Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

ASI eksklusif adalah pemberian air susu ibu saja kepada bayi selama enam

bulan pertama kehidupan bayi tanpa memberikan makanan atau cairan lain, kecuali

vitamin, mineral, dan obat yang telah diizinkan (WHO, 2010). ASI eksklusif adalah

pemberian ASI secara eksklusif pada bayi sejak lahir hingga bayi berumur enam

bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun (Depkes, 2005).

Pentingnya pemberian ASI terutama ASI Eksklusif untuk bayi sangat luar biasa.

Bagi bayi, ASI eksklusif adalah makanan dengan kandungan gizi yang paling sesuai

untuk kebutuhan bayi, melindungi bayi dari berbagai penyakit seperti diare dan

infeksi saluran pernafasan akut (Kementerian Kesehatan RI, 2010). Memberikan ASI

secara eksklusif dapat mengurangi pendarahan pada saat persalinan, menunda

kesuburan dan meringankan beban ekonomi (KEMENKES, 2010).

Menurut laporan UNICEF tahun 2011 dalam World Breastfeeding Week

(2012), sebanyak 136.700.000 bayi dilahirkan di seluruh dunia dan hanya 32,6% dari

mereka yang mendapat ASI secara eksklusif pada usia 0 sampai 6 bulan pertama. Hal

tersebut menggambarkan cakupan pemberian ASI eksklusif di bawah 80% dan masih

sedikitnya ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayi.

Capaian ASI eksklusif di Indonesia belum mencapai angka yang diharapkan

yaitu sebesar 80%. Berdasarkan laporan SDKI tahun 2012 pencapaian ASI eksklusif

adalah 42%. Sedangkan, berdasarkan laporan dari Dinas Kesehatan provinsi tahun

2013, cakupan pemberian ASI 0-6 bulan hanyalah 54,3%. Hal ini disebabkan

kesadaran masyarakat dalam mendorong peningkatan pemberian ASI eksklusif

masih relatif rendah (Pusdatin, 2015).


ASI memiliki beberapa kandungan zat gizi yang sangat tepat untuk bayi, zat

gizi tersebut yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Komposisi ASI

bersifat dinamis berubah dari waktu ke waktu, ada kolostrum yang mengandung

antibodi foremilk yang lebih banyak protein dan hindmilk yang lebih banyak lemak.

Zat pelindung dalam ASI, antara lain imonoglobulin dan sel-sel darah putih hidup

yang berguna untuk membantu kekebalan tubuh bayi. Zat-zat hidup dan sel-sel yang

serupa darah putih juga berubah sesuai keadaan. Jika pada saat itu di lingkungan di

sekitar bayi ada kuman yang masuk ke tubuh ibu, tubuh 3 ibu akan membuat zat

antinya. Pada saat keadaan itu, bayi juga akan mendapatkan kiriman zat anti tersebut

lewat ASI (Budiasih, 2006)


eksklusif
Berdasarkan
sampai
peningkatan
ASI
yaitu
berubah
lebih
antara
feeding 0di
6dalam
memiliki
banyak
lain
kekebalan
sesuai
tubuh ibu,
keadaan.
mendapatkan
Menurut
penyakit
ISPA,
muda Indonesia
bulan
karbohidrat,
dari profil
tubuh
laporan
infeksi
infeksi
dan sampai 4data
pemberian
hanya
beberapa
waktu
imonoglobulin
protein
Jika
bayi.
3dari
kirimanibu
Budiasih
pada
saluran
penyakit masih
padakesehatan
61,5%.
lemak,
ke ASI
waktu,
dan
Zat-zat
akan
zat sangat
protein,
saat ada
hindmilk
dan
membuat
anti
expert
(2006),
bayi
bulan.
pembuluhyanghidup
itu
ada
Penyakit
urugenitalis, Indonesia
eksklusif
Hal
kandungan ini
direndah,
disebabkan
masih
vitamin
zat
kolostrum
sel-sel
yang
dangizi
darah
lingkungan
tersebut
consultationzat persentase
tahun
relatif
yang
dan
lebih yang
sel-sel
beberapa
disusui
yang
sepsis
darah antinya.
lewat
on
eksklusif
dapat
(infeksi
koroner. yang
ASI
thedi
daya 2011
mineral.
sangat
putih
banyak bayi
0kesadaran
rendah
sekitar
Pada menunjukkan
mengandung
hidup tepat
serupa
optimal
sampai
dicegah
dalam saat
(Budiasih, yang
Komposisi
lemak.
yang
bayiuntuk
Zat
darah menyusu
6(Kemenkes,
masyarakat
antibodi
ASI
keadaan
ada
2006)
duration
perlindungan
bulan
antara
darah), lainbayi,
berguna
putih
kuman
of
yang
diare, pemberian
2012).
dalam
itu,
jugaeksklusif
bersifat
pelindung zat
untukforemilk
gizi
bayi
yang
exclusife
lebih
dibandingkan
menginitis
diabetes berubah
juga ASI
dinamis
dalam masuk
breast
tinggi 0 keASI
mendorong
tersebut
yang
membantu
ASI,
akan
terhadap
dengan
bakterialis,
pada usia
Menurut laporan dari expert consultation on the optimal duration of exclusife

breast feeding dalam Budiasih (2006), ada beberapa daya perlindungan yang lebih

tinggi terhadap penyakit infeksi pada bayi yang disusui eksklusif 0 sampai 6 bulan

dibandingkan dengan ASI eksklusif 0 sampai 4 bulan. Penyakit yang dapat dicegah

antara lain menginitis bakterialis, ISPA, infeksi saluran urugenitalis, sepsis (infeksi

dalam darah), diare, diabetes pada usia muda dan penyakit pembuluh darah koroner.

Dewasa ini di Indonesia 80-90 % para ibu di daerah pedesaan masih menyusui

bayinya sampai umur lebih dari satu tahun, tetapi di kota-kota ASI sudah banyak

diganti dengan susu botol. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan penggunaan

ASI (Soetjiningsih, 1997:29).

Pertumbuhan anak yang mengkonsumsi susu kaleng tak sebaik anak yang

mendapatkan ASI. Anak tumbuh kurang normal, dapat lebih kecil atau bahkan lebih

besar. Jika pemberian susu kaleng tidak menurut aturan, anak menjadi kurus. Jika

terlalu banyak susu kaleng, anak menjadi gemuk ( Handrawan Nadesul, 1996: 9).

Susu kaleng tidak mengandung zat kekebalan seperti ASI. Anak yang diberi
susu kaleng mudah terserang diare dikarenakan pencampur dan botol susu yang

kurang bersih (Handrawan Nadesul, 1996:9).

Gencarnya promosi dan iklan susu botol memberi pengaruh pada ibu-ibu untuk

tertarik membelinya, terutama para ibu dengan tingkat pengetahuan dan pendidikan

yang rendah. Pengetahuan ibu tentang manfaat pemberian ASI eksklusif bagi bayi

sangat penting dalam menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Depkes RI,

2002:4).

Puskesmas Purwaharja 2 merupakan suatu puskesmas yang mencakup desa

Mekarharja dan desa Raharja. Dimana di kedua desa tersebut angka pemberian ASI

eksklusifnya masih dibawah target pencapaian. Dengan presentase desa Raharja

65,08% dan desa Mekarharja 69,12% dari 100% target yang harus dicapai.

Ibu-ibu di sekitar puskesmas Purwaharja 2 mempunyai tingkat pendidikan dan

pengetahuan yang berbeda. Guna mengetahui hubungan antara pemberian ASI

eksklusif dengan pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu terhadap pemberian

ASI, peneliti tertarik untuk mengangkatnya dalam bentuk penelitian dengan judul

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Rendahnya Perilaku Ibu

Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas Purwaharja 2 Tahun 2016.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini

adalah: Adakah Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Dengan

Rendahnya Perilaku Ibu Terhadap Pemberian Asi Eksklusif Di Puskesmas

Purwaharja 2 Tahun 2016?


