012 (dalam ribuan rupiah)

Aset Utang Modal


Keterangan Utang, L Utang, A
Kas Aset Lainnya Dagang E (30%) L (30%) Z (20%) A (20%)
Saldo sebelum likuidasi 20.000 360.000 150.000 12.000 10.000 84.000 63.000 41.000 20.000
1. Realisasi dan distribusi rugi 280.000 (360.000) (24.000) (24.000) (16.000) (16.000)
300.000 - 150.000 12.000 10.000 60.000 39.000 25.000 4.000
2. Pembayaran utang dagang (150.000) (150.000)
150.000 - - 12.000 10.000 60.000 39.000 25.000 4.000
3. Pembayaran utang kepada L dan A (22.000) (12.000) (10.000)
128.000 - - - - 60.000 39.000 25.000 4.000
4. Pembayaran final kepada sekutu (128.000) (60.000) (39.000) (25.000) (4.000)
Saldo - - - - - - - - -

Jurnal untuk mencatat likuidasi adalah sebagai berikut.

Kas Rp280.000.000
Modal, E 24.000.000
Modal, L 24.000.000
Modal, Z 16.000.000
Modal, A 16.000.000
Aset Lainnya Rp360.000.000
(mencatat realisasi dan distribusi rugi)

Utang Dagang Rp150.000.000


Kas Rp150.000.000
(mencatat pembayaran utang dagang)

Utang, L Rp12.000.000
Utang, A 10.000.000
Kas Rp22.000.000
(mencatat pembayaran utang kepada sekutu)

Modal, E Rp60.000.000
Modal, L 39.000.000
Modal, Z 25.000.000
Modal, A 4.000.000
Kas Rp128.000.000
(mencatat pengembalian modal kepada sekutu)

Nurofik Halaman 4
Contoh 3.2: Diasumsikan nilai realisasi Rp240.000.000, terdapat sekutu bersaldo modal defisit akibat
tidak dapat menyerap rugi realisasi dan sekutu tersebut masih memiliki piutang kepada
persekutuan
Pada contoh ini nilai realisasi Rp240.000.000, sehingga persekutuan mengalami rugi
Rp120.000.000. Laporan likuidasi persekutuan disajikan pada Peraga 3.2 berikut ini.

Peraga 3.2
Persekutuan ELZA
Laporan Likuidasi, 1 - 30 Nopember 2012 (dalam ribuan rupiah)

Aset Utang Modal


Keterangan Utang, L Utang, A
Kas Aset Lainnya Dagang E (30%) L (30%) Z (20%) A (20%)
Saldo sebelum likuidasi 20.000 360.000 150.000 12.000 10.000 84.000 63.000 41.000 20.000
1. Realisasi dan distribusi rugi 240.000 (360.000) (36.000) (36.000) (24.000) (24.000)
260.000 - 150.000 12.000 10.000 48.000 27.000 17.000 (4.000)
2. Pembayaran utang dagang (150.000) (150.000)
110.000 - - 12.000 10.000 48.000 27.000 17.000 (4.000)
3. Menutup defisit modal A dengan
saldo piutangnya (4.000) 4.000
110.000 - - 12.000 6.000 48.000 27.000 17.000 -
4. Pembayaran utang kepada L dan A (18.000) (12.000) (6.000)
92.000 - - - - 48.000 27.000 17.000 -
5. Pembayaran final kepada sekutu (92.000) (48.000) (27.000) (17.000)
Saldo - - - - - - - - -

Pada contoh ini, setelah distribusi rugi realisasi, modal sekutu A menjadi defisit sebesar
Rp4.000.000 dan di sisi lain sekutu A memiliki piutang kepada persekutuan sebesar
Rpl0.000.000. Dalam keadaan demikian, sebagian dari saldo piutang A kepada persekutuan,
yaitu Rp4.000.000, harus digunakan untuk menutup defisit modalnya sebelum dilakukan
pembayaran kepada para sekutu.

Jurnal untuk mencatat likuidasi adalah sebagai berikut.

Kas Rp240.000.000
Modal, E 36.000.000
Modal, L 36.000.000
Modal, Z 24.000.000
Modal, A 24.000.000
Aset Lainnya Rp360.000.000
(mencatat realisasi dan distribusi rugi)

Utang Dagang Rp150.000.000


Kas Rp150.000.000
(mencatat pembayaran utang dagang)

Nurofik Halaman 5
Utang, A Rp4.000.000
Modal, A Rp4.000.000
(mencatat penutupan defisit modal A dengan saldo piutangnya)

Utang, L Rp12.000.000
Utang, A 6.000.000
Kas Rp18.000.000
(mencatat pembayaran utang kepada sekutu)
Modal, E Rp48.000.000
Modal, L 27.000.000
Modal, Z 17.000.000
Kas Rp92.000.000
(mencatat pengembalian modal kepada sekutu)

Contoh 3.3: Diasumsikan nilai realisasi Rp200.000.000, terdapat sekutu bersaldo modal defisit akibat
tidak dapat menyerap rugi realisasi dan sekutu tersebut tidak memiliki piutang kepada
persekutuan

Pada contoh ini persekutuan mengalami rugi realisasi Rp160.000.000. Laporan likuidasi
persekutuan disajikan pada Peraga 3.3.

