Anda di halaman 1dari 31

KONSERVASI SUMBERDAYA GENETIK

KERAGAMAN FLORA DI TAMAN NASIONAL PULAU JAWA

OLEH:

TIARA SEPTIKA W. 145040201111001


BELA PURNAMA SARI 145040201111012
FEGA ASKA U. 145040201111018
ETIK UMUFATDILAH 145040201111019
DWIYAN LAKSANA NURCAHYO 145040201111034
MEI MASRUROH 145040201111038

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
MALANG

2017
Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan
rekreasi alam. Taman Nasional menurut pasal 1 Undang-Undang No. 5 Tahun
1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pada
ayat 14, diartikan sebagai kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem
asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi
(Pristiyanto, 2005). Berikut merupakan Taman Nasional di Pulau Jawa beserta
keragaman flora yang ada, antara lain:
1. Taman Nasional Ujung Kulon
a. Deskripsi
Flora di Taman Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai formasi
hutan, dimana formasi hutan ini dicirikan adanya dominasi oleh
jenis/spesies tertentu. Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri
dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika
pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput.
Formasi hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma
nutfah serta spesies tumbuhan berguna dan langka yang sangat tinggi.
Beberapa jenis tumbuhan diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat
di TN Ujung Kulon antara lain : Batryohora geniculata, Cleidion
spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan Knema globularia.

Heritiera percoriacea Knema globularia

Cleidion spiciflorum Batryohora geniculata


Banyak pula berbagai jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan
masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat-obatan, tanaman hias
maupun pangan. Jenis-jenis yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain
bayur (Pterospemum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai
bahan pertukangan; kayu gaharu
(Aquilaria malaccensis), cempaka (Michelia campaca) dan jambe (Areca
catechu) sebagai bahan obat-obatan; Anggrek (Dendrobium sp.) sebagai
tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak (Salacca edulis) sebagai
bahan pangan.

H
u
t
a
n

p
a
Pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis
nyamplung (Calophyllum innophyllum), butun (Barringtonia
asiatica), Klampis Cina (Hemandia peltata), ketapang (Terminalia
catappa), cingkil (Pongamia pinnata) dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini
umumnya dikenal sebagai formasi barringtonia dengan spesies yang kurang
beranekaragam dan nyamplung merupakan jenis yang lebih khas tipenya.
Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan Timur Laut Semenanjung
Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pantai Utara dan teluk Kasuaris
Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup di atas pasir karang dalam jalur
sempit memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.
b. Keragaman Flora
Secara keseluruhan, flora yang terdapat di Taman Nasional Ujung Kullon
antara lain:
1. Kiara (Ficus sp).
Kiara termasuk kedalam famili moraceae, merupakan tumbuhan
raksasa rimba yang berbatang besar, tajuknya rapat, daunnya berbentuk
lonjong serta pohon yang dapat mematikan tumbuhan lain.
2. Kedongdong Hutan (Spondias pinnata).
Kedongdong hutan termasuk kedalam famili anacardiaceae, yang
mempunyai cirri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 40 meter
batangnya berwarna abu-abu dan bergetah. Daun mudah luruh terutama
musim kemarau.
3. Hampelas (Ficus ampelas)
Hampelas termasuk kedalam famili moraceae, yang mempunyai
cirri utama sebagai berikut : tinggi pohon samapi 40 meter, Daunnya kasar
setelah kering. Getah mengandung air berwarna coklat kekuningan..
4. Gebang (Corypha elata)
Gebang termasuk kedalam famili arecaceae, yang mempunyai ciri
utama sebagai berikut : daunnya besar, bundar dan kaku.Berbatang lurus,
tinggi sampai 30 meter, buahnya bulat dan kecil, bila menua daging
buahnya beracun.
5. Gadog (Bischofia javanica)
Gadog termasuk kedalam famili euphorbiaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : tinggi pohon samapi 40 meter, batangnya lurus
tanpa mata kayu ataupun berbanir.
6. Dahu ( Dracontomelon dao)
Dahu termasuk kedalam famili anacardiaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 25 meter yang bertajuk
bulat lebar. Batangnya tua berbanir, kulit batang berwarna coklat keabu-
abuan. Daun berbentuk elips bertangkai pendek. Tumbuhan ini merupakan
salah satu raksasa rimba dengan batang yang besar dan bertumbuhan
tegak.
7. Burahol (Stelechocarpus burahol)
Burahol termasuk kedalam famili Annonaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : tinggi pohonnya mencapai 21 meter. Buahnya
berbentuk bulat berwarna coklat tua dan menggantung pada batang pohon.
Burahol merupakan salah satu jenis buah-buahan yang mulai langka dan
dikhwatirkan akan punah. Pohon ini mempunyai buah-buah yang
bergelantung pada batangnya.
8. Bayur ( Pterospermum javanicum)
Bayur termasuk kedalam famili sterculiaceae, yang mempunyai
cirri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 50 meter, kulit batang
abu-abu, tajuk melebar dan berwarna coklat muda keemasan., disentri,
bisul, sakit gigi, keseleo dan kulit melepuh.
9. Teureup (Artocarpus elastica)
Teureup termasuk kedalam famili moraceae, yang mempunyai cirri
utama sebagai berikut : tinggi pohonnya sampai 40 meter. Mempunyai
tajuk bulat lebar. Berdaun besar dan buahnya berbentuk bulat berduri
lunak melengkung berwarna kuning kecoklatan.
10. Sempur (Dillenia obovata).
Sempur termasuk kedalam famili dilleniaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 27 meter, kayunya keras
namun tidak awet. Penduduk setempat menganggap sebagai suatu
pembentukan batu dalam masa kini yang berasal dari semacam pohon
yang mereka sebut.Sempur Cai serta memiliki sifat dapat membatu dalam
jangka waktu 10 tahun. Bila abu kayu terkena kulit kita akan terasa gatal-
gatal.
11. Salam (Syzygium polyanthum).
Salam termasuk kedalam famili myrtaceae, yang mempunyai ciru
utama sebagai berikut : tinggi pohon samapi 25 meter dan bertajuk teratur.
Daunnya berbentuk bulat lonjong berwarn ahijau gelap dan bertangkai
pendek.
12. Salak (Salacca edulis)
Salak termasuk kedalam familiarecaceae, yang mempunyai cirri
utama sebagai berikut : tumbuhnya berumpun, batang umumnya hamper
tidak kelihatan Karena pohon tertutup oleh daun yang tersusun rapat
yang menghalangi batang.
13. Rotan Seel (Daemonorops melanochaetes)
Rotan seel termasuk kedalam famili arecaceae, yang mempunyai
cirri utama sebagai berikut : tumbuhnya tunggal atau berumpun,
tingginya samapai 15 meter. Daunnya berbentuk sirip, panjangnya
sampai 4 meter, bagian ujung tulang daun memanjang Buahnya bulat
berwarna coklat kekuningan.
14. Puspa (Schima wallichii)
Puspa termasuk kedalam famili theceae, mempunyai cirri utama
sebagai berikut : tinggi pohon sampai 50 meter, tidak berbanir, batangnya
tegak dan lurus. Kulit luarnya berwarna coklat. Tajuk bulat dengan daun
mudanya yang berwarna merah jambu. Puspa merupakan salah satu jenis
utama dalam hutan primer.
15. Liana Gadel (Derris heterophylla)
Liana Gadel termasuk kedalam famili Fabaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : panjangnya antara 2-15 meter. Batang
pangkalnya sebesar lengan bulat panjang. Daun muda lunak warna hijau
muda.
16. Langkap (Arenga obtusifolia)
Langkap termasuk ke dalam famili Arecaceae, yang mempunyai
ciri utama sebagai berikut : tumbuh berumpun, tingginya antara 6-8 meter,
batangnya lurus, berdaun sirip dan memiliki bunga yang menggantung
berbentuk tandan. di TN. Ujung Kulon Langkap merupakan tumbuhan
yang menjadi perhatian utama, karena tumbuhnya relatif cepat dan dapat
menghambat pertumbuhan jenis tumbuhan lain.Buahnya yang sudah
masak biasanya menjadi makanan badak, musang dan banteng.
17. Laban (Vitex pubescens)
Laban termasuk kedalam famili verbenaceae, yang mempunyai ciri
utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 25 meter, batangnya
berwarna abu-abu. Ranting, perbungaan, tangkai daun dan permukaan
bawah daun berbulu. Tajuk kelihatan hijau tidak teratur. Umumnya
menyukai tempat terbuka dan hutan sekunder.
18. Kondang (Ficus variegata)
Kondang termasuk kedalam famili moraceae, yang mempunyai ciri
utama sebagai berikut : tinggi pohonnya antara 20-40 meter, batang pohon
berwarna coklat kekuningan, bentuk daun bulat telur. Buahnya terdapat
pada batang/cabang berbentuk bulat merah. Masa berbunga antara bulan
Januari-Desember.
19. Kikembang (Cananga spp)
Kikembang termasuk kedalam famili annonaceae, yang
mempunyai ciri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 30 meter,
mempunyai tajuk lebar, batang umumnya bopeng-bopeng. Mempunyai
daun tunggal tersusun melingkar. Bunga harum dan masanya sepanjang
tahun. Memiliki buah dengan dagingnya yang tebal.
20. Kihurang (Glochidion molle)
Kihurang termasuk kedalam famili euphorbiaceae, yang
mempunyai cirri utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 25 meter,
tajuknya tidak teratur. Bentuk daunnya elips, bagian atas berwarna hijau
dan bagian bawah merah mengkilap.
21. Kicalung (Diospyros macrophylla)
Kicalung termasuk famili ebenaceae, yang mempunyai ciri utama
sebagai berikut : tinggi pohonnya sampai 46 meter, kadang-kadang
berbanir. Kulit luar berwarna coklat. Mempunyai daun tunggal berbentuk
lonjong. Buah berbentuk bulat. Bunganya berwarna putih dan harum.Masa
berbunga antara bulan April sampai Oktober.
22. Kibuhaya (Leea aculeata)
Kibuhaya termasuk kedalam famili Leeaceae, merupakan
tumbuhan perdu yang mempunyai ciri utama sebagai berikut : tinggi
antara 3-5 meter, berbatang lurus dan berduri berwarna hijau rumput, daun
bersisip berbentuk bulat lonjong. Batangnya hampir sebesar pohon pisang.
23. Pulai (Alstonia angustiloba)
Pulai termasuk kedalam famili apocynaceae, yang mempunyai ciri
utama sebagai berikut : tinggi pohon sampai 45 meter, mempunyai banir
setinggi 4 meter. Batangnya lurus dan kulit luar halus berwarna abu-abu
coklat, mempunyai getah berwarna putih. Daunnya tunggal tersusun
seperti paying.
24. Pohpohan (Buchanania arborescens)
Pohpohan termasuk kedalam famili anacardiaceae, yang
mempunyai ciri utama sebagai berikut : pohonnya sejenis mangga tinggi
mencapai 15 meter bertajuk lebar.

