Anda di halaman 1dari 14

Nama : KRISTIN PRATIWI LAIA

Kelas : B/2

NRI : 110612022

Revolusi Teori Ekonomi Mikro dan Makro

Persaingan Tidak Sempurna Piero Sraffa dan Joan. V. Robinson

1. Perkembangan pemikiran Neoklasik menerima berbagai kritik yang dikemukakan


tajam dari para ahli ekonomi sejarah, dan kelembagaan. Kritik itu senantiasa tidak
setuju dengan asumsi-asumsi yang digunakan oleh pemikir ekonomi klasik dan neo-
klasik, Kritik itu mendapat peluang untuk dikaji oleh pemikir Neoklasik, yang akhirnya
melahirkan teori-teori persaingan tidak sempurna, seperti dikemukakan oleh Sraffa
dan Robinson.
2. Analisis neoklasik yang dikemukakan Sraffa, bahwa pada kurva biaya rata-rata ada
bagian yang menurun, maka tidak mungkin terjadi dalam kenyataan struktur pasar
persaingan sempurna. Justru struktur monopoli banyak ditemukan dalam
kenyataannya. Dengan demikian andaian-andaian yang digunakan dalam struktur
pasar persaingan sempurna tidak realistik. Robinson memperkuat argumantasi sraffa
baik dalam berbagai tulisannya, maupun pada bukunya yang berjudul The Economic
of Imperfect Competation. Perusahaan skalanya semakin besar, dijumlahnya pun tidak
banyak, sehingga mereka dapat mempengaruhi jumlah produksi di pasar, dan
sekaligus menetapkan harga yang tinggi.
3. Dengan meningkatnya harga akan menciptakan laba maksimum. Oleh karena itu akan
dapat mengundang saingan sendiri untuk masuk ke pasar, sehingga tingkat laba
menjadi normal kembali. Bagi perusahaan-perusahaan yang telah established, telah
sukses dan telah berdiri lama mempunyai good-will terhadap langganan-
langganannya, sehingga merupakan rintangan bagi yang baru atau yang akan
memasuki pasar. Di samping itu perusahaan yang sukses ini akan selalu menciptakan
rintangan-rintangan masuk, seperti memperbanyak produksi, menurunkan harga,
pelayanan yang memuaskan, kredit dan sebagainya.
Persaingan Monopolistis dan Keseimbangan Perusahaan Monopolitis

1. Pemikiran Chamberlin sering terasing dan tidak riil tentang teori ekonomi, bukan
karena kesalahan metodenya, tetapi karena asumsi-asumsi yang digunakan tidak
sesuai dengan kenyataan ekonomi yang terjadi. Chamberlin mengamati bahwa kondisi
untuk persaingan sempurna sudah tertinggi, sehingga dia menyusun teori persaingan
monopoli. Kalau sebelumnya ada dua macam struktur pasar yakni persaingan
sempurna dan monopoli murni, maka Chamberlin melihat bahwa kedua sruktur
ditemukan serempak dalam kenyataan, yakni persaingan terjadi, tetapi dengan struktur
monopoli, pertanda-pertanda terjadinya persaingan monopoli antara lain terlihat
dengan adanya kegiatan iklan, korting harga, goodwill perusahaan, pembayaran
dengan kredit, dan peranan konsumen yang lemah dalam penentuan harga barang.
Secara ekonomis masih dilakukan analisis dengan peralatan analisis marjinal.
2. Monopolistic competition (persaingan monopoli) terjadi karena setiap produsen
menghasilkan produk yang hampir sama, masing-masing produk mempunyai ciri-ciri
khusus, sifat-sifat tersendiri, sehingga menimbulkan preferensi pada konsumen.
Masing-masing barang mempunyai keunggulannya. Itulah yang dia monopoli, tidak
ada pada orang lain. Tetapi karena loyalitas konsumen terhadap merk barang, maka
ini pun menimbulkan monopoli. Meskipun dalam pasar mereka melakukan
persaingan, baik dalam perluasaan pasar dengan melalui berbagai kegiatan iklan,
maupun dalam hal kebijaksanaan harga.
3. Keseimbangan perusahaan tidak lagi dalam kondisi optimal, karena perusahaan-
perusahaan itu telah mampu mengontrol harga, dan pengeluaran-pengeluaran untuk
biaya penjualan meningkat, sedangkan ongkos tetap produksi per satuan meningkat.
Hal terakhir ini terutama disebabkan terjadinya under capacity dalam produksi,
sehingga tingkat harga menjadi mahal. Selanjutnya under-capacity ini dapat dipakai
sebagai strategi untuk rintangan masuk ke pasar industri.
4. Struktur pasar yang oligopoli, mengakibatkan George Stigler menyusun teori tentang
kurva permintaan yang patah (kinky demand curve). Hal ini terjadi, antara lain
disebabkan oleh tingkat harga yang stabil. Harga yang stabil ini dapat juga disebabkan
selera dan teknologi yang stabil, kelemahan administrasi, faktor terjadinya kolusif.
Meskipun demikian, jika suatu perusahaan dalam struktur oligopoli menaikkan harga,
belum tentu akan diikuti oleh saingannya, tetapi cenderung terjadi bilamana satu
perusahaan dalam oligopoli menurunkan harga maka lawan-lawannya akan
mengikuti. Bukti-bukti yang ditemukan belum memanfaatkan berlakunya teori ini.
Tetapi, kemungkinan berbagai kelemahan masih belum dapat diatasi. Teori untuk
struktur oligopoli belum dapat digeneralisasikan, karena masing-masing mempunyai
ciri-ciri khas tersendiri, sehingga perilakunya sukar untuk diprediksi. Hal ini kembali
ke persoalan faktor personal dan impersonal. Dalam struktur oligopoli khususnya, dan
persaingan tidak sempurna umumnya kebijaksanaan harga cenderung bersifat
personal.

