Anda di halaman 1dari 35

ANALISA KESERASIAN ALAT GALI DAN ALAT ANGKUT

PROPOSAL TUGAS AKHIR

OLEH :

MEY TRISONI SILALAHI


DBD 111 0123

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
PALANGKA RAYA
2015
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISA KESERASIAN ALAT GALI DAN ALAT ANGKUT

Oleh :

MEY TRISONI SILALAHI


DBD 111 0123

telah dinyatakan memenuhi syarat untuk diterima

Palangka Raya, Agustus 2015

Dosen Pembimbing I, Dosen Pembimbing II,

Ir. YULIAN TARUNA, M.Si YUSTINUS H. W., S.Si., MT., M.Sc

NIP. 19580705 198905 1 019 NIP. 19700813 2000031 007

Mengetahui,
Ketua Jurusan
Teknik Pertambangan
Universitas Palangka Raya

Ir. YULIAN TARUNA, M.Si

NIP. 19580705 198905 1 019


BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan pemuatan dan pengangkutan material merupakan bagian dari aktivitas

produksi. Karena pentingnya kegiatan produksi didalam industry pertambangan maka

perlu diketahui tentang cara mengefektifitaskan waktu kegiatan produk serta kendala-

kendala yang akan terjadi agar hasil produksi yang diharapkan dapat tercapai dan

terpenuhi sesuai target yang direncanakan. Pada kegiatan penambangan batubara di suatu

perusahaan, keberadaan alat-alat mekanis tentunya sangat menunjang keberhasilan dari

suatu operasi itu sendiri. Sehingga penggunaanya harus diperhitungkan secara tepat agar

tercapai hasil yang optimal.

Pengupasan lapisan tanah penutup merupakan proses penting agar bahan galian

didalamnya dapat terambil. Pengupasan lapisan tanah penutup harus memperhitungkan

kemampuan produksi alat mekanis. Upaya pencapaian sasaran produksi dilakukan dengan

meningkatkan kerja efektif dengan cara mengurangi waktu-waktu hambatan yang terjadi

pada kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup. Sehingga pengurangan dilakukan

terhadap waktu-waktu hambatan secara langsung akan meningkatkan efisiensi kerja dari

peralatan alat mekanis.

Sejalan dengan latar diatas maka diperlukan dalam menganalisa keserasian alat

gali dan alat muat agar dapat ditingkatkan dan mengoptimalkan penggalian dan pemuatan

bahan galian atau batuan yang dibongkar serta mendapatkan hasil yang menguntungkan

dan ekonomis bagi perusahaan tambang.


Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk

mengambil judul Analisa Keserasian Alat Gali dan Alat Angkut PT. Pamapersada Distrik

TOPB Kecamatan Kapuas Tengah Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah.

1.2. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Mengetahui peningkatkan waktu kerja efektif dari alat-alat gali dan angkut dengan

cara melakukan penilaian terhadap kemampuan produksi alat gali dan alat angkut.

2. Mengetahui faktor-faktor penghambat dari kinerja alat-alat gali dan angkut

3. Mengetahui sinkronisasi jumlah alat gali muat dan alat angkut untuk meminimalisir

waktu tunggu alat-alat tersebut.

4. Mengetahui hasil dari keserasian alat-alat gali dan angkut.

1.3. Rumusan Masalah

Rumusan Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana waktu kerja efektif dari alat-alat gali dan angkut?

2. Apa faktor-faktor penghambat keserasian alat gali dan alat angkut?

3. Berapa jumlah alat gali dan alat angkut untuk meminimalisir waktu tunggu alat-alat

tersebut?

4. Bagaimana hasil dan upaya yang dilakukan dalam memperbaiki keserasian alat gali

dan alat angkut?

1.4 Batasan Masalah

Batasan masalah yang dibahas dalam penelitian tugas akhir ini, dibatasi pada:
1. Dalam penelitian ini masalah di dipelajari dan dibahas yaitu sesuai dengan judul

yang disetujui, terutama tentang Analisa Keserasian Alat Gali dan Alat Angkut.

2. Hal-hal terkait lainnya bersifat mendukung dalam pertambangan.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Alat Gali dan Alat Angkut yang Digunakan

2.1.1. Alat Gali

Loader adalah alat pemuat hasil galian/gusuran dari alat berat lainnya seperti

buldoser, grader, dan sejenisnya. Pada prinsipnya loader merupakan alat pembantu untuk

mengangkut material dari tempat-tempat penimbunan ke alat pengangkut lain. Selain itu

loader dapat digunakan sebagai alat pembersih lokasi (cleaning) yang ringan, untuk

menggusur bongkaran, menggusur tonggak-tonggak kayu kecil, menggali pondasi

basement, dan lain-lain.

