Anda di halaman 1dari 9

KLASIFIKASI BENTANG ALAM

A. DEFINISI BENTANG ALAM

Bentang alam (Inggris: landform) adalah suatu unit geomorfologis yang


dikategorikan berdasarkan karateristik seperti elevasi, kelandaian, orientasi, stratifikasi,
paparan batuan, dan jenis tanah. Jenis-jenis bentang alam antara lain adalah bukit,
lembah, tanjung, dll, sedangkan samudra dan benua adalah contoh jenis bentang alam
tingkat tertinggi.

Beberapa faktor, mulai dari lempeng tektonik hingga erosi dan deposisi dapat
membentuk dan memengaruhi bentang alam. Faktor biologi dapat pula memengaruhi
bentang alam, contohnya adalah peranan tumbuhan dan ganggang dalam
pembentukan rawa serta terumbu karang.

B. KLASIFIKASI BENTANG ALAM


Beberapa sistem klasifikasi landform yang sudah dikenal di antaranya adalah:
Klasifikasi landform menurut Cristian dan Stewart (1968) yang dikembangkan di
CSIRO (Australia) dengan menggunakan pendekatan land sistem. Sistem klasifikasi ini
didasari atas aspek geomorfologi, iklim, dan penutupan lahan. Karenanya, bentukan
permukaan bumi dengan proses pembentukan dan evolusi yang sama, tetapi terdapat
pada keadaan iklim dan penutupan (land cover) yang berbeda, akan merupakan land
system yang berbeda. Dalam sistem ini digunakan nama-nama tempat sebagai nama
sistem lahannya.
Misalnya: Apalachian land system. Penggunaan nama-nama tempat ini dapat
memudahkan pengenalan, namun dari segi sistematika akan terjadi kerancuan dan akan
terdapat banyak sekali satuan lahan, khususnya bagi Indonesia.

a. Klasifikasi landform menurut Desaunettes (1997) yang menggunakan


pendekatan fisiografik dan bentuk wilayah. System klasifikasi ini yang di
uraikan dalam buku Catologue of landforms for Indonesia telah banyak di
gunakan di pusat penelitian tanah dan agroklimat (Puslittanak) dan instansi lain,
dan merupakan sumber utama dalam penyusunan sistem klafisikasi lahan untuk

1|Geomorfologi Indonesia
Proyek LREP-I tahun 1985-1990.

b. Klasifikasi landform menurut Van Zuidam dan Zuidam-Cancelado (1979)


dengan metode Terrain Analysis yang menggunakan dasar utama geomorfologi
disertai dengan keadaan bentuk wilayah, stratigrafi, dan keadaan medan. Sistem
klasifikasi terrain ini dikembangkan dan digunakan di ITC-Enschede, Belanda,
sehingga klasifikasi ini juga sering disebut klasifikasi ITC.

c. Klasifikasi landform menurut Buurman dan Balsem (1990) yang menggunakan


pendekatan satuan lahan (land unit); digunakan dalam Proyek LREP-I untuk
survei sumberdaya lahan tingkat tinjau ( reconnaissance) skala 1 : 250.000
di P.Sumatera.
Dalam kategori paling tinggi, pembagian landform dalam LREP-I ini berupa
grup-grup fisiografi yang pada dasarnya berdasarkan proses geomorfik. Namun
masih terdapat grup fisiografi yang masih tidak konsisten dalam penamaannya,
yaitu Grup Perbukitan (Hill), Grup Pegunungan (Mountain), dan Grup Dataran
(Plain), yang menggunakan terminologi bentuk wilayah (relief). Di samping itu,
karena sistem ini digunakan khusus untuk Pulau Sumatera, maka muncul grup-
grup fisiografi khusus karena kekhasannya, yaitu: Grup Dataran Tuf Masam
(Acid Tuff Plain) dan Grup Tuf Toba Masam (Toba Acid Tuff). Kedua grup
landform ini, apabila konsisten didasarkan pada proses geomorfik, tentunya
dapat digabungkan dengan grup (grup-grup) lain yang akan menjadi grup utama
tertentu.

d. Klasifikasi Bentuk muka Buni (BMB)


Prinsip Penggunaan Klasifikasi BMB
Dalam geomorfologi, banyak peneliti mengacu pada mahzab Amerika yang
mengikuti prinsip-prinsip Davisian tentang siklus geomorfologi. Prinsip ini
kemudian dijabarkan oleh Lobeck (1939) dengan suatu klasifikasi bentang alam
dan bentuk muka bumi yang dikontrol oleh tiga parameter utama, yaitu struktur
(struktur geologi; proses geologi endogen yang bersifat konstruksional /
membangun), proses (proses-proses eksogen yang bersifat destruksional /
merusak atau denudasional), dan tahapan (yang kadangkala ditafsirkan sebagai