Monopoli, Oligopoli dan Konsentrasi

1. Pembatasan struktur pasar monopoli murni telah berlangsung sejak masa ekonomi
Klasik, tetapi struktur pasar oligopoli relatif baru. Kenyataan ekonomi telah berubah
selama akhir abad ke-19 sampai dengan 1930-an, sehingga lahir teori persaingan tidak
sempurna, dan secara lebih khusus timbul struktur pasar persaingan monopoli dan
oligopoli. Dalam hal tertentu, struktur pasar oligopoli dapat dikatakan sebagai
persaingan monopoli terutama untuk oligopoli yang berdiferensiasi.
2. Berbagai bentuk struktut oligopoli telah dibicarakan, antara lain oligopoli penuh,
oligopoli parsial, oligopoli yang kolusi dan nonklusif, oligopoli terbuka, dan oligopoli
tertutup dan oligopoli homogen dan berdiferensiasi, serta oligopoli pimpinan baik yang
simetrik maupun nonsimetrik.
3. Teori oligopoli sulit untuk menggeneralisasikannya, karena perilakunya telah bersifat
personal, sehingga ada teori untuk tipe-tipe tertentu oligopoli. Perilaku harga pada
oligopoli pimpinan juga tergantung apakah tipenya simetrik atau nonsimetrik. Kalau
simetrik maka terjadi persaingan harga, tetapi kalau nonsimetrik tingkat harga
pimpinan diikuti atau dijadikan pedoman bagi perusahaan-perusahaan yang relatif
kecil.
4. Masalah yang menjadi kontroversi dalam teori oligopoli adalah terjadinya
indeterminasi, yakni tidak adanya penyelesaian keseimbangan yang unique, karena
masuknya faktor-faktor nonekonomi dan tidak adanya koordinasi baik langsung
maupun tidak langsung di antara perusahaan-perusahaan yang independen. Tetapi,
kalau di antara perusahaan itu terjadi kolusi, maka kondisi monopoli terjadi, dan
perilaku perusahaan-perusahaan tersebut terkoordinir baik langsung maupun tidak
langsung. Kolusi formal atau tidak formal, dalam usaha untuk mengatasi risiko
ketidakpastian yang mendatangkan berbagai kerugian.
5. Hubungan antara struktur dengan perilaku yang dikaitkan dengan kinerja industri
semakin mantap digunakan dalam pembahasan-pembahasan oligopoli khususnya,
persaingan tidak sempurna umumnya, karena telah ditemukannya cara-cara
pengukuran tingkat konsentrasi. Dengan ukuran ini, dapat ditentukan tidak hanya
tingkat atau derajat oligopoli, tetapi derajat monopoli dalam suatu barang-barang atau
jasa. Misalnya, semakin tinggi konsentrasi, akibat terjadinya akumulasi modal yang
semakin tinggi, dan di pihak lain terjadi perolehan