Untuk penggalian dan pemuatan material ke atas alat angkut (hauler) dibutuhkan

alat gali muat yang harus disesuaikan dengan keadaan lapangan kerja yang sangat

bermacam-macam. Ada beberapa jenis alat gali muat yang bisa digunakan pada lokasi

penambangan, antara lain :

a. Power Shovel

Meruoakan sekop besar yang mekanis, digerakkan oleh mesin uap, mesin bensin,

mesin diesel atau kadang-kadang dengan mesin listrik. Power shovel ini sering

disebut juga dengan loader yang digunakkan untuk menggeruk OB. Kapasitas

power shovel tergantung dari :

- Keadaan material : keras atau lunak

- Keadaan lapangan, misalnya tinggi lereng yang digali

- Efisiensi alat muat dan alat angkut

- Operasi yang menjalankannya.


b. Backhoe

Sering dijuga disebut Pull shovel, merupakan alat dari golongan shovel yang

khusus dibuat untuk menggali material dibawah permukaan tanah atau di bawah

tempat kedudukan alatnya. Galian di bawah permukaan ini misalnya parit, lubang

untuk pondasi bangunan.

2.1.2. Alat Angkut

` Alat yang khusus digunakan sebagai alat angkut adalah truk sebab mempunyai

kemampuan yang besar, dapat bergerak dengan cepat, punya kapasitas angkut yang besar,

dapat biaya operasional yang rendah

Salah satu syarat yang perlu dipenuhi agar truk dapat digunakan dengan baik,

efektif, dan efisien adalah jalan angkut yang cukup rata, kuat, dan keras. Pada jalan

angkut dengan kondisi jelek, perlu penggunaan truk-truk yang harga dan biaya

operasionalnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan truk-truk biasa. Truk jenis ini

pekerjaan konstruksi bangunan sipil dikenal dengan nama dump truck.

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Alat Gali Muat dan Alat Angkut

Produksi alat gali dan alat angkut dapar dilihat dari kemampuan alat tersebut

dalam penggunaanya dilapangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah

2.2.1. Waktu Edar

Waktu edar merupakan waktu yang digunakan oleh alat mekanis untuk

melakukan satu siklus kegiatan. Lamanya waktu edar dari alat-alat mekanis akan berbeda

antara material yang satu dengan yang lainnya, hal ini tergantung dari jenis alat dan jenis

serta dari material yang ditangani.


a. Waktu Edar Alat Muat

Merupakan penjumlahan dari waktu menggalli, waktu ayunan bermuatan, waktu

menumpahkan material dan waktu ayunan kosong.

CTm = Am + Bm + Cm + Dm

Keterangan :

CTm = Waktu Edar alat muat

Am = Waktu menggali

Bm = Waktu ayunan bermutan

Cm = Waktu menumpahkan material

Dm = Waktu ayunan kosong

b. Waktu Edar Alat Angkut

Merupakan penjumlahan dari waktu mengatur posisi, waktu isi material, waktu

angkut, waktu tumpah, waktu kembali kosong.

CTa = Aa + Ba + Ca + Da + E

Keterangan :

CTa = Waktu edar alat angkut

Aa = Waktu mengatur posisi

Ba = Waktu isi material

Ca = Waktu angkut

Da = Waktu tempuh

Ea = Waktu kembali kosong

c. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu edar alat-alat mekanis adalah:

1. Berat alat, adalah berat muatan ditambah berat alat dalam keadaan tanpa

muatan yang akan berpengaruh terhadap kelincahan gerak alat.


2. Kondisi tempat kerja, tempat kerja yang luas akan meningkatkan

kelancaran dan keluasaan gerak alat, sehingga akan memperkecil waktu

edar.

3. Kondisi jalan angkut,

Kemiringan dan lebar jalan angkut baik di jalan lurus maupun pada

tikungan sangat berpengaruh terhadap lalu lintas jalan angkut. Apabila

kondisi jalan sudah memenuhi syarat, maka akan memperlancar jalannya

lau lintas alat angkut, sehuingga akan memperkecil waktu edar alat

angkut.

4. Keterampilan dan pengalaman operator, semakin terampil dan

berpengalaman maka akan semakin memperkecil waktu edar.

2.2.2. Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor)

Faktor isian mangkuk merupakan perbandingan antara kapasitas nyata material

yang masuk kedalam mangkuk dengan kapasitas teoritas dari alat muat tersebut yang

dinyatakan dalam persen. Faktor isian mangkuk ini menunjukkan bahwa semakin besar

factor isian maka semakin besar produktifitas alat muat tersebut. Faktor pengisian

dipengaruhi oleh kapasitas mangkuk jenis dan sifat material. Untuk menghitung factor

isian digunakan persamaan :

100 %
=

Keterangan :

FF = Faktor isian (fill factor)

Vn =Volume nyata ( m3)


Vt = Volume teoritis (m3)

2.2.3. Faktor Pengembangan ( Swell Factor)

Apabila material digali dari tempat aslinya, maka akan terjadi pengembangan

volume (swell). Untuk menyatakan besarnya pengembangan volume dikenal istilah,

yaitu:

a. Faktor pengembangan (Swell Factor)

b. Persen Pengembangan ( Percent Factor)

Pengembangan volume suatu material perlu diketahui, karena yang

diperhitungkan pada penggalian selalu didasarkan pada kondisi material sebelum

digali, sedangkan material yang ditangani ( dimuat untuk diangkut) selalu

material yang telah mengembang.

