Anda di halaman 1dari 25

VAKSIN UNTUK MENCEGAH KARSINOMA SERVIKS

I. KARSINOMA SERVIKS
a. Pendahuluan
Karsinoma serviks merupakan keganasan ginekologik yang paling
sering di dunia, dan merupakan keganasan kedua tersering yang
terdiagnosis pada pada wanita setelah kanker payudara. Kasus-kasus
yang paling sering terjadi pada negara-negara berkembang.1 Kanker
serviks adalah keganasan yang terjadi pada serviks (leher rahim) dan
disebabkan oleh Virus HPV (Human Papiloma Virus). Tipe virus HPV
yang banyak paling banyak dianggap sebagai penyebab kanker serviks
adalah tipe 16 dan 18 yang ditemukan sebesar 70% dari laporan
penelitian.1,2
Publikasi WHO pada GLOBOCAN (2008) memprediksikan bahwa
incidence dan mortality kanker serviks terus meningkat, khususnya di
negara yang sedang berkembang. Perkiraan incidence per tahun pada
negara yang kurang berkembang adalah 450.000 dan mortality lebih dari
240.000. Sebagai perbandingan pada GLOBOCAN (2002) diperkirakan
80% kematian di dunia disebabkan oleh kanker serviks, sedangkan
menurut GLOBOCAN (2008) adalah 88% dan akan meningkat 98%
pada tahun 2030.2
Dari data WHO pada tahun 2005 lebih dari 500.000 kasus baru
kanker serviks terdapat sebanyak 90% di negara yang sedang
berkembang. Kebanyakan dari mereka tidak terdiagnosis secara dini dan
tidak memiliki akses untuk pengobatan yang membutuhkan waktu lama.
Pada tahun 2005 juga terdapat lebih 260.000 wanita meninggal karena
kanker serviks dan hampir 95% berasal dari negara yang sedang
berkembang. Di beberapa negara yang sedang berkembang, terbatasnya
pelayanan kesehatan dan skrining kanker serviks menjadi penyebab
masih tingginya kasus kanker serviks di dunia.2

1
Di Amerika Serikat, karsinoma serviks merupakan keganasan
ginekologik ketiga tersering dan merupakan keganasan yang
menyebabkan kematian ketiga terbanyak. Mortalitas dan insidens
karsinoma serviks telah menurun pada beberapa negara berkembang.
Penurunan ini sebagian besar berhubungan dengan adanya skrining
Papanicolaou smear (pap test). Sekitar 60% wanita yang menderita
karsinoma serviks di negara-negara berkembang tidak diskrining atau
belum pernah melakukan skrining dalam 5 tahun terakhir. Rata-rata usia
wanita yang menderita karsinoma serviks adalah 52,2 tahun, dan
distribusi kasus yang bimodal, dengan usia puncak 35-39 tahun dan 60-
64 tahun.3
Di Indonesia, kanker serviks justru menduduki peringkat pertama
sebesar 66% menurut data distribrusi kanker ginekologik di RS Dr. Cipto
Mangunkusumo sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Indonesia tahun
2002-2003. Dari data tersebut juga disimpulkan bahwa tidak terjadi
penurunan yang bermakna terhadap kasus kanker serviks stadium lanjut
(stadium II-B sampai stadium IV) dari tahun 1992 sampai dengan 2004
yakni dari 72% sampai 64%. Dengan demikian pelaksanaan skrining
kanker serviks belum berjalan dengan baik.2

Gambar 1. Penampakan karsinoma serviks (dikutip dari kepustakaan 3)

2
b. Etiologi Dan Faktor Risiko
Karsinoma serviks berasal dari infeksi genital akibat Human
Papilloma Virus (HPV), yang merupakan suatu karsinogen pada
manusia. Meskipun infeksi HPV dapat ditularkan melalui jalur non-
seksual, kebanyakan HPV ditularkan melalui kontak seksual.4
HPV adalah suatu kelompok yang terdiri lebih dari 150 jenis virus.
Disebut papillomavirus karena tipe tertentu dapat menyebabkan
penyakit-penyakit kelamin (kutil), atau papilloma, yang bersifat jinak
(non-karsinoma). Beberapa tipe HPV berhubungan dengan beberapa
jenis kanker. Jenis HPV ini disebut risiko tinggi, onkogenik, atau
karsinogenik. Dari 150 tipe HPV, lebih dari 40 tipe dapat ditularkan
melalui aktivitas seksual. Penularan dapat terjadi pada daerah genital,
anal, atau oral.5
Faktor-faktor yang berisiko tinggi menyebabkan karsinoma
serviks, antara lain:1,6
Ras dan status sosial-ekonomi
Insidens karsinoma serviks pada ras Afrika Amerika di Amerika
Seriakt lebih tinggi dibandingkan dengan wanita-wanita berkulit
putih, dengan rata-rata 11 kasus baru per 100.000 wanita berkulit
hitam dan 8 kasus per 100.000 wanita yang berkulit putih per tahun.
Insidens yang lebih tinggi terdapat pada populasi Amerika asli dan
Spanyol, di mana kira-kira terdapat 14 kasus baru per 100.000
wanita tiap tahun.1
Riwayat seksual dan reproduksi
Faktor risiko pada karsinoma serviks sangat berhubungan dengan
adanya paparan HPV, merokok, dan imunosupresi.1,6
Human papiloma virus (HPV)
Infeksi HPV terdapat pada 99,7% dari semua wanita yang
menderita karsinoma serviks. Oleh karena itu, faktor risiko
tradisional pada karsinoma serviks antara lain usia muda saat
koitus pertama kali, pasangan seksual yang multipel,

