Anda di halaman 1dari 24

UAS Manajemen Perpajakan

Tugas Ini Diselesaikan Sebagai Syarat Ujian Ahkir Semester


Mata Kuliah Manajemen Perpajakan

Dosen Pengampu Hendi Subandi, SE., MA., Ak

Disusun Oleh :
Syauqi Hidayat
NIM 166020310111004

JOINT PROGRAM FAKULTAS EKONOMI & BISNIS


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
TAHUN 2017
MALANG
1. Apa yang anda ketahui tentang TPdoc? Jelaskan! Dan bagaimana
prosedur/ tata cara melaporkannya, Jelaskan!

Mengenai Dokumen Penentuan Harga Transfer (TP Doc) : Adalah dokumen


tertulis yang wajib dipersiapkan oleh Wajib Pajak (Pasal 10 ayat 2 PP 74) yang
melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa
termasuk didalamnya Wajib Pajak Dalam Negeri (Termasuk BUT). Dokumen
tersebut berupa dokumentasi dasar dan langkah dalam menentukan harga wajar
atau laba wajar (Arms Length Principle/ALP) sesuai ketentuan perundang-undangan
yang berlaku. Secara prinsip TP Doc ini untuk kepentingan Wajib Pajak apabila
melakukan transaksi hubungan istimewa dengan melakukan pengungkapan fakta
dan kondisi yang sebenarnya demi penghindaran penetapan menurut kewenangan
fiskus yang memberatkan dikemudian hari akibat tidak menyelenggarakan TP Doc.

Contoh Penyelenggaraan Dokumentasi :

Nusahati membuat TP Doc dengan menjual harga kepada afiliasi seharga Rp.
1.000.000,- maka dalam kontrak/perjanjian dengan afiliasi tercantum harga sebesar
Rp. 1.000.000,- demikian seterusnya sampai dengan jurnal dan laporan keuangan.
Tentang apakah harga yang ditentukan tersebut dalam contoh sudah wajar diatur
dalam PER-43/PJ/2010 sebagaimana diubah dengan PER-32/PJ/2011 tentang
penentuan harga transfer yang sampai saat dikeluarkan PMK-213 ini masih berlaku.

a). Jenis Dokumen yang digunakan

Wajib Pajak disamping mempersiapkan dokumen lokal (local file) juga


mempersiapkan dokumen induk (master file) dan Laporan per negara (country by
country report). Dokumen Induk tersebut berupa informasi :

Struktur dan bagan kepemilikan grup usaha serta negara atau yurisdiksi
masing-masing anggota grup usaha.
Kegiatan usaha yang dilakukan oleh grup usaha
Harta tidak berwujud yang dimiliki grup usaha
Aktivitas keuangan dan pembiayaan dalam grup usaha
Laporan keuangan konsolidasi entitas induk dan informasi perpajakan terkait
transaksi afiliasi.

Untuk Laporan per negara (country by country report) berisikan informasi berupa:

Alokasi penghasilan, pajak yang dibayar, dan aktivitas usaha per negara atau
yurisdiksi dari seluruh anggota Grup Usaha baik di dalam negeri maupun luar
negeri, yang meliputi nama negara atau yurisdiksi, peredaran bruto, laba
(rugi) sebelum pajak, Pajak Penghasilan yang telah dipotong/ dipungut/
dibayar sendiri, Pajak Penghasilan terutang, modal, akumulasi laba ditahan,
jumlah pegawai tetap, dan harta berwujud selain kas dan setara kas; dan
Daftar anggota Grup Usaha dan kegiatan usaha utama per negara atau
yurisdiksi.

b). Batasan Transaksi (Threshold Transaction)

Dibagi menjadi 2 (dua) kategori yaitu pertama, yang wajib membuat dokumen
induk dan dokumen lokal kedua, yang wajib membuat dokumen induk, dokumen
lokal dan laporan per negara. Yang wajib membuat dokumen induk dan dokumen
lokal meliputi :

Nilai peredaran bruto Tahun Pajak sebelumnya dalam satu Tahun Pajak lebih
dari Rp 50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah) ;
Nilai transaksi afiliasi tahun pajak sebelumnya dalam satu tahun pajak :
o lebih dari Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah) untuk
transaksi barang berwujud; atau
o lebih dari Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah) untuk masing-
masing penyediaan jasa, pembayaran bunga, pemanfaatan barang
tidak berwujud, atau Transaksi Afiliasi lainnya; atau
Pihak Afiliasi yang berada di negara atau yurisdiksi dengan tarif Pajak
Penghasilan lebih rendah dari pada tarif Pajak Penghasilan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 17 UU PPh.
Sementara yang wajib membuat dokumen induk, dokumen lokal dan laporan per
negara yaitu :

Wajib Pajak yang merupakan Entitas Induk dari suatu Grup U saha yang
memiliki peredaran bruto konsolidasi pada Tahun Pajak bersangkutan paling
sedikit Rp 11.000.000.000.000,00 (sebelas triliun rupiah)
Dalam hal Wajib Pajak dalam negeri berkedudukan sebagai anggota Grup
Usaha dan entitas induk dari Grup Usaha merupakan subjek pajak luar
negeri, Wajib Pajak dalam negeri wajib menyampaikan laporan per negara
sepanjang negara atau yurisdiksi tempat Entitas Induk berdomisili:
Tidak mewajibkan penyampaian laporan per negara;
Tidak memiliki perjanjian dengan pemerintah Indonesia mengenai
perpajakan; atau
Memiliki perjanjian dengan pemerintah Indonesia mengenai pertukaran
informasi perpajakan, namun laporan per negara tidak dapat diperoleh
pemerintah Indonesia dari negara atau yurisdiksi tersebut.

c). Ikhtisar dan Kertas Kerja

salah satu kelengkapan TP Doc adalah adanya lampiran Ikhtisar (lampiran huruf
B) dan Kertas Kerja (lampiran huruf E) sebagaimana disebutkan dalam lampiran
PMK 213 yaitu berupa pernyataan Wajib Pajak telah menyelenggarakan dan
menyediakan dokumen induk dan dokumen lokal sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
d). Cakupan Transaksi

Transaksi mencakup lintas negara (cross border) dan transaksi dalam negeri
(domestic transaction).

e). Perspektif Waktu Analisa Penerapan Prinsip Kewajaran

Sekarang, Wajib berbahasa Indonesia termasuk bagi Wajib Pajak yang sudah
mendapatkan izin menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing dan mata
uang selain rupiah.

g. Surat Pernyataan Ketersediaan Dokumen

Sekarang. Wajib membuat surat pernyataan ketersediaan dokumen. Dalam


pasal 4 ayat 3 PMK 213 disebutkan bahwa dokumen penentuan harga transfer
harus dilampiri dengan surat pernyataan mengenai saat tersedianya dokumen
penentuan harga transfer tersebut ditandatangani oleh pihak yang menyediakan
dokumen penentuan harga transfer.