1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap

dengan rendahnya perilaku ibu terhadap pemberian ASI eksklusif di

Puskesmas Purwaharja 2.

1.3.2 Tujuan Khusus

Mengetahui tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif di

Puskesmas Purwaharja 2

Mengetahui sikap ibu tentang ASI eksklusif di Puskesmas

Purwaharja 2

Mengetahui perilaku ibu terhadap pemberian ASI eksklusif

oleh ibu di Puskesmas Purwaharja 2

Menganalisa hubungan antara pengetahuan ibu dengan

perilaku pemberian ASI eksklusif

Menganalisa hubungan antara sikap ibu dengan perilaku

pemberian ASI eksklusif.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Kader Kesehatan

Sebagai motivasi untuk lebih efektif dalam memberikan penyuluhan

tentang arti pentingnya pemberian ASI eksklusif.

1.4.2 Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan dan pengalaman dalam merancang dan

melaksanakan penelitian ilmiah dalam bidang gizi dan kesehatan

masyarakat. Serta untuk mengaplikasikan


1.4.3 Bagi Puskesmas

Sebagai bahan masukkan untuk memperbaiki dan meningkatkan

kualitas program ASI ekslusif di Puskesmas Purwaharja 2.

1.4.4 Bagi Masyarakat Purwaharja 2

Memberikan informasi dan masukkan kepada masyarakat tentang

pentingnya pemberian ASI esklusif.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

1.5.1 Ruang Lingkup Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Purwaharja 2.

1.5.2 Ruang Lingkup Waktu

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-April tahun 2016.

1.5.3 Ruang Lingkup Materi

Materi dalam penelitian ini meliputi kedokteran komunitas yang

berhubungan dengan pengetahuan dan sikap dengan rendahnya

perilaku ibu terhadap pemberian ASI eksklusif.


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengetahuan

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan suatu hal

(Depdiknas, 2001). Pengetahuan juga dapat diartikan sebagai hasil dari tahu dan ini

terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu. Sebagian

besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Soekidjo

Notoatmodjo, 1997:127).

Pengetahuan seseorang dikumpulkan dan diterapkan secara bertahap mulai dari

tahap paling sederhana hingga tahap yang lebih lengkap, tahap tesebut adalah:

1) Awareness (kesadaran)

Yaitu orang mengetahui pengetahuan yang baru

2) Interest

Yaitu orang mulai tertarik terhadap pengetahuan tersebut

3) Evaluation

Yaitu orang mulai menimbang-nimbang pengetahuan yang diperolehnya

4) Trial

Yaitu orang sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan

pengetahuan yang diperolehnya.

5) Adoption

Yaitu orang sudah berperilaku sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan

sikapnya terhadap stimulus tersebut (Soekidjo Notoatmodjo, 1997).

Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat, yaitu:

a) Tahu (know)

Sebagai pengingat materi yang sudah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam

pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu


spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Oleh sebab itu, tahu adalah tingkat pengetahuan yang paling rendah.

b) Memahami (comprehension)

Sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui, dan menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang telah

paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan kemampuan, yang

masuk dalam kategori ini seperti menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya.

c) Aplikasi (application)

Sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada

situasi atau kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan aplikasi

atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam

konteks atau situasi yang lain untuk memecahkan suatu masalah.

d) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke

dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi

tersebut, dan masih ada kaitan satu sama lain. Termasuk dalam kemampuan ini

adalah kemampuan membuat bagan (menggambar), membedakan,

mengelompokkan, memisahkan, dan sebagainya.

e) Sintesis (synthesist)

Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau

menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk dapat menyusun,

merencanakan, meringkas, menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori

atau rumusan yang telah ada.


f) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau

penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan

suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang

ada (Soekidjo Notoatmodjo, 1997:129-130).

2.2. Sikap

Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

stimulus atau objek dan manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat tetapi

hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap belum

merupakan tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan

suatu perilaku (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:124).

Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Soekidjo Notoatmodjo (2003:125),

menjelaskan bahwa sikap mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:

1. Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek

2. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap objek

3. Kecenderungan untuk bertindak

Sikap merupakan kesiapan seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap

hal-hal tertentu. Sikap dapat bersifat positif, kecenderungan tindakan adalah

mendekati, menyenangi, mengharapkan objek tertentu sedangkan dalam sikap

negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak

menyukai objek tertentu (Sarlito Wirawan, 2002:94).

Menurut Atkinson yang dikutip oleh Sunaryo (2004:199-200), sikap memiliki 5

fungsi, yaitu:

1) Fungsi Instrumental

Fungsi sikap ini dikaitkan dengan manfaat dan menggambarkan keinginan.

2) Fungsi Pertahanan Ego


Sikap diambil individu untuk melindungi diri dari kecemasan yang mengancam

harga dirinya.

3) Fungsi Nilai Ekspresi

Sikap diambil individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam diri.

4) Fungsi Pengetahuan

Sikap ini membantu individu untuk menerima informasi yang kemudian

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

5) Fungsi Penyesuaian Sosial.

Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian dari masyarakat sehingga

dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Menurut Soekidjo Notoatmodjo (1997) yang dikutip oleh Sunaryo (2004: 200-201),

sikap memiliki 4 tingkat, yaitu:

1) Menerima (receiving)

Individu ingin dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang diberikan.

2) Merespon (responding)

Individu dapat memberikan jawaban apabila ditanya, mampu mengerjakan dan

menyelesaikan tugas yang diberikan.

3) Menghargai (valuing)

Individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu

masalah.

4) Bertanggung jawab (responsible)

Individu akan bertanggung jawab dan siap menanggung risiko atas segala hal

yang telah dipilihnya.

Menurut Bimo Walgito (2004) ada 4 hal yang menjadi faktor penentu sikap

individu, yaitu:

a. Faktor Fisiologis
Faktor yang penting adalah umur dan kesehatan.

b. Faktor Pengalaman Langsung terhadap Objek Sikap

Pengalaman langsung yang dialami individu terhadap objek sikap berpengaruh

terhadap sikap individu terhadap objek sikap tersebut.

c. Faktor Kerangka Acuan

Kerangka acuan yang tidak sesuai dengan objek sikap, akan menimbulkan sikap

yang negatif terhadap objek sikap tersebut.

d. Faktor Komunikasi Sosial

Informasi yang diterima individu akan dapat menyebabkan perubahan sikap

pada diri individu tersebut.

Faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap:

1. Faktor intern: faktor yang terdapat dalam pribadi manusia itu sendiri.

Faktor ini berupa selectivity atau daya pilih seseorang untuk menerima dan

mengolah pengaruh-pengaruh yang datang dari luar

2. Faktor ekstern: faktor yang terdapat di luar pribadi manusia.

Faktor ini berupa interaksi sosial di luar kelompok (Abu Ahmadi, 2000:171).

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (2000), yang dikutip oleh Sunaryo (2004:204),

ada beberapa cara untuk membentuk dan mengubah sikap individu, yaitu:

a. Adopsi

Suatu cara pembentukan dan perubahan sikap melalui kejadian yang terjadi

berulang dan terus menerus.

b. Diferensiasi

Suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena sudah dimilikinya

pengetahuan, pengalaman, intelegensi, dan bertambahnya umur


c. Integrasi

Suatu cara pembentukan dan perubahan sikap secara bertahap, diawali dengan

pengetahuan dan pengalaman sehingga akan terbentuk sikap terhadap suatu

objek.

d. Trauma

Suatu cara pembentukan dan perubahan sikap secara tiba-tiba dan mengejutkan

sehingga meninggalkan kesan mendalam pada diri individu.

e. Generalisasi

Suatu cara pembentukan dan perubahan sikap karena pengalaman traumatik

pada individu terhadap hal tertentu sehingga menimbulkan sikap negatif.

