Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. MR
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : PNS
Alamat : Perintis Kemerdekaan
Agama : Islam
No. Kartu BPJS : 0000125908694
Tanggal masuk : 29/05/2017

Anamnesis
Autoanamnesis
KELUHAN UTAMA: Leher tegang
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang dengan keluhan utama leher tegang dialami sejak 3 hari yang
lalu, terus-menerus, dan membaik sementara waktu dengan istirahat. Sakit kepalanya
berupa rasa berat dan kencang di pelipis, belakang kepala dan leher dan memberat
memberat jika capek atau banyak pikiran. Hal ini sudah pernah dialami sebelumnya
dan membaik dengan obat yang diperoleh dari dokter klinik. Keluhan lain tidak ada.
Riwayat keluarga yang menderita keluhan sama disangkal. Riwayat sosial pasien
merupakan seorang perokok, tidak mengonsumsi alkohol, memiliki kebiasaan suka
mengonsumsi daging berlemak, sedang dalam masa deadline tugas kantor, dan telah
menikah. Riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi dan DM disangkal.

II. STATUS PRESENT


Sakit Sedang / Gizi Lebih / Composmentis
BB = 67 kg,
TB = 165 cm,
IMT = 24,6 kg/m2 Gizi lebih
Tanda Vital :
Tekanan Darah : 100/70 mmHg
Nadi : 90 x/menit
Pernapasan : 18 x/menit
Suhu : 36,8oC

III. PEMERIKSAAN FISIS


Kepala
Ekspresi : Biasa
Simetris muka : Simetris kiri = kanan
Deformitas : (-)
Rambut : Hitam lurus, alopesia (-)
Mata
Eksoptalmus/Enoptalmus : (-)
Gerakan : Ke segala arah
Kelopak mata : Edema palpebra (-)
Konjungtiva : Anemis (-)
Sklera : Ikterus (-)
Kornea : Jernih
Pupil : Bulat isokor
Telinga
Pendengaran : Dalam batas normal
Tophi : (-)
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)
Hidung
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
Mulut
Bibir : Pucat (-), kering (-)
Lidah : Kotor (-), tremor (-), hiperemis (-)
Tonsil : T1 T1, hiperemis (-)
Faring : Hiperemis (-)
Gigi geligi : Karies (-)
Gusi : Perdarahan gusi (-)
Leher
Kelenjar getah bening : Tidak teraba pembesaran
Kelenjar gondok : Tidak teraba pembesaran
DVS : R+1 cmH2O
Pembuluh darah : Tidak ditemukan kelainan
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)
Palpasi : Teraba otot-otot leher tegang
Dada
Inspeksi :
Bentuk : Normochest, simetris kiri = kanan
Pembuluh darah : Tidak ditemukan kelainan
Buah dada : Simetris kiri = kanan, ginekomastia (-)
Sela iga : Dalam batas normal
Lain-lain : (-)
Paru
Palpasi :
Fremitus raba : Kiri = kanan
Nyeri tekan : (-)
Perkusi :
Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
Batas paru-hepar : ICS VI dekstra anterior
Batas paru belakang kanan : CV Th. IX dekstra
Batas paru belakang kiri : CV Th. X sinistra
Auskultasi :
Bunyi pernapasan : Vesikuler
Bunyi tambahan : Rh :

Wh : -|-
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Tidak terdapat pelebaran batas jantung
Auskultasi : Bunyi jantung I/II murni regular, bunyi tambahan (-)
Perut
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Palpasi : Nyeri tekan (-) MT (-)
Hepar tidak teraba
Limpa tidak teraba
Perkusi : Timpani (+)
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Alat Kelamin
Tidak dilakukan pemeriksaan
Anus dan Rektum
Tidak dilakukan pemeriksaan
Punggung
Palpasi : NT (-), MT (-)
Nyeri ketok : (-)
Auskultasi : Bruit (-)
Gerakan : Dalam batas normal
Lain lain : (-)
Ekstremitas
Edema -/-, Peteki (-)
Laboratorium
GDS strip: 80 mg/dL

IV. ASSESMENT
Nyeri Kepala Tipe Tegang

V. PLANNING
Pengobatan :
- Ibuprofen 400 mg tab/8 jam/oral
- Vitamin B12 tab/24 jam/oral

Edukasi dan Anjuran:


- Hindari faktor pencetus/stres
- Istirahat cukup
- Cek profil lipid
- Atur pola makan
- Aktivitas fisik cukup
- Berhenti merokok

VI. PROGNOSIS
Quad ad vitam : Bonam
Quad ad sanationam : Bonam
Quad ad functionam: Bonam

RESUME

Pasien datang dengan keluhan utama leher tegang dialami sejak 3 hari yang
lalu, terus-menerus, dan membaik sementara waktu dengan istirahat. Sakit kepalanya
berupa rasa berat dan kencang di pelipis, belakang kepala dan leher dan memberat
memberat jika capek atau banyak pikiran. Hal ini sudah pernah dialami sebelumnya
dan membaik dengan obat yang diperoleh dari dokter klinik. Keluhan lain tidak ada.
Riwayat keluarga yang menderita keluhan sama disangkal. Riwayat sosial pasien
merupakan seorang perokok, tidak mengonsumsi alkohol, memiliki kebiasaan suka
mengonsumsi daging berlemak, sedang dalam masa deadline tugas kantor, dan telah
menikah. Riwayat penyakit sistemik seperti hipertensi dan DM disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sakit sedang, gizi lebih, compos mentis.
Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 18 x/menit, suhu 36,8oC,
dan didapatkan otot-otot leher tegang pada perabaan. Hasil pemeriksaan laboratorium
didapatkan GDS strip 80 mg/dL.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan, maka pasien dapat didiagnosis dengan Nyeri Kepala Tipe Tegang.

DISKUSI
Dari anamnesis yang dilakukan, didapatkan keluhan utama pasien
berupa leher tegang yang sudah berlangsung selama kurang lebih 3 hari lalu, terus
menerus, dan membaik sementara waktu dengan istirahat. Hal ini sudah pernah
dialami sebelumnya dan membaik dengan obat yang diperoleh dari dokter klinik.
Riwayat sosial pasien merupakan seorang perokok, tidak mengonsumsi alkohol,
memiliki kebiasaan suka mengonsumsi daging berlemak, sedang dalam masa
deadline tugas kantor, dan telah menikah. Riwayat penyakit sistemik seperti
hipertensi dan DM disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan sakit sedang, gizi lebih, compos
mentis. Tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 90 x/menit, pernapasan 18 x/menit,
suhu 36,8oC, dan didapatkan otot-otot leher tegang pada perabaan. Hasil
pemeriksaan laboratorium didapatkan GDS strip 80 mg/dL.
Menurut teori, nyeri kepala tipe tegang (NKTT) mempunyai gambaran
karakteristik seperti kepala terasa berat, terasa seperti diikat, atau terasa tertekan.
Gambaran klinis yang dialami oleh pasien merupakan gambaran NKTT yang
tidak khas. Oleh sebab itu, diperlukan anamnesis lebih dalam lagi selain
menggali informasi mengenai keluhan utama. Adanya beberapa faktor risiko
seperti merokok dan faktor pencetus/stres psikologik yang dalam hal ini deadline
tugas kantor serta membaik dengan istirahat dan obat analgetik menunjukkan
bahwa diagnosis pasien ini mengarah kepada NKTT. Pemeriksaan fisik lebih
lanjut menemukan adanya ketegangan otot-otot leher yang berinsersi di daerah
kepala lebih menguatkan diagnosis pasien menderita NKTT. Diagnosis banding
hipertensi yang juga dapat bermanifestasi klinis leher tegang dapat disingkirkan
dari riwayat penyakit hipertensi yang disangkal dan hasil pemeriksaan tekanan
darah yang menunjukkan dalam batas normal.
Terapi ideal pada penderita tension headache adalah menghindari faktor
penyebab, mengobati keluhan dan mencegah kembalinya serangan. Mengingat
faktor-faktor pencetus kadang-kadang tidak mungkin dihindari, maka pengobatan
simtomatik adalah terapi pertama, diikuti dengan hipnotik-sedatif atau anti ansietas
serta terapi antidepresan yang bersifat jangka panjang. Pada kasus ini sebagai terapi
utama adalah asam mefenamat yang berfungsi sebagai pengobatan simtomatik
untuk mengatasi serangan akut atau episodik.
Sebagai seorang dokter keluarga yang bertugas di lini pertama
pelayanan kesehatan primer, maka seorang dokter harus melihat pasien secara
holistik yang artinya pasien dipandang sebagai manusia seutuhnya bukan hanya
melihat keluhan utama yang dibawa oleh pasien. Selain itu, sebagai seorang
dokter yang bertugas di pelayanan kesehatan primer harus lebih menekankan
pada kegiatan promotif dan preventif. Oleh sebab itu, pasien yang belum
menunjukkan manifestasi sakit, tetapi memiliki faktor resiko, sudah
seharusnya dicegah agar tidak menjadi sakit. Oleh sebab itu, dengan melihat
adanya faktor resiko penyakit metabolik pada pasien ini yang tampak seperti
overweight, perokok, dan suka mengonsumsi daging berlemak, maka dialkukan
edukasi agar menghindari faktor resiko yang dapat diubah tersebut dengan jalan
aktivitas fisik cukup dalam hal ini berolahraga, berhenti merokok, dan mengatur
pola makan serta anjuran untuk cek profil lipid agar dapat mendiagnosis dini
pasien dan melakukan terapi segera yang tepat agar dapat menghindari kecacatan
apabila pasien sudah berada pada tahap sakit.
Diharapkan dengan tindakan promotif dan preventif yang dilakukan
oleh dokter keluarga di klinik, maka angka kesakitan penyakit di populasi
masyarakat dapat berkurang sehingga anggaran yang dikeluarkan pemerintah
juga dapat dihemat dan dialokasikan untuk hal-hal lainnya.
Dengan demikian, diharapkan dokter keluarga yang bertugas di
pelayanan kesehatan primer merupakan dokter yang telah menguasai secara
holistik ilmu kedokteran komunitas melalui perilaku yang ditunjukkannya ketika
berhadapan dengan pasien melalui five star doctor meliputi: care provider,
decision maker, communicator, community leader, dan manager, penerapan five
level of prevention, penerapan nilai kedokteran keluarga yang meliputi:
pendekatan holistik, pendekatan komprehensif, berpusat pada pasien, mencakup
seluruh usia, dan mengutamakan kedokteran pencegahan, serta mampu
menentukan rujukan yang tepat untuk pasien.
TINJAUAN PUSTAKA
TENSION TYPE HEADACHE
(NYERI KEPALA TIPE TEGANG)