REVOLUSI TEORI EKONOMI MAKRO

Depresi Ekonomi dan Relevansi Teori

1. Depresi ekonomi yang terjadi pada tahun-tahun 1930-an telah mendatangkan musibah
bagi kegiatan ekonomi, yang mendatangkan pengangguran yang luar biasa.
Pengangguran berarti yang tidak mempunyai sumber penghasilan yang secara
ekonomis tidak mempunyai daya beli. Apa yang diproduksi tidak dapat diserap pasar,
yang berakibat perusahaan-perusahaan (produsen) mengurangi produksi, sehingga
kegiatan ekonomi menurun dunia telah kelebihan penawaran karena produksi tidak
terbeli.
2. Para ahli ekonomi mencoba mencari sebab-musabab terjadinya depresi tersebut, dan
mencoba untuk menyelesaikannya. Berbagai teori ekonomi yang ada ternyata tidak
mampu lagi untuk menjawab persoalan-persolan yang muncul, sehingga mendorong
kekuatan untuk mencari jalan ke luar. Ternyata teori-teori klasik dan neoklasik
mempunyai kelemahan yang berarti, sehingga andaian-andian yang dipakainya tidak
sesuai lagi dengan ekonomi.
3. Dalam teori kesempatan kerja, teori lama itu tidak mengakui adanya pengangguran
terpaksa. Mereka tidak mau berhenti dengan terjadinya penurunan tingkat upah, dan
tidak bersedia bekerja dengan tingkat upah yang rendah. Pengangguran yang terpaksa
ini mengganggu pembahasan teori-teori yang ada. Menurut teori ini, jika
pengangguran terjadi, maka pengusaha harus menurunkan tingkat upah, sehingga
semua penganggur tertampung dan keadaan tetap dalam kesempatan kerja penuh (full
employment). Tetapi ada kelompok-kelompok yang tidak bersedia bekerja dengan
tingkat upah yang relatif lebih rendah.
4. Dalam teori moneter klasik dan neoklasik terjadi pula dikotomi, karena variabel-
variabel riil dalam pasar barang tidak dapat dipengaruhi secara langsung oleh variabel
moneter, karena fungsi uang yang netral. Kaitan antarpasar uang, pasar tenaga kerja
dan pasar barang kurang erat dalam ajaran neoklasik. Uang mempunyai fungsi hanya
sebagai alat tukar, tidak sebagai alat penyimpan nilai atau kekayaan, sehingga setiap
penambahan uang semata-mata diperlukan untuk transaksi.
5. Di samping persoalan tersebut, terjadi pula perbedaan paham tentang peranan
pemerintah dalam mengatasi persoalan depresi ekonomi. Dalam hal ini Keynes dan
beberapa ahli lainnya setuju pemerintah menggunakan pengeluaran untuk pekerjaan
umum sehingga masalah depresi dapat diatasi. Tokoh yang terkenal mengajukan
rekomendasi ini adalah J.M. keynes yang berjasa dalam mengajukan teori-teori baru
yang merupakan revolusi dalam perkembangan teori ekonomi makro. Lingkungan
pembahasan telah menjadi lebih luas, lebih menyeluruh, tidak dapat hanya dengan
analisis mikro.

Kesempatan Kerja dengan Intervensi Pemerintah

1. Inti teori ekonomi makro yang dikemukakan J.M. Keynes adalah kecenderungan
konsumsi (dipihak lain berarti kecenderungan menabung), efisiensi kapital marjinal
(MEC), dan preferensi likuiditas. Selanjutnya, ketiga prinsip yang pokok ini dilengkapi
dengan fungsi-fungsi permintaan, penawaran, dan fungsi produksi. Perilaku orang
menabung berbeda dengan perilaku investor, oleh karena itu dapat terjadi jumlah
investor yang diperlukan tidak sama dengan jumlah tabungan yang tersedia, atau
sebaliknya. Tingkat investasi yang dilakukan tergantung pada MEC, sedangkan
tabungan ditentukan oleh tinggi rendahnya pendapatan.
2. Selanjutnya, penawaran uang tidak hanya untuk keperluan transaksi, pembelian
barang maupun jasa, tetapi juga untuk keperluan spekulasi. Permintaan uang untuk
transaksi tidak ada bedanya dengan yang ditemukan pada pasar uang klasik, tetapi
permintaan yang digunakan untuk spekulasi merupakan hal yang baru sama sekali.
Namun demikian, komponen yang baru ini telah mendekatkan model pembahasan ke
dalam kenyataan ekonomi. Karena fungsi uang bukan semata-mata untuk media-
pertukaran, tetapi juga sebagai penyimpan nilai. Dengan demikian, pada suatu waktu,
penggunaan untuk spekulasi dapat meningkat, dan kebutuhan uang untuk transaksi
dapat terganggu. Misalnya, jika tingkat bunga turun, kecenderungan investasi
diperkirakan meningkat, tetapi dengan komponen kedua itu, harga obligasi dapat naik
dan menimbulkan kelebihan penawaran. Variabel tabungan tidak dipengaruhi tingkat
bunga, tetapi oleh pendapatan, sedangkan investasi yang menciptakan kenaikan
pendapatan. Bukan investasi yang tergantung pada pendapatan. Oleh karena itu
kegiatan ekonomi dapat mendatangkan resesi depresi. Singkatnya, fungsi investasi itu
tidak stabil, sedangkan fungsi tabungan relatif stabil. Dapat terjadi investasi lebih kecil
dari tabungan.
3. Pasar tenaga kerja dihadapkan dengan persoalan adanya pengangguran terpaksa yang
tidak dapat diselesaikan secara otomatis. Walaupun tingkat upah diturunkan, ada
kelompok masyarakat yang tidak bersedia menerima tingkat upah terlalu rendah.
Untuk mengatasi ini (karena tabungan tidak cukup untuk investasi), maka permintaan
melakukan investasi. Kalau ini terjadi, maka permintaan efektif bangkit dan
kecenderungan konsumsi kembali naik. Jadi aspek (C+I) merupakan komponen
permintaan efektif yang mendorong roda kegiatan ekonomi.