2. Taman Nasional Kepulauan Seribu


a. Deskripsi
Secara geografis Taman Nasional ini terletak pada 524 - 545 LS,
10625 - 10640 BT' dan mencakup luas 107.489 ha (SK Menteri
Kehutanan Nomor 6310/Kpts-II/2002), yang terdiri dari wilayah perairan
laut seluas 107.489.ha (22,65% dari luas perairan Kabupaten Administrasi
Kepulauan Seribu) dan 2 pulau (Pulau Penjaliran Barat dan Pulau Penjaliran
Timur) seluas 39,50 ha. Taman Nasional Kepulauan Seribu tersusun oleh
ekosistem pulau-pulau sangat kecil dan perairan laut dangkal, yang terdiri
dari gugus kepulauan dengan 78 pulau sangat kecil, 86 gosong gulau dan
hamparan laut dangkal pasir karang pulau sekitar 2.136 hektar (Reef
flat 1.994 Ha, Laguna 119 Ha, Selat 18 Ha dan Teluk 5 Ha), terumbu karang
tipe fringing reef, Mangrove dan Lamun bermedia tumbuh sangat miskin
hara/lumpur, dan kedalaman laut dangkal sekitar 20-40 m.
Kekayaan kehidupan laut taman nasional ini terdiri dari karang
keras/lunak sebanyak 54 jenis, 144 jenis ikan, 2 jenis kima, 3 kelompok
ganggang seperti Rhodophyta, Chlorophytadan Phaeophyta, 6 jenis rumput
laut seperti Halodule sp., Halophila sp., dan Enhalus sp.,serta 17 jenis
burung pantai. Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan tempat
peneluran. Sebagian besar pantai-pantai di taman nasional ini dilindungi
oleh hutan bakau yang merupakan tempat hidup biawak, ular cincin emas
dan piton.yu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia
mydas) yang merupakan satwa langka.
b. Keragaman Flora
Tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu
didominasi oleh tumbuhan pantai, seperti nyamplung (Calophyllum
inophyllum), waru (Hibicus tiliaceus), pandan (Pandanus sp.), cemara laut
(Casuarina equisetifolia), cangkudu (Morinda citrifolia), butun
(Barringtonia asiatica), bogem (Bruguiera sp.), sukun (Artocarpus altilis),
ketapang (Terminalia cattapa), kecundang (Cerbena adollam), mengkudu
(Morinda citrifolia), sentigi (Pemphis acidula), dan seruni (Wedelia biflora).