1.1. Latar Belakang


Nyeri kepala merupakan gejala umum yang pernah dialami hampir semua
orang dan lebih dari 90% populasi pernah mengalami satu jenis sakit kepala. Setidak-
tidaknya secara episodik selama hidupnya. Di Amerika Serikat lebih dari 23 juta
orang mengalami nyeri kepala, dimana 17,6% diderita oleh wanita dan 6% pada laki-
laki (1,2,3).
Nyeri kepala dapat merupakan bagian dari gejala sisa (sekuele) akibat
peningkatan tekanan intrakranial, cedera kepala, tumor otak, ketegangan mata,
sinusitis, perubahan atmosfir, alergi makanan, strees emosional, alkohol, makanan,
dan sebagainya. Daftar faktor-faktor etiologi yang mugkin menjadi penyebab nyeri
kepala tidak ada habisnya dan bersifat individual. Ada tiga jenis nyeri kepala,
berdasarkan klasifikasi Internasional Nyeri Kepala dari IHS (International Headache
Society) yang terbaru tahun 2004, terdiri atas Migraine, Tension Type Headache
(TTH), serta Cluster Headache dan cephalalgia lainnya dari nyeri kepala primer
lainnya (1,2,4).
Tension headache atau nyeri kepala tipe tegang adalah manifestasi dari reaksi
tubuh terhadap stres, kecemasan, depresi, konflik emosional, kelelahan atau hostilitas
yang tertekan.Respon fisiologis yang terjadi meliputi refleks pelebaran pembuluh
darah ekstrakranial serta kontraksi otot-otot rangka kepala, leher dan wajah (5).
1.2. Definisi
Tension Type headache atau nyeri kepala tipe tegang didefinisikan sebagai
rasa berat atau tertekan yang menetap, pada kedua sisi kepala yang timbul episodik
dan berkaitan dengan stres, tetapi dapat berulang hampir setiap hari tanpa adanya
faktor psikologis. Nyeri ini timbul karena kontraksi terus-menerus otot-otot kepala
dan tengkuk yaitu m. splenius kapitis, m. temporalis, m.maseter, m.
sternokleidomastoideus, m. trapezius, m. servikalis posterior, dan m. levator skapula.
Sifat nyerinya biasanya berupa rasa tertekan atau diikat, dari ringan-berat, bilateral,
tidak dipicu oleh aktivitas fisik dan gejala penyertanya tidak menonjol (6,7). Tension
headache ini juga dikenal sebagai stres headache, muscle contraction headache,
psychomiogenic headache, ordinary headache, and psikogenik headache (8).
1.3. Epidemiologi
Pada penelitian di Amerika, tension headache merupakan penyakit nyeri
kepala primer. Penyakit ini 88% dijumpai pada wanita dan 66% pada laki-laki dan
sekitar 60% serangan sakit kepala jenis ini terjadi pada usia lebih dari 20 tahun (8).
1.4. Etiologi
Etiologi dari tension headache ini belum diketahui secara pasti, namun diduga
disebabkan oleh beberapa faktor pencetus antara lain adalah cahaya yang
menyilaukan, stres psikososial, kecemasan, depresi, stres otot, marah, terkejut, serta
penggunaaan obat untuk tension headache yang berlebihan (6).
1.5. Klasifikasi
Klasifikasi nyeri kepala tipe tegang/ Tension Headache menurut Ad Hoc
Committee of The International Headache Society adalah sebagai berikut (6,8) :
1. Nyeri kepala tipe tegang episodik
a. Minimal mengalami 10 kali episode nyeri kepala, dimana jumlah hari
dengan nyeri kepala tersebut < 180 hari/tahun (<15 hari/bulan)
b. Nyeri kepala berlangsung antara 30 menit sampai 7 hari
c. Sekurang-kurangnya memiliki dua gambaran khas nyeri berikut ini :
