Anda di halaman 1dari 32

TUGAS AKHIR AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN

Mata Kuliah
Al-Islam Kemuhammadiyahan

Dosen Pengampu:
Drs. Muh Natsir, S.E., M.Si

Disusum oleh:
Ari Trisnawati (14.0102.0046)
14 Akuntansi A

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. wb.

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat,
karunia, dan pertolongan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas akhir AIK (Al-
Islam Kemuhammadiyahan) ini sebagai syarat untuk memperoleh nilai Mata Kuliah AIK (Al-
Islam Kemuhammadiyahan) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah
Magelang.
Kami menyadari bahwa penulisan tugas akhir makalah ini masih terdapat kekurangan
dan kelemahan, untuk itu saran dan kritik yang sifatnya membangun akan kami terima, demi
kesempurnaan tugas akhir ini.
Akhir kata, semoga tugas akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya
dan penyusun pada khususnya.

Wassalamualaikum wr. wb.

Magelang, Juni 2017

Penulis
BAB 1
QIRADH

A. PENGERTIAN QIRADH
Qiradh berasal dari al qardhu atau al qathu yang berarti potonang, karena pemilik
memotong sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan memperoleh sebaian
keuntungannya. Qiradh adalah pemberian kepada orang lain untuk dijadikan modal
usaha dengan harapan memperoleh keuntungan yang akan dibagi sesuai dengan
perjanjian bersama. Dengan adanya qiradh, seseorang yang mempunyai keahlian usaha
tetapi tidak memiliki modal akan dapat tertolong, sehingga modalnya tidak habis dan
memperoleh keuntungan bersama.

B. HUKUM QIRADH
Hukum qiradh adalah mubah, bahkan dianjurkan dalam agama islam, dikarenakan
dalam qiradh terdapat unsur tolong-menolong. Landasan hukum qiradh yaitu:
1. Al Quran
2. Hadits
Abu Hurairah berkata: Rasulullah SAW telah bersabda barang siapa melepaskan
dari seorang muslim satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah
melepaskan dia dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa memberi
kelonggaran pada seseorang yang kesusahan, niscaya Allah akan memberi
kelonggaran di dunia dan akhirat, dan barang siapa menutupi (aib) seorang muslim,
niscayaAllah menutupi (aib)nya di dunia dan akhirat. Dan Allah selamanya
menolong hamba-Nya, selama hamba-Nya mau menolong saudaranya.
3. Ijma

C. KONSEP DASAR QIRADH


1. Uang bukan komodity tetapi sebaai alat tukar
2. Tidak mengakui time value for money
3. Tidak boleh praktik spekulasi
4. Harta harus berputar
5. Mencari nifkah hukumnya wajib dan ibadah
6. Berlaku adil dan transparan
D. RUKUN DAN SYARAT QIRADH
Rukun Syarat
Pemberi modal dan Dewasa, sehat akal dan sama-sama rela. Pinjaman atau modal
penerima modal hendaknya dari orang ang memang sah memberikan pinjaman
atau modal
Objek pinjaman Harus diketahui secara jelas (jumlahnya)/ kadar ukuran baik
(barang/uang) oleh pemilik maupun penerima. Jika barang pinjaman berupa
binatang, maka harus diketahui sifat dan umurnya
Keuntungan Besar kecilnya bagian keuntungan hendaknya dibicarakan saat
mengadakan perjanjian.

E. LARANGAN DALAM QIRADH


1. Melanggar perjanjian atau akad qiradh
2. Menggunkan modal untuk kepentingan diri sendiri
3. Mengambur-hamburkan modal usaha
4. Menggunakan modal untuk perdagangan yang diharamkan syara

F. PROSEDUR QIRADH
1. Pinjaman harus dimiliki melalui penerimaan (ijab qabul), sehingga ketika pihak
peminjam menerima pinjamannya, maka ia menjadi penanggung jawab. Pinjaman
boleh ditentukan batas waktunya dan pihak yang meminjami tidak berhak menagih
sebelum habis masa perjanjian.
2. Jika barang pinjaman masih tetap seperti pertama kali dipinjamkan maka harus
dikembalikan dalam keadaan semula. Sedangkan jika berubah dengan
pengembaliannya dengan barang yang serupa, jika tidak ada cukup seharga barang
yang dipinjam.
3. Bila pengangkutan uang (barang) untuk pembayaran uang tidak tejamin
keamanannya, maka pembayaran boleh dilaksanakan di luar ketentuan semula, sesuai
dengan kehendak yang meminjamkan.
4. Pihak yang meminjamkan diharamkan mengambil riba dalam pinjaman tersebut.
G. HIKMAH QIRADH
1. Terwujudnya tolong-menolong sebab tidak jarang orang yang punya modal tetapi
tidak punya keahlian berdagang atau sebaliknya punya keahlian berdagang namun
tidak memiliki modal.
2. Salah satu perilaku ibadah yang lebih mendekatkan diri pada rahmat Allah SWT
karena dapat melepaskan kesulitan orang lain yang sangat membutuhkan
pertolongan.
3. Bagi yang mengqiradhkan akan diberikan pahala dan akan dimudahkan oleh Allah
SWT baik urusan dunia maupun urusan akhirat.
4. Terciptanya kerjasama antara pemberi modal dan pelaksanaan yang pada akhirnya
dapat menumbuhkan dan memperkembangkan perekonomian umat.
5. Terbinanya pribadi-pribadi yang taaruf (rasa dekat) antara keduanya.
6. Yang memberikan pinjaman modal akan mendapatkan keunggulan pahala hingga
delapan belas kali lipat dibandingkan dengan sedekah yang hanya sepuluh kali.
BAB 2
MUDHARABAH

A. PENGERTIAN MUDHARABAH
Mudharabah berasal dari kata al dharb yang berarti adalah bepergian atau
berjalan. Pengertian mudharabah menurut para ulama sebagai berikut:
1. Menurut Hanafiah, mudharabah adalah memandang tujuan dua pihak yang berakad
yang berserikat dalam keuntungan atau laba, karena harta diserahkan kepada yang
lain dan yang lainnya punya jasa mengelola harta tersebut.
2. Menurut Malikiyah, mudharabah adalah akad perwakilan, di mana pemilik harta
mengeluarkan hartanya kepada yang lain untuk diperdagangkan dengan pembayaran
yang ditentukan (emas dan perak)
3. Menurut Imam Hanabila, mudharabah adalah ibarat pemilik harta menyerahkan
hartanya dengan ukuran tertentu pada orang yang berdagang dengan bagian dari
keuntungan yang diketahui.
4. Menurut Ulama Syafiiyah, mudharabah adalah akad yang menentukan seseorang
menyerahkan hartanya kepada pihak lain untuk ditijarahkan.
5. Menurut para Fuqaha, mudharabah adalah akad antara dua pihak saling menanggung,
salah satu pihak menyerahkan hartanya bagi pihak lain untuk diperdagangkan dengan
bagian yang telah ditentukan dari keuntungan, seperti setengah atau sepertiga dengan
syarat-syarat yang telah ditentukan.
Jadi mudharabah adalah sebuah perjanjian di antara paling sedikit dua pihak di mana
satu pihak,pemilik modal (shahib al mal atau rabb al mal) memercayakan sejumlahdana
kepada pihak lain, pengusaha (mudharib),untuk menjalankan suatu aktivitas atau usaha.