Pandan Laut Mengkudu ; Cemara Laut


Ekosistem mangrove asli dalam kawasan Taman Nasional Kepulauan
Seribu hanya terdapat di 11 pulau, yaitu Pulau Penjaliran Barat, Penjaliran
Timur, Jagung, Sebaru Besar, Puteri Barat, Pemagaran, Melintang, Saktu,
Harapan, Kelapa, Tongkeng.
Terdapat 15 jenis mangrove sejati yaitu, Avicennia marina
(Forssk.) Vierh, Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lam., Bruguiera cylindrica
(L.) Blume, Ceriops tagal C.B. Rob, Rhizophora stylosa Griff.,
Rhizophora apiculata Blume., Sonneratia alba J. Sm., Sonneratia
caseolaris (L.) Engl., Lumnitzera racemosa Willd., Xylocarpus granatum
Koen., Xylocarpus molluccensis (Lam.) M. Roem., Xylocarpus rumphii
(Kostel.) Mabb., Aegiceras corniculatum L. Blanco, Pemphis acidulata J.
R. Forst. & G. Forst., Excoecaria agallocha L.. Jenis mangrove yang
paling dominan dalam kawasan TNKpS adalah jenis Rhizophora stylosa
Griff. Untuk jenis tumbuhan laut, kawasan TNKpS ditumbuhi 7 jenis
lamun dan 18 jenis alga (rumput laut).
Jenis lamun yang dapat teridentifikasi yaitu Thalassia hemprichii
(Ehrenb.) Asch., Cymodocea rotundata Ehrenb. & Hempr. ex Asch.,
Cymodocea serrulata (R.Br.) Asch. & Magnus, Enhalus acoroides (L.F.)
Royle, Halophila ovalis (R. Brown) J.D. Hooker, Syringodium
isoetifolium (Ascherson) Dandy, Halodule uninervis (Forsk.) Asch.
Sedangkan jenis alga (rumput laut) dapat dipisahkan ke dalam tiga
kelompok, yaitu 9 jenis alga hijau (Chlorophyta), 3 jenis alga coklat
(Phaeophyta) dan 6 jenis alga merah (Rhodophyta).

3. Taman Nasional Gunung Halimun Salak


1. Deskripsi
Taman Nasional Gunung Halimun - Salak (TNGHS) adalah salah
satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan
konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena
melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan
sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya.
Jenis tumbuhan yang banyak ditemui adalah jenis-jenis pionir dan jenis
tumbuhan sekunder seperti Macaranga spp., Omalanthus populneus,
Nauclea lanceolata, Ficus spp, Schima wallichii. Jenis pohon pioner yang
terdapat pada kawasan gunung Halimun-Salak yaitu pohon pionir seperti
Kareumbi (Omalanthus populneus), Cangcaratan (Naulea lanceolata),
Manggong (Macaranga rhizoides) dan Puspa (Schima wallichii). Selain
jenis pohon pionir, ditemukan pula Suren (Toona chinensis), Rasamala
(Altingia excelsa), Saninten atau Kiriung Anak (Castanopsis javanica),
Pasang (Lithocarpus spp.) dan Keruing (Dipterocarpus sp.).

