Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

Fungi, (bahasa latin dari jamur), adalah organism eukariotik, pembawa spora, hanya
sedikit mengandung klorofil, dan bereproduksi baik secara seksual maupun aseksual.1

Otomikosis atau Otitis Eksterna yang disebabkan oleh jamur digambarkan sebagai infeksi
akut, subakut maupun kronik oleh jamur yang menginfeksi epitel skuamosa pada meatus
akustikus eksternus dengan komplikasi yang jarang melibatkan telinga tengah. Walaupun sangat
jarang mengancam jiwa, proses penyakit ini sering menyebabkan keputus-asaan baik pada pasien
maupun ahli telinga hidung tenggorok karena lamanya waktu yang diperlukan dalam pengobatan
dan tindak lanjutnya, begitu juga dengan angka rekurensinya yang begitu tinggi.2

Otomikosis adalah suatu bentuk penyakit yang umum ditemukan diseluruh belahan
dunia. Frekuensinya bervariasi tergantung pada perbedaan zona geografik, faktor lingkungan,
dan juga waktu.3

Otomikosis adalah satu dari gejala umum yang sering dijumpai pada klinik-klinik THT
dan prevalensinya mencapai 9% dari keseluruhan pasien yang menunjukkan gejala dan tanda
otitis eksterna. Walaupun terdapat perdebatan pendapat bahwa jamur sebagai penyebab infeksi,
melawan pendapat lain yang menyatakan adanya koloni berbagai macam spesies sebagai respon
host yang immunocompromise terhadap infeksi bakteri, kebanyakan studi laboratorium dan
pengamatan secara klinis mendukung otomikosis sebagai penyebab patologis yang sebenarnya,
dengan Pityrosporum, Candida dan Aspergillus sebagai spesies jamur yang terbanyak diperoleh
dari isolatnya.2

Banyak faktor yang dikemukakan sebagai predisposisi terjadinya otomikosis, termasuk


cuaca yang lembab, adanya serumen, instrumentasi pada telinga, status pasien
yang immunocompromised , dan peningkatan pemakaian preparat steroid dan antibiotik topikal.
Pengobatan yang direkomendasikan meliputi debridement lokal.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Otomikosis adalah infeksi telinga yang disebabkan oleh jamur, atau infeksi jamur, yang
superficial pada meatus akustikus eksternus.3

2.2 Epidemiologi
Angka insidensi otomikosis tidak diketahui, tetapi sering terjadi pada daerah dengan
cuaca yang panas, juga pada orang-orang yang senang dengan olah raga air. 1 dari 8 kasus
infeksi telinga luar disebabkan oleh jamur. 90% infeksi jamur ini disebabkan oleh Aspergillus
spp, dan selebihnya adalah Candida spp. Angka prevalensi Otomikosis ini dijumpai pada 9%
dari seluruh pasien yang mengalami gejala dan tanda otitis eksterna. Otomikosis ini lebih sering
dijumpai pada daerah dengan cuaca panas, dan banyak literatur menyebutkan otomikosis berasal
dari negara tropis dan subtropis. Di United Kingdom, diagnosis otitis eksterna yang disebabkan
oleh jamur ini sering ditegakkan pada saat berakhirnya musim panas.8

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ali Zarei tahun 2009, Otomikosis dijumpai lebih
banyak pada wanita (terutama ibu rumah tangga) daripada pria. Pada penelitian tersebut,
dijumpai otomikosis sering pada remaja laki-laki, yang juga sesuai dengan yang dilaporkan oleh
peneliti lainnya.9

Tetapi berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hueso,dkk, dari 102 kasus ditemukan
55,8 %nya merupakan lelaki, sedangkan 44,2% nya merupakan wanita.3

2.3 Etiologi dan Faktor Risiko

Faktor predisposisi terjadinya otitis eksterna, dalam hal ini otomikosis, meliputi ketiadaan
serumen, kelembaban yang tinggi, peningkatan temperature, dan trauma lokal, yang biasanya
sering disebabkan oleh kapas telinga (cotton buds) dan alat bantu dengar. Serumen sendiri
memiliki pH yang berkisar antara 4-5 yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri dan
jamur. Olah raga air misalnya berenang dan berselancar sering dihubungkan dengan keadaan ini
oleh karena paparan ulang dengan air yang menyebabkan keluarnya serumen, dan keringnya

