Anda di halaman 1dari 11

I.

Pendahuluan

Masyarakat adalah kelompok manusia yang sengaja dibentuk


secara rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Walaupun
penggunaan istilah masyarakat sangat samar-samar dan umum, akan tetapi
hal itu dapat dianggap sebagai indikasi sebagai hakekat manusia yang
senantiasa ingin hidup bersama dengan orang lain. Istilah masyarakat juga
tak luput dari nilai-nilai, norma-norma, tradisi, kepentingan-kepentingan
dan lain sebagainya. Oleh karena itu, maka pengertian masyarakat tak
mungkin dipisahkan dari kebudayaan dan kepribadian.

Di dalam sejarah perkembangan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan,


para sosiolog senantiasa berusaha untuk mengadakan klasifikasi terhadap
masyarakat-masyarakat yang ada, seperti perbedaan antara masyarakat
yang sederhana dengan masyarakat modern, masyarakat terbuka dengan
masyarakat tertutup. Durkheim membedakan antara masyarakat dengan
struktur segmental dengan yang mempunyai struktur organik. Yang
pertama adalah masyarakat yang terdiri dari bagian-bagian yang hampir
merupakan replika dari masing-masing. Yang kedua merupakan
masyarakat yang mempunyai diferensiasi yang kompleks, dimana terjadi
hubungan organis antara bagian-bagian dari masyarakat tersebut.

Istilah kemasyarakatan sering dikaitkan dengan aspek-aspek kelembagaan


masyarakat modern, seperti pemerintah, hukum dan struktur sosial. Di
dalam antropologi sosial, konsep struktur sosial sering kali dipergunakan
sebagai sinonim dari organisasi sosial, dan terutama dipergunakan dalam
analisa terhadapmasalah kekerabatan, lembaga politik dan lembaga hukum
dari masyarakat sederhana. Organisasi sosial berkaitan dengan pilihan dan
keputusan dalam hubungan-hubungan sosial aktual. Struktur sosial
mengacu pada hubungan-hubungan sosial yang lebih fundamental yang
memberikan bentuk dasar pada masyarakat, yang memberikan batas-batas
pada aksi-aksi yang mungkin dilakukan secara organisatoris.

1
II. Pengertian Struktur Sosial

Struktur sosial merupakan salah satu konsep paling esensial dalam sosiologi.
Struktur sosial berkaitan dengan posisi-posisi individu atau kelompok dalam
masyarakat. Kalau dalam ruang geografi seseorang atau sekelompok orang
memiliki lokasi/tempat tinggal atau dalam bahasa yang lebih populer alamat,
maka dalam ruang sosial seseorang juga memiliki lokasi, tempat, atau
alamat. Anda dan keluarga Anda memiliki posisi tertentu dalam struktur sosial,
posisi itu sering disebut sebagai status atau kedudukan sosial. Kuliah di mana
Anda sekarang ini bersekolah juga memiliki posisi tertentu dalam struktur sosial
masyarakat.

Bagaimana mengetahui posisi kita? Sama dengan ruang geografik, ruang


sosial juga memiliki dimensi horizontal dan vertikal. Di ruang geografik
seseorang memiliki alamat Jl. El Tari II Penfui Kupang, maka di ruang sosial
seseorang dapat memiliki alamat orang tua atau muda, beragama Islam, Kristen-
Protestan, Kristen-Katholik, Hindu, atau Budha, bekerja sebagai petani, pedagang,
pegawai pemerintah, pegawai swasta, atau bekerja di sektor nonformal perkotaan,
miskin, setengah kaya, atau kaya raya, berbudi bekerti luhur dan berhati mulia
atau dikenal sebagai penjahat, pengikut setia Bung Karno, Bung Hatta, Gus Dur,
Amien Rais, atau yang lain, dan seterusnya.

Struktur sosial merupakan susunan atau konfigurasi dari unsur-unsur sosial


yang pokok dalam masyarakat, yaitu kelompok, kelas sosial, nilai dan norma
sosial, dan lembaga sosial.

Struktur sosial dan peluang hidup (life chance)

Struktur sosial identik dengan struktur peluang hidup (life chance),


semakin tinggi posisi dalam struktur sosial, semakin baik peluang hidupnya.