- Kualitas nyeri seperti diikat atau ditekan
- Intensitas nyeri ringan sampai sedang
- Lokasi bilateral
- Tidak diperberat dengan berjalan menaiki tangga atau aktivitas fisik sejenis
d. Tidak ada mual atau muntah, tidak ada fotofobia dan fonofobia
2. Nyeri kepala tipe tegang kronik
a. Rata-rata frekuensi nyeri kepala > 15 hari/bulan (>180 hari/tahun) selama 6
bulan yang memenuhi kriteria 1b-1d diatas
b. Sekurang-kurangnya memiliki dua gambaran khas nyeri pada nyeri kepala
tipe tegang episodik
c. Tidak ada muntah, dan tidak lebih satu hal berikut : mual, fotofobia atau
fonofobia
1.6. Patofisiologi
Patofisiologi dari TTH sangat kompleks dan banyak faktor yang
mempengaruhinya, baik dari faktor sentral maupun perifer. Pada penderita TTH
didapati gejala yang menonjol yaitu nyeri tekan yang bertambah pada palpasi jaringan
miofascial perikranial. Impuls nosiseptif dari otot perikranial yang menjalar ke kepala
mengakibatkan timbulnya nyeri kepala dan nyeri yang bertambah pada daerah otot
maupun tendon tempat insersinya (9).
TTH adalah kondisi stres mental, nonfisiologikal motor stres, dan miofasial
lokal yang melepaskan zat iritatif ataupun kombinasi dari ke tiganya yang menstimuli
perifer kemudian berlanjut mengaktivasi struktur persepsi supraspinal pain, kemudian
berlanjut lagi ke sentral modulasi yang masing-masing individu mempunyai sifat self
limiting yang berbeda-beda dalam hal intensitas nyeri kepalanya (8,10).
Nyeri miofascial adalah suatu nyeri pada otot bergaris termasuk juga struktur
fascia dan tendonnya. Dalam keadaan normal nyeri miofascial di mediasi oleh serabut
kecil bermyelin (Aoc) dan serabut tak bermyelin (C), sedangkan serabut tebal yang
bermyelin (A dan AB) dalam keadaan normal mengantarkan sensasi yang ringan/
tidak merusak (inocuous). Pada rangsang noxious dan inocuous, seperti misalnya
proses iskemik, stimuli mekanik, maka mediator kimiawi terangsang dan timbul
proses sensitisasi serabut Aoc dan serabut C yang berperan menambah rasa nyeri
tekan pada tension type headache (9).
Dulu dianggap bahwa kontraksi dari otot kepala dan leher yang dapat
menimbulkan iskemik otot sangatlah berperan penting dalam tension type headache
sehingga pada masa itu sering juga disebut muscle contraction headache. Akan tetapi
pada akhir-akhir ini pada beberapa penelitian yang menggunakan EMG
(elektromiografi) pada penderita tension type headache ternyata hanya menunjukkan
sedikit sekali terjadi aktifitas otot, yang tidak mengakibatkan iskemik otot, jika
meskipun terjadi kenaikan aktifitas otot maka akan terjadi pula adaptasi protektif
terhadap nyeri. Peninggian aktifitas otot itupun bisa juga terjadi tanpa adanya nyeri
kepala (8,9,10)
Nyeri myofascial dapat di dideteksi dengan EMG jarum pada miofascial
trigger point yang berukuran kecil, hanya beberapa milimeter saja (tidak terdapat
pada semua otot). Mediator kimiawi substansi endogen seperti serotonin( dilepas dari
platelet), bradikinin( dilepas dari belahan precursor plasma molekul kallin) dan
kalium (yang dilepas dari sel otot), substance P dan Calcitonin Gene Related Peptide
dari aferens otot berperan sebagai stimulan sensitisasi terhadap nosiseptor otot skelet.