B. DASAR HUKUM MUDHARABAH


1. Al Quran
a. QS. Al Nisa ayat 29, yang berarti Hai orang yang beriman! Janganlah kalian
saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu
b. QS. Al Maidah ayat 1, yang berarti Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-
akad itu
c. QS. Al Baqarah ayat 283, yang berarti Maka jika sebagian kamu mempercayai
sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya
d. QS. Al Muzzamil ayat 20 yang berarti Dia mengetahui bahwa akan ada di
antara kamu orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
Allah dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah
2. Hadits
HR.Ibnu Majah bersabda Tiga hal yang didalamnya ada keberkaan, ialah jual
beli dengan tempo, akad qiradl, dan mencampur gandum dengan gandum syair
untuk (makanan) di rumah dan tidak untuk dijual
3. Ijma
Jamaah dari sahabat menggunakan harta anak yatim untuk mudharabah.
Perbuatan tersebut tidak ditentang oleh sahabat yang lainnya.
4. Qiyas
Dengan adanya mudharabah ditujukan antara lain untuk memenuhi kebutuhan
kedua golongan diatas, yakni untuk kemaslahatan manusia dalam rangka memenuhi
kebutuan mereka.
Ketentuan hukum mudharabah antara lain:
1. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu
2. Kontrak tidak boleh dikaitkan (muallaq) dengan sebuah kejadian di masa depan
yang belum tentu terjadi
3. Pada dasarnya, dalam mudharabah tidak ada ganti rugi, karena akad mudharabah
bersifat amanah, kecuali akibat dari kesalahan disengaja, kelalaian, atau pelanggaran
kesepakatan
4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau tidak terjadi perselisihan
di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan
Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah

C. JENIS-JENIS MUDHARABAH
1. Mudharabah Muthlaqah
Adalah bentuk kerjasama antara shahibul mal dan mudharib yang cakupannya
sangat luas dan tidak dibatasi oleh jenis usaha, waktu, tempat, perusahaan, dan
pelanggan.
2. Mudharabah Muqayayadah
Adalah kebalikan dari mudharabah muthlaqah, mudharib dibatasi dengan jenis
usaha, waktu, dan tempat usaha.
Jenis-jenis mudharabah muqayyadah dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Mudharabah muqayyadah on balance sheet (investasi terikat), yaitu pemilik dana
membatasi atau memberi syarat kepada mudharib dalam pengelolaan dana seperti
misalnya hanya melakukan mudharabah bidang tertentu, cara, waktu, dan tempat
tertentu saja.
b. Mudharabah muqayyadah of balance sheet, merupakan jenis mudharabah di
mana penyaluran dana mudharabah langsung kepada pelaksana usahanya di mana
bank bertindak sebagai perantara yang mempertimbangkan antara pemilik dana
dengan pelaksana usaha.

D. RUKUN DAN SYARAT MUDHARABAH


1. Penyedia dana (sahibul mal) dan pengelola (mudharib), pihak yang terlibat harus
cakap hukum
2. Pernyataan ijab dan qabul, harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan
kehendak mereka dalam mengadakan kontrak atau akad, dengan memperhatikan hal-
hal berikut:
a. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak
atau akad
b. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontak
c. Akad dituangkan secara tertulis, melalui korespondensi atau dengan
menggunakan cara-cara komunikasi modern
3. Modal, adalah sejumlah uang atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kpada
mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya
b. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai
c. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib,
baik secara bertahap maupun tidak, sesuai dengan kesepakatan dalam akad
4. Keuntungan mudharabah, adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal,
syarat keuntungan yang harus dipenuhi antara lain:
a. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk
satu pihak
b. Bagian keuntungan proprosional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan
pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari
keuntungan sesuai kesepakatan
c. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah dan
pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari
kesalahan disengaja, kelalaian atau pelanggaran kesepakatan
5. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib), sebagai perimbangan modal yng
disediakan oleh penyedia dana harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Kegiatan usaha adalah hak ekslusif mudharib, tanpa campur tangan penyedia
dana, tetapi mempunai hak untuk melakukan pengawasan
b. Penyedia dana tidak bolehg mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa
yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah
c. Pengelola tidak boleh menyalahi hukum syariah islam dalam tindakannya yang
berhubungan dengan mudharabah dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku
dalam aktivitas tersebut

E. MANFAAT MUDHARABAH
1. Bank akan menikmati bagi hasil saat keuntungan usaha nasabah meningkat
2. Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan secara
tetap, tetapi disesuaikan dengan pendanaan/hasil usaha bank hingga bank tidak akan
pernah mengalami negatif spreade
3. Penambilan pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow/arus kasusaha nasabah
sehingga tidak memberatkan nasabah
4. Bank akan lebih selektif dan hati-hati mencari usaha yang benar-benar halal, aman,
menguntungkan karena keuntungan yan konkret dan benar-benar terjadi itulah yang
akan dibagikan
5. Prinsip bagi hasil dalam mudharabah berbeda denan prinsip bunga tetap di mana
bank akan menaih penerimaan pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga tetap
berapapun keuntunan yang dihasilkan nasabah, baik rui dan terjadi krisis ekonomi

F. RISIKO MUDHARABAH
1. Side streaming: nasabah menunakan dana bukan yang disebut dalam kontrak
2. Lalai dan kesalahan yang disengaja
3. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur
BAB 3
MUSYARAKAH

A. PENGERTIAN MUSYARAKAH
Musyarakah atau syirkah berasal dari fiil madhi yang berarti sekutu atau teman
perseroan, perkumpulan, perserikatan. Syirkah dari segi etimologi berarti campur atau
percampuran, yang berarti seorang mencampurkan hartanya dengan harta orang lain
sehingga antara bagian yang satu dengan lainnya sulit unuk dibedakan lagi.