2
Struktur sosial dan fakta sosial

Struktur sosial merupakan fakta sosial, yaitu cara bertindak, berfikir, dan
berperasaan yang berada diluar individu tetapi mengikat. Sehingga, kelas sosial
tertentu identik dengan cara hidup tertentu. Kelas sosial bukanlah sekedar
kumpulan dari orang-orang yang pendidikan atau penghasilannya relative sama,
tetapi lebih merupakan kumpulan orang-orang yang memiliki cara atau gaya
hidup yang relative sama.

Paramater struktur sosial.

Terdapat dua macam parameter yang dapat digunaan untuk menganalisis struktur
sosial, yaitu

1) Parameter Graduated/berjenjang
Meliputi antara lain: kekuasaan, keturunan/kasta, tingkat pendidikan,
kekayaan, usia, dst., dan
2) paramater Nominal/tidak berjenjang
Meliputi antara lain: sukubangsa, ras, golongan/kelompok, jenis kelamin,
agama, dan seterusnya.
Konfigurasi atau pemilahan struktur sosial berdasarkan parameter-
parameter graduated disebut stratifikasi sosial (diferensiasi rank/tingkatan).
Sedangkan, konfigurasi atau pemilahan struktur sosial berdasarkan parameter
nominal disebut diferensiasi sosial (diferensiasi fungsi, dan custom/adat).

Status, kedudukan, atau posisi individu atau kelompok dalam struktur sosial
tidak bersifat statis atau tetap, melainkan dapat mengalami perubahan atau
perpindahan. Perpindahan posisi dalam struktur sosial yang dialami oleh individu
ataupun kelompok dalam struktur sosial disebut mobilitas sosial.
Ciri-ciri dan Fungsi Struktur Sosial
Ciri ciri Struktur Sosial
1. Muncul pada kelompok masyarakat
Struktur sosial hanya bisa muncul pada individu-individu yang memiliki status
dan peran. Status dan peranan masing-masing individu hanya bisa terbaca
ketika mereka berada dalam suatu sebuah kelompok atau masyarakat. Pada

3
setiap sistem sosial terdapat macam-macam status dan peran indvidu. Status
yang berbeda-beda itu merupakan pencerminan hak dan kewajiban yang
berbeda pula.
2. Berkaitan erat dengan kebudayaan
Kelompok masyarakat lama kelamaan akan membentuk suatu kebudayaan.
Setiap kebudayaan memiliki struktur sosialnya sendiri. Indonesia mempunyai
banyak daerah dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Hal ini
menyebabkan beraneka ragam struktur sosial yang tumbuh dan berkembang di
Indonesia.
Hal-hal yang memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia adalah sbb:
a. Keadaan geografis
Kondisi geografis terdiri dari pulau-pulau yang terpisah. Masyarakatnya
kemudian mengembangkan bahasa, perilaku, dan ikatan-ikatan
kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
b. Mata pencaharian
Masyarakat Indonesia memiliki mata pencaharian yang beragam, antara
lain sebagai petani, nelayan, ataupun sektor industri.
c. Pembangunan
Pembangunan dapat memengaruhi struktur sosial masyarakat Indonesia.
Misalnya pembangunan yang tidak merata antra daerah dapat menciptakan
kelompok masyarakat kaya dan miskin.
3. Dapat berubah dan berkembang
Masyarakat tidak statis karena terdiri dari kumpulan individu. Mereka bisa
berubah dan berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Karenanya, struktur
yang dibentuk oleh mereka pun bisa berubah sesuai dengan perkembangan
zaman.
Fungsi Struktur Sosial
1. Fungsi Identitas
Struktur sosial berfungsi sebagai penegas identitas yang dimiliki oleh sebuah
kelompok. Kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan dalam latar

4
belakang ras, sosial, dan budaya akan mengembangkan struktur sosialnya
sendiri sebagai pembeda dari kelompok lainnya.

