Anda di halaman 1dari 13

Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergos (kerja) dan Nomos (hukum

alam) dan dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan
kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan
perancangan/desain. Ergonomi secara khusus mempelajari keterbatasan dan kemampuan
manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk buatannya. Ilmu ini berangkat
dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan baik jangka pendek maupun
jangka panjang, pada saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerja yang berupa perangkat
keras/hardware (mesin, peralatan kerja, dll) dan perangkat lunak/software (metode kerja, sistem,
dll).
Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan
pekerjaannya. Ilmu ini menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan,
kebolehan, dan batasannya. Ergonomi bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan
lingkungan yang serasi satu sama lainnya. Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik
antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan ilmu ini adalah untuk mengurangi
ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna sebagai media
pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.
Aplikasi ergonomi dalam desain sistem kerja memberikan peranan penting dalam
meningkatkan faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain sistem kerja untuk
mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Desain stasiun kerja
untuk alat peraga visual display, untuk mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja.
Desain perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja. Desain peletakan instrumen dan sistem
pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer informasi sehingga dihasilkan suatu
respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kesalahan, dan meningkatkan efisiensi kerja
dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat.
Peran ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Perancangan produk.
2. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja.
3. Meningkatkan produktivitas kerja.
Sasaran dari Ergonomi yaitu meningkatkan para pengguna agar dapat mencapai prestasi
kerja yang tinggi dalam kondisi yang nyaman, aman dan tenteram. Adapun lingkup kajian
Ergonomi dapat dikelompokkan dalam 4 bidang lingkup kajian, yaitu
1. Display.
Display adalah alat yang menyajikan informasi tentang lingkungan yang dikomunikasikan
dalam bentuk tanda-tanda atau lambang-lambang. Display terbagi menjadi 2 bagian, yaitu
display statis dan display dinamis. Display statis adalah display yang memberikan informasi
tanpa dipengaruhi oleh variabel waktu, misalnya peta, papan pengumuman. Sedangkan display
dinamis adalah display yang dipengaruhi oleh variabel waktu, misalnya speedometer yang
memberikan informasi kecepatan kendaraan bermotor dalam setiap kondisi.
2. Kekuatan fisik manusia (Fisiologi).
Penelitian ini mencakup mengukur kekuatan/daya fisik manusia ketika bekerja dan
mempelajari bagaimana cara kerja serta peralatan harus dirancang agar sesuai dengan
kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktifitas tersebut. Penelitian ini merupakan bagian
dari biomekanik.
3. Ukuran/dimensi dari tempat kerja (antropometri).
Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan ukuran tempat kerja yang sesuai dengan
ukuran tubuh manusia, dipelajari dalam antropometri.
4. Lingkungan fisik.
Penelitian ini berkenaan dengan perancangan kondisi lingkungan fisik dari ruangan dan
fasilitas-fasilitas dimana manusia bekerja. Hal ini meliputi perancangan cahaya, suara, warna,
temperatur, kelembaban, bau-bauan dan getaran pada suatu fasilitas kerja.
Misalnya dalam perancangan produk suatu Handphone. Dengan memperhatikan faktor-faktor
Ergonomi maka hasil perancangan akan mengarah kepada kenyamanan dalam menggunakannya.
Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam perancangan handphone agar Ergonomi
yaitu:
1. Penggunaan display layar, warna keypad, warna handphone sehingga memudahkan
pembacaan dan tidak melelahkan mata.
2. Perancangan dimensi handphone sehingga ukuran menyesuaikan dengan ukuran standar
manusia.
3. Perancangan berat handphone sehingga tidak melelahkan manusia saat dibawa.
4. Desain ukuran keypad sehingga memudahkan jari-jari kita untuk navigasi.
5. Penggunaan sistem operasi yang ada didalamnya sehingga memudahkan orang dalam
menggunakannya.
Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas desain ataupun redesain.
