Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa sila ke 1 dalam pancasila yaitu Ketuhanan

Yang Maha Esa menjadi sumber utama nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia,

yang menjiwai dan mendasari serta membimbing perwujudan Sila II sampai

dengan Sila V.

Negara Indonesia didirikan atas landasan moral luhur, yaitu berdasarkan

Ketahuan Yang Maha Esa, maka penduduknya harus memeluk salah satu dari

enam agama resmi di Indosesia seperti Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu,

Budha, dan Kong Hu Chu untuk beribadah sesuai dengan agama dan

kepercayaannya, seperti pengertiannya terkandung dalam Pembukaan UUD 1945

alinea ketiga.

Oleh karena itu di dalam negara Indonesia yang beranekaragam

agamanya tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa,

dan sikap atau perbuatan yang anti terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa, anti

agama. Sedangkan sebaliknya dengan paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini

hendaknya diwujudkan kerukunan hidup beragama, kehidupan yang penuh

toleransi dalam batas-batas yang diizinkan oleh atau menurut tuntutan agama

1
masing-masing, agar terwujud ketentraman dan kesejukan di dalam kehidupan

beragama .

Namun kenyataannya pada zaman sekarang ada orang yang tidak

memiliki agama atau ada orang yang menganut agama selain agama resmi di

Negara kita. Hal itu menimbulkan diskriminasi dan pertentangan dalam hal

Ketuhanan Yang Maha Esa. Adanya diskriminasi tersebut menimbulkan

pertentangan dan kekacauan. Maka dari itu penulis mengangkat

PENTINGNYA SILA PERTAMA DALAM KONTEKS KEBEBASAN

BERAGAMA sebagai judul makalah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana implementasi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia ?

2. Bagaimana sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia ?

3. Apa contoh penyimpangan dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui implementasi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia ?

2. Mengetahui sikap toleransi antar umat beragama di Indonesia ?

3. Mengetahui contoh penyimpangan dari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ?

2
BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Sebagai negara yang bermayoritas penduduk agama islam, Pancasila

sendiri yang sebagai dasar negara Indonesia tidak bisa lepas dari pengaruh

agama yang tertuang dalam sila pertama yang berbunyi sila Ketuhanan yang

Maha Esa. yang pada awalnya berbunyi dengan kewajiban menjalankan

syariat islam bagi pemeluknya yang sejak saat itu dikenal sebagai Piagam

Jakarta.

Namun dua ormas Islam terbesar saat itu dan masih bertahan sampai

sekarang yaitu Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menentang penerapan

Piagam Jakarta tersebut, karena dua ormas Islam tersebut menyadari bahwa jika

penerapan syariat Islam diterapkan secara tidak langsung namun pasti akan

menjadikan Indonesia sebagai negara Islam dan secara fair hal tersebut dapat

memojokkan umat beragama lain. Yang lebih buruk lagi adalah dapat memicu

disintegrasi bangsa terutama bagi provinsi yang mayoritas beragama nonislam.

Karena itulah sampai detik ini bunyi sila pertama adalah ketuhanan yang maha

esa yang berarti bahwa Pancasila mengakui dan menyakralkan keberadaan

Agama, tidak hanya Islam namun termasuk juga Kristen, Katolik, Budha dan

Hindu sebagai agama resmi negara pada saat itu.

3
2.2 Pancasila di Dalam Agama

Keberagaman agama dan pemeluk agama di Indonesia menjadi sebuah

kenyataan yang tak terbantahkan. Kenyataan ini menuntut adanya kesadaran

dari setiap pemeluk agama untuk menjaga keharmonisan hubungan di antara

mereka.

Semua pemeluk agama memang harus mawas diri. Yang harus disadari

adalah bahwa mereka hidup dalam sebuah masyarakat dengan keyakinan agama

yang beragam. Dengan demikian, semestinya tak ada satu kelompok pemeluk

agama yang mau menang sendiri.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai

macam suku bangsa, adat istiadat hingga berbagai macam agama dan aliran

kepercayaan. Dengan kondisi sosiokultur yang begitu heterogen dibutuhkan

sebuah ideologi yang netral namun dapat mengayomi berbagai keragaman yang

ada di Indonesia, Karena itu dipilihlah Pancasila sebagai dasar negara.