Pengukuran tentang sikap dapat dilakukan secara langsung maupun dapat

ditanyakan bagaimana pendapat atau pertanyaan responden terhadap suatu objek

secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pertanyaan hipotesis yang kemudian

ditanyakan pada responden (bisa dengan pilihan jawaban setuju, ragu-ragu, tidak

setuju, benar salah, atau yang lain) (Soekidjo Notoatmodjo, 1997:131-132).

2.3. Perilaku

1. Pengertian Perilaku

Dari segi biologis, perilaku adalah kegiatan atau aktivitas organisme

(makhluk hidup) yang bersangkutan. Sehingga yang dimaksud dengan

perilaku manusia pada hakekatnya adalah tindakan atau aktivitas dari

manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara

lain: berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis,

membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia,

baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak

luar.13

Notoatmodjo (2010a) yang mengutip pendapat Skiner seorang ahli

psikologi, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi

seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu perilaku

ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan

kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skiner ini disebut teori

S-O-R atau Stimulus-Organisme-Respons13.

2. Perilaku Kesehatan

Berdasarkan batasan perilaku Skiner, maka perilaku kesehatan (health

behavior) adalah suatu respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang

berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang

mempengaruhinya seperti sistem pelayanan kesehatan, makanan, minuman,

serta lingkungan.

Dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi dua

kelompok:

a. Perilaku orang sehat agar tetap sehat dan meningkat.

Perilaku ini disebut perilaku sehat (healthy behavior), yang

mencakup perilaku (overt dan covert behavior) dalam mencegah atau

menghindari penyakit dan penyebab masalah kesehatan (perilaku

preventif) dan perilaku dalam mengupayakan meningkatnya kesehatan

(perilaku promotif). Contohnya adalah makan dengan gizi seimbang,

olahraga teratur, tidak merokok dan minum minuman keras,


menghindari gigitan nyamuk, menggosok gigi setelah makan, dan

sebagainya.13

b. Perilaku orang sakit atau terkena masalah kesehatan untuk memperoleh

penyembuhan dan pemecahan masalah kesehatannya.

Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health

seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang

diambil seseorang bila sakit atau terkena masalah kesehatan untuk

memperoleh kesembuhan atau terlepasnya dari masalah kesehatan

tersebut. Tempat pencarian kesembuhan ini adalah tempat atau fasilitas

pelayanan kesehatan, baik fasilitas tradisional (dukun, sinshe,

paranormal) maupun modern atau profesional (rumah sakit, puskesmas,

poliklinik).13

Meskipun perilaku adalah bentuk respons atau reaksi terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang) namun dalam

memberikan respons sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-

faktor lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti bahwa

meskipun stimulusnya sama bagi beberapa orang namun respons tiap-

tiap orang berbeda. Faktor-faktor yang membedakan respons terhadap

stimulus yang berbeda disebabkan determinan perilaku. Determinan

perilaku ini dapat dibedakan menjadi dua, yakni14 :

Determinan atau faktor internal, yakni karakteristik dari orang yang

bersangkutan yang bersifat bawaan (given), seperti: ras, sifat fisik,

sifat kepribadian, (pemalu, pemarah, dan penakut), bakat bawaan,

tingkat kecerdasan, dan jenis kelamin.


Determinan atau faktor eksternal meliputi lingkungan fisik, sosial,

budaya, ekonomi, dan politik. Faktor lingkungan ini sering

merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku

seseorang.

2.4. Air Susu Ibu (ASI)

2.4.1. Pengertian ASI

ASI menurut Departemen Kesehatan RI (2002:1), yang dimaksud

dengan ASI adalah makanan terbaik dan alamiah untuk bayi. ASI

merupakan suatu proses alamiah, namun sering ibu-ibu tidak berhasil

menyusui atau menghentikan menyusui lebih dini dari yang semestinya.

Banyak alasan yang dikemukakan oleh ibu-ibu antara lain, ibu merasa

bahwa ASI-nya tidak cukup atau ASI tidak keluar pada hari-hari pertama

kelahiran bayi. Sesungguhnya hal itu tidak disebabkan karena ibu tidak

memproduksi ASI yang cukup, melainkan karena ibu tidak percaya diri

bahwa ASI-nya cukup untuk bayinya. Di samping informasi tentang

cara-cara menyusui yang baik dan benar belum menjangkau sebagian

besar ibu-ibu (Depkes RI, 2005:1).

Menurut Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Bina

Kesehatan Masyarakat (2002:5), ASI eksklusif adalah pemberian hanya

ASI saja tanpa makanan dan minuman lain. Menurut Utami Roesli

(2001:31), manfaat utama ASI eksklusif bagi bayi adalah:

I. Sebagai Nutrisi Terbaik

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi

yang seimbang dan disesuaikan dengan pertumbuhan bayi. ASI

adalah makanan bayi yang paling sempurna, baik kualitas dan


kuantitasnya. Dengan tata laksana menyusui yang benar, ASI

sebagai makanan tunggal akan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh

bayi normal sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, bayi harus

mulai diberikan makanan padat, tetapi ASI dapat diteruskan sampai

usia 2 tahun atau lebih. Negara-negara barat banyak melakukan

penelitian khusus guna memantau pertumbuhan bayi penerima ASI

eklslusif dan terbukti bayi penerima ASI eksklusif dapat tumbuh

sesuai dengan rekomendasi pertumbuhan standar WHO-NCHS

(Danuatmaja, 2003).

II. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh

Dengan diberikan ASI berarti bayi sudah mendapatkan

immunoglobulin (zat kekebalan atau daya tahan tubuh ) dari ibunya

melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut dengan cepat akan

menurun segera setelah kelahirannya. Badan bayi baru lahir akan

memproduksi sendiri immunoglobulin secara cukup saat mencapai

usia sekitar 4 bulan. Pada saat kadar immunoglobulin bawaan dari

ibu menurun yang dibentuk sendiri oleh tubuh bayi belum

mencukupi, terjadilah suatu periode kesenjangan immunoglobulin

pada bayi. Selain itu, ASI merangsang terbentuknya antibodi bayi

lebih cepat. Jadi, ASI tidak saja bersifat imunisasi pasif, tetapi juga

aktif. Suatu kenyataan bahwa mortalitas (angka kematian) dan

mobiditas (angka terkena penyakit) pada bayi ASI eksklusif jauh

lebih rendah dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI

(Budiasih, 2008).

III. Meningkatkan Kecerdasan


Perkembangan kecerdasan anak sangat berkaitan erat dengan

pertumbuhan otak. Faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan

otak anak adalah nutrisi yang diterima saat pertumbuhan otak,

terutama saat pertumbuhan otak cepat. Lompatan pertumbuhan atau

growt spourt sangat penting karena pada inilah pertumbuhan otak

sangat pesat. Kesempatan tersebut hendaknya dimanfaatkan oleh ibu

agar pertumbuhan otak bayi sempurna dengan cara memberikan

nutrisi dengan kualitas dan kuantitas optimal karena kesempatan itu

bagi seorang anak tidak akan berulang lagi (Danuatmaja, 2003).

IV. Meningkatkan Jalinan Kasih Sayang

Bayi yang sering berada dalam dekapan ibunya karena

menyusui, dapat merasakan kasih sayang ibu dan mendapatkan rasa

aman, tenteram, dan terlindung. Perasaan terlindung dan disayangi

inilah yang menjadi dasar perkembangan emosi bayi, yang kemudian

membentuk kepribadian anak menjadi baik dan penuh percaya diri

(Ramaiah, 2006).

Bagi ibu, manfaat menyusui itu dapat mengurangi perdarahan

setelah melahirkan. Apabila bayi disusui segera setelah dilahirkan

maka kemungkinan terjadinya perdarahan setelah melahirkan (post

partum) akan berkurang (Siswono 2001).