B. DASAR HUKUM MUSYARAKAH


1. Al Quran
a. QS. As Shaad ayat 24 yang berarti Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-
orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dzalim kepada sebagian yang
lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh
b. QS. An Nisa ayat 12 yang berarti Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih
dari seorang, maka mereka bersekuu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi
wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak
memberi madhorot
2. Hadits
HR. Abu Dawud berkata Dari Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW
bersabda:Allah SWT berfirman: Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang
sedang berserikat selama salah satu dari keduanya tidak khianat terhadap
saudaranya (temannya). Apabila diantara mereka ada yang berkhianat, maka Aku
akan keluar dari mereka

C. RUKUN MUSYARAKAH
1. Shigat (lafal) ijab dan qabul
2. Pelaku akad, yaitu mitra usaha
3. Obyek akad, yaitu modal (mal), kerja (dharabah), dan keuntungan (ribh)

D. SYARAT MUSYARAKAH
1. Harus mengenai tasharuf yang dapat diwakilkan
2. Pembagian keuntungan jelas
3. Pembagian keuntungan tercantun kepada kesepakatan, bukan kepada besar kecilnya
modal atau kewajiban

E. MACAM-MACAM MUSYARAKAH ATAU SYIRKAH


1. Syirkah al milk
Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat atau kondisi lainnya yang
mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah
ini, kepemilikan dua orang atau lebih berbagi dalam sebuah aset nyata dan berbagi
keuntungan yang dihasilkan aset tersebut.
2. Syirkah akad
Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan di mana dua orang atau
lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah dan
sepakat berbai keuntungan dan kerugian. Syirkah akad dibedakan menjadi empat,
yaitu:
a. Syirkah al-inan, adalah kontrak antara dua oran atau lebih, setiap pihak
memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja.
Kedua pihak melakukan bagi hasil, namun porsi masing-masing pihak tidak harus
sama dan identik sesuai dengan kesepakatan mereka.
b. Syirkah mufawadhah, adalah kontrak kerjasama antara dua orang atau lebih,
setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi
dalam kerja, dengan keuntungan dan kerugian yang sama.
c. Syirkah amaal, adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima
pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari pekerjaan itu.
d. Syirkah wujud, adalah kontrak antara dua orang ayu yang memiliki reputasi dan
prestasi baik serta ahli dalam bisnis.

F. BERAKIRNYA SYIRKAH
1. Salah satu pihak membatalkan kesepakatannya meskipun dari pihak yang lainnya
2. Salah satu pihak kehilangan kemampuan dalam bertasharruf (kehilangan mengelola
harta)
3. Salah satu pihak meninggal dunia, namun bila yang bersyirkah lebih dari dua orang,
maka yang berakhir hanya yang meninal saja
4. Salah satu pihak berada dalam penampunan
5. Salah satu pihak menalami kebangkrutan yang mengakibatkan tidak lagi menguasahi
harta yang menjadi saham syirkah
6. Modal para pihak yang bersyirkah hilang sebelum terjadi pencampuran harta hingga
tidak lagi dapat dipisakan lagi

G. APLIKASI MUSYARAKAH DALAM PERBANKAN


1. Pembiayaan proyek
Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan di mana nasabah dan bank
sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu
selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama hasil yang telah disepakati.
2. Modal ventura
Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melalui investasi dalam
kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura.

H. MANFAAT SYIRKAH DALAM PERBANKAN


1. Bank akan menikmati peningkatan dalam jumlah tertentu pada saat keuntungan usaha
meningkat
2. Bank tidak berkewajiban membayar dalam jumlah tertentu kepada nasabah
pendanaan secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau hasil usaha
sehingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread
3. Pengembalian pokok pembiayaan disesuaikan dengan cash flow atau arus kas usaha
nasabah, sehingga tidak memberatkan nasabah
4. Bank akan lebih efektif dan hati-hati mencari usaha yang halal, aman, dan
menguntungkan, karena keuntungan yang riil dan benar terjadi yang akan dibagikan
5. Prinsip bagi hasil dalam musyarakah berbeda dengan prinsip bunga tetap di mana
bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu jumlah bunga, tetapi
berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah bahkan sekalipun merugi dan terjadi
krisis ekonomi

I. RISIKO SYIRKAH DALAM PERBANKAN


1. Side streming, nasabah menggunakan dana bukan seperti yang disebutkan dalam
kontrak
2. Lalai dan kesalahan yang disengaja
3. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabahnya tidak jujur
BAB 4
CAMPUR TANGAN NEGARA DALAM EKONOMI ISLAM

A. RASIONALISASI PERAN PEMERINTAH


Peranan pemerintah dalam perekonomian yang islami memiliki dasar rasionalitas
yang kokoh. Dalam pandangan islam, peran pemerintah didasari oleh argumentasi-
argumentasi berikut:
1. Derivasi dari konsep kekhalifahan
2. Konsekuensi adanya kewajiban kolektif (fard al kifayah)
3. Adanya kegagalan pasar dapat merealisasikan falah

Pemerintah adalah pemegang amanah Allah SWT untuk menjalankan tugas-tugas


kolektif dalam mewujudkan kesejateraan dan keadilan serta tata kehidupan yang baik
bagi seluruh umat. Fard al kifayah merupakan suatu kewajiban yang ditujukan kepada
masyarakat, di mana jika kewajiban ini dilanggar maka seluruh masyarakat akan
menanggung dosa sementara jika telah dilaksanakan (bahkan hanya satu orang), maka
seluruh masyarakat akan terbebas kewajiban tersebut. Pemerintah dapat memiliki
peranan penting dalam menjalankan fardh al kifayah karena kemungkinan masyarakat
gagal untuk menjalankannya atau tidak dapat melaksanakannya dengan baik.
Kemungkinan kegagalan masyarakat dalam menjalankan fardh al kifayah disebabkan
beberapa hal yaitu:
1. Kekurangan informasi
2. Pelanggaran moral
3. Kekurangan sumber daya atau kesulitan teknik