2. Fungsi Kontrol
Dalam kehidupan bermasyarakat, selalu muncul kecenderungan dalam diri
individu untuk melanggar norma, nilai, atau peraturan lain yang berlaku dalam
masyarakat. Bila individu tadi mengingat peranan dan status yang dimilikinya
dalam struktur sosial, kemungkinan individu tersebut akan mengurungkan
niatnya melanggar aturan. Pelanggaran aturan akan berpotensi menibulkan
konsekuensi yang pahit.
3. Fungsi Pembelajaran Individu belajar dari struktur sosial yang ada dalam
masyarakatnya. Hal ini dimungkinkan mengingat masyarakat merupakan salah
satu tempat berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari dari sebuah struktur
sosial masyarakat, mulai dari sikap, kebiasaan, kepercayaan dan kedisplinan

Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial merupakan konfigurasi atau pemilahan struktur sosial
menggunakan parameter graduated/berjenjang. Hasilnya adalah dalam masyarakat
terdapat kelas-kelas sosial.

Kriteria yang digunakan dapat berupa kriteria (1) sosial, (2) ekonomi, dan
(3) politik. Kriteria sosial meliputi: pendidikan, profesi atau pekerjaan, dan
keturunan atau keanggotaan dalam kasta dan kebangsawanan. Kriteria ekonomi
meliputi pendapatan/penghasilan dan pemilikan/kekayaan. Kriteria politik
meliputi kekuasaan.

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria sosial

Menurut Weber, para anggota masyarakat dapat dipilah secara vertikal


berdasarkan atas ukuran-ukuran kehormatan, sehingga ada orang-orang yang
dihormati dan disegani dan orang-orang yang dianggap biasa-biasa saja, atau
orang kebanyakan, atau bahkan orang-orang yang dianggap hina. Orang-orang
yang dihormati atau disegani pada umumnya adalah mereka yang memiliki

5
jabatan atau profesi tertentu, keturunan bangsawan atau orang-orang terhormat,
atau berpendidikan tinggi.

Ukuran-ukuran penempatan anggota masyarakat dalam stratifikasi sosial


yang dapat dikategorikan sebagai kriteria sosial antara lain, (1) profesi, (2)
pekerjaan, (3) tingkat pendidikan, (4) keturunan, dan (5) kasta.

1. Profesi

Yang dimaksud profesi adalah pekerjaan-pekerjaan yang untuk dapat


melaksanakannya memerlukan keahlian, misalnya dokter, guru, wartawan,
seniman, pengacara, jaksa, hakim, dan sebagainya. Orang-orang yang
menyandang profesi-profesi tersebut disebut kelas profesional. Di samping kelas
profesional, dalam masyarakat terdapat juga kelas-kelas tenaga terampil dan tidak
terampil, yang pada umumnya ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dalam
stratifikasi sosial masyarakat.

2. Pekerjaan.

Berdasarkan tingkat prestise atau gengsinya, pekerjaan-pekerjaan dalam


masyarakat dapat dibedakan menjadi: (1) pekerjaan kerah putih (white collar), dan
(2) pekerjaan kerah biru (blue collar). Pekerjaan kerah putih merupakan
pekerjaan-pekerjaan yang lebih menuntut penggunaan pikiran atau daya
intelektual, sedangkan pekerjaan-pekerjaan kerah biru lebih menuntut penggunaan
energi atau kekuatan fisik. Pada umumnya anggota masyarakat lebih memberikan
penghargaan atau gengsi yang lebih tinggi pada pekerjaan-pekerjaan kerah putih.
Walaupun, tidak selalu bahwa pekerjaan kerah putih memberikan dampak
ekonomi atau finansial yang lebih besar daripada pekerjaan kerah biru.

3. Pendidikan

Pada zaman sekarang ini pendidikan sudah dianggap sebagai kebutuhan


yang harus dipenuhi oleh sebagian besar anggota masyarakat. Orang-orang yang
berpendidikan tinggi akan menempati posisi dalam stratifikasi sosial yang lebih
tinggi. Sehingga tamatan S-3 dipandang lebih tinggi kedudukannya daripada
tamatan S2, S1, SMA/SMK, SMP, SD, dan mereka yang tidak pernah sekolah

6
4. Keturunan

Keturunan raja atau bangsawan dalam masyarakat dipandang memiliki


kedudukan yang tinggi. Bahkan, pada masyarakat feodal, hampir tidak ada
pengakuan terhadap simbol-simbol yang berasal dari luar istana, termasuk tata
kota, arsitektur, pemilihan hari-hari penting, pakaian, seni, dan sebagainya.
Penempatan orang dalam posisi-posisi penting dalam masyarakat akan selalu
mempertimbangkan faktor keturunan, dan keaslian keturunan dipandang sangat
penting.