Pada laporan likuidasi sebagaiaman disajikan pada Peraga 3, tampak setelah seluruh
kewajiban persekutuan kepada kreditor ekstern dipenuhi, persekutuan masih memiliki kas
sebesar Rp70.000.000. Masalahnya, kepada sekutu mana kas yang ada tersebut harus
dibayarkan? Pertanyaan ini timbul mengingat jumlah kas yang ada tidak cukup untuk memenuhi
seluruh kewajiban persekutuan sebesar Rp72.000.000 (Rp12.000.000 + Rp36.000.000 +
Rp15.000.000 + Rp9.000.000). Masalah ini tidak akan timbul apabila pada tahap ini A langsung
menyetor kas kepada persekutuan sebesar Rp2.000.000 untuk menutup defisit saldo modalnya.
Setoran langsung oleh A pada tahap ini akan menjadikan jumlah kas persekutuan sama dengan
jumlah kewajibannya, yaitu Rp72.000.000. Masalah muncul apabila A tidak dapat menutup
defisitnya sebesar Rp2.000.000, sementara itu sekutu yang lain menghendaki agar kas yang ada
segera dibagikan.
Sesuai dengan asas keadilan di dalam persekutuan, pembayaran kepada sekutu hanya
dilakukan kepada sekutu yang mempunyai modal (hak atas kekayaan persekutuan) bersaldo
kredit setelah mempertimbangkan kemungkinan risiko atas defisit modal sekutu yang lain.
Dengan kata lain, pembayaran kepada para sekutu dilakukan dengan asumsi awal A gagal
menutup defisit modalnya.
Asumsi kegagalan A untuk menutup defisit modalnya dibebankan sebagai risiko yang
ditanggung oleh sekutu lain sesuai rasio pembagian laba rugi di dalam persekutuan. Pada kasus
ini kas sebesar Rp70.000.000 tentunya harus dibayarkan kepada sekutu E, L, dan Z, mengingat
sekutu tersebut mempunyai modal (hak atas kekayaan persekutuan) bersaldo kredit setelah
mempertimbangkan kemungkinan risiko atas defisit modal sekutu A. Peraga 3.4 menyajikan
skedul pembayaran kas kepada sekutu E, L, dan Z yang dipandang memenuhi asas keadilan di
dalam persekutuan.

Nurofik Halaman 6
Peraga 3.3
Persekutuan ELZA
Laporan Likuidasi, 1 - 30 Nopember 2012 (dalam ribuan rupiah)

Aset Utang Modal


Keterangan Utang, L Utang, A
Kas Aset Lainnya Dagang E (30%) L (30%) Z (20%) A (20%)
Saldo sebelum likuidasi 20.000 360.000 150.000 12.000 10.000 84.000 63.000 41.000 20.000
1. Realisasi dan distribusi rugi 200.000 (360.000) (48.000) (48.000) (32.000) (32.000)
220.000 - 150.000 12.000 10.000 36.000 15.000 9.000 (12.000)
2. Pembayaran utang dagang (150.000) (150.000)
70.000 - - 12.000 10.000 36.000 15.000 9.000 (12.000)
3. Menutup defisit modal A dengan
saldo piutangnya (10.000) 10.000
70.000 - - 12.000 - 36.000 15.000 9.000 (2.000)
4. Pembayaran utang kepada L
(lihat skedul pembayaran kas) (12.000) (12.000)
58.000 - - - - 36.000 15.000 9.000 (2.000)
5. Pembayaran kepada sekutu
sebagai pengembalian modal
(lihat skedul pembayaran kas)
6. Pembayaran final kepada sekutu (58.000) (35.250) (14.250) (8.500)
- - - - - 750 750 500 (2.000)
7. Tambahan setoran oleh A 2.000 2.000
2.000 - - - - 750 750 500 -
8. Pembayaran final kepada sekutu (2.000) (750) (750) (500)
Saldo - - - - - - - - -

Peraga 3.4
Skedul Pembayaran Kas kepada Sekutu (dalam ribuan rupiah)

Sekutu
Jumlah
E L Z A
Saldo modal sebelum distribusi kas 58.000 36.000 15.000 9.000 (2.000)
+ Saldo utang persekutuan 12.000 12.000
Saldo hak sekutu 70.000 36.000 27.000 9.000 (2.000)
Kemungkinan risiko rugi bagi E, L, dan Z
apabila A gagal menutup defist modalnya
(E : L : Z = 3 : 3 : 2) (750) (750) (500) 2.000
Jumlah kas dibayarkan kepada sekutu 70.000 35.250 26.250 8.500 -
Status pembayaran:
a. Sebagai pembayaran utang 12.000
b. Sebagai pengembalian modal 35.250 14.250 8.500
Catatan: Skedul ini dibuat di luar pembukuan dan merupakan lampiran untuk laporan likuidasi.

Nurofik Halaman 7
Jurnal untuk mencatat likuidasi adalah sebagai berikut.

Kas Rp200.000.000
Modal, E 48.000.000
Modal, L 48.000.000
Modal, Z 32.000.000
Modal, A 32.000.000
Aset Lainnya Rp360.000.000
(mencatat realisasi dan distribusi rugi)

Utang Dagang Rp150.000.000


Kas Rp150.000.000
(mencatat pembayaran utang dagang)

Utang, A Rp10.000.000
Modal, A Rp10.000.000
(mencatat penutupan defisit modal A dengan saldo piutangnya)

Utang, L Rp12.000.000
Kas Rp12.000.000
(mencatat pembayaran utang kepada sekutu)

Modal, E Rp35.250.000
Modal, L 14.250.000
Modal, Z 8.500.000
Kas Rp58.000.000
(mencatat pengembalian modal kepada sekutu)

Kas Rp2.000.000
Modal, A Rp2.000.000
(mencatat tambahan setoran A)

Modal, E Rp750.000
Modal, L 750.000
Modal, Z 500.000
Kas Rp2.000.000
(mencatat pengembalian modal kepada sekutu)

Nurofik Halaman 8
LIKUIDASI BERTAHAP
Dalam likuidasi langsung diasumsikan seluruh aset non-kas dapat dijual (direalisasi) secara
sekaligus atau dalam waktu yang relatif singkat dan distribusi kas kepada sekutu dilakukan
setelah proses realisasi selesai secara keseluruhan. Pada kasus lain sangat dimungkinkan
penjualan aset tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memakan waktu yang relatif
lama sehingga pengumpulan kas juga memakan waktu yang relatif lama. Pada situasi yang
demikian para sekutu dapat meminta pembayaran untuknya berdasarkan kas yang tersedia
meskipun persekutuan belum dapat merealisasi asetnya secara keseluruhan. Likuidasi yang
demikian disebut likuidasi bertahap atau berangsur (installment liquidation) karena
pembayaran kepada sekutu dilakukan secara bertahap sesuai jumlah kas yang tersedia.