3
multiparitas, dan adanya riwayat penyakit infeksi menular
seksual. Tipe HPV yang berisiko tinggi adalah tipe 16, 18, 31,
33, 35, 45, 52, dan 58 berhubungan dengan 95% dari karsinoma
sel skuamosa pada serviks. HPV tipe 16 paling sering
dihubungkan dengan karsinoma sel skuamosa pada serviks; dan
HPV tipe 18 lebih sering terdapat pada adenokarsinoma.
Kebanyakan infeksi HPV bersifat transien, mengakibatkan tidak
terjadi perubahan pada epitel serviks atau lesi intraepithelial
yang low-grade yang secara spontan dapat menghilang.
Progresivitas dari lesi high-grade ke karsinoma yang invasif
membutuhkan waktu kira-kira 8-12 tahun, sehingga akan ada
masa pre-invasif yang panjang dengan banyak kesempatan
untuk deteksi ini.1

Gambar 2. Sketsa virus HPV (dikutip dari kepustakaan 7)

Merokok
Merokok adalah faktor risiko yang secara tidak langsung
mengambil bagian pada penyakit-penyakit serviks. Brock dkk
menunjukkan bahwa perokok memiliki faktor risiko 4,5 kali
lebih besar terkena karsinoma in situ yang dibandingkan dengan
kontrolnya. Selain itu, risiko karsinoma serviks yang meningkat
juga ditemukan pada wanita yang terpapar secara pasif pada
perokok.1,6

4
Imunosupresi
Wanita-wanita yang mengalami keadaan imunosupresi memiliki
risiko yang lebih tinggi pada perkembangan karsinoma serviks
dan dapat menunjukkan progresi yang lebih cepat dari lesi pre-
invasif ke lesi invasive. Wanita yang dinyatakan positif
menderita HIV menunjukkan lesi invasif karsinoma serviks
yang lebih cepat dibandingkan dengan wanita yang dinyatakan
negatif HIV. CDC telah menyatakan karsinoma serviks sebagai
salah satu penyakit pada AIDS pada wanita-wanita yang
terinfeksi HIV.1

Gambar 3. Alur etiologi yang mungkin pada neoplasia intraepithelial serviks dan
karsinoma serviks (dikutip dari kepustakaan 8)

c. Diagnosis
1. Anamnesis
Karena banyak wanita yang diskrining secara rutin, hal yang paling
sering ditemukan adalah hasil Pap-test yang abnormal. Secara
khusus, wanita-wanita ini tidak memiliki gejala. Pada anamnesis,
pasien-pasien dengan karsinoma serviks memiliki karakteristik

5
gejala klinis berupa perdarahan abnormal atau adanya cairan
kecoklatan yang keluar pervaginam, seringkali pada saat mencuci
vagina atau berhubungan seksual dan juga dapat terjadi spontan di
antara periode menstruasi. Pasien-pasien tersebut biasanya tidak
memiliki riwayat pemeriksaan sitologi atau Pap-test selama
beberapa tahun. Gejala-gejala lain, seperti nyeri tulang belakang,
kehilangan kesadaran, dan penurunan berat badan.2 Tumor ini akan
bertumbuh dan meluas sepanjang permukaan epitel, menuju ke atas
ke cavum endometrial, melalui epitel vagina dan secara lateral
menuju ke dinding pelvis. Tumor ini dapat menginvasi langsung
kandung kemih dan rektum, yang dapat menyebabkan konstipasi,
hematuria, fistula, dan obstruksi ureteral, dengan atau tanpa
hidroureter atau hidronefrosis. Adanya edema pada tungkai, nyeri,
dan hidronefrosis dapat mengindikasikan adanya keterlibatan
dinding pelvis. Daerah-daerah tersering yang dapat menjadi lokasi
metastasis jauh adalah limfonodus ekstrapelvis, hati, paru-paru, dan
tulang.2,7
2. Pemeriksaan Fisis
Pada pasien dengan karsinoma serviks stadium awal, pemeriksaan
fisis yang ditemukan secara relatif normal. Pada perkembangan
penyakit, penampakan serviks dapat menjadi abnormal, dengan erosi
yang luas, ulkus, atau massa. Abnormalitas ini dapat meluas ke
vagina. Pemeriksaan rektal dapat menunjukkan adanya massa
eksternal atau darah yang banyak akibat dari adanya erosi tumor.6
Pemeriksaan pelvis bimanual biasanya menunjukkan adanya
metastasis parametrium. Jika penyakit ini melibatkan hati, mungkin
saja terdapat hepatomegali. Metastasis pulmoner biasanya sulit
dideteksi pada pemeriksaan fisis, sampai terdapat efusi pleura atau
obstruksi bronchial. Edema tungkai menunjukkan adanya obstruksi
vaskuler atau limfatik yang disebabkan oleh tumor.3
3. Pemeriksaan Penunjang