Untuk menghitung swell factor dan percent swell berdasarkan volume dapat

menggunakan persamaan pada berat yang sama :


= %


= 100 %

Sedangkan untuk menghitung swell factor dan percent swell berdasarkan densitas

(kerapatan) menggunakan persamaan pada volume yang sama :


= %


= 100%

2.2.4. Efisiensi Kerja

Efisiensi kerja adalah penilaian terhadap suatu pelaksanaan pekerjaan atau

merupakan perbandingan antara waktu yang dipakai untuk bekerja dengan waktu tersedia

yang dinyatakan dalam persen (%). Efisiensi kerja ini akan mempengaruhi kemampuan

alat. Faktor manusia, mesin, cuaca dan kondisi kerja secara keseluruhan akan menentukan

besarnya efisiensi kerja. Untuk menghitung efisiensi kerja menggunakan persamaan:

100
=

Keterangan :

Ek = Efisiensi kerja, %

We = Waktu kerja efektif, menit

Wt = Waktu kerja tersedia, menit

2.2.5. Kemampuan Produksi Alat

Kemampuan produksi alat dapat digunakan untuk menilai kinerja dari alat muat

dan alat angkut. Semakin baik tingkat penggunan alat maka semakin besar produksi yang

dihasilkan alat tersebut.

a. Produksi alat gali muat

60
=

b. Produksi alat gali muat

60
=

Keterangan:

Pm = Produksi alat muat

CTm = Waktu edar alat muat, menit

Pa = Produksi alat muat

CTa = Waktu edar alat angkut, menit

KB = Kapasitas bak alat angkut, m3

FF = Faktor pengisian, %

EK = Efisiensi kerja,%

SF = Faktor pengembangan, %

N = Jumlah pengisian

2.2.6. Keserasian Kerja Alat

Agar terdapat hubungan kerja yang serasi antara alat muat dan alat angkut maka

produksi alat muat harus sesuai dengan produksi alat angkut. Faktor keserasian ini

dinyatakan dalam Match Factor (MF). Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar

keserasian kerja ini dapat tercapai seperti tinggi penumpahan alat angkut yang lebih besar

dari bak alat angkut dan perbandingan unit antara alat muat dan alat angkut yang sesuai.

Idealnya perbandingan volume alat angkut adalah 4 sampai 5 kali kapasitas alat muat.

Untuk melihat nilai keserasian kerja antara alat muat dan alat angkut dapat

menggunakan persamaan :


=

Keterangan :

MF = Match Factor

Na = Jumlah alat angkut, unit

Nm = Jumlah alat muat, unit

Ctm = Waktu edar alat muat, menit

CTa = Waktu edar alat angkut, menit

Adapun penilaiannya adalah :

a. MF < 1, artinya alat muat bekerja kurang dari 100 % sedang alat angkut

bekerja 100%, sehingga terdapat waktu tunggu bagi alat muat.

Waktu tunggu alat muat adalah :

Keterangan :

WTm = Waktu tunggu alat muat, menit

b. MF = 1, artinya alat muat dan alat angkut bekerja 100 %

c. MF > 1, artinya alat muat bekerja 100%, sehingga terdapat waktu tunggu

bagi alat angkut.Waktu tunggu alat angkut adalah :

Keterangan :

WTa = Waktu tunggal alat angkut, menit


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Gambaran Umum Wilayah Penelitian

3.1.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara administratif areal Ijin Usaha Pertambangan PT. Telen Orbit

Prima berada di wilayah Kecamatan Kapuas Tengah, Kabupaten Kapuas,

Propinsi Kalimantan Tengah.

Daerah konsesi terbagi menjadi beberapa blok prospek yaitu blok

prospek Buhut, blok prospek Bisa, blok prospek Pompot, blok prospek

Sepotak, dan blok prospek Julukan (Gambar3.1). Blok prospek yang

menjadi kajian kelayakan dalam laporan ini adalah blok prospek Buhut.

Gambar 3.1 Blok Prospek PT Telen Orbit Prima


Daerah penyelidikan terletak di wilayah Desa Buhut dan sekitarnya

berada 67 km kearah baratdaya Kota Muara Teweh atau 450 km ke

arah utara Kota Banjarmasin seperti diperlihatkan dalam Gambar 3.2.