Kontroversi Teori Moneter

1. Teori-teori ekonomi dari Keynes mendapat kritik yang membangun sehingga


mendorong diskusi yang serius penelitian-penelitian untuk menguji hipotetisnya, serta
membuka kemungkinan lahirnya teori-teori baru. Dan penelitian-penelitian itu fungsi
konsumsi mempunyai berbagai variabel. Teori moneter mengalami kontroversi, karena
Friedman mengulas teori kuantitas yang klasik. Penelitian-penelitian yang lebih
intensif dilakukan dalam rangka mengadu teori mana yang relatif lebih sesuai dengan
perkembangan kenyataan ekonomi.
2. Efek-Keynes telah mencoba untuk melihat hubungan antara variabel harga dengan
kebutuhan uang untuk transaksi preferensi likuiditas, di satu pihak, dan keperluan,
untuk spekulasi di pihak lain, yang dapat mendorong tingkat bunga turun sehingga
volume investasi dapat meningkat, sedangkan efek-Pigou dapat pula menjelaskan
bahwa variabel kekayaan dapat mempengaruhi konsumsi. Kalau efek-Keynes dapat
mempengaruhi pasar uang, sedangkan efek-Pigou mempengaruhi pasar barang.
Dengan demikian timbul sintetis antara pemikiran neoklasik dan Keynes.
3. Dalam pengembangan teori-teori konsumsi, berbagai penelitian dilakukan dan
menemukan beberapa variabel yang mempunyai pengaruh pada konsumsi suatu
masyarakat. Ternyata, bukan hanya pendapatan absolut saja yang berpengaruh secara
berarti pada konsumsi, tetapi juga pendapatan relatif, pendapatan permanen, dan
siklus kehidupan. Namun demikian, ketiga penemuan ini menyangkut jangka panjang
sedangkan hipotetis pendapatan absolut adalah dengan acuan waktu jangka pendek.
4. Friedman melanjutkan penelitiannya ke bidang teori moneter dan memugar teori
kuantitas uang, Freidman menganggap bahwa uang adalah kekayaan, bukan saja
dalam pengertian keuangan tetapi juga dalam arti yang luas. Permintaan akan uang
ditentukan oleh tingkat harga obligasi, potensi saham, inflasi, rasio kekayaan human
wealth (kekayaan yang bersifat manusiawi) dan kekayaan yang nonhuman, serta
kekayaan dalam harga berlaku. Variabel terakhir ini merupakan pendapatan
demikian, Friedman melihat bahwa modelnya kurang elastik terhadap variabel suku
bunga, tetapi ternyata bilangan k relatif stabil daripada pengganda permintaan
terhadap uang. Dalam hal membandingkan kedua model itu (model Keynes dan
Friedman), perlu diingat acuan waktu masing-masing.