6
Papanicolaou smear (Pap-test)
Selama bertahun-tahun, Pap-test telah menjadi metode standar
untuk skrining karsinoma serviks. Data retrospektif
menunjukkan bahwa skrining dengan menggunakan Pap-test
akan mengurangi insiden karsinoma serviks sampai 60-90% dan
mengurangi angka kematian sampai 90%.8
Karena adanya hasil yang negatif palsu, Pap-test hanya dapat
mengurangi insidens karsinoma serviks 2-3 wanita dari 100.000
wanita. Hasil tes yang negatif palsu kebanyakan diakibatkan
oleh cara pengambilan sampel yang salah.4
Keterbatasan Pap-test adalah sensitivitas yang terbatas (51%)
dan proporsi signifikan dari specimen inadekuat. Selain itu,
keakuratan interpretasi dari Pap-test biasanya tergantung dari
ada tidaknya artifak (misalnya, darah, mukus, atau sel-sel
inflamasi).8
Tes HPV
Hybrid capture II assay untuk HPV telah disetujui oleh Food
and Drug Association (FDA) pada tahun 2003 sebagai metode
yang baru untuk mendiagnosis karsinoma serviks. Pemeriksaan
ini berguna dalam menginterpretasi hasil yang ekuivokal dari
sebuah Pap-test. Jika hasil Pap-test seorang wanita
menunjukkan keragu-raguan tetapi tes HPV menunjukkan hasil
yang negatif, wanita tersebut wajib diskrining ulang dalam 3
tahun ke depan; jika tes HPV positif, pemeriksaan lanjutan yaitu
kolposkopi menjadi indikasi.8
Pemeriksaan radiologi untuk melihat adanya metastasis
Foto toraks rutin dilakukan untuk menyingkirkan ada tidaknya
metastasis pulmoner. CT Scan abdomen dan pelvis dilakukan
untuk melihat ada tidaknya metastasis pada hati, limfonodus,
atau organ-organ lain, dan untuk membantu menyingkirkan ada
tidaknya hidronefrosis atau hidroureter. CT Scan juga

7
dianjurkan pada pasien-pasien karsinoma serviks yang
direncanakan untuk dilakukan radioterapi.8
Surgical staging
Penentuan stadium secara klinis biasanya tidak melibatkan
pelvis dan limfonodus aorta pada masing-masing 20-50% dan 6-
30% pasien. Oleh karena itu, surgical staging kadangkala
dianjurkan.8
Pemeriksaan histologi
Lesi pra-kanker pada serviks biasanya dideteksi dengan
menggunakan Pap-test. Karsinoma serviks secara histologi
didominasi oleh karsinoma sel skuamosa, kira-kira 80% kasus,
dan adenokarsinoma pada sekitar 20% kasus. Bentuk histologi
yang lebih jarang adalah karsinoma sel kecil, melanoma, dan
limfoma.4

d. Stadium
Stadium dan angka harapan hidup pada karsinoma dapat dilihat
pada tabel di bawah ini:6,8
Tabel 1. Stadium dan angka harapan hidup pada pasien-pasien karsinoma
serviks
Stadium Angka harapan hidup (5 tahun)
Stadium 1: Tumor terbatas pada serviks
Karsinoma mikroinvasif 95,1%
a1 invasi stroma yang kedalamannya 3 mm
dan 7 mm pada penyebaran horizontal

8
a2 lesi dengan kedalaman > 3 mm, tetapi 5
mm, dan 7 mm pada penyebaran horizontal

94,9%

Lesi klinis yang terbatas pada serviks


b1 diameter tumor < 4 cm

80,1%

b2 diameter tumor 4 cm

9
Stadium 2: Tumor menyebar di bawah serviks,
tetapi tidak menyebar ke dinding pelvis, dengan
adanya keterlibatan pada dua pertiga bagian atas
vagina
2a Terjadi penyebaran pada vagina, tetapi
tidak terdapat penyebaran pada parametrium 66,3%