Karena pada ibu menyusui terjadi peningkatan kadar oksitosin

yang berguna juga untuk konstriksi/penutupan pembuluh darah

sehingga perdarahan akan lebih cepat berhenti. Hal ini akan

menurunkan angka kematian ibu yang melahirkan. Selain itu juga,

dengan menyusui dapat menjarangkan kehamilan pada ibu karena


menyusui merupakan cara kontrasepsi yang aman, murah, dan cukup

berhasil. Selama ibu memberi ASI eksklusif 98% tidak akan hamil

pada 6 bulan pertama setelah melahirkan dan 96% tidak akan hamil

sampai bayi merusia 12 bulan (Glasier, 2005).

Disamping itu, manfaat ASI bagi ibu dapat mengurangi

terjadinya kanker. Beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui

akan mengurangi kemungkinan terjadinya kanker payudara. Pada

umumnya bila semua wanita dapat melanjutkan menyusui sampai

bayi berumur 2 tahun atau lebih, diduga angka kejadian kanker

payudara akan berkurang sampai sekitar 25%. Beberapa penelitian

menemukan juga bahwa menyusui akan melindungi ibu dari

penyakit kanker indung telur. Salah satu dari penelitian ini

menunjukan bahwa risiko terkena kanker indung telur pada ibu yang

menyusui berkurang sampai 20-25%. Selain itu, pemberian ASI juga

lebih praktis, ekonomis, murah, menghemat waktu dan memberi

kepuasan pada ibu (Maulana, 2007).

2.4.2. Fisiologis Pengeluaran ASI

Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat kompleks

antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon.

Kemampuan ibu dalam menyusui/laktasipun berbeda-beda. Sebagian

mempunyai kemampuan yang lebih besar dibandingkan yang lain.

Laktasi mempunyai dua pengertian yaitu pembentukan ASI (Refleks

Prolaktin) dan pengeluaran ASI (Refleks Let Down/Pelepasan ASI)

(Maryunani, 2009).

Pembentukan ASI (Refleks Prolaktin) dimulai sejak kehamilan.


Selama kehamilan terjadi perubahan-perubahan payudara terutama

besarnya payudara, yang disebabkan oleh adanya proliferasi sel-sel

duktus laktiferus dan sel-sel kelenjar pembentukan ASI serta lancarnya

peredaran darah pada payudara. Proses proliferasi ini dipengaruhi oleh

hormon-hormon yang dihasilkan plasenta, yaitu laktogen, prolaktin,

kariogona dotropin, estrogen, dan progesteron.

Pada akhir kehamilan, sekitar kehamilan 5 bulan atau lebih, kadang

dari ujung puting susu keluar cairan kolostrum. Cairan kolostrum

tersebut keluar karena pengaruh hormon laktogen dari plasenta dan

hormon prolaktin dari hipofise. Namun, jumlah kolostrum tersebut

terbatas dan normal, dimana cairan yang dihasilkan tidak berlebihan

karena kadar prolaktin cukup tinggi, pengeluaran air susu dihambat oleh

hormon estrogen (Maryunani, 2009).

Setelah persalinan, kadar estrogen dan progesteron menurun dengan

lepasnya plasenta, sedangkan prolaktin tetap tinggi sehingga tidak ada

lagi hambatan terhadap prolaktin oleh estrogen. Hormon prolaktin ini

merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu ibu

(Maryunani, 2009).

Penurunan kadar estrogen memungkinan naiknya kadar prolaktin dan

produksi ASI pun mulai. Produksi prolaktin yang berkesinambungan

disebabkan oleh bayi menyusui pada payudara ibu. Pada ibu yang

menyusui, prolaktin akan meningkat pada keadaan : stress atau pengaruh

psikis,anestesi, operasi, rangsangan puting susu, hubungan kelamin,

pengaruh obat-obatan. Sedangkan yang menyebabkan prolaktin

terhambat pengeluarannya pada keadaan: ibu gizi buruk, dan pengaruh


obat-obatan (Badriul, 2008).

Pengeluaran ASI (Refleks Letdown/pelepasan ASI) merupakan proses

pelepasan ASI yang berada dibawah kendali neuroendokrin, dimana bayi

yang menghisap payudara ibu akan merangsang produksi oksitosin yang

menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel. Kontraksi dari sel-sel ini akan

memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke

sistem duktus untuk selanjutnya mengalir melalui duktus laktiferus

masuk ke mulut bayi sehingga ASI tersedia bagi bayi (Maryunani, 2009).

Faktor-faktor yang memicu peningkatan reflexletdown/pelepasan

ASI ini yaitu pada saat ibu : melihat bayinya, mendengarkan suara bayi,

mencium bayi, dan memikirkan untuk meyusui bayi. Sementara itu,

faktor-faktor yang menghambat reflexletdown/pelepasan ASI yaitu

stress seperti : keadaan bingung/psikis kacau, takut, cemas, lelah, malu,

merasa tidak pasti/merasakan nyeri. Oksitosin juga mempengaruhi

jaringan otot polos uterus berkontraksi sehingga mempercepat lepasnya

plasenta dari dinding uterus dan membantu mengurangi terjadinya

perdarahan. Oleh karena itu, setelah bayi lahir maka bayi harus segera

disusukan pada ibunya (Inisiasi Menyusui Dini ).

Dengan seringnya menyusui, penciutan uterus akan terjadi makin

cepat dan makin baik. Tidak jarang perut ibu akan terus terasa mulas

yang sangat pada hari-hari pertama menyusui, hal ini merupakan

mekanisme alamiah yang baik untuk kembalinya uterus ke bentuk semula

(Maryunani, 2009).

2.4.3. Volume ASI

Dalam kondisi normal, kira-kira 100 ml ASI pada hari kedua


setelah melahirkan, dan jumlahnya akan meningkat sampai kira-kira 500

ml dalam minggu kedua. Secara normal, produksi ASI yang efektif dan

terus menerus akan dicapai pada kira-kira 10-14 hari setelah melahirkan

(Deddy Muchtadi, 1996:30).

Sedangkan menurut Sjahmien Moehji (2003: 35), apabila tidak

ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan terus bertambah

mencapai 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.

Dalam masa usia satu sampai tiga bulan, apabila ibu sehat maka produksi

ASI mencapai 600 ml sehari.

Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu

yang dapat diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran

sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa

kehamilan, hanya memproduksi sejumlah kecil ASI. Emosi, seperti

tekanan (stres) atau kegelisahan, merupakan faktor penting yang

mempengaruhi jumlah produksi ASI selama minggu-minggu pertama

menyusui (Deddy Muchtadi, 1996:31).

2.4.4. Komposisi ASI

ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan

garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara

ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Faktor-faktor yang

mempengaruhi komposisi ASI, adalah : (Soetjiningsih, 1997:20)

1. Stadium laktasi

2. Ras

3. Keadaan nutrisi

4. Diit ibu
Air Susu Ibu (ASI) menurut stadium laktasi dibagi menjadi tiga, yaitu:

I. Kolostrum

Kolostrum adalah cairan encer dan sering berwarna kuning

atau dapat pula jernih yang kaya zat anti-infeksi (10-17 kali lebih

banyak dari susu matang) dan protein, dan keluar pada hari pertama

sampai hari ke-4/ke-7. Kolostrum membersihkan zat sisa dari

saluran pencernaan bayi dan mempersiapkannya untuk makanan

yang akan datang. Jika dibandingkan dengan susu matang,

kolostrum mengandung karbohidrat dan lemak lebih rendah, dan

total energi lebih rendah. Volume kolostrum 150-300 ml/24 jam.

Karakteristik kolostrum:

i. Cairan ASI lebih kental dan berwarna kuning.

ii. Lebih banyak mengandung protein.

iii. Lebih banyak mengandung antibodi.

iv. Kadar lemak dan karbohidrat lebih rendah.

v. Total energi hanya 58 kalori/100 ml kolostrum.

vi. Volume kolostrum berkisar 150-300 ml/24 jam

II. ASI Transisi/Peralihan

Merupakan ASI yang diproduksi pada hari ke-4 atau 7 sampai hari

ke-10 atau 14. Kadar protein berkurang, sedangkan kadar

karbohidrat dan lemak meningkat.