Secara teknis tidak ada masalah untuk melakukan pembayaran secara bertahap kepada
masing-masing sekutu dengan ketentuan (a) semua kreditor telah dibayar secara penuh atau
persekutuan telah menyisihkan kas dalam jumlah yang cukup untuk menutup semua
kewajiban persekutuan; dan (b) pembayaran kepada sekutu dihitung sedemikian rupa supaya
di kemudian hari tidak terdapat satu sekutu pun yang harus mengembalikan kepada
persekutuan atas pembayaran yang telah diterimanya. Ketentuan terakhir ini akan dapat
dipenuhi dengan cara membuat safe payments scedule (skedul pembayaran yang aman bagi
semua sekutu). Istilah pembayaran yang aman mengandung arti masing-masing sekutu
terbebas dari kewajiban untuk mengembalikan kepada persekutuan atas pembayaran yang
telah diterimanya jika di kemudian hari diketahui timbul kewajiban, biaya-biaya, dan atau
adanya kebutuhan untuk menyesuaiakan modal sekutu.

Skedul safe payments selalu dibuat setiap kali persekutuan akan membagikan kas yang
ada kepada sekutu sampai dengan rasio modal masing-masing sekutu mencerminkan rasio
pembagian laba rugi di dalam persekutuan. Dua asumsi yang digunakan pada setiap kali
membuat skedul safe payments adalah sebagai berikut ini.

1. Semua sekutu tidak mampu secara personal untuk melakukan berbagai pembayaran kepada
persekutuan.
2. Semua aset non-kas yang ada tidak dapat dijual sehingga mengakibatkan kerugian bagi
persekutuan.

Selain itu, pada saat menghitung safe payments, persekutuan harus menyisihkan sejumlah kas
untuk menutup kemungkinan timbulnya biaya-biaya likuidasi, kewajiban yang belum dicatat,
dan berbagai kontinjensi lainnya. Kas yang disisihkan untuk menutup berbagai kontinjensi
tersebut merupakan rugi kontinjensi bagi sekutu dan harus diperhitungkan pada saat
menghitung safe payments.

Contoh 3.4: Likuidasi bertahap

Ardian, Sasa, dan Kaka adalah sekutu pada persekutuan Ardian dan Rekan yang
membagi laba rugi dengan rasio Ardian : Sasa : Kaka = 50% : 30% : 20%. Setelah

Nurofik Halaman 9
persekutuan beroperasi selama sepuluh tahun, semua sekutu sepakat untuk melikuidasi
persekutuannya. Proses likuidasi dimulai pada tanggal 1 Juli 2012. Dalam likuidasi disepakati
semua kas yang tersedia, kecuali kas yang dicadangkan untuk kontinjensi sebesar
Rp10.000.000, dibagikan kepada sekutu pada setiap akhir bulan sampai proses likuidasi
berakhir. Berikut ini laporan posisi keuangan persekutuan Ardian dan Rekan per 30 Juni 2012
(sesaat sebelum likuidasi).

Ardian dan Rekan


Laporan Posisi Keuangan
per 30 Juni 2012

Aset
Kas Rp120.000.000
Piutang Dagang - bersih 140.000.000
Piutang, Kaka 20.000.000
Sediaan 200.000.000
Tanah 50.000.000
Peralatan - bersih 150.000.000
Goodwill 20.000.000
Jumlah Aset Rp700.000.000

Liabilitas dan Ekuitas


Liabilitas
Utang Dagang Rp150.000.000
Utang Wesel 100.000.000
Utang, Sasa 10.000.000
Ekuitas
Modal, Ardian 170.000.000
Modal, Sasa 170.000.000
Modal, Kaka 100.000.000
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas Rp700.000.000

Berikut ini peristiwa yang terjadi selama proses likuidasi berlangsung.

Juli 2012: Piutang kepada Kaka ditutup ke saldo modalnya; piutang dagang dengan
nilai buku Rp140.000.000 dapat ditagih Rp100.000.000; sediaan dengan kos
Rp80.000.000 dapat dijual seharga Rp100.000.000; persekutuan menghapus
goodwill karena sudah tidak bernilai; dan kas yang tersedia dibayarkan
kepada sekutu.

Agustus 2012: Peralatan bernilai buku Rp40.000.000 dijual seharga Rp30.000.000; sisa
sediaan terjual seharga Rp90.000.000; persekutuan membayar biaya
likuidasi Rp2.000.000; diketahui timbul utang dagang yang belum dicatat
Rp4.000.000; dan kas yang tersedia dibayarkan kepada sekutu.

Nurofik Halaman 10
September 2012: Tanah dapat dijual seharga Rp75.000.000; persekutuan membayar biaya
likuidasi Rp2.500.000; dan kas yang tersedia dibayarkan kepada sekutu.

Oktober 2012: Sisa peralatan dijual seharga Rp75.000.000; persekutuan menghapus sisa
piutang dagang karena tidak dapat ditagih; dan kas yang tersedia dibayarkan
kepada sekutu sebagai pembayaran final.

Berdasarkan informasi yang ada, laporan likuidasi dapat dilihat pada Peraga 3.5.
Penjelasan untuk laporan likuidasi sebagaimana disajikan pada Peraga 3.5 adalah sebagai
berikut.