Terjadi penyebaran pada parametrium, tetapi


63,5%
belum menyebar ke dinding pelvis

10
Stadium 3: Tumor menyebar ke pelvis
3a Adanya keterlibatan pada sepertiga bagian 33,3%
bawah vagina

3b Adanya perluasan ke dinding pelvis atau


adanya hidronefrosis 38,7%

11
Stadium 4: Metastasis jauh
4a Menyebar pada organ-organ lain yang 17,1%
berdekatan (kandung kemih, rektum)

Metastasis jauh 9,4%

e. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan karsinoma serviks tergantung pada stadium
kanker, ukuran dan bentuk tumor, usia dan keadaan umum wanita, dan
kesempatan wanita tersebut untuk memperoleh anak di kemudian hari.
Karsinoma serviks stadium awal dapat disembuhkan dengan
mengeluarkan atau menghancurkan jaringan pra-kanker atau kanker. Ada
beberapa metode pembedahan yang dapat dilakukan tanpa mengangkat
uterus atau merusak serviks, jadi wanita tersebut masih memiliki
kesempatan untuk memperoleh keturunan di kemudian hari.

12
Jenis-jenis tindakan pembedahan yang dilakukan pada
karsinoma serviks stadium awal, antara lain:3
Loop electrosurgical excision procedure (LEEP): menggunakan arus
listrik untuk membuang jaringan yang abnormal
Krioterapi: untuk membekukan sel-sel yang abnormal
Terapi laser: menggunakan cahaya untuk membakar jaringan yang
abnormal
Histerektomi seringkali tidak dilakukan pada karsinoma serviks
yang belum menyebar. Histerektomi dapat dilakukan pada wanita yang
telah dilakukan prosedur LEEP secara berulang. Penatalaksanaan
karsinoma serviks stadium lanjut, antara lain:3
Histerektomi radikal, di mana tindakan ini akan mengangkat uterus
dan sebagian besar jaringan di sekitarnya, termasuk limfonodus dan
bagian atas vagina
Eksenterasi pelvis, merupakan sebuah jenis operasi yang ekstrim, di
mana semua organ pelvis diangkat, termasuk kandung kemih dan
rektum.
Radiasi dapat digunakan untuk menangani kanker yang telah
menyebar ke pelvis, atau kanker yang berulang. Terapi radiasi dapat
dilakukan secara eksternal atau internal.3
Terapi radiasi internal menggunakan suatu alat yang diisi dengan
materi radioaktif, yang ditempatkan di dalam vagina wanita tersebut
menuju ke arah karsinoma serviksnya. Alat ini dikeluarkan ketika
wanita tersebut pulang ke rumah.
Terapi radiasi eksternal memancarkan radiasi dari sebuah mesin
yang besar menuju ke bagian tubuh di mana kanker tersebut berada.
Mekanismenya hampir serupa dengan sinar X.
Kemoterapi adalah salah satu bentuk penatalaksanaan dengan
menggunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Beberapa
obat yang digunakan dalam kemoterapi karsinoma serviks, antara lain: 5-
FU, cisplatin, carboplatin, ifosfamide, paclitaxel, dan siklofosfamid.

13
Terapi radiasi atau kemoterapi dilakukan sebelum atau sesudah tindakan
pembedahan.3,8

VAKSIN UNTUK MENCEGAH KARSINOMA SERVIKS


a. Pendahuluan
Peranan sistem imun dalam mempertahankan tubuh terhadap
serangan penyakit infeksi telah lama diketahui. Berbagai penelitian telah

14
membuktikan bahwa sistem imun selain mencegah penyakit infeksi,
dapat juga melindungi tubuh dari adanya sel yang tidak diperlukan, sel
abnormal dan sel-sel kanker.8
Sistem imun merupakan suatu perangkat kompleks yang terdiri
dari organ, jaringan dan sel-sel khusus yang bekerja secara kolektif
mempertahankan tubuh. Vaksin yang umumnya mengandung antigen
spesifik dapat meningkatkan respon imun tubuh karena vaksin dapat
menginduksi sel memori untuk bekerja lebih cepat dalam mengenali dan
melindungi tubuh dari serangan antigen yang sama di kemudian hari.8
Vaksin kanker merupakan sediaan farmasi yang termasuk dalam
senyawa biological response modifiers, yang bekerja untuk menstimulasi
respon imun sehingga mampu mencegah terjadinya penyakit kanker.
Terdapat dua jenis vaksin kanker yaitu cancer prophylactic vaccines,
yang digunakan untuk mencegah terjadinya kanker dan cancer
therapeutic vaccines, yang digunakan untuk mengobati penyakit kanker
dan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap kanker.8
Vaksin kanker ditujukan untuk mencegah timbulnya penyakit
kanker yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme yang
bertanggung jawab terhadap terbentuknya sel-sel kanker.8