Daerah penyelidikan dapat dicapai dengan 2 alternatif rute, yaitu:

a. Alternatif 1

Melalui jalan darat menggunakan kendaraan roda empat dengan

rute:BanjarmasinKuala KapuasPalangkarayaPujonBuhut (11,5

jam)

b. Alternatif 2

Menggunakan jalan darat dan sungai dapat dicapai dengan rute

sebagai berikut:

- Rute 1

Banjarmasin Kuala Kapuas 2,5 jam (jalan darat)

Kuala Kapuas Pujon 8 jam (jalan sungai, speed boat)

Pujon Buhut 2 jam (jalan darat)

- Rute 2

Banjarmasin Muara Teweh 9 jam (jalan darat)

Muara Teweh Pepas 2 jam (jalan sungai, speed boat)

Pepas Buhut 3 jam (jalan darat)

3.2 Kondisi Geologi

3.2.1 Kondisi Geologi Regional

a. Fisiografi

Geologi Kalimantan Tengahtidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian

yang tak terpisahkan dari satu kesatuan geologi Kalimantan secara umum.
Kalimantan Tengah terbentuk dari endapan atau batuan yang terjadi dalam

cekungan-cekungan sedimen dan daerah-daerah pegunungan yang terbentuk akibat

adanya kegiatan magma ataupun proses malihan (metamorfosa).

b. Stratigrafi Regional

Berdasarkan Peta Geologi Regional yang diterbitkan oleh Pusat

Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), Direktorat Jendral dan

Sumberdaya Mineral, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, pada

lembar Buntok, Kalimantan Tengah, oleh Soetrisno, S. Supriatna, E.

Rustandi, P. Sanyoto, K. Hasan, Tahun 1994, dengan nomor lembar peta

1714 dengan batas-batas sebagai berikut :

Sebelah Utara berbatasan dengan Lembar Muara Teweh.

Sebelah Timur Laut berbatasan dengan Lembar Longiram.

Sebelah Timur berbatasan dengan Lembar Balikpapan.

Sebelah Tenggara berbatasan dengan Lembar Sampanahan.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Lembar Amuntai.

Sebelah Barat Laut berbatasan dengan Lembar Palangkaraya.

Sebelah Barat berbatasan dengan Lembar Tewah.

Sebelah Barat Daya berbatasan dengan Lembar Tumbanghiram.


(Sumber : Peta Geologi Lembar Buntok, Kalimantan, Tahun 1994)

Gambar 3.4
Indeks Lokasi Nama dan Nomor Lembar menurut :
Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal, 1975)

Berdasarkan Peta Geologi Regional yang diterbitkan oleh Pusat

Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), Direktorat Jendral dan

Sumberdaya Mineral, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, pada

lembar Buntok, Kalimantan Tengah, oleh Soetrisno, S. Supriatna, E.

Rustandi, P. Sanyoto, K. Hasan, Tahun 1994, urutan stratigrafi dari batuan

yang berumur tua sampai yang muda adalah sebagai berikut :

1. Batuan Terobosan (Intrusive Rocks)

Granit Kapur (Kgr): Granit biotit berwarna kelabu muda,

sebagian terkekarkan. Variasi batuan ini antara lain : granodiorit biotit,

adamelit biotit, granit genes, sebagian bertekstur grafik dan mirmekit.

2. Batuan Vulkanik (Volcanic Rocks)

Batuan Vulkanik Kasale (Kvh): Berupa retas, sumbat stocks,

yang umumnya terdiri dari basal piroksen kelabu hijau, porfiritik

sampai pilotaksit. Sebagian besar berubah membentuk mineral

lempung, klorit dan kalsit. Batuan memiliki tebal mencapai 50 meter

dan menempati morfologi perbukitan tinggi dan kasar.

3. Batuan Sedimen (Sedimentary Rocks)

Kapur Sedimen Pitap (Ksp) : Batuan sedimen dan batuan

vulkanik merupakan batuan yang tak terpisahkan, yang tersusun

berlapisan. Batuan sedimen berupa : batulanau kelabu tua, batugamping


kristalin kelabu tua, batupasir halus kelabu, serpih merah dan serpih

napalan, tebal lapisan antara 30 300 cm, sebagian terlipat. Batuan

vulkanik berupa : andesit, basal dan ampibolit. Andesit dan basal

berupa leleran berwarna kelabu hijau, berubah menjadi mineral

lempung, kalsit ataupun klorit, berpiroksen dan porfiritik. Basal

bertekstur pilotaksit dan amigdaloit. Ampibolit pecah pecah berupa

lensa di dalam basal, tebal mencapai 40 cm. Unit ini menempati daerah

morfologi perbukitan tinggi dan kasar. Memiliki ketebalan bisa

mencapai hingga 100 m. keperluan praktis serta kesinambungannya

dengan lembar disekitarnya, unit ini disebandingkan dengan formasi

pitap yang berumur kapur akhir (Ksp).