Likuidasi periode Juli dan Agustus 2012

Pada akhir bulan Juli 2012, setelah persekutuan melunasi kewajibannya kepada
kreditor eksternal, persekutuan masih memiliki kas Rp70.000.000. Dari jumlah tersebut,
Rp10.000.000 diantaranya ditahan oleh persekutuan untuk kepentingan kontinjensi. Dengan
demikian jumlah kas yang tersedia untuk dibayarkan kepada sekutu hanya Rp60.000.000,
sedangkan kewajiban persekutuan kepada para sekutu (pihak internal) berjumlah
Rp430.000.000 (Rp10.000.000 + Rp170.000.000 + Rp170.000.000 + Rp80.000.000). Oleh
karena pada saat ini saldo hak masing-masing sekutu belum mencerminkan rasio pembagian
laba rugi di dalam persekutuan (Rp170.000.000 : Rp180.000.000 : Rp80.000.000 belum
mencerminkan 50% : 30% : 20%), maka pembagian kas berdasarkan rasio modal, rasio
pembagian laba rugi, atau dibagi sama besar, akan mengakibatkan pembayaran kas secara
tidak adil, karena selain tidak memperhitungkan kemungkinan rugi kontinjensi di masa yang
akan datang, juga tidak mempertimbangkan hak prioritas yang dimiliki oleh masing-masing
sekutu. Untuk mencapai keadilan dalam pembayaran kas kepada sekutu dan menjamin
pembayaran secara aman, maka diperlukan perhitungan safe payments. Peraga 3.6 menyajikan
perhitungan yang dimaksud.

Berdasarkan Peraga 3.6, jumlah kas yang tersedia sebanyak Rp60.000.000 seluruhnya
dibayarkan kepada sekutu Sasa. Oleh karena persekutuan mempunyai utang kepada Sasa
sebesar Rp10.000.000, maka pertama-tama dibayarkan sejumlah Rp10.000.000 untuk
melunasi utang, dan sisanya Rp50.000.000 dibayarkan sebagai pengembalian modal.

Situasi yang sama terjadi pada akhir bulan Agustus 2012. Pada akhir bulan Agustus
2012, persekutuan memiliki kas Rp124.000.000. Dari jumlah tersebut, Rp10.000.000
diantaranya ditahan oleh persekutuan untuk kepentingan kontinjensi. Dengan demikian jumlah
kas yang tersedia untuk dibayarkan kepada sekutu hanya Rp114.000.000, sedangkan
kewajiban persekutuan kepada para sekutu berjumlah Rp324.000.000 (Rp147.000.000 +
Rp106.200.000 + Rp70.800.000). Selain itu, saldo hak masing-masing sekutu belum
mencerminkan rasio pembagian laba rugi di dalam persekutuan (Rp147.000.000 :
Rp106.200.000 : Rp70.800.000 belum mencerminkan 50% : 30% : 20%). Peraga 3.7
menyajikan perhitungan safe payments untuk akhir bulan Agustus 2012.

Nurofik Halaman 11
Peraga 3.5
Persekutuan Ardian dan Rekan
Laporan Likuidasi, 1 Juli 2012 - 31 Oktober 2012 (dalam ribuan rupiah)

Aset Utang - Pihak Utang, Modal


Keterangan
Kas Aset non -Kas Eksternal Sasa Ardian (50%) Sasa (30%) Kaka (20%)
Saldo sebelum likuidasi (30 Juni 2012) 120.000 580.000 250.000 10.000 170.000 170.000 100.000
Likuidasi periode Juli 2012
Menutup piutang kepada Kaka
ke saldo modalnya (20.000) (20.000)
Realisasi piutang dagang 100.000 (100.000)
Realisasi sediaan dan distribusi laba 100.000 (80.000) 10.000 6.000 4.000
Penghapusan goodwill (20.000) (10.000) (6.000) (4.000)
Saldo per 31 Juli 2012 320.000 360.000 250.000 10.000 170.000 170.000 80.000
Pembayaran utang kepada pihak
eksternal (250.000) (250.000)
70.000 360.000 - 10.000 170.000 170.000 80.000
Pembayaran kepada sekutu
(lihat Peraga 3.6) (60.000) (10.000) (50.000)
Saldo per 1 Agustus 2012 10.000 360.000 - - 170.000 120.000 80.000
Likuidasi periode Agustus 2012
Realisasi peralatan dan distribusi rugi 30.000 (40.000) (5.000) (3.000) (2.000)
Realisasi sediaan dan distribusi rugi 90.000 (120.000) (15.000) (9.000) (6.000)
Membayar biaya likuidasi (2.000) (1.000) (600) (400)
Utang dagang yang belum dicatat 4.000 (2.000) (1.200) (800)
Saldo per 31 Agustus 2012 128.000 200.000 4.000 - 147.000 106.200 70.800
Pembayaran utang kepada pihak
eksternal (4.000) (4.000)
124.000 200.000 - - 147.000 106.200 70.800
Pembayaran kepada sekutu
(lihat Peraga 3.7) (114.000) (42.000) (43.200) (28.800)
Saldo per 1 September 2012 10.000 200.000 - - 105.000 63.000 42.000
Likuidasi periode September 2012
Realisasi tanah dan distribusi laba 75.000 (50.000) 12.500 7.500 5.000
Membayar biaya likuidasi (2.500) (1.250) (750) (500)
82.500 150.000 - - 116.250 69.750 46.500
Pembayaran kepada sekutu
Rp72.000 (Rp82.000 dikurangi
cadangan kontinjensi) berdasarkan
rasio pembagian laba rugi (50 : 30 : 20) (72.500) (36.250) (21.750) (14.500)
Saldo per 1 Oktober 2012 10.000 150.000 - - 80.000 48.000 32.000
Likuidasi periode Oktober 2012
Realisasi peralatan dan distribusi rugi 75.000 (110.000) (17.500) (10.500) (7.000)
Menghapus piutang dagang dan distribusi
rugi (40.000) (20.000) (12.000) (8.000)
85.000 - - - 42.500 25.500 17.000
Pembayaran kepada sekutu (85.000) (42.500) (25.500) (17.000)
Saldo - - - - - - -

Nurofik Halaman 12
Likuidasi periode September dan Oktober 2012

Pada akhir bulan September 2012, persekutuan memiliki kas Rp82.500.000. Dari
jumlah tersebut, Rp10.000.000 diantaranya ditahan oleh persekutuan untuk kepentingan
kontinjensi. Dengan demikian jumlah kas yang tersedia untuk dibayarkan kepada sekutu
hanya Rp72.500.000, sedangkan kewajiban persekutuan kepada para sekutu berjumlah
Rp232.500.000 (Rp116.250.000 + Rp69.750.000 + Rp46.500.000). Oleh karena saldo hak
masing-masing sekutu telah mencerminkan rasio pembagian laba rugi di dalam persekutuan
(Rp116.250.000 : Rp69.750.000 : Rp46.500.000 = 50% : 30% : 20%), maka pembagian kas
sebesar Rp72.500.000 kepada sekutu didasarkan pada rasio pembagian laba rugi persekutuan.