Tanaman Puspa Rasamala Jamuju


Di kawasan Gunung Salak pada ketinggian 1.800 m dpl mulai
dapat diketemukan tipe ekosistem hutan lumut atau elfin dengan jenis
tumbuhan yang dominan seperti Vaccinium, Leptospermum, Myrsine,
Schefflera dan Rhododendron serta beberapa jenis anggrek diantaranya :
Corybas mucronatus, C.vinosus dan C pictus (Haryanto 1997).
Tabel. Keragaman Flora di Beberapa Kawasan
500 mdpl 1000 m dpl 1.000 1.500 m dpl 1500 m
dpl
Rasamala (Altingia Acer laurinum, Ganitri Jumuju (Dacrycarpus
excelsa), Puspa (Elaeocarpus), Eurya imbricartus), Kibima
(Schima acuminatissima, (Podocarpus blumei),
wallichii), Saninten Antidesma bunius, Kiputri (Podocarpus
(Castanopsis javanica), Ficus neriifolius), Hamirung
Kiriung Anak (C. sp., Kayu Putih (Vernonia arborea)
Acuminatissima), (Cinnamomum sp),
Pasang (Quercus Kileho (Sauraui
gemelliflora), pendula), Kimerak
(Weinmannia blumei)
Hartono dkk. (2007)
2. Keragaman Flora
Kawasan TNGHS seperti telah disinggung di atas memiliki
beberapa tipe zonasi vegetasi, yang menciptakan kondisi yang unik
sehingga membuat TNGHS menjadi salah satu kawasan konservasi
dengan keanekaragam flora yang tinggi. Pada tahun 2003 setelah adanya
perluasan kawasan ini dari 40.000 ha menjadi 113.000 ha dimana kawasan
hasil perluasan tersebut merupakan kawasan yang dulunya areal hutan
produksi dan hutan lindung Perum Perhutani. Tanam bekas areal produksi
tersebut di dominasi oleh Rasamala (Altingia excelsa), Pinus (Pinus
merkusii), Damar (Agathis sp.) dan Puspa (Schima wallichii) yang berada
di kawasan hutan gunung Salak dan Gunung Blunder dan kawasan wisata
Gunung Salak Endah (Putro, 1997). Berikut ini beberapa jenis flora yang
terdapat di TNGHS (Hartono dkk. 2007):
1. Semak-semak : Harendong (Melastoma malabathrycum), Kirinyuh
(Eupatorium inulifolium), Cente (Lantana camara), Jotang (Bidens
pilosa), Pegagan (Centela asiatica), dan Kejebing (Strobilantes
crispus).
2. Perdu terdiri dari beberapa suku antara lain : - suku rubiaceae terdiri
dari : Lasianthus, Psychotria, Urophyllum - suku Acanthaceae terdiri
dari : Strobilanthes cernua, S. bracteata - suku Melastomataceae
terdiri dari : Melastoma, Clidema
3. Herba terdiri dari beberapa suku antara lain :
- suku Myrsinaceae terdiri dari : Ardisia sp, Labisia sp
- suku Asteraceae terdiri dari : Bidens pilosa, Blumea aromatica,
Erigeon linifolius, Eupatorium triplinerve
- suku Begoniaceae terdiri dari : Begonia robusta, B. Isoptera - suku
rubiaceae terdiri dari : Argostema montana, A. Uniflora, A.
borragineum
- suku Gentianaceae terdiri dari : Lobelia (Stroblantus cernua), S.
bractea 19 - suku Araceae terdiri dari : Arisaema, Scindapsus,
Armorphophalus
- suku Liliaceae terdiri dari : Disporum cantoniense, Dianella
javanica
- suku Zingiberaceae terdiri dari : Ela (Alpina scraba), Tepus
(Etlingera
puniceae, E. solaris), Pacing (Costus specious), Pining (Hornstedtia
paludosa), Parahulu (Amomum compactum)
4. Beberapa liana lain yang dapat dijumpai di TNGHS adalah jenis arbei
hutan (Rubus rosaeiollius; R. Moluccaus).
Selain itu d TNGHS terdapat jenis-jenis anggrek (258 jenis),
Bambu (12 jenis), Rotan (13 jenis), Kantung Semar (Nepenthes sp.),
Palahlar (Dipeterocarpus hasselti), bahkan Rafflesia rochussenii yang
merupakan jenis tumbuhan unik dan langka. Kawasan TNGHS khususnya
Gunung Salak yang memiliki beberapa kawah seperti Kawah Ratu, Kawah
Cibeureum, Kawah Perbakti dan Kawah Paeh yang disekitarnya terdapat
vegetasi (vegetasi kawah) diantaranya : Ficus delthoidea, Gahnia
javanica, Gleicheina, Histiopteris insica, Blechnum orientale dan Myrsine.
Jenis-jenis lain yang diperkirakan tumbuh di sekitar kawah adalah
Vaccinium dan Rhododendron mampu tumbuh pada daerah solfatar dan
sekitar sumur lumpur panas (Van Steenis 1972, diacu dalam TNGHS
2007).
4. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
a. Deskripsi
Kawasan Gunung Gede dan Pangrango merupakan kawasan yang
terbasah di pulau Jawad an sebagai konsekwensinya hutan di kawasan ini
sangat kaya dengan beranekaragam jenis flora. Bulan Desember Maret
merupakan bulan terbasah, dimana hujan turun hampir setiap hari. Tetapi
antara Bulan Maret sampai September merupakan musim kering/kemarau,
daun-daun kering banyak berjatuhan dan potensial untuk menyebabkan
kebakaran, namun kelembaban lingkungan mikro hutan dan tanah mampu
untuk menjaga agar vegetasi tetap hijau dan bertumbuh. Pada bagian
pegunungan, temperatur udara semakin turun dan hutan sekitarnya sering
ditutupi kabut, dan kelembaban udara yang rendah di daerah ini
merupakan habitat ideal bagi tumbuhan pemanjat dan lumut.
Pada daerah yang lebih tinggi ketersedian dan kondisi udara
semakin sedikit dan menipis, dan kelembaban makin rendah, serta
ketersediaan nutrisi tanah juga sedikit. Hal ini menyebabkan
keanekaragaman jenis tumbuhan semakin rendah dan struktur hutan sudah
tidak lengkap, tidak ada pohon tinggi. Ahli ekologi membuat klasifikasi
ekosistem hutan di TNGP kedalam 3 tipe vegetasi berdasarkan ketinggian
yaitu:
1. Montana Bawah / submontana (1,000-1,500 m d.p.l.)
Tipe vegetasi ini dapat ditemukan saat mulai memasuki
kawasan TNGP. Terdapat jenis-jenis satwa dan tumbuhan pada
hutan tipe ini, termasuk Owa Jawa dan si pohon raksasa Rasamala,
yang merupakan jenis satwa dan tumbuhan yang habitatnya pada
tipe hutan ini.
Pohon Rasamala
Hal ini disebabkan karena tipe hutan ini mempunyai jenis
vegetasi yang merupakan campuran antara vegetasi hutan dataran
rendah dan hutan pegunungan sehingga seringkali disebut sebagai
ekosistem sub montana. Dari segi floristiknya, Junghuhn dan
Miquel menamai zona hutan ini sebagai zona Fago-Lauraceous,
karena didominasi oleh jenis-jenis Fagaceae,
misalnya pasang (Lithocarpus, Quercus) dan saninten
(Castanopsis), serta jenis-jenis Lauraceae seperti aneka macam
medang (Litsea spp.); diikuti dengan jenis-jenis lain, bahkan
hingga sebanyak 78 spesies pohon dalam satu hektare. Di atas
kanopi rata-rata, acap mencuat pohon-pohon tertinggi yang dikenal
sebagai sembulan (emergent trees), dari jenis-
jenis Altingia (rasamala), Dacrycarpus (jamuju),
dan Podocarpus (ki putri) .
2. Montana (1,500-2,400 m d.p.l.)
Zona ini disebut juga Hutan Pegunungan Atas, berada
pada ketinggian 1500 2400 m dpl. Kebanyakan tumbuhan yang
tumbuh pada ketinggian ini merupakan jenis tumbuhan
pegunungan sejati, hidup pada kondisi iklim sedang. Tajuk pohon
di hutan pegunungan biasanya memiliki ketinggian yang sama,
yaitu 20 meter, percabangan pohon lebih pendek dari cabang
pohon di hutan sub montana. Herba yang umumnya ditemukan di
lantai hutan termasuk jenis yang digunakan sebagai tanaman hias
yaitu Begonia, Impatiens dan Lobelia. Hutan pegunungan antara
Cibeureum (1.750 m dpl) dengan Kandang Badak (2.400 m dpl)
didominasi oleh jamuju (Dacrycarpus imbricatus).

Tanaman Jamuju
3. Sub Alpin (2,400-3,019 m d.p.l)
Hutan di zona sub alpin hanya terdiri dari 2 lapisan yaitu
lapisan pohon-pohon kerdil, rapat dengan batang pohon yang kecil,
dan lantai hutan dengan tumbuhan bawah yang jarang. Hanya
ditemukan sedikit jenis vegetasi yang telah beradaptasi dengan
lingkungan yang beriklim ekstrim, hal ini barangkali terkait dengan
kondisi tanah yang miskin hara dengan jenis tanah berbatu
(litosol). Jenis pohon yang dominan di hutan ini adalah cantigi
(Vaccinium varingiaefolium), dari keluarga Ericaceae, dan dapat
dengan mudah dijumpai disepanjang jalan setapak menuju kawah.

Tanaman Cantigi
Mirip dengan famili jenis Cantigi yang asal Eropa yaitu
bilberry, cantigi juga mempunyai buah berry yang bisa dimakan.
Di lembah di antara gigir puncak Gede dengan G. Gumuruh,
terdapat padang rumput subalpin yang dinamai Alun-alun
Suryakancana. Tanahnya yang poreus dilapisi oleh semacam
tanah gambut tipis, akumulasi dari bagian-bagian tumbuhan yang
mati berpuluh-puluh tahun. Di sini tumbuh beberapa
jenis rumput, paku-pakuan, sejenis melanding
gunung (Paraserianthes lophanta), serta edelweis jawa (Anaphalis
javanica) yang terkenal.
b. Jenis-jenis Anggrek di Gunung Gede-Pangrango
Terdapat lebih dari 200 jenis anggrek di kawasan TNGP; beberapa
diantara merupakan jenis anggrek berbunga besar dan sangat indah, namun
kebanyakan anggrek di TNGP merupakan jenis anggrek tanah dan kecil
serta sangat sulit ditemukan. Kebanyakan anggrek pegunungan hanya
tumbuh pada lingkungan yang basah dan lembab. Berikut merupakan jenis
anggrek yang ada di TNGP antara lain:
1. Trichoglottis pusilla: merupakan anggrek dengan bunga bearoma
wangi, hidup di dataran rendah hutan pegunungan. Jenis ini hanya
tumbuh pada ketinggian antara 1500 1700 m dpl. Juga ditemukan
di Sumatera.
2. Cymbidium lancifolium: termasuk anggrek yang anggota Genus ini
tersebar di Asia; Jenis-jenis anggrek dari genus ini tersebar mulai
dari Indonesia sampai Jepang, dan didalam kawasan TNGP hidup
di hutan hujan pegunungan rendah.
3. Dendrobium hasseltii: Jenis anggrek yang habitatnya di ketinggian,
dan nama anggrek ini hasseltii merupakan nama peneliti yang
menemukannnya di Gunung Pangrango.