4. Batuan Sedimen Tersier

Batuan Tersier terdiri dari Formasi Tanjung, Formasi Montalat,

Formasi Berai, Formasi Warukin, dan Formasi Dahor, yang semuanya

terendapkan pada kisaran lingkungan pengendapan dari paralic sampai

laut dangkal. Urutan formasi batuan dari batuan yang berumur tua

sampai yang ke muda adalah sebagai berikut :

Formasi Tanjung (Tet) : Bagian atas perselingan antara batupasir

kuarsa bermika, batulanau, batugamping dan batubara. Bagian

bawah perselingan antara batupasir, serpih, batulanau, dan

konglomerat aneka bahan, sebagian bersifat gampingan.

Mempunyai tebal sekitar 1300 m serta tersebar di daerah

perbukitan. Formasi Tanjung berumur Eosen (Eocene).


Formasi Montalat (Tomm): Terdiri dari batupasir kuarsa putih

berstruktur silang siur, sebagian gampingan, bersisipan batulanau /

serpih dan batubara. Formasi ini menjemari dengan Formasi Berai

dan selaras dengan formasi Tanjung.

Formasi Berai (Tomb) :Terdiri dari batugamping berlapis dengan

batulempung, napal dan batubara, sebagian tersilikakan dan

mengandung limolit. Formasi Berai terendapkan di laut dangkal

dengan tebal mencapai 1.250 m serta menempati morfologi

perbukitan kars yang terjal. Formasi Berai berumur Oligosen

(Oligocene).

Formasi Warukin (Tmw) :Terdiri dari batupasir kasar-sedang,

sebagian konglomeratan, bersisipan batulanau dan serpih, setengah

padat, dan berlapis dan berstruktur perarian silang-siur dan lapisan

bersusun. Formasi ini berada selaras diatas Formasi Berai dan

Montalat.

Formasi dahor (TQd) : Terdiri dari batupasir kurang padat sampai

lepas, bersisipan batulanau, serpih, lignit dan limonit. Formasi ini

tidak selaras dengan formasi formasi yang ada dibawahnya.

5. Endapan Permukaan (Surficial Deposit)

Aluvium (Qa):Lumpur kelabu hitam, lempung bersisipan

limonit dan gambut, pasir, rikil, kerakal dan bongkahan batuan yang

lebih tua. Merupakan hasil endapan sungai atau dataran banjir dengan

tebal mencapai 10 m.
c. Struktur Geologi Regional

Berdasarkan Peta Geologi Regional yang diterbitkan oleh Pusat

Penelitian dan Pengembangan Geologi (P3G), Direktorat Jendral dan

Sumberdaya Mineral, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, pada

lembar Buntok, Kalimantan Tengah, oleh Soetrisno, S. Supriatna, E.

Rustandi, P. Sanyoto, K. Hasan, Tahun 1994,Secara umum struktur geologi

pada batuan Tersier di Lembar Buntok, untuk daerah perbukitan dibagian

timur lembar, dengan dijumpainya beberapa unsure struktur pada batuan

Mesozoikum , antara lian: struktur terbreksikan, kelurusan yang berarah

hampir utara selatan, bongkah dan blok disana sini dll, maka dapat

disimpulkan bahwa batuan ini yelah mengalami deformasi. Sedangkan pada

batuan tersier menunjukkan struktur lipatan yang tidak ketat berarah hampir

utara selatan, maka diduga lipatan ini berkaitan erat dengan struktur batuan

Mesozoikum, adapun kelurusan yang memotong struktur utama, diduga

terbentuk deformasi kedua, dimana batuan tersier telah terlipat dan

termampatkan, demikian pula hampir sejalan untuk struktur yang

berkembang dipeta sebagian utara dan barat-laut.

3.2.2 Kondisi Geologi Daerah Penelitian

a. Morfologi Daerah Penelitian

Secara umum morfologi daerah penyelidikan dapat dibagi menjadi 2

satuan morfologi, yaitu:

Satuan morfologi pedataran yang menempati bagian selatan Blok

Prospek Buhut-Bisa hingga bagian utara Blok Prospek Sepotak

yang tersebar di sepanjang daerah tepian sungai Buhut dan Sungai


Menghantai. Satuan morfologi ini disusun oleh batu gamping dari

Formasi Berai.

Satuan morfologi pembuktian gelombang lemah sampai sedang

menempati bagian utara Blok Prospek Buhut-Bisa dan disusun

oleh litologi Formasi Tanjung, sedangkan di Blok Prospek Sepotak

satuan morfologi ini menempati bagian tengah hingga bagian

selatan disusun oleh litologi Formasi Warukin. Sungai-sungai yang

mengalir di sekitar daerah Blok Prospek Buhut-Bisa, Sungai

Julukan (sebelah barat Blok Prospek Buhut), Sungai Buhut,

sungai Buhut dan sungai Julukan bermuara di sungai Kuantan.