Prosedur/ tata cara melaporkannya TP Doc

Sebagai lampiran SPT


Master Tahunan PPh Badan Tahun
Local Files Ihktisar
Files pajak yang bersangkutan

Pernyataan saat tersedianya


Lampiran Huruf B
dokumen Disimpan oleh WP
PMK 213/PMK.03/2016
dan wajib disampaikan saat
diminta oleh DJP

Sebagai lampiran SPT


Tahunan PPh Badan Tahun
CbcR Lampiran pajak yang berikutnya
huruf E,F & G

PMK 213/PMK.03/2016
Penjelasan :
Master File berisi menegnai informasi mengenai grup usaha paling sedikit
memuat mengenai Struktur dan bagan kepemilikan serta negara atau
yurisdiksi masing-masing anggota, kegiatan usaha yang dilakukan, aktivitas
keuangan dan pembiayaan, laporan keuangan konsolidasi entitas induk dan
informasi perpajakan terkait transaksi afiliasi, dan harta tidak berwujud yang
dimiliki (sesuai lampiran huruf C PMK 213/PMK 03/2016)
Local File berisi mengenai informasi Identitas dan kegiatan usaha yang
dilakukan, inforamsi transaksi afiliasi dan transaksi independen yang
dilakukan, penerapan prisnip kewajaran dan kelaziman usaha, informasi
keuangan dan peristiwa/ kejadian /fakta non keuangan yang mempengaruhi
pembentukan tingkta harga atau laba (sesuai dengan lampiran huruf D PMK
213/PMK 03/2016) - (Lebih dari 1 kegiatan usaha dengan karakteris usaha
berbeda maka local file disajikan secara tersegmentasi sesuai karakterisasi
usaha yang dimiliki)
CbCR - Informasi mengenai :
A - Informasi mengenai penghasilan, pajak yang dibayar, aktivitas usaha per
negara dari seluruh anggota group usaha baik dalam negri mauapun luar
negeri yang meliputi nama negara , peredaran bruto, laba rugi sebelum pajak,
pajak pengahsilan yang telah dipotong/dipungut/dibayar sendiri, pajak
penghasilan terhutang, modal, akumulasi daba ditahan, jumlah pegawai tetap
dan harta berwujud selain kas dan setara kas.
B - Daftar anggota group usaha dan kegaiatan utama per negara

*kertas kerja CBCR (informasi A dan B) lampiran huruf E,F dan G


*Informasi dalam CBCR digunakan hanya dalam rangka penilai risiko pengindaran pajak

2. Menurut anda dalam pemilihan metode penyusutan, sebaiknya perusahaan


mengunakan metode Garis Lurus atau Saldo menurun? Mana yang lebih
menguntungkan secara pajak, buktikan dengan contoh soal perbandingan
perhitungannya?

PT. Abdi membeli asset tetap berupa mesin, dengan harga perolehan Rp
1.000.00.000. Mesin tersebut dalam asset tetap kelompok 1. Besarnya beban
penyusutan dapat dilihat pada Tabel.

Metode Penyusutan
`Tahun
Garis Lurus Saldo Menurun
1 250.000.000 500.000.000
2 250.000.000 250.000.000
3 250.000.000 125.000.000
4 250.000.000 125.000.000
Akm Penyusutan 1.000.000.000 1.000.000.000

Dari table 1 dapat dilihat bahwa besarnya beban penyusutan per tahun
berbeda-beda tetapi pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) jumlah akumulasi
penyusutan adalah sama. Sehingga dalam perpajakan perbedaan besarnya beban
penyusutan ini dikenal dengan istilah beda waktu/beda sementara (timing
difference/temporary difference). Walaupun berdasarkan nilai nominal pada akhir
masa manfaat bsarnya akumulasi beban penyusutan sama, namun jika ditinjau dari
nilai tunai (present value) jumlahnya akan menjadi berbeda.

Dalam contoh ini, untuk mengetahui nilai tunai (present value) tingkat diskon
yang digunakan adalah 20%.

Metode Penyusutan
Garis Lurus Saldo menurun Tingkat
Tahun
discount
Nominal PV PV Nominal PV PV
(20%)
1 250.000.000 208.333.333,30 500.000.000 416.666.666,70 0,833333
2 250.000.000 173.611.111,10 250.000.000 173.611.111,10 0,694444
3 250.000.000 144.675.925,90 125.000.000 72.337.963,00 0,578703
4 250.000.000 120.563.271,60 125.000.000 60.281.635,80 0,482253
1.000.000.000 647.183.641,90 1.000.000.000 722.897.376,60

Dari table diatas dapat dilihat bahwa mesin yang pada saat perolehannya
sebesar Rp 1.000.000.000,00 dan pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) dengan
discount factor 20% jumlah nilai tunai (present value) dari akumulasi beban
penyusutan mesin dengan menggunakan metode garis lurus sebesar Rp
647.183.642 dan menggunakan metode saldo menurun sebesar Rp 722.897.76,50.