Aliran Supplyside Economics

1. Teori Unlimited Supplies of Labour merupakan teori tenaga kerja klasik yang disusun
kembali oleh Arthur Lewis. Analisisnya tidak terlepas dari tradisi klasik. Tradisi klasik
dalam hal ini adalah dalam mencapai pertumbuhan dengan akumulasi modal akan
mengubah distribusi pendapatan dalam jangka panjang (distribusi personal), tetapi
terdapat jumlah tenaga kerja berlimpah dengan tingkat upah subsisten. Sistem
ekonomi ini semula terdapat di Eropa masa klasik tetapi sektor subsisten mengecil,
kemudian keadaan itu dijumpai secara luas di negeri-negeri Asia. Sektor kapitaslis
yang modern mempunyai tenaga kerja terampil, dengan tingkat upah tinggi,
produktivitas tinggi, sedangkan di pihak lain tersebar luas sektor subsisten dengan
produktivitas yang sangat rendah, teknologi tradisional dengan tingkat upah yang
rendah. Pada sektor subsisten terjadi kelebihan tenaga kerja. Tingkat upah subsisten
itu ditentukan dengan kebutuhan minimum atau tingkat produktivitas rata-rata pada
sektor pertanian.
2. Investasi yang dilakukan di sektor kapitalis secara umum tidak meningkatkan upah,
namun lebih berarti dalam pembentukan laba dan laba ini sangat kecil yang diinvestasi
kembali karena penanam modal mempunyai kepentingan di luar negeri, maka dapat
terjadi ekspor modal. Ekspor modal tentunya mengurangi pembentukan modal di
dalam negeri. Bahkan kebutuhan dalam negeri sebagian berasal dari impor yang
relatif mahal. Keuntungan komparatif dapat dimiliki negeri ini, tetapi karena adanya
proteksi maka persaingan dapat kalah dari negeri-negeri lain yang relatif mempunyai
pasar bebas.
3. Gejala-gejala kejadian ekonomi 1960-an akhirnya secara nyata ditemukan pada tahun
1970-an, di mana ekonomi tidak dapat dikelola dari segi permintaan. Dua dekade
tahun setelah Perang Dunia ke-2, pendekatan kebijaksanaan yang menekankan sisi
permintaan pun berakhir. Berbagai faktor yang bersifat struktural muncul yang tidak
mungkin hanya dikelola secara makro melalui sisi permintaan. Baby-boom tahun
1950-an, krisis energi, regulasi ekonomi lingkungan hidup, dan persoalan persediaan
pangan merupakan masalah-masalah yang tidak dapat terselesaikan dengan pengelola
ekonomi permintaan. Oleh karena itu, timbul gagasan untuk mengelola ekonomi dari
sisi penawaran. Pengelolaan ini diatur dari sisi permintaan pemerintah dikurangi
penurunan pajak, baik pajak-pajak pendapatan, maupun pajak perusahaan dan pajak
kredit investasi. Teorinya adalah mengubah perilaku dengan rangsangan. Dengan
menurunnya pajak, maka pendapatan personal meningkat, return kekayaan
meningkat, bunga turun dan arus investasi bertambah. Produktivitas baik, pendapatan
naik, kecenderungan konsumsi naik dengan kondisi ekonomi yang lebih efisien.
Dengan ekonomi yang efisien, barang-barang dapat diekspor, sedangkan impor relatif
mahal dalam hal ini permintaan terhadap kenaikan upah tidak seperti pada
pendekatan permintaan efektif karena inflasi relatif rendah, dan tingkat pertumbuhan
relatif tinggi. Dengan demikian ekonomi terhindar dari stagflasi walaupun demikian,
jika permintaan, maka keadaan sebaliknya dapat terjadi.
Teori Pertumbuhan Ekonomi

1. Karena persoalan-persoalan depresi ekonomi 1930-an telah teratasi, maka muncul


fenomena ekonomi yang lain di Amerika Serikat. Ada pertanda bahwa tingkat
pertumbuhan penduduk menurun, tabungan lebih besar dari investasi, muncullah
hipotesis ekonomi dalam keadaan stagnasi. Gejala itu menandakan menurunnya
permintaan efektif keadaan itu berubah, setelah Amerika Serikat memasuki Perang
Dunia ke-2, di mana permintaan efektif bangkit kembali, karena pengeluaran
pemerintah untuk membiayai perang dan industri senjata.
2. Harrod pada tahun 1939 telah menyusun model pertumbuhan ekonomi yang bertolak
dari prinsip-prinsip yang dipakai Keynes. Teorinya berdasarkan 3 variabel utama,
yakni tingkat pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh rasio tabungan dengan
pendapatan dan rasio modal dengan tingkat pertambahan penduduk, sedangkan
tingkat investasi ditentukan oleh harapan-harapan investor (pengusaha). Dengan
demikian dapat terjadi ketidakstabilan dalam pertumbuhan. Artinya tingkat
pertumbuhan yang direncanakan tidak sama dengan tingkat pertumbuhan yang
aktual, yang menyebabkan terjadinya kelebihan produksi atau kekurangan produksi.
3. Solow yang bertolak dari pemikiran ekonomi Neoklasik menyusun pula teori
pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan teori produksi yang mengatasi
kelemahan-kelemanah model Harrod-Domar. Di sini pun terdapat tiga variabel utama,
tetapi unsur ketidakstabilan itu telah dihilangkan. Fungsi produksi dinyatakan dalam
modal perkapita; pertambahan modal per kapita sama dengan jumlah tabungan per
kapita dikurangi dengan jumlah pertumbuhan investasi per kapita. Output terbagi dua,
yakni untuk konsumsi dan untuk investasi. Dalam model ini ada tiga fungsi utama,
yakni fungsi produksi, fungsi tabungan, dan fungsi investasi. Dengan demikian,
tingkat keseimbangan antara ketiga fungsi itu stabil yang sedang berkembang,
kemungkinan terjadi perangkap-pertumbuhan, karena tingkat akumulasi modal yang
kecil, bahkan tingkat pertumbuhannya dapat lebih kecil dari tingkat pertumbuhan
penduduk.

