Anda di halaman 1dari 5

cara sederhana menghitung koefisien

untuk harga satuan pekerjaan

6 Votes

Mungkin ini hanya sedikit berbagi pengetahuan saja kalau memang benar silahkan
di ambil kalau memang salah mohon kiranya di beri masukan.

Misalnya kita akan menghitung koefisien dari galian tanah (M3) dengan tenaga
manusia.

Analisa Teknis Satuan Pekerjaan

Pertama adalah menganalisa alat apa yang dibutuhkan dalam melaksanakan


pekerjaan tersebut.

Cangkul! sudah pasti kita butuh cangkul untuk menggali tanah, hasilnya tentu akan
berbeda kalau kita menggunakan sendok untuk menggali tanah.

kita mulai buat pertanyaan?

Seberapa banyak yang dapat diperoleh dari sebidang cangkul dalam hal ini dengan
satuan M3?

PRODUKTIFITAS

Anggaplah volume yang di peroleh dari sebidang cangkul adalah P = 200 mm L =


200 mm , ketebalan tanah yang bisa di angkat adalah 45 mm, jadi dalam sebidang
cangkul di peroleh 200 x 200 x 45 = 0,0018 M3 langsung kita konversikan ke dalam
Meter. Kalau begitu dalam sekali cangkul di dapat tanah sebanyak 0,0018 M3.

Pertanyaan lagi? berapa kali tukang gali harus mencangkul untuk memperoleh 1
M3? berarti 1M3/0,0018 M3 maka diperoleh 556 kali mencangkul untuk
mendapatkan tanah sebanyak 1 M3.

bagaimana cara mengubah nya agar menjadi satuan waktu, buat saja pertanyaan
lagi? Berapa waktu yang dibutuhkan tukang gali untuk sekali mencangkul dan
membuangnya? coba kamu peraktekkan pada sebidang tanah. Pada tanah empuk
tentu akan berbeda dengan tanah keras. Baiklah asumsikan saja 1 menit!
kalau begitu kali kan saja dengan 556 tadi, maka waktu yang dibutuhkan tukang gali
adalah 556 menit, kemudian kita konversikan ke dalam jam, maka akan di dapat
hasil 9,26 Jam seorang tukang gali mencangkul 1 M3 tanah. kalau tanah keras
silahkan asumsikan sendiri?

ANALISA HARGA

Kemudian analisa harga upah tukang gali anggaplah Rp. 70.000/HO atau hari dalam
standar kerja

Maka kita bisa konversikan ke dalam hari 70.000 / 9,26 = 7.650 HO/Jam,

Standar kerja berapa jam sih? 7 Jam, maka kalikan saja 7.650 X 7 = 52.920 HO

KOEFISIENNYA

Maka kita bisa tentukan Koefisiennya dengan membagi 52.920 : 70.000 = 0.7560

Sementara analisa SNI adalah 0,7500 (SNI revisi 6.1.1)

Sementara kalau untuk pengawas atau mandor biasanya di bagi 30 pekerja, artinya
setiap mandor atau pegawas mengawasi setidaknya 30 orang pekerja maka akan
diperoleh 0,7500 : 30 = 0.0250.

Begitulah kira-kira analisa untuk mencari besaran koefisien (angka indeks) yang
saya fahami.

Yang utama dalam menghitung ini adalah perhatikan satuan yang digunakan untuk
acuan BQ,
Contoh koefisien analisa harga satuan bangunan

misalnya untuk 1 m2 pekerjaan plesteran dinding koefisien analisa harga satuanya adalah
sebagai berikut:

Analisa untuk 1 m2 pekerjaan plesteran 1 pc : 4 ps adalah koefisien analisa bahan

0.2170 zak semen


0.02830 m3 pasir pasang
koefisien analisa tenaga

0.0125 hari mandor


0.0200 hari kepala tukang
0.2000 hari tukang batu
0.2500 hari pekerja
angka angka diatas merupakan koefisien analisa harga satuan yang dibutuhkan untuk
menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran membutuhkan 0.2170 zak semen, sehingga jika
kita akan mengerjakan 100 m2 pekerjaan plesteran maka kita harus membeli atau
menyediakan semen sebanyak 0.2170 x 100 = 21,70 zak.

begitu juga dengan kebutuhan tenaga sesuai koefisien analisa harga satuan diatas untuk
menyelesaikan 1m2 pekerjaan plesteran diperlukan 0.20 hari tukang batu, maka untuk
menyelesakan 100 m2 plesteran dibutuhkan 0.20 x 100 = 20 hari kerja untuk satu tukang,
nah jika kita ingin menyelesaikan pekerjaan plesteran tersebut dalam waktu 5 hari maka
diperlukan tukang batu sebanyak 20 hari : 5 = 4 tukang batu.

Cara menghitung kebutuhan pasir dan semen


Pekerjaan bangunan dengan konstruksi beton bertulang membutuhkan material pasir dan
semen sebagai bahan utama, selain itu pekerjaan pasangan dinding batu bata juga
memerlukan kedua buah material ini. Semen berfungsi sebagai bahan pengikat pasir
sehingga tercipta adukan beton yang dapat mengeras menjadi batu, semen yang sudah
dicampur air dapat melekatkan bahan bangunan disekitarnya. Disini kita akan
menjelaskan sebuah tutorial sederhana tentang cara menghitung kebutuhan pasir dan
semen semoga bermanfaat bagi yang sedang memikirkan berapa jumlah material yang

harus dibeli dalam melakukan pembangunan

Disini kita buat perhitungan pada salah satu pekerjaan bangunan yang sering
dilaksanakan yaitu pasangan dinding batu bata. Untuk dapat menghitung kebutuhan pasir
dan semen kita perlukan data luas pasangan batu bata dan koefisien analisa harga satuan
yang cara mencarinya sudah kita bahas pada artikel sebelumnya berjudul Cara
menghitung koefisien analisa harga satuan bangunan, Misalnya kita buat contoh seperti
ini