Ergonomi dapat berperan pula dalam desain pekerjaan pada suatu organisasi misalnya:
penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja (shift kerja) dan
meningkatkan variasi pekerjaan. Agar dapat menghasilkan rancangan sistem kerja yang baik
perlu dikenal sifat-sifat, keterbatasan serta kemampuan yang dimiliki manusia. Dalam sistem
kerja manusia berperan sentral yaitu sebagai perencana, perancang, pelaksana dan pengevaluasi
sistem kerja yang bekerja secara keseluruhan agar diperoleh hasil kerja yang baik atau
memuaskan.
Pengertian Ergonomi
Ergonomi berasal dari kata-kata dalam bahasa Yunani yaitu Ergos yang berarti kerja dan Nomos
yang berarti ilmu, sehingga secara harfiah dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari
hubungan antara manusia dengan pekerjaannya.
Definisi ergonomi dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan
pendekatan mengenai ergonomi (Mc Coinick 1993) dimana dalam penjelasannya disebutkan
sebagai berikut:
1. Secara fokus
Ergonomi menfokuskan diri pada manusia dan interaksinya dengan produk, peralatan, fasilitas,
prosedur dan lingkungan dimana sehari-hari manusia hidup dan bekerja.
2. Secara tujuan
Tujuan ergonomi ada dua hal, yaitu peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja serta peningkatan
nilai-nilai kemanusiaan, seperti peningkatan keselamatan kerja, pengurangan rasa lelah dan
sebagainya
3. Secara pendekatan
Pendekatan ergonomi adalah aplikasi informasi mengenai keterbatasan-keterbatasan manusia,
kemampuan, karakteristik tingkah laku dan motivasi untuk merancang prosedur dan lingkungan
tempat aktivitas manusia tersebut sehari-hari.

Berdasarkan ketiga pendekatan tersebut diatas, definisi ergonomi dapat terangkumkan dalam
definisi yang dikemukakan Chapanis (1985), yaitu ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan
mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan
karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, mesin, sistem, pekerjaan dan
lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas
pekerjaan manusia.

Definisi mengenai ergonomi juga datang dari Iftikar Z. Sutalaksana (1979) yang mendefinisikan
ergonomi sebagai suatu cabang ilmu yang sistematis untuk memanfaatkan informasi-informasi
mengenai sifat, kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang suatu sistem kerja
sehingga orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu mencapai tujuan yang
diinginkan melalui pekerjaan itu dengan efektif, aman dan nyaman (Sutalaksana dkk, 1979).

Perkembangan Ergonomi
Ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku yang dikarang oleh
Prof. Murrel. Sedangkan kata ergonomi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu ergon (kerja)
dan nomos (aturan/prinsip/kaidah). Istilah ergonomi digunakan secara luas di Eropa. Di Amerika
Serikat dikenal istilah human factor atau human engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomic
dan human factor) hanya berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama
menekankan pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai
tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang sama.

Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak 4000 tahun yang lalu
(Dan Mac Leod, 1995). Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang benda-
benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan pekerjaannya, sampai
dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu tersebut untuk memudahkan
penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih tidak teratur dan tidak terarah,
bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.
Kemajuan ergonomi semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya bukti nyata bahwa
penggunaan peralatan yang sesuai dapat meningkatkan kemauan manusia untuk bekerja lebih
efektif. Hal tersebut banyak dilakukan pada perusahaan-perusahaan senjata perang.
Beberapa pakar juga memberikan definisi mereka sendiri tentang ergonomi. Mc Cormicks dan
Sanders (1987) membagi ergonomi ke dalam tiga pendekatan, yaitu:
1. Fokus Utama
Fokus utama ergonomi adalah mempertimbangkan manusia dalam perancangan benda kerja,
prosedur kerja, dan lingkungan kerja. Fokus ergonomi adalah interaksi manusia dengan produk,
peralatan, fasilitas, lingkungan dan prosedur dari pekerjaan dan kehidupan sehari-harinya.
Ergonomi lebih ditekankan pada faktor manusianya dibandingkan ilmu teknik yang lebih
menekankan pada faktor-faktor nonteknis.