B. RUANG LINGKUP PERAN PEMERINTAH


1. Upaya mewujudkan ekonomi Islam secara keseluruhan
Sebagai pengemban amanah dari Allah SWT dan masyarakat, maka secara umum
tujuan peran pemerintah adalah menciptakan ke maslahaan bagi seluruh masyarakat.
2. Upaya mewujudkan konsep dasar yang Islami
Pemerintah bukan hanya bertindak sebagai wasit atas permainan pasar, tetapi ia akan
berperan aktif bersama pelaku-pelaku pasar yang lain.
C. BENTUK CAMPUR TANGAN PEMERINTAH
1. Membuat dan melaksanakan peraturan dan undang-undang
a. Menciptakan suasana ekonomi sosial yang akan memberikan galakan ke arah
terciptanya sistem mekanisme pasar yang lancar
b. Memastikan agar persaingan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
dilakukan sebebas mungkin dan kekuasaan monopoli sedapat mungkin
dilenyapkan
2. Secara langsung melakukan beberapa kegiatan ekonomi
a. Memproduksi barang publik
b. Menjamin supaya barang atau jasa dapat disediakan kepada masyarakat dengan
harga yang murah, tetapi tanpa mengurangi efisiensi pelayanan
c. Meratakan atau menyeimbangkan pembangunan di antara berbagai golongan
masyarakat
3. Melakukan kebijakan fiskal dan moneter
a. Mengatasi masalah-masalah pokok makroekonomi yang timbul
b. Menjamin agar faktor produksi digunakan dan dialokasikan ke berbagai kegiatan
ekonomi yang memuaskan
c. Memperbaiki keadaan distribusi pendapatan yang tidak seimbang yang selalu
tercipta dalam masyarakat yang kejadian ekonominya diatur oleh sistem pasar
bebas

D. PERAN PEMERINTAH BERKAITAN DENgAN IMPLEMENTASI MORALITAS


ISLAM
1. Memastikan dan menjaga implementasi nilai dan moral islam secara keseluruhan
2. Memastikan dan menjaga agar pasar hanya memperjualbelikan barang dan jasa yang
halal thayyibah
3. Melembagakan nilai persaingan yang sehat, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan
4. Menjaga agar pasar hanya menyediakan barang dan jasa sesuai dengan prioritas
kebutuhan sebagaimana diajarkan dalam syariat Islam dan kepentingan
perekonomian nasional

E. PERAN PEMERINTAH YANG BERKAITAN DENGAN MEKANISME PASAR


1. Secara umum memastikan dan menjaga agar mekanisme pasar dapat bersaing dengan
sempurna
2. Membuat berbagai langkah untuk meningkatkan daya saing dan daya beli dari para
pelaku pasar yang lemah, misalnya produsen kecil dan konsumen miskin
3. Mengambil berbagai kebijakan untuk menciptakan harga yang adil, terutama
seandainya persaingan yang sempurna tidak dimungkinkan terjadi pada pasar

F. INSTRUMEN KEBIJAKAN
1. Manajemen produksi dan ketenagakerjaan di sektor publik pemerintah dapat
berperan aktif dalam mengelola kekayaan publik di mana masyarakat gagal
mengelolanya
2. Instrumen yang berkaitan dengan upaya mendorong kegiatan sektor swasta, misalnya
menetapkan regulasi bagi sektor swasta, perlindungan bagi masyarakat lemah
3. Pricing policy, negara meregulasi harga dengan cara intervensi pasar, penetapan
harga, atau mendorong kebijakan diskriminasi harga untuk kelompok masyarakat,
daerah atau sektor tertentu yang dipandang merupakan kepentingan publik
BAB 5
ASURANSI DAN JAMINAN SOSIAL DALAM ISLAM

A. SEJARAH AWAL ASURANSI


1. Tahun 2250 SM bangsa Babylonia
Seorang pemilik kapal memerlukan dana untuk mengoperasikan kapalnya atau
melakukan suatu usaha dagang, ia dapat meminjam uang dari seorang saudagar
dengan menggunakan kapalnya sebagai jaminan dengan perjanjian bahwa si pemilik
kapal dibebaskan dari pembayaran hutangnya apabila kapal tersebut selamat sampai
tujuan, di samping sejumlah uang sebagai imbalan atas risiko yang telah dipikul oleh
pemberi pinjaman.
2. Tahun 215 SM
Pemerintah Kerajaan Romawi didesak oleh para supplier perlengkapan dan
perbekalan tentara kerajaan untuk menerima konsep yang melindungi mereka
terhadap segala risiko kerugian yang mereka derita atas barang-barang mereka yang
berada di kapal sebagai akibat dari bahaya maritim seperti serangan musuh dan
badai.
3. Tahun 50 SM
Cicero memberi penjelasan tentang praktek pemberian proteksi atau jaminan
terhadap keselamatan pengiriman uang dan surat berharga selama dalam perjalanan.
Sebagai imbalan maka pihak yang diberi proteksi memberikan semacam balas jasa
berupa uang premi kepada pihak pemberi proteksi.
4. Tahun 50 SM 200 M
Kaisar Claudius mengeluarkan suatu jaminan kepada importir terhadap semua
kerugian yang mereka derita akibat angin badai, hal tersebut dikenakan premi. Tahun
200 M di Romawi terdapat perkumpulan collegia yang merupakan kegiatan sosial
mengumpulkan dana untuk biaya pemakaman angotana yang meninggal atau gugur
di medan perang.
5. Tahun 1194 1266 M
Munculnya sistem gilda, yaitu perkumpulan orang yang mempunyai profesi
sama. Tujuan sistem gilda sama dengan collegia. Sehingga muncul undang-undang
asuransi yang tercantum dalam Rolesde Oleron
6. Tahun 1688 M di Coffee House London
Berdiri Lloyd of London sebagai cikal bakal asuransi konvensional. Sumber
asuransi adalah hukum positif, hukum alami dan contoh yang ada sebelumnya
sebagaimana kebudayaan.

Sejarah Asuransi Syariah di Indonesia:


Asuransi syariah pertama kali di Indonesia tahun 1994, yaitu PT Syarikat Takaful
Indonesia (STI) yang dimotori oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
melalui Yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia, PT Asuransi Jiwa Tugu
Mandiri, Departemen Keuangan RI, serta beberapa pengusaha muslim Indonesia.

B. PENGERTIAN ASURANSI
Dari bahasa Belanda, asuransi disebut assurantie yang terdiri dari kata
assaradeuryang berarti penanggung dan geassureede yang berarti tertanggung.
Dalam bahasa Inggris disebut insuranceyang berarti menanggung sesuatu yang
mungkin berarti atau tidak mungkin terjadi dan assuranceyang berarti menanggung
sesuatu yang pasti terjadi. Asuransi dalam bahasa Arab disebut at taimin yang berasal
dari kata amanah yang berarti memberikan perlindungan, ketenangan, rasa aman, serta
bebas dari rasa takut. Mentaminkan sesuatu berarti seseorang memberikan uang cicilan
agar ia atau orang yang ditunjuk menjadi ahli warisnya mendapatkan ganti rugi atas
hartanya yang hilang. Pihak yang menjadi penanggung asuransi disebut muamin dan
pihak yang menjadi tertanggung disebut muamman lahu atau mustamin.