5. Taman Nasional Karimunjawa


a. Deskripsi
Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan kepulauan
berjumlah 22 pulau yang terletak di Laut Jawa, mempunyai luas
111.625 Ha. Taman Nasional Karimunjawa ditetapkan sebagai Cagar
Alam Laut melalui SK Menhut No.123/Kpts-II/1986 kemudian pada
tahun 1999 melalui Keputusan Menhutbun No.78/Kpts-II/1999 Cagar
Alam Karimunjawa dan perairan sekitarnya seluas 111.625 Ha
diubah menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional
Karimunjawa. Tahun 2001 sebagian luas kawasan TN Karimunjawa
seluas 110.117,30 Ha ditetapkan sebagai Kawasan Pelestarian Alam
Perairan dengan Keputusan Menhut No.74/Kpts-II/2001.
Saat ini Taman Nasional Karimunjawa dikelola oleh Balai
Taman Nasional Karimunjawa dengan tugas utama melaksanakan
pengelolaan ekosistem kawasan Taman Nasional Karimunjawa dalam
rangka konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Dalam pengelolaan
terdapat banyak tantangan untuk memadukan konservasi dan
pembangunan ekonomi yang memerlukan dukungan seluruh pihak.
b. Keragaman Flora
Keragaman flora pada kawasan Taman Nasional Karimunjawa
dibagi berdasarkan ekosistem yang ada, antara lain:
1. Ekosistem Mangrove
Berdasarkan data Kegiatan Inventarisasi dan Penyebaran
Mangrove di Taman Nasional Karimunjawa tahun 2002 (Sunyoto
dkk, 2002) ditemukan 45 spesies mangrove yang termasuk dalam
25 famili. Dalam kawasan pelestarian ditemukan 25 spesies
mangrove sejati dari 13 famili dan 7 mangrove ikutan dari 7
famili. Sedang di luar kawasan ditemukan 5 spesies mangrove
ikutan dari 5 famili berbeda. Hutan mangrove di kawasan Pulau
Karimunjawa dan Kemujan didominasi jenis Exoccaria agallocha
sedang jenis yang penyebarannya paling luas adalah Rhizopora
stylosa. Di hutan mangrove juga terdapat satu jenis yang sudah
langka di dunia yaitu Schipiphora hydrophilaceae.

2. Ekosistem Hutan Pantai


Vegetasi hutan pantai dicirikan oleh adanya Ketapang
(Terminalia cattapa), Cemara Laut (Casuarina equisetifolia),
Kelapa (Cocos nucifera), Jati Pasir (Scaerota frustescens), Setigi
(Pemphis acidula) dan Waru Laut (Hibiscus tiliaceus).

3. Ekosistem Terumbu Karang


Ekosistem terumbu karang terdiri dari 3 tipe terumbu,
yaitu terumbu karang pantai (fringing reef), penghalang (barrier
reef) dan beberapa taka (patch reef). Lebih lanjut WCS
menyebutkan bahwa penutupan karang di Kepulauan
Karimunjawa berada pada kisaran buruk hingga baik (10-75%).
WCS (2003) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ekosistem
terumbu karang di Kepulauan Karimunjawa terdiri atas 64 genera
karang dengan satu jenis karang yang hampir punah adalah
karang musik/merah (Tubipora musica).
4. Ekosistem Padang Lamun dan Rumput Laut
Penelitian menunjukkan bahwa terdapat 19 jenis makroalga
di lokasi penelitian dengan jumlah terbesar Chlorophyta
(Wahyuningtyas, 2000). Padang lamun tersebar di seluruh perairan
Taman Nasional Karimunjawa sampai kedalaman 25 m. Struktur
komunitas padang lamun Pulau Karimunjawa tersusun atas 11
spesies diantaranya yaitu Cymodocea rotundata, Enhalus
acoroides , Halodule uninervis, Halophila ovalis, Halophila minor,
Syringodium isoetilium, Thalassia hemprichi, Thalassodensron
ciliatum (Abidin dkk, 2005). Dengan persentase Penutupan dan
frekwensi relatif cukup banyak terdapat pada Thalassia hemprichii,
Cymodocea rotundata dan Halophila ovalis. (Abidin, 2005).
5. Ekosistem Hutan Hujan Tropis Dataran Rendah
Ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah menempati
ketinggian 0-506 m dpl di Pulau Karimunjawa. Berdasarkan hasil
Eksplorasi Flora yang dilakukan oleh LIPI tahun 2003 ditemukan
124 spesies dan 5 genus flora di kawasan hutan hujan tropis
dataran rendah Karimunjawa. Jenis pohon yang sering dijumpai
adalah Jambon (Sizyqium spp), Sentul (Sandoricum koetjape),
Ande-(Djarwaningsih, dkk., 2003)ande (Antidesma montanum),
Berasan (Gomphia serrata), Gondorio (Bouea macrophylla).
Termasuk di dalamnya keberadaan flora khas Karimunjawa yaitu
Dewadaru (Fragrarea eliptica) dan Kalimosodo (Cordia
subcordata) yang populasinya mulai menurun karena banyak
digunakan sebagai bahan baku industri kerajinan oleh masyarakat.
Dewadaru tidak ditemukan dalam kawasan konservasi kecuali
tunggaknya, umumnya tumbuh di luar kawasan yaitu di daerah
Alang-Alang, Ujung Gelam, Nyamplungan, dan Legon Nipah.

6. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru


a. Deskripsi
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ditetapkan sebagai Unit
Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 1049/Kpts-
II/1992 tanggal 12 Nopember 1992. berdasarkan Keputusan Menteri
Kehutanan Nomor: 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret 1997 ditetapkan
Organisasi Taman Nasional, namun selanjutnya mengalami perubahan
menjadi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sesuai
KeputusanMenteri Kehutanan Nomor: 6186/Kpts-II/2002 tanggal 10 Juni
2002 (Yosefi dan Subarudi, 2007).
b. Keragaman Fkora
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem
sub montana, montana dan sub alpin. Diperkirakan ada kurang lebih 600
jenis flora diantaranya adalah: jamuju (Dacrycarpus imbricatus ), cemara
gunung (Casuarina sp), edelweis (Anaphalis javanica), pakis uling
(Cyathea tenggeriensis), putihan (Buddleja asiatica), anting-anting
(Fuchsia magallanica ) dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus)
(Anonim, 2004). Selain itu juga terdapat 157 jenis anggrek, diantaranya
adalah: Malaxus purpureonervosa, Maleoka witteana dan Liparis
rhodochila.