Konsep negara Pancasila adalah konsep negara agama-agama. Konsep

negara yang menjamin setiap pemeluk agama untuk menjalankan agamanya

secara utuh, penuh dan sempurna. Negara Pancasila bukanlah negara agama,

bukan pula negara sekuler apalagi negara atheis. Sebuah negara yang tidak

tunduk pada salah satu agama, tidak pula memperkenankan pemisahan negara

dari agama, apalagi sampai mengakui tidak tunduk pada agama manapun.

Negara Pancasila mendorong dan memfasilitasi semua penduduk untuk tunduk

pada agamanya. Penerapan hukum-hukum agama secara utuh dalam negara

4
Pancasila adalah dimungkinkan. Semangat pluralisme dan ketuhanan yang

dikandung Pancasila telah siap mengadopsi kemungkinan itu. Tak perlu ada

ketakutan ataupun kecemburuan apapun, karena hukum-hukum agama hanya

berlaku pada pemeluknya. Penerapan konsep negara agama-agama akan

menghapus superioritas satu agama atas agama lainnya. Tak ada lagi asumsi

mayoritas minoritas. Bahkan pemeluk agama dapat hidup berdampingan

secara damai dan sederajat. Adopsi hukum-hukum agama dalam negara

Pancasila akan menjamin kelestarian dasar negara Pancasila, prinsip Bhineka

Tunggal Ika dan NKRI.

2.3 Fungsi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa

Ketentuan-ketentuan yang menunjukkan fungsi sila Ketuhanan Yang

Maha Esa, yaitu: kehidupan bernegara bagi Negara Republik Indonesia

berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap

penduduk untuk memeluk agama serta untuk beribadah menurut agama dan

kepercayaannnya, negara menghendaki adanya toleransi dari masing-masing

pemeluk agama dan aliran kepercayaan yang ada serta diakui eksistensinya di

Indonesia, negara Indonesia memberikan hak dan kebebasan setiap warga

negara terhadap agama dan kepercayaan yang dianutnya. Sebagai alasan

mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh

ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan satu sama

lain. Prof. Notonagoro melukiskan sifat hirarkis-piramidal Pancasila dengan

5
menempatkan sila Ketuhanan Yang Mahaesa sebagai basis bentuk piramid

Pancasila. Dengan demikian keempat sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila

Ketuhanan Yang Mahaesa. Secara tegas, Dr. Hamka mengatakan: Tiap-tiap

orang beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah

sesuatu yang perlu dibicarakan lagi, karena sila yang 4 dari Pancasila

sebenarnya hanyalah akibat saja dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha

Esa. . Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar

negara sesungguhnya berisi:

1. Ketuhanan yang Maha Esa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab,

yang ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, serta ber-Keadilan sosial

bagi seluruh rakyat Indonesia.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang

ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat

kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial

bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-

Kemanusiaan yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh

hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan

sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

6
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/ perwakilan, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-

Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang

mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan

Indonesia, dan ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan

dalam permusyawaratan/ perwakilan.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Implementasi Sila Ketuhanan Yang Maha Esa di Indonesia

Ketuhanan Yang Maha Esa, sila ini menghendaki setiap warga negara

untuk menjunjung tinggi agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa. Setiap warga negara diharapkan mempunyai keyakinan akan Tuhan yang

menciptakan manusia dan dunia serta isinya. Keyakinan akan Tuhan tersebut

diwujudkan dengan memeluk agama serta kepercayaan kepada Tuhan Yang

Maha Esa. Dalam rangka menjalankan kehidupan beragama dan kepercayaan

kepada Tuhan Yang Maha Esa, terdapat beberapa pedoman yang dapat

dilakukan oleh warga negara, yaitu:

a. Percaya dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan

kepercayaan masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan

beradab.

Setiap warga negara Indonesia harus percaya dan bertaqwa kepada

Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Pengertian percaya adalah setiap warga negara menerima sesuatu yang berasal

dari Tuhan sebagai kebenaran dan menganutnya. Sedangkan pengertian taqwa

adalah adanya kepatuhan setiap pemeluk agama dengan adanya kesadaran dan

iman untuk melaksanakan segala perintah Tuhan dan menjauhkan semua

larangan-Nya.