Jadi pada saat ini yang dianggap lebih berperan adalah nyeri miofascial terhadap
timbulnya TTH (8,9).
Untuk jenis TTH episodik biasanya terjadi sensitisasi perifer terhadap
nosiseptor, sedang yang jenis kronik berlaku sensitisasi sentral. Proses kontraksi otot
sefalik secara involunter, berkurangnya supraspinal descending pain inhibitory
activity, dan hipersensitivitas supraspinal terhadap stimuli nosiseptif amat berperan
terhadap timbulnya nyeri pada tension headache. Semua nilai ambang pressure pain
detection, thermal & electrical detection stimuli akan menurun di sefalik maupun
ekstrasefalik (9).
1.7. Manifestasi Klinis
Gejala-gejala yang dapat timbul pada tension headache adalah nyeri kepala yang
dirasakan seperti kepala berat, pegal seperti diikat tali yang melingkari kepala, kencang
dan menekan. Kadang-kadang disertai nyeri kepala yang berdenyut. Bila berlangsung
lama, pada palpasi dapat ditemukan daerah-daerah yang membenjol, keras dan nyeri
tekan. Dapat pula disertai gejala mual, kadang-kadang muntah, vertigo, lesu, sukar
tidur, mimpi buruk, sering terbangun menjelang pagi dan sulit tidur kembali,
hiperventilasi, perut kembung, sedih, hilangnya kemauan untuk belajar atau bekerja,
anoreksia dan keluhan depresi lainnya. Bisa juga nyeri dirasakan seperti perasaan
tegang yang menjepit di kepala dan nyeri berlokasi di daerah oksipito servikal (5,7)
Bentuk akut dikaitkan dengan keadaan stres, kegelisahan dan atau kelelahan
temporer yang biasanya berlangsung satu atau 2 hari. Tipe kronis biasanya nyeri bersifat
bilateral, tidak mereda, dapat berlangsung siang maupun malam hari, dan berlangsung
sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun, terasa menekan, tidak berdenyut dan sering
dikaitkan dengan perasaan gelisah, depresi dan perasaan tertekan (4,7).
Gejala yang lain dari nyeri kepala ini berupa konsentrasi yang lemah, perasaan
lelah dan iritabel. Kualitas nyeri kepala ini digambar sebagai nyeri yang tumpul dan
menetap. Sering tidak digambarkan sebagai rasa nyeri tetapi sebagai rasa berat atau rasa
tertekan atau juga rasa ketat. Pada 25% penderita serangan nyeri tumpul dapat
kemudian berubah menjadi rasa berat dan kadang-kadang ada kualitas berdenyut
(pulsasi). Nyeri kepala yang tumpul ini bisa berasal dari bangunan yang terletak dalam
di kulit. Pada beberapa keadaan, nyeri dapat dirasakan terlokalisir di satu tempat
misalnya : orang dengan kebiasaan mengerutkan dahi dapat merasakan nyeri di daerah
bitemporal, dan orang dengan kebiasaan leher lurus merasakan nyeri di oksipital (11).
Gambaran intensitas nyeri pada nyeri kepala ini sebagai seakan-akan kepala
akan pecah, yang menunjukkan karakteristik histerik. Sedangkan durasi dari nyeri
kepala ini dapat kontinyu menetap sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Penderita dapat melaporkan tak pernah sembuh dari nyeri kepalanya. Namun selama
perjalanan yang panjang itu intensitas nyerinya dapat menyusut dan mengembang dari
jam ke jam. Frekuensi nyeri akan dilaporkan setiap hari, ters menerus dan tak pernah
bebas nyeri kepala, pola temporalnya disebut pola undulasi (bergelombang), dimana
nyeri menetap kontinyu, periodisitasnya tak jelas dan awitannya tidak paroksismal (11).