C. LANDASAN FILOSOFI ASURANSI SYARIAH


1. Al Quran
a. QS. Al Baqarah ayat 188, Allah berfirman ... dan janganlah kalian memakan
harta di antara kamu sekalian dengan jalan yang bathil dan janganlah kalian
bawa urusan harta itu kepada hakim yang dengan maksud kalian hendak
memakan sebagian harta orang lain dengan jalan dosa padahal kamu tahu
b. QS. Al Hasyr ayat 18, yang berarti Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan kenapa yang telah
diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang engkau kerjakan
c. QS. An Nisa ayat9, yang artinya Dan hendaklah takut kepada Allah orang-
orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah,
yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu,
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar
2. Ijtihad
Fatwa sahabat, praktik sahabat berkenaan dengan pembayaran hukuman (ganti rugi)
pernah dilakukan oleh khalifah kedua, Umar bin Khatab.
3. Ijma

D. PRINSIP ASURANSI SYARIAH


1. Prinsip tauhid
2. Prinsip keadilan
3. Prinsip tolong-menolong
4. Prinsipkerjasama
5. Prinsip amanah
6. Prinsip saling ridha
7. Prinsip menghindari riba
8. Prinsipmenghindari maisir
9. Prinsip menghindari gharar
10. Prinsip mengindari risywah

E. PERBEDAAN ASURANSI SYARIAH DAN ASURANSI KONVENSIONAL


Prinsip Asuransi Syariah Asuransi Konvensional
Konsep Sekumpulan orang yang saling Perjanjian antara dua pihak atau
bantu membantu, saling lebih, di mana pihak penanggung
menjamin, dan saling bekerja mengikatkan diri kepada
sama antara satu dengan lainnya, tertanggung, dengan menerima premi
dengan cara masing-masing asuransi, untuk memberikan
mengeluarkan dana tabarru pergantian kepada tertanggung
Asal-usul Dari Al Aqilah, kebiasaan suku Dari masyarakat Babilonia 4000-
Arab jauh sebelum Islam datang. 3000 SM (perjanjian Hammurabi).
Kemudian disahkan oleh Dan tahun 1668 M di Coffee House
Rasulullah menjadi hukum islam, London berdiri Lloyd of London
bahkan telah tertuang dalam sebagai cikal bakal asuransi
konstitusi pertama di dunia
Sumber Bersumber dari wahyu ilahi Bersumber dari pikiran manusia dan
hukum kebudayaan
Magrib Bersih dari adanya praktek Tidak selaras dengan syariah islam
(Maisir, maisir, gharar, dan riba karena adanya maisir, gharar, dan
gharar, riba
riba)
Dewan Ada, yang berfungsi untuk Tidak ada, sehingga dalam banyak
pengawas mengawasi pelaksanaan prakteknya bertentangan dengan
syariah operasional perusahaan agar kaidah syara
terbebas dari prakekmuamalah
yang bertentangan dengan prinsip
syariah
Akad Akad tabarru dan akad tijarah Akad jual beli
Pengelola Pada produk saving(life) terjadi Tidak ada pemisahan dana,
dana pemisahan dana, sedangkan term yangberakibat pada terjadinya dana
insurance (life) dan general hangus
insurance semuanya bersifat
tabarru
Investasi Dapat melakukan investasi sesuai Bebas melakukan investasi dalam
ketentuan perundang-undangan, batas-batas ketentuan perundang-
sepanjangan tidak bertentangan undangan dan tidak terbatasi pada
dengan prinsip syariah islam halal dan haramnya objek atau sistem
investasi yang digunakan
Keuntungan Profit yang diperoleh dari surplus Keuntungan yang diperoleh dari
underwriting, komisi reasuransi, surplus underwriting, komisi
dan hasil investasi, bukan reasuransi dan hasil investasi
seluruhnya menjadi milik seluruhnya merupakan keuntungan
perusahaan tetapi dilakukan bagi perusahaan
hasil dengan peserta
F. PRODUK ASURANSI
1. Takaful Individu Saving
a. Takaful dana investasi, suatu bentuk perlindungan unuk perorangan yang
menginginkan dan merencanakan pengumpulan dana dalam mata uang Rupiah
dan USD sebagai dana investasi yang diperuntukkan bagi ahli warisnya jika
ditakdirkan meninggal lebih awal atau bekal hari tua.
b. Takaful dana siswa, suatu bentuk perlindungan untuk perorangan yang
bermaksud menyediakan dana pendidikan, dalam mata uang Rupiah dan USD
untuk anaknya sampai sarjana.
c. Takaful dana haji, suatu bentuk perlindungan untuk perorangan yang
menginginkan dan merencanakan pengumpulan dana dalam mata uang Rupiah
dan USD untuk biaya menjalankan ibadah haji.
d. Takaful dana jabatan, suatu bentuk perlindungan untuk direksi atau pejabat teras
suatu perusahaan yang menginginkan dan merencanakan pengumpulan dana
dalam mata Rupiah dan USD sebagai dana santunan yang diperuntukkan bagi
ahli warisnya jika ditakdirkan meninggal lebih awal atau sebagai dan santunan/
investasi pada saat tidak aktif lagi di tempat kerja.
2. Takaful Individu Non Saving
a. Takaful kesehatan, bagi perorangan dengan menyediakan dana santunan rawat
inap dan operasi bila peserta sakit dan kecelakaan dalam masa perjanjian.
b. Takaful kecelakaan diri, bagi perorangan dengan menyediakan dana santunan
untuk ahli waris bila peserta mengalami musibah kematian karena kecelakaan
dalam masa perjanjian.
c. Takaful al-khairat, bagi perorangan dengan menyediakan dana santunan untuk
ahli waris bila peserta mengalami musibah kematian dalam perjanjian, berbeda
dengan takaful kecelakaan yang sebab kematiannya hanya karena kecelakaan.
3. Takaful Grup
a. Takaful al-khairat dan tabungan haji, program jaminan bagi karyawan yang ingin
menunaikan ibadah haji yang didanai oleh iuran bersama dengan keberangkatan
bergilir.
b. Takaful kecelakaan siswa, jaminan bagi pelajar dari risiko kecelakaan yang
berakibat cacat atau meninggal dunia.
c. Takaful wisata dan perjalanan, jaminan bagi peserta wisata dari risiko
kecelakaanyang mengakibatkan meninggal dunia atau cacat seumur hidup.
d. Takaful kecelakaan grup, jaminan santunan karyawan dalam suatu perusahaan,
organisasi ataupun bentuk perkumpulan lainnya.
e. Takaful pembiayaan, jaminan pelunasan hutang bagi nasabah yang meninggal
dalam masa perjanjian.
4. Takaful Umum
a. Takaful kebakaran, perlindungan dari segala macam kerugian yang disebabkan
oleh api.
b. Takaful kendaraan bermotor, perlindungan kendaraan terhadap kerugian yang
terjadi pada kendaraan bermotor.
c. Takaful rekayasa, perlindungan terhadap kerugian pada pekerjaan pembangunan.
d. Takaful pengangkutan, perlindungan dari segala kerugian barang pada
pengangkutan baik darat, laut, dan udara.
e. Takaful rangka kapal, perlindungan dari kerusakan mesin atau rangka kapal yang
disebabkan oleh kecelakaan atau musibah.