8
Pemahaman percaya dan bertaqwa ini berimplikasi bahwa setiap

pemeluk agama dan kepercayaan harus memahami ajaran agama dan

melaksanakan dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman agama dapat dilaksanakan dengan memberikan pendidikan, serta

kemauan belajar tentang agama, tentang apa yang harus dijalankan dan apa

yang dilarang oleh Tuhan. Oleh sebab itu, segala macam bentuk amal

perbuatan atas dasar keyakinan agama, harus didasarkan pada ilmu

pengetahuan dan proses pembelajaran. Bentuk-bentuk amalan dan perbuattan

dengan dasar keyakinan agama tanpa didasari ilmu dan proses belajar dari

setiap individu akan menyebabkan kekurangyakinan akan ketuhanan dan bisa

terjadi kesalahan dalam menjalankan perintah Tuhan.

b. Hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk agama dan penganut

kepercayaan yang berbeda-beda sehingga terbina kerukunan hidup.

Pancasila, sesuai dengan butir ke-2, sila pertama menghendaki adanya

kerjasama antar pemeluk agama dan kepercayaan untuk mencapai kerukunan

hidup umat bersama. Bekerja sama diartikan bahwa setiap pemeluk agama

melakukan pekerjaan secara bersama-sama menurut kesepakatan sehingga

terjadi persatuan dalam suatu wilayah. Seperti diketahui bahwa agama dan

kepercayaan setiap warga negara adalah berbeda, namun demikian setiap

warga negara diharapkan dapat bekerja sama untuk urusan sosial dan

kemasyarakatan sehingga tercipta kerukunan antarumat beragama. Setiap

individu masyarakat tetap menjalankan ibadah sesuai agamanya, dan di

9
dalam masyarakat yang berbeda-beda agama dan kepercayaan, pemeluk

Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Kong Hu Cu, dan aliran kepercayaan,

tetap menjalankan agama dan kepercayaannya, dan di masyarakat dapat

membuat kesepakatan untuk bekerja sama dalam berbagai hal seperti

penanggulangan kemiskinan dan peningkatan perekonomian, pengamanan

lingkungan, perbaikan sarana dan prasarana, peningkatan kesehatan, olehraga,

pendidikan dan lain sebagainya.

c. Saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan

kepercayaannya.

Setiap pemeluk agama dan kepercayaan dapat menjalankan ibadah

sesuai dengan agamanya dengan perasaan bebas, aman, dan nyaman.

Penganut agama Islam dapat beribadah di masjid, umat Kristen dan Katolik

beribadah di gereja, umat Budha di wihara, umat Hindu di pura, umat

Konghucu di klenteng, dan bermacam bentuk tempat ibadah lain. Setiap

warga negara harus bekerja sama agar setiap pemeluk agama dapat beribadah

sesuai dengan agamanya. Setiap warga negara tidak boleh menghalangi,

mengganggu, bahkan menghancurkan peribadatan agama lain. Oleh sebab itu,

setiap warga negara dapat bermusyawarah dan bekerja sama untuk

menentukan tempat-tempat ibadah yang sesuai dengan kebutuhan dan

fungsinya, tidak berlebihan dan tidak memaksakan antar satu agama dengan

agama lain. Seyogyanya ibadan agama dilaksanakan di tempat peribadatan

10
yang sudah ditentukan dan layak dengan prinsip tidak mengganggu

ketentraman masyarakat.

d. Tidak memaksanakan suatu agama dan kepercayaan kepada orang lain.

Ketaqwaan mengharuskan penerimaan kebenaran Tuhan kepada umat

manusia sesuai agama dan kepercayaan. Dalam masyarakat dengan jumlah

agama dan kepercayaan lebih dari satu, tidak boleh ada pemaksaan agama dari

satu agama ke agama lain dengan cara apapun. Kegiatan dakwah dan

penyebaran agama tidak boleh ditujukan kepada orang yang sudah beragama

harus dikembangkan sejak dini. Keyakinan bahwa agamaku adalah agamaku,

dan agamamu adalah agamamu harus ditekankan kepada setiap warga

negara.

Kunci dan titik sentral pemikiran dari kelima sila ada pada sila

pertama, yaitu Ke-Tuhanan, karena Tuhan adalah dasar keberadaan bagi

makluk pemberian kekuatan oleh oleh-Nya, merupakan syarat bagi setiap

gerakan, upaya, dan perubahan pada mahluk-Nya. Semua agama di NKRI ini,

meyakini keberadaan Tuhan. Tuhan Maha Besar, Maha Pencipta, Maha

Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala sesuatu yang ada dan terjadi dalam

kehidupan ini, adalah ciptaan dan atas kehendak Tuhan. Kaum Kristiani

menyatakan bahwa Tuhan ada dalam diri setiap orang. Kaum Hindu/Budha

menyatakan, bahwa diri manusia merupakan rumah Tuhan yang harus dijaga

kebersihannya dan dijauhkan dari halhal yang bertentangan dengan agama.