7. Taman Nasioanl Meru Betiri


a. Deskripsi
Kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan hutan hujan
tropis dengan formasi hutan bervariasi yang terbagi ke dalam 5 tipe
vegetasi yaitu vegetasi hutan pantai, vegetasi hutan mangrove, vegetasi
hutan rawa, vegetasi hutan rheophyte dan vegetasi hutan hujan dataran
rendah. Keadaan hutannya selalu hijau dan terdiri dari jenis pohon
yang beraneka ragam serta bercampur jenis bambu yang tersebar di
seluruh kawasan ini.
b. Keragaman Flora
Kondisi setiap tipe vegetasi di kawasan Taman Nasional Meru
Betiri dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Tipe Vegetasi Hutan Pantai
Formasi vegetasi hutan pantai terdiri dari 2 tipe utama yaitu formasi
ubi pantai (Ipomea pescaprae), dan formasi Barringtonia (25 - 50 m) pada
daerah pantai yang landai dan akan berkurang luasnya jika pantainya terjal
dan berbatu. Jenis yang paling banyak adalah ubi pantai (Ipomoea
pescaprae) dan rumput lari (Spinifex squarosus). Formasi Baringtonia
terdiri dari keben (Baringtonia asiatica), nyamplung (Calophyllum
inophyllum), waru (Hibiscus tiliaceus), ketapang (Terminalia catappa),
pandan (Pandanus tectorius) dan lain-lain.
2. Tipe Vegetasi Hutan Mangrove
Vegetasi ini dapat dijumpai di bagian timur Teluk Rajegwesi yang
merupakan muara Sungai Lembu dan Karang Tambak, Teluk Meru dan
Sukamade merupakan vegetasi hutan yang tumbuh di garis pasang surut.
Jenis-jenis yang mendominasi adalah Pedada (Sonneratia caseolaris),
Tancang (Bruguiera gymnorhiza) dan Nipah (Nypa fructicans).
3. Tipe Vegetasi Hutan Rawa
Vegetasi ini dapat dijumpai di belakang hutan payau Sukamade. Jenis-
jenis yang banyak dijumpai diantaranya mangga hutan (Mangifera sp),
sawo kecik (Manilkara kauki), ingas/rengas (Gluta renghas), pulai
(Alstonia scholaris), kepuh (Sterculia foetida), dan Barringtonia spicota.
4. Tipe Vegetasi Hutan Rheophyt
Tipe vegetasi ini terdapat pada daerah-daerah yang dibanjiri oleh
aliran sungai dan jenis vegetasi yang tumbuh diduga dipengaruhi oleh
derasnya arus sungai, seperti lembah Sungai Sukamade, Sungai Sanen, dan
Sungai Bandealit. Jenis yang tumbuh antara lain glagah (Saccharum
spontanum), rumput gajah (Panisetum curcurium) dan beberapa jenis
herba berumur pendek serta rumput-rumputan.
5. Tipe Vegetasi Hutan Hujan Tropika
Dataran Rendah Sebagian besar kawasan hutan Taman Nasional
Meru Betiri merupakan tipe vegetasi hutan hujan tropika dataran rendah.
Pada tipe vegetasi ini juga tumbuh banyak jenis epifit, seperti anggrek dan
paku-pakuan serta liana. Jenis tumbuhan yang banyak dijumpai
diantaranya jenis walangan (Pterospermum diversifolium), winong
(Tetrameles nudiflora), gondang (Ficus variegata), budengan (Diospyros
cauliflora), pancal kidang (Aglaia variegata), rau (Dracontomelon
mangiferum), glintungan (Bischoffia javanica), ledoyo (Dysoxylum
amoroides), randu agung (Gossampinus heptaphylla), nyampuh (Litsea
sp), bayur (Pterospermum javanicum), bungur (Lagerstromia speciosa),
segawe (Adenanthera microsperma), aren (Arenga pinnata), langsat
(Langsium domesticum), bendo (Artocarpus elasticus), suren (Toona
sureni), dan durian (Durio sibethinus). Terdapat pula vegetasi bambu
seperti : bambu bubat (Bambusa sp), bambu wuluh (Schizastychyum
blumei), dan bambu lamper (Schizastychyum branchyladium). Di dalam
kawasan juga terdapat beberapa jenis rotan, diantaranya : rotan manis
(Daemonorops melanocaetes), rotan slatung (Plectomocomia
longistigma), rotan warak (Plectomocomia elongata) dan lain-lain.

Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah


teridentifikasi flora sebanyak 518 jenis, terdiri 15 jenis yang dilindungi
dan 503 jenis yang tidak dilindungi. Contoh jenis yang dilindungi yaitu
Balanopora (Balanophora fungosa) yaitu tumbuhan parasit yang hidup
pada jenis pohon Ficus spp. dan Padmosari/Rafflesia (Rafflesia
zollingeriana) yang hidupnya tergantung pada tumbuhan inang
Tetrastigma sp. Selain itu terdapat pula jenis flora sebagai bahan baku
obat/jamu tradisional, dimana berdasarkan hasil uji petik di lapangan telah
teridentifikasi sebanyak 239 jenis yang dapat dikelompokkan dalam 7
habitus, yaitu bambu, memanjat, herba, liana, perdu, semak dan pohon.
Hingga saat ini di kawasan Taman Nasional Meru Betiri telah
teridentifikasi fauna sebanyak 217 jenis, terdiri dari 92 jenis yang
dilindungi dan 115 jenis yang tidak dilindungi. Jumlah sebanyak itu
meliputi 25 jenis mamalia (18 diantaranya dilindungi), 8 reptilia (6 jenis
diantaranya dilindungi), dan 184 jenis burung (68 jenis diantaranya
dilindungi).