Situasi yang sama terjadi pada akhir bulan Oktober 2012. Pembagian kas sebesar
Rp85.000.000 kepada sekutu dilakukan berdasarkan rasio pembagian laba rugi persekutuan.

Peraga 3.6
Skedul Pembayaran Kas kepada Sekutu (Safe Payments ) - Periode Juli 2012

Kemungkinan Sekutu
Rugi Ardian (50%) Sasa (30%) Kaka (20%)
Saldo modal sebelum pembayaran kas 170.000 170.000 80.000
+ Saldo utang persekutuan 10.000
Saldo hak sekutu 170.000 180.000 80.000
Distribusi kemungkinan rugi jika aset non -kas
yang tersisa tidak dapat direalisasi 360.000 (180.000) (108.000) (72.000)
(10.000) 72.000 8.000
Distribusi kemungkinan rugi kontinjensi 10.000 (5.000) (3.000) (2.000)
(15.000) 69.000 6.000
Distribusi kemungkinan rugi Ardian tidak dapat
menutup defisit modalnya (alokasi kepada
Sasa : Kaka = 30 : 20) 15.000 (9.000) (6.000)
Kas dibayarkan kepada sekutu - 60.000 -
Status pembayaran:
a. Sebagai pembayaran utang 10.000
b. Sebagai pengembalian modal 50.000

Pada Peraga 3.6, setelah dibebani kemungkinan risiko rugi jika sisa aset non-kas tidak
dapat direalisasi dan kemungkinan rugi kontinjensi, saldo modal Ardian menunjukkan defisit
Rp15.000.000. Oleh karena perhitungan safe payments berasumsi (lihat kembali asumsi dalam
pembuatan safe payments sebagaimana telah dikemukakan) sekutu tidak mampu secara
personal untuk melakukan pembayaran kepada persekutuan, maka defisit Ardian dibebankan
kepada sekutu bersaldo modal positif (Sasa dan Kaka) dengan rasio 30 : 20.

Nurofik Halaman 13
Peraga 3.7
Skedul Pembayaran Kas kepada Sekutu (Safe Payments ) - Periode Agustus 2012

Kemungkinan Sekutu
Rugi Ardian (50%) Sasa (30%) Kaka (20%)
Saldo modal sebelum pembayaran kas 147.000 106.200 70.800
Distribusi kemungkinan rugi jika aset non -kas
yang tersisa tidak dapat direalisasi 200.000 (100.000) (60.000) (40.000)
47.000 46.200 30.800
Distribusi kemungkinan rugi kontinjensi 10.000 (5.000) (3.000) (2.000)
42.000 43.200 28.800
Kas dibayarkan kepada sekutu 42.000 43.200 28.800

Jurnal yang diperlukan untuk mencatat likuidasi adalah sebagai berikut ini.

Juli 2012

Modal, Kaka Rp20.000.000


Piutang, Kaka Rp20.000.000
(mencatat penutupan piutang kepada Kaka ke saldo modalnya)

Kas Rp100.000.000
Piutang Dagang Rp100.000.000
(mencatat penerimaan piutang dagang)

Kas Rp100.000.000
Sediaan Rp80.000.000
Modal, Ardian 10.000.000
Modal, Sasa 6.000.000
Modal, 4.000.000
(mencatat penjualan sediaan dan distribusi laba)

Modal, Ardian Rp10.000.000


Modal, Sasa 6.000.000
Modal, Kaka 4.000.000
Goodwill Rp20.000.000
(mencatat penghapusan goodwill)

Utang Dagang Rp150.000.000


Utang Wesel 100.000.000
Kas Rp250.000.000
(mencatat pembayaran utang dagang dan utang wesel)

Nurofik Halaman 14
Utang, Sasa Rp10.000.000
Modal, Sasa 50.000.000
Kas Rp60.000.000
(mencatat distribusi kas kepada Sasa)

Agustus 2012

Kas Rp30.000.000
Modal, Ardian 5.000.000
Modal, Sasa 3.000.000
Modal, Kaka 2.000.000
Peralatan Rp40.000.000
(mencatat penjualan peralatan dan distribusi rugi)

Kas Rp90.000.000
Modal, Ardian 15.000.000
Modal, Sasa 9.000.000
Modal, Kaka 6.000.000
Sediaan Rp120.000.000
(mencatat penjualan sediaan dan distribusi rugi)

Modal, Ardian Rp1.000.000


Modal, Sasa 600.000
Modal, Kaka 400.000
Kas Rp2.000.000
(mencatat pembayaran biaya likuidasi)

Modal, Ardian Rp2.000.000


Modal, Sasa 1.200.000
Modal, Kaka 800.000
Utang Dagang Rp4.000.000
(mencatat utang dagang yang belum dicatat)

Utang Dagang Rp4.000.000


Kas Rp4.000.000
(mencatat pembayaran utang dagang)

Modal, Ardian Rp42.000.000


Modal, Sasa 43.200.000
Modal, Kaka 28.800.000
Kas Rp114.000.000
(mencatat distribusi kas kepada sekutu)