Garis Lurus Saldo menurun


PV PV
Keterangan
Nominal PV (Tingkta Diskon Nominal PV (Tingkta Diskon
20%) 20%)
Harga 1.000.000.000 1.000.000.000 500.000.000 416.666.666,70
perolehan
Biaya 1.000.000.000 647.183.641,98 1.000.000.000 722.897.376,54
Penyusutan
PPh 30% 300.000.000 194.115.092,59 300.000.000 216.869.212,96
Penghematan pajak = 216.869.212,96 - 194.115.092,59 =22.714.120.37

Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh besarnya penghematan pajak


yang dapat dilakukan jika perusahaan memilih metode saldo menurun dalam
menghitung besarnya beban peyusutan. Tarif pajak yang digunakan adalah tarif
pajak tertiggi yaitu 30% karena diasumsikan bahwa perusahaan telah mencapai laba
di atas Rp 100.000.000. Dengan tingkat diskon 20% besar penghematan pajak
adalah Rp 216.869.212,96 Rp 194.115.092,59 = Rp 22.714.120,37.
3. Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang industri minuman buah,
mengalami kesulitan atas membengkaknya PPh Pasal 21 atas
karyawannya, saudara diminta membantu manajemen pajak ats PPh Pasal
21 tersebut. Coba jelaskan langkah-langkah saudara dan coba bandingkan
apabila perusahaan tersebut menggunakan metode gross, net dan gross up
disertai contoh perhitungannya?

PPh pasal 21 karyawan adalah pajak yang dibebankan kepada karyawan


atas penghasilan yang diterimanya dari institusi/yayasan. PPh pasal 21 itu dipungut
oleh pemberi kerja lalu disetor kepada pemerintah. Ada 3 metode yang bisa
digunakan dalam perhitungan PPh 21, yaitu:
1. Net Method, yaitu merupakan metode pemotongan pajak dimana
perusahaan menanggung pajak karyawannya.
2. Gross Method, yaitu merupakan metode pemotongan pajak dimana
karyawan menanggung sebagian sendiri jumlah pajak penghasilannya.
3. Gross-Up Method, yaitu merupakan metode pemotongan pajak dimana
perusahaan memberikan tunjangan pajak yang jumlahnya sama besar
dengan jumlah pajak yang akan dipotong dari penghasilan karyawan.

Contoh Kasus 1:
Annisa adalah seorang wajib pajak dengan status kawin dengan satu anak,
bekerja sebagai staff di suatu universitas swasta. Gaji yang diperoleh setiap bulan
Rp 5.000.000,00.
Tabel
Perhitungan PPh Pasal 21 Karyawan

PPh Pasal 21 Ditanggung Karyawan PPh Pasal 21 Ditanggung Perusahaan PPh Pasal 21 Ditunjang Perusahaan (Gross Up)
Gaji Rp 5,000,000.00 Gaji Rp 5,000,000.00 Gaji Rp 5,000,000.00
Tunjangan Jabatan Rp 1,000,000.00 Tunjangan Jabatan Rp 1,000,000.00 Tunjangan Jabatan Rp 1,000,000.00
Tunjangan Transportasi Rp 500,000.00 Tunjangan Transportasi Rp 500,000.00 Tunjangan Transportasi Rp 500,000.00
Tunjangan Makan Rp 300,000.00 Tunjangan Makan Rp 300,000.00 Tunjangan Makan Rp 300,000.00
Premi Asuransi Kec. Kerja Rp 17,500.00 Tunjangan Pajak Rp 28,176.00 Tunjangan Pajak Rp 56,352.00
Premi Asuransi Kematian Rp 12,500.00 Premi Asuransi Kematian Rp 12,500.00 Premi Asuransi Kec. Kerja Rp 17,500.00
Penghasilan Bruto Rp 6,830,000.00 Penghasilan Bruto Rp 6,858,176.00 Premi Asuransi Kematian Rp 12,500.00
Pengurangan: Pengurangan: Penghasilan Bruto Rp 6,886,352.00
Biaya Jabatan Rp 341,500.00 Biaya Jabatan Rp 342,900.00 Pengurangan:
Iuran Pensiun Rp 40,000.00 Iuran Pensiun Rp 40,000.00 Biaya Jabatan Rp 344,318.00
Iuran THT Rp 125,000.00 Iuran THT Rp 125,000.00 Iuran Pensiun Rp 40,000.00
Penghasilan Neto Sebulan Rp 6,323,500.00 Penghasilan Neto Sebulan Rp 6,350,276.00 Iuran THT Rp 125,000.00
Penghasilan Neto Setahun Rp 75,882,000.00 Penghasilan Neto Setahun Rp 76,203,000.00 Penghasilan Neto Sebulan Rp 6,377,034.0
PTKP Rp 63,000,000.00 PTKP Rp 63,000,000.00 Penghasilan Neto Setahun Rp 76,524,1408.00
PKP Rp 12,882,000.00 PKP Rp 13,203,000.00 PTKP Rp 63,000,000.00

PKP Rp 13,524,408.00

Hutang PPh (Pasal 21): Hutang PPh (Pasal 21): Hutang PPh (Pasal 21):
5% x Rp 50.000.000 = Rp 644,100.00 5% x Rp 50.000.000 = Rp 660,100.00 5% x Rp 50.000.000 = Rp 13,524,408.00

Jumlah PPh Ps. 21 Setahun Rp 644,100.00 Jumlah PPh Ps. 21 Setahun Rp 660,100.00 Jumlah PPh Ps. 21 Setahun Rp 676,220.00
Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan Rp 53,675.00 Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan Rp 55,00.00 Jumlah PPh Ps. 21 Sebulan Rp 56,352.00
PPh 21 ditanggung
PPh 21 ditanggung perusahaan Rp 28,000.00 perusahaan Rp 56,000.00
PPh yang disetor/dipotong PPh yang disetor/dipotong
PPh yang disetor/dipotong Rp 53,675.00 dari penghasilan karyawan Rp 28,000.00 dari penghasilan karyawan Rp 0.00
4. Apa yang anda ketahui tentang PER 17 Tahun 2015 tentang norma penghitungan penghasilan neto apa perbedaannya
dengan PP 46 tahun 2013. Jika anda adalah seorang WP pribadi yang memiliki usaha skala mikro maka menurut anda
perencanaan pajak seperti apa yang akan dilakukan dengan mengacu kepada kedua aturan tersebut!