8. Taman Nasional Baluran


a. Deskripsi
Taman Nasinal Baluran merupakan kawasan konservasi yang
memiliki keanekaragaman satwa dan habitat alamnya dengan berbagai
tipe komunitas.Tipe vegetasi yang dimiliki oleh Taman Nasional
Baluran antara lain hutan payau, hutan rawa, hutan pantai, savana dan
hutan musim. Hutan musim terdiri dari dua tipe vegetasi yaitu hutan
musim alam dan hutan tanaman jati.
b. Keragaman Flora
Taman Nasional Baluran mempunyai keanekaragaman jenis
tumbuhan yang cukup tinggi. Dari berbagai vegetasi yang ada terdapat
kurang lebih 422 jenis tumbuhan yang termasuk dalam 87 familia (
Anonimus, 1995 ). Sebaran jenis dominant pada setiap tipe vegetasi
yang ada di Taman Nasional baluran dapat diuraukan sebagai berikut :
1. Hutan Mangrove
Tipe hutan ini terdapat di aderah Pantai Utara dan timur
kawasan seperti, Bilik, Lempuyang, Mesigit, Tanjung Sedano dan Kelor.
Jenis jenis Flora yang umum dijumpai antara lain Api api ( Avicennia
spp ), Bakau ( Rhizophora spp ) dan Tanjung ( Bruguiera spp ). Jenis
tumbuhan yang sering ditemukan di daerah ini antara lain Api api (
Avicennia spp ) dan truncum ( Lumnitzera racemosa ).
2. Hutan Payau
Hutan payau di Baluran merupakan daerah ekoton yang
berbatasan dengan savanna atau hutan pantai. Penyebaran hutan ini
sebagian besar tedapat di Popongan, Kelor, bagian Timur Bama serta
Barat laut Gatel. Jenis jenis pohon yang hijau sepanjang tahun dijumpai
pada hutan ini. Jenis jenis tersebut antara lain Excocaria agallocha,
Syzygium polianthum dan Buchanania arborecens.
3. Savana
Tipe habitat ini merupakan klimaks kebakaran yang sangat
dipengaruhi oleh aktivitas manusia. Kondisi saat ini sebagian besra
savanna terutama Bekol, Kramat Kajang dan sebagian Balanan telah
terinvasi Acacia nillotica yang sebelumnya ditanam ( 1969 ) sebagai sekat
baker karena tumbuhan ini tahan api, namun karena pertumbuhannya
sangat cepat dan dapat tumbuh pada daerah yang sengat kering, tumbuhan
ini akan menjadi ancaman yang serius bagi keberadaan savanna.

9. Taman Nasional Alas Purwo


a. Deskripsi
Kawasan Alas Purwo, sebelum ditetapkan sebagai taman
nasional, semula berstatus Suaka Margasatwa Banyuwangi Selatan
berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda
Nomor 6 stbl 456 tanggal 01 September 1939 dengan luas areal 62.000
ha. Kemudian, diubah menjadi Taman Nasional Alas Purwo.dengan
luas 43.420 ha melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada tahun
1992. Taman Nasional Alas Purwo merupakan kawasan hutan yang
mempunyai berbagai macam tipe ekosistem yang tergolong utuh di
Pulau Jawa. Ekosistem yang dimiliki mulai dari pantai (hutan pantai)
sampai hutan hujan dataran rendah, hutan mangrove, hutan bambu,
savana dan hutan tanaman.
b. Keragaman Flora
Keanekaragaman jenis flora darat di kawasan Taman Nasional
Alas Purwo termasuk tinggi. Diketahui lebih dari 700 jenis tumbuhan
mulai dari tingkat tumbuhan bawah sampai tumbuhan tingkat pohon
dari berbagai tipe/formasi vegetasi. Tumbuhan khas dan endemik pada
taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki). Selain itu
tumbuhan yang sering dijumpai yaitu ketapang (Terminalia catapa),
nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida),
keben (Barringtonia asiatica), dan 10 jenis bambu.

Sawo Kecik Kepuh

10. Taman Nasional Gunung Merapi


a. Deskripsi
Hasil survey potensi tumbuhan menunjukkan bahwa di dalam
kawasan TN Gunung Merapi ditemukan kurang-lebih 154 jenis
tumbuhan. Jenis-jenis yang ditemukan tidak seluruhnya merupakan
tumbuhan khas pegunungan, tetapi ada pula jenis-jenis yang diintroduksi
oleh Perum Perhutani, diantaranya adalah Pinus merkusii, Acacia
decurens, Erythrina lithosperma. Pasca erupsi, Acacia decurens tumbuh
dengan sangat pesat dan dikuatirkan akan mengganggu perkembangan
vegetasi lain karena sifatnya yang invasif. Beberapa jenis yang
ditemukan diantaranya merupakan jenis yang dibudidayakan manusia
sehingga besar kemungkinan terdapat pemukiman atau peladangan
didalam kawasan taman nasional ini misalnya Erythrina lithosperma atau
dadap.

Acacia decurens Eupatorium odoratum


Jenis tumbuhan bawah yang mendominasi adalah Eupatorium
odoratum. Jenis ini merupakan jenis pioner dan bukan merupakan jenis
khas pegunungan. Menurut beberapa penelitian tentang inventarisasi
tumbuhan di berbagai lahan yang terganggu atau rusak, kerinyu
(Eupatorium odoratum) selalu muncul mulai dari dataran rendah dekat
pantai hingga dataran tinggi. Dengan demikian, diketahui bahwa jenis
ini tergolong jenis pioner di semua tipe lahan.
Terdapat jenis yang termasuk dalam kelompok jenis tumbuhan
pegunungan yang banyak dijumpai di PN Gunung Merapi, diantaranya
yaitu, Schima wallichii, Cupressus sp., Quercus turbinata, Myrica
javanica, Anaphalis longifolia, Habenaria tosariensis, Lespedeza
junghuhniana, dan Rhododendron javanicum. Puspa (Schima
wallichii) yang merupakan jenis tanaman potensial untuk rehabilitasi
ternyata hanya memiliki prosentase kehadiran yang kecil sehingga
apabila jenis ini ditetapkan sebagai salah satu jenis yang akan
digunakan untuk restorasi maka bibit harus dicari pada areal di luar
plot yang masih memiliki tutupan vegetasi relatif utuh. Berikut
beberapa jenis tumbuhan yang ditemukan di TN Gunung Merapi dan
status konservasinya menurut IUCN. (NPSS).

11. Taman Nasional Gunung Merbabu


a. Deskripsi
Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan taman nasional
yang mencakup kawasan hutan di Gunung Merbabu. Secara
administratif, taman nasional ini termasuk ke dalam wilayah 3 (tiga)
kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan
Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah. Kawasan Taman
Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri
Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang
perubahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada
kelompok hutan Merbabu seluas 5.725 hektare.
b. Keragaman Flora
Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan rendah (1.000
1.500 m dpl) sebagian besar berisi vegetasi sejenis yang merupakan
hutan sekunder dengan jenis puspa (Schimanoronhae), manis rejo
(Vaccinum varingiaefolium), dempul (Glochidion sp.), tengsek
(Dodonea viscose), waru gunung (Homalanthus gegantheus), akasia
dekuren (Acaciadecurrens), kesowo (Engelhardia serrata), sengon
gunung (Mycura javanica), tengsek (Dodonea viscosa),
bintami(Podocarpus sp.), kina (chincona spec), kebeg (Ficusfulva),
kersenan (Trema orientale), krangeyan (Litseacubeba), krembik/waru
gunung (Hibiscus macrophyllus),lotrok (Saurauia bracteosa), lowa
(Ficus glomerata), luwing (Ficus hispida), pasang (Quercus spicata),
picis (Nauclealanceolata), pinus (Pinus merkusii), rukem
(Flacourtiainermis), serut (Streblus asper), tanganan
(Scefferaelliptica), Umbel-umbelan (Aleuritis fordii), wilodo
(Ficusfistulosa), wuru (Litsea sp.), rostania, bambu cendani(Bambusa
multiplex), bambu apus (Gigantolochloa apuzkurz), cemara gunung
(Casuarina junghuniana), percis (Cupressus sp.), kaliandra putih
(Calliandra calothyrsus),kaliandra merah (Calliandra
haematocephala), dan rasamala (Altingia exelsa).