Sedang kaum Islam, sesuai dengan Firman Tuhan (Allah) dinyatakan, bahwa

11
Allah ada sangat dekat dengan dirimu, tidak lebih dari kedua urat nadi

lehermu. Keberadaan dan keesahan Tuhan ini, mendasari suatu kesepakatan

untuk menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama, yang

menjiwai semua sila-sila dibawahnya.

Nilai Instrumental dari SilaKetuhanan Yang Maha Esa

1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaanya dan ketaqwaanya kepada Tuhan

Yang Maha Esa.

2. Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai

dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar

kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antra pemeluk

agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan

Yang Maha Esa.

4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan

terhadap Tuhan Yang Maha Esa

5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah

yang

menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.

6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah

sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing masing

12
7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha

Esa kepada orang lain.

Dari butir-butir tersebut dapat dipahami bahwa setiap rakyat Indonesia

wajib memeluk satu agama yang diyakini. Tidak ada pemaksaan dan saling

toleransi antara agama yang satu dengan agama yang lain.

3.2 Penyimpangan Nilai Pancasila dalam Sila Pertama

Ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti adanya pengakuan dan

keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam semesta.

Dengan nilai ini menyatakan bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religius

bukan bangsa yang ateis. Nilai ketuhanan juga memilik arti adanya pengakuan

akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama,

tidak ada paksaan serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.

Salah satu contoh penyimpangan dari Pancasila dalam sila pertama

(Ketuhanan Yang Maha Esa) adalah kasus penghapusan kolom agama

dalam KTP. Akhir-akhir ini begitu marak perdebatan mengenai perlunya

kolom agama dalam KTP. Dari kalangan politisi hingga masyarakat pengguna

media sosial memberikan tanggapan yang beragam mengenai polemik yang

sudah bergulir belakangan ini. Perdebatan ini menjadi menarik karena faktor

yang dijadikan alasan sebagai pembenaran pendapat dari kelompok pro-kolom

13
agama dan anti-kolom agama sama-sama kuat dan ada benarnya. Sebelum kita

memutuskan untuk bersikap pro maupun kontra mengenai hal tersebut,

pertama-tama kita harus mengetahui hal-hal apa saja yang mendasari

perlu/tidaknya kolom agama dalam KTP.

Pertama-tama, kita akan membahas alasan apa yang mendasari tidak

perlunya kolom agama untuk dicantumkan dalam KTP. Dengan tidak adanya

kolom KTP, maka kita sudah menghilangkan sedikit bentuk diskriminasi

kepada masyarakat yang memiliki sistem kepercayaan diluar enam agama yang

dianut oleh sebagian besar rakyat di Indonesia. Kita tahu bangsa Indonesia

terdiri dari beribu macam etnis, yang terkadang juga memiliki sistem

kepercayaan yang unik dan khas diluar enam agama resmi (Islam, Kristen

Protestan, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu) yang diakui negara dianut

sebagian besar rakyat Indonesia. Contoh diskriminasi yang terjadi Dari temuan

dan laporan sebagian anggota Komisi II, warga pemeluk agama minoritas di

wilayah tertentu di Indonesia, kerap dipersulit ketika sedang mengakses

pelayanan publik begitu diketahui oleh petugas tersebut agamanya berbeda.

Dari fakta tersebut, kita tak bisa mengabaikan saudara-saudara kita yang

memiliki aliran kepercayaan tertentu, karena bagaimanapun juga mereka adalah

orang Indonesia juga.perlunya kolom agama untuk dicantumkan dalam KTP.

14
Kedua, kita akan membahas pula alasan yang mendasari Pencantuman

kolom agama di KTP menjadi sangat penting ketika seseorang meninggal.

Mengapa demikian? Karena ketika seseorang meninggal, kita bisa mengetahui

apa agama yang dianut oleh orang tersebut. Hal ini berkaitan dengan tata cara

pemakaman serta sistem hukum pewarisan yang diberlakukan kepada keluarga

si pemilik KTP. Kartu tanda penduduk. Ini memberi tanda mengenai identitas

seseorang, terutama di Indonesia yang sangat majemuk manusianya. Ini akan

memudahkan pengurusan akan banyak hal. Mulai urusan kelahiran, perkawinan

hingga kematian.