Karakteristik ASI masa peralihan:

Kadar protein lebih rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat

semakin tinggi dibandingkan kolostrum.

Volumenya semakin tinggi dibanding kolostrum


III. ASI Mature

Merupakan ASI yang diproduksi sejak hari ke-14 dan seterusnya.

Komposisi relatif konstan. Karakteristik ASI mature:

a. Cairan berwarna putih kekuning-kuningan.

b. pH 6,6-6,9.

c. Terdapat anti mikrobial faktor.

d. Kadar air dalam ASI mature: 88 gram/100 ml.

e. Volume ASI antara 300-850 ml/24 jam (Utami Roesli, 2001:25).

Nutrisi ASI mengandung beberapa unsur, diantaranya:

1. Hidrat Arang (Laktosa)

Produksi dari laktosa adalah galaktosa dan glukosamin. Galaktosamin

merupakan nutrisi vital untuk pertumbuhan jaringan otak dan juga merupakan

kebutuhan nutrisi medulla spinalis yaitu untuk pembentukan myelin (selaput

pembungkus sel saraf) (Hubertin Sri Purwanti, 2004:7). Kadar laktosa yang

tinggi akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan lactobacillus sebagai

penghuni usus dan dapat mencegah terjadinya infeksi (Diah Krisnatuti dan

Rina Yenrina, 2002:6).

Laktosa sangat diperlukan untuk pertumbuhan yang merupakan

sumber kalori bagi serabut saraf otak. Laktosa juga meningkatkan penyerapan

kalsium, fosfor, dan magnesium yang penting untuk pertumbuhan tulang.

Laktosa oleh fermentasi diubah menjadi asam laktat. Asam laktat ini akan

membuat suasana usus menjadi asam, kondisi ini menguntungkan karena

akan menghambat pertumbuhan bakteri yang berbahaya dan menjadi tempat

yang subur bagi bakteri usus yang baik (Hubertin Sri Purwanti, 2004:7-8).

2. Protein
Susu sapi mengandung tiga kali lebih banyak protein daripada ASI.

Sebagian besar berbentuk kasein yaitu sekitar 80% dan sisanya berupa

protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi dan sifatnya yang

mudah menggumpal di dalam lambung yang relatif keras bila bayi diberi susu

sapi, sehingga sulit untuk dicerna oleh enzim proteinase. ASI walaupun

mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein wheynya

lebih banyak, sehingga akan membentuk gumpalan yang lunak dan lebih

mudah dicerna serta diserap oleh usus bayi (Hubertin Sri Purwanti, 2004:12-

13).

3. Mineral

Kandungan mineral dalam susu sapi empat kali lebih banyak

dibandingkan kandungan mineral dalam ASI. Kandungan mineral yang tinggi

pada susu sapi akan menyebabkan terjadinya beban osmobar, yaitu tingginya

kadar mineral dalam tubuh. Akibatnya, bayi menjadi sering kencing (Diah

Krisnatuti dan Rina Yenrina, 2002:6).

4. Lemak

ASI maupun susu sapi mengandung lemak yang cukup tinggi, yaitu

sekitar 3,5%, namun keduanya memiliki susunan asam lemak yang berbeda.

ASI lebih banyak mengandung asam lemak tek jenuh, sedangkan susu sapi

lebih banyak mengandung asam lemak rantai pendek dan asam lemak jenuh

(Diah Krisnatuti dan Rina Yenrina, 2002:5).

5. Vitamin

Vitamin merupakan zat gizi yang essensial. Kekurangan vitamin

tertentu dapat mengakibatkan terganggunya kesehatan dan dapat

menimbulkan penyakit tertentu. Pemberian vitamin yang berlebihan dalam


jangka waktu panjang akan mengakibatkan keracunan dan gangguan

kesehatan. Kadar vitamin dalam ASI dan susu sapi agak berbeda. Kebutuhan

vitamin untuk bayi dapat dipenuhi oleh ASI selama 4-6 bulan pertama, jika

asupan makanan ibu cukup seimbang (Diah Krisnatuti dan Rina Yenrina,

2002:7).

Vitamin yang ada di dalam ASI seperti vitamin A, tiamin, vitamin C

bervariasi menurut makanan yang dikonsumsi ibu. Hanya terdapat sedikit

vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio (rickets) jarang terjadi

pada anak yang diberi ASI, bila kulitnya sering kena sinar matahari (Deddy

Muchtadi, 2002:34).

Usus bayi belum mampu membuat vitamin K, pada minggu pertama,

sedangkan bayi setelah persalinan mengalami perdarahan perifer yang perlu

dibantu dengan pemberian vitamin K untuk proses pembekuan darah.

Pemberian vitamin K dapat dilakukan pada hari ke-1. ke-3, ke-7. Golongan

vitamin B kecuali riboflavin dan patogenik sangat kurang, tetapi tidak perlu

ditambahkan karena kebutuhan bayi akan dicukupi oleh makanan yang

dikonsumsi ibu (Hubertin Sri Purwanti, 2004:20-21).


Tabel 2.1. Perbandingan Komposisi ASI dengan Susu Sapi

2.4.4. Kebaikan ASI sebagai Makanan Bayi

Menurut Sjahmien Moehji (2003:33), kebaikan dari air susu

ibu sebagai makanan bayi antara lain adalah:

a. ASI cukup mengandung zat-zat makanan yang diperlukan selama

ASI keluar secara normal.

b. Dalam ASI sudah terdapat bahan-bahan anti yang berasal dari ibu,

sehingga dapat mempertahankan bayi dari gangguan beberapa

jenis penyakit.

c. Karena ASI sedikit sekali berhubungan dengan udara luar, maka

kemungkinan masuknya bakteri sedikit sekali.


d. Temperatur ASI sesuai dengan temperatur tubuh bayi.

e. Karena bayi sendiri yang mengatur jumlah susu yang akan

diminum, maka bayi tidak mudah tersedak.

f. Dengan menyusu, maka rahang bayi akan terlatih menjadi kuat.

g. Menyusui bayi berarti mempererat rasa kasih antara ibu dan anak.

h. ASI tidak usah dimasak atau diolah lebih dulu, sehingga sangat

i. memudahkan bagi ibu.

2.4.5. Faktor Pelindung dalam ASI

Pada waktu bayi lahir sampai bayi berusia beberapa bulan, bayi

belum dapat membentuk kekebalan sendiri secara sempurna. ASI

mampu memberi perlindungan baik secara aktif maupun pasif, karena

ASI tidak hanya menyediakan perlindungan terhadap infeksi, tetapi juga

merangsang perkembangan sistem kekebalan bayi. Dengan zat anti

infeksi dari ASI, maka bayi yang diberi ASI eksklusif akan terlindung

dari berbagai macam infeksi baik yang disebabkan oleh bakteri, virus,

jamur atau parasit (Utami Roesli, 2001:29).

2.4.6. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI

a. Pengetahuan Ibu tentang Pemberian ASI Eksklusif

Kolostrum terdapat pada ASI dengan jumlah yang tidak

banyak tetapi banyak mengandung zat-zat yang bergizi dan sangat

baik untuk dikonsumsi bayi. Tetapi karena faktor kekurangtahuan

atau kepercayaan yang salah, banyak ibu yang baru melahirkan


tidak memberikan kolostrum pada bayinya. Mereka berpendapat

dan percaya bahwa kolostrum akan berpengaruh buruk terhadap

kesehatan anak (FG Winarno, 1992:54). Seorang ibu yang hanya

tamat SD belum tentu tidak mampu menyusun makanan yang

memenuhi persyaratan gizi dibandingkan dengan orang yang

lebih tinggi pendidikannya. Sekalipun berpendidikan rendah kalau

seorang ibu rajin mendengarkan TV, radio serta dalam

penyuluhan ikut serta tidak mustahil pengetahuan gizinya akan

lebih baik. Hanya saja perlu dipertimbangkan bahwa faktor

tingkat pendidikan turut menentukan mudah tidaknya menyerap

dan memahami pengetahuan gizi yang ibu peroleh (Suharyono,

Rulina Suradi,1992:19).