September 2012

Nurofik Halaman 15
Kas Rp75.000.000
Tanah Rp50.000.000
Modal, Ardian 12.500.000
Modal, Sasa 7.500.000
Modal, 5.000.000
(mencatat penjualan tanah dan distribusi laba)

Modal, Ardian Rp1.250.000


Modal, Sasa 750.000
Modal, Kaka 500.000
Kas Rp2.500.000
(mencatat pembayaran biaya likuidasi)

Modal, Ardian Rp36.250.000


Modal, Sasa 21.750.000
Modal, Kaka 14.500.000
Kas Rp72.500.000
(mencatat distribusi kas kepada sekutu)

Oktober 2012

Kas Rp75.000.000
Modal, Ardian 17.500.000
Modal, Sasa 10.500.000
Modal, Kaka 7.000.000
Peralatan Rp110.000.000
(mencatat penjualan peralatan dan distribusi rugi)

Modal, Ardian Rp20.000.000


Modal, Sasa 12.000.000
Modal, Kaka 8.000.000
Peralatan Rp40.000.000
(mencatat penghapusan piutang dagang)

Modal, Ardian Rp42.500.000


Modal, Sasa 25.500.000
Modal, Kaka 17.000.000
Kas Rp85.000.000
(mencatat distribusi kas kepada sekutu)

Nurofik Halaman 16
PROGRAM DISTRIBUSI KAS
Skedul safe payments meupakan pendekatan efektif untuk menghitung jumlah pembayaran
yang aman kepada sekutu dan mencegah pembayaran berlebihan kepada sekutu tertentu.
Namun demikian, metode ini kurang efisien untuk diaplikasikan pada kasus likuidasi dengan
tertalu banyak frekuensi angsuran pembayaran kepada sekutu, karena skedul safe payments
harus selalu dibuat untuk setiap pembayaran kas kepada sekutu sampai dengan saldo modal
sekutu mencerminkan rasio pembagian laba ruginya. Pendekatan skedul safe payments juga
memiliki kekurangan sebagai alat perencanaan karena tidak memberikan informasi yang dapat
membantu sekutu dalam memproyeksikan kapan ia akan menerima distribusi kas.

Program (rencana) distribusi kas merupakan pendekatan untuk mengatasi


kelemahan pendekatan safe payments. Pada pendekatan ini rencana distribusi kas secara
lengkap kepada masing-masing sekutu telah ditentukan sebelum proses likuidasi dimulai.

Penyusunan program distribusi kas untuk likuidasi persekutuan melibatkan beberapa


langkah berikut ini.

1. Mengevaluasi kemampuan maksimum sekutu dalam menyerap (memikul) kemungkinan


rugi di masa yang akan datang dengan cara menjumlahkan hak sekutu, yaitu saldo modal
ditambah saldo piutangnya kepada persekutua (jika ada), kemudian membagi hasil
totalnya dengan rasio pembagian laba rugi sekutu yang bersangkutan.
2. Melakukan pemeringkatan kerentanan (vulnerability ranking) sekutu dalam menanggung
kerugian maksimum. Peringkat terendah (peringkat satu) diberikan kepada sekutu yang
mempunyai kemampuan menanggung rugi maksimum paling rendah. Peringkat tertinggi
diberikan kepada sekutu yang mempunyai kemampuan menanggung rugi maksimum
paling tinggi.
3. Menentukan urutan prioritas pembayaran kepada sekutu berdasarkan peringkat
kerentanannya. Prioritas pembayaran pertama diberikan kepada sekutu yang memiliki
peringkat kerentanan tertinggi, dan seterusnya.
4. Menentukan besarnya pembayaran kepada sekutu pada setiap prioritas pembayaran.
Besarnya pembayaran pada setiap prioritas dihitung dengan cara mengalikan rasio
pembagian laba rugi sekutu dengan selisih kemampuan menanggung rugi maksimum
antar sekutu. Perhitungan yang demikian dilakukan sampai dengan masing-masing sekutu
mempunyai kemampuan menanggung rugi maskimum sama besar.

Contoh 3.5: Program distribusi kas

Untuk mengaplikasikan program distribusi kas, kita gunakan kembali informasi pada
persekutuan Ardian dan Rekan sebagaimana pada Contoh 3.4. Berdasarkan laporan posisi
keuangan persekutuan Ardian dan Rekan, maka program distribusi kas dapat dilihat pada
Peraga 3.8 berikut ini.

Nurofik Halaman 17
Peraga 3.8
Program Distribusi Kas kepada Sekutu (ribuan rupiah)

Sekutu Jumlah Pembayaran kepada


Ardian Sasa Kaka
Ardian Sasa Kaka
50% 30% 20%
Saldo modal 170.000 170.000 100.000
+/- Utang - piutang 10.000 (20.000)
a. Saldo hak 170.000 180.000 80.000
b. Rasio pembagian laba rugi 50% 30% 20%
c. Kemampuan menyerap atau
menanggung kerugian maksimun (a b) 340.000 600.000 400.000
Peringkat kerentanan (1 paling rentan) 1 3 2
Prioritas pembayaran ke- 3 1 2

Rencana pembayaran kepada sekutu


Kemampuan menyerap kerugian maksimum
pada prioritas pembayaran ke-1 340.000 600.000 400.000
Pembayaran ke-1 (kepada Sasa) (200.000) 60.000
Kemampuan menyerap kerugian maksimum
pada prioritas pembayaran ke-2 340.000 400.000 400.000
Pembayaran ke-2 (kepada Sasa dan Kaka) (60.000) (60.000) 18.000 12.000
Kemampuan menyerap kerugian maksimum
pada prioritas pembayaran ke-3 340.000 340.000 340.000
Pembayaran ke-3 (kepada Ardian, Sasa, Kaka) (340.000) (340.000) (340.000) 170.000 102.000 68.000
Rencana jumlah pembayaran kepada masing-masing sekutu 170.000 180.000 80.000

Melalui program distribusi kas sebagaimana disajikan pada Peraga 3.8, masing-masing
sekutu telah dapat memperkirakan jumlah kas yang akan diterima pada setiap kali
pembayaran, meskipun proses likuidasi belum dimulai. Berdasarkan Peraga 3.8, Ardian
adalah sekutu paling rentan karena hak (ekuitas) Ardian di dalam persekutuan akan menjadi
nol jika persekutuan mengalami rugi likuidasi Rp340.000.000, sedangkan sekutu yang lain
masih memiliki ekuitas jika persekutuan mengalami rugi likuidasi Rp340.000.000
sebagaimana tampak pada perhitungan berikut ini.