Norma perhitungan penghasilan neto adalah norma yang dapat digunakan oleh wajib pajak dalam perhitungan penghasilan
neto dalam satu tahun pajak sebagai dasar perhitungan PPh pasal 25/29. Perbedaan PER 17 Tahun 2015 dengan PP 46 tahun
2013 adalah terletak pada penggunaan tarif dan sifat pajak yang bersifat final, jadi pada PP 46, tarif 1% bersifat final untuk
peredaran bruto kurang dari 4.8 Milyar sedangkan pada PER 17 tahun 2015 Wajib Pajak orang pribadi yang wajib
menyelenggarakan pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan menerima atau memperoleh penghasilan yang tidak
dikenai Pajak Penghasilan bersifat final, menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan
Neto. Jadi disini jumlah peredaran bruto dapat langsung di kalikan dengan tarif sesuai dengan pasal 4 (Daftar Persentase Norma
Penghitungan Penghasilan Neto dikelompokkan menurut wilayah ).

Perencanaan pajak yang dapat digunakan dalam usaha skala mikro menurut penulis :
Mengajukan permohonan SKB PPh 21/23 (PER 32/PJ/2013). SKB adalah Surat Keterangan Bebas Pemotongan dan/atau
Pemungutan PPh bagi WP yang memiliki Peredaran Bruto Tertentu, sama halnya dengan surat keterangan yang menyatakan
bahwa WP dikenai PPh yang bersifat final berdasarkan PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang PPh atas Penghasilan dari Usaha
yang Diterima atau Diperoleh WP yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu dan dibebaskan dari pemotongan dan/atau
pemungutan PPh oleh pihak lain yang dapat dikreditkan. Jadi apabila SKB tidak di urus niscaya pada akhir tahun harus
restitusi karena semua omset UMKM dikenakan PPh 4(2) final maka semua penghasilan dan biaya untuk memperoleh
penghasilan akan dikoreksi fiskal sehingga PKP akhir tahun pastilah NIHIL dan bila ada kredit PPh 21/23 pastilah LEBIH
BAYAR. Akhirnya Wajib Pajak harus melakukan prosedur administrasi atau pemeriksaan untuk mendapatkan restitusi. (PMK
198/2013).
Mertimbangan melepaskan PKP antara lain:
Harga tanpa PPN 10% lebih dapat bersaing
Menghindari biaya administrasi PPN (ATK, tenaga kerja)
Pertimbangan tetap PKP antara lain:
Lebih diprioritaskan untuk lelang badan pemerintah/BUMN/BUMD
Dapat mengkreditkan PPN Masukan untuk bangunan, mobil dan aktiva tetap untuk mengurangi PPN keluaran yang
dipungut dari pembeli.
Mempertahankan omset agar tidak lebih dari Rp. 4.8 Milyar. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara:
Diversifikasi usaha tidak dijadikan satu badan usaha. Misalnya punya usaha toko dan restoran. Bila digabung omsetnya
melebihi Rp. 4.8 Milyar. Maka sebaiknya untuk toko dibuatkan PT/CV dengan NPWP sendiri dan restoran juga
demikian.
Memecah invoice untuk menghindari omset berlebihan. Bila pendapatan untuk jangka panjang, hindari mengakui
pendapatan diakui di muka tapi pecahlah invoice per bulan.

5. Berikut ini soal tentang tax amnesty:


a) Apa yang melatarbelakangi Pemerintah untuk melakukan tax amnesty yang dimulai tahun 2016 ini dengan
mengusulkan RUU tax amnesty kepada DPR RI?
b) Setujukah anda kalau tax amnesty diterapkan di Indonesia dengan skema sekarang mulai tahun 2016?
c) Apa dampaknya kalau tax amnesty tidak diterapkan di Indonesia pada tahun 2016 serta saran anda untuk
perbaikan skema tax amnesty yang ada sekarang?
d) Bagaimana bentuk tax amnesty di negara-negara lain? Berikan contohnya minimal 5 (lima) negara

a. Tingkat pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam belakangan ini cenderung melambat yang memiliki dampak menurunnya
penerimaan pajak dan ketersediaan likuiditas dalam negeri berkurang. Padahal ketersediaan likuiditas tersebut sangat
dibutuhkan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Bukan rahasia lagi kalau banyaknya harta Warga Negara Indonesia
yang disimpan maupun diinvestasikan di luar negeri. Padahal seandainya harta tersebut disimpan dan diinvestasikan di
Indonesia tentu akan meningkatkan likuiditas dalam negeri dan memberikan dorongan pertumbuhan ekonomi. Harta yang diluar
negeri tersebut ada yang belum dilaporkan di SPT Tahunan, sehingga apabila Wajib Pajak ditelusuri akan ada kewajiban
perpajakan yang mungkin timbul. Hal inilah yang membuat Wajib Pajak memiliki keraguan untuk melakukan investasi di
Indonesia. Selain itu, kesuksesan pembangunan nasional sangat bergantung pada pembiayaan dalam negeri yang berasal dari
masyarakat, yaitu penerimaan pajak. Pemerintah perlu membuat satu terobosan kebijakan yang dapat menarik harta tersebut
kembali ke Indonesia. Dengan adanya tranparansi keuangan global, akan sangat sulit untuk menyembunyikan harta di luar
negeri.

b. Kurang setuju, kebijakan pengampunan pajak apapun alasannya, lebih banyak menimbulkan dampak negatif dari pada
positifnya. Mungkin dalam jangka pendek kebijakan ini dapat meningkatkan penerimaan pajak, namun dalam jangka panjang
kebijakan ini hanya akan menggerus penerimaan pajak dan menurunkan nama baik dan kewibawaan aparat pajak. Lebih jauh
kebijakan ini justru menunjukkan ketidakmampuan pemerintah/aparat pajak dalam melakukan pengawasan kepada wajib pajak.
Jika ingin menerapkan Tax Amnesty maka model yang tepat adalah jenis pengampunan pajak yang dicetuskan oleh Erwind
Silitonga yaitu pengampunan yang tetap mewajibkan pembayaran pokok pajak yang lama, namun mengampuni sanksi bunga,
sanksi denda dan sanksi pidana pajaknya. Sejauh ini perkembangan Tax Amnesy dinilai cukup baik banyak dari WNI mulai
memindahkan harta miliknya ke indonesia dan bahkan mereka dengan suka rela melaporkan aset kekayaan mereka ke kantor
perpajakan jika hal ini berkelanjutan APBN diprediksi akan surplus dan kebijakan kebijakan yang dicanangkan akan
terealisasi dengan baik.