Sumber Buku Sejarah Teori-teori Ekonomi Karya Disman


1.2 Permasalahan Ekonomi Makro

Dalam Ekonomi Mikro ada dua permasalahan pokok yang dihadapi yaitu bagaimana memenuhi
kebutuhan manusia yang tidak terbatas dan sekaligus mencapai kepuasan yang maksimum,
sementara sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut tersedia dalam jumlah yang terbatas.
Dalam Ekonomi Makro permasalahan yang dihadapi cukup banyak dan kompleks karena ia tidak
hanya terkait dengan variabel-variabel ekonomi saja tetapi juga terkait dengan masalah politik
dan kebijakan umum negara. Karena itu secara garis besar permasalahan yang dibahas dalam
ekonomi makro dibatasi pada beberapa masalah penting saja yaitu:

Pertama, masalah jangka pendek. Masalah jangka pendek adalah stabilitas ekonomi agar
terhindar dari penyakit utama ekonomi: a) inflasi, b) pengangguran dan c) ketimpangan neraca
pembayaran (balance of payment). Kedua, masalah jangka panjang, yaitu masalah pertumbuhan
ekonomi atau pendapatan masyarakat yang biasa diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB)
atau disebut juga Gross Domestic Product (GDP). Pertumbuhan ekonomi menjadi penting karena
setiap orang ingin hidup lebih baik dari waktu ke waktu.

Masalah jangka pendek harus diselesaikan segera oleh pemerintah karena kalau tidak akan
menimbukan ketidakstabilan dalam negara. Inflasi, misalnya menjadi masalah dalam ekonomi
Negara karena inflasi sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Dengan
inflasi yang tinggi maka pendapatan ril masyarakat menjadi turun sehingga daya beli berkurang
dan kesejahteraan masyarakat menurun. Jika inflasi tidak dikontrol (harga naik melambung)
maka sama artinya dengan memotong pendapatan seluruh masyarakat. Hal ini jelas akan
menimbulkan keresahan masyarakat karena berkurangnya kemampuan untuk melakukan
konsumsi.

Pengangguran juga menjadi penting karena tanpa pekerjaan seseorang tidak bisa melakukan
konsumsi karena konsumsi memerlukan income yang didapatkan dari hasil bekerja. Bila jumlah
orang yang menganggur telah begitu banyak maka dapat menimbulkan keresahan yang dapat
mengoncang kestabilan negara, seperti demonstrasi para pengangur, tindakan kriminal, konflik
sosial, dan lain-lain. Hasil penelitian sosial juga menunjukkan adanya korelasi yang positif antara
tingkat pengangguran dengan tingkat kejahatan. Artinya bila pengangguran meningkat maka
tingkat kejahatan juga cenderung meningkat. Karena itu pengangguran perlu diatasi dengan
segera. Demikian juga dengan ketimpangan neraca pembayaran perlu untuk diperhatikan karena
akan berpengaruh terhadap nilai tukar, perdagangan luar negeri, kepercayaan masyarakat
internasional, dan lain-lain. Neraca pembayaran adalah laporan keuangan yang menunjukkan
transaksi barang dan jasa antara penduduk suatu negara dengan negara-negara lain. Neraca
pembayaran yang deficit dapat menunjukkan bahwa negara tersebut tidak mampu memenuhi
kewajibannya terhadap negara lain sehingga menimbulkan krisis kepercayaan. Selanjutnya hal ini
dapat berengaruh terhadap nilai tukar. Bila nilai tukar tidak stabil maka dunia bisnis akan
mengalami kesulitan dalam membuat perencanaan. Nilai tukar yang tidak stabil akan
mempengaruhi perdagangan dan hubungan ekonomi antar negara.