Lotrok Tengsek Rasamala


Ekosistem hutan hujan tropika pegunungan tinggi (1.500
2.400 m dpl) ditumbuhi jenis vegetasi akasia dekuren(Acacia decurens),
puspa (Schima noronhae), kesowo (Engelhardia spicata), tengsek
(Dodonea viscosa). Ekosistem hutan sub alpin terletak di puncak
GunungMerbabu (2.400 3.142 m dpl) yang banyak ditumbuhirumput,
edelweis (Anaphalis javanica), kemlandingan gunung (Albizia lophanta) ,
dan manis rejo (Vaccinumvaringiaefolium).
12. Taman Nasional Gunung Ciremai
a. Deskripsi
Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) adalah sebuah
kawasan konservasi yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Taman nasional ini dimaksudkan untuk melindungi kekayaan hayati dan
lingkungan di wilayah Gunung Ceremai. Penunjukannya dilakukan dengan
SK Menhut RI No. 424/Menhut-II/2004 bertanggal 19 Oktober 2004, yang
mengubah status hutan lindung di Gunung Ceremai menjadi kawasan
taman nasional.
Hutan di zona pegunungan basah dari Cigugur ke arah puncak
Ceremai cukup kaya akan jenis pohon. Tercatat di antaranya jenis-jenis
saninten (Castanopsis argentea, C. javanica, C. tungurrut) dan pasang
(Lithocarpus elegans dan L. sundaicus) dari suku Fagaceae; jenitri
(Elaeocarpus obtusus, E. petiolatus dan E. stipularis), suku
Elaeocarpaceae; mara (Macaranga denticulata) dan kareumbi
(Omalanthus populneus), suku Euphorbiaceae; aneka jirak (Symplocos
fasciculata, S. spicata, S. sessilifolia, S. theaefolia), Symplocaceae; jenis-
jenis ara (di antaranya Ficus padana dan F. racemosa), Moraceae; puspa
(Schima wallichii) dan ki sapu (Eurya acuminata), Theaceae; dan lain-
lain. Semak belukar elfin (subalpin) dekat puncak Ceremai.

C. argentea C. Javanica C. tungurrut L. elegans


L. sundaicus Elaeocarpaceae M. Denticulata H. Populneus

Di bagian yang lebih kering di Setianegara, hutan didominasi oleh


jenis-jenis huru atau medang (Litsea spp.), saninten (C. argentea dan C.
javanica), mara (Macaranga tanarius), mareme (Glochidion sp.), bingbin
(Pinanga javana), dan pandan gunung (Pandanus sp.). Di bagian yang
lebih atas zona montana ini juga didapati dominansi dari jamuju
(Dacrycarpus imbricatus, Podocarpaceae) yang membentuk sabuk
vegetasi khusus.
DAFTAR PUSTAKA
Ayunin, S.Q. 2010. Analisis Vegetasi di Savana Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru (TN-BTS). Skripsi. Malang: UIN Press
BTNGM. 2014. Zonasi Taman Nasional Gunung Merbabu Dokumen Revisi
Zonasi. Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Boyolali
BTNKpS (Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu). 2017. Mengenal Taman
Nasional Kepulauan Seribu. Jakarta : Balai Taman Nasional Kepulauan
Seribu
[BTNKJ] Balai Taman Nasional Karimunjawa. 2015. Zonasi Taman Nasional
Karimunjawa tahun 2015. Semarang [ID]: BTNKJ.
Haryanto. 1997. Invasi Langkap (Arenga obsitufolia) dan Dampaknya Terhadap
Keanekaragaman Hayati Di Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat.
Media Konservasi edisi khusus : 95 100.
Harada K, Widada, Arief A.J. 2000. Taman Nasional Gunung Halimun:
Menyingkap Kabut Gunung Halimun. Biodiversity Conservation Project,
JICA LIPI PKA. Bogor.
Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. Jakarta : PT Bumi Aksara.
Mirmanto, E & H. Simbolon, 1998. Vegetation analysis of Citorek Forest,
Gunung Halimun National Park. Research and Conservation of
Biodiversity in Indonesia. Vol. IV. The last submontane Tropical Forest
in West Java. 41-54. 11.
Simbolon, H and E. Mirmanto,. 1997. Altitudinal zonation of the forest vegetation
in Gn Halimun National park, West Java. In: M. Yoneda, J. Sugarjito and
H. Simbolon (Eds.). Research and Conservation of Biodiversity in
Indonesia. Vol.II. The inventory of natural Resources in Gunung
Halimun Park. LIPI-JICA-PHPA, 14-35 10.
Simbolon, H. 1998. Vegetation and land-use mapping in gunung Halimun
National Park and its surrounding areas. Research and coservation of
Biodiversity in Indonesia. Gunung halimun: The last Submontane
Tropical Forest in West Java. Vol.IV: 12-20.
Suzuki, E.; M. Yoneda; H. Simbolon; Z. Fanani; T. Nishimura and M. Kimura,
1997. Monitoring of vegetational changes on permanent plots in Gunung
Halimun National Park. . In: M. Yoneda, J. Sugarjito and H. Simbolon
(Eds.). Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Vol.II.
The inventory of natural Resources in Gunung Halimun Park. LIPI-
JICAPHPA, 60-81 12.
Uji, T. dan A. Sujadi. 2002. Keanekaragaman dan Pemanfaatan Flora di Gunung
Halimun dan Sekitarnya Taman Nasional Gunung Halimun dalam
Biodiversity of the Last Submontane Tropical Rain Forest in Java: Gunung
Halimun National Park hal. 259-263 eds. S. Kahono, T. Okayama dan A.J
Arief. Bogor: LIPI-JICA-PHKA.
Yosefi, E., Subarudi, S. 2007. Kontribusi Taman Nasional Terhadap
Kesejahteraan Masyarakat Dan Pendapatan Asli Daerah (Pad) (Studi
Kasus Taman Nasional Bromo Tengger Semeru). Info Sosial Ekonomi.
Vol. 7 No. 3, 163 174