Di area penambangan terdapat aliran-aliran air (creek) yang

terbentuk mengalir menuju sungai-sungai sekitar lokasi

penambangan. Berdasarkan Bentuk penampang sungai dan bentuk

lambahnya yang menyerupai huruf U, maka daerah tersebut

termasuk dalam tahapan sungai dewasa.

b. Stratigrafi Daerah Penelitian

Daerah penyelidikan termasuk dalam Peta Geologi Lembar Buntok

(Soetrisno dkk, 1994). Batuan penyusun daerah penyelidikan terdiri dari

batuan sediment Tersier yang berumur Eosen Miosen. Berdasarkan

penyelidikan terdahulu, daerah Buhut dan sekitarnya tersusun oleh formasi-

formasi batuan yang dari tua ke muda adalah sebagai berikut:


Formasi Tanjung (Tet)

Formasi Tanjung tersingkap di sebelah utara daerah penyelidikan.

Secara umum terdiri dari perselingan batupasir kuarsa, batulanau dan

batulempung, konglomerat, dan sisipan batubara, dan batugamping.

Batupasir, berwarna abu-abu terang, keras-agak rapuh, berbutir sedang

sampai kasar, terpilah baik-sedang, membulat-menyudut tanggung,

didominasi oleh mineral kuarsa dan sebagian kecil hadir mineral

hitam (mineral mafik), mika dan tufa. Batupasir konglomeratan,

dijumpai di bagian bawah, berwarna abu-abu terang, kemas terbuka

dan terpilah buruk, ukuran fragmen 0,50 1,50 cm terdiri dari kuarsa

susu (dominan), metasedimen, andesit, dan basal, matrik berupa

batupasir kuarsa berukuran kasar pada umumnya tersingkap di hulu-

hulu sungai. Batulanau, berwarna abu-abu kecoklatan, agak keras,

sebagian karbonan, struktur sedimen laminasi sejajar sebagian

karbonan dan lensa tipis batubara dan kadang-kadang menyerpih.

Batulempung, abu-abu kecoklatan, berukuran lempung, agak lunak,

sebagian karbonan dan lensa tipis batubara. Batulempung abu-abu

kecoklatan, struktur sedimen laminasi sejajar sebagian karbonan dan

lensa tipis batubara. batulanau warna abu-abu kecoklatan, struktur

sedimen laminasi sejajar, sebagian karbonan dan lensa tipis batubara.

batupasir, berwarna abu-abu, berukuran halus sedang, membulat

tanggung, terpilah baik, dominan kuarsa, sedikit mineral hitam, mika,

karbonan dan sebagian mengandung tufa. Batubara Bright Coal-


Banded Coal berwarna hitam, kilap sub-vitreousvitreous, agak keras-

rapuh, pecahan sub-conchoidalconchoidal, dumping rapatjarang

dan juga sebagian kecil memperlihatkan kondisi singkapan lapisan

batubara Dull Coal berwarna hitam kecoklatan-coklat, agak keras-

keras, kilap tanah, even blocky, dumping jarang. Batugamping, abu-

abu, keras, sebagian kristalin mengandung fosil foraminifera kecil dan

cangkang. Formasi Tanjung diendapkan pada lingkungan

pengendapan litoral sampai rawa yang diduga berumur Eosen Akhir

(Supriatna dkk., 1995). Formasi Tanjung diendapkan secara tidak

selaras di atas Komplek Busang. Ketebalan Formasi Tanjung di Blok

Prospek Buhut > 400 meter.

Formasi Montalat (Tomm)

Formasi Montalat tersingkap di sebelah utara sampai tengah daerah

penyelidikan yang memanjang relatif dari timurbarat di Blok Prospek

Buhut, Bisa dan Pompot. Formasi Montalat disusun oleh batupasir

kuarsa, bersisipan batulanau dan batubara. Beberapa jenis foram kecil

menunjukkan umur Oligosen. Formasi Montalat diendapkan di laut

dangkal terbuka, dengan tebal mencapai 1.400 m

Formasi Berai (Tomb)

Di daerah penyelidikan Formasi Berai tersingkap di bagian baratlaut,

seperti yang tersingkap pada Sungai Menghantai dan Sungai Buhut.

Formasi Berai terdiri dari batugamping abu-abu terang, sangat

kompak dan keras, mengandung fosil foram besar dan fosil koral,
sebagian terkristalisasi, dan sebagian memperlihatkan kesan berlapis.

Formasi Berai diendapkan secara selaras di atas Formasi Tanjung

pada Kala Oligosen-Miosen Tengah dalam lingkungan pengendapan

laut dangkal. Kedalaman Formasi Berai lebih kurang 450 meter.

Formasi Warukin (Tmw)

Formasi Warukin di jumpai di bagian selatan yang memanjang relatif

dari timur-barat di Blok Prospek Sepotak dan sekitarnya. Formasi

Warukin terdiri dari perselingan batupasir halus-kasar dan

batulempung dengan sisipan serpih dan batubara. Batupasir abu-abu,

halus-kasar, butiran membulat sampai membulat tanggung, agak

keras, sebagian besar disusun oleh kuarsa, setempat bersifat karbonan.

