Anda di halaman 1dari 3

Jenis-jenis kebudayaan Keraton Buton

1. Upacara Adat berkenaan dengan Daur Hidup (Life Cycle)


Buton pada umumnya merupakan kebudayaan kesultanan yang syarat akan
nilai-nilai keislaman. Bentuk-bentuk upacara daur hidup (life cycle) dalam
masyarakat Buton yang masih bertahan, sebagai berikut:
a. Upacara adat Alaana Bulua
Upacara adat ini diperuntukkan bagi bayi (laki-laki umur 9 hari dan
perempuan umur 8 hari). Pemotongan rambut dilakukan oleh orang
tertua/tertinggi pangkatnya diantara hadirin. Rambut dipotong pada tiga
tempat pada kepala bayi tersebut. Lalu potongan tersebut disimpan oleh
orang tua dan apabila anak meninggal, rambut tersebut dikuburkan
bersama.
Setelah rambut dipotong, kaki bayi tersebut disentuhkan dengan sedikit
tanah, yang diambil dari bawah rumah. Setelah posesi tersebut, maka
dihidangkan makanan (haroa) dengan didahului pembacaan doa untuk
mengenang arwah keluarga (neatiaka sumanga). Pada proses upacara ini,
dilakukan pemotongan kambing (satu ekor untuk anak perempuan dan dua
ekor untuk anak laki-laki).
b. Upacara adat Dole-dole
Upacara adat dole-dole merupakan salah satu bentuk hajatan yang
dilakukan oleh masyarakat Buton atas lahirnya seorang anak. Selain itu,
juga sebagai bentu pengobatan tradisonal. Menurut kepercayaan
masyarakat Buton, anak yang telah di dole-dole akan terhindar dari segala
macam jenis penyakit. Biasanya dilaksanakan pada bulan Rajab, syaban
dan setelah lebaran sebagai waktu yang dianggap baik. Prosesi upacara
adat dole-dole sang anak diletakkan diatas nyiru yang diatas dengan daun
pisang yang diberi minyak. Selanjutnya anak tersebut digulingkan di
atasnya sehingga seluruh badan anak tersebut berminyak.
c. Upacara adat Tandaki dan Posusu
Upacara adat ini merupakan acara lingkran hidup yang dilakukan kepada
anak-anak yang berusia 8-10 tahun. Tandaki merupakan istilah
pengislaman/sunat bagi anak laki-laki, dan posusu merupakan istilah
pengislaman/sunat bagi anak perempuan.
d. Upacara Adat Posuo
Upacara adat pingitan (posuo) merupakan upacara ritual dalam rangka
peralihan usia 15 remaja menjadi dewasa yang dilaksanakan dengan
mengurung para gadis 7 hari 8 malam. Dalam posesi tersebut para gadis
diberikan pengetahuan tentang pendidikan nilai-nilai etika menurut adat
dan agama, dan juga latihan fisik sehingga berpenampilan cantik dan
anggun.
e. Upacara adat perkawinan (Kariyaa)
Upacara adat perkawinan masyarakat Buton dibagi dalam 3 tahap : (1)
losa, pada tahap ini merupakan tahap pacaran yang sudah diketahui oleh
kedua belah pihak dan sudah resmi tunangan, (2) tauraka, pada tahap ini
dibicarakan kepastian hari menikah pembayaran mas kawin (popolo) yang
pembayarannya disesuaikan dengan status perempuan yang dinikahi, dan
(3) tahap pelaksanaan hari perkawinan; pengantin pria diantar ke rumah
pengantin perempuan, dan pelaksanaan akad nikah dilaksanakan di rumah
pengantin perempuan.
f. Upacara adat posipo
Secara haifiah posipo artinya disuapi. Upacara adat ini dilaksanakan oleh
seorang ibu yang usia kandungannya memasuki bula ke-7. Dalam upacara
adat yang dipandu oleh seorang bisa. Sang calon ibu akan dimandikan dan
selanjutnya dengan pakaian adat ia akan disuapi oleh keluarga terdekat
dengan makanan dan kue tradisional. Hal ini mengandung makna agar
sang anak nantinya tidak rakus dan pelit tetapi sebaliknya bersifat sabar
dan dermawan.

2. Upacara Adat Tahunan


Selain upacara adat berkenaan dengan daur hidup, masyarakat bekas
kesultanan Buton memiliki ritual atau upacara adat tahunan dan sampai
sekarang masih tetap dilaksanakan. Upacara ritual tahunan ini ada yang
berhubungan dengan upacara keagamaan (Agama Islam) dan ada pula
yang berhubungan dengan panen tahunan dalam sektor
pertanian/perkebunan. Adapun upacara adat tahunan tersebut, adalah
sebagai berikut :
a. Haroa Maludu
Upacara adat ini merupakan pesta Maulid Nabi besar Muhammad
SAW yang dilakukan oleh masyarakat Buton setiap tahunnya. Pada
prosesi haroa ini, upacara dipimpin oleh lebe yang membaca ayat-ayat
suci Al-quran. Pada saat membaca ayat suci Al-quran dihadapan lebe
ada sebuah sesajian dalam tala (wadah) yang merupakan simbol
penyembahan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Pelaksanan haroa
maludu berlangsung selama 1 bulan penuh di bulan Rabiul Awal.
b. Qunua
Upacar adat qunua merupakan kegiatan sahur bersama di mesjid pada
15 Ramadhan. Pelaksanaan qunua dilakukan setelah pelaksanaan
shalat Tarwih bersama. Setiap pegawai mejid atau masyarakat ikut
membawa makanan. Upacara adat ini setiap tahun masih dilakukan di
Mesjid Agung Keraton.
c. Kadiri
Upacara adat kadiri merupakan kegiatan sahur bersama di mesjid pada
27 Ramadhan, atau pada malam Lailatul Qadar. Pelaksanaan kadiri
dilakukan setelah pelaksanaan shalat tarawih bersama.
d. Pekandekandea
Pekandekandea merupakan jamuan makanan tradisional yang biasa
dilakukan oleh masyarakat Buton dalam rangka penjemputan tamu.
e. Tembaana Bulaa
Tembaana Bulaa merupakan proses penentuan bulan-bulan Arab oleh
pegawai sarana hukum atau biasa disebut sara kidina yang berjumlah
24 orang. Prosesi adat ini dilakukan pada saat awal masuknya bulan
suci ramadhan sebagai pertanda besok shubuh masyarakat
melaksanakan ibadah puasa.
f. Mataa (pesta panen)
Upacara adat mataa merupakan upacara adat berupa ungkapan tanda
syukur kepada Yang Maha Kuasa atas hasil panen yang mereka terima,
maka msyarakat setiap tahun mengadakan acara mataa atau pesta
panen. Upacara yang langsung dipimpin oleh perangkat adat yang
sampai sekarang masih terpelihara dengan baik sangat menarik karena
syarat dengan budaya tradisional.

Beri Nilai