2
meatus akustikus eksternus. Dapat juga disebabkan oleh adanya prosedur invasif pada telinga.
Predisposisi yang lain meliputi riwayat menderita eksema, rhinitis allergika, dan asthma.8

Infeksi ini disebabkan oleh beberapa spesies dari jamur yang bersifat saprofit,
terutama Aspergillus niger. Agen penyebab lainnya meliputi A. flavus, A. fumigatus, Allescheria
boydii, Scopulariopsis, Penicillium, Rhizopus, Absidia, dan Candida Spp. Sebagai tambahan,
otomikosis dapat merupakan infeksi sekunder dari predisposisi tertentu misalnya otitis eksterna
yang disebabkan bakteri yang diterapi dengan kortikosteroid dan olah raga berenang.9,10

Banyak faktor yang menjadi penyebab perubahan jamur saprofit ini mejadi jamur yang
patogenik, tetapi bagaimana mekanismenya sampai sekarang belum dimengerti. Beberapa dari
faktor dibawah ini dianggap berperan dalam terjadinya infeksi, seperti perubahan epitel,
peningkatan kadar pH, gangguan kualitatif dan kuantitatif dari serumen, faktor sistemik (seperti
gangguan imun tubuh, kortikosteroid, antibiotik, sitostatik, neoplasia), faktor lingkungan (panas,
kelembaban), riwayat otomikosis sebelumnya, Otitis media sekretorik kronik, post
mastoidektomi, atau penggunaan substansi seperti antibiotika spectrum luas pada telinga.3

Aspergillus niger, juga telah dilaporkan sebagai penyebab otomikosis pada pasien
immunokompromis, yang tidak berespon terhadap berbagai regimen terapi yang telah diberikan.
(aspergillus otomikosis).11

2.4 Patofisiologi
Secara umum, meatus akustikus eksterna dilindungi oleh sistem imun tubuh, lapisan
epitelium, dan sekresi yang dihasilkan oleh kanal yaitu serumen. Meatus akustikus eksterna
mempunyai pH normal berkisar antara 4-5. Hal ini dijaga oleh flora normal dan serumen. Kadar
pH yang sedikit asam akan menekan pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga bersama-sama
dengan sistem imun tubuh dan lapisan epitelium, akan menjaga meatus akustikus eksterna dari
serangan patogen. Dalam keadaan tertentu seperti paparan air, penggunaan antibiotik dan steroid
dalam jangka panjang, maka suasana sedikit asam tersebut akan berubah menjadi lebih basa. Hal
ini akan menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga terjadi infeksi pada meatus
akustikus eksterna. Keadaan akan diperburuk jika sistem imun dan lapisan epitelium juga
mengalami gangguan. Jamur juga tumbuh dengan cepat dikarenakan kondisi meatus akustikus
yang lembab, hangat dan gelap, sehingga otomikosis terjadi.

3
2.5 Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang dapat ditemui hampir sama seperti gejala otitis eksterna pada
umumnya otalgia dan otorrhea sebagai gejala yang paling banyak dijumpai, kadang-kadang
diikuti dengan kurangnya pendengaran, rasa penuh pada telinga dan gatal.2

Pada liang telinga akan tampak berwarna merah, ditutupi oleh skuama, dan kelainan ini
ke bagian luar akan dapat meluas sampai muara liang telinga dan daun telinga sebelah dalam.
Tempat yang terinfeksi menjadi merah dan ditutupi skuama halus. Bila meluas sampai kedalam,
sampai ke membran timpani, maka akan dapat mengeluarkan cairan serosanguinos.12

Pada pemeriksaan telinga yang dicurigai otomikosis, didapati adanya akumulasi debris
fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana putih dan panjang dari permukaan
kulit, hilangnya pembengkakan signifikan pada dinding kanalis, dan area melingkar dari jaringan
granulasi diantara kanalis eksterna atau pada membran timpani.8

Gambar 1. Otoskop pada Otomikosis

Gambar menunjukkan dari hasil otoskopi didapatkan telinga kanan dengan perforasi 90
% dari pars tensa. Membran timpani tampak kering. Bayangan keabuan dan massa putih dari
miselium tampak pada dinding anterior kanalis. Nanah kering kekuningan tampak pada
permukaan kulit pada dinding posterior kanalis.14

2.6 Diagnosis
Diagnosa didasarkan pada :

a. Anamnesis.