c. Jika tax amesty tidak di terapkan pada tahun 2016, ada kemungkinan pemerintah akan kesulitan dalam mendanai beberapa
pembangun infrastruk di beberapa daerah di indonesia. Sehingga ini bisa berimbas pada pemotongan anggaran belanja negara
dan berpotensi melambatnya proses pembangunan dan pergerakan ekonomi. Saran dari saya semoga indonesia punya pojok
bursa seperti yang di miliki oleh china dimana ada beberapa investasi yang di peruntukan untuk WNI dan itu di berikan
beberapa fasilitas baik pengurangan pajak atau tarif apabila ingin berinfestasi disana, sehingga tax amnesty tidak perlu di
adakan. Ini salah satu cara mengzalimi warga negara yang lain yang taat membayar pajak, dengan hanya memberikan saksi
penebusan dengan rate yang kecil sekali.

d. Tax Amnesty di India - Situasi krisis di India mendorong wajib pajak berpartisipasi dalam tax amnesty, program ini merupakan
program amnesty terakhir, tidak ada amnesty selanjutnya. telah berhasil untuk repatriasi dana dan mendorong agar
underground economy semakin sempit ruang geraknya. India berhasil menyerap sekitar USD2,5 miliar.
Tax Amnesty di Italia - Untuk merepatriasi dana para Wajib Pajak (WP) yang berada di luar negeri berhasil membawa pulang
sekitar 80 miliar euro dan sekitar 4 miliar euro penalty dari dana penduduk Italia yang ditanam di luar negeri, Italia berhasil
menyerap sekitar 15% total penerimaan pajak.

Tax Amnesty Afrika Selatan


Sangat besar antusias masyarakat dengan fasilitas amnesty.,
Telah dilakukannya penelitian dan pengumpulan data sebelum pelaksanaan pengampunan pajak.
Optimalisasi strategi pull and push. Pull adalah menarik atau memberikan insentif kepada wajib pajak agar tertarik ikut
program ini. Push dimaksudkan memberikan tekanan atau rasa tidak nyaman seandainya wajib pajak tidak berpartisipasi

Tax amnesty untuk rekonsiliasi nasional. - Irlandia


Pemerintah Irlandia mengumumkan usulan tenggat waktu 10 bulan pada wajib pajak yang tidak taat untuk membayar
kewajiban tanpa ancaman sanksi denda dan bunga atau tuntutan.
Kebijakan ini merupakan yang pertama dan terakhir bagi wajib pajak di Irlandia.
Menambah jumlah pemeriksa pajak dengan tugas menegakkan pemungutan pajak, mengumumkan daftar hitam para
pembayar pajak di surat kabar-surat kabar nasional.
Di akhir periode pengampunan, memberlakukan sistem perpajakan baru, tarif denda dan bunga naik bagi wajib pajak
nakal, menambah kewenangan para penyidik untuk menyita barang serta aktiva lainnya dan membekukan rekening bank
tersangka penyelundup pajak.
Dana yang didapatkan mencapai USD750 juta, jauh di atas target awal sebesar USD50 juta. Faktor yang memengaruhi
keberhasilan tax amnesty Dibutuhkan momentum tepat dan sesuai.
Tax amnesty perlu diprogram dengan konsep baik agar berhasil.
Tax amnesty memang dapat meningkatkan penerimaan dalam jangka pendek dan meningkatkan kepatuhan perpajakan
dalam jangka panjang, tetapi jika tidak diprogram dengan baik, tax amnesty tidak akan memberikan dampak positif.
Negara perlu memberikan apresiasi kepada mereka yang selama ini telah patuh membayar pajak. Hal ini untuk
menghindari disinsentif para wajib pajak, disatu sisi mereka yang patuh memenuhi kewajiban perpajakannya terkesan
ditekan, sedangkan di sisi lain mereka yang melanggar justru diberikan pengampunan.
Selain menyusun skema terkait tax amnesty, pemerintah juga perlu menyusun skema insentif untuk wajib pajak yang
selama ini selalu menaati kewajiban perpajakannya.
Dampak lain yang dapat terjadi adalah munculnya persepsi bahwa kebijakan lain yang serupa dengan tax amnesty akan
dikeluarkan di masa depan dalam jangka pendek. Persepsi seperti ini biasanya muncul jika kebijakan tax amnesty
dikeluarkan tanpa diikuti dengan peningkatan penindakan peraturan perpajakan.
Pemerintah bisa memberikan pengumuman bahwa para pelanggar pajak yang tidak melaporkan pajaknya sampai
program tax amnesty berakhir, namanya diungkap ke publik untuk memberikan rasa malu (sanksi moral) kepada para
pelaku.

Tax amnesty di Kolombia.


Tax amnesty ditolak mentah-mentah oleh segenap pihak di negara ini. Namun, ketika berganti nama dengan program
yang sama, tax amnesty akhirnya bisa disahkan.
Di Kolombia tidak ada namanya pengampunan pajak. Tapi ketika diajukan dengan nama yang berganti, yaitu
normalization tax, mahkamah konstitusi mereka mengizinkan," imbuhnya.

Tax amnesty di Belanda,


Tax amnesty memang bukan menjadi pilihan utama. Tapi, pemerintah Belanda memiliki cara spesial untuk meningkatkan
target penerimaan mereka. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan akurasi data. Bahkan, keakuratan data neraka
jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Di Belanda lebih ketat lagi. Bahwa dalam data mereka bisa tahu siapa pasangannya. Dan apa yang belum mereka
bayar, bahkan juga pegawai pajak mereka juga datang langsung ke rumah wajib pajak, menyerahkan kue, lalu dengan
mudah menerima tunggakan pajak dan segera mengaudit ke dalam sistem," tutupnya.