b. Mekanisme Kerja Vaksin


Berdasarkan induksi antibodi yang netral oleh Virus Like Particles
(VLP) yang non-infeksi pada protein kapsid L1, vaksin HPV profilaksis
telah menginduksi titer yang tinggi pada antibodi yang netral secara
konsisten dengan efek samping yang minimal dan menginduksi lebih dari
90% perlindungan dari infeksi HPV 16 dan 18 yang persisten, dan HPV
16 dan 18 yang berhubungan dengan neoplasia intraepithelial servikal
high-grade. Vaksinasi HPV tipe 16 dan 18 akan mencegah timbulnya
insidens infeksi HPV 16 dan 18, dan akan menurunkan sekitar 90% hasil
Pap-test yang abnormal pada tipe ini dan sekitar 50% dari keseluruhan
hasil Pap-test yang abnormal. Vaksinasi HPV akan menurunkan jumlah

15
wanita yang akan dikolposkopi, biopsi, dan berbagai penanganan lainnya
untuk lesi-lesi pra-kanker serviks. Vaksinasi dapat membuat
perlindungan melampaui 95% pada karsinoma serviks.1
Virus papilloma tidak dapat dikembangkan dalam jumlah yang
besar pada kultur in vitro, tetapi kemampuan untuk menghasilkan HPV
virus like particles (VLP) melalui sintesis dan pembentukan sendiri
protein kapsid virus L1, sehingga menghasilkan sub unit vaksin yang
efektif dan potensial. Vaksin HPV L1 VLP bersifat imunogenik dan
memiliki profil yang aman dan bagus. Data yang dipublikasikan yang
berasal dari bukti uji coba dan penelitian-penelitian terdahulu
melaporkan bahwa efisasi yang berasal dari uji fase III memberikan
kesimpulan yang kuat bahwa vaksinasi akan memproteksi infeksi HPV
yang persisten dan neoplasia intraepithelial servikal. Namun, durasi
proteksi vaksin ini tidak diketahui, respon antibodi yang diinduksi
kemungkinan adalah HPV tipe spesifik dan imunisasi sebaiknya
dilakukan sebelum paparan virus terjadi. Vaksin generasi kedua
mengandung antigen yang mudah dikenali sehingga dapat digunakan
untuk proteksi post-paparan virus dan mudah diserap oleh tubuh
sehungga dibutuhkan di negara-negara yang berkembang.5,7

c. Jenis-Jenis Vaksin
Meskipun beberapa infeksi HPV yang persisten dapat berkembang
menjadi karsinoma serviks, imunitas tubuh secara umum dapat
membersihkan kebanyakan infeksi HPV sehingga memungkinkan adanya
tindakan pencegahan karsinoma serviks melalui vaksinasi. Jenis-jenis
vaksin diantaranya:

Vaksin kanker profilaksis


Tujuan penggunaan vaksin kanker adalah untuk merangsang
produksi antibodi netralisasi yang dapat menghambat infeksi virus yang
menyebabkan timbulnya sel-sel kanker (vaksin propilaktik), atau untuk

16
mengeliminasi sel-sel yang abnormal dengan cara meningkatkan respon
imun seluler (vaksin terapetik).9
Vaksin kanker propilaktik adalah vaksin kanker yang ditujukan
untuk mencegah terjadinya penyakit kanker yang disebabkan oleh
mikroorganisme. Upaya pengembangan vaksin propilaktik untuk
mencegah terjadinya penyakit kanker yang disebabkan oleh
mikroorganisme tidak terlepas dari kemampuan peneliti untuk
mengidentifikasi mikroorganisme yang bertanggung jawab terhadap
terjadinya penyakit kanker. 9
Profilaksis berdasarkan virus like particles L1 papillomavirus
sekarang sedang diuji coba pada manusia adalah: vaksin yang pertama
dengan menggunakan vaksin bivalen VLP L1 (Cervarix), yang
mengandung dua genotip yang terlibat pada kanker serviks (tipe 16 dan
18) dan lainnya, melindungi penyakit-penyakit kelamin dan juga
karsinoma serviks. Vaksin yang kedua adalah vaksin kuadrivalen HPV
VLP L1 (Gardasil) yang mengandung genotip 6, 11, 16, dan 18. Uji coba
klinis yang pertama membuktikan adanya kepuasan dan imunogenitas
yang bagus sekali dengan adanya titer antibodi serum yang tinggi dengan
efek samping yang minimal. Setelah lebih dari tiga tahun, uji coba klinis
pada wanita usia 15-25 tahun telah menunjukkan bahwa vaksin ini dapat
secara spesifik memproteksi sekitar 90% infeksi dan semua neoplasia
intraepithelial servikal.1