2. Tujuan
Ergonomi mempunyai dua tujuan utama yaitu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan
dan aktifitas-aktifitas lainnya serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari
pekerjaan tersebut, termasuk memperbaiki keamanan, mengurangi kelelahan dan stres,
meningkatkan kenyamanan, penerimaan pengguna yang besar dan memperbaiki kualitas hidup.
3. Pendekatan Utama
Pendekatan utama mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang relevan tentang
kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan motivasi manusia terhadap desain produk
dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat menggunakannya.
Inti dari ergonomi adalah suatu prinsip fitting the task/the job to the man, yang artinya pekerjaan
harus disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan yang dimiliki oleh manusia. Bidang
kajian Ergonomi
Sesuai dengan definisi ergonomi yang telah disebutkan, dapat dikatakan bahwa kajian utama dari
ergonomi adalah perilaku manusia sebagai objek utama sesuai dengan prinsip fitting the task/the
job to the man. Pada berbagai literatur terdapat perbedaan dalam menentukan bidang-bidang
kajian ergonomi. Pada prinsipnya perbedaan tersebut hanya pada pengelompokkan perilaku-
perilaku manusianya.
Berkaitan dengan bidang penyelidikan yang dilakukan, ergonomi dikelompokkan atas
empat bidang penyelidikan, yaitu:
1. Penyelidikan tentang Display.
Display adalah suatu perangkat antara (interface) yang menyajikan informasi tentang keadaan
lingkungan dan mengkomunikasikannya kepada manusia dalam bentuk angka-angka, tanda-
tanda, lambang dan sebagainya. Informasi ini dapat disajikan dalam bentuk statis, misalnya peta
suatu kota dan dapat pula dalam bentuk dinamis yang menggambarkan perubahan variabel
menurut waktu, misalnya speedometer.
2. Penyelidikan tentang Kekuatan Fisik Manusia.
Dalam hal ini penyelidikan dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas manusia pada saat bekerja dan
kemudian dipelajari cara mengukur aktivitas-aktivitas tersebut. Penyelidikan ini juga
mempelajari perancangan obyek serta peralatan yang disesuaikan dengan kemampuan fisik
manusia pada saat melakukan aktivitasnya.
3. Penyelidikan tentang Ukuran Tempat Kerja.
Penyelidikan ini bertujuan untuk mendapatkan rancangan tempat kerja yang sesuai dengan
dimensi tubuh manusia agar diperoleh tempat kerja yang baik sesuai dengan kemampuan dan
keterbatasan manusia.
4. Penyelidikan tentang Lingkungan Kerja.
Penyelidikan ini meliputi kondisi lingkungan fisik tempat kerja dan fasilitas, seperti pengaturan
cahaya, kebisingan suara, temperatur, getaran dan lain-lain yang dianggap mempengaruhi
tingkah laku manusia.
Pengelompokkan bidang kajian ergonomi yang secara lengkap dikelompokkan oleh Dr. Ir. Iftikar
Z. Sutalaksana (1979) sebagai berikut:
1. Faal Kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang meneliti energi manusia yang dikeluarkan
dalam suatu pekerjaan. Tujuan dan bidang kajian ini adalah untuk perancangan sistem kerja yang
dapat meminimasi konsumsi energi yang dikeluarkan saat bekerja.
2. Antropometri, yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan pengukuran dimensi
tubuh manusia untuk digunakan dalam perancangan peralatan dan fasilitas sehingga sesuai
dengan pemakainya.
3. Biomekanika yaitu bidang kajian ergonomi yang berhubungan dengan mekanisme tubuh
dalam melakukan suatu pekerjaan, misalnya keterlibatan otot manusia dalam bekerja dan
sebagainya
4. Penginderaan, yaitu bidang kajian ergonomi yang erat kaitannya dengan masalah
penginderaan manusia, baik indera penglihatan, penciuman, perasa dan sebagainya.