Menurut saya diskriminasi terjadi bukan karena agamanya, tetapi lebih

pada perilaku orangnya. Orang yang melakukan diskriminasi karena agama

sebenarnya telah berlaku tidak adil, dan ketidakadilan itu bisa diseret ke ranah

hukum karena melanggar Pasal 27 UU 1045 ayat 1: Segala warga negara

bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib

menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. wacana

penghapusan identitas agama di kolom KTP tersebut tentu saja harus ditolak

karena tidak ada kaitannya dengan diskriminasi.Pencantuman kolom agama di

KTP dinilai penting bagi identitas warga negara Indonesia yang menganut

agama beragam.Kolom agama perlu bagi identitas semua orang. Karena agama

di Indonesia itu beragam, jadi perlu diketahui. Tidak ada diskriminasi. Buktinya

ada pada Undang-Undang Administrasi Kependudukan 2013 Pasal 64 ayat 1

15
berbunyi setiap warga negara harus memilih satu di antara enam agama yang ia

akui sebagai identitas dirinya. Dalam revisi terhadap UU Administrasi

Kependudukan sebelumnya sempat diusulkan agar warga dibebaskan

mencantumkan atau tidak agama di KTP. Perdebatan soal kolom agama di KTP

sudah selesai dengan disetujuinya UU Administrasi Kependudukan di paripurna

DPR 26 November 2013. DPR telah mengesahkan UU Administrasi

Kependudukan yang mana kolom agama di KTP Wajib di-isi kecuali diluar 6

Agama. Pemerintah mempersilakan penganut kepercayaan untuk

mengosongkan kolom agama apabila tidak sesuai dengan keyakinannya.

Kalo yang beragama resmi itu gak ngisi kolom Agama maka resiko ditanggung

sendiri kala berbenturan dengan urusan administrasi yang mempersyaratkan

validitas agamanya.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi

Kependudukan sebenarnya sudah berupaya mencegah diskriminasi bagi warga

negara Indonesia yang penganut kepercayaan. Pasal 61 undang-undang itu

mengatur penduduk yang agamanya belum diakui atau bagi penghayat

kepercayaan, tetap dilayani kok, meski kolom agama dalam KTP-nya

dikosongi. Pasal 28E dan pasal 29 UUD 1945 mengatur kemerdekaan beragama

dan berkeyakinan. Kemudian pasal 28I ayat 3 UUD 1945 tentang identitas

budaya dan masyarakat adat, serta Pasal 28I ayat 2 UUD 1945 tentang bebas

16
dari diskriminasi. Semua aturannya sudah benar dan jelas bagaimana

menciptakan masyarakat yang harmonis dan nyaman tanpa diskriminasi.

Maka sudah jelas bahwa status agama dalam KTP sanggat diperlu

dilihat jika alasannya karena diskriminasi antara penganut agama diuar agama

resmi di Indonesia. Karena bukan kepercayaan yang menjadikannya agama

sebagai suatu diskriminasi. tapi orang-orang yang menjadikan diskriminasi itu

muncul. Ingat Indonesia itu negara ketuhanan, jika kolom agama dalam KTP

akan dihapus mau jadi apa indonesia? faham liberal kah? agama tidak akan

dianggap diskriminasi, jika masyarakat memahami SIKAP TOLERANSI dan

RASA SALING MENGHARGAI antar umat beragama.

3.3 Sikap Toleransi Antar Umat Beragama

Pada landasan dasar negara Pancasila, khususnya Sila Pertama

Ketuhanan Yang Maha Esa, mencerminkan bangsa Indonesia sesungguhnya

merupakan bangsa yang penuh dengan nilai-nilai toleransi. Penyebutan kalimat

Tuhan Yang Maha Esa, mengembangkan sikap hormat menghormati dan

bekerjasama antar pemeluk agama, membina kerukunan hidup di antara sesama

umat beragama, tidak memaksa suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan

Yang Maha Esa kepada orang lain. Selain itu, pada Undang-Undang Dasar 1945

Pasal 29 yang merupakan penjabaran dari Sila Pertama menjelaskan Negara

berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Negara menjamin

17
kemerdekaan tipa-tipa penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan

untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Sikap toleransi antar umat beragama sangat perlu dikembangkan karena

kita sebagai makhluk social, tidak bisa lepas dari bantuan rang lain. Jadi sikap

toleransi itu sangatlah perlu dilakukan , sebagai makhluk social yang

memerlukan bantuan terlebih dahulu maka kitalah yang hendaknya terlebih

dahulu mengembangkan sikap toleransi itu, sebelum orang lain yang

bertoleransi kepada kita . jadi jika kita memerlukan bantuan orang lain, maka

dengan tidak ragu lagi orang itu pasti akan membantu kita, karena terlebih

dahulu kita sudah membina hubungan baik dengan mereka yaitu saling

bertoleransi

Sikap toleransi akan menciptakan adanya kerukunan hidup. Jika dalam

suatu masyarakat masing - masing individu tidak yakin bahwa sikap toleransi

akan menciptakan adanya kerukunan, maka bisa dipastikan jika dalam

masyarakat tersebut tidak akan tercipta kerukunan. Sikap toleransi dapat

diartikan pula sebagai sikap saling menghargai, jika kita sudah saling

menghargai otomatis akan tercipta kehidupan yang sejahtera.

Hubungan Toleransi Dalam Upaya Mempererat Hubungan Manusia

Dengan Manusia. Disini terlihat jelas bahwa upaya untuk mempererat hubungan

manusia dengan manusia tidak bisa lepas dari usaha toleransi, karena seperti apa

yang sudah kita ketahui bahwa sikap toleransi sama pengertiannya dengan

18
saling menghormati dan menghargai satu sama lain dan saling gotong royong

membantu masyarakat lainnya.

Kehidupan gotong royong dapat kita lihat baik dari lingkungan didesa

maupun kota. Sebagai contohnya : Jika ada anggota keluarga yang meninggal

dunia, tanpa diundang tetangga - tetangga pasti akan datang turut

berbelasungkawa. Hal tersebut sudah menunjukkan bahwa sudah terjalinnya

sikap toleransi dalam bermasyarakat.

Adapun hidup saling membantu dan tolong menolong antar sesama umat

manusia dengan penuh tenggang rasa bersumber dari rasa kemanusiaan dan

merupakan perbuatan yang luhur.

Maka dari itu dapat ditarik kesimplan bahwa toleransi sangat erat

hubungannya dengan usaha menpererat hubungan manusia dengan manusia,

karena adanya toleransi dalam kehidupan sehari-hari akan tercipta kehidupan

yang harmonis, sejahtera dan damai.

19
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan diatas adalah sebagai berikut :

1. Keberadaan dan keesahan Tuhan mendasari suatu kesepakatan untuk

menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama dalam

pancasila yang menjiwai semua sila-sila dibawahnya.

2. Nilai ketuhanan memilik arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk

memeluk agama, menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan

serta tidak berlaku diskriminatif antarumat beragama.

3. Agar tidak terjadi pertentangan antara pemeluk agama yang berbeda, maka

hendaknya dikembangkan sikap toleransi beragama, saling tolong menolong,

dan tidak menggunakan standar sebuah agama tertentu untuk dijadikan tolak

ukur nilai moralitas bangsa Indonesia.

4.2 Saran

Berdasarkan pembahasan di atas, ada beberapa saran untuk meningkatkan

pemahaman tentang nilai pancasila dalam sila ke-1, yaitu sebagai berikut:

20
1. Untuk semakin memperkokoh rasa bangga terhadap pancasila perlu adanya

peningkatan pengamalan butir-bitir pancasila khususnya sila Ketuhanan yag

Maha Esa. Salah satu caranya adalah dengan saling menghargai antar umat

beragama.

2. kita harus memjadikan UUD 1945 pedoman bagi bangsa dan negara ini, agar

terciptanya rasa toleransi antara pemeluk agama di Indonesia dan di dunia,

serta untuk menciptakan suasana yang serasi,selaras dan seimbang.

21
DAFTAR PUSTAKA

http://silapertama.blogspot.com/2011/06/pentingnya-sila-pertama-dalam.html

(diakses pada tanggal 22 desember 2014 pukul 22:58)

http://masnurulhidayat.blogspot.com/2010/08/makalah-peran-pancasila-dalam-

agama.html (diakses pada tanggal 22 desember 2014 pukul 22:58)

http://iwanyuliyanto.co/2013/12/15/dialog-pro-kontra-kolom-agama-di-ktp/ (diakses

pada tanggal 22 desember 2014 pukul 21:43)

http://thekompasiana.blogspot.com/2014/11/kolom-agama-dalam-ktp-perlukah.html

(diakses pada tanggal 22 desember 2014 pukul 21:30)

22

Anda mungkin juga menyukai