Permasalahan jangka panjang adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara


terus menerus. Salah satu cara paling umum untuk peningkatan kesejahteraan adalah melalui
pertumbuhan ekonomi yang stabil dan kontinue sepanjang tahun. Pertumbuhan ekonomi akan
memperbesar nilai GDP dan income sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat. Ini hanya
bisa dicapai bila permasalahan jangka pendek dapat diselesaikan dengan baik sehingga dalam
jangka panjang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

1.3 Peranan ekonomi makro

Seperti diuraikan diatas salam jangka panjang setiap negara terus berusaha untuk meningkatkan
kesejahteraan penduduknya dimana kesejahteraan tersebut ditentukan oleh kinerja dan arah dari
variabel-variabel ekonomi makro. Untuk itu pemerintah harus mengusahakan agar variabel-
variable ekonomi makro tersebut berada pada posisi yang akan membawa perekonomian
bergerak kearah peningkatan kesejahteraan rakyat. Timbul pertanyaan apakah arah dan
perkembangan variable-varibale tersebut dibiarkan saja mengikuti kekuatan pasar bebas (laisses
faire) atau perlu campur tangan pemerintah untuk mempengaruhi arah perkembangan variable
tersebut agar sesuai dengan yang dikehendaki. Sampai sekarang tidak ada kata sepakat dan tidak
akan pernah mencapai kata sepakat. Secara empiris tidak ada negara di dunia ini yang menganut
salah satu dari kedua ekstrim tersebut tetapi pada umumnya berada diantara keduanya. Artinya
ada intervensi pemerintah dalam menentukan arah dan kinerja dari variable tersebut, tetapi sejauh
mana sebaiknya intervensi tersebut adalah merupakan perdebatan yang panjang.

Karena tidak ada kesepakatan tersebut maka kebijakan makro ekonomi diarahkan pada alternatif
kebijakaan yang dapat dilakukan untuk mengarahkan varibale-variabe makro tersebut sesuai
dengan tujuan perekonomian suatu negara, karena pada hakekatnya tidak ada suatu teori ekonomi
yang cocok untuk mengatasi semua permasalahan dan cocok sepanjang masa. Tetapi suatu teori
ekonomi tersebut cocok untuk mengatasi suatu permasalahan tertentu di waktu tertentu. Misalnya
pada saat terjadi krisis ekonomi yang berkepanjangan yang dimulai pada tahun 1997 teori
ekonomi makro Keynesian menawarkan beberapa alternatif pemecahan untuk mengoreksi
keadaan tersebut. Tetapi pada saat lain, misalnya dalam keadan ekonomi yang stabil dan dalam
jangka panjang, mungkin teori makro klasik lebih cocok untuk diterapkan.

1.4 Teori dan Implementasi


Implementasi kebijaksanaan yang diambil oleh suatu negara sangat dipengaruhi oleh sistem
ekonomi yang dianut oleh negara tersebut. Sistem ekonomi yang terdapat di dunia ini pada
dasarnya ada dua: kapitalis (ekonomi pasar bebas) dan sosialis (ekonomi yang terpusat, diatur
oleh pemerintah). Dalam kenyataaan tidak ada satu negarapun yang menganut salah satu sistem
tersebut secara murni tetapi bergerak antara keduanya. Bahkan sekarang sistem ekonomi sosialis
cenderung sudah ditinggalkan oleh banyak negara. Pada ekonomi pasar bebas sekalipun
kenyataannya tetap ada intervensi pemerintah. Juga tidak ada pasar yang berbentuk "bersaing
sempurna" seperti yang dikenal dalam teori ekonomi klasik atau ekonomi mikro. Tidak adanya
pasar bersaing sempurna ini disebabkan antara lain oleh karena tidak sempurnanya informasi
yang dipunyai oleh pelaku ekonomi sehingga tindakan pelaku ekonomi ini kurang searah dengan
tujuan dari perekonomian suatu negara. Karena tidak sempurnanya ekonomi pasar tersebut
maka perlu campur tangan pemerintah sehingga pihak yang kekurangan informasi tidak
dirugikan. Misalnya krisis ekonomi menyebabkan nilai tukar yang tidak stabil dapat meyebabkan
kerugian pada segolongan masyarakat. Untuk itu diperlukan perlindungan pemerintah. Demikian
juga pemegang saham minoritas yang cenderung dirugikan oleh pemegang saham mayoritas atau
orang miskin dan tidak berpendidikan cenderung dirugikan dan dieksploitasi.