Indikasi
Baik Gardasil maupun Cervarix terbukti efektif jika diberikan
sebelum infeksi HPV terjadi, dan direkomendasikan diberikan sebelum
aktivitas seksual yang aktif. FDA mengizinkan penggunaan Gardasil

17
pada wanita dan pria usia 9-26 tahun dan Cervarix pada wanita usia 9-25
tahun.5
Setelah vaksin ini dilegalkan oleh FDA, the Advisory Committee
on Immunization Practices (ACIP) membuat rekomendasi tambahan ke
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mengenai siapa saja
yang boleh menerima vaksin ini, usia berapa, seberapa sering, dosis yang
sesuai, dan keadaan di mana vaksin tersebut tidak seharusnya diberikan.5
Pada wanita, ACIP merekomendasikan bahwa Gardasil dan
Cervarix diberikan secara rutin pada usia 11 atau 12 tahun, meskipun
dapat juga dimulai pada usia 9 tahun. Vaksinasi juga direkomendasikan
pada anak perempuan dan wanita usia 13-26 tahun yang belum
divaksinasi atau yang belum divaksinasi lengkap. Jika seorang wanita
mencapai usia 26 tahun namun belum melengkapi vaksinnya, ACIP
merekomendasikan bahwa wanita tersebut masih dapat menerima sisa
vaksinasi yang belum ia terima.5
Pada pria, ACIP merekomendasikan vaksinasi rutin dengan
Gardasil pada usia 11 atau 12 tahun untuk mencegah infeksi HPV. ACIP
juga merekomendasikan memvaksinasi pria usia 13 sampai 21 tahun
yang belum divaksin atau yang belum divaksinasi lengkap. Vaksin ini
dapat diberikan pada pria usia 22 dan 26 tahun.5,10

Gambar.4 Sediaan vaksin Gardasil (dikutip dari kepustakaan 11)

18
Gambar.5 Sediaan vaksin Cervarix (dikutip dari kepustakaan 12)

Vaksin kanker terapetik

Vaksin kanker terapetik adalah vaksin kanker yang digunakan


untuk memperlambat atau mencegah pertumbuhan sel kanker dan untuk
mengeliminasi sel-sel kanker yang tidak dapat dimusnahkan dengan cara
terapi konvensional. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk
mendapatkan vaksin terapetik untuk mengobati kanker serviks yang
disebabkan oleh HPV. Walaupun beberapa kandidat vaksin terapetik HPV
telah dikembangkan untuk memperoleh respon imun sel T sitotoksik
terhadap sel-sel kanker serviks, namun diperkirakan vaksin yang paling
menjanjikan adalah vaksin yang dapat menghambat ekspresi onkoprotein
E6 dan E7 HPV. Vaksin terapetik yang ditujukan pada onkoprotein E6
dan E7 ini diharapkan mampu menghentikan pertumbuhan kembali sel
kanker yang disebabkan oleh HPV.9
Pengembangan vaksin kanker terapetik memerlukan pemahaman
terhadap bagaimana interaksi antara sistem imun dengan sel kanker
terjadi. Umumnya sistem imun tidak dapat mengenali sel-sel kanker
sebagai suatu susbtansi asing, sehingga sistem imun tidak melakukan
serangan terhadap sel-sel kanker. Hal ini disebabkan karena sel kanker
terdiri dari senyawa self antigens dan non-self antigens (cancer-
associated antigens). Sel kanker kadangkala mengalami mutasi genetik
sehingga sel kanker tidak lagi dikenali sebagai cancer-associated
antigens. Disamping itu sel kanker memproduksi senyawa kimia yang
dapat menghambat respon imun dari sel T-sitotoksik. Dengan demikian

19
sekalipun sel kanker dapat dikenali sebagai sel asing akan tetapi
seringkali lolos dari serangan sistem imun tubuh.9
Efektifitas vaksin kanker terapetik, tergantung pada. Selektifitas
vaksin yang dapat merangsang respon imun spesifik terhadap sasaran sel
kanker yang tepat. Respon mun yang dirangsang oleh vaksin kanker
harus sangat kuat dan mampu mengatasi barier yang dibuat oleh sel
kanker, sehingga sel kanker tidak dapat lolos dari serangan antibody dan
sel T-sitotoksik. Berdasarkan pemahaman tersebut dapat dirancang suatu
vaksin kanker terapetik yang mampu mengatasi perkembangan sel-sel
kanker. 9
Vaksin kanker terapetik dibuat dengan menggunakan antigen yang
berasal dari sel kanker. Cancer-associated antigens yang digunakan
antara lain berupa senyawa karbohidrat, glikoprotein dan gangliosida.
Vaksin kanker terapetik dapat juga dibuat dari sel-sel kanker yang telah
dilemahkan atau dimatikan yang mengandung cancer-associated
antigens. Sel-sel kanker tersebut dapat berasal dari penderita sendiri
(vaksin autologus), atau berasal dari penderita kanker lainnya (vaksin
allogenik).Berbagai jenis cancer-associated antigens, yaitu molekul yang
berasal dari sel-sel kanker termasuk sel kanker payudara, prostat, kolon,
pankreas, paru-paru, rahim dan sel kanker kulit, telah digunakan sebagai
kandidat vaksin kanker terapetik. Molekul-molekul spesifik, antara lain
carcinoembryonic antigen (CEA), cancer testis antigens, Mucin-1
(MUC1), gangliosida dan mutan protein p53, telah diteliti sebagai
kandidat vaksin kanker (1, 5, 6, 32, 33, 34, 35, 36). Walaupun berbagai
jenis antigen yang berhubungan dengan sel kanker telah berhasil
diidentifikasi kapasitasnya dalam merangsang respon imun khususnya
respon imun selular, namun respon imunnya masih sangat bervariasi dan
masih dibutuhkan penelitianpenelitian lanjutan untuk menemukan jenis
cancer-associated antigens baru yang mampu menstimulasi respon imun
yang potensial dalam mengatasi berbagai sel kanker. Sampai saat ini