5. Psikologi kerja, yaitu bidang kajian ergonomi yang berkaitan dengan efek psikologis dan suatu
pekerjaan terhadap pekerjanya, misalnya terjadinya stres dan lain sebagainya.
Pada prakteknya, dalam mengevaluasi suatu sistem kerja secara ergonomi, kelima bidang kajian
tersebut digunakan secara sinergis sehingga didapatkan suatu solusi yang optimal, sehingga
seluruh bidang kajian ergonomi adalah suatu sistem terintegrasi yang semata-mata ditujukan
untuk perbaikan kondisi manusia pekerjanya.
Perancangan atau pengevaluasian sistem kerja dengan hanya memakai pendekatan salah satu
bidang ergonomi tidak akan menghasilkan solusi yang optimal bagi manusia, bidang kajian
ergonomi pada akhirnya terfokus pada perbaikan sistem kerja (SB Hutabarat, 1996) dimana
pengertian sistem menurut pendekatan ergonomi yaitu suatu entitas yang keluar dengan
membawa suatu tujuan. Bailey (1992) mengatakan bahwa konsep suatu sistem adalah:
1. Memiliki tujuan
2. Mengetahui apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan
3. Mampu mendesain komponen untuk mencapai tujuan
4. Mengkoordinasikan sebaik mungkin untuk mencapai tujuan, sehingga secara menyeluruh,
pendekatan ergonomi terhadap karakteristik suatu sistem adalah bahwa sistem memiliki karakter-
karakter sebagai berikut:
Memiliki tujuan
Memiliki hirarki, dalam arti bahwa jarang ditemukan suatu sistem bersifat independen, namun
suatu sistem pada umumnya adalah bagian dan sistem lain yang lebih besar
Beroperasi dalam suatu lingkungan yang justru dapat mempengaruhi performansi sistem itu
sendiri
Ergonomi Anthropometri
Istilah antopometri berasal dari kata Anthropos yang berarti manusia dan Metrikos yang
berarti ukuran. Secara definisi anthropometri dapat dinyatakan sebagai suatu studi yang berkaitan
dengan pengukuran dimensi tubuh manusia. Manusia pada dasarnya akan memiliki bentuk,
ukuran, berat dan lain yang berbeda satu dengan lainnya (Wignjosoebroto,2003).
Selain itu, menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (1991), anthropometri adalah satu
kumpulan data numerik yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, yaitu:
ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah
desain.
Anthropometri dibagi atas dua bagian, yaitu :
o Anthropometri Statis
Pengukuran manusia pada posisi diam dan linear pada permukaan tubuh. Ada beberapa faktor
yang mempengaruhi dimensi tubuh manusia diantaranya adalah :
Umur
Ukuran tubuh manusia akan berkembang. Ada saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan
17 tahun untuk wanita. Ada kecenderung setelah 60 tahun.
Jenis kelamin
Pria umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali dada dan pinggul.
Suku bangsa (etnis)
Sosio ekonomi
Konsumsi gizi yang diperoleh
Pekerjaan
Aktifitas sehari-hari juga berpengaruh.
o Anthropometri Dinamis
Yang dimaksud dengan antropometri dinamis adalah pengukuran keadaan dan ciri-ciri fisik
manusia dalam keadaan bergerak atau memperhatikan gerakan-gerakan yang mungkin terjadi
saat pekerja tersebut melaksakan kegiatannya.
Terdapat tiga kelas pengukuran antropometri dinamis, yaitu :
Pengukuran tingkat keterampilan sebagai pendekatan untuk mengerti keadaan mekanis dari
suatu aktifitas.
Contohnya : dalam pengukuran performansi atlet.
Pengukuran jangkauan ruang yang dibutuhkan saat kerja. Contohnya: jangkauan dari gerakan
tangan dan kaki efektif pada saat bekerja, yang dilakukan dengan berdiri atu duduk.
Pengukuran variabilitas kerja.
Contohnya: analisis kinematika dan kemampuan jari-jari tangan dari seseorang juru ketik atau
operator komputer.