6. Definisikan, gambarkan dan jelaskan Skema penghindaran pajak internasional serta bagaimana perlakuan Anti Tax
avoidance-nya atas:
a. Transfer pricing
b. Treaty shooping
c. CFC

Skema Penghindaran Pajak


Beberapa skema penggelapan pajak yang umumnya dilakukan oleh perusahaan PMA dalam aktivitas FDI adalah:

Transfer Pricing
Transfer pricing merupakan jumlah harga atas penyerahan (transfer) barang atau imbalan atas penyerahan jasa yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak dalam transaksi bisnis maupun finansial (Gunadi:1994). Dalam konteks perpajakan transfer
pricing digunakan untuk merekayasa pembebanan harga suatu transaksi antara perusahaan-perusahaan yang mempunyai
hubungan istimewa dalam rangka meminimalkan beban pajak yang terutang secara keseluruhan atas grup perusahaan. Dari sisi
negara, praktik transfer pricing dapat mengakibatkan distorsi penerimaan negara dari sektor pajak. Menurut Griffin dan Pustay,
perusahaan multinasional berusaha untuk memaksimalkan laba bersih setelah pajak dengan cara they may manipulate transfer
prices to shift reported profits from high-tax countries to law-tax countries. Skema transfer pricing yang umumnya dilakukan oleh
perusahaan dengan:

Menggelembungkan inter company cost.


Membebankan biaya royalti atas pemakaian merek dagang milik induk perusahaan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Memperbesar biaya bahan baku dan atau memperkecil penghasilan dari penjualan barang.
Memperkecil omzet penjualan melalui transaksi maklon.
Pinjaman saham melalui perusahaan PMA, dilakukan dengan cara (1) membebankan biaya bunga dari pinjaman pemegang
saham kepada pemberi pinjaman di luar negeri, atau (2) penghindaran PPh pemotongan dan pemungutan (withholding tax),
yaitu melalui praktik pinjaman tanpa bunga dari pemegang saham, dan praktik pemakaian bahan baku untuk perusahaan di
luar negeri dan pemakaian merek dagang induk perusahaan tanpa pembayaran royalti kepada induk perusahaan di luar
negeri.

Treaty Shopping
Tax treaty dapat dijadikan objek untuk melakukan aktivitas penghindaran pajak, meskipun tujuan dari tax treaty pada
hakekatnya adalah untuk mencegah penghindaran pajak. Skema treaty shopping dilakukan oleh penduduk suatu negara yang
tidak memiliki tax treaty mendirikan anak perusahaan di negara yang memiliki tax treaty dan melakukan kegiatan investasinya
melalui anak perusahaan tersebut, sehingga investor dapat menikmati tarif pajak rendah dan fasilitas-fasilitas perpajakan lainnya
yang tercantum dalam tax treaty.
Skema treaty shopping dilakukan untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas dalam tax treaty (treaty benefit). Padahal treaty benefit
hanya boleh dinikmati oleh residen (subjek pajak dalam negeri) dari kedua negara yang mengikat perajanjian. Untuk dapat
memanfaatkan treaty benefit harus memenuhi dua syarat (Mansury:1999):
Syarat formal (administrative requirement), yaitu pembuktian bahwa yang bersangkutan adalah residen (penduduk) dari negara
yang mengikat perjanjian berupa Certificate of Residence yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang di negara treaty partner.
Syarat material (substantive requirement), yaitu Wajib Pajak di negara treaty partner memang benar-benar residen di negara
partner tersebut, bukan residen negara ketiga.

Controlled Foreign Corporation (CFC)


Penghindaran pajak yang dilakukan dengan cara menunda pengakuan penghasilan modal yang bersumber dari luar negeri
(khususnya di negara tax haven) untuk dikenakan pajak di dalam negeri. Skema CFC dilakukan dengan mendirikan entitas di luar
negeri dimana Wajib Pajak dalam negeri (WPDN) memiliki pengendalian. Upaya WPDN untuk meminimalkan jumlah pajak yang
dibayar atas investasi yang dilakukan di luar negeri adalah dengan menahan laba yang seharusnya dibagikan kepada para
pemegang sahamnya. Dengan memanfaatkan adanya hubungan istimewa dan kepemilikan mayoritas saham, badan usaha di luar
negeri tersebut dapat dikendalikan sehingga dividen tidak dibagikan/ditangguhkan. Upaya di atas akan semakin menguntungkan
bagi perusahaan jika badan usaha di luar negeri didirikan di negara tax haven atau low tax jurisdiction.

7. Dalam laporan keuangan PT ABC terdapat pinjaman kepada Bank XYZ sejumlah US$ 7,5 juta dan deposito pada bank
yang sama sebesar Rp 3 miliar sebagai keharusan (jaminan bank) untuk mendapatkan pinjaman tersebut berdasarkan
dokumen offering letter yang ditandatangani kedua belah pihak. Bagaimana perlakuan fiskal atas biaya bunga
pinjaman tersebut?

Di ketahui :
Utang bank UUS 7.5jt = Rp 99,788,459,600
*Kurs bank Indo1 USD = 13,305.13 IDR
Deposito Rp 3Milyar
Tinggat bunga 12% pertahun *Asumsi penulis
Menurut ketentuan perpajakan terdapat beberapa kategori yang akan terjadi pada biaya bunga pinjaman dalam perhitungan
pajak penghasilan entitas. Kategori ini hanya digunakan dalam perhitungan pajak penghasilan dan dapat dijelaskan sebagai
berikut:

1. Biaya Bunga Pinjaman Bank Diperbolehkan dengan Jumlah Tertentu, biaya bunga pinjaman diperbolehkan secara
perpajakan dengan jumlah tertentu dengan syarat jumlah rata-rata utang bank lebih besar dibandingkan dengan jumlah rata-
rata deposito yang dimiliki. Oleh karena itu biaya bunga atas pinjaman yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah bunga
yang dibayar atau terutang atas rata-rata pinjaman yang melebihi jumlah rata-rata dana yang ditempatkan sebagai deposito
berjangka atau tabungan lainnya.