Pada saat krisis ekonomi sistem ekonomi pasar kapitalispun dipertanyakan orang karena
ketidakmampuannya dalam memprediksi dan menanggulangi krisis yang berkepanjangan yang
terjadi pada tahun 1997. Merupakan perdebatan yang panjang sejauh mana ketepatan dan peranan
teori terhadap dampak dan implementasi terori tersebut dalam praktek dan kebijakan ekonomi.
Sejauh mana teori diperlukan dalam mengambil suatu kebijakan.
Teori ekonomi pada dasarnya dibangun dari pengalaman-pengalaman yang dilalui oleh suatu
negara atau masyarakat dengan menggunakan dua pendekatan yaitu induktif (membangun
kesimpulan umum dari keadaan khusus) dan deduktif (membangun kesimpulan khusus dari
keadaan umum). Misalnya teori Keynesian yang dibangun atas pengalaman resesi (great
depression) di Eropah pada tahun 1930an. Berdasarkan pengalaman tersebut Keynesian membuat
kesimpulan yang melahirkan teori Keynesian yang ternyata cukup ampuh untuK menyelesaikan
permasalahan pada masa itu, tetapi belum tentu akan ampuh bila diterapkan pada waktu yang
berbeda dan tempat yang berbeda. Juga harus diingat bahwa sebagian besar teori ekonomi
tersebut dibangun oleh orang Barat dengan latar belakang sosial budaya yang ada pada
masyarakat Barat yang berbeda dan belum tentu cocok dengan masyarakat negara lain dimana
teori tersebut akan diterapkan. Karena itu sebelum suatu teori diadopsi perlu dipahami latar
belakang dan kondisi sosial masyarakat dimana teori tersebut lahir dan kondisi dan latar sosial
ekonomi dimana teori tersebut akan diterapkan.

1.5 Bentuk-Bentuk Pasar

Seperti sudah disebutkan diatas bahwa dalam ekonomi mikro dikenal dua bentuk pasar ekstrim
berdasarkan sejauh mana harga dapat dipengaruhi oleh para pelaku pasar, yaitu pasar bersaing
sempurna dan pasar monopoli. Dalam ekonomi makro juga dikenal bentuk pasar tetapi
berdasarkan kelompok komoditi yang ditransaksikan pada pasar tersebut. Masing-masing pasar
tersebut mempunyai karakteristik tersendiri dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Ada
tiga pasar didalam ekonomi makro yang penting untuk dipelajari, yaitu
a). pasar barang dan jasa,

b). pasar faktor produksi atau sering disebut pasar tenaga kerja, dan

c). pasar financial atau aset.

Pada ekonomi terbuka ditambah dengan pasar luar negeri yaitu pasar ekspor dan import.
Ekonomi terbuka maksudnya adalah ekonomi yang berinteraksi dengan ekonomi negara-negara
lain melalui perdagangan, aliran uang dan termasuk aliran manusia. Dalam ekonomi terbuka
pasar dalam negeri dengan dengan luar negeri dihubungkan oleh ekspor dan impor. Ekspor dan
impor masing-masing mempunyai perminataan (demand) dan penawaran (supply) sendiri.
Misalnya permintaan terhadap ekspor Indonesai oleh Jepang akan dipenuhi oleh penawaran
ekspor oleh Indonesai kepada Jepang sehingga kedua kurva demand dan supply ekspor tersebut
akan membentuk harga dan jumlah barang yang diminta dan ditawarkan. Demikian juga hal
untuk import.

Sejalan dengan pengertian teori ekonomi mikro maka tiap pasar mempunyai permintaan
(demand) dan penawaran (supply). Aspek utama pasar adalah harga dan jumlah barang yang
diminta atau ditawarkan. Masing-masing pasar tersebut saling terhubung melalui tingkat bunga.
Perhatikan Gambar 1.1. Pada Bab 6 akan dipelajari lebih lanjut tentang bunga ini. Secara ringkas
yang dipelajari pada masing-masing pasar tersebut dapat diterangkan sebagai berikut.
Pada pasar barang yang dipelajari adalah tingkat harga umum dan produksi barang dan jasa
dengan mengamati inflasi, biaya hidup, produksi domestic dan nasional, income, dan lain-lain.
Pada pasar uang yang dipelajari tingkat bunga tabungan, jumlah uang yang beredar, dan factor-
faktor yang mempengaruhinya. Pada pasar tenaga kerja yang dipelajari adalah tingkat upah
jumlah orang yang bekerja dan tidak bekerja (menganggur). Pada pasar luar negeri yang
dipelajari adalah neraca perdagangan, term of trade, cadangan devisa dan lain-lain.

1.6 Pelaku Ekonomi Makro

Dalam ekonomi mikro pelaku ekonomi hanya dikelompokkan atas dua kelompok besar yaitu
konsumen dan produsen. Dalam ekonomi makro ada lima pelaku utama yang menjalankan
kegiatan ekonomi di suatu Negara. Harap diingat walaupun jumlah pelaku ekonomi makro ada
lima tetapi semua pelaku tersebut bisa juga di sederhanakan menjadi dua kelompok seperti dalam
ekonomi mikro, yaitu produsen dan konsumen. Keduanya, produsen dan konsumen, melakukan
fungsi yang berbeda pada waktu yang sama atau pada waktu yang berbeda. Kelima pelaku
tersebut adalah:

1. Rumah tangga, konsumen (households)


2. Produsen, bisnis (business)
3. Pemerintah (government)
4. Negara-negara lain (foreign countries)
5. Lembaga keuangan (financial)