Antropometri dan Aplikasinya dalam Perancangan Fasilitas Kerja
Anthropometri secara luas akan digunakan sebagai pertimbangan-pertimbangan ergonomis
dalam memerlukan interaksi manusia. Data anthropometri yang berhasil diperoleh akan
diaplikasikan secara luas antara lain dalam hal :
Perancangan areal kerja (work station, interior, mobil, dll)
Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas (tools) dan sebagainya.
Perancangan produk-produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja komputer, dll.
Perancangan lingkungan kerja fisik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data anthropometry akan menentukan bentuk,
ukuran dan dimensi yang tepat yang berkaitan dengan produk yang dirancang dan manusia yang
akan mengoperasikan/menggunakan produk tersebut. Dalam kaitan ini maka perancang produk
harus mampu mengakomodasikan dimensi tubuh dari populasi terbesar yang akan menggunakan
produk hasil rancangannya tersebut.
Aplikasi Data Antropometri dalam Perancangan Produk atau Fasilitas Kerja
Data anthropometri yang menyajikan data ukuran dari berbagai macam anggota tubuh manusia
dalam persentil tertentu akan sangat besar manfaatnya pada saat suatu rancangan produk atupun
fasilitas kerja akan dibuat. Penerapan data anthropometri ini akan dapat dilakukan jika tersedia
nilai mean (rata-rata) dan SD (standar deviasi) dari suatu distribusi normal.
Mengingat bahwa keadaan dan ciri fisik dipengaruhi oleh banyak faktor sehingga berbeda satu
sama lainnya maka terdapat tiga prinsip dalam pemakai data tersebut, yaitu : perancangan
fasilitas berdasarkan individu yang ekstrim, perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan,dan
perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata pemakainya.
Prinsip perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim.
Perancangan fasilitas berdasarkan individu ekstrim ini terbagi atas dua yaitu perancangan
berdasarkan individu terbesar (pada penelitian ini berdasarkan data anthropometri terbesar).
Kedua adalah perancangan fasilitas berdasarkan individu terkecil (data anthropometry terkecil).
Perancangan fasilitas yang bisa disesuaikan.
Prinsip ini digunakan untuk merancang suatu fasilitas agar fasilitas tersebut bisa menampung
atau bisa dipakai dengan enak dan nyaman oleh semua orang yang mungkin memerlukannya.
Perancangan fasilitas berdasarkan harga rata-rata para pemakianya.
Prinsip ini hanya digunakan apabila perancangan berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin
dilaksanakan dan tidak layak jika kita menggunakan prinsip perancangan fasilitas yang bisa
disesuaikan. Prinsip berdasarkan harga ekstrim tidak mungkin dilaksanakan bila lebih banyak
rugi daripada untungnya; artinya hanya sebagain kecil dari dari orang-orang yang merasa enak
dan nyaman ketika menggunakan fasilitas tersebut. Sedangkan jika fasilitas tersebut dirancang
berdasarkan fasilitas yang bisa disesuaikan, tidak layak karena terlalu mahal biayanya
(Sutalaksana, 1979).
Ergonomi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan
pekerjaan mereka.
Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara singkat
dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh
manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi.
Ada beberapa definisi menyatakan bahwa ergonomi ditujukan untuk fitting the job to the
worker, sementara itu ILO antara lain menyatakan, sebagai ilmu terapan biologi manusia dan
hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan lingkungan kerjanya, agar mendapatkan
kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan produktivitasnya.
Ruang lingkup ergonomik sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :
- Tehnik
- Fisik
- Pengalaman psikis
- Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan persendian
- Anthropometri
- Sosiologi
- Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh, Oxygen up take, pols, dan aktivitas
otot.
- Desain, dll
Aplikasi/penerapan Ergonomik:
1. Posisi Kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki tidak
terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil
selama bekerja. Sedangkan posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan
tertumpu secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai
dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.Sedangkan simbol yang
berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.