5. Kasta

Kasta merupakan pemilahan anggota masyarakat yang dikenal pada


masyarakat Hinduisme. Masyarakat dipilah menjadi kasta-kasta, seperti:
Brahmana, Ksatria, Weisyia, dan Sudra. Kemudian ada orang-orang yang karena
tindakannya dihukum dikeluarkan dari kasta, digolongkan menjadi paria.
Sebagian besar orang menganggap pemilahan dalam kasta bersifat graduated atau
berjenjang, mengingat orang-orang yang berasal dari kasta yang berbeda akan
memiliki gengsi (prestige) dan hak-hak istimewa (privelege) yang berbeda.
Namun, tokoh-tokoh Hinduisme menyatakan bahwa kasta bukanlah pemilahan
vertikal, melainkan hanyalah merupakan catur warna.

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria ekonomi

Kriteria ekonomi yang digunakan sebagai dasar stratifikasi sosial dapat meliputi
penghasilan dan pemilikan atau kekayaan.

Apabila dipilah menggunakan kriteria ekonomi, maka masyarakat akan terdiri atas

Kelas atas, yaitu orang-orang yang karena penghasilan atau kekayaannya


dengan leluasa dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya

Kelas menengah, yaitu orang-orang yang karena penghasilan dan kekayaannya


dapat leluasa memenuhi kebutuhan hidup mendasarnya, tetapi tidak leluasa untuk
kebutuhan-kebutuhan lainnya

7
Kelas bawah, yaitu orang-orang yang dengan sumberdaya ekonominya hanya
dapat memenuhi kebutuhan hidup mendasarnyanya, tetapi tidak leluasa, atau
bahkan tidak mampu untuk itu.

Stratifikasi sosial berdasarkan kriteria politik

Ukuran yang digunakan untuk memilah masyarakat atas dasar dimensi


atau kriteria politik adalah distribusi kekuasaan. Kekuasaan (power) berbeda
dengan kewenangan (otoritas). Seseorang yang berkuasa tidak selalu memiliki
kewenangan.

Yang dimaksud kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi


individu-individu lain dalam masyarakat, termasuk mempengaruhi pembuatan
keputusan kolektif. Sedangkan wewenang adalah hak untuk berkuasa. Apa yang
terjadi apabila orang mempunyai wewenang tetapi tidak memiliki kekuasaan?
Mana yang lebih efektif, orang mempunyai kekuasaan saja, atau wewenang saja?

Meskipun seseorang memiliki hak untuk berkuasa, artinya ia memiliki


wewenang, tetapi kalau dalam dirinya tidak memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain, maka ia tidak akan dapat melaksanakan hak itu dengan
baik. Sebaliknya, apabila seseorang memiliki kemampuan mempengaruhi pihak
lain, meskipun ia tidak punya wewenang untuk itu, pengaruh itu dapat berjalan
secara efektif. Untuk lebih memahami hal ini, dapat diperhatikan pengaruh tokoh
masyarakat, seperti seorang tokoh agama atau orang yang dituakan dalam
masyarakat.

Dominasi

Dominasi merupakan kekuasaan yang nyaris tidak dapat ditolak oleh siapapun.
Kekuasaan yang sifatnya hampir multlak. Kekuasaan dalam masyarakat
berdasarkan sumbernya dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:

(1) kekuasaan tradisional,


(2) kekuasaan kharismatik, dan
(3) kekuasaan legal-rasional.

8
Kekuasasan tradisional adalah kekuasaan yang sumbernya berasal dari tradisi
masyarakat, misalnya raja. Kekuasaan kharismatik bersumber dari kewibawaan
atau kualitas diri seseorang, dan kekuasaan legal rasional bersumber dari adanya
wewenang yang didasarkan pada pembagian kekuasaan dalam birokrasi, misalnya
pemerintahan.