2|Geomorfologi Indonesia
umur tetapi sebenarnya adalah respon batuan terhadap proses eksogen;
semakin tinggi responnya, semakin dewasa tahapannya).Di lain pihak terdapat
mahzab Eropa, di antaranya adalah yang dikembangkan oleh Penck (dalam
Thornbury, 1989) yang lebih menekankan pada proses pembentukan morfologi
dan mengenyampingkan adanya tahapan. Terlepas dari mahzab-mahzab
tersebut, Klasifikasi BMB ini mempunyai prinsip-prinsip utama geologis tentang
pembentukan morfologi yang mengacu pada proses-proses geologis baik
endogen maupun eksogen. Interpretasi dan penamaannya berdasarkan kepada
deskriptif eksplanatoris (genetis) dan bukan secara empiris (terminologi
geografis umum) ataupun parametris misalnya dari kriteria persen lereng.
Klasifikasi BMB ini terutama adalah untuk penggunaan pada skala peta
1:25.000 yang membagi geomorfologi pada level bentuk muka bumi/ landform,
yang mengandung pengertian bahwa morfologi merupakan hasil proses-proses
endogen dan eksogen (Gambar 1). Sedangkan penggunaan pada skala lebih kecil
misalnya 1:50.000 s/d 1:100.000 lebih bersifat pembagian pada level bentang
alam/landscape yang hanya mencerminkan pengaruh proses endogen, dan pada
skala lebih kecil lagi misalnya 1:250.000 pada level provinsi geomorfologi atau
fisiografi yang mencerminkan pengaruh endogen regional bahkan tektonik
global. Pembagian skala peta dan perincian deskripsi satuan sudah banyak
kecocokan antar berbagai klasifikasi (Brahmantyo dan Bandono, 1999) dan
cocok pula dengan pembagian penggunakan skala peta untuk penyusunan tata
ruang.

3|Geomorfologi Indonesia
Gambar Tahapan skala peta geomorfologi dg tata ruang

Produk pemetaan geomorfologi adalah peta geomorfologi pada skala 1:25.000


yang berdasarkan pada analisis desk-study, dengan peta dasar adalah peta
topografi, didukung interpretasi lain baik dari foto udara maupun citra; serta data
yang didapat dari pemetaan geologi. Cara-cara pembuatan peta geomorfologi
selanjutnya mengikuti cara-cara yang telah dilakukan sesuai petunjuk yang telah
dipakai secara luas dan sebaiknya menggunakan simbol-simbol geomorfologi
(lihat contoh-contoh pemakaian simbol peta geomorfologi pada van Zuidam,
1985).

4|Geomorfologi Indonesia
Acuan Pembagian Klasifikasi BMB
Acuan pembagian Klasifikasi BMB ini akan mengikuti beberapa kriteria di
bawah ini:

1. Secara umum dibagi berdasarkan satuan bentang alam yang dibentuk akibat
proses-proses endogen / struktur geologi (pegunungan lipatan, pegunungan
plateau/lapisan datar, Pegunungan Sesar, dan gunungapi) dan proses-proses
eksogen (pegunungan karst, dataran sungai dan danau, dataran pantai, delta, dan
laut, gurun, dan glasial), yang kemudian dibagi ke dalam satuan bentuk muka
bumi lebih detil yang dipengaruhi oleh proses-proses eksogen.

2. Dalam satuan pegunungan akibat proses endogen, termasuk di dalamnya


adalah lembah dan dataran yang bisa dibentuk baik oleh proses endogen maupun
oleh proses eksogen.

3. Pembagian lembah dan bukit adalah batas atau titik belok dari bentuk
gelombang sinusoidal ideal (Gambar dibawah). Di alam, batas lembah dicirikan
oleh tekuk lereng yang umumnya merupakan titik-titik tertinggi endapan
koluvial dan/atau aluvial.

Gambar Batasan bukit dan lembah

5|Geomorfologi Indonesia
4. Penamaan satuan paling sedikit mengikuti prinsip tiga kata, atau paling
banyak empat kata bila ada kekhususan; terdiri dari bentuk / geometri /
morfologi, genesa morfologis (proses-proses endogen eksogen), dan nama
geografis. Contoh: Lembah Antiklin Welaran, Punggungan Sinklin Paras,
Perbukitan Bancuh Seboro, Dataran Banjir Lokulo; Bukit Jenjang Volkanik
Selacau, Kerucut Gunungapi Guntur, Punggungan Aliran Lava Guntur, Kubah
Lava Merapi, Perbukitan Dinding Kaldera Maninjau, Perbukitan Menara Karst
Maros, Dataran Teras Bengawan Solo, Dataran Teras Terumbu Cilauteureun,
dsb.

5. Klasifikasi BMB disusun dalam Gambar berikut :

6|Geomorfologi Indonesia
7|Geomorfologi Indonesia
8|Geomorfologi Indonesia
Referensi

Anonim , http://id.wikipedia.org/wiki/Bentang_alam. Diakses tanggal 13


September 2014

Gina Frecilia Antika, 2011. Analisis Bentang Lahan. Online.


http://ginafreciliaantika.blogspot.com/2011/04/analisis-bentang-lahan.html. Diakses
tanggal 13 September 2014

Budi Brahmantyo, online. http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=717.


Diakses tanggal 13 September 2014

9|Geomorfologi Indonesia