Sebagian besar kejadian gizi buruk dapat dihindari apabila

ibu cukup mempunyai pengetahuan tentang cara memelihara gizi

dan mengatur makanan anak. Memburuknya gizi anak dapat

terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai tata cara pemberian

ASI kepada anaknya. Keadaan ini akan membawa pengruh buruk

terhadap tingkat gizi bayi (Sjahmien Moehji, 1992:12).

b. Sikap Ibu tentang Pemberian ASI Eksklusif

Seorang ibu yang tidak pernah mendapat nasehat atau

pengalaman, penyuluhan tentang ASI dan seluk beluknya dari

orang lain, maupun dari buku-buku bacaan dapat mempengaruhi


sikapnya pada saat ibu tersebut harus menyusui. Sikap seseorang

dipengaruhi oleh pengetahuan yang dipunyainya dan ia akan

memberikan sikap negatif terhadap ASI, jika pengetahuan tentang

hal itu kurang (Sri Haryati, 2006:19).

Ibu yang berhasil menyusui anak sebelumnya dengan

pengetahuan dan pengalaman cara pemberian ASI secara baik dan

benar akan menunjang laktasi berikutnya. Sebaliknya, kegagalan

menyusui pada masa lalu akan mempengaruhi sikap seorang ibu

terhadap penyusuan sekarang. Dalam hal ini perlu ditumbuhkan

motivasi dalam diri ibu dalam menyusui anaknya. Pengalaman

masa kanak-kanak, pengetahuan tentang ASI, nasehat,

penyuluhan, bacaan, pandangan dan nilai-nilai yang berlaku di

masyarakat akan membentuk sikap ibu yang positif terhadap

menyusui (Depkes RI, 1994:13).

c. Pendidikan Ibu

Secara umum mudah diduga bahwa tingkat pendidikan ibu

mempengaruhi keadaan gizi anak. Ibu dengan tingkat pendidikan

lebih tinggi umumnya yang mempunyai pengetahuan tentang gizi

yang lebih baik dan mempunyai perhatian lebih besar terhadap

kebutuhan gizi anak. Demikian juga halnya dalam pemahaman

akan manfaat ASI untuk anak, secara umum dinyatakan bahwa

ibu yang mempunyai tingkat pendidikan lebih, mempunyai

tingkat pemahaman yang tinggi pula (Ratna Susanti, 2000:15).


Amat sering keinginan dan kebutuhan ibu tidak dikenali

dan tidak didukung kesehatan fisik dan emosional ibu. Pendidikan

ibu mempengaruhi praktik-praktik menyusui mereka dan aspek-

aspek lain dalam merawat anak-anaknya (Depkes RI, 2002:4).

d. Sosial Budaya

Pemberian ASI tidak lepas dari tatanan budaya. Ada

pandangan sebagian masyarakat bahwa menyusui dapat merusak

payudara seingga mengganggu kecantikan ibu tersebut dan

sebagian lain beranggapan bahwa menyusui merupakan perilaku

kuno. Bila ingin disebut modern, ibu menggunakan susu formula

(Ipuk Dwiana Murwanti, 2005:20-21). Perubahan sosial budaya

yang sering terjadi di masyarakat akan membawa pengaruh

terhadap perubahan tata nilai masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan

yang sudah ada di masyarakat dapat bergeser ke arah positif

maupun negatif. Kebiasaan-kebiasaan positif mungkin dapat

memperbaiki tradisi dalam pemberian ASI diantaranya:

1. Kebiasaan minum jamu merupakan keyakinan ingin sehat

2. Kepercayaan minum wejah sejenis minuman atau jamu dari

daun-daunan tertentu seperti di Jawa dari daun dadap, dengan

keyakinan bahwa ASI akan lebih banyak keluar

3. Kepercayaan bahwa ibu kembali dari bepergian harus segera

mencuci payudara dan ASI tidak boleh dibuang sembarangan

karena dalam ASI terkandung unsur manusia


4. Kebiasaan untuk memisahkan bayi dan ibunya, mendekatkan

hubungan batin antara ibu dan bayi ( Depkes RI, 2005:43-44).

5. Pekerjaan Ibu

Pekerjaan sehari-hari kadang-kadang sangat menyibukkan ibu

dan anak menjadi rewel (Depkes RI, 2005:44). Waktu kerja

yang dimaksud adalah 7 jam sehari dan 40 jam seminggu

untuk 6 hari kerja dalam seminggu, 8 jam sehari atau 40 jam

seminggu untuk 5 hari kerja dalam seminggu (AM Sugeng

Budiono,dkk, 2003:3). Bekerja bukan alasan untuk

menghentikan pemberian ASI secara eksklusif, ASI eksklusif

harus dijalani selama enam bulan tanpa intervensi makanan

dan minuman lain meskipun cuti hamil hanya tiga bulan.

Seorang ibu bekerja dapat tetap memberikan ASI secara

eksklusif dengan pengetahuan yang benar tentang menyusui,

perlengkapan memerah ASI dan dukungan lingkungan kerja

(Utami Roesli, 2000:38). Ibu bekerja harus mendapat

dukungan untuk melakukan menyusui eksklusif dalam enam

bulan pertama dan melanjutkan menyusui setelah pemberian

makanan pendamping ASI (Depkes RI, 2002:16). Berbagai

kendala yang dihadapi dalam peningkatan pemberian ASI

eksklusif salah satunya adalah ibu kembali bekerja setelah cuti

bersalin yang menyebabkan penggunaan susu botol atau susu

formula secara dini sehingga menggeser atau menggantikan


ASI. Hal ini diperberat lagi dengan adanya kecenderungan

meningkatnya peran ganda wanita dari tahun ke tahun

(Depkes RI, 2002:6).

6. Kemampuan Ibu untuk Menyusui

Kemampuan ibu untuk menyusui berbeda antara ibu yang satu

dengan yang lain, hal ini disebabkan (A. August Burns,

2000:167):

1) Produksi ASI

Ibu-ibu merasa bahwa ASI-nya tidak cukup untuk bayinya

tetapi hal ini tidak benar. Jumlah ASI dalam payudara

tergantung pada berapa banyak bayi menghisap payudara.

Makin banyak bayi menghisap makin banyak pula produksi

ASI.

2) Masalah puting susu

Keadaan puting susu yang datar atau masuk ke dalam,

tetapi tetap bisa memberikan ASI tanpa masalah, hal ini

dikarenakan bayi menghisap payudara bukan hanya puting

susu.
2.5. Kerangka Teori

Bagan 2.1. Kerangka Teori

Volum ASI

Komposisi ASI

Kebaikan ASI
Air Susu Ibu
sebagai
(ASI)
makananbayi

Factor Pengetahuan Ibu


pelindung
dalam ASI
Sikap Ibu

Factor yang
mempengaruhi
pemberian ASI

Pendidikan Ibu

Social Budaya
2.6. Kerangka Konsep

Faktor Predisposisi

Pengetahuan
Sikap
Pendidikan
Pekerjaan
Sosial Budaya Perilaku Pemberian ASI
Eksklusif

Faktor Pendukung

Kemampuan ibu untuk menyusui

Diteliti :

Tidak di teliti :
2.7. Hipotesis

1. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan perilaku pemberian ASI

eksklusif di wilayah Puskesmas Purwaharja 2.