20
beberapa vaksin kanker terapetik masih terus dikembangkan dan sedang
dalam fase uji klinik. 9

d. Cara Pemberian Vaksin, Efektivitas, Dan Efek Samping


Penyuntikan Vaksin
Baik Gardasil dan Cervarix, memiliki dosis dan cara pemberian
yang sama. Setiap dosis mengandung 0,5 ml, diberikan secara
intramuskuler, pada muskulus deltoideus. Vaksinasi dilakukan 3 kali.
Vaksinasi kedua dilakukan 1-2 bulan setelah vaksinasi pertama, dan
vaksinasi ketiga dilakukan 6 bulan setelah vaksinasi pertama.13
Interval minimum antara vaksinasi pertama dan kedua adalah 4
minggu dan antara vaksinasi kedua dan ketiga adalah 24 minggu. Jika
jadwal vaksinasi HPV tertunda, vaksinasi tidak perlu diulangi.13
Dua jenis vaksin HPV (Gardasil-kuadrivalen dan Cervarix-
bivalen), keduanya efektif dalam mencegah HPV tipe 16 dan 18, yang
turut andil pada sekitar 70% dari karsinoma serviks, dan vaksin
kuadrivalen juga efektif untuk mencegah penyakit-penyakit kelamin
(kutil). Efisasinya sebesar 100% jika vaksin tersebut diberikan sebelum
paparan HPV tipe 16 dan 18. Durasi proteksi yang telah terbukti dalam
mencegah lesi serviks yang high-grade adalah 5 tahun, dan perlunya
booster atau tidak belum diketahui. Skrining kanker serviks harus tetap
dilakukan karena vaksin tidak memproteksi semua jenis infeksi HPV
yang dapat menyebabkan karsinoma serviks.1,5
Wanita-wanita yang mempunyai abnormalitas pada hasil skrining
karsinoma serviks seringkali telah terinfeksi dengan satu atau lebih jenis
HPV. Dengan bertambah buruknya hasil Pap-test yang diperoleh,
kemungkinan untuk terinfeksi HPV tipe 16 atau 18 meningkat, dan
terjadi penurunan pada efektivitas vaksin. Demikian pula pada wanita-
wanita yang memiliki riwayat penyakit kelamin (kutil), kemungkinan
besar telah terinfeksi HPV tipe 6 dan 11. Vaksinasi masih
direkomendasikan pada wanita-wanita ini, karena vaksinasi dapat

21
memproteksi wanita tersebut dari jenis HPV yang lain. Namun, wanita
tersebut harus diedukasi karena vaksinasi tersebut tidak memberikan efek
terapeutik pada infeksi HPV yang telah terjadi atau hasil Pap-test yang
abnormal.13
Vaksinasi HPV juga diperbolehkan pada wanita-wanita yang
menyusui. Gardasil dan Cervarix bukanlah vaksin hidup, dan dapat
diberikan pada wanita-wanita yang mengalami keadaan imunosupresi
(akibat penyakit atau obat-obatan). Namun, respon imun dan efisasi
vaksin mungkin saja tidak sebaik pada pasien-pasien yang memiliki
imunitas yang bagus.13
Pada wanita yang telah menikah dan pernah berhubungan seksual
terlebih dulu dilakukan papsmear sebelum diberi vaksin. Hal ini untuk
mengetahui apakah wanita tersebut terinfeksi virus HPV atau tidak.
Sedangkan pada wanita yang belum menikah dan belum pernah
berhubungan seksual, vaksin HPV diberikan langsung.14
Efek samping akibat penyuntikan, antara lain: nyeri pada lokasi
injeksi (8 dari 10 orang), kemerahan atau bengkak pada lokasi injeksi
(sekitar 1 dari 4 orang), demam subfebris (sekitar 1 dari 10 orang), gatal
pada lokasi injeksi (sekitar 1 dari 30 orang), demam yang moderat
(sekitar 1 dari 65 orang). Namun, gejala-gejala ini tidak berlangsung
lama dan reaksi alergi yang mengancam nyawa akibat vaksinasi HPV
sangatlah jarang.1