13
Selain itu juga ada gelaja lain pada nyeri kepala tegang otot ini yaitu (11) :
- Fotofobia ringan namun konstan, mendorong penderita memakai kacamata hitam
walaupun hari mendung.
- Gejala-gejala GI : nausea pada pagi hari, Vomitus (jarang), sendawa belebihan dan
mengeluarkan flatus.
- Hiperventilitas, gangguan konsentrasi, kurang minat dalam bekerja dan melakukan
hobi, Gejala-gejala ini dapat ditafsirkan sebagai sindrom cemas (anxietas).
- Rasa nyeri di dada kiri, di punggung dan region koksigeus. Rasa nyeri ini bersamaan
gejala GI dan Gejala psikosomatik lainnya dapat ditafsirkan sebagai sindrom depresi.
Banyak penderita yang mengalami nyeri kepala tegang otot walaupun tak ada
stress emosional yang berat. Pada nyeri kepala yang sudah berlangsung lama, faktor
pencetus bisa juga berlaku sebagai faktor yang memperberat sehingga akan menambah
intensitas nyerinya. Gerakan-gerakan pada jurusan tertentu dapat memperberat nyerinya
(11).
Pada tension headache biasanya tidak ditemukan kelainan organik, anemia
sedang dan tekanan darah sistemik yang sedikit tinggi atau rendah tidak relevan bagi
tension headache, yang menonjol adalah unsur fobia berupa sakit kepala kalau melihat
orang banyak, sakit kepala kalau berada ditempat yang tinggi atau sakit kepala kalau
naik lift, jenis fobia yang diproyeksikan dalam keluhan adalah agorafia (fobia terhadap
tempat yang luas dan ramai), akrofobia (fobia terhadap kecuraman), klustrofobia (fobia
terhadap ruang yang sempit). Tension headache yang diwarnai dengan unsur histerik
adalah klavus histerik yaitu sakit kepala yang terpusat pada kalvarium. Sakit kepala
semacam ini hampir selalu disertai gejala globus histerikus yaitu perasaan seolah-olah
tenggorokan dicekik atau kerongkongan tersumbat (12).
Nyeri kepala tension headache bisa berupa suatu aktivitas yang dapat
menyebabkan kepala berada pada 1 posisi dalam jangka waktu lama tanpa bergerak,
sehingga menyebabkan sakit kepala, aktivitas tersebut meliputi pengetikan atau
penggunaan computer, pekerjaan halus dengan tangan dan penggunaan mikroskop.
Tidur di dalam suatu ruangan yang dingin atau tidur dengan posisi leher yang salah
dapat mencetuskan sakit kepala jenis ini (13).