2. Ada hubungan antara sikap ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif di

wilayah Puskesmas Purwaharja 2.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Tempat penelitian dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Purwaharja 2 yang terdiri

dari 2 Desa yaitu Desa Raharja dan Desa Mekarharja.

2. Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret tahun 2016.

3.2. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survei analitik cross sectional yaitu suatu

penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek,

melalui observasi/pengumpulan data sekaligus pada suatu saat yaitu tiap subjek hanya

diobservasi satu kali saja dan pengukuran variabel subjek dilakukan pada saat

penelitian tersebut (Sudigdo Sastroasmoro dan Sofyan Ismael, 1995:57).

3.3. Variabel dan Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel


Variabel Definisi Operasional Kategori Skala

Pengetahuan tentang Adalah kemampuan 1.Baik jika total Ordinal

ASI responden untuk skor ordinal 13

menjawab 2.kurang baik, jika

pertanyaan yang total <13

berhubungan dengan

ASI eksklusif
Sikap ibu terhadap Ungkapan perasaan 1.baik, jika total Ordinal

pemberian ASI responden terhadap skor ordinal 8

pemberian Asi 2.buruk, jika total

eksklusif skor < 8

Perilaku pemberian ASI Pemberian ASI saja 1.Eksklusif Ordinal

eksklusif sampai usia 6 bulan 2.Non eksklusif

oleh responden

3.4. Populasi dan Sampel Penelitian

3.4.1. Populasi

Menurut Suharsimi Arikunto (2002:108), populasi adalah keseluruhan

subjek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu yang

mempunyai anak di wilayah puskesmas Purwaharja 2 kota Banjar.

3.4.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan populasi objek yang

diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi yang diteliti (Soekidjo

Notoatmodjo, 2002:79). Seluruh ibu yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak

termasuk kriteria eksklusi.

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Ibu yang bersedia menjadi responden

b. Ibu rumah tangga dan ibu yang bekerja

c. Ibu yang memiliki anak

d. Ibu yang belum menopause


2. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

a. Ibu yang tidak bersedia menjadi responden.

b. Ibu yang sudah menopause

3.4.3. Cara perhitungan sampel:

Sampel adalah sebagai bagian dari populasi menurut sutrisno hadi (200: 122)

berpendapat bahwa sampel adalah sebagian dari populasi atau sejumlah

penduduk yang jumlahnya kurang dari populasi. Menurut suharsimi arikunto

menyebutkan bahwa sample adalah sebagian atau wakil dari populasi yang

di teliti. Sebagaimana yang disebutkan Suharsimi Arikunto (2002: 120)/ c

Karena pada penelitian ini tidak diketahui jumlah populasi maka untuk

mengetahui jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus :

/2 2
N= [ ]

1,96 2
N=[ ]
0.20

N = 96 responden

Keterangan:

N = ukur n sampel

Z /2 = nilai standar daftar luar normal standar bagaimana tingkat

kepercayaan (a) 95%

E = tingkat ketepatan yang digunakan dengan mengemukakan besarnya


eror maksimum secara 20%

Dari perhitungan diatas dapat dikethui sampel dalam penelitian ini

adalah sebanyak 96 responden.

3.5. Instrumen Penelitian

Instrumen adalah alat-alat yang akan digunakan untuk pengumpulan data

(Soekidjo Notoatmodjo, 2002: 48). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah kuesioner. Kuesioner diartikan sebagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun

dengan baik, sudah matang, dimana interviewer tinggal memberikan jawaban atau

dengan memberikan tanda-tanda tertentu (Soekidjo Notoatmodjo, 2002:116).


4.
Kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap dengan

rendahnya perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif.

3.5.1. Validitas

Validitas dilakukan untuk mengetahui apakah kuesioner yang disusun

oleh peneliti mampu mengukur apa yang hendak diukur, maka perlu diuji

dengan uji korelasi antar skor (nilai) tiap-tiap item (pertanyaan) dengan skor

total kuesioner tersebut. Teknik yang dipakai adalah teknik korelasi Product

moment dengan menggunakan bantuan program komputer. Uji validitas

dilakukan pada 20 orang ibu di luar sampel penelitian yang mempunyai

karakteristik sama. Uji validitas dinyatakan valid apabila ada dari hasil

pengukuran tiap item soal lebih besar dari r tabel yaitu 0,444 yang didapatkan

dari r product moment dengan = 5%.

3.5.2. Reliabilitas

Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten atau tetap asas bila dilakukan

pengukuran dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama, dengan

menggunakan alat ukur yang sama. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan

uji reliabilitas dengan teknik Alfa Cronbach dengan menggunakan bantuan

komputer yang dilakukan pada 20 ibu di luar sampel penelitian yang

mempunyai karakteristik yang sama.

3.6. Teknik Pengambilan Data

Teknik pengambilan data adalah suatu usaha untuk memperoleh data yang

hendak diteliti dengan metode yang ditentukan oleh peneliti. Metode yang digunakan

dalam mengambil data oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Teknik Pengambilan Data Primer

Data primer dalam penelitian ini meliputi pengetahuan dan sikap dengan

perilaku ibu tentang ASI, serta pemberian ASI eksklusif. Data primer dilakukan

dengan menggunakan metode wawancara. Wawancara adalah suatu metode yang

digunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan

secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden) dengan menggunakan

panduan kuesioner.

Wawancara dalam penelitian ini dilakukan secara langsung dengan ibu-ibu

yang mempunyai anak yang sudah memenuhi kriteria sampel dengan tujuan

untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap dengan perilaku ibu dalam

pemberian ASI eksklusif.

2. Teknik Pengambilan Data Sekunder

Data sekunder dalam penelitian ini meliputi gambaran umum dan data jumlah
anak di Puskesmas Purwaharja 2.

3.7. Teknik Analisis Data

Untuk memperoleh suatu kesimpulan masalah yang diteliti, maka analisis data

merupakan suatu langkah penting dalam penelitian.

Langkah-langkah pengolahan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1) Editing

Editing dilakukan guna mengoreksi data hasil penelitian yang meliputi

kelengkapan pengisian data identitas responden.

2) Koding

Koding dilakukan dengan cara memberikan kode pada jawaban hasil penelitian

guna mempermudah dalam proses pengelompokan dan pengolahannya.

3) Tabulasi

Tabulasi dilakukan dengan cara mengelompokkan jawaban hasil penelitian yang

serupa dan menjumlahkannya dengan cara teliti dan teratur ke dalam tabel yang

telah disediakan.

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan 2 cara, yaitu:

3.7.1. Analisis Univariat

Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan tiap-tiap variabel

yaitu pengetahuan ibu, sikap ibu dan perilaku pemberian ASI eksklusif di

wilayah puskesmas Purwaharja 2 Kota Banjar yang disajikan dalam bentuk

tabel dan grafik.

3.7.2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap variabel pengetahuan ibu dan


sikap ibu dengan perilaku pemberian ASI eksklusif. Karena skala data pada

penelitian ini berbentuk ordinal dan nominal maka menggunakan uji Chi

square dengan syarat tidak ada sel yang nilai observed-nya bernilai 0, dan sel

yang mempunyai expected kurang dari 5 maksimal 20%, namun jika tidak

memenuhi syarat maka menggunakan alternatif uji Fisher atau Kolmogorof-

smirnov (M. Sopiyudin Dahlan,2005:18).


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokalisasi Penelitian

B. Analisa Univariat

1. Distribusi Menurut Tingkat Pengetahuan tentang Pemberian ASI Eksklusif

Tabel 4.1 Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Tingkat Pengetahuan

Frequency Percent
Baik 50 43.5
Kurang Baik 65 56.5
Total 115 100

Tabel diatas menunjukkan bahwa didapatkan responden yang memiliki pengetahuan

kurang baik lebih banyak dibanding responden yang memiliki tingkat pengetahuan

baik. Responden yang memiliki tingkat pengetahuan buruk yaitu sebanyak 65 orang

(56.5%) dan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu sebanyak 50

orang (43.5%).

2. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Sikap

Tabel 4.2 Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Sikap

Frequency Percent
Baik 56 48.7
Buruk 59 51.3
Total 115 100

Tabel diatas menunjukkan bahwa didapatkan responden yang memiliki sikap

yang baik lebih banyak dibanding responden yang memiliki sikap yang buruk.
Responden yang memiliki sikap yang baik yaitu sebanyak 56 orang (48.7%) dan

responden yang memiliki sikap yang buruk yaitu sebanyak 59 orang (51.3%).

3. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Tingkat Perilaku Pemberian ASI

Eksklusif

Tabel 4.3 Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Tingkat Perilaku

Pemberian ASI Eksklusif

Frequency Percent
Asi Eksklusif 34 29.6
Non ASI Eksklusif 81 70.4
Total 115 100

Tabel diatas menunjukkan bahwa didapatkan responden yang memberikan

ASI Non Eksklusif lebih banyak dibanding responden yang memberikan ASI

Eksklusif.. Responden yang memberikan ASI Non Eksklusif sebanyak 81 orang

(70.4%) dan responden yang memberikan ASI Eksklusif sebanyak 34 orang

(29.6%).

C. Analisa Bivariat

Analisa bivariat ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel

independen yaitu Pengetahuan dan Sikap dengan variabel dependen yaitu praktek

pemberian ASI Eksklusif. Analisis ini menggunakan Chi Square.


1. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pemberian ASI

Eksklusif

Pengetahuan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif OR


ASI Asi Non Total P Value
Eksklusif Eksklusif
N % N % N %
Baik 23 46.0 27 54.0 50 100,0 4.182 0,001
Kurang Baik 11 16.9 54 83.1 65 100.0 (1.780-
Total 34 29.6 81 70.4 115 100.0 9.825)

Tabel 4.5 menunjukan bahwa 46.0% responden yang memberikan ASI

Eksklusif berpengetahuan baik dan responden yang memberikan ASI Non Eksklusif

dengan pengetahuan kurang baik memiliki hasil 83.1% Hasil uji statistik dengan

menggunakan chi-square didapatkan nilai P = 0,001 (<0,05) maka dapat

disimpulkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan praktek

pemberian ASI Eksklusif.

2. Hubungan antara Sikap dengan Perilaku Pemberian ASI Eksklusif

Sikap Praktek Pemberian ASI Eksklusif OR


ASI Asi Non Total P Value
Eksklusif Eksklusif
N % N % N %
Baik 17 30.4 39 69.6 56 100,0 1,077 1.000
Buruk 17 28.8 42 71.2 59 100.0 (0.483-
Total 34 29.6 81 70.4 115 100.0 2,400)

Tabel 4.6 menunjukan bahwa 30.4% responden yang memberikan

ASI Eksklusif memiliki sikap baik dan responden yang memberikan ASI

Non Eksklusif dengan sikap kurang baik memiliki hasil 71.2%. Hasil uji
statistik dengan menggunakan chi-square didapatkan nilai P = 1.000 (>0,05)

maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara

sikap dengan praktek pemberian ASI Eksklusif.


BAB V

PEMBAHASAN

A. Penafsiran dan Pembahasan Temuan Hasil Penelitian

1. Analisa Univariat

a. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dari 115 responden yang diteliti di sekitar

wilayah kerja puskesmas Purwaharja 2, didapatkan responden yang memiliki

pengetahuan kurang baik lebih banyak dibanding responden yang memiliki

tingkat pengetahuan baik, dengan hasil 65 responden (56.5%) memiliki

pengetahuan kurang baik dan 50 responden (43.5%) memiliki tingkat

pengetahuan baik.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa

pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk tindakan seseorang. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa

perilaku yang didasari oleh pengetahuan lebih baik dari pada perilaku yang tidak

didasari pengetahuan (Soekidjo Notoatmodjo, 2003:13)

b. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Sikap

Berdasarkan hasil penelitian ini, dari 115 responden yang diteliti di sekitar

wilayah kerja puskesmas Purwaharja 2, didapatkan responden yang memiliki

sikap baik lebih banyak dibanding responden yang memiliki sikap buruk dengan

hasil 56 responden (48.7%) memiliki sikap baik dan 59 responden (51.3%)

memiliki sikap yang buruk terhadap pemberian ASI Eksklusif.


c. Distribusi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Tingkat Perilaku Pemberian

ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian ini, dari 115 responden yang diteliti di sekitar

wilayah kerja puskesmas Purwaharja 2, didapatkan responden yang melakukan

pemberian ASI Non Eksklusif lebih banyak dibanding responden yang

melakukan pemberian ASI Eksklusif dengan hasil 81 responden (70,4%)

melakukan pemberian ASI Non Eksklusif dan 34 responden (29,6%)

melakukan pemberian ASI Eksklusif.

2. Analisa Bivariat

a. Hubungan antara Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Pemberian ASI

Eksklusif

Dari hasil uji dengan menggunakan metode chi-square didapatkan hasil bahwa

terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan praktek pemberian ASI

eksklusif, hasil p value <0,05. Dari hasil penelitian ini yang dapat dilihat pada

tabel di atas adalah responden yang memiliki tingkat pengetahuan kurang baik

lebih banyak yang tidak melakukan ASI eksklusif dengan presentasi sebesar

83,1% dan hanya 16,9% yang melakukan ASI eksklusif. Hasil ini sejalan

dengan responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik yaitu 54.0% tidak

melakukan ASI eksklusif, sedangkan yang melakukan ASI eksklusif yaitu

sebanyak 46.0%.

b. Hubungan antara Sikap dengan Praktek Pemberian ASI Eksklusif

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara sikap

dengan praktek pemberian ASI eksklusif, hasil p value >0,05. Dari hasil uji dengan

metode chi-square didapatkan hasil bahwa yang responden dengan sikap baik yang
melakukan pemberian ASI eksklusif yaitu sebanyak 30.4% sedangkan responden

dengan sikap buruk yang melakukan pemberian ASI eksklusif tidak jauh berbeda

yaitu sebanyak 28.8%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa tidak ada

perbedaan yang bermakna antara responden yang memiliki sikap baik maupun

buruk dalam hal perilaku pemberian ASI eksklusif.


BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

1. Jumlah responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik tentang pemberian ASI

eksklusif adalah sebanyak 50 responden (43.5%) dan yang memiliki tingkat

pengetahuan kurang baik sebanyak 65 orang (56.5%).

2. Jumlah responden yang memiliki sikap baik tentang pemberian ASI eksklusif yaitu

sebanyak 56 orang (48.7%) dan responden yang memiliki sikap yang buruk

sebanyak 59 orang (51.3%).

3. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan pemberian ASI

eksklusif di wilayah Puskesmas Purwaharja 2 Kota Banjar tahun 2016.

4. Tidak ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan perilaku pemberian

ASI eksklusif di wilayah Puskesmas Purwaharja 2 Kota Banjar tahun 2016.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, saran yang dapat diajukan antara lain:

1) Bagi ibu, perlu peningkatan kesadaran tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif

bagi bayi untuk menunjang pertumbuhan.

2) Bagi ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif, dianjurkan untuk memberikan ASI

eksklusif pada anak berikutnya.

3) Bagi petugas kesehatan, hendaknya aktif dalam sosialisasi tentang pentingnya

pemberian ASI eksklusif.


DAFTAR PUSTAKA

Dapertemen Kesehatan Republik Indonesia (DEPKES RI). Dukung iu bekerja beri ASI

eksklusif. Jakarta. 2015. Di unduh dari :

http://www.depkes.go.id/article/print/15091400003/dukung-ibu-bekerja-beri-asi-

eksklusif.html

UNICEF Indonesia. ASI adalah penyelamat hidup paling murah dan efektif di dunia.

2013. Di unduh dari : http://www.unicef.org/indonesia/id/media_21270.html