Batulempung abu-abu, agak keras, sebagian karbonan. Batubara

Banded Dull Coal-Dull Coal, warna hitam kecoklatan-coklat,

agakkeras-keras, kilap tanah, rata-tidak rata, dumping jarang. Formasi

Warukin diendapkan selaras diatas Formasi Berai pada Kala Miosen

Tengah-Miosen Atas dalam lingkungan transisi. Ketebalan Formasi

Warukin pada Blok Prospek Sepotak mencapai 500 meter.

Endapan Aluvium (Qa) Endapan aluvium merupakan endapan

termuda yang berumur Kuarter (Resen) yang merupakan endapan

hasil rombakan batuan yang lebih tua terdiri dari lumpur, pasir, kerikil

dan kerakal yang bersifat lepas. Pada umumnya endapan ini

menempati daerah dataran banjir.


Gambar 3.6 Peta Geologi Regional Daerah Penyelidikan

c. Struktur Geologi Daerah Penelitian

Stuktur geologi yang berkembang didaerah penyelidikan adalah

struktur lipatan dan struktur patahan. Struktur lipatan yang dijumpai berupa

sinklin dan antiklin, sedangkan struktur patahan yang dijumpai berupa sesar

naik dan sesar normal. Struktur-struktur geologi tersebut dapat

memberikanpengaruh yang cukup besar terhadap tatanan geologi setempat,

terutama pada pola sebaran batubaranya.

25
Struktur Lipatan

Struktur antiklin terdapat di Blok Prospek Bisa yang disebut

sinklin dan antiklin Pompot. Struktur ini diinterpretasikan dari data

kedudukan lapisan yang berlawanan arah di sekitar Blok Prospek

Buhut dan Bisa (bagian timur Blok Prospek Pompot). Sumbu lipatan

ini memanjang relatif baratdaya-timurlaut dengan panjang lipatan

+1.400 m. Berdasarkan hasil rekonstruksi penampang geologi,

struktur sinklin dan antiklin diasumsikan sebagai pengaruh seretan-

seretan struktur Sesar Naik Bisa.

Struktur Patahan

Sesar Naik Bisa

Sesar Naik Bisa dijumpai di wilayah Sungai Bisa dengan

penyebarannya berarah relatif baratdayatimurlaut dengan panjang +2

km (kemungkinan hingga ke luar batas KP) Sesar Naik Bisa

menyebabkan terjadinya perulangan lapisan batubara pada daerah

tersebut. Sesar naik ini diinterpretasikan berdasarkan adanya data-data

kemiringan lapisan yang terjal dan kemiringan lapisan pada umumnya.

Sesar Normal

Sesar normal di daerah penyelidikan umumnya cenderung

dengan pergerakan oblique dan relatif berarah baratdayatimurlaut.

Sesar-sesar tersebut antara lain dari barat ke timur masing-masing :

Sesar Normal Sekombet, Sesar Normal Ahas, Sesar Normal Bajang,

27
dan Sesar Normal Pompot. Sesar-sesar tersebut terdapat di terdapat di

Blok Prospek Buhut dan Bisa. Sesar Normal Bajang memiliki dimensi

yang cukup besar, dimana off set pada lapisan batuan yang

diakibatkan oleh sesar tersebut mencapai 500 meter. Di Blok Prospek

Sepotak, sesar-sesar normal yang terindentifikasikan, dengan dimensi

yang cukup besar, yaitu Sesar Normal Sepotak. Sesar normal ini

diperkirakan merupakan kelanjutan dari Sesar Normal Bajang. Sesar-

sesar normal lainnya dengan dimensi yang relatif kecil, yaitu Sesar

Normal Sepotak dan Sesar Normal Hantangan.

3.3 Alat dan Bahan

Dalam penelitian ini, ada beberapa alat dan bahan yang digunakan

untuk menunjang ,yaitu :

Alat tulis

Penggaris

Kalkulator

Kamera

Buku

Kertas HVS

Laptop

Perlengkapan APD

Perlengkapan pendukung lainnya

28
3.4 Tata Laksana

3.4.1 Langkah Kerja

Beberapa tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data di lakukan dengan beberapa cara, yaitu :

Studi lapangan, yaitu melakukan penelitian dan pengamatan

langsung terhadap keserasian alat gali dan alat angkut dilapangan

sebagai sumber data primer.

Diskusi dan wawancara, yaitu melakukan diskusi dan wawancara,

baik dengan pemimpin perusahaan yang kompeten, dengan

pembimbing lapangan, Supevisor, Group Leader, Planner, mekanik

dan operator serta karyawan yang berhubungan langsung dengan

aktivitas penambangan, pengolahan dan aktivitas lainnya.

2. Pengolahan Data

Setelah data diperoleh, kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan

rumus-rumus yang diperoleh dari bahan referensi dan atas bimbingan dari

pembimbing lapangan. Kemudian data hasil perhitungan tersebut dijadikan

acuan untuk penelitian perhitungan produktivitas berdasarkan analisa tempat

kerja.