14
1.8. Diagnosis
Tidak ada tes khusus untuk menegakkan diagnosis TTH. Penderita yang
mempunyai riwayat pengobatan dan melakukan pemeriksaan fisik termasuk evaluasi
neurological yang cermat dapat membantu menegakkan diagnosis. Diagnosis pasti
dapat ditentukan dari anamnesa, riwayat medis dan pemeriksaan fisik.

1.9. Penatalaksanaan
Pada nyeri kepala tension headache penatalaksanaan yang dilakukan adalah
sebagai berikut (6,7,8,13,14,15) :

1. Terapi psikofisiologis

Terapi ini dapat berupa terapi relaksasi, program untuk mengatasi stres, serta
tehnik ayap balik hayati (biofeedback). Dengan modalitas terapi tersebut, frekuensi
tension headache serta beratnya penyakit dapat berkurang. Strategi pengelolaan stress
mungkin sangat menolong pada tension headache. Perubahan cara hidup mungkin
diperlukan untuk nyeri kepala tension headache kronik. Cara tersebut meliputi istirahat
yang cukup dan latihan, perubahan dalam pekerjaan atau kebiasaan relaksasi ataupun
perubahan yang lain
2. Fisioterapi

Terapi ini berupa latihan pengendoran otot-otot, misalnya latihan relaksasi,


yoga, semedi, diatermi, kompres hangat, TENS (Transcutaneus electrical nerve
stimulation) ataupun terapi akupuntur. Terapi fisik dan teknik relaksasi ini dapat
memberikan keuntungan pada kasus-kasus khusus.
3. Farmakoterapi

Terdiri atas terapi abortif yang bertujuan untuk menghentikan atau mengurangi
serangan penyakit pada tension headache tipe episodik, serta terapi
pencegahan/preventif untuk terapi jangka panjang yang bermanfaat pada tension
headache kronik, namun dapat juga digunakan pada tension headache tipe episodik.
Obata-obatan yang dapat digunakan pada pengobatan tension headache yaitu :

a. Analgetikum /Non Streoid Anti Infalammatory Drugs (NSAIDs), dapat


menghilangkan rasa nyeri kepala ringan dan sedang, bila sebelumnya diberi obat yang
memacu gastrointestinal. Obat-obat yang dapat digunakan yaitu :

15
Asam Asetilsalisilat 500 mg tablet dengan dosis 1500 mg/hr
Metampiron 500 mg tablet dengan dosis 1500 mg/hr
Glafein 200 mg tablet dengan dosis 600-1200 mg/hr
Asam Mefenamat 250-500 mg tablet dengan dosis 750-1500 mg/hr
Ibuprofen 400-800 mg tablet dengan dosis < 2400 mg/hr
b. Hipnotik-sedatif/antiansietas. Kerjanya terutama merupakan potensiasi inhibisi
neuron dengan asam gamma-aminobutirat (GABA) sebagai mediator. Efek sampingnya
berupa inkoordinasi motorik, ataksia, gangguan fungsi mental dan psikomotor,
gangguan koordinator berpikir, bingung, disartria, mulut kering dan rasa pahit. Obat-
obat yang dapat digunakan yaitu :
Klordiazepoksid 5 mg tablet dengan dosis 15-30 mg/hr
Klobazam 10 mg tablet dengan dosis 20-30 mg/hr
Lorazepam 1-2 mg tablet dengan dosis 3-6 mg/hr
Diazepam 2-5 mg tablet dengan dosis 2-10 mg/hr
c. Antidepresan. Cara kerjanya dengan memblokade pengambilan kembali
noradrenalin dan memblokade aktivitas kolinergik, adrenergik, dan reseptor
histamin. Efek sampingnya adalah mengantuk, mulut kering, mata kabur dan sukar
berak. Obat-obatan yang dapat digunakan misalnya :

Amitriptilin 10/25 mg tablet dengan dosis 150-300mg/hr


Maprotiline 25/50/75 mg tablet dengan dosis 25-75 mg/hr
Amineptine 100 mg tablet dengan dosis 200 mg/hr
d. Antagonis serotonin, sebaiknya diberikan dalam bentuk sediaan injeksi atau spray
nasal, jika pemberian oral tidak memungkinan saat ada gejala mual atau muntah.
Golongan obat ini bekerja dengan cara meningkatkan kadar neurotransmitter
serotonin di otak. Obat yang digunakan yaitu :

Metysergid 2 mg tablet dengan dosis 4-6 mg/hr


Sumatriptan 100 mg tablet dengan dosis 300 mg/hr
Fluoksetin 10 mg tablet dengan dosis maksimal 60 mg/hr
e. Agonis selektif reseptor 2, obat yang digunakan yaitu tizanidin. Cara kerjanya
adalah dengan mencegah mengecilnya dan melebarnya pembuluh darah secara
abnormal. Bekerja pada rangsangan sentral neuron-neuron penghambat. Efek

16
sampingnya adalah mengantuk, mulut kering dan depresi. Beberapa penelitian
menyatakan bahwa tizanidin ternyata efikasius, aman dan dapat ditoleransi pada
terapi profilaksis nyeri kepala harian.