Status sosial

Unsur penting dalam stratifikasi sosial adalah status. Apakah status? Status adalah
Posisi atau kedudukan atau tempat seseorang atau kelompok dalam struktur sosial
masyarakat atau pola hubungan sosial tertentu. Status seseorang dapat diperoleh
sejak kelahirannya (ascribed status), diberikan karena jasa-jasanya (assigned
status), atau karena prestasi dan perjuangannya (achived status). Masyarakat
modern lebih menghargai status-status yang diperoleh melalui prestasi atau
perjuangan, masyarakat feudal lebih menghargai status yang diperoleh sejak lahir.

Apakah kelas sosial?

Segolongan orang yang menyandang status relatif sama

Memiliki cara hidup tertentu

Sadar akan privelege (hak istimewa) tertentu, dan

memiliki prestige (gengsi kemasyarakatan) tertentu

Apakah simbol status?

Simbol sesuatu yang oleh penggunanya diberi makna tertentu

Ciri-ciri/tanda-tanda yang melekat pada diri seseorang atau kelompok yang


secara relatif dapat menunjukkan statusnya

Antara lain: cara berpakaian,cara berbicara, cara belanja, desain rumah, cara
mengisi waktu luang, keikutsertaan dalam organisasi, tempat tinggal,cara
berbicara, perlengkapan hidup, akses informasi, dst.

9
Konsekuensi perbedaan status dalam pelapisan sosial masyarakat?

Cara hidup (cara berfikir, berperasaan dan bertindak) yang berbeda: sikap
politik, kepedulian sosial, keterlibatan dalam kelompok sosial, dst.). Ingat: PS =
f(S + K), bahwa perilaku sosial pada dasarnya merupakan fungsi dari struktur
sosial dan kebudayaan. Jawablah: mengapa seorang individu menyebut
orangtuanya sebagai mama dan papa, bukan ayah dan ibu, bukan bapak dan ibu,
atau bapak dan simbok?

Prestige (gengsi/kehormatan sosial) yang berbeda

Privilege (hak istimewa) yang berbeda

Peluang hidup yang berbeda

Konflik Sosial

Konflik sosial merupakan salah satu konsekuensi dari adanya perbedaan-


perbedaan dalam masyarakat, misalnya peluang hidup, gengsi, hak istimewa, dan
gaya hidup.

Sumber konflik:

Perbedaan kepentingan

Perbedaan individual

Perbedaan kebudayaan

Perubahan sosial

Macam-macam konflik

1. Individu atau kelompok (berdasarkan pelakunya perorangan atau kelompok)


2. Horizontal atau vertical (berdasarkan status pihak-pihak yang terlibat, sejajar
atau bertingkat)

Konflik horizontal = antar-etnis, antar-agama, antar-aliran, dll.

10
Konflik vertical = antara buruh dengan majikan, pemberontakan atau gerakan
separatis/makar terhadap kekuasaan negara
1. Ideologis atau politis (berdasarkan tingkat konflik, apabila sebatas
pemikiran/ideologi, disebut konflik tingkat ideologis (misalnya
pertentangan ideology antara santri denan abangan dan priyayi), apabila
sampai muncul di tingkat tindakan disebut tingkat politis (misalnya:
riot/kerusuhan, demonstrasi, pemberontakan, makar, dan sebagainya)
2. Konflik terbuka, konflik laten dan konflik permukaan

Penjelasan:

1. TANPA KONFLIK: dalam kesan umum adalah lebih baik, namun setiap
masyarakat atau kelompok yang hidup damai, jika ingin keadaan ini terus
berlangsung, mereka harus hidup bersemangat dan dinamis. Memanfaatkan
konflik perilaku dan tujuan, serta mengelola konflik secara kreatif.

2. KONFLIK LATEN: sifatnya tersembunyi dan perlu diangkat ke permukaan


agar dapat ditangani secara effektif

3. KONFLIK TERBUKA: berakar dalam, dan sangat nyata. memerlukan


berbagai tindakan untuk mengatasi akar penyebab dan berbagai efeknya.

4. KONFLIK DI PERMUKAAN: memiliki akar yang dangkal/tidak memiliki


akar, muncul hanya karena kesalah fahaman mengenai sasaran yang dapat
diatasi dengan meningkatkan komunikasi.

11