4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kdapat menimbulkan cedera
tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.
a. Menjinjing beban
Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ILO sbb:
- Laki-laki dewasa 40 kg
- Wanita dewasa 15-20 kg
- Laki-laki (16-18 th) 15-20 kg
- Wanita (16-18 th) 12-15 kg
b. Organisasi kerja
Pekerjaan harus di atur dengan berbagai cara :
- Alat bantu mekanik diperlukan kapanpun
- Frekuensi pergerakan diminimalisasi
- Jarak mengangkat beban dikurangi
- Dalam membawa beban perlu diingat bidangnya tidak licin dan mengangkat tidak terlalu tinggi.
- Prinsip ergonomi yang relevan bisa diterapkan.
c. Metode mengangkat beban
Semua pekerja harus diajarkan mengangkat beban. Metode kinetik dari pedoman penanganan
harus dipakai yang didasarkan pada dua prinsip :
- Otot lengan lebih banyak digunakan dari pada otot punggung
- Untuk memulai gerakan horizontal maka digunakan momentum
berat badan.
Metoda ini termasuk 5 faktor dasar :
o Posisi kaki yang benar
o Punggung kuat dan kekar
o Posisi lengan dekat dengan tubuh
o Mengangkat dengan benar
o Menggunakan berat badan
d. Supervisi medis
Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.
- Pemeriksaan sebelum bekerja untuk menyesuaikan dengan beban kerjanya
- Pemeriksaan berkala untuk memastikan pekerja sesuai dengan pekerjaannya dan mendeteksi
bila ada kelainan
- Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan,khususnya pada wanita muda dan yang
sudah berumur.
Kelelahan/Fatique
Setelah pekerja melakukan pekerjaannya maka umumnya terjadi kelelahan, dalam hal ini kita
harus waspada dan harus kita bedakan jenis kelelahannya, beberapa ahli
membedakan/membaginya sebagai berikut :epala, bahu, tangan, punggung dsbnya. Beban yang
terlalu berat
1. Kelelahan fisik
Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan diperbaiki
performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa hilang setelah istirahat
dan tidur yang cukup.
2. Kelelahan yang patologis
Kelelahan ini tergabung dengan penyakit yang diderita, biasanya muncul tiba-tiba dan berat
gejalanya.
3. Psikologis dan emotional fatique
Kelelahan ini adalah bentuk yang umum. Kemungkinan merupakan sejenis mekanisme
melarikan diri dari kenyataan pada penderita psikosomatik. Semangat yang baik dan motivasi
kerja akan mengurangi angka kejadiannya di tempat kerja.
4. Upaya kesehatan kerja dalam mengatasi kelelahan, meskipun seseorang mempunyai batas
ketahanan, akan tetapi beberapa hal dibawah ini akan mengurangi kelelahan yang tidak
seharusnya terjadi :
Lingkungan harus bersih dari zat-zat kimia. Pencahayaan dan ventilasi harus memadai dan
tidak ada gangguan bising
Jam kerja sehari diberikan waktu istirahat sejenak dan istirahat yang cukup saat makan siang.
Kesehatan pekerja harus tetap dimonitor.
Tempo kegiatan tidak harus terus menerus
Waktu perjalanan dari dan ke tempat kerja harus sesingkat mungkin, kalau memungkinkan.
Secara aktif mengidentifikasi sejumlah pekerja dalam peningkatan semangat kerja.
Fasilitas rekreasi dan istirahat harus disediakan di tempat kerja.
Waktu untuk liburan harus diberikan pada semua pekerja
Kelompok pekerja yang rentan harus lebih diawasi misalnya;
- Pekerja remaja
- Wanita hamil dan menyusui
- Pekerja yang telah berumur
- Pekerja shift
- Migrant.
Para pekerja yang mempunyai kebiasaan pada alkohol dan zat stimulan atau zat addiktif lainnya
perlu diawasi.
Pemeriksaan kelelahan :
Tes kelelahan tidak sederhana, biasanya tes yang dilakukan seperti tes pada kelopak mata dan
kecepatan reflek jari dan mata serta kecepatan mendeteksi sinyal, atau
pemeriksaan pada serabut otot secara elektrik dan sebagainya.