3. Analisa Data

Data yang telah diolah selanjutnya dianalisa sehinnga dari hasil analisa

ini diperoleh masukan yang berkaitan dengan masalah penelitian ini dan dapat

menciptakan solusi dari penelitian.

29
3.4.2 Metode

Adapun penyusunan laporan ini didasarkan pada tiga ( 3 ) metode, yaitu :

1. Metode Observasi (pengamatan)

Metode ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan .

2. Metode Interview (wawancara)

Metode ini dilakukan dengan cara tanya jawab kepada Pembimbing

lapangan, supervisor, group leader, planner, mekanik dan operator

yang berada di area Pit PT. Telen Orbit Prima.

3. Metode Pustaka

Metode ini dilakukan dengan cara studi literatur baik yang menyangkut

tentang PT Telen Orbit Prima,maupun yang berkenaan dengan topik

yang dibahas dalam laporan ini.

30
3.4.3 Bagan Alir

Start

Rumusan Masalah :
1. Bagaimana waktu kerja efektif dari alat gali dan angkut
2. Apa faktor-faktor penghambat keserrasian alat gali dan alat angkut
3. Apa jumlah alat gali dan alat angkut untuk meminimalisir waktu tunggu alat
tersebut?
4. Bagaimana hasil dan upaya yang dilakukan dalam memperbaiki alat gali dan alat
angkut

Studi Literatur

Pengambilan Data

Data Primer Data Sekunder


1. Data geometri jalan angkut, Profil perusahaan, Peta lokasi, keadaan topograf,
2. jumlah dan spesifikasi alat peta daerah kesampaian daerah, data geologi
gali dan alat angkut,jumlah daerah penelitian, peta daerah penambangan.
pengisian bucket alat gali
pada alat angkut,waktu kerja
alat dan waktu edar

Pengolahan Data

Analisis Data

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

End
Gambar 3.7 Bagan Alir Penelitian

31
3.4.4. Waktu Penelitian

Rencana Waktu Penelitian

Kegiatan Tugas Akhir ini dilaksanakan selama 4bulan yaitu, mulai bulan Mei

sampai July yang dilakukan pada daerah Kuasa Pertambangan .

Mei Juni July

KEGIATAN 2015 2015 2015

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Registrasi

Studi Literatur

Wawancara dan Observasi Lapangan

Pengambilan Data

Pengolahan Data

Pembuatan Laporan Tugas Akhir

32
RENCANA DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL

HALAMAN PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Maksud dan Tujuan

1.2.1 Maksud

1.2.2 Tujuan

1.3 Rumusan Masalah

1.4 Batasan Masalah

1.5 Manfaat

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1 Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi alat gali dan alat angkut

2.1.1 Waktu Edar

2.1.2 Faktor Isian Mangkuk (Bucket Fill Factor)

33
2.1.3 Faktor Pengembangan (Swell Factor)

2.1.4 Efisiensi Keraja

2.1.5 Kemampuan Produksi Alat

2.1.6 Keserasian Alat Kerja

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Sejarah Singkat Perusahaan

3.2 Gambaran Umum Daerah Penelitian

3.2.1 Lokasi dan Kesampaian Daerah

3.2.2 Keadaan Iklim dan Curah Hujan

3.2.3 Flora Dan Fauna

3.2.4 Sosial Dan Kependudukan

3.3 KondisiGeologi

3.3.1 Kondisi Geologi Regional

3.3.2 Kondisi Geologi Daerah Penelitian

3.4 Alat dan Bahan

3.5 Tata Laksana

3.6.1 Langkah Kerja

3.6.2 Metode

3.6.3 BaganAlir

3.6.4 Waktu Penelitian

34
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Mengetahui peningkatan waktu kerja efektif dari alat gali dan

angkut

4.1.2 Mengetahui faktor-faktor penghambat dari kinerja alat gali dan

alat muat

4.1.3 Mengetahui jumlah alat gali dan alat angkut untuk

meminimalisir waktu tunggu pada alat-alat

4.1.4 Mengetahui hasil keserasian dari alat gali dan angkut

4.2 Pembahasan

4.2.1 Bentuk dari waktu kerja efektif alat gali dan alat angkut

4.2.2 Bentuk faktor-faktor penghambat dari kinerja alat gali dan

alat muat

4.2.3 Bentuk dari jumlah alat gali dan alat angkut

4.2.4 Bentuk hasil keserasian dari alat gali dan angkut

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

Daftar Pustaka

35
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2009, Laporan Eksplorasi PT. Yustika Utama Energi, Samarinda

Kalimantan Timur.

Partanto, Prodjosumarto, 2000,Pemindahan Tnanah Mekanis, Jurusan Teknik

Pertambangan,ITB, Bandung

Rochmanhadi, 1982,Alat-alat Berat dan Penggunaanya, Cetakan III. Badan

Penerbit Pekerjaan Umum, Jakarta.

Yanto, Inonesianto, 2011,Pemindahan Tanah Mekanis, Jurusan Teknik

Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta

36