Pertama (Menghitung Jumlah Rata-Rata Utang Bank Setahun):

Jumlah Rata-Rata Utang Bank = Total Pinjaman : Masa Pinjaman


= Rp 99.788.459.600 : 12 Bulan
= Rp 8.315.704.966

Kedua (Menghitung Jumlah Rata-Rata Deposito Setahun):

Jumlah Rata-Rata Deposito = Total Deposito : Masa Deposito


= Rp 3.000.000.000 : 12 bulan
= Rp 250.000.000

Ketiga (Menghitung Jumlah Biaya Bunga Pinjaman yang Diperkenankan Secara Pajak):

Biaya Bunga Pinjaman


= Prosentase Bunga x (Jumlah Rata-Rata Utang Bank - Jumlah Rata-Rata Deposito)
= 12% x (Rp 8.315.704.966- Rp 250.000.000)
= Rp 967.884.595

Jadi biaya bunga pinjaman yang diperkenankan menurut perpajakan sebesar Rp 967.884.595
8. Bagaimana melakukan tax review pada PPh pemotongan dan pemungutan? Jelaskan!

Tax review merupakan suatu kegiatan penelaahan terhadap seluruh transaksi perusahaan untuk menghitung jumlah pajak
yang terutang dan memprediksi potensi pajak yang mungkin timbul berdasarkan ketentuan perpajakan. Tax Review meliputi
jenis pajak baik yang menjadi kewajiban atau yang menjadi potensi pajak, seperti PPh Badan, PPh pemotongan/pemungutan
(withholding tax system), PPN, dan PPnBM (Pauline, 2006) dalam (Andini dan Sumadi, 2014) .
Contoh perlakuan tax review atas pemotongan dan pemungutan pajak atas hotel X dari (Andini dan Sumadi, 2014) adalah
sebagai berikut :

Tax Review atas PPh Badan dilakukan dengan mereview ketepatan jumlah, waktu penyetoran,dan pelaporan angsuran
bulanan PPh Pasal 25, mereview pengakuan pendapatan serta biaya dalam laporan laba rugi, mereview kredit pajak yang
dilakukan oleh pihak ketigadan pembukuan perusahaan, melakukan koreksi fiskal positif maupun negatif atas penghasilan dan
biaya yang tidak sesuai dengan ketentuan perpajakan,melakukan perhitungan ulang kemudian mengevaluasi Pajak Penghasilan
terutang Hotel X.
Kewajiban Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 21 Karyawan dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi
penghasilan dan status pegawai Hotel X tahun 2012, menghitung PPh Pasal 21 karyawan sesuai dengan ketentuan
perpajakan((penghasilan bruto - biaya jabatan JHT yang dibayar sendiri PTKP) x tarif pasal 17 UU PPh), memeriksa Surat
Setoran Pajak (SSP) dan SPT Masa PPh Pasal 21, rekonsiliasi Objek PPh Pasal 21 pada SPT Tahunan Badan dengan SPT Masa
lalu menghitung kurang bayar yang mungkin timbul akibat kesalahan perhitungan.
Kewajiban Pemotongan/Pemungutan PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 4 ayat (2) dilakukan dengan menganalisa ledger Hotel X
tahun 2012, memeriksa bukti pemotongan, Surat Setoran Pajak (SSP), SPT Masa PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 4 ayat (2),
rekonsiliasi Objek PPh Pasal 23 dan PPh Pasal 4 ayat (2) pada SPT Tahunan Badan dengan SPT Masa PPh Pasal 23 dan Pasal 4
ayat (2), serta menghitung kurang bayar yang mungkin timbul akibat kesalahan perhitungan.

9. Bandingkan Tax treaty antara Indonesia- India dengan Tax treaty Indonesia-USA? Apa hal yang paling prinsip yang
membedakan kedua tax treaty tersebut?
No Konten Indonesia USA Indonesia - India
Signed Date : 07 Agustus 1987 Signed Date : 11 Juli 1988
Effective Date : 01 Januari 1988 Effective Date : 01 Februari 1997
1 Pajak-Pajak Yang Indonesia, pajak penghasilan Indonesia - pajak penghasilan yang
Dicakup Dalam yang dikenakan berdasarkan dikenakan berdasarkan Undang
Persetujuan Undang-Undang Pajak undang Pajak Penghasilan 1984,
Penghasilan Tahun 1984, Pajak Pajak Perseroan Tahun 1925, dan
Perseroan Tahun 1925, dan pajak yang dikenakan berdasarkan
Pajak atas Bunga, Dividen, dan atas Bunga, Dividen dan Royalty
Royalti Tahun 1970. 1970
USA - pajak penghasilan yang India - pajak penghasilan, termasuk
dikenakan berdasarkan Internal setiap tambahan yang dikenakan
RevenueCode (undang-undang berdasarkan Undang-undang Pajak
pajak Amerika Serikat) namun Penghasilan, 1961 dan "surtax"
tidak termasuk the accumulated yang dikenakan berdasarkan
earnings tax dan the personal Undang-undang Pajak Tambahan
holding company tax atas Perseroan (Laba), 1964