G. MEKANISME KERJA ASURANSI


1. Underwriting
Adalah proses penafsiran jangka hidup seorang calon peserta yang dikaitkan
dengan besarnya risiko untuk menentukan besarnya premi.Peran underwriting yaitu:
a. Mempertimbangkan risiko yang diajukan
b. Memutuskan menerima atau tidak risiko tersebut
c. Menentukan syarat, ketentuan dan lingkup ganti rugi termasuk memastikan
peserta membayar premi sesuai dengan tingkat risiko, menetapkan besarnya
jumlah pertanggungan, lamanya waktu asuransi dan rencana sesuai dengan
tingkat risiko peserta
d. Mengenakan biaya upah pada dana kontribusi peserta
e. Mengamankan profit margin dan menjaga agar perusahaan asuransi tidak rugi
f. Menjaga kestabilan dana yang terhimpun agar perusahaan dapat berkembang
g. Menghindari anti seleksi
h. Memperhatikan pasar kompetitif yang ada dalam ketentuan tarif, penyebaran
risiko dan volume, dan hasil survei
2. Polis asuransi
Adalah surat perjanjian antara pihak yang menjadi peserta asuransi dengan
perusahaan asuransi. Polis asuransi merupakan buki autentik berupa akta mengenai
adanya perjanjian asuransi. Unsur-unsur dalam polis yaitu:
a. Deklarasi, memuat data yang berkaitan dengan peserta.
b. Perjanjian asuransi, memuat pernyataan perusahaan asuransi menyatakan
kesanggupannya mengganti kerugian atas objek asuransi apabila terjadi
kerusakan.
c. Pernyataan polis, memuat kondisi objek, batas waktu pembayaran premi,
permintaan pembatalan polis, prosedur pengajuan klaim, asuransi ganda.
d. Pengecualian, memuat penyebutan dengan jelas musibah apa saja yang tidak
ditutup atau di luar penutupan asuransi.
e. Kondisi pertanggungan, memuat kondisi objek yang diasuransikan.
f. Polis ditandatangani oleh perusahaan asuransi.
3. Premi
Bagi peserta bermanfaat untuk menentukan besar tabungan peserta asuransi,
mendapatkan santunan kebajikan atau dana klaim terhadap suatu kejadiaan yang
mengakibatkan terjadinya klaim, menambahkan investasi pada masa yang akan
datang. Sedangkan bagi perusahaan premi berguna untuk menambah investasi pada
suatu usaha untuk dikelola. Premi asuransi syariah dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Premi tabungan, yaitu bagian premi yang merupakan dana tabungan pemegang
polis yang dikelola oleh perusahaan di mana pemiliknya akan mendapatkan hak
sesuai dengan kesepakatan dari pendapatan investasi bersih. Premi tabungan dan
hak bagi hasil investasi akan diberikan kepada peserta bila yang bersangkutan
dinyatakan berhenti sebagai peserta.
b. Premi tabarru, yaitu sejumlah dana yang dihibahkan oleh pemegang polis dan
digunakan untuk tolong-menolong dan menanggulangi musibah kematian yang
akan disantunkan kepada ahli waris bila peserta meninggal dunia sebelum masa
asuransi berakhir.
BAB 6
PERILAKU EKONOMI KONSUMEN DAN WIRAUSAHA MUSLIM

A. PERILAKU EKONOMI KONSUMEN MUSLIM


1. Perilaku Konsumen Islami
Perilaku konsumen (consumen behavior) mempelajari bagaimana manusia
memilih di antara berbagai pilihan yang dihadapinya dengan memanfaatkan
sumberdaya yang dimiliki sesuai dengan syariat islam. Perilaku konsumen
merupakan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau
organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam
mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang selalu berubah
dan bergerak sepanjang waktu.
2. Teori Perilaku Konsumen
Menurut Ismail Nawawi terdapat beberapa teori yang menjelaskan tentang
perilaku, antara lain:
a. Teori insting, dikemukakan oleh Mc. Dougall, insting merupakan perilaku yang
innate atau perilaku bawaan dan akan mengalami perubahan karena pengalaman
b. Teori dorongan, dorongan berkaitan dengan kebutuhan yang mendorong
organisme untuk berperilaku
c. Teori insentif, insentif disebut sebagai reinforcement, yang terdiri dari
reinforcement positif yang berkaitan dengan hadiah dan reinforcement negatif
yang berkaitan dengan hukuman.
d. Teori atribusi, berkaitan dengan sebab-sebab perilaku seseorang
e. Teori kognitif, berdasarkan alternatif pemilihan perilaku yang akan membawa
manfaat yang besar baginya
f. Teori kepribadiaan, berdasarkan kombinasi yang komplek dari sifat fisik dan
material, nilai, sikap dan kepercayaan, selera, ambisi, minat dan kebiasaan dan
ciri-ciri lain yang membentuk suatu sosok yang unik
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
a. Faktor kebudayaan, pemasar harus memahami peran yang dimainkan oleh kultur,
sub-kultur, dan kelas sosial pembeli.
b. Faktor sosial, dipengaruhi oleh kelompok kecil, keluarga, peran dan status sosial
dari konsumen tersebut.
c. Faktor pribadi, antara lain yaitu umur dan tahap daur hidup pembeli, jabatan,
keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, konsep diri dari pembeli yang
bersangkutan.
d. Faktor psikologis, adalah kebutuhan yang timbul dari keadaan tertentu seperti
kebutuhan untuk diakui, harga diri, atau kebutuhan untuk diterima lingkungan.
4. Fondasi Perilaku Konsumsi
Teori perilaku konsumen yang dibangun berdasar syariat islam memiliki
perbedaan dengan teori konvensional. Tiga nilai dasar yang menjadi fondasi bagi
perilaku konsumsi masyarakat muslim antara lain:
a. Keyakinan adanya hari kiamat dan kehidupan akhirat
b. Konsep sukses dalam kehidupan seorang muslim diukur dengan moral agama
islam dan bukan dengan jumlah kekayaan yang dimiliki
c. Kedudukan harta merupakan anugerah Allah SWT
5. Prinsip Perilaku Konsumen
1. Prinsip syariah
a. Memperhatikan tujuan konsumsi atau maslahah
b. Memperhatikan kaidah ilmiah seperti kebersihan, kehalalan dan lain-lain
c. Memperhatikan bentuk konsumsi
2. Prinsip kuantitas
a. Sederhana dan tidak bermegah-megahan sebagaimana dalam QS. Al Furqan
ayat 67 dan QS. Al Isra ayat 27
b. Keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran sebagaimana dalam QS.
At Thalaq ayat 7
3. Prinsip prioritas
a. Untuk nafkah diri, istri, anak dan saudara
b. Untuk memperjuangkan agama Allah
4. Prinsip moralitas
Ketika berkonsumsi terhadap suatu barang maka harus menjaga martabat
manusia yang mulia, sehingga dalam berkonsumsi harus menjaga adab dan etika
Menurut Manan, terdapat lima prinsip konsumsi dalam islam antara lain sebagai
berikut:
a. Prinsip keadilan
b. Prinsip kebersihan
c. Prinsip kesederhanaan
d. Prinsip kemurahan hati
e. Prinsip moralitas