e. Peringatan Dan Kontraindikasi


Vaksin HPV tidak direkomendasikan untuk digunakan pada
wanita-wanita hamil. Jika seorang wanita diketahui hamil setelah
vaksinasi awal dilakukan, maka vaksinasi selanjutnya sebaiknya ditunda
setelah kehamilan tersebut usai. Tes kehamilan tidak diperlukan sebelum
vaksinasi dilakukan. Jika vaksin terlanjur diberikan pada saat kehamilan
terjadi, tidak ada intervensi yang diperlukan.13

22
Vaksin HPV dapat diberikan pada wanita atau pria dengan
penyakit-penyakit minor akut. Vaksinasi pada wanita atau pria dengan
penyakit-penyakit yang sedang berat sebaiknya ditunda sampai keadaan
membaik.13
Sinkop dapat terjadi setelah vaksinasi dilakukan dan telah
diobservasi pada wanita dewasa dan wanita muda. Untuk menghindari
akibat yang serius akibat sinkop, pasien-pasien post vaksinasi sebaiknya
diobservasi selama 15 menit sebelum membolehkannya pulang ke
rumah.13
Vaksin HPV dikontraindikasikan pada wanita atau pria dengan
riwayat hipersensitivitas pada setiap komponen vaksin. Gardasil
diproduksi di dalam Saccharomyces cerevisiae (ragi roti) dan
dikontraindikasikan pada orang yang memiliki riwayat hipersensitivitas
pada ragi. Suntikan yang berisi Cervarix memiliki lateks pada penahan
karetnya dan sebaiknya tidak digunakan pada orang yang memiliki
riwayat anafilaktik alergi lateks. Namun, Cervarix dosis tunggal sediaan
vial yang tidak mengandung lateks dapat menjadi pilihan.13

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Siddiqui M. Cervical cancer vaccination: a new hope. AKMMC Journal 2011;
2, 1: 26-31.
2. Dumesty R. 2012. Komparasi Implementasi kebijakan Pengendalian kanker
serviks pada program Skrining rutin dan pilot project bulan cegah Kanker
serviks di suku dinas kesehatan Jakarta selatan tahun 2011- 2012
3. Chen YB, Zieve D. Cervical cancer all information [online]. 2010 [cited
2013 June 6th]. Available from:
http://www.umm.edu/ency/article/000893all.htm
4. Boardman CH, Huh WK. Cervical cancer [online]. 2013 [cited 2013 June 6th].
Available from: http://emedicine.medscape.com/article/253513-overview
5. National Cancer Institute. Human papillomavirus (HPV) vaccines [online].
2011 [cited 2013 June 6th]. Available from:
http://m.cancer.gov/topics/factsheets/HPV-vaccine
6. Groesbeck P, Parhman MD. Sceeen-and-Treat Cervical Cancer Preventon
Programmes. Afrika: Costom Publication of th African Centre of Excellent for
Womens Cencer Control; 2014. p.12-23
7. Ginekologi metropole Hospital. Human Papiloma Virus. online]. 2014 [cited
2014 April 29th]. Available from:
http://ginekologimetropolehospital.blogdetik.com/tag/penyakit-kelamin-
2/page/10/
8. Pitkin J, Peattie AB, Magowan BA. Cervical carcinoma. In: Pitkin J, Peattie
AB, Magowan BA, editors. Obstetrics and gynaecology: an illustrated colour
text. London: Elsevier Science Limited; 2003. p. 136-7
9. Radji M. (2009, Desember). Majalah Ilmu Kefarmasian.Vol No 3 109-118.
10. Dunne EF, Chesson H, Curtis CR, Saraiya M, Gee J, Unger ER.
Recommendations on the use of quadrivalent human papillomavirus vaccine
in males advisory committee on immunization practices (ACIP), 2011.
Morbidity and Mortality Weekly Report 2011; 60, 50: 1705-8.

24
11. Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM. Carcinoma of the cervix. In:
Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, editors. Comprehensive
gynaecology fifth edition; 2007
12. Anonymous. (2014). Gardasil from http://vulcanpost.com/
13. Anonymous. (2014). Cervarixl from http://vidaefectiva.com.ve/vacuna-contra-
el-vph-eficaz-forma-de-prevencion-v12952e/cervarix4/
14. Anonymous. (2014). RSUD Dr Soetomo Perangi Kanker Serviks from
http://rsudrsoetomo.jatimprov.go.id/id/

25