Serangan akut berespon terhadap aspirin dan obat AINS lainnya seperti asam
asetilsalisilat, metampiron maupun asam mefenamat. Untuk tindakan profilaksis
diberikan pengobatan amitriptilin, atau pemberian kembali inhibitor selektif serotonin
dan tizanidin sangat berguna dalam beberapa kasus. Meski banyak pasien berespon
terhadap benzodiazepin seperti diazepam, obat-obat ini harus dibatasi penggunaannya
karena memiliki potensi adiktif (6,7,8).
Selain ketiga jenis terapi diatas adapula cara-cara lain yang bisa digunakan
untuk meredakan nyeri pada tension headache, diantaranya yaitu (6,7) :
1. Botulinum toksin A (BTX A), adalah obat yang poten untuk beberapa penyakit berat
yang berhubungan dengan kenaikan tonus otot. Meskipun mekanismenya belum
diketahui secara pasti, diduga BTX A mempunyai target menurunkan Substance P, dan
sebagai relaksan otot.
2. Injeksi dengan anastesi lokal, misalnya injeksi prokain, prokain-kofein kompleks,
lidokain dan lain-lain, atau yang lebih dikenal dengan istilah injeksi trigger point, yang
juga membantu mempercepat penyembuhan.
1.10. Pencegahan
Pencegahan yang dilakukan pada nyeri kepala Tension Headache ini dapat
berupa teknik relaksasi pencegahan dan penghindaran situasi stress. Pada beberapa
orang, suatu pengobatan sehari dapat membantu, secara khas dapat digunakan Trisiklik
antidepresan, bahkan untuk orang-orang tanpa depresi (5).
Pencegahan lain meliputi penggunaan bantal yang berbeda atau mengubah
posisi tidur, posisi saat membaca harus benar, saat bekerja atau melakukan aktivitas lain
yang dapat menyebabkan sakit kepala. Latihan leher dan bahu harus sering terutama
saat mengetik, menggunakan computer atau pekerjaan lain. Selain itu juga harus cukup
tidur dan istirahat atau pemijitan otot dapat mengurangi sakit kepala. Mandi atau
berendam air panas/dingin dapat membebaskan sakit kepala untuk sebagian orang (13).
Nyeri kepala Tegang Tension Headache dapat berkurang atau membaik dengan
beberapa cara antara lain (11) :
- Obat vasodilator

17
- Obat analgetik
- Kombinasi Kafein-analgetik
- Relaksasi dan masage tengkuk
- Relaksasi volunter pada otot kering dan mandibula

1.11. Prognosis
Prognosis dari Tension Headache umumnya memberikan respon yang baik
terhadap pengobatan tanpa pengaruh efek sisa (11).

18
DAFTAR PUSTAKA

1. Bennett, G. Cecil Textbook of Medicine 21st Edition Vol.2. Saunders Company,


Philadelphia; 2012. p.2066-2069

2. Ambre, J.J. 2013. Drug Evaluations Annual. American Medical Association,


Chicago; 2013. p.133-136.

3. Mardjono. Neurologi Klinis Dasar. Dian Rakyat, Jakarta; 2014.p.90-91

4. Price, S.A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. EGC,


Jakarta; 2010.h.975

5. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid II. Media
Aesculapius FKUI, Jakarta; 2014.h.41-43

6. Wibowo, Samekto dan Abdul Gofir. Farmakoterapi dalam Neurologi. Salemba


Medika, Jakarta; 2010.h.108-111

7. A.A.Bgs.Ngr.Nuartha, Harsono et al. Kapita Selekta Neurologi Edisi Kedua.


Gajah Mada University Press, Yogyakarta; 2014.h.243-244

8. Singh, Manish K. Muscle Contraction Tension Headache. http://emedicine.com//


Diakses pada tanggal 30 Mei 2017

9. Bendtsen L. Central Sensitization in Tension type Headache-Possible


Pathophysiological Mechanisms. Cephalalgia 2010;20:486-508

10. Bolay H, Moskowitz MA. Mechanism of Pain Modulation in Chronic Syndromes.


Neurology 2002;59:52-57

11. Hadinoto S. Simposium Nyeri Kepala dan Sindrom Nyeri Lain yang Berhubungan.
Edisi Pertama. Penerbit : Panitia Simposium Nyeri Kepala IDASI Cabang
Semarang. Semarang. 2015

12. Sidharta, Priguna. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. Dian Rakyat, Jakarta;
2014.h.17-21

13. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000797.htm. Diakses pada


tanggal 30 Mei 2017

14. Sinta, Meta, Tony Handoko, Sardjono, Freddy W, FD Suyatna, Udin S et al.
Farmakologi dan Terapi Edisi 4. FKUI. Jakarta; 2014.h.109-270

19
15. Dodick, David W. Chronic Daily Headache. NEJM 2006:354:2:158-165

16. Hardjasaputra, P.S.I. Data Obat di Indonesia (DOI) Edisi 10. Grafidian
Medipress, Jakarta; 2002

20