B. PERILAKU WIRAUSAHA MUSLIM


1. Pengertian Wirausaha Muslim
Wirausaha berasal dari kata wira dan usaha yang berarti usaha sendiri.
Wirausaha adalah kegiatan yang dilakukan oleh perorangan atau kelompok orang
dengan melihat peluang yang ada, kemudian membuka usaha dalam bidang produksi
atau distribusi barang ekonomi atau jasa, memelihara dan membesarkannya dengan
mencurahkan pikiran, waktu dan tenaganya dengan maksud untuk memperoleh
keuntungan.
2. Wirausaha dalam Sejarah Islam
Nabi Muhammad SAW sudah berbisnis kecil-kecilan pada usia kurang dari 12
tahn dengan cara membeli barang dari suatu pasar dan kemudian menjualnyan
kepada orang lain untuk memperoleh keuntungan.
3. Landasan Syari
a. Al Quran
QS. Al Jumuah ayat 62, yang berarti Apabila telah ditunaikan shalat, maka
bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah
sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung
b. Hadits
1) HR. Bukhari Sungguh seandainya salah seorang di antara kalian
mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali
memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah
mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta
kepada sesama manusia, baik mereka memberi atau tidak
2) HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah Pedagang yang jujur lagi terpercaya adalah
bersama-sama nabi, orang-orang shadiqin dan para syuhada
3) HR. Ahmad Perhatikan olehmu sekalian, sesungguhnya perdagangan itu di
dunia ini adalah sembilan dari sepuluh pintu rezeki
4. Karakteristik Wirausaha Muslim
Menurut Imam Ghazali terdapat delapan sifat dan perilaku terpuji dalam
perdagangan yang harus dimiliki oleh wirausaha muslim antara lain:
a. Sifat takwa, tawakal, zikir, dan syukur
b. Tidak mengambil laba lebih banyak
c. Jujur
d. Niat suci dan ibadah
e. Azzam dan bangun lebih pagi
f. Toleransi
g. Berzakat dan berinfak
h. Silaturahmi
Dalam berbagai ayat dan hadist, ditemukan bahwa karakter seorang wirausaha
muslim akan terlihat kaitannya dengan beberapa hal antara lain sebagai berikut:
a. Motif atau niat dalam melaksanakan usaha
b. Pandangan terhadap status
c. Pandangan terhadap siapa yang harus dilayani
d. Sikap terhadap sistem
e. Sikap terhadap pelaksanaan kerja
f. Sikap terhadap kesalahan atau kegagalan
g. Keahlian dan keterampilan
h. Karakter dan profesionalisme
BAB 7
HUKUM FARAID (WARIS)

A. PENGERTIAN FARAID (WARISAN)


Warisan berasal dari bahasa arab al irts atau al mirats yang berarti peninggalan
(tirkah) harta orang yang yang sudah meninggal. Secara etimologis waris mengandung
dua arti yaitu (1) tetap dan (2) berpindahnya sesuatu dari suatu kaum kepada kaum yang
lain baik berupa materi atau non materi. Sedangkan menurut terminologis fiqih/syariah
islam adalah berpindahnya harta seorang (yang mati) kepada orang lain (ahli waris)
karena ada hubungan kekerabatan atau perkawinan dengan tata cara dan aturan yang
sudah ditentukan oleh islam berdasar QS. An Nisa ayat 11-12.
B. KEWAJIBAN AHLI WARIS KEPADA PEWARIS
Sebelum harta dibagi, ahli waris mempunyai kewajiban terhadap pewaris yang
meninggal antara lain sebagai berikut:
1. Mengurus dan menyelesaikan sampai pemakaman jenazah selesai
2. Menyelesaikan baik hutang-hutang berupa pengobatan, perawatan, termasuk
kewajiban pewaris maupun penagih piutang
3. Menyelesaikan wasiat pewaris
4. Membagi harta warian di antara ahli waris yang berhak

C. SYARAT WARISAN ISLAM


1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum
2. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah bagian masing-masing
D. RUKUM WARIS ISLAM
1. Al muwaris, orang yang diwarisi harta peninggalan atau orang yang mewariskan
hartanya
2. Al waris/ ahli waris, orang yang dinyatakan mempunyai hubungan kekerabatan
3. Al maurus/ al miras, harta peninggalan orang yang meninggal dunia

E. SEBAB-SEBAB MEMPEROLEH WARISAN


1. Hubungan kekerabatan
2. Hubungan perkawinan
3. Hubungan karena sebab memerdekakan budak atau hamba sahaya
F. MACAM-MACAM PENGHALANG MENDAPAT WARISAN
1. Pembunuhan, pembunuhan dilakukan oleh ahli waris terhadap al-mawaris,
menyebabkan tidak dapat mewarisi harta peninggalan orang yang diwarisinya.
2. Berlainan agama
3. Perbudakan, menjadi penghalang mewarisi karena semata-mata status formalnya
sebagai hamba sahaya

G. ORANG YANG BERHAK MENERIMA WARISAN DAN PEMBAGIANNYA


1. Ahli waris nasabiyah, yaitu ahli waris karena hubungan kekeluargaannya timbul
karena hubungan darah
2. Ahli waris sababiyah, yaitu hubunan kewarisan karena sebab tertentu yaitu:
a. Perkawilan yang sah
b. Memerdekakan budak sahaya

Ahli waris dari pihak laki-laki dan perempuan:


Ahli Waris Dari Pihak Laki-Laki Ahli Waris Dari Pihak Perempuan
1. Anak laki-laki 1. Anak perempuan
2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki 2. Ibu
3. Ayah 3. Cucu perempuan dari anak laki-laki
4. Kakek 4. Ibu dari bapak
5. Saudara laki-laki seibu seayah 5. Ibu dari ibu
6. Saudara laki-laki seayah 6. Saudara perempuan seibu seayah
7. Saudara laki-laki seibu 7. Saudara perempuan seayah
8. Anak saudara laki-laki seayah 8. Saudara perempuan seibu
9. Anak saudara laki-laki seibu 9. Istri
10. Saudara laki-laki seibu seayah 10. Perempuan yang memerdekakan
11. Saudara laki-laki seayah
12. Anak laki-laki dari saudara laki-
laki ayah seayah seibu
13. Anak laki-laki dari saudara laki-laki
ayah seayah
14. Suami
15. Orang laki-laki yang memerdekakan
Bagian-bagian dari warisan sebagai berikut:
a. Ahli waris yang mendapat bagian separo (1/2)
1) Suami, bila istrinya yang meninggal tidak memiliki anak atau cucu laki-laki
dari anak laki-laki, baik dirinya maupun suami yang lain.
2) Anak perempuan, apabila tidak bersama-sama dengan saudara laki-laki dan
ia seorang diri.
3) Anak perempuan dari anak laki-laki, apabila tidak bersama-sama dengan
saudara laki-laki, ia seorang diri.
4) Saudara perempuan seibu seayah saja, apabila saudara perempuan seibu
seayah tidak ada.
b. Ahli waris yang mendapat bagian seperempat (1/4)
1) Suami, apabila istri mempunyai anak baik laki-laki maupun perempuan atau
cucu dari anak laki-laki, baik dirinya ataupun dari suaminya yang lain.
2) Istri, apabila tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki dari istrinya
yang manapun.
c. Ahli waris yang mendapat bagian seperdelapan(1/8)
Bagian tertentu bagi seorang istri atau beberapa istri dengan syarat suami
mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki dari istri manapun.
d. Ahli waris yang mendapat bagian dua pertiga (2/3)
1) Dua anak perempuan atau lebih apabila tidak bersama-sama dengan saudara
laki-lakinya.
2) Dua cucu perempuan dari anak laki-laki atau lebih dengan syarat tidak ada si
pewaris, tidak ada dua anak perempuan, tidak bersama-sama dengan saudara
laki-laki yang mendapat bagian ashabah.
3) Dua saudara perempuan seibu seayah atau apaila tidak ada anak, ayah atau
kakek, tidak ada laki-laki yang mendapat bagian ashabah.
4) Dua saudara perempuan seayah atau seibu, apabila tidak ada anak laki-laki,
ayah atau kakek, tidak ada laki-laki yang mendapat bagian ashabah.
e. Ahli waris yang mendapat bagian sepertiga (1/3)
1) Ibu, apabila yang meninggal tidak meninalkan anak atau cucu dari anak laki-
laki dan tidak meninggalkan dua orang saudara, baik laki-laki maupun
perempuan, baik seibu seaya, ataupun seayah saja atau seibu saja.
2) Dua orang saudara atau lebih dari saudara yang seibu, baik laki-laki maupun
perempuan.
f. Ahli waris yang mendapat bagian sepenam (1/6)
1) Ibu, apabila ia beserta anak, beserta anak dari anak laki-laki atau beserta dua
saudara atau lebih, baik saudara laki-laki maupun saudara perempuan, seibu
seayah, seayah saja atau seibu saja.
2) Bapak dari yang meninggal, apabila yang meninggal mempunyai anak dari
anak laki-laki, baik laki-laki maupun perempuan.
3) Cucu perempuan dari anak laki-laki, baik seorang maupun lebih, apabila
bersama seorang anak perempuan tetapi apabila anak perempuan berbilang
sama cucu perempuan tadi tidak mendapatkan pusaka.
4) Saudara-saudara seibu, baik laki-laki maupun perempuan, masing-masing
mendapat sepenam apabila sendirian.
5) Saudara perempuan yang seayah, baik sendiri maupun lebih, apabila beserta
saudara perempuan yang seibu seayah, apabila saudara seayah tidak
mendapat pusaka.
6) Nenek, dari pihak ayah atau ibu apabila ibu tidak ada.
7) Kakek, apabila beserta anak atau anak dari anak laki-laki, sedangkan bapak
tidak ada.

H. HIKMAH FARAID
Hikmah ilmu faraid adalah untuk memudahkan harta tersebut digunakan dalam ekonomi
bagi mewujudkan suasana ekonomi yang produktif bahkan terjadi pembekuan harta yang
memberi mudarat bukan saja kepada pihak yang berhak malah kepada ekonomi serta
keseluruhan.
DAFTAR PUSTAKA

Akhmad Mujahidin. 2014. Ekonomi Islam Sejarah, Konsep, Instrumen, Negara, Dan
Pasar Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
http://aidingdzul.blogspot.co.id/2013/05/peran-pemerintah-dalam-mengontrol-pasar.html
http://bedduboy.blogspot.co.id/2016/08/kewirausahaan-dalam-perspektif-islam.html
http://evendimuhtar.blogspot.co.id/2015/06/qiradh.html
http://makalahekonomiku.blogspot.co.id/2016/08/prilaku-konsumen-dalam-pandangan.html
http://murskha.blogspot.co.id/
http://palmery.blogspot.co.id/2015/07/makalah-hukum-faraid.html
http://saparwaditalsen.blogspot.o.id/2016/04/makalah-al-musyarakah.html
http://setitiknur.blogspot.co.id/2014/04/makalah-qiradh.html
http://turofiana.blogspot.co.id/2013/02/ekonomi-islam-dan-wirausaha-islami_4467.html
https://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2014/10/PST-UNPAD-106-AKT-MUSYARAKAH-
Read-Only.pdf
https://vivinsilviaa.wordpress.com/2010/12/01/kewirausahaan-dalam-perspektif-islam/
Muh Faruq an-Nabahan. 2000. Sistem Ekonomi Islam Pilihan Setelah Kegagalan Sistem
Kapitalis Dan Sosialis. Yogyakarta: Uni Press
P3EI UII Yogyakarta. 2015. Ekonomi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Rozalinda. 2016. Ekonomi Islam Teori Dan Aplikasinya Pada Aktivitas Ekonomi.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
www.academia.edu/4083530/PERILAKU_KONSUMEN_DALAM_PERSPEKTIF_EKONO
MI_ISLAM
www.dsnmui.or.id
www.tintaguru.com/2013/08/qiradh.html
www.scribd.com/document/90596744/39029819-makalah-musyarakah-1
LAMPIRAN