2 Bentuk Usaha Tetap Meliputi beberapa hal termasuk Tidak termasuk pertanian dan
pertanian dan perkebungan, perkebungan, gudang dan jasa
gudang dan jasa
3 Penghasilan Dari Penghasilan dari harta tidak Penghasilan yang diperoleh
Harta Tak Bergerak bergerak, termasuk penghasilan seorang penduduk dari suatu
yang diperoleh dari Negara pihak pada Persetujuan
pertambangan, sumur-sumur dari harta tak bergerak, termasuk
minyak atau gas, penggalian, penghasilan yang diperoleh dari
atau sumber daya alam lainnya lahan pertanian atau kehutanan
dan laba yang diperoleh dari yang berada di Negara pihak pada
penjualan, pertukaran, atau Persetujuan lainnya, dapat
bentuk lain pengalihan harta tidak dikenakan pajak di Negara lain
bergerak tersebut atau hak yang
menimbulkan penghasilan tadi, tersebut.
dapat dikenakan pajak oleh
Negara Pihak pada Perjanjian di
mana harta tidak bergerak,
pertambangan, sumur-sumur
minyak atau gas, penggalian,
atau sumber daya alam lainnya
terletak.
4 Sumber Penghasilan Dividen, bunga, royakti, Tidak dijelaskan dalam poin yang
penghasilan dari benda tidak jelas
bergerak, penghasilan dari
penyewaan harta gerak berwujud,
penghasilan yang diterima OP
dari pekerjaan, penjualan
5 Perkapalan Dan Laba dari pengoperasian kapal Laba yang diperoleh suatu
Pengangkutan Udara laut atau pesawat udara dalam perusahaan dari suatu Negara
jalur lalu lintas internasional. pihak pada Persetujuan dari
pengoperasian kapal laut dan pengoperasian kapal laut atau
kapal udara dijelaskan lebih lanjut pesawat udara dalam jalur lalu
dalam 5 poin yakni : lintas internasional hanya akan
(a) penghasilan dari penyewaan dapat dikenakan pajak di Negara
kapal laut atau pesawat udara tersebut.
atas dasar full basis dalam pengoperasian kapal laut dan kapal
jalurlalu lintas udara tidak dijelaskan lebih rinci.
internasional; (b) penghasilan
dari penyewaan pesawat udara
atas dasar bareboat basis jika
pesawat udara tersebut
dioperasikan dalam jalur lalu
lintas internasional;
(c) penghasilan dari
penyewaan kapal laut tanpa awak
jika kapal tersebut dioperasikan
dalam jalur lalu lintas
internasional dan penyewanya
bukan penduduk Negara Pihak
lainnya pada Perjanjian atau
bentuk usaha tetap di Negara
Pihak lainnya tersebut;
atau (d) penghasilan dari
penggunaan atau
penyelenggaraan peti kemas (dan
peralatan yang terkait dengan
pengangkutan peti kemas) yang
digunakan dalam jalur lalu lintas
internasional jika penghasilan
tersebut berhubungan dengan
penghasilan yang dijelaskan
dalam ayat (1).
6 Dividen Apabila penerima dividen adalah Apabila penerima dividen adalah
pemilik saham yang menikmati pemilik saham yang menikmati
dividen itu adalah penduduk dividen itu, maka pajak yang
Negara Pihak lainnya pada dikenakan tidak akan melebihi :
Perjanjian, maka pajak yang (a) 10 % dari jumlah kotor
dikenakan oleh Negara yang dividen apabila pemilik saham
disebutkan pertama tersebut tidak yang menikmati dividen
boleh melebihi 15% dari jumlah tersebut adalah perseroan
bruto dividen yang benar-benar yang memiliki paling sedikit
didistribusikan. dua puluh lima persen dari
saham-saham perseroan
yang membayarkan dividen
itu;
(b) 15 % dari jumlah kotor
dividen dalam hal lainnya.
7 Royalti Tarif pajak yang dikenakan oleh Royalti dikenakan pajak di Negara
suatu Negara Pihak pada pihak pada Persetujuan di mana
Perjanjian atas royalti yang royalti itu berasal dan sesuai
bersumber di Negara Pihak pada dengan perundang-undangan
Perjanjian tersebut dan dimiliki Negara tersebut, tetapi apabila
oleh pihak yang menikmati royalti penerima royalti adalah pemilik hak
tersebut yang merupakan yang menikmati royalti itu, maka
penduduk Negara Pihak lainnya pajak yang dikenakan tidak akan
pada Perjanjian tidak akan melebihi 15 persen dari jumlah
melebihi 15% kotor royalti.
dari jumlah bruto royalti yang
dijelaskan dalam ayat 3 (a) dan
10% dari jumlah bruto royalti yang
dijelaskan dalam ayat 3 (b).

8 Berakhirnya Perjanjian ini akan tetap berlaku Persetujuan ini akan tetap berlaku
Perjanjian sampai diakhiri oleh salah satu tanpa batas waktu, tetapi kedua
Negara Pihak pada Perjanjian. Negara pihak pada Persetujuan
Salah satu Negara Pihak pada dapat menyampaikan
Perjanjian dapat mengakhiri pemberitahuan penghentian
Perjanjian sewaktu-waktu setelah Persetujuan secara tertulis kepada
masa 5 (lima) tahun sejak tanggal Negara pihak Pada Persetujuan
Perjanjian mulai berlaku lainnya melalui saluran diplomatik
sepanjang dalam waktu paling pada atau sebelum tanggal 30 Juni
lambat 6 (enam) bulan tahun takwim yang dimulai setelah
sebelumnya memberitahukan lewat masa waktu 5 tahun sejak
rencana penghentian tersebut berlakunya
melalui saluran-saluran Persetujuan dan dalam hal
diplomatik. demikian Persetujuan ini akan tidak
berlaku lagi :
(a) di Indonesia, sehubungan
dengan penghasilan yang
diperoleh di suatu tahun mulai
pada atau setelah hari
pertama bulan Januari tahun
takwim berikutnya setelah
pemberitahuan berakhirnya
Persetujuan diberikan;
(b) di India, sehubungan dengan
penghasilan yang diperoleh di
tahun sebelumnya, mulai
pada atau setelah tanggal 1
April tahun takwim berikutnya
setelah pemberitahuan
diberikan.

10. PT Maju konstruksi membuat perjanjian pekerjaan pelaksanaan konstruksi pada tanggal senilai Rp 2 miliar dan
menerima uang muka 20%. Pembayaran yang diterima selanjutnya adalah:
2 Mei 2015, pekerjaan selesai 20%, diterima pembayaran I sebesar Rp 400 juta.
2 Juli 2015, pekerjaan selesai 50%, diterima pembayaran II sebesar Rp 700 juta
2 September 2015, pekerjaan selesai 80%, diterima pembayaran III sebesar Rp 300 juta,
2 November 2015, pekerjaan selesai 100%, bangunan diserahkan,
2 Januari 2016, diterima pembayaran IV sebesar Rp 150 juta
1 April 2016, diterima pelunasan.
Pertanyaan: Tentukan saat pembuatan FP dan besarnya PPN terutang untuk masing-masing tanggal transaksi!