Ardian (50%) Sasa (30%) Kaka (20%)


Saldo hak (ekuitas) di dalam persekutuan 170.000 180.000 80.000
Distribusi rugi jika rugi likuidasi Rp340.000.000 (170.000) (102.000) (68.000)
Saldo hak (ekuitas) di dalam persekutuan - 78.000 12.000

Sebaliknya, Sasa adalah sekutu yang paling tidak rentan terhadap rugi likuidasi, karena
ekuitasnya di dalam persekutuan akan mampu menyerap kerugian likuidasi sampai dengan

Nurofik Halaman 18
Rp600.000.000. Interpretasi ini dapat menjelaskan mengapa Sasa memperoleh prioritas
pembayaran pertama dalam likuidasi persekutuan.

Berdasarkan program distribusi kas yang telah dibuat dan jumlah kas yang tersedia
untuk sekutu sebagaimana pada contoh 3.4, maka realisasi distribusi atau pembayaran kas
pada setiap akhir bulan selama proses likuidasi disajikan pada Peraga 3.9 berikut ini.

Peraga 3.9
Realisasi Distribusi Kas kepada Sekutu (ribuan rupiah)

Pembayaran kepada
Bulan Keterangan Jumlah
Ardian Sasa Kaka
Jul-12 Kas tersedia setelah pemenuhan kewajiban kepada pihak eksternal 70.000
Dicadangkan untuk kontinjensi (10.000)
Kas tersedia untuk sekutu 60.000
Pembayaran untuk prioritas 1 (60.000) 60.000
Saldo -

Agust-12 Kas tersedia setelah pemenuhan kewajiban kepada pihak eksternal 124.000
Dicadangkan untuk kontinjensi (10.000)
Kas tersedia untuk sekutu 114.000
Pembayaran untuk prioritas 2 (30.000) 18.000 12.000
Sisa untuk prioritas 3 84.000
Pembayaran untuk prioritas 3 (50 : 30 : 20) (84.000) 42.000 25.200 16.800
Saldo -

Sep-12 Kas tersedia setelah pemenuhan kewajiba kepada pihak eksternal 82.500
Dicadangkan untuk kontinjensi (10.000)
Kas tersedia untuk sekutu 72.500
Pembayaran untuk prioritas 3 (50 : 30 : 20) (72.500) 36.250 21.750 14.500
Saldo -

Okt-12 Kas tersedia setelah pemenuhan kewajiba kepada pihak eksternal 85.000
Dicadangkan untuk kontinjensi -
Kas tersedia untuk sekutu 85.000
Pembayaran untuk prioritas 3 (50 : 30 : 20) (85.000) 42.500 25.500 17.000
Jumlah total realisasi pembayaran kepada sekutu 120.750 150.450 60.300

Pada Peraga 3.9 tampak jumlah realisasi pembayaran kepada Andrian, Sasa, dan Kaka
masing-masing Rp120.750.000, Rp150.450.000, dan Rp60.300.000. Jumlah pembayaran
kepada masing-masing sekutu tersebut sama dengan jumlah pembayaran kepada masing-
masing sekutu pada likuidasi bertahap (lihat kembali laporan likuidasi pada Contoh 3.4).

Nurofik Halaman 19
TUGAS III
Kerjakan semua soal berikut ini pada KERTAS FOLIO. Dosen hanya akan memberi nilai
untuk tugas yang dikerjakan secara lengkap

Soal 1
Lely, Lina, dan Lula adalah sekutu pada persekutuan yang mereka beri nama Trio Lebah. Mereka
membagi laba rugi dengan rasio 40% (Lely) : 50% (Lina) : 10% (Lula). Lula bertindak sebagai sekutu
pengelola (managing partner). Pada awalnya persekutuan dibentuk untuk memanfaatkan peluang
bisnis, yaitu tawaran kontrak ekspor madu ke luar negeri selama lima tahun. Mereka tidak menyia-
nyiakan peluang bisnis tersebut dan meresponnya dengan membentuk persekutuan Trio Lebah.

Setelah lima tahun sukses sebagai eksportir madu dan kontrak berakhir, semua sekutu sepakat
untuk mengakhiri (melikuidasi) persekutuan sejak 1 Oktober 2011. Mereka sepakat untuk membagi
kas yang ada kepada sekutu setelah seluruh aset non-kas dapat direalisasi menjadi kas.

Berikut ini neraca Trio Lebah per 30 Nopember 2011 (sesaat sebelum likuidasi).

Persekutuan Trio Lebah


Neraca, 30 Nopember 2011

Kas Rp8.000.000
Piutang, Lely 3.000.000
Aset Lainnya 30.000.000
Rp41.000.000

Utang Dagang Rp10.000.000


Utang, Lina 4.000.000
Modal, Lely 10.800.000
Modal, Lina 13.200.000
Modal, Lula 3.000.000
Rp41.000.000

Pada bulan Oktober 2011, seluruh aset perusahaan dapat direalisasi Rp10.000.000. Biaya likuidasi
yang terjadi dan dibayar lunas berjumlah Rp2.000.000.

Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan Trio Lebah selama bulan Oktober 2011.
2. Buatlah seluruh jurnal yang menyertai proses likuidasi tersebut.