Pemasangan dinding batu bata 6 m x 3 m maka luasnya adalah 6 x 3 = 18 m2


Kita cari data analisa harga satuan pekerjaan pasangan batu bata per m2
Analisa kebutuhan bahan pada pasangan dinding batu bata dengan perbandingan adukan
1 semen : 5 pasir dalam 1 m2
SNI 6897:2008 No.6.10 : Memasang 1 m2 dinding bata merah ukuran (5 x 11 x 22) cm
tebal bata, campuran spesi 1 PC : 5 PP

9,68 kg semen
0,045 m3 pasir pasang
70 bh batu bata
Data koefisien analisa harga satuan pekerjaan lainya bisa dilihat di website
AnalisaHarga.com

Data diatas hanya sebagai contoh yang nilai koefisienya dapat berbeda-beda sesuai
standar perhitungan yang digunakan seperti SNI atau RAB rahasia masing-masing
perusahaan.

Cara menghitung kebutuhan pasir

pasir

Dari data analisa harga satuan diatas dapat kita ketahui bahwa untuk melaksanakan
pasangan batu bata seluas 1 m2 membutuhkan pasir sebanyak 0,05 m3 per m2, pasangan
batu bata yang kita kerjakan seluas 18m2.

Jadi total kebutuhan pasir = 0,045 m3/m2 x 18 m2 = 0,81 m3

Jika kita hendak membeli ke toko bangunan dalam satuan truck colt kapasitas 1 m3 maka
dapat kita hitung jumlah pasir yang harus dibeli yaitu 0,81 m3 : 1 m3 = 0,81 truck colt

Jadi kebutuhan pasir adalah 0,81 m3 atau 0,81 truck colt, Nah.. berdasarkan perhitungan
tersebut maka kita bisa membeli pasir sebanyak satu Colt.

Cara menghitung kebutuhan semen

Pada Prinsipnya cara perhitungan sama dengan waktu mencari jumlah pasir yaitu
koefisien analisa harga satuan semen pada pasangan dinding batu bata per m2 dikalikan
volume luas dinding yang akan dipasang yaitu

Kebutuhan semen = 9,68 kg /m2 x 18 m2 = 174,24 kg

Jadi kebutuhan semen dalam satuan zak jika isi per kantong 50 kg maka dibutuhkan
174,24 kg : 50kg = 3,4848 zak.

Jadi untuk dapat menghitung kebutuhan pasir dan semen dibutuhkan dua data penting
yaitu koefisien analisa harga satuan dan volume pekerjaan, kecuali jika sudah mempunyai
pengalaman berulang-ulang sehingga dapat memperkirakan dilapangan misalnya untuk
memasang batu bata seluas sekian biasanya membutuhkan sekian zak semen, namun
untuk laporan tertulis tetap lebih teliti jika menggunakan koefisien analisa harga satuan
bangunan untuk mencari kebutuhan material.
Begitulah kurang lebih cara menghitung kebutuhan pasir dan semen menggunakan
koefisien analisa harga satuan, begitu juga dengan kebutuhan batu bata langsung dapat
dicari dengan mengalikan 70 bh/m2 x 18 m2 = 1260 bh. cara lain yang banyak digunakan
oleh pemborong yaitu berdasarkan pengalaman dalam mengerjakan suatu pekerjaan,
pengalaman melaksanaan pekerjaan ini akan lebih tepat jika dijadikan sebagai pedoman
dalam membuat analisa harga satuan, analisa ini biasanya menjadi rahasia masing-masing
kontraktor dalam menentukan harga borongan sehingga bisa dikatakan sebagai kunci
daya saing pemborong

Cara mencari koefisien analisa harga satuan rencana anggaran biaya bangunan ?

untuk mencari koefisien analisa harga satuan di indonesia bisa dlakukan dengan berbagai
macam cara, diantaranya adalah:

Melihat buku Analisa BOW


Koefisien analisa harga satuan BOW ini berasal dari penelitian zaman belanda dahulu,
untuk sekarang ini sudah jarang digunakan karena adanya pembengkakan biaya pada
koefisien tenaga.

Melihat Standar Nasional Indonesia ( SNI )


standar nasional ( SNI ) ini di keluarkan resmi oleh badan standarisasi nasional,
dikeluarkan secara berkala sehigga SNI tahun terbaru merupakan revisi edisi SNI
sebelumya. untuk memudahkan mengetahui edisi yang terbaru, SNI ini diberi nama
sesuai tahun terbitnya misal : SNI 1998, SNI 2002 , SNI 2007.

Melihat standar perusahaan


pada perusahaan tertentu menerbitkan koefisien analisa harga satuan tersendiri sebagai
pedoman kerja karyawan, koefisien analisa harga satuan perusahaan ini biasanya
merupakan rahasia perusahaan.

Pengamatan dan penelitian langsung dilapangan.


Cara ini cukup merepotkan dan membutuhkan cukup banyak waktu, tapi hasilnya akan
mendekati ketepatan karena diambil langsung dari pengalama kita dilapangan, caranya
dengan meneliti kebutuhan bahan, waktu dan tenaga pada suatu pekerjaan yang sedang
dilaksanakan.

Melihat standar Harga satuan


Harga satuan ini dikeluarkan per wilayah oleh pemerintah indonesia maupun standar
perusahaan masing masing, jika kita menggunakan harga satuan ini maka kita tidak
memerlukan koefisien analisa harga satuan karena untuk menghitung rencana anggaran
biaya kita hanya perlu mengalikan volume pekerjaan dengan harga satuan.