4
Adanya keluhan nyeri di dalam telinga, rasa gatal, adanya sekret yang keluar dari telinga.
Yang paling penting adalah kecenderungan beraktifitas yang berhubungan dengan air, misalnya
berenang, menyelam, dan sebagainya.12

b. Gejala Klinik.

Yang khas, terasa gatal atau sakit di liang telinga dan daun telinga menjadi merah,
skuamous dan dapat meluas ke dalam liang telinga sampai 2/3 bagian luar. Didapati adanya
akumulasi debris fibrin yang tebal, pertumbuhan hifa berfilamen yang berwana putih dan
panjang dari permukaan kulit.12

c. Pemeriksaan Laboratorium

(i). Preparat langsung : skuama dari kerokan kulit liang telinga diperiksa dengan KOH 10
% akan tampak hifa-hifa lebar, berseptum, dan kadang-kadang dapat ditemukan spora-
spora kecil dengan diameter 2-3 u.12
(ii). Pembiakan : Skuama dibiakkan pada media Agar Saboraud, dan disimpan pada suhu
kamar. Koloni akan tumbuh dalam satu minggu berupa koloni filament berwarna putih.
Dengan mikroskop tampak hifa-hifa lebar dan pada ujung-ujung hifa dapat ditemukan
sterigma dan spora berjejer melekat pada permukaannya.12

2.7 Diagnosis Banding


Otomikosis dapat didiagnosa banding dengan otitis eksterna yang disebabkan oleh
bakteri, kemudian dengan dermatitis pada liang telinga yang sering memberikan gejala gejala
yang sama.12

2.8 Penatalaksanaan
Pengobatan ditujukan untuk menjaga agar liang telinga tetap kering , jangan lembab, dan
disarankan untuk tidak mengorek-ngorek telinga dengan barang-barang yang kotor seperti korek
api, garukan telinga, atau kapas. Kotoran-kotoran telinga harus sering dibersihkan.15

Pengobatan yang dapat diberikan seperti :

5
a. Larutan asam asetat 2-5% dalam alkohol yang diteteskan kedalam liang telinga biasanya dapat
menyembuhkan.4,15 Tetes telinga siap beli seperti VoSol (asam asetat nonakueus 2%), Cresylate
(m-kresil asetat) dan Otic Domeboro (asam asetat 2%) bermanfaat bagi banyak kasus.16

b. Larutan timol 2% dalam spiritus dilutes ( alkohol 70%) atau meneteskan larutan burrowi 5%
satu atau dua tetes dan selanjutnya dibersihkan dengan desinfektan biasanya memberi hasil
pengobatan yang memuaskan.8

c. Dapat juga diberikan Neosporin dan larutan gentian violet 1-2%.8

d. Akhir-akhir ini yang sering dipakai adalah fungisida topikal spesifik, seperti preparat yang
mengandung nistatin , ketokonazole, klotrimazole, dan mikanazole serta flukanazole yang
diberikan secara sistemik.2,16

2.9 Komplikasi

Komplikasi dari otomikosis yang pernah dilaporkan adalah perforasi dari membran
timpani dan otitis media serosa, tetapi hal tersebut sangat jarang terjadi, dan cenderung sembuh
dengan pengobatan. Patofisiologi dari perforasi membran timpani mungkin berhubungan dengan
nekrosis avaskular dari membran timpani sebagai akibat dari trombosis pada pembuluh darah.
Angka insiden terjadinya perforasi membran yang dilaporkan dari berbagai penelitian berkisar
antara 12-16 % dari seluruh kasus otomikosis. Tidak terdapat gejala dini untuk memprediksi
terjadinya perforasi tersebut, keterlibatan membran timpani sepertinya merupakan konsekuensi
inokulasi jamur pada aspek medial dari telinga luar ataupun merupakan ekstensi langsung infeksi
tersebut dari kulit sekitarnya.2

2.10 Prognosis

Umumnya baik bila diobati dengan pengobatan yang adekuat. Pada saat terapi dengan
anti jamur dimulai, maka akan dimulai suatu proses resolusi (penyembuhan) yang baik secara
imunologi. Bagaimanapun juga, resiko kekambuhan sangat tinggi, jika faktor yang menyebabkan
infeksi sebenarnya tidak dikoreksi, dan fisiologi lingkungan normal dari meatus akustikus
eksternus masih terganggu.1,12

6
2.11 Kesimpulan

Otomikosis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur baik bersifat akut, sub akut,
maupun kronik yang terjadi pada liang telinga luar (meautus akustikus eksternus). Gejala dari
otomikosis dapat berupa nyeri pada telinga, keluarnya secret (otorrhea), gatal, sampai
berkurangnya pendengaran. Faktor predisposisi yang menyebabkannya meliputi ketiadaan
serumen, kelembaban yang tinggi karena sering beraktifitas dalam air seperti berenang, dan
penggunaan kortikosteroid, dan anti mikroba pada infeksi sebelumnya. Spesies yang paling
terbanyak menyebabkan infeksi ini adalah dari genus Aspergillum dan Candida. Pengobatan
dengan menjaga kebersihan telinga, mengurangi kelembaban dan faktor-faktor predisposisinya,
dan pemakaian anti fungal baik secara lokal maupun sistemik.

7
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien


Nama : NKS
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan : SMA
Suku Bangsa : Indonesia
Agama : Hindu
Status Perkawinan : Menikah
Alamat : Banjar Lepang Padang Sambian Kaja, Denpasar Barat
Diagnosa : Otomikosis Sinistra
Tanggal ke Poliklinik : 13 Juli 2016

3.2 Anamnesis
Keluhan Utama : gatal pada telinga kiri sejak 3 hari yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Penderita datang ke poliklinik THT RSUP Sanglah dengan keluhan utama gatal di telinga
kiri sejak 3 hari yang lalu. Awalnya terasa sedikit gatal dirasakan pada telinga kiri namun
semakin lama gatal dirasakan semakin memberat. Keluhan dirasakan terus menerus
sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Keluhan gatal dikatakan berkurang apabila
pasien mengorek-ngorek telinganya dan semakin berat ketika pasien beristirahat atau
menjelang tidur. Selain gatal pada telinga kiri, telinga kirinya terasa nyeri, penuh dan
tidak nyaman. Pasien juga mengeluh ada keluar cairan bening dari telinga kirinya.
Keluhan lain seperti gangguan pendengaran disangkal. Riwayat demam, batuk dan pilek
juga disangkal.

8
Riwayat Penyakit Terdahulu :
Penderita sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan seperti ini.
Riwayat Pengobatan :
Penderita belum mendapatkan pengobatan

Riwayat Alergi :
Riwayat alergi terhadap makanan tertentu, debu maupun terhadap obat-obatan tertentu
disangkal oleh penderita.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama.

Riwayat Pribadi dan Sosial :


Penderita adalah pegawai swasta. Penderita tinggal bersama keluarga dan orang tuanya.
Di lingkungan sekitar rumah maupun di tempat kerja tidak ada yang mengalami keluhan
yang sama dengan penderita.

3.3 Pemeriksaan Fisik

Tanda Vital

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan Darah :-

Nadi : 74 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Suhu Axilla : 37C

Berat Badan : 58 kg

9
Status General :
Kepala : Normocephali
Muka : Simetris, parese nervus fasialis (-/)
Mata : Anemis (-/-), ikterus (-/-), reflek pupil (+/+) isokor
THT : Sesuai status lokalis
Leher : Kaku kuduk (Tidak dilakukan)
Pembesaran kelenjar limfe (-/-)
Pembesaran kelenjar parotis (-/-)
Kelenjar tiroid (-)
Thorak : Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur ()
Po : Dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas : Dalam batas normal

Status Lokalis
Telinga Kanan Kiri
Daun Telinga N N
Liang Telinga Lapang Mikotic plug (+)
Discharge (-) Cairan bening (+)
Membran Timpani Intak Sulit dievaluasi
Tumor (-) (-)
Mastoid (-) (-)
Tes Pendengaran
- Weber Tidak ada lateralisasi Tidak ada lateralisasi
- Rinne Positif Positif
- Schwabach Sama dengan pemeriksa Sama dengan pemeriksa

Hidung Kanan Kiri


Hidung luar Normal Normal
Kavum Nasi Lapang Lapang
Septum Deviasi (-)

10
Discharge (-) (-)
Mukosa Merah muda Merah muda
Tumor (-) (-)
Konka Dekongesti Dekongesti
Sinus Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
Koana Normal Normal

Tenggorok Keterangan
Dispnea (-)
Sianosis (-)
Mukosa Merah muda
Stridor (-)
Suara Normal
Tonsil T1, kesan tenang
Dinding belakang Normal
Laring Tidak dievaluasi

3.4 Resume
Penderita adalah seorang perempuan berusia 38 tahun, agama Hindu, tinggal di
Padang Sambian Kaja, Denpasar, seorang pegawai swasta, datang dengan keluhan utama
gatal di telinga kiri sejak 3 hari yang lalu. Awalnya terasa sedikit gatal dirasakan pada
telinga kiri namun semakin lama gatal dirasakan semakin memberat. Keluhan dirasakan
terus menerus sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Keluhan gatal dikatakan
berkurang apabila pasien mengorek-ngorek telinganya dan semakin berat ketika pasien
beristirahat atau menjelang tidur. Selain gatal pada telinga kiri, pasien juga mengatakan,
telinga kirinya terasa nyeri, penuh dan tidak nyaman. Terdapat cairan bening yang keluar
dari telinga kiri. Keluhan lain seperti gangguan pendengaran pada telinga disangkal.
Riwayat demam, batuk dan pilek juga disangkal.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan status general dalam batas normal. Status
lokalis THT pada telinga kiri didapatkan mikotic plug dan membran timpani sulit

11
dievaluasi. Telinga kanan dalam batas normal. Tes penala yaitu tes Weber menunjukkan
tidak terdapat lateralisasi ke telinga kanan dan kiri. Tes Rinne positif pada telinga kiri dan
telinga kanan. Tes Schwabach pada telinga kiri dan kanan sama dengan pemeriksa
sedangkan. Diagnosis saat pasien berkunjung ke poliklinik THT adalah Otomikosis
Sinistra.
3.5 Diagnosis Kerja
Otomikosis Sinistra
3.6 Penatalaksanaan
Terapi Medikamentosa :
Obat salep Miconazole 3x/hari
Non-medikamentosa :
Pasien dan orang tua pasien diberikan penjelasan mengenai gambaran umum
penyakit, perjalanan penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Pasien disarankan beristirahat dengan cukup dan minum obat sesuai instruksi untuk
mempercepat proses penyembuhan.
Penderita sebisa mungkin dihindarkan dari kebiasaan membersihkan telinga
berlebihan dengan memasukan air dan sementara hindari aktivitas yang berhubungan
dengan air seperti berenang untuk menjaga kelembaban pada telinga sehingga bakteri
atau jamur tidak mudah tumbuh. Pastikan telinga selalu dalam kondisi yang kering
dengan mencegah masuknya air ke dalam telinga, misalnya dengan menutup telinga
dengan kapas pada saat mandi dan keringkan telinga tiap kali selesai mandi atau
keramas.
Kebiasaan penderita yang sering mengorek telinga perlu dibatasi karena mengorek
telinga secara berlebihan dapat menimbulkan lecet peda liang telinga dan
mempermudah infeksi liang telinga dan hindari mengorek telinga dengan barang-
barang kotor seperti korek api dan garukan.

3.7 Prognosis
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Dubius ad bonam
Ad sanactionam : Dubius ad bonam

12
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini didapatkan pasien perempuan berusia 38 tahun dengan diagnosis
otomikosis sinistra. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pasien
dikeluhkan gatal pada telinga kiri sejak 3 hari sebelum datang ke rumah sakit. Awalnya terasa
sedikit gatal dirasakan pada telinga kiri namun semakin lama gatal dirasakan semakin memberat.
Keluhan dirasakan terus menerus sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Keluhan gatal
dikatakan berkurang apabila pasien mengorek-ngorek telinganya dan semakin berat ketika pasien
beristirahat atau menjelang tidur. Selain gatal pada telinga kiri, pasien juga mengatakan, telinga
kirinya terasa nyeri,penuh dan tidak nyaman. Terdapat cairan bening yang keluar dari telinga
kiri. Keluhan lain seperti gangguan pendengaran pada telinga disangkal. Riwayat demam, batuk
dan pilek juga disangkal. Pasien tidak pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya. Pada
keluarga tidak dapat keluhan yang serupa. Orang tua pasien menyangkal bahwa pasien memiliki
alergi terhadap obat maupun makanan tertentu.

Pada pemeriksaan fisik pada telinga ditemukan membran timpani kanan normal manakala
membran timpani kiri tidak dapat dievaluasi. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami otomikosis dengan berbagai faktor
predisposisi seperti kelembaban yang tinggi, peningkatan temperatur, dan trauma lokal akibat
penggunaan kapas telinga. Pasien memiliki gejala seperti gatal, keluar cairan bening dari telinga
dan telinga rasa nyeri,penuh serta tidak nyaman sehingga otomikosis ditegakkan.

Terapi yang direncanakan untuk penderita otomikosis ini adalah dibersihkan terlebih
dahulu liang telinga kiri dengan larutan asetat 2% dalam alkohol yang diteteskan dalam liang
telinga. Kemudian, antijamur topikal yang dianjurkan adalah Miconazole. Untuk planning terapi
akan dilakukan pemeriksaan KOH.Penanganan non medikamentosa yang diberikan adalah
pasien diberikan penjelasan mengenai gambaran umum penyakit, perjalanan penyakit dan
komplikasi yang mungkin terjadi. Pasien disarankan berisitirahat dengan cukup dan minum obat
sesuai instruksi untuk mempercepat proses penyembuhan.

13
BAB V
KESIMPULAN

Otomikosis adalah infeksi jamur pada liang telinga luar dan komplikasi yang terkait
kadang-kadang melibatkan telinga tengah. Hal ini terjadi karena proteksi
keseimbangan lipid/asam pada telinga hilang. Jamur menyebabkan 10% dari semua kasus otitis
externa. Jamur tersebut juga dapat menghasilkan infeksi pada host imunokompeten. Pada pasien
immunocompromised, pengobatan otomikosis harus kuat untuk mencegah komplikasi seperti
gangguan pendengaran dan infeksi tulang. Prevalensinya paling besar di daerah lembab dan
berdebu, daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan kasus yang diamati oleh setakat ini adalah
disebabkan oleh salah satu Aspergillus atau spesies Candida.

Jamur yang melimpah di tanah atau pasir yang mengandung pengurai bahan sayuran.
Bahan ini kering dengan cepat di bawah sinar matahari tropis dan tertiup oleh angin sebagai
partikel debu yang kecil. Spora jamur di udara dibawa oleh uap air, sebuah fakta yang
berkorelasi pada tingkat infeksi yang lebih tinggi pada musim hujan, di mana kelembaban relatif
meningkat hingga 80%.

Otomikosis muncul dengan gejala nonspesifik seperti pruritis, ketidaknyamanan dan rasa
penuh telinga, tinnitus, gangguan pendengaran, dan umumnya mngalami kekambuhan Faktor
predisposisi untuk otomikosis termasuk sejumlah kebiasaan, dermatitis, kebiasaan tidak higienis,
individu immunocompromised, penyakit telinga yang sudah ada dan lain-lain.

Secara umum, meatus akustikus eksterna dilindungi oleh sistem imun tubuh, lapisan
epitelium, dan sekresi yang dihasilkan oleh kanal yaitu serumen. Meatus akustikus eksterna
mempunyai pH normal berkisar antara 4-5. Hal ini dijaga oleh flora normal dan serumen. Kadar
pH yang sedikit asam akan menekan pertumbuhan bakteri dan jamur, sehingga bersama-sama
dengan sistem imun tubuh dan lapisan epitelium, akan menjaga meatus akustikus eksterna dari
serangan patogen.

14
Dalam keadaan tertentu seperti paparan air, penggunaan antibiotik dan steroid dalam
jangka panjang, maka suasana sedikit asam tersebut akan berubah menjadi lebih basa. Hal ini
akan menyebabkan pertumbuhan bakteri dan jamur sehingga terjadi infeksi pada kanalis
akustikus eksterna. Keadaan akan diperburuk jika sistem imun dan lapisan epitelium juga
mengalami gangguan. Jamur juga tumbuh dengan cepat dikarenakan kondisi meatus akustikus
yang lembab, hangat dan gelap, sehingga otomikosis terjadi.

Pengobatan melibatkan pembersihan debris secara menyeluruh dengan toilet dari telinga
luar dan digunakan agen antimikotik seperti clotrimazole. Klotrimazol adalah agen antijamur
broadspectrum dan efektif kontrol jamur isolat dikaitkan dengan otomikosis (Aspergillus dan
Candida).

Pada kasus ini pasien datang ke poliklinik THT-KL RSUP Sanglah dan mengeluhkan
gatal telinga kiri sejak 3 hari sebelum datang ke rumah sakit. Awalnya terasa sedikit gatal
dirasakan pada telinga kiri namun semakin lama gatal dirasakan semakin memberat. Keluhan
dirasakan terus menerus sampai mengganggu aktivitasnya sehari-hari. Keluhan gatal dikatakan
berkurang apabila pasien mengorek-ngorek telinganya dan semakin berat ketika pasien
beristirahat atau menjelang tidur. Selain gatal pada telinga kiri, pasien juga mengatakan telinga
kirinya terasa nyeri, penuh dan tidak nyaman. Terdapat cairan bening yang keluar dari telinga
kiri. Keluhan lain seperti gangguan pendegaran pada telinga disangkal. Riwayat demam, batuk
dan pilek juga disangkal. Pasien tidak pernah mengalami hal yang serupa sebelumnya.

Untuk rencana terapi pada pasien ini dibersihkan terlebih dahulu liang telinga kiri dengan
larutan asetat 2% dalam alcohol yang diteteskan dalam liang telinga dan diberikan obat antijamur
topikal yaitu Miconazole.

15
DAFTAR PUSTAKA

1. K Murat Ozcan, Muge Ozcan, Aydin Karaarslan, & Filiz Karaarslan. (2003). Otomycosis in
Turkey: Predisposing factors, aetiology and therapy. The Journal of Laryngology and
Otology, 117(1), 39-42. Retrieved July 6, 2009, from ProQuest Medical Library. (Document ID:
280962791).

2. Tang Ho, Jeffrey T Vrabec, Donald Yoo, Newton J Coker. (2009). Otomycosis : Clinical
features and treatment implications. The Journal of Otolaryngology-Head and neck Surgery,
135,787-791.

3. P Hueso Gutirrez, S Jimenez Alvarez, E Gil-carcedo Sanudo, et al. (2010). Presumed


diagnosis : Otomycosis. A study of 451 patients. Acta Otorinolaringol Esp, 56, 181-186.

4. Rusmarjono, Kartosoediro S. Odinofagi. Dalam : Soepardi E, Iskandar N (eds 5). Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga - Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta : FK UI. 2008. h. 9-15.

5. Otomycosis, available from www.wikipedia.com, last update on June 1, 2009.

6. Dixon, Bernard. (1995). Treating swimmer's ear.British Medical Journal, 310(6976), 405.
Retrieved July 6, 2009, from ProQuest Medical Library. (Document ID: 6308792).

7. Fungal Ear Infection. available fromwww.patient.co.uk last update on June 22,2008.

8. Ali Zarei Mahmoudabadi. (2009). Mycological Studies in 15 Cases of Otomycosis. Pakistan


Journal of Medical Sciences, 22 (4 ),486-488

9. Ashish Kumar.(2011). Fungal Spectrum in Otomycosis Patients. JK Sciences, 7 (3)152-155.

11. Rutt, A., & Sataloff, R.. (2008). Aspergillus otomycosis in an immunocompromised
patient.Ear, Nose & Throat Journal, 87(11), 622-3. Retrieved July 6, 2009, from ProQuest
Medical Library. (Document ID: 1608819481).

12. Trelia Boel. (2013).Mikosis Superfisial.Retrieved from USU digital Library.

13. External Ear Canal. Available from www.entusa.com, last update on June 29, 2009

16
14. Jack L Pulec, & Christian Deguine. (2012). Otomycosis. Ear, Nose & Throat Journal, 81(6),
370. Retrieved July 6, 2009, from ProQuest Medical Library. (Document ID: 683078111).

15. Arif Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri,dkk. (2009). Otomikosis.Kapita Selekta
Kedokteran ,Jakarta: Media Aesculapius, 3 ( 1),75.

16. George L Adams, Lawrence R Boies, Peter A Higler.(1997).Otomikosis.Buku Ajar Penyakit


THT.Jakarta: PT.EGC,85.

17