Soal 2
Persekutuan Mandiri didirikan oleh Mama, Dedy, dan Rika yang sekaligus sebagai sekutu dari
persekutuan tersebut. Mereka membagi laba rugi dengan rasio 40% (Mama) : 40% (Dedy) : 20%
(Rika). Berikut ini neraca persekutuan per 31 Mei 2012.

Nurofik Halaman 20
Persekutuan Mandiri
Neraca per 31 Mei 2012

Kas Rp10.000.000
Aset non-Kas 55.000.000
Rp65.000.000

Utang Bank Rp13.000.000


Modal, Mama 10.000.000
Modal, Dedy 25.000.000
Modal, Rika 17.000.000
Rp65.000.000

Pada tanggal 31 Mei 2012, semua sekutu sepakat untuk melikuidasi persekutuannya.
Oleh karena aset non-kas diyakini tidak dapat direalisasi secara sekaligus, melainkan bertahap,
mereka sepakat untuk mendistribusikan kas yang ada kepada masing-masing sekutu pada
setiap akhir bulan.

Realisasi aset non-kas terjadi sebagai berikut.

Nilai Buku Aset Kas Diterima Rugi


Bulan Juni 2012 Rp25.000.000 Rp10.000.000 Rp15.000.000
Bulan Juli 2012 30.000.000 25.000.000 5.000.000
Rp55.000.000 Rp35.000.000

Pada akhir bulan Juni 2012, diestimasi biaya likuidasi yang akan terjadi berjumlah
Rp4.000.000. Biaya likuidasi yang sesunggunya terjadi pada bulan Juli 2012 adalah
Rp3.000.000.

Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan selama bulan Juni sampai dengan Juli 2012. Sertakan
skedul pembayaran yang dipandang aman (safe payments schedules) untuk
mendistribusikan kas kepada sekutu.
2. Buatlah seluruh jurnal yang menyertai proses likuidasi tersebut.

Soal 3
Buatlah program distribusi kas untuk sekutu dan buatlah skedul pembayarannya dengan
menggunakan informasi pada soal 2.

---000---

Nurofik Halaman 21
Soal
Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan untuk bulan Nopember 2012.
2. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pada bulan Nopember
2012.

Soal 2
Kirana dan Pipit adalah sekutu pada persekutuan Sukses Bersama yang membagi laba rugi
dengan rasio 70% : 30%. Laporan posisi keuangan persekutuan Sukses Bersama per 31
Desember 2012 tampak sebagai berikut.

Persekutuan Sukses Bersama


Laporan Posisi Keuangan
per 31 Desember 2012

Aset
Kas Rp20.000.000
Piutang Dagang - bersih 60.000.000
Sediaan 60.000.000
Aset Tetap - bersih 80.000.000
Jumlah Aset Rp220.000.000

Liabilitas dan Ekuitas


Liabilitas
Utang Dagang Rp80.000.000
Utang, Kirana 20.000.000
Ekuitas
Modal, Kirana 50.000.000
Modal, Pipit 70.000.000
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas Rp220.000.000

Pada tanggal 31 Desember 2012 semua sekutu memutuskan untuk melikuidasi


persekutuannya. Pada tanggal 5 Januari 2013, sediaan dapat dijual seharga Rp50.000.000, aset
tetap dapat dijual seharga Rp60.000.000, dan piutang dagang dapat ditagih seluruhnya
Rp44.000.000. Semua penjualan aset non-kas dilakukan secara tunai.

Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan untuk bulan Januari 2013.
2. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan untuk mencatat likuidasi persekutuan.

Nurofik Halaman 22
Soal 3
Edison, Falosa, Gusti, dan Heny adalah sekutu pada persekutuan Lancar yang membagi laba
rugi dengan rasio 5 : 2 : 2 : 1. Laporan posisi keuangan persekutuan Lancar per 31 Maret 2012
tampak sebagai berikut.

Persekutuan Lancar
Laporan Posisi Keuangan
per 31 Maret 2012

Aset
Kas Rp26.000.000
Aset Lainnya 272.000.000
Goodwill 40.000.000
Jumlah Aset Rp338.000.000

Liabilitas dan Ekuitas


Liabilitas
Utang Dagang Rp52.000.000
Utang, Edison 80.000.000
Ekuitas
Modal, Edison 3.200.000
Modal, Falosa 96.200.000
Modal, Gusti 67.600.000
Modal, Heny 39.000.000
Jumlah Liabilitas dan Ekuitas Rp338.000.000

Pada tanggal 31 Maret 2012, semua sekutu sepakat untuk melikuidasi persekutuannya. Selama
bulan April 2012, seluruh aset lainnya dapat dijual seharga Rp124.000.000. Goodwill
dianggap tidak mempunyai nilai. Biaya yang terjadi dan dibayar selama proses likuidasi
berjumlah Rp16.800.000.

Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan untuk bulan April 2012.
2. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan untuk likuidasi persekutuan.

LIKUIDASI BERTAHAP

Soal 4
Gunakan Soal 3, diasumsikan realisasi aset non-kas terjadi sebagai berikut.

Nilai Buku Aset Kas Diterima Rugi


Bulan April, 2012 Rp88.000.000 Rp65.600.000 Rp22.400.000
Bulan Mei, 2012 224.000.000 58.400.000 165.600.000

Nurofik Halaman 23
Rp312.000.000 Rp124.000.000 Rp188.000.000

Pada akhir bulan April 2012, diestimasi biaya likuidasi yang akan terjadi berjumlah
Rp20.400.000. Pada akhir bulan Mei 2012, biaya likuidasi yang sesunggunya terjadi
Rp16.800.000.

Instruksi
1. Buatlah laporan likuidasi persekutuan untuk bulan April sampai dengan Mei 2012.
Sertakan skedul pembayaran kas yang aman (safe payments schedules) jika diperlukan.
2. Buatlah seluruh jurnal yang diperlukan untuk mencatat transaksi pada bulan April dan
Mei, 2012.